Mat 1 :18-23
Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta
Kelahiran Santa Perawan Maria. Figur seorang perempuan yang turut mengambil
bagian aktif dalam proyek keselamatan Allah di muka bumi. Maria adalah mitra
Allah yang menunjukkan perannya dengan mengandung dan melahirkan sang
Juruselamat Yesus Kristus. Tidak hanya sampai di situ, Maria juga senantiasa
menjaga dan mendampingi Yesus hingga kematian-Nya di kayu salib. Fokus
peringatan hari kelahiran Santa Perawan Maria bukan soal angka sejarah. Karena
memang secara faktual, tidak ditemukan secara pasti dan akurat mengenai waktu
kelahiran dari Santa Perawan Maria. Tradisi peringatan pesta kelahiran Santa
Perawan Maria sebelumnya sudah dilakukan oleh gereja dengan tradisi timur.
Kemudian, gereja Katolik Roma (tradisi barat), mulai mengikuti tradisi demikan
sampai dengan saat ini. Sehingga, yang mau ditonjolkan dari peringatan Pesta
Kelahiran Santa Maria adalah soal peran pribadi Maria yang begitu vital dalam
karya keselamatan Allah. Maria mau menyediakan tubuh biologisnya sebagai tempat
bersemayam Sang Putera Fajar, Yesus Kristus.
Maria sedari awal memang sudah ditentukan oleh
Allah sebagai sosok yang akan memainkan peran penting sebagai mitra Allah.
Berawal dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menentukan Maria
sebagai sosok Hawa baru yang akan menggantikan peran manusia hawa lama yang
sudah tercemar oleh dosa. Karena Hawa, sang manusia pertama tidak mampu menjaga
marwah atau martabat luhurnya sebagai makluk ciptaan Tuhan, maka Allah perlu
mencari dan menentukan figur Hawa baru. Hawa baru inilah yang akan membantu
Allah mempurifikasi atau menyucikan tubuh manusia dari dosa yang ditinggalkan
oleh hawa lama. Hawa baru akan membantu umat manusia menemukan jalan kembali
menuju keselamatan kepada Allah Bapa di Sorga. Dan sosok Hawa baru itu adalah
Santa Perawan Maria.
Santa Maria memiliki pribadi yang sangat tulus.
Sehingga ketika Allah datang mengampirinya melalui malaikat Gabriel, ia
langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi ibu Yesus, walaupun dengan
risiko yang besar bahwa nanti ia akan diadili dan dikucilkan oleh masyarakat.
Maria sudah memikirkan risiko besar yang akan menimpa dirinya. Apalagi ia sudah
memiliki sang kekasih bernama Yusuf. Tentu, risiko yang akan ditimbulkan
menjadi berlipat karena ia diketahui mengandung di luar pernikahan yang sah.
Namun, kasihnya kepada Allah sungguh dasyat. Ia rela mempertaruhkan hidupnya
demi terwujudnya misi Kerajaan Allah di tengah dunia.
Di lain tempat, Yusuf, sang kekasih Maria, sudah
mengetahui apa yang terjadi dalam diri Maria. Ternyata, ia juga memiliki hati
yang tulus. Ia tidak mau mencemarkan nama baik Maria. Sehingga timbul niat
dalam hatinya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Sebelum niatnya
tercapai, malaikat Tuhan datang menghalanginya dengan berkata: “Yusuf, anak
Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang
di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki
dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan
umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:20-21). Mendengar hal demikian, Yusuf
langsung berubah pikiran untuk tidak mau menceraikan Maria. Yusuf semakin
menguatkan hatinya untuk menjaga Maria. Terutama menjaga Sang Juru Selamat,
yang akan segera lahir demi menyelamatkan umat manusia dari keterpurukan dosa.
Pada peringatan pesta Santa Perawan Maria hari ini,
tidak hanya figur Maria yang menjadi pusat refleksi. Suaminya, Yusuf, ternyata
juga memainkan peran yang tidak kalah pentingnya. Keduanya, bahu membahu dan
sehati sejiwa mau bekerja sama dengan Allah mewujudkan karya keselamatan
manusia melalui diri Yesus. Maria dan Yusuf adalah dua tokoh penting dalam
gereja Katolik yang mengajarkan nilai ketulusan, ketaatan dan tanggung jawab.
Tanpa peran keduanya, mungkin misi keselamatan itu tetap akan terlaksana karena
Allah dengan otoritas ilahi-Nya bisa melakukan pelbagai cara. Namun kita tidak
akan pernah belajar untuk mendapatkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan
oleh Maria dan Yusuf.
Maria dan Yusuf adalah simbol ketulusan, ketaatan,
dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang sementara mengalami banyak pergeseran,
nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab menjadi nilai langka yang sulit
ditemukan dalam kehidupan riil umat manusia. Yang jamak terjadi adalah sikap
kemunafikan, ketidaktaatan dan lemahnya integritas pribadi. Dalam pelbagai
ranah kehidupan, sering gampang terjadi gesekan dan konflik karena orang tidak
lagi memedulikan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Masing-masing orang
atau pihak lebih mempertahankan ego dan gengsi pribadi atau kelompok.
Dalam lingkup kerja, nilai ketulusan, ketaatan, dan
tanggung jawab bisa menampilkan wajah ganda. Orang bisa berpura-pura tulus,
taat, dan tanggung jawab hanya karena mengejar kepentingan tertentu. Misalnya
jabatan, kuasa, dan harta. Orang tidak mau sungguh-sungguh bersikap tulus,
taat, dan tanggung jawab apabila tidak ada kepentingan tertentu yang ada di
dalamnya. Dalam lingkup keluarga, lingkungan, dan basis, ketidaktulusan,
ketidaktaatan, dan keroposnya sikap tanggung jawab menjadi pemandangan yang
biasa-biasa saja. Nilai-nilai atau keutamaan hidup menjadi relatif.
Masing-masing orang atau pihak dapat menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa
peduli lagi pada standar nilai yang menjadi patokan kebenaran universal.
Hari ini Maria dan Yusuf mengajarkan kepada kita
tentang pentingnya sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Sikap tulus, taat,
dan tanggung jawab tidak hanya menjadi bagian dari tindakan moral yang membawa
kebaikan bagi dunia. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab menjadi bagian inti
dari sikap iman kita kepada Tuhan. Dengan melakukan sikap tulus, taat, dan
tanggung jawab, sebenarnya kta telah menjadi mitra Allah untuk membawa misi
keselamatan Allah secara konkrit di tengah dunia. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar