Luk 11:29-32
Nama adalah sebuah tanda. Nomen est
omen. Sejak dilahirkan di muka bumi, orang tua telah memberikan sebuah nama
kepada kita masing-masing. Nama seorang anak manusia bukan sekedar hasil buah
cinta orang tua. Ia memainkan peran vital karena memiliki sebuah keyakinan dan
harapan yang baik. Nama yang secara integral melekat dalam diri kita tentu
bukan sekedar nama. Ada keyakinan dan harapan yang terbersit dalam diri orang
tua, agar setiap anaknya dapat menjadi pribadi yang “besar”. Pribadi yang mampu
mengangkat derajat orang tua dan nama keluarga besar ke level yang lebih tinggi
melalui berbagai corong. Atau sekurang-kurangnya, nama yang terdiskripsi dalam
pribadi tertentu bisa menunjukkan jati dirinya sebagai pribadi baik. Itulah
harapan dan keyakinan dari para orang tua tentang sebuah nama. Nama yang
menjadi tanda agar nilai kebaikan dan kemuliaan dalam masyarakat tetap terjalin
dan terjaga.
Dalam suatu kesempatan, Yesus mengemukakan kepada orang banyak tentang
kelompok orang tertentu yang meminta sebuah tanda dari-Nya. Dalam Injil Lukas
yang disajikan kepada kita hari ini (Luk 11:29-32) tidak disebutkan secara
eksplisit identitas kelompok itu. Beda apabila kita membaca teks paralel yang
diulas oleh penginjil Matius (Mat 12:38-42). Kita akan mendapati dengan jelas
bahwa kelompok yang dimaksud oleh Yesus adalah beberapa ahli Taurat dan orang
Farisi. Para ahli Taurat adalah kelompok intelektual Yahudi yang sangat paham
akan isi Kitab Suci agama Yahudi. Mereka mendalami secara khusus ilmu tentang
Kitab Suci sehingga tidak perlu diragukan lagi kompetensi mereka akan isi Kitab
Suci. Sedangkan orang Farisi adalah salah satu aliran dalam agama Yahudi yang
sangat kaku mempertahankan kemurnian darah Yahudi. Sumber keyakinan mereka ada
dua yakni Kitab Taurat dan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka.
Dengan latar atau status mentereng yang dimiliki, para ahli Taurat dan
golongan Farisi berusaha menggembosi upaya pewartaan Kerajaan Allah yang
dilakukan oleh Yesus. Mereka bukan meminta tetapi lebih tepat menggugat dan
mempertanyakan tanda apa yang dimiliki oleh Yesus sehingga Ia begitu berkuasa
mengadakan berbagai aksi mukjizat. Tentu saja, orang Farisi dan para ahli
Taurat sangat kagum dengan aneka mukjizat dari Yesus. Serentak pula, timbul
sikap sentimen dan iri hati. Karena sebenarnya mereka tahu latar kehidupan
Yesus. Siapa orang tuanya. Apa pekerjaan orang tuanya. Dan tempat tinggal Yesus
hanya di sebuah kampung kecil yang bernama Nazaret. Sebuah kampung yang tidak
familiar di mata orang Yahudi. Berangkat dari faktor-faktor itu, dalam pandangan
mereka, sangat tidak mungkin Yesus bisa melakukan hal-hal ajaib seperti
menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, menggandakan roti, dan
sebagainya. Di lain pihak, mereka merasa iri hati karena tidak bisa melakukan
hal-hal seperti yang telah diperbuat oleh Yesus.
Menanggapi permintaan dari orang-orang tersebut, Yesus melabeli mereka
sebagai angkatan yang jahat. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka
menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain
tanda nabi Yunus (Luk 11:29).” Yesus membandingkan sikap mereka dengan orang
Niniwe. Orang Niniwe percaya kepada Yunus sebagai tanda keselamatan yang datang
dari Allah. Ketika mendengar pewartaan yang dibawa oleh Yunus, orang Niniwe
langsung melaksanakan hari perkabungan sebagai tanda duka dan bertobat dari
segala dosa. Sikap orang Niniwe berbanding terbalik dengan sikap yang
ditunjukkan oleh orang Yahudi. Justru mereka tidak percaya kepada Yesus yang
lebih besar dari nabi Yunus sendiri. Yesus telah menunjukkan jati diri-Nya
sebagai pribadi yang bukan sekedar manusia biasa. Bukan pula sekedar nabi.
Tetapi Ia lebih dari nabi. Ia adalah Anak Allah. Ia adalah Allah itu sendiri.
Melalui sabda dan aksi-aksi mukjizatnya, Yesus telah memberikan sebuah tanda
yang tegas kepada orang Israel tentang siapa sebenarnya Dia. Nama Yesus bukan
sekedar nama biasa. Nama Yesus adalah sebuah tanda keselamatan yang datang dari
Allah untuk menyelamatkan semua umat manusia.
Karena kedegilan dan kesombongan, orang Yahudi yang diwakili oleh para ahli
Taurat dan golongan Farisi menunjukkan sikap skeptis kepada Yesus. Mereka tidak
mampu membaca tanda keselamatan yang dibawa oleh Allah dalam diri Anak-Nya Yang
Tunggal, Yesus Kristus. Sebaliknya, karena memiliki kerendahan dan keterbukaan
hati, orang Niniwe menunjukkan sikap hormat, percaya dan kemudian bertobat
kembali ke jalan yang benar. Yunus telah menjadi sebuah tanda keselamatan yang
diproklamirkan oleh Allah kepada orang-orang Niniwe.
Seperti orang Niniwe, demikian pula sikap kita sebagai orang Katolik dewasa
ini. Di tengah hantaman gelombang kedua badai Covid-19, hendaknya semakin
merekatkan dan menguatkan iman kita kepada Allah. Kita tetap menunjukkan sikap
terbuka dan rendah hati untuk mendengarkan bisikan ilahi dari setiap pengalaman
rohani yang kita alami. Terutama dengan badai Covid-19 yang tak kunjung usai.
Apa yang sesungguhnya Tuhan mau dari diri kita. Tuhan tidak mungkin mau
membinasakan kita dengan hadirnya penyakit ini. Sebaliknya Tuhan ingin
menganugerahkan keselamatan kepada kita. Dalam iman kita percaya bahwa Tuhan
sementara membuktikan kekuasaan-Nya yang maha dasyat agar kita sungguh-sungguh
mau bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Yang tidak percaya kepada-Nya pasti akan
binasa.
Tuhan telah memberi meterai yang indah dalam nama kita masing-masing.
Melalui orang tua, Tuhan telah menitipkan pesan mulia dari sebuah nama yang
melekat erat dalam diri. Dan dalam sakramen pembaptisan, nama kita
masing-masing semakin mendapat legitimasi untuk menjadi pengikuti-Nya yang
setia. Kita telah hadir di tengah dunia dengan aneka nama dan peran yang kita
lakukan. Semoga kita mampu memaknai nama yang terintegrasi dalam diri menjadi
sebuah tanda yang membawa keselamatan bagi banyak orang. Covid-19 tidak saja
menguatkan identitas dan keyakinan kita kepada Tuhan. Yang lebih krusial, kita
mampu menjadikan nama kita menjadi tanda yang baik yang menguatkan dan
meneguhkan orang-orang di tengah hantaman badai Covid-19. Kehadiran kita lewat
kata-kata dan perbuatan adalah sebuah tanda yang mewartakan dan memuji kemulilaan
nama Allah yang maha tinggi. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar