Minggu, 11 Oktober 2020

NAMA ADALAH TANDA

Luk 11:29-32

Nama adalah sebuah tanda. Nomen est omen. Sejak dilahirkan di muka bumi, orang tua telah memberikan sebuah nama kepada kita masing-masing. Nama seorang anak manusia bukan sekedar hasil buah cinta orang tua. Ia memainkan peran vital karena memiliki sebuah keyakinan dan harapan yang baik. Nama yang secara integral melekat dalam diri kita tentu bukan sekedar nama. Ada keyakinan dan harapan yang terbersit dalam diri orang tua, agar setiap anaknya dapat menjadi pribadi yang “besar”. Pribadi yang mampu mengangkat derajat orang tua dan nama keluarga besar ke level yang lebih tinggi melalui berbagai corong. Atau sekurang-kurangnya, nama yang terdiskripsi dalam pribadi tertentu bisa menunjukkan jati dirinya sebagai pribadi baik. Itulah harapan dan keyakinan dari para orang tua tentang sebuah nama. Nama yang menjadi tanda agar nilai kebaikan dan kemuliaan dalam masyarakat tetap terjalin dan terjaga.

 

Dalam suatu kesempatan, Yesus mengemukakan kepada orang banyak tentang kelompok orang tertentu yang meminta sebuah tanda dari-Nya. Dalam Injil Lukas yang disajikan kepada kita hari ini (Luk 11:29-32) tidak disebutkan secara eksplisit identitas kelompok itu. Beda apabila kita membaca teks paralel yang diulas oleh penginjil Matius (Mat 12:38-42). Kita akan mendapati dengan jelas bahwa kelompok yang dimaksud oleh Yesus adalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi. Para ahli Taurat adalah kelompok intelektual Yahudi yang sangat paham akan isi Kitab Suci agama Yahudi. Mereka mendalami secara khusus ilmu tentang Kitab Suci sehingga tidak perlu diragukan lagi kompetensi mereka akan isi Kitab Suci. Sedangkan orang Farisi adalah salah satu aliran dalam agama Yahudi yang sangat kaku mempertahankan kemurnian darah Yahudi. Sumber keyakinan mereka ada dua yakni Kitab Taurat dan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka.

 

Dengan latar atau status mentereng yang dimiliki, para ahli Taurat dan golongan Farisi berusaha menggembosi upaya pewartaan Kerajaan Allah yang dilakukan oleh Yesus. Mereka bukan meminta tetapi lebih tepat menggugat dan mempertanyakan tanda apa yang dimiliki oleh Yesus sehingga Ia begitu berkuasa mengadakan berbagai aksi mukjizat. Tentu saja, orang Farisi dan para ahli Taurat sangat kagum dengan aneka mukjizat dari Yesus. Serentak pula, timbul sikap sentimen dan iri hati. Karena sebenarnya mereka tahu latar kehidupan Yesus. Siapa orang tuanya. Apa pekerjaan orang tuanya. Dan tempat tinggal Yesus hanya di sebuah kampung kecil yang bernama Nazaret. Sebuah kampung yang tidak familiar di mata orang Yahudi. Berangkat dari faktor-faktor itu, dalam pandangan mereka, sangat tidak mungkin Yesus bisa melakukan hal-hal ajaib seperti menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, menggandakan roti, dan sebagainya. Di lain pihak, mereka merasa iri hati karena tidak bisa melakukan hal-hal seperti yang telah diperbuat oleh Yesus.

 

Menanggapi permintaan dari orang-orang tersebut, Yesus melabeli mereka sebagai angkatan yang jahat. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus (Luk 11:29).” Yesus membandingkan sikap mereka dengan orang Niniwe. Orang Niniwe percaya kepada Yunus sebagai tanda keselamatan yang datang dari Allah. Ketika mendengar pewartaan yang dibawa oleh Yunus, orang Niniwe langsung melaksanakan hari perkabungan sebagai tanda duka dan bertobat dari segala dosa. Sikap orang Niniwe berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang Yahudi. Justru mereka tidak percaya kepada Yesus yang lebih besar dari nabi Yunus sendiri. Yesus telah menunjukkan jati diri-Nya sebagai pribadi yang bukan sekedar manusia biasa. Bukan pula sekedar nabi. Tetapi Ia lebih dari nabi. Ia adalah Anak Allah. Ia adalah Allah itu sendiri. Melalui sabda dan aksi-aksi mukjizatnya, Yesus telah memberikan sebuah tanda yang tegas kepada orang Israel tentang siapa sebenarnya Dia. Nama Yesus bukan sekedar nama biasa. Nama Yesus adalah sebuah tanda keselamatan yang datang dari Allah untuk menyelamatkan semua umat manusia.

 

Karena kedegilan dan kesombongan, orang Yahudi yang diwakili oleh para ahli Taurat dan golongan Farisi menunjukkan sikap skeptis kepada Yesus. Mereka tidak mampu membaca tanda keselamatan yang dibawa oleh Allah dalam diri Anak-Nya Yang Tunggal, Yesus Kristus. Sebaliknya, karena memiliki kerendahan dan keterbukaan hati, orang Niniwe menunjukkan sikap hormat, percaya dan kemudian bertobat kembali ke jalan yang benar. Yunus telah menjadi sebuah tanda keselamatan yang diproklamirkan oleh Allah kepada orang-orang Niniwe.

 

Seperti orang Niniwe, demikian pula sikap kita sebagai orang Katolik dewasa ini. Di tengah hantaman gelombang kedua badai Covid-19, hendaknya semakin merekatkan dan menguatkan iman kita kepada Allah. Kita tetap menunjukkan sikap terbuka dan rendah hati untuk mendengarkan bisikan ilahi dari setiap pengalaman rohani yang kita alami. Terutama dengan badai Covid-19 yang tak kunjung usai. Apa yang sesungguhnya Tuhan mau dari diri kita. Tuhan tidak mungkin mau membinasakan kita dengan hadirnya penyakit ini. Sebaliknya Tuhan ingin menganugerahkan keselamatan kepada kita. Dalam iman kita percaya bahwa Tuhan sementara membuktikan kekuasaan-Nya yang maha dasyat agar kita sungguh-sungguh mau bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Yang tidak percaya kepada-Nya pasti akan binasa.

 

Tuhan telah memberi meterai yang indah dalam nama kita masing-masing. Melalui orang tua, Tuhan telah menitipkan pesan mulia dari sebuah nama yang melekat erat dalam diri. Dan dalam sakramen pembaptisan, nama kita masing-masing semakin mendapat legitimasi untuk menjadi pengikuti-Nya yang setia. Kita telah hadir di tengah dunia dengan aneka nama dan peran yang kita lakukan. Semoga kita mampu memaknai nama yang terintegrasi dalam diri menjadi sebuah tanda yang membawa keselamatan bagi banyak orang. Covid-19 tidak saja menguatkan identitas dan keyakinan kita kepada Tuhan. Yang lebih krusial, kita mampu menjadikan nama kita menjadi tanda yang baik yang menguatkan dan meneguhkan orang-orang di tengah hantaman badai Covid-19. Kehadiran kita lewat kata-kata dan perbuatan adalah sebuah tanda yang mewartakan dan memuji kemulilaan nama Allah yang maha tinggi. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar