Luk 11:1-4
Orang Latin memiliki sebuah ungkapan indah dan
menarik:“Verba movent exempla trahunt”, artinya kata menggerakkan keteladanan
memikat. Hati biasanya lebih terpikat kepada perbuatan yang memberi contoh,
meskipun juga tertarik kepada kekuatan kata-kata. Keteladanan itu memikat hati
karena ia hadir sebagai kata-kata yang hidup.
Yesus memiliki keunggulan yang luar biasa karena Ia sempurna dalam
berkata-kata, juga sempurna dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya. Apa
yang diajarkan, itulah yang dibuat. Salah satu perbuatan yang dilakukan-Nya dan
tentu menarik dan memikat hati adalah kesetiaan-Nya untuk berdoa kepada
Bapa-Nya. Awal dan akhir dari karya-Nya disempurnakan dengan berdoa. Dan ini
tidak luput dari perhatian para murid-Nya.
Penginjil Lukas dalam tulisannya hari ini tidak membicarakan hal ikhwal
keteladanan Yesus yang mendasari permintaan para murid: “ajarlah kami berdoa”.
Yang ditampilkan adalah apa yang dilakukan Yohanes terhadap para muridnya. Ia
mengajari mereka berdoa.
Namun tidak bisa disangkal bahwa pengalaman akan kehidupan doa Yesus, Guru
mereka, yang diikuti dari waktu ke waktu turut menentukan permintaan para murid
kepada Yesus untuk mengajari mereka berdoa seperti yang dilakukan Yohanes
kepada murid-muridnya.
Para murid Yesus tahu apa yang dilakukan Yohanes itu sangat baik. Mereka
melihat kepedulian Yohanes kepada pertumbuhan rohani pengikutnya. Dan
pertumbuhan itu dijamin dengan doa yang baik; bukan hanya berdoa, tetapi berdoa
dengan benar dan baik.
Sebenarnya jauh sebelum Yesus mengajarkan doa seperti yang diminta para
murid-Nya, pengajaran-Nya tentang doa dan kehidupan doa-Nya yang dipelihara
dengan setia sudah menjadi kekuatan yang menjiwai hidup para murid. Kata-kata
panggilan: “ikutlah Aku” sesungguhnya juga berkenaan dengan menjejaki
keteladanan-Nya di dalam doa. Jika Yesus berdoa, maka mereka juga berdoa.
Namun karena keinginan mereka adalah berdoa
dengan baik dan benar, sesuai keinginan hati Allah, dan agar mereka bertumbuh
dalam kerohanian, maka setelah Yesus selesai berdoa, mereka meminta agar Yesus
mengajari mereka berdoa. Perhatikan! Permintaan para murid justru muncul ketika
Yesus selesai berdoa. Tentu ini berkaitan pula dengan kehidupan doa Yesus yang
memikat hati mereka.
Penginjil tidak mencatat komentar apapun atas permintaan para murid karena
memang permintaan itu sesuai dengan harapan-Nya; mereka sudah menunjukkan
kesadaran untuk bertumbuh dalam kehidupan doa. Yesus tahu, apa yang dibuat-Nya
dilihat, dicerna, dipahami dan dikasihi. Maka serta merta Ia mengajari mereka
doa Bapa Kami, suatu doa yang sederhana, namun begitu bernas dan berdaya
menopang kehidupan para murid.
Hal menarik dari wasiat Injil yang kita renungkan hari ini adalah bahwa
keteladanan adalah kekuatan yang membangkitkan harapan di tengah situasi
merosotnya kehidupan rohani baik di dalam keluarga, basis, lingkungan dan
paroki.
Di tengah kemerosotan hidup rohani, juga pasca merebaknya wabah covid-19,
keteladanan hidup dalam doa terutama dalam keluarga menjadi harapan untuk
membangun kembali keruntuhan rohani yang kini sedang dialami. Pengajaran,
ajakan bukan tidak perlu, akan tetapi perlu disempurnakan dengan keteladanan
hidup. Jangan pernah bermimpi mengajarkan anak untuk berdoa, jika sebagai orang
tua kita tidak pernah berdoa.
Sementara itu dari sudut pandang para murid, kita semua juga perlu membuka diri
terhadap keteladanan yang nyata dan hidup. Meskipun terjadi kemerosotan yang
hebat, akan tetapi masih ada tanda-tanda kehidupan. Sebagian kecil orang yang
penuh dengan kesetiaan masih setia menunjukkan keteladanan hidup dalam
kehidupan doa. Baiklah kita belajar dari kesetiaan dan ketekunan mereka untuk
membangun kembali rumah rohani kita.
Acapkali kita terbentur ketika berusaha bangun kembali dari keruntuhan kita,
kita tidak tahu lagi bagaimana kita harus berdoa dengan baik dan benar. Namun
bila kita terbuka hati kepada keteladanan yang masih tersisah, melihat nilai
dan kebaikan yang dipancarkannya, maka kita juga akan tergerak untuk meminta
kepada Yesus seperti para murid-Nya: “"Tuhan, ajarlah kami berdoa”.
Marilah kita berlomba-lomba menunjukkan keteladanan hidup kita, juga dalam hal
doa. Dunia sekarang butuh peradapan keteladanan kita, lebih dari peradapan
kata-kata ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar