Selasa, 29 Desember 2020

KETAATAN BERBUAH MANIS

                                                                            Luk 1:57-66

Seorang anak yang lahir ke muka bumi merupakan buah cinta antara seorang ayah dan ibu. Kelahirannya begitu didambakan. Pada saat ia lahir, semua keluarga merasa gembira dan bersukacita. Tidak jarang, ekspresi kegembiraan dan rasa syukur itu diwujudkan dalam sebuah acara yang besar. Semua orang, sahabat, dan kenalan turut diundang untuk ikut mengambil bagian dalam kebahagiaan. Ada sepasang suami istri yang sudah menanti kehadiran seorang anak dalam keluarga kecil mereka sekitar sepuluh tahun. Berkat kesabaran untuk bertahan dalam berbagai tantangan dan ketaatan untuk tidak kendor mendaraskan doa kepada Tuhan, pada akhirnya mereka dianugerahi oleh Tuhan seorang anak perempuan yang cantik. Ketika anak itu dibaptis, perayaan syukurnya dibuat secara besar-besaran. Sang suami memberi kesaksian bahwa anak mereka yang lahir adalah tanda cinta Tuhan bagi mereka yang memiliki pengharapan dan iman yang mendalam.

 

Zakharia dan Elisabet pada hari ini juga merasakan kebesaran cinta Tuhan dalam hidup mereka. Melalui bayi yang bernama Yohanes, Zakharia dan Elisabet memiliki pengharapan akan janji Tuhan yang telah menjadi kenyataan. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dijelaskan dengan akan sehat. Mengingat keduanya telah lanjut usia; harapan untuk mendapatkan anak sebenarnya telah hilang total. Mereka hanya memiliki iman yang teguh kepada Tuhan sembari menantikan keselamatan kekal di akhir hidup. Zakharia dan Elisabet adalah segelintir orang Israel yang masih memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Banyak orang Israel pada masa itu yang telah kehilangan harapan dan imannya kepada Tuhan. Berada dalam kekuasaan dan penjajahan bangsa asing (Romawi) menjadi salah satu sebab orang Israel mempertanyakan kembali imannya kepada Tuhan. Banyak dari antara orang Israel juga yang telah berpindah keyakinan dengan menyembah dewa-dewa milik bangsa Yunani. Melalui Zakharia dan Elisabet, Tuhan hendak memberi pesan kepada semua orang Israel bahwa Ia tidak pernah meninggalkan mereka sendirian. Walaupun mereka telah berulangkali menunjukkan ketidaksetiaan kepada Tuhan.

Dalam suatu penglihatan ketika sedang bertugas di Bait Allah, malaikat Tuhan datang kepada Zakharia dan menyampaikan sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Bahwa istrinya Elisabet akan segera mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dan mereka harus memberi nama anak itu dengan nama Yohanes. Yohanes berarti Allah yang merahmati. Atau Tangan Tuhan yang menyertai. Malaikat Tuhan memberi gambaran yang sangat detil tentang sosok Yohanes. “Ia akan besar di  hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:15-17).

 

Mendengar kata-kata dari malaikat Tuhan tersebut, Zakharia tidak menunjukkan sukacitanya. Malahan ia bersikap pesimis tentang rencana Tuhan. Alasan mendasarnya sangat manusiawi. Karena sudah lanjut usia. Oleh sebab kekurangpercayaannya itu maka malaikat Tuhan membuat Zakharia menjadi tuli dan bisu. Ia akan kembali menjadi normal pada saat moment besar itu tiba dimana Yohanes Pembaptis akan dilahirkan dari rahim istrinya Elisabet.

 

Dan pada hari ini (Luk 1:57-66), moment yang dinantikan oleh sepasang suami istri lanjut usia itu telah tiba. Elisabet melahirkan seorang anak laki-laki. Seluruh keluarga besar, para sahabat dan kenalan turut bersukacita atas peristiwa langka tersebut. Pada hari kedelapan, ketika anak itu hendak disunat, semua orang datang dan ingin menamai dia seperti nama ayahnya Zakharia. Namun Elisabet mementahkan keinginan semua orang yang hadir dengan mengatakan bahwa bayinya harus dinamakan Yohanes. Tentu saja semua orang terkejut dan tidak percaya karena nama Yohanes sangat asing dalam keluarga besar Zakharia. Lagipula, menaru nama anak yang tidak sesuai dengan nama keluarga besar sangat berlawanan dengan tradisi nenek moyang. Lalu mereka mengkorfirmasi dengan isyarat kepada Zakharia tentang nama bayi tersebut. Zakharia pun mengafirmasi apa yang sudah disampaikan oleh istrinya dengan menulis nama bayi itu adalah Yohanes. Seperti janji malaikat Tuhan, pada saat itu juga Zakharia bisa kembali berbicara sambil memuji-muji nama Tuhan.

 

Karena ketaatan Zakharia dan Elisabet maka janji Tuhan menjadi nyata. Walaupun pada awalnya Zakharia masih menunjukkan keragu-raguannya, namun ia bersama istrinya, Elisabet, tetap taat untuk memegang janji yang sudah disampaikan oleh malaikat Tuhan. Mereka berdua menunjukkan keberanian dan konsistensi berhadapan dengan tekanan dari keluarga, sahabat dan kenalan. Selain itu, tidak gampang juga harus berseberangan dengan aturan dan tradisi yang sudah diwarisi turun temurun. Tetapi  mereka berdua tidak terpengaruh sedikit pun untuk membelokkan niat suci yang telah mereka pegang di hadapan Tuhan. Berkat ketaatan yang telah ditunjukkan, hasilnya pun berbuah manis. Bayi Yohanes Pembaptis lahir sebagai tanda cinta Tuhan. Tidak saja bagi Zakharia dan Elisabet, tetapi bagi semua orang yang memiliki iman yang teguh kepada-Nya.

 

Dewasa ini nilai ketaatan menjadi sebuah nilai yang mahal harganya. Banyak orang yang tidak sungguh-sungguh menghayati dan membawa nilai ketaatan dalam hidup sehari-hari. Jangankan nilai moral, taat kepada kehendak Tuhan yang terpatri dalam ajaran agama pun sudah mulai diabaikan. Nilai ketaatan menjadi relatif karena masing-masing orang bisa menafsir sesuai dengan kepentingan dan ego pribadi. Sehingga tidak menjadi heran kita menyaksikan seringkali terjadi geresekan, konflik, dan bahkan pertumpahan darah sebagai akibat hilangnya nilai ketaatan kepada norma-norma moral dan agama.

 

Zakharia dan Elisabet memberi inspirasi tentang nilai sebuah ketaatan. Ketaatan kepada kehendak Tuhan menjadikan pribadi kita semakin matang dalam berbagai dimensi kehidupan. Kita akan mampu menghidupi iman kepada Tuhan dalam segala tugas, karya dan pengabdian di mana saja kita berada. Terutama di komunitas Rumah Sakit Bukit ini. Taat kepada kehendak Tuhan mendorong kita untuk bisa taat kepada segala bentuk aturan dan kebijakan yang dapat membawa kemajuan dan perkembangan rumah sakit. Sikap taat kepada Tuhan memotivasi kita untuk selalu berpihak pada kebenaran manakala kita menemui aneka ketidakadilan yang terjadi di tempat ini. Sikap taat kepada Tuhan juga menggiring kita untuk semakin memompa energi pelayanan dan membagikannya dengan tulus kepada segenap orang yang sementara menantikan perhatian dan cinta kita.

 

Sikap taat kepada Tuhan adalah sebuah sikap iman yang membuat kita semakin layak menyambut Dia yang akan datang. Tinggal sesaat lagi kita akan menyambut Sang Bayi mungil pada hari Natal. Mari kita semakin mematangkan diri untuk bersikap taat pada segala kehendak-Nya, agar Dia yang datang dalam palungan hina dapat membawa segala kebaikan dan kemenangan dalam hidup kita. Sikap ketaatan itu pasti berbuah manis. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar