Jumat, 21 Februari 2020

DASAR-DASAR HIDUP KRISTIANI


Sebagai umat beriman kita perlu menyadari dasar hidup sebagai umat Kristiani yang beriman kepada Allah. Oleh karena itu kita dapat melihat beberapa pedoman seperti surat Rasul Paulus kepada jemaad di Galatsia 3:26 “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Rasul Paulus menegaskan bahwa,  kita adalah bagian dari anak-anak Allah yang beriman akan Putranya Yesus Kristus. Dengan demikian pengharapan Yesus kepada umatnya untuk melakukan segala hal di dunia dengan penuh kasih dan cinta. Kita sudah menjadi bagian, dari milik kepunyaan Allah yakni sebagai bagian dari anak-anak Allah dengan melakukan kewajiban sesuai  dengan kehendak Allah sendiri. Segala sikap dan tindakkan diluar dari kehendak Allah maka, harus diperbaiki demi keselamatan hidup yang kekal.


 “ Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Dengan kuasa Roh Kudus anak-anak Allah selalu dalam bimbingan dan perlindungan. Kita umat kristiani adalah milik dari Allah sendiri. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Rom 8:14-16)

Dalam hidup sehari-hari, kita mengenal suatu sikap yang kadang menjengkelkan, yakni keinginan yang serta merta atau segera  dipenuhi. Sikap ini biasanya ditunjukan oleh anak-anak yang meminta sesuatu pada orang tuanya. Jika tidak segera dipenuhi keinginan itu,  tak jarang anak-anak rewel dan protes bahkan sampai menangis sejadi-jadinya membikin malu orang tua, apabila jika sedang di tengah keramaian. Itulah yang terkadang menjengkelkan. Anak yang meminta seolah-olah tidak mau tahu bahwa segala sesuatu itu ada prosesnya, butuh waktu untuk mewujudkannya. Tuhan Yesus Kristus mengajarkan kepada kita tentang cara kerja tubuh-Nya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;” (Yoh 1:12 )
Tidak ada instan dalam cara kerja Allah. Semuanya membutuhkan proses kesabaran dan waktu. Nilai inilah yang seharusnya kita sadari. Jangan sampai kita menganggap segala sesuatu yang diawali dengan sederhana dan kecil, tidak akan menghasilkan hal yang luar biasa.

Yesus juga berhadapan dengan persoalan ikatan keluarga ketika ibu dan saudara-saudaranya ingin bertemu dengan-Nya. Lau para murid_Nya lalu memberitahukan kepada Yesus tentang kehadiran anggota keluarga Yesus itu.  Tentu harapannya adalah Yesus menerima anggota keluarga-Nya dengan istimewa. Namun ternyata Yesus bereaksi lain. Ia justru  bersikap kritis, siapakah ibu-Ku, siapakah saudara-saudara-Ku ? Mereka yang melakukan kehendak Allah, itulah ibu-Ku, dan saudara-saudara-Ku. Jelas dalam hal ini Yesus menekankan ikatan persaudaraan itu lebih luas daripada sekedar ikatan keluarga atau hubungan darah. Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, jika berkaitan dengan  ikatan keluarga dan hubungan darah kita perjuangkan sedemikian rupa. Bahkan yang salahpun kita benarkan karena pelakunya adalah keluarga kita sendiri.  Namun ekstrim yang lain pun bias terjadi, bahwa kita begitu tega dan tak peduli sekalipun pada orang tua dan kakak adik kita sendiri yang masih memiliki hubungan darah.  

Menjadi orang Kristen merupakan suatu anugerah dari Allah dan sekaligus perlu disertai dengan komitmen untuk mengikuti Yesus secara total dalam hidup.
Dalam semua itu, perlu kita memaknai prinsip Yesus,  marilah kita semua berusaha melakukan kehendak Allah, maka kita akan terikat persaudaraan sejati dengan semua orang.
Dalam konteks hidup kita sehari-hari, kita tidak bias melepaskan diri dari kenyataan keberadaan bersama orang-orang lain, entah dalam keluarga, lingkungan kerja, organisasi gereja maupun masyrakat. Tentu akan selalu ada perbedaan pendapat, pertentangan dan mungkin sengketa di antara kita, namun apakah kita menjadi provikator untuk situasi perpecahan yang semakin parah. Waspadalah, hal seperti itu bahkan lebih jahat, karena sesame roh jahatpun di antara mereka tidak saling mengusir demi menjaga kekompakan. Berlakulah sebagai anak-anak Allah yang menjaga spirit persatuan yang telah di tentukan oleh Yesus.

JK Lejab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar