Senin, 27 September 2021

BERI KESEMPATAN UNTUK BERUBAH

Luk 9:51-56

            Ketika kita ingin melakukan suatu kegiatan di tengah-tengah komunitas masyarakat meskipun memberi bermanfaat bagi kehidupan mereka namun terkadang maksud dan tujuan baik kita ditolak oleh komunitas itu tanpa suatu alasan mendasar. Secara manusiawi akan muncul kemarahan dan kejengkelan dalam hati meski kita berjuang untuk tampil tenang. Fenomena ini secara tegas mau menunjukkan bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan pada dirinya dan pada tahap tertentu kemarahan dan kebencian itu dapat meledak di luar kontrol. Pengolahan dan penguasaan emosi menjadi penting agar tidak meningkat menjadi permusuhan yang tidak perlu. Usaha pengendalian diri ini harus diikuti oleh komitmen yang kuat untuk mau berubah dan tidak tergantung dari orang lain.

           

Injil hari ini memberi kita suatu pelajaran berarti bagaimana Yesus menegur Yakobus dan Yohanes agar tidak bertindak gegaba mengutuk orang-orang Samaria yang menolak kehadiran dan rencana kedatangan Yesus dan murid-muridNya di Samaria. Yesus melihat masih ada peluang pertobatan bagi orang-orang Samaria, karena itu mereka harus diberi kesempatan untuk berubah. Cara pandang dan cara melihat Yesus berbeda degan cara pandang dan cara melihat manusia. Penolakan orang Samaria terhadap kehadiran Yesus sontak membuat kedua murid utusan Yesus marah besar bahkan mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”. Yesus mengarahkan pandangan dan menegur mereka untuk tidak melakukan hal konyol itu. Yesus seakan mau mengatakan: berilah mereka waktu dan kesempatan untuk berubah (bertobat) dan jangan membuang-buang kesempatan untuk memaksa orang yang tegar hati untuk mendadak bertobat seperti membalikan telapak tangan. Yesus mau mengajari para murid untuk bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan masalah, dan cara yang diambil Yesus untuk menenangkan hati para murid dengan menyuruh mereka berpindah ke desa yang lain, mungkin di sana mereka dapat menerima Juru selamat dan warta pertobatanNya. Pilihan untuk membinasakan orang-orang Samaria bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi masalah, setiap masalah harus diselesaikan dengan cara dan pendekatan bijak yang dikuatkan oleh doa. Doa menjadikan orang berhati batu menjadi lembut dan mampu menerima Tuhan dalam hidupnya. Yesus tidak saja mendidik para murid untuk matang secara Rohani tetapi juga harus matang secara psikologis agar terjadi keseimbangan yang ideal atasnya. Para murid tidak saja cakap dalam mengajar tetapi aspek kepribadian dan mental juga harus matang agar tidak mengambil tindakan yang kontras dengan misi kehadiran Yesus untuk menyelamatkan semua umat manusia.

           

Yakobus dan Yohanes sepertinya belum terbiasa menghadapi masalah dan penolakan dalam misi pewartaan mereka, sehingga kelihatan sekali ketika mereka mengalami penolakan dari orang Samaria mereka terkesan putus asa dan ingin mengambil langkah pintas untuk membumihanguskan desa Samaria. Pilihan tindakan mereka mencerminkan kualitas hidup rohani yang mereka miliki, karena orang yang memiliki hidup rohani yang matang selalu memiliki seribu satu pertimbangan dengan skala prioritas tinggi agar tidak mengaburkan dan menggagalkan misi utama pelayanan mereka. Dalam karya kerasulan dan pelayanan di tengah-tengah umat, kita tidak bisa mengharapkan pertobatan instan kepada mereka, ada proses yang harus dilalui untuk mencapai kematangan iman. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang akan kita hadapai berhadapan dengan kelompok yang suka mencari pembenaran diri. Untuk menghadapi kelompok orang semacam itu dibutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan untuk memenangkan hati mereka. 

           

Rasul Yakobus dan Yohanes adalah contoh nyata yang mengungkapkan perangai dan sifat dasar manusia dewasa ini. Kita seakan kurang dewasa menghadapi setiap masalah yang muncul, kita mengandalkan kekuatan dan emosi untuk menyelesaikan setiap masalah dan kita berpikir orang akan berubah kalau kekerasan kita gunakan untuk menjinakan mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap masalah yang diselesaikan dengan jalan kekerasan sama sekali tidak memberi solusi bahkan menciptakan masalah baru. Dalam konteks hidup beragama, Yesus datang membawa ajaran baru yaitu cinta kasih yang sama sekali berbeda dari ajaran apa pun, bahkan militansi dari ajaran baru ini mendorong kita untuk bersikap lemah lembut, sabar, pemaaf dan mendoakan musuh yang memusuhi kita. Ajaran baru ini hanya bisa dilaksanakan bila kita mengadopsi kerendahan hati Tuhan Yesus yang mendoakan musuh-musuNya dan rela berkorban bagi keselamatan umat manusia. Yakobus dan Yohanes berpikir mereka telah lama hidup bersama Yesus maka mereka berhak menggunakan rahmat dan kuasa yang mengalir dalam diri mereka untuk membinasakan orang lain. Teguran Yesus sebagai suatu peringatan agar mereka tidak menjadi sombong, harus lebih mawas diri dan bertanggungjawab menggunakan kuasa dan rahmat yang diberikan kepada mereka. Rahmat dan kuasa tidak boleh dipakai sewenang-wenang untuk mengutuk dan membinasakan orang tetapi hendaknya dipakai untuk membantu orang bertobat dan menghantar mereka kepada keselamatan.

           

Terkadang kita juga berlaku seperti Yakobus dan Yohanes, kita sering menggunakan kuasa dan jabatan kita untuk menekan orang lain/bawaan kita. Ketika mereka tidak lagi setia dan mau diajak bekerja sama, kita berjuang melengserkan mereka atau mengganti posisi mereka dari ruangan agar posisi itu bisa ditempati oleh orang-orang yang tidak berkualitas dan memiliki kualifikasi pada bidangnya, yang penting rajin manggut dan OBS (asal bapa senang). Strategi yang kita bangun ini sama sekali tidak mendidik, tidak membangun kesadaran dan kesetiaan orang, yang ada hanyalah kemunafikan yang dipertontonkan tanpa kualitas kerja yang memadai. Yesus menginginkan dari kita adalah pendekatan personal yang humanis agar dapat memenangkan hati orang yang keras, dengan begitu berangsur-angsur orang dapat kembali bertobat dan memberi diri untuk diselamatkan.

           

Injil yang kita renungkan hari ini menginspirasi dan memotivasi kita untuk mengutamakan kualitas pelayanan kepada sesama. Sikap dasar yang dibutuhkan dalam pendekatan pelayanan adalah kesabaran, kerendahan hati dan keteladanan yang memungkinkan orang dapat membaharui diri menuju pertobatan dan memperoleh keselamatan dari Allah. Kita  diminta oleh Yesus untuk melayani dengan hati dan menghindari kekerasan dan pemaksaan kepada sesama. Hendaknya kita mendedikasikan diri secara total dan mengarahkan mereka dengan kasih sayang agar kita dapat memenangkan hati dan jiwa mereka untuk hidup sesuai dengan Kehendak Allah. Semoga teladan kerendahan hati Yesus membaharui hati kita agar sikap dan tindakan kita kepada sesama mencerminkan kasih Yesus.

Minggu, 19 September 2021

Menjadi Pelita

Luk 8:16-18

 

Pada zaman dahulu, sebelum ada dan berkembangnya listrik seperti sekarang ini, pelita menjadi sumber utama penerangan di malam hari. Komponen pelita sangat sederhana. Ada kaleng bekas yang berfungsi sebagai rumah pelita. Dalam rumah pelita ini ada bahan bakar minyak dan sumbu yang dimasukkan dalam sepotong pipa. Kaleng bekas, minyak, dan sumbu adalah tiga komponen penting yang menjadikan pelita bisa bekerja dengan baik. Minyak yang cukup dan sumbu yang baik akan menciptakan nyala pelita yang baik pula.

 

Dalam perumpamaan tentang pelita, Yesus menandaskan bahwa pelita yang baik akan berfungsi dengan baik apabila di letakkan di atas kaki dian supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Tentu saja, dengan ditaru di atas kaki dian, cahaya pelita tersebut dapat menerangi keadaan sekitar sehingga orang tidak merasa kegelapan. Pelita akan kehilangan fungsinya apabila orang menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur.

 

Pelita di atas kaki dian adalah bahasa simbolik. Yesus menggunakan simbol pelita untuk menunjuk pada misi perutusan yang akan dikerjakan oleh para murid. Para murid harus menjadi seperti pelita yang membawa warta kebaikan bagi semua orang. Peran para murid yang sentral ini tentu tidak mudah. Mereka harus memompa diri dengan kekuatan dari Yesus sendiri. Mereka harus serius belajar dan terus melatih diri untuk menjadi seorang pewarta yang mumpuni. Dalam bahasa simbolnya, mereka harus memiliki sumbu yang baik dan minyak yang cukup agar tetap bernyala dalam misi perutusan.

 

Untuk menjadi pelita yang baik, ada beberapa kualifikasi yang harus dimiliki oleh para murid. Pertama, mereka harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang baik akan warta atau sabda Allah. Dan dalam masa kebersamaan bersama Yesus, secara tidak langsung mereka sementara belajar sekaligus melatih diri. Ada banyak content atau isi sabda Yesus yang mereka dengar dan secara otomatis terinternalisasi dalam diri. Dalam diskusi dan dialog bersama Yesus, content tentang sabda Allah terus didalami dan dimatangkan. Ada banyak hal yang pasti belum dipahami para murid karena dibentangkan oleh Yesus dalam bahasa perumpamaan atau alegori.

 

Kedua, para murid harus memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan mukjizat. Untuk memperoleh kompetensi unik ini, para murid harus sungguh percaya kepada Yesus. Dengan kepercayaan yang total, kompetensi ini pasti akan mengalir dalam diri. Berkat khusus ini dengan sendirinya akan diberikan Yesus kepada para murid sebagai mitra kerja-Nya. Kuncinya, mereka harus sungguh percaya. Tanpa kepercayaan, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk meyakinkan para pendengarnya. Tindakan mukjizat menjadi unsur penting bagi para murid dalam menjalankan fungsi sebagai pelita. Orang-orang yang mendengar sabda Allah, akan semakin diyakinkan dengan tindakan mukjizat. Orang-orang tidak akan ragu untuk mengikuti Allah, karena sabda-Nya begitu nyata dinyatakan dengan aksil fenomenal yang menggugah.

 

Ketiga, para murid harus menjaga integritas diri. Apa yang mereka katakan harus sejalan dengan tampilan pribadi secara konkrit di tengah umat. Ketika berbicara tentang kejujuran, para murid harus benar-benar mewujudkan kejujuran itu dalam tindakan. Mereka tidak boleh mengambil untung dengan melakukan kebohongan atau ketidakjujuran. Ketika berbicara tentang keberpihakan kepada orang kecil, mereka harus sungguh melakukannnya. Para murid tidak boleh menunjukkan tindakan yang apatis atau masa bodoh ketika menghadapi realitas demikian. Ketika berbicara tentang kebenaran, para murid harus memperjuangkan kebenaran itu dalam aksi nyata. Mereka tidak boleh mempermainkan kebenaran demi mendapatkan keuntungan secara pribadi atau kelompok. Ketika berbicara tentang kesederhanaan dan kelembutan hati, para murid harus sungguh menunjukkan pribadi yang sederhana dan lembut. Mereka tidak boleh menjadi pribadi yang mencari kemewahan. Apalagi bersikap arogan dan tidak menganggap orang lain.

 

Menjadi pelita yang baik, tidak saja dimiliki oleh para murid yang pertama. Melalui sakramen pembaptisan. kita tidak saja dilegalkan menjadi anggota Gereja. Kita juga telah disahkan untuk menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Dalam bahasa Injil hari ini, kita memiliki kewajiban dan hak untuk menjadi pelita yang baik. Tentu untuk menjadi pelita yang baik tidak harus memiliki kualifikasi sempurna yang dimiliki oleh para murid. Kita tidak perlu harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang mumpuni. Kita juga tidak perlu belajar membuat tanda-tanda heran untuk meyakinkan orang lain. Yang paling mendasar dari kualifikasi pelita yang baik adalah menjaga integritas diri. Segala hal baik yang kita ucapkan, harus sungguh-sungguh diwujudnyatakan dalam perbuatan atau tindakan nyata.

 

Saya merasa tergugah sekaligus tergugat dengan syering seorang warga binaan Lapas terkait dengan bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18). Dalam syeringnya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga integritas diri. Walaupun ia berasal dari kalangan intelektual yang berbicara banyak tentang nilai-nilai kebaikan, namun sesungguhnya ia tidak mampu menjaga integritas diri. Ia berlaku berlawanan dengan nilai-nilai moral dan ajaran kristiani. Ia sebetulnya sudah mendapat peringatan. Tetapi ia tidak mengindahkan peringatan tersebut. Ia tetap melakukan perbuatan yang jahat sehingga pada akhirnya ia digiring ke dalam lembaga pemasyarakatan. Dalam refleksinya, sang warga binaan tersebut membenarkan kata-kata yang telah disampaikan oleh Yesus. “Tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya” (Luk 2:18). Semua kekayaan, prestise dan prestasi dirinya telah hilang karena ia tidak mampu membawa nyala pelita yang baik bagi orang lain.

 

Hari ini, kita mendapat pengajaran dari Yesus untuk menjadi pelita yang baik bagi orang lain. Menjadi pelita yang baik berarti kita harus menjadi pewarta yang membawa kebaikan dan keselamatan bagi sesama. Dalam tugas dan pengabdian kita yang beraneka ragam, melekat tugas seorang murid Kristus untuk menjadi pelita yang baik. Point paling penting untuk mengimplementasikannya adalah menjaga integritas diri. Tentu hal ini tidak mudah. Ada banyak tantangan atau halangan yang seringkali membuat nyala pelita kita menjadi suram atau padam. Namun, tidak seharusnya kita bersikap pasrah dan putus asa. Kita harus bangkit untuk menyalakan kembali pelita dalam diri kita masing-masing. Kita harus kembali memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan dan tetap menjalin hubungan yang akrab dengan diri-Nya. Mari kita menjadikan diri sebagai pelita yang baik bagi orang-orang yang sementara kita layani dalam tugas dan pengabdian kita di tengah dunia. Amin. ***AKD***

Rabu, 15 September 2021

Dukacita Maria Menjadi Penuh Sukacita

Luk 2:33-35; Yoh 19;25-27

Hari ini tanggal 15 September, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Berdukacita. Perayaan ini sudah dimulai sejak abad kedua belas. Pada tahun 1814, untuk menghormati tujuh Dukacita Maria, Paus Pius X menetapkan tanggal 15 September sebagai hari bagi umat beriman merayakan pesta Santa Perawan Maria Berdukacita. Pesta santa Perawan Maria Berdukacita merupakan penghormatan terhadap kemartiran rohani Bunda Maria serta kebersamaan dalam penderitaannya bersama Putranya, Yesus Kristus. Maria menjadi Co-Redemptrix atau penebus penyerta karena berperan penting dalam membantu sejarah keselamatan bersama Yesus. Peran Maria sebagai penebus penyerta tentu tidak menggantikan peran Yesus sebagai Sang Penebus utama. Maria hadir sebagai mitra Allah untuk turut mengalami penderitaan yang dialami Yesus. Maria yang berdukacita sungguh menggambarkan dirinya sebagai seorang murid yang setia dan penuh keteladanan. Seorang murid yang tidak saja taat, tetapi secara total memasrahkan dirinya dalam penderitaan untuk mensukseskan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

 

Simeon melukiskan dukacita Maria dengan kata-kata: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Maria tentu saja bingung dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Simeon. Namun dalam ketidakpahamannya, Maria tetap bersikap setia dan taat pada segala rencana Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk 1:38). Sejalan dengan tradisi gereja, ada tujuh dukacita yang telah dialami Maria. Pertama, Pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Kedua, Kanak-Kanak Yesus yang hilang dan ditemukan di Bait Allah. Ketiga, nubuat Simeon. Keempat, Bunda Maria berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan-Nya ke bukit Kalvari. Kelima, Bunda Maria berdiri di dekat kayu Salib ketika Yesus disalibkan. Keenam, Bunda Maria memangku jenazah Yesus setelah diturunkan dari Salib. Dan ketujuh, Yesus dimakamkan. Tujuh dukacita Maria ini menegaskan ramalan Simeon tentang sebuah pedang yang menembus jiwa Maria.

 

Tujuh dukacita Bunda Maria erat terkait dengan Paskah Yesus Kristus sendiri. Semua dukacita Bunda Maria dilakukan karena ketaatannya kepada kehendak Tuhan. Bunda Maria menggambarkan dirinya sebagai abdi Tuhan. Seorang abdi yang memberikan dirinya secara total kepada Allah dengan menyertai Yesus Putera Allah. Bunda Maria senantiasa hadir sepanjang hidup Yesus. Sejak pertama kali menerima kabar sukacita hingga hari raya pentekosta, Bunda Maria selalu hadir. Hingga saat ini, Gereja sungguh merasakan kehadiran Bunda Maria. Kita semua selalu berdoa: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati”. Ketidaktaatan manusia kepada kehendak Allah,”ditebus”melalui ketaatan Maria kepada rencana Allah. Karena itu, para Bapa Gereja menyebut Maria sebagai Hawa baru. St. Hieronimus (347-420) mengatakan “Per Evam mors, per Maria vita”. Maut datang melalui Hawa, kehidupan datang melalui Maria. 

 

Keterlibatan Bunda Maria di dalam Gereja merupakan perintah dari Yesus Putranya. Penginjil Yohanes melaporkan bahwa ketika Yesus sedang bergantung di salib, berdirilah ibu Yesus, saudara ibu Yesus, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena. Pada saat menderita seperti ini Yesus memandang ibu-Nya dan menyerahkan murid yang dikasihi-Nya. Ia berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Ia juga berkata kepada murid yang dikasihi-Nya: “Inilah ibumu!” Dan dikatakan bahwa sejak saat itu, murid yang dikasihi Yesus menerima Maria di rumahnya. Kisah ini sangat  indah. Tuhan Yesus dalam suasana penderitaan sekalipun masih mempunyai kesempatan untuk menyerahkan Gereja-Nya kepada Maria ibu-Nya. Maria menerimanya dan menyertainya selama-lamanya. Dan Gereja menerima Maria sebagai ibu selama-lamanya. Maria hadir dan mendoakannya supaya selalu dekat dengan Puteranya. Bunda Maria Berdukacita, tetapi dukacitanya menjadi sukacita di dalam Gereja. Gereja tetap hidup karena Maria hadir sebagai ibu. Ibu yang menderita supaya Gereja bertahan dalam penderitaannya. Konsili Vatikan kedua dalam Konstitusi Dogmatis Gereja menulis: “Ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya, ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya”.

 

Semangat ketaatan dan kepasrahan Bunda Maria kepada kehendak Allah menginspirasi dan menjadi sumber keteladanan bagi kita umat beriman. Dalam setiap situasi, dimana dan kapan saja, hendaknya ketaatan kita kepada Allah tidak pernah luntur. Terutama dalam menghadapi setiap pengalaman penderitaan yang menguji iman kepada-Nya. Kita sebenarnya tidak mengharapkan adanya tantangan yang membawa keterpurukan dan penderitaan. Namun, tentu kita tidak akan pernah menolak apabila tantangan dan penderitaan itu datang menghampiri hidup kita. Sebenarnya tantangan dan penderitaan itu juga memiliki peran penting untuk semakin mengembangkan kepribadian dan mendewasakan hidup iman kita. Kita menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan matang. Di atas semua itu, kita semakin menyadari peran Tuhan dalam setiap pengalaman penderitaan. Tuhan sementara merancang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup di balik setiap pengalaman penderitaan yang kita alami.

 

Peringatan Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita sebenarnya mau mengingatkan pengalaman dukacita Bunda Maria yang membawa sukacita. Sukacita akan kebaikan dan keselamatan yang diterima oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh memaknai setiap pengalaman kehidupan dalam terang iman agar kita dapat menjadi seorang murid yang setia dan dapat membawa keteladanan bagi setiap orang yang ada di sekitar kita. Semoga. ***AKD***

Rabu, 08 September 2021

Belajar Dari Maria Dan Yusuf

Mat 1 :18-23

 

Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Figur seorang perempuan yang turut mengambil bagian aktif dalam proyek keselamatan Allah di muka bumi. Maria adalah mitra Allah yang menunjukkan perannya dengan mengandung dan melahirkan sang Juruselamat Yesus Kristus. Tidak hanya sampai di situ, Maria juga senantiasa menjaga dan mendampingi Yesus hingga kematian-Nya di kayu salib. Fokus peringatan hari kelahiran Santa Perawan Maria bukan soal angka sejarah. Karena memang secara faktual, tidak ditemukan secara pasti dan akurat mengenai waktu kelahiran dari Santa Perawan Maria. Tradisi peringatan pesta kelahiran Santa Perawan Maria sebelumnya sudah dilakukan oleh gereja dengan tradisi timur. Kemudian, gereja Katolik Roma (tradisi barat), mulai mengikuti tradisi demikan sampai dengan saat ini. Sehingga, yang mau ditonjolkan dari peringatan Pesta Kelahiran Santa Maria adalah soal peran pribadi Maria yang begitu vital dalam karya keselamatan Allah. Maria mau menyediakan tubuh biologisnya sebagai tempat bersemayam Sang Putera Fajar, Yesus Kristus.

 

Maria sedari awal memang sudah ditentukan oleh Allah sebagai sosok yang akan memainkan peran penting sebagai mitra Allah. Berawal dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menentukan Maria sebagai sosok Hawa baru yang akan menggantikan peran manusia hawa lama yang sudah tercemar oleh dosa. Karena Hawa, sang manusia pertama tidak mampu menjaga marwah atau martabat luhurnya sebagai makluk ciptaan Tuhan, maka Allah perlu mencari dan menentukan figur Hawa baru. Hawa baru inilah yang akan membantu Allah mempurifikasi atau menyucikan tubuh manusia dari dosa yang ditinggalkan oleh hawa lama. Hawa baru akan membantu umat manusia menemukan jalan kembali menuju keselamatan kepada Allah Bapa di Sorga. Dan sosok Hawa baru itu adalah Santa Perawan Maria.

 

Santa Maria memiliki pribadi yang sangat tulus. Sehingga ketika Allah datang mengampirinya melalui malaikat Gabriel, ia langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi ibu Yesus, walaupun dengan risiko yang besar bahwa nanti ia akan diadili dan dikucilkan oleh masyarakat. Maria sudah memikirkan risiko besar yang akan menimpa dirinya. Apalagi ia sudah memiliki sang kekasih bernama Yusuf. Tentu, risiko yang akan ditimbulkan menjadi berlipat karena ia diketahui mengandung di luar pernikahan yang sah. Namun, kasihnya kepada Allah sungguh dasyat. Ia rela mempertaruhkan hidupnya demi terwujudnya misi Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Di lain tempat, Yusuf, sang kekasih Maria, sudah mengetahui apa yang terjadi dalam diri Maria. Ternyata, ia juga memiliki hati yang tulus. Ia tidak mau mencemarkan nama baik Maria. Sehingga timbul niat dalam hatinya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Sebelum niatnya tercapai, malaikat Tuhan datang menghalanginya dengan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:20-21). Mendengar hal demikian, Yusuf langsung berubah pikiran untuk tidak mau menceraikan Maria. Yusuf semakin menguatkan hatinya untuk menjaga Maria. Terutama menjaga Sang Juru Selamat, yang akan segera lahir demi menyelamatkan umat manusia dari keterpurukan dosa.

 

Pada peringatan pesta Santa Perawan Maria hari ini, tidak hanya figur Maria yang menjadi pusat refleksi. Suaminya, Yusuf, ternyata juga memainkan peran yang tidak kalah pentingnya. Keduanya, bahu membahu dan sehati sejiwa mau bekerja sama dengan Allah mewujudkan karya keselamatan manusia melalui diri Yesus. Maria dan Yusuf adalah dua tokoh penting dalam gereja Katolik yang mengajarkan nilai ketulusan, ketaatan dan tanggung jawab. Tanpa peran keduanya, mungkin misi keselamatan itu tetap akan terlaksana karena Allah dengan otoritas ilahi-Nya bisa melakukan pelbagai cara. Namun kita tidak akan pernah belajar untuk mendapatkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh Maria dan Yusuf.

 

Maria dan Yusuf adalah simbol ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang sementara mengalami banyak pergeseran, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab menjadi nilai langka yang sulit ditemukan dalam kehidupan riil umat manusia. Yang jamak terjadi adalah sikap kemunafikan, ketidaktaatan dan lemahnya integritas pribadi. Dalam pelbagai ranah kehidupan, sering gampang terjadi gesekan dan konflik karena orang tidak lagi memedulikan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Masing-masing orang atau pihak lebih mempertahankan ego dan gengsi pribadi atau kelompok.

 

Dalam lingkup kerja, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab bisa menampilkan wajah ganda. Orang bisa berpura-pura tulus, taat, dan tanggung jawab hanya karena mengejar kepentingan tertentu. Misalnya jabatan, kuasa, dan harta. Orang tidak mau sungguh-sungguh bersikap tulus, taat, dan tanggung jawab apabila tidak ada kepentingan tertentu yang ada di dalamnya. Dalam lingkup keluarga, lingkungan, dan basis, ketidaktulusan, ketidaktaatan, dan keroposnya sikap tanggung jawab menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Nilai-nilai atau keutamaan hidup menjadi relatif. Masing-masing orang atau pihak dapat menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa peduli lagi pada standar nilai yang menjadi patokan kebenaran universal.

 

Hari ini Maria dan Yusuf mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab tidak hanya menjadi bagian dari tindakan moral yang membawa kebaikan bagi dunia. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab menjadi bagian inti dari sikap iman kita kepada Tuhan. Dengan melakukan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab, sebenarnya kta telah menjadi mitra Allah untuk membawa misi keselamatan Allah secara konkrit di tengah dunia. Amin. ***AKD***