Rabu, 07 Oktober 2020

Kekuatan Keteladanan

Luk 11:1-4

Orang Latin memiliki sebuah ungkapan indah dan menarik:“Verba movent exempla trahunt”, artinya kata menggerakkan keteladanan memikat. Hati biasanya lebih terpikat kepada perbuatan yang memberi contoh, meskipun juga tertarik kepada kekuatan kata-kata. Keteladanan itu memikat hati karena ia hadir sebagai kata-kata yang hidup.


Yesus memiliki keunggulan yang luar biasa karena Ia sempurna dalam berkata-kata, juga sempurna dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya. Apa yang diajarkan, itulah yang dibuat. Salah satu perbuatan yang dilakukan-Nya dan tentu menarik dan memikat hati adalah kesetiaan-Nya untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Awal dan akhir dari karya-Nya disempurnakan dengan berdoa. Dan ini tidak luput dari perhatian para murid-Nya.


Penginjil Lukas dalam tulisannya hari ini tidak membicarakan hal ikhwal keteladanan Yesus yang mendasari permintaan para murid: “ajarlah kami berdoa”. Yang ditampilkan adalah apa yang dilakukan Yohanes terhadap para muridnya. Ia mengajari mereka berdoa.


Namun tidak bisa disangkal bahwa pengalaman akan kehidupan doa Yesus, Guru mereka, yang diikuti dari waktu ke waktu turut menentukan permintaan para murid kepada Yesus untuk mengajari mereka berdoa seperti yang dilakukan Yohanes kepada murid-muridnya.


Para murid Yesus tahu apa yang dilakukan Yohanes itu sangat baik. Mereka melihat kepedulian Yohanes kepada pertumbuhan rohani pengikutnya. Dan pertumbuhan itu dijamin dengan doa yang baik; bukan hanya berdoa, tetapi berdoa dengan benar dan baik.


Sebenarnya jauh sebelum Yesus mengajarkan doa seperti yang diminta para murid-Nya, pengajaran-Nya tentang doa dan kehidupan doa-Nya yang dipelihara dengan setia sudah menjadi kekuatan yang menjiwai hidup para murid. Kata-kata panggilan: “ikutlah Aku” sesungguhnya juga berkenaan dengan menjejaki keteladanan-Nya di dalam doa. Jika Yesus berdoa, maka mereka juga berdoa.

 

Namun karena keinginan mereka adalah berdoa dengan baik dan benar, sesuai keinginan hati Allah, dan agar mereka bertumbuh dalam kerohanian, maka setelah Yesus selesai berdoa, mereka meminta agar Yesus mengajari mereka berdoa. Perhatikan! Permintaan para murid justru muncul ketika Yesus selesai berdoa. Tentu ini berkaitan pula dengan kehidupan doa Yesus yang memikat hati mereka.


Penginjil tidak mencatat komentar apapun atas permintaan para murid karena memang permintaan itu sesuai dengan harapan-Nya; mereka sudah menunjukkan kesadaran untuk bertumbuh dalam kehidupan doa. Yesus tahu, apa yang dibuat-Nya dilihat, dicerna, dipahami dan dikasihi. Maka serta merta Ia mengajari mereka doa Bapa Kami, suatu doa yang sederhana, namun begitu bernas dan berdaya menopang kehidupan para murid.


Hal menarik dari wasiat Injil yang kita renungkan hari ini adalah bahwa keteladanan adalah kekuatan yang membangkitkan harapan di tengah situasi merosotnya kehidupan rohani baik di dalam keluarga, basis, lingkungan dan paroki.


Di tengah kemerosotan hidup rohani, juga pasca merebaknya wabah covid-19, keteladanan hidup dalam doa terutama dalam keluarga menjadi harapan untuk membangun kembali keruntuhan rohani yang kini sedang dialami. Pengajaran, ajakan bukan tidak perlu, akan tetapi perlu disempurnakan dengan keteladanan hidup. Jangan pernah bermimpi mengajarkan anak untuk berdoa, jika sebagai orang tua kita tidak pernah berdoa.


Sementara itu dari sudut pandang para murid, kita semua juga perlu membuka diri terhadap keteladanan yang nyata dan hidup. Meskipun terjadi kemerosotan yang hebat, akan tetapi masih ada tanda-tanda kehidupan. Sebagian kecil orang yang penuh dengan kesetiaan masih setia menunjukkan keteladanan hidup dalam kehidupan doa. Baiklah kita belajar dari kesetiaan dan ketekunan mereka untuk membangun kembali rumah rohani kita.


Acapkali kita terbentur ketika berusaha bangun kembali dari keruntuhan kita, kita tidak tahu lagi bagaimana kita harus berdoa dengan baik dan benar. Namun bila kita terbuka hati kepada keteladanan yang masih tersisah, melihat nilai dan kebaikan yang dipancarkannya, maka kita juga akan tergerak untuk meminta kepada Yesus seperti para murid-Nya: “"Tuhan, ajarlah kami berdoa”.


Marilah kita berlomba-lomba menunjukkan keteladanan hidup kita, juga dalam hal doa. Dunia sekarang butuh peradapan keteladanan kita, lebih dari peradapan kata-kata ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar