Rabu, 08 September 2021

Belajar Dari Maria Dan Yusuf

Mat 1 :18-23

 

Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Figur seorang perempuan yang turut mengambil bagian aktif dalam proyek keselamatan Allah di muka bumi. Maria adalah mitra Allah yang menunjukkan perannya dengan mengandung dan melahirkan sang Juruselamat Yesus Kristus. Tidak hanya sampai di situ, Maria juga senantiasa menjaga dan mendampingi Yesus hingga kematian-Nya di kayu salib. Fokus peringatan hari kelahiran Santa Perawan Maria bukan soal angka sejarah. Karena memang secara faktual, tidak ditemukan secara pasti dan akurat mengenai waktu kelahiran dari Santa Perawan Maria. Tradisi peringatan pesta kelahiran Santa Perawan Maria sebelumnya sudah dilakukan oleh gereja dengan tradisi timur. Kemudian, gereja Katolik Roma (tradisi barat), mulai mengikuti tradisi demikan sampai dengan saat ini. Sehingga, yang mau ditonjolkan dari peringatan Pesta Kelahiran Santa Maria adalah soal peran pribadi Maria yang begitu vital dalam karya keselamatan Allah. Maria mau menyediakan tubuh biologisnya sebagai tempat bersemayam Sang Putera Fajar, Yesus Kristus.

 

Maria sedari awal memang sudah ditentukan oleh Allah sebagai sosok yang akan memainkan peran penting sebagai mitra Allah. Berawal dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menentukan Maria sebagai sosok Hawa baru yang akan menggantikan peran manusia hawa lama yang sudah tercemar oleh dosa. Karena Hawa, sang manusia pertama tidak mampu menjaga marwah atau martabat luhurnya sebagai makluk ciptaan Tuhan, maka Allah perlu mencari dan menentukan figur Hawa baru. Hawa baru inilah yang akan membantu Allah mempurifikasi atau menyucikan tubuh manusia dari dosa yang ditinggalkan oleh hawa lama. Hawa baru akan membantu umat manusia menemukan jalan kembali menuju keselamatan kepada Allah Bapa di Sorga. Dan sosok Hawa baru itu adalah Santa Perawan Maria.

 

Santa Maria memiliki pribadi yang sangat tulus. Sehingga ketika Allah datang mengampirinya melalui malaikat Gabriel, ia langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi ibu Yesus, walaupun dengan risiko yang besar bahwa nanti ia akan diadili dan dikucilkan oleh masyarakat. Maria sudah memikirkan risiko besar yang akan menimpa dirinya. Apalagi ia sudah memiliki sang kekasih bernama Yusuf. Tentu, risiko yang akan ditimbulkan menjadi berlipat karena ia diketahui mengandung di luar pernikahan yang sah. Namun, kasihnya kepada Allah sungguh dasyat. Ia rela mempertaruhkan hidupnya demi terwujudnya misi Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Di lain tempat, Yusuf, sang kekasih Maria, sudah mengetahui apa yang terjadi dalam diri Maria. Ternyata, ia juga memiliki hati yang tulus. Ia tidak mau mencemarkan nama baik Maria. Sehingga timbul niat dalam hatinya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Sebelum niatnya tercapai, malaikat Tuhan datang menghalanginya dengan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:20-21). Mendengar hal demikian, Yusuf langsung berubah pikiran untuk tidak mau menceraikan Maria. Yusuf semakin menguatkan hatinya untuk menjaga Maria. Terutama menjaga Sang Juru Selamat, yang akan segera lahir demi menyelamatkan umat manusia dari keterpurukan dosa.

 

Pada peringatan pesta Santa Perawan Maria hari ini, tidak hanya figur Maria yang menjadi pusat refleksi. Suaminya, Yusuf, ternyata juga memainkan peran yang tidak kalah pentingnya. Keduanya, bahu membahu dan sehati sejiwa mau bekerja sama dengan Allah mewujudkan karya keselamatan manusia melalui diri Yesus. Maria dan Yusuf adalah dua tokoh penting dalam gereja Katolik yang mengajarkan nilai ketulusan, ketaatan dan tanggung jawab. Tanpa peran keduanya, mungkin misi keselamatan itu tetap akan terlaksana karena Allah dengan otoritas ilahi-Nya bisa melakukan pelbagai cara. Namun kita tidak akan pernah belajar untuk mendapatkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh Maria dan Yusuf.

 

Maria dan Yusuf adalah simbol ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang sementara mengalami banyak pergeseran, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab menjadi nilai langka yang sulit ditemukan dalam kehidupan riil umat manusia. Yang jamak terjadi adalah sikap kemunafikan, ketidaktaatan dan lemahnya integritas pribadi. Dalam pelbagai ranah kehidupan, sering gampang terjadi gesekan dan konflik karena orang tidak lagi memedulikan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Masing-masing orang atau pihak lebih mempertahankan ego dan gengsi pribadi atau kelompok.

 

Dalam lingkup kerja, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab bisa menampilkan wajah ganda. Orang bisa berpura-pura tulus, taat, dan tanggung jawab hanya karena mengejar kepentingan tertentu. Misalnya jabatan, kuasa, dan harta. Orang tidak mau sungguh-sungguh bersikap tulus, taat, dan tanggung jawab apabila tidak ada kepentingan tertentu yang ada di dalamnya. Dalam lingkup keluarga, lingkungan, dan basis, ketidaktulusan, ketidaktaatan, dan keroposnya sikap tanggung jawab menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Nilai-nilai atau keutamaan hidup menjadi relatif. Masing-masing orang atau pihak dapat menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa peduli lagi pada standar nilai yang menjadi patokan kebenaran universal.

 

Hari ini Maria dan Yusuf mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab tidak hanya menjadi bagian dari tindakan moral yang membawa kebaikan bagi dunia. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab menjadi bagian inti dari sikap iman kita kepada Tuhan. Dengan melakukan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab, sebenarnya kta telah menjadi mitra Allah untuk membawa misi keselamatan Allah secara konkrit di tengah dunia. Amin. ***AKD***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar