Luk 2:33-35; Yoh 19;25-27
Hari ini tanggal 15 September, Gereja Katolik
memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Berdukacita. Perayaan ini sudah
dimulai sejak abad kedua belas. Pada tahun 1814, untuk menghormati tujuh
Dukacita Maria, Paus Pius X menetapkan tanggal 15 September sebagai hari bagi
umat beriman merayakan pesta Santa Perawan Maria Berdukacita. Pesta santa
Perawan Maria Berdukacita merupakan penghormatan terhadap kemartiran rohani
Bunda Maria serta kebersamaan dalam penderitaannya bersama Putranya, Yesus
Kristus. Maria menjadi Co-Redemptrix atau penebus penyerta karena berperan
penting dalam membantu sejarah keselamatan bersama Yesus. Peran Maria sebagai
penebus penyerta tentu tidak menggantikan peran Yesus sebagai Sang Penebus
utama. Maria hadir sebagai mitra Allah untuk turut mengalami penderitaan yang
dialami Yesus. Maria yang berdukacita sungguh menggambarkan dirinya sebagai
seorang murid yang setia dan penuh keteladanan. Seorang murid yang tidak saja
taat, tetapi secara total memasrahkan dirinya dalam penderitaan untuk
mensukseskan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.
Simeon melukiskan dukacita Maria dengan kata-kata:
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak
orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan
suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati
banyak orang” (Luk 2:34-35). Maria tentu saja bingung dan tidak mengerti apa
maksud dari perkataan Simeon. Namun dalam ketidakpahamannya, Maria tetap
bersikap setia dan taat pada segala rencana Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk 1:38). Sejalan dengan
tradisi gereja, ada tujuh dukacita yang telah dialami Maria. Pertama,
Pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Kedua, Kanak-Kanak Yesus yang hilang dan
ditemukan di Bait Allah. Ketiga, nubuat Simeon. Keempat, Bunda Maria berjumpa
dengan Yesus dalam perjalanan-Nya ke bukit Kalvari. Kelima, Bunda Maria berdiri
di dekat kayu Salib ketika Yesus disalibkan. Keenam, Bunda Maria memangku
jenazah Yesus setelah diturunkan dari Salib. Dan ketujuh, Yesus dimakamkan.
Tujuh dukacita Maria ini menegaskan ramalan Simeon tentang sebuah pedang yang
menembus jiwa Maria.
Tujuh dukacita Bunda Maria erat terkait dengan
Paskah Yesus Kristus sendiri. Semua dukacita Bunda Maria dilakukan karena
ketaatannya kepada kehendak Tuhan. Bunda Maria menggambarkan dirinya sebagai
abdi Tuhan. Seorang abdi yang memberikan dirinya secara total kepada Allah
dengan menyertai Yesus Putera Allah. Bunda Maria senantiasa hadir sepanjang
hidup Yesus. Sejak pertama kali menerima kabar sukacita hingga hari raya
pentekosta, Bunda Maria selalu hadir. Hingga saat ini, Gereja sungguh merasakan
kehadiran Bunda Maria. Kita semua selalu berdoa: “Santa Maria Bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati”.
Ketidaktaatan manusia kepada kehendak Allah,”ditebus”melalui ketaatan Maria
kepada rencana Allah. Karena itu, para Bapa Gereja menyebut Maria sebagai Hawa
baru. St. Hieronimus (347-420) mengatakan “Per Evam mors, per Maria vita”. Maut
datang melalui Hawa, kehidupan datang melalui Maria.
Keterlibatan Bunda Maria di dalam Gereja merupakan
perintah dari Yesus Putranya. Penginjil Yohanes melaporkan bahwa ketika Yesus
sedang bergantung di salib, berdirilah ibu Yesus, saudara ibu Yesus, Maria,
istri Kleopas dan Maria Magdalena. Pada saat menderita seperti ini Yesus
memandang ibu-Nya dan menyerahkan murid yang dikasihi-Nya. Ia berkata: “Ibu,
inilah anakmu!” Ia juga berkata kepada murid yang dikasihi-Nya: “Inilah ibumu!”
Dan dikatakan bahwa sejak saat itu, murid yang dikasihi Yesus menerima Maria di
rumahnya. Kisah ini sangat indah. Tuhan
Yesus dalam suasana penderitaan sekalipun masih mempunyai kesempatan untuk
menyerahkan Gereja-Nya kepada Maria ibu-Nya. Maria menerimanya dan menyertainya
selama-lamanya. Dan Gereja menerima Maria sebagai ibu selama-lamanya. Maria
hadir dan mendoakannya supaya selalu dekat dengan Puteranya. Bunda Maria
Berdukacita, tetapi dukacitanya menjadi sukacita di dalam Gereja. Gereja tetap
hidup karena Maria hadir sebagai ibu. Ibu yang menderita supaya Gereja bertahan
dalam penderitaannya. Konsili Vatikan kedua dalam Konstitusi Dogmatis Gereja
menulis: “Ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia
menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan
hati keibuannya, ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih
menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya”.
Semangat ketaatan dan kepasrahan Bunda Maria kepada
kehendak Allah menginspirasi dan menjadi sumber keteladanan bagi kita umat
beriman. Dalam setiap situasi, dimana dan kapan saja, hendaknya ketaatan kita
kepada Allah tidak pernah luntur. Terutama dalam menghadapi setiap pengalaman
penderitaan yang menguji iman kepada-Nya. Kita sebenarnya tidak mengharapkan
adanya tantangan yang membawa keterpurukan dan penderitaan. Namun, tentu kita
tidak akan pernah menolak apabila tantangan dan penderitaan itu datang
menghampiri hidup kita. Sebenarnya tantangan dan penderitaan itu juga memiliki peran
penting untuk semakin mengembangkan kepribadian dan mendewasakan hidup iman
kita. Kita menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan matang. Di atas semua itu, kita
semakin menyadari peran Tuhan dalam setiap pengalaman penderitaan. Tuhan
sementara merancang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup di balik setiap
pengalaman penderitaan yang kita alami.
Peringatan Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita
sebenarnya mau mengingatkan pengalaman dukacita Bunda Maria yang membawa
sukacita. Sukacita akan kebaikan dan keselamatan yang diterima oleh seluruh
umat manusia. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh memaknai setiap
pengalaman kehidupan dalam terang iman agar kita dapat menjadi seorang murid
yang setia dan dapat membawa keteladanan bagi setiap orang yang ada di sekitar
kita. Semoga. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar