1
Kor 12:31-13:13 & Mat 18:1-4
Yesus
menggunakan anak kecil sebagai tolok ukur yang menentukan tingkat kematangan
iman seseorang dan jaminan dasar untuk menjadi besar dalam Kerajaan Allah.
Apa yang dapat dibanggakan dari seorang anak kecil sehingga Yesus menjadikannya
sebagai keunggulan yang patut diteladani?
Tentu Yesus tidak melihat sifat kekanak-kanakan yang menurut St. Paulus
ditinggalkannya ketika ia menjadi dewasa. Yang dilihat Yesus adalah jiwa
seorang anak kecil yang bebas dari kesombongan dan keangkuhan diri untuk
menjadi yang paling tinggi, merasa dirinya tidak berdaya dan bergantung
sepenuhnya kepada orang tuanya.
Pada diri
mereka juga, ciri-ciri kasih yang digambarkan St. Paulus menjadi nyata – tidak
memegahkan diri dan tidak sombong, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan
orang lain, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu. Itulah
kualitas-kualitas unggul pada diri seorang anak kecil.
Dan menurut Yesus, kualitas-kualitas seperti itu penting bagi seseorang untuk
masuk ke dalam kerajaan mesianik-Nya.
Maka ketika para murid-Nya datang dan bertanya kepada Dia: "Siapakah yang
terbesar dalam Kerajaan Surga?" Ia memanggil seorang anak kecil dan
menempatkan ia di tengah-tengah mereka dan mengajarkan bahwa siapa yang tidak
bertobat, merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil itu tidak akan
menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga.
Konteks dari pertanyaan para murid sebenarnya adalah pertengkaran di antara
mereka soal siapakah yang mendapat kedudukan tertinggi dalam Kerajaan Surga.
Mereka berpikir, di dalam surga itu ada jabatan-jabatan yang bersifat hierarkis
seperti di dalam pemerintahan atau kerajaan dunia yang diperebutkan banyak
orang. Karena itu, Ia mengingatkan mereka bahwa kecuali mereka meninggalkan
cara pandang mereka itu dan mengalami suatu kelahiran baru dan menjadi seperti
anak kecil maka mereka semua akan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga.
Yesus mengulangi diksi “yang terbesar” seperti yang dinyatakan para murid.
Namun bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih tinggi dari yang lain dalam
Kerajaan Surga, melainkan untuk menunjukkan bahwa semua orang yang menunjukkan
iman yang murni mendapatkan upah yang sama. Semua orang yang masuk ke dalam
kerajaan-Nya sama-sama memandang Allah dalam kemuliaan-Nya dan hidup dalam
suatu persekutuan kasih yang tidak pernah berakhir.
St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus yang pestanya kita rayakan hari ini adalah
salah satu contoh seorang murid Yesus yang menghayati dengan sungguh-sungguh
wejangan Yesus tentang pentingnya menjadi seperti seorang anak kecil. Seluruh
perjananan hidup Teresia diwarnai oleh iman seperti anak kecil. Ia tidak
menjadi kekanak-kanakan dengan menjadi seperti anak kecil dan menerima semua
anak kecil, melainkan menunjukkan iman dan spiritualitasnya seperti anak kecil.
Inilah kualitas hidup iman yang dikehendaki Yesus.
Cara hidup St. Teresa dari kanak-kanak Yesus ini menjadi suatu model dan
panggilan hidup bagi kita. Iman dan spiritualitasnya membantu kita untuk
membangun di dalam diri kita suatu kualitas hidup sebagai seorang murid Yesus.
Oleh karena acapkali kita terjebak dalam cara pandang para murid yang
memikirkan kedudukan, menjadi angkuh dan sombong, dan tidak jarang mengorbankan
orang lain demi keinginan diri kita, maka baiklah kita mendengarkan dengan
saksama permintaan Yesus untuk mengalami kelahiran baru di dalam diri kita.
Marilah kita menunjukkan iman dan spiritualitas kita seperti seorang anak kecil
agar kita bisa menikmati rahmat surgawi, hidup dalam kasih persaudaraan di
dunia ini dan kelak dalam kerajaan-Nya. **Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar