Kamis, 01 Oktober 2020

Menjadi Seperti Anak Kecil

1 Kor 12:31-13:13 & Mat 18:1-4

Yesus menggunakan anak kecil sebagai tolok ukur yang menentukan tingkat kematangan iman seseorang dan jaminan dasar untuk menjadi besar dalam Kerajaan Allah.


Apa yang dapat dibanggakan dari seorang anak kecil sehingga Yesus menjadikannya sebagai keunggulan yang patut diteladani?


Tentu Yesus tidak melihat sifat kekanak-kanakan yang menurut St. Paulus ditinggalkannya ketika ia menjadi dewasa. Yang dilihat Yesus adalah jiwa seorang anak kecil yang bebas dari kesombongan dan keangkuhan diri untuk menjadi yang paling tinggi, merasa dirinya tidak berdaya dan bergantung sepenuhnya kepada orang tuanya.

 

Pada diri mereka juga, ciri-ciri kasih yang digambarkan St. Paulus menjadi nyata – tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu. Itulah kualitas-kualitas unggul pada diri seorang anak kecil.


Dan menurut Yesus, kualitas-kualitas seperti itu penting bagi seseorang untuk masuk ke dalam kerajaan mesianik-Nya.


Maka ketika para murid-Nya datang dan bertanya kepada Dia: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?" Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkan ia di tengah-tengah mereka dan mengajarkan bahwa siapa yang tidak bertobat, merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil itu tidak akan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga.


Konteks dari pertanyaan para murid sebenarnya adalah pertengkaran di antara mereka soal siapakah yang mendapat kedudukan tertinggi dalam Kerajaan Surga. Mereka berpikir, di dalam surga itu ada jabatan-jabatan yang bersifat hierarkis seperti di dalam pemerintahan atau kerajaan dunia yang diperebutkan banyak orang. Karena itu, Ia mengingatkan mereka bahwa kecuali mereka meninggalkan cara pandang mereka itu dan mengalami suatu kelahiran baru dan menjadi seperti anak kecil maka mereka semua akan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga.


Yesus mengulangi diksi “yang terbesar” seperti yang dinyatakan para murid. Namun bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih tinggi dari yang lain dalam Kerajaan Surga, melainkan untuk menunjukkan bahwa semua orang yang menunjukkan iman yang murni mendapatkan upah yang sama. Semua orang yang masuk ke dalam kerajaan-Nya sama-sama memandang Allah dalam kemuliaan-Nya dan hidup dalam suatu persekutuan kasih yang tidak pernah berakhir.


St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus yang pestanya kita rayakan hari ini adalah salah satu contoh seorang murid Yesus yang menghayati dengan sungguh-sungguh wejangan Yesus tentang pentingnya menjadi seperti seorang anak kecil. Seluruh perjananan hidup Teresia diwarnai oleh iman seperti anak kecil. Ia tidak menjadi kekanak-kanakan dengan menjadi seperti anak kecil dan menerima semua anak kecil, melainkan menunjukkan iman dan spiritualitasnya seperti anak kecil. Inilah kualitas hidup iman yang dikehendaki Yesus.


Cara hidup St. Teresa dari kanak-kanak Yesus ini menjadi suatu model dan panggilan hidup bagi kita. Iman dan spiritualitasnya membantu kita untuk membangun di dalam diri kita suatu kualitas hidup sebagai seorang murid Yesus.


Oleh karena acapkali kita terjebak dalam cara pandang para murid yang memikirkan kedudukan, menjadi angkuh dan sombong, dan tidak jarang mengorbankan orang lain demi keinginan diri kita, maka baiklah kita mendengarkan dengan saksama permintaan Yesus untuk mengalami kelahiran baru di dalam diri kita.


Marilah kita menunjukkan iman dan spiritualitas kita seperti seorang anak kecil agar kita bisa menikmati rahmat surgawi, hidup dalam kasih persaudaraan di dunia ini dan kelak dalam kerajaan-Nya. **Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar