Sebagai umat
beriman kita perlu menyadari dasar hidup sebagai umat Kristiani yang beriman kepada
Allah. Oleh karena itu kita dapat melihat beberapa pedoman seperti surat Rasul
Paulus kepada jemaad di Galatsia 3:26 “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah
karena iman di dalam Yesus Kristus.” Rasul Paulus menegaskan bahwa, kita adalah bagian dari anak-anak Allah yang
beriman akan Putranya Yesus Kristus. Dengan demikian pengharapan Yesus kepada
umatnya untuk melakukan segala hal di dunia dengan penuh kasih dan cinta. Kita
sudah menjadi bagian, dari milik kepunyaan Allah yakni sebagai bagian dari
anak-anak Allah dengan melakukan kewajiban sesuai dengan kehendak Allah sendiri. Segala sikap
dan tindakkan diluar dari kehendak Allah maka, harus diperbaiki demi
keselamatan hidup yang kekal.
“ Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah
anak Allah.” Dengan kuasa Roh Kudus anak-anak Allah selalu dalam bimbingan dan
perlindungan. Kita umat kristiani adalah milik dari Allah sendiri. Sebab kamu
tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu
telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru:
"ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita,
bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Rom 8:14-16)
Dalam hidup
sehari-hari, kita mengenal suatu sikap yang kadang menjengkelkan, yakni
keinginan yang serta merta atau segera
dipenuhi. Sikap ini biasanya ditunjukan oleh anak-anak yang meminta
sesuatu pada orang tuanya. Jika tidak segera dipenuhi keinginan itu, tak jarang anak-anak rewel dan protes bahkan
sampai menangis sejadi-jadinya membikin malu orang tua, apabila jika sedang di
tengah keramaian. Itulah yang terkadang menjengkelkan. Anak yang meminta
seolah-olah tidak mau tahu bahwa segala sesuatu itu ada prosesnya, butuh waktu
untuk mewujudkannya. Tuhan Yesus Kristus mengajarkan kepada kita tentang cara
kerja tubuh-Nya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah
“Tetapi semua
orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu
mereka yang percaya dalam nama-Nya;” (Yoh 1:12 )
Tidak ada instan
dalam cara kerja Allah. Semuanya membutuhkan proses kesabaran dan waktu. Nilai
inilah yang seharusnya kita sadari. Jangan sampai kita menganggap segala
sesuatu yang diawali dengan sederhana dan kecil, tidak akan menghasilkan hal
yang luar biasa.
Yesus juga
berhadapan dengan persoalan ikatan keluarga ketika ibu dan saudara-saudaranya
ingin bertemu dengan-Nya. Lau para murid_Nya lalu memberitahukan kepada Yesus
tentang kehadiran anggota keluarga Yesus itu.
Tentu harapannya adalah Yesus menerima anggota keluarga-Nya dengan
istimewa. Namun ternyata Yesus bereaksi lain. Ia justru bersikap kritis, siapakah ibu-Ku, siapakah
saudara-saudara-Ku ? Mereka yang melakukan kehendak Allah, itulah ibu-Ku, dan
saudara-saudara-Ku. Jelas dalam hal ini Yesus menekankan ikatan persaudaraan
itu lebih luas daripada sekedar ikatan keluarga atau hubungan darah. Ada begitu
banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, jika berkaitan dengan ikatan keluarga dan hubungan darah kita
perjuangkan sedemikian rupa. Bahkan yang salahpun kita benarkan karena
pelakunya adalah keluarga kita sendiri.
Namun ekstrim yang lain pun bias terjadi, bahwa kita begitu tega dan tak
peduli sekalipun pada orang tua dan kakak adik kita sendiri yang masih memiliki
hubungan darah.
Menjadi orang
Kristen merupakan suatu anugerah dari Allah dan sekaligus perlu disertai dengan
komitmen untuk mengikuti Yesus secara total dalam hidup.
Dalam semua itu,
perlu kita memaknai prinsip Yesus,
marilah kita semua berusaha melakukan kehendak Allah, maka kita akan
terikat persaudaraan sejati dengan semua orang.
Dalam konteks
hidup kita sehari-hari, kita tidak bias melepaskan diri dari kenyataan
keberadaan bersama orang-orang lain, entah dalam keluarga, lingkungan kerja,
organisasi gereja maupun masyrakat. Tentu akan selalu ada perbedaan pendapat,
pertentangan dan mungkin sengketa di antara kita, namun apakah kita menjadi
provikator untuk situasi perpecahan yang semakin parah. Waspadalah, hal seperti
itu bahkan lebih jahat, karena sesame roh jahatpun di antara mereka tidak
saling mengusir demi menjaga kekompakan. Berlakulah sebagai anak-anak Allah
yang menjaga spirit persatuan yang telah di tentukan oleh Yesus.
JK
Lejab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar