Rabu, 15 September 2021

Dukacita Maria Menjadi Penuh Sukacita

Luk 2:33-35; Yoh 19;25-27

Hari ini tanggal 15 September, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Berdukacita. Perayaan ini sudah dimulai sejak abad kedua belas. Pada tahun 1814, untuk menghormati tujuh Dukacita Maria, Paus Pius X menetapkan tanggal 15 September sebagai hari bagi umat beriman merayakan pesta Santa Perawan Maria Berdukacita. Pesta santa Perawan Maria Berdukacita merupakan penghormatan terhadap kemartiran rohani Bunda Maria serta kebersamaan dalam penderitaannya bersama Putranya, Yesus Kristus. Maria menjadi Co-Redemptrix atau penebus penyerta karena berperan penting dalam membantu sejarah keselamatan bersama Yesus. Peran Maria sebagai penebus penyerta tentu tidak menggantikan peran Yesus sebagai Sang Penebus utama. Maria hadir sebagai mitra Allah untuk turut mengalami penderitaan yang dialami Yesus. Maria yang berdukacita sungguh menggambarkan dirinya sebagai seorang murid yang setia dan penuh keteladanan. Seorang murid yang tidak saja taat, tetapi secara total memasrahkan dirinya dalam penderitaan untuk mensukseskan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

 

Simeon melukiskan dukacita Maria dengan kata-kata: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Maria tentu saja bingung dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Simeon. Namun dalam ketidakpahamannya, Maria tetap bersikap setia dan taat pada segala rencana Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk 1:38). Sejalan dengan tradisi gereja, ada tujuh dukacita yang telah dialami Maria. Pertama, Pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Kedua, Kanak-Kanak Yesus yang hilang dan ditemukan di Bait Allah. Ketiga, nubuat Simeon. Keempat, Bunda Maria berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan-Nya ke bukit Kalvari. Kelima, Bunda Maria berdiri di dekat kayu Salib ketika Yesus disalibkan. Keenam, Bunda Maria memangku jenazah Yesus setelah diturunkan dari Salib. Dan ketujuh, Yesus dimakamkan. Tujuh dukacita Maria ini menegaskan ramalan Simeon tentang sebuah pedang yang menembus jiwa Maria.

 

Tujuh dukacita Bunda Maria erat terkait dengan Paskah Yesus Kristus sendiri. Semua dukacita Bunda Maria dilakukan karena ketaatannya kepada kehendak Tuhan. Bunda Maria menggambarkan dirinya sebagai abdi Tuhan. Seorang abdi yang memberikan dirinya secara total kepada Allah dengan menyertai Yesus Putera Allah. Bunda Maria senantiasa hadir sepanjang hidup Yesus. Sejak pertama kali menerima kabar sukacita hingga hari raya pentekosta, Bunda Maria selalu hadir. Hingga saat ini, Gereja sungguh merasakan kehadiran Bunda Maria. Kita semua selalu berdoa: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati”. Ketidaktaatan manusia kepada kehendak Allah,”ditebus”melalui ketaatan Maria kepada rencana Allah. Karena itu, para Bapa Gereja menyebut Maria sebagai Hawa baru. St. Hieronimus (347-420) mengatakan “Per Evam mors, per Maria vita”. Maut datang melalui Hawa, kehidupan datang melalui Maria. 

 

Keterlibatan Bunda Maria di dalam Gereja merupakan perintah dari Yesus Putranya. Penginjil Yohanes melaporkan bahwa ketika Yesus sedang bergantung di salib, berdirilah ibu Yesus, saudara ibu Yesus, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena. Pada saat menderita seperti ini Yesus memandang ibu-Nya dan menyerahkan murid yang dikasihi-Nya. Ia berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Ia juga berkata kepada murid yang dikasihi-Nya: “Inilah ibumu!” Dan dikatakan bahwa sejak saat itu, murid yang dikasihi Yesus menerima Maria di rumahnya. Kisah ini sangat  indah. Tuhan Yesus dalam suasana penderitaan sekalipun masih mempunyai kesempatan untuk menyerahkan Gereja-Nya kepada Maria ibu-Nya. Maria menerimanya dan menyertainya selama-lamanya. Dan Gereja menerima Maria sebagai ibu selama-lamanya. Maria hadir dan mendoakannya supaya selalu dekat dengan Puteranya. Bunda Maria Berdukacita, tetapi dukacitanya menjadi sukacita di dalam Gereja. Gereja tetap hidup karena Maria hadir sebagai ibu. Ibu yang menderita supaya Gereja bertahan dalam penderitaannya. Konsili Vatikan kedua dalam Konstitusi Dogmatis Gereja menulis: “Ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya, ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya”.

 

Semangat ketaatan dan kepasrahan Bunda Maria kepada kehendak Allah menginspirasi dan menjadi sumber keteladanan bagi kita umat beriman. Dalam setiap situasi, dimana dan kapan saja, hendaknya ketaatan kita kepada Allah tidak pernah luntur. Terutama dalam menghadapi setiap pengalaman penderitaan yang menguji iman kepada-Nya. Kita sebenarnya tidak mengharapkan adanya tantangan yang membawa keterpurukan dan penderitaan. Namun, tentu kita tidak akan pernah menolak apabila tantangan dan penderitaan itu datang menghampiri hidup kita. Sebenarnya tantangan dan penderitaan itu juga memiliki peran penting untuk semakin mengembangkan kepribadian dan mendewasakan hidup iman kita. Kita menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan matang. Di atas semua itu, kita semakin menyadari peran Tuhan dalam setiap pengalaman penderitaan. Tuhan sementara merancang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup di balik setiap pengalaman penderitaan yang kita alami.

 

Peringatan Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita sebenarnya mau mengingatkan pengalaman dukacita Bunda Maria yang membawa sukacita. Sukacita akan kebaikan dan keselamatan yang diterima oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh memaknai setiap pengalaman kehidupan dalam terang iman agar kita dapat menjadi seorang murid yang setia dan dapat membawa keteladanan bagi setiap orang yang ada di sekitar kita. Semoga. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar