Gal 5:18-25 & Luk 11:42-46
Manusia membawa di dalam dirinya dua kekuatan
yang saling berlawanan. Dua kekuatan itu adalah kekuatan Roh dan kekuatan
daging.
Masing-masing kekuatan itu ingin merebut dan menguasai hati manusia dan
mengarahkannya ke sasaran masing-masing. Kekuatan Roh membimbing kepada
kebaikan dan keselamatan, meski harus orang harus berjuang dan bersedia
menanggung korban. Sebaliknya keinginan daging menyesatkan dan membinasakan,
meskipun orang yang dikuasai daging itu menerima kenikmatan dan kesenangan dalam
hidup ini.
Dalam kehidupan praktis, orang yang sedemikian
dikuasai oleh daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya menjadi terbiasa
dan menyatu dengan hidupnya. Sebegitu menyatunya sehingga orang tidak mampu
lagi membedakan mana perbuatan-perbuatan daging dan mana perbuatan-buatan Roh. Orang
terjebak dalam sesat identifikasi. Perbuatan daging diidentifikasi sebagai
perbuatan Roh ataupun sebaliknya.
Menurut St. Paulus, orang yang dikuasai oleh daging mengungkapkan dirinya ke
luar dalam perbuatan-perbuatan seperti: “percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah,
kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan,
pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).
Berlainan dengan itu, orang yang memberi diri
dipimpin oleh Roh selalu menghasilkan buah-buah kehidupan yang nyata seperti
“kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).
Keinginan daging dapat mengaburkan mata orang beriman. Untuk itu maka St.
Paulus menasihati umat beriman agar mau memberi diri untuk hidup dan dipimpin
oleh Roh. Bukan daging, melainkan Rohlah yang memimpin hidup kepada kebaikan.
Keputusan untuk ini memang berat. Ia menuntut perjuangan yang tidak ringan.
Menurut Paulus, orang harus “menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan
keinginannya” (Gal 5:24). Namun hanya inilah jalan satu-satunya untuk
menghasilkan buah-buah kebaikan yang menyelamatkan. Dan untuk tujuan ini, orang
mesti secara bebas memilih untuk hidup dan dipimpin oleh Roh.
Kecaman Yesus atas orang-orang Farisi yang ditampilkan penginjil Lukas hari ini
tidak terlepas dari segala hawa nafsu dan keinginan yang begitu merasuki jiwa
mereka. Apapun yang diperbuat adalah untuk mencari kenikmatan dan kepuasan diri
mereka sendiri. Salah satunya adalah kehormatan yang dikejar dalam berbagai
cara. Lukas menyebut dua hal yang dibuat untuk mencari kehormatan: “suka duduk
di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar”
(Luk 11:43).
Kelekatan pada daging dengan segala hawa nafsu
dan keinginannya menjauhkan mereka dari panggilan sebagai guru agama Yahudi.
Panggilan mereka adalah mengedepankan kasih dan keadilan Allah sebagai roh dari
hukumTaurat, namun praktik hidup berlawanan dengan itu. Cinta akan daging
menggagalkan panggilan mereka sebagai guru agama. Mereka bahkan dikatakan
sebagai orang-orang sesat.
Bagi kita, kecaman Yesus terhadap hidup orang-orang Farisi ini penting bagi
kita terutama mempertajam nasihat St. Paulus yang menghendaki agar kita memberi
diri kita untuk hidup dan dipimpin oleh Roh. Menjadi milik Kristus Yesus
sebagaimana dikatakan Paulus berarti “menyalibkan daging dengan segala hawa
nafsu dan keinginannya” (Gal 5:24), akan tetapi tidak menghapus kodrat
kedagingan kita. Justru dalam situasi inilah kita diminta agar hidup dan
dipimpin oleh Roh dan bekerja bersama Roh yang memimpin kepada kebaikan.
Apa yang dikatakan Paulus tentang buah-buah Roh bukanlah suatu yang utopis,
melainkan ideal hidup Kristiani yang dapat kita capai karena kita memang
memberi diri untuk hidup dan dipimpin oleh Roh. Godaan perbuatan daging selalu
ada dan kekuatannya nyata dialami, namun Roh menuntun kita untuk
menyalibkannya, dan memandang sebagai korban yang sepatutnya untuk hidup
sebagaimana yang dikehendaki Tuhan bagi kita.
Tidak dapat disangkal bahwa acapkali kita terjebak dalam pola aktivitas
orang-orang Farisi yang mengedepankan hawa nafsu dan keinginan diri kita
sendiri: suka mencari hormat dan ingin dipuji, suka akan kenikmatan dan mau
cari yang enak, suka melempar tanggung jawab dan menjauhi pengorbanan dll. Akan
tetapi kecaman Yesus menyadarkan kita untuk berbalik dan menuntun kita untuk menanggapi
secara positif nasihat St. Paulus: Memberi diri dipimpin oleh Roh. Keputusan
bebas kita menentukan apa yang bakal kita alami. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar