Luk 8:16-18
Pada zaman dahulu, sebelum ada dan berkembangnya
listrik seperti sekarang ini, pelita menjadi sumber utama penerangan di malam
hari. Komponen pelita sangat sederhana. Ada kaleng bekas yang berfungsi sebagai
rumah pelita. Dalam rumah pelita ini ada bahan bakar minyak dan sumbu yang
dimasukkan dalam sepotong pipa. Kaleng bekas, minyak, dan sumbu adalah tiga
komponen penting yang menjadikan pelita bisa bekerja dengan baik. Minyak yang
cukup dan sumbu yang baik akan menciptakan nyala pelita yang baik pula.
Dalam perumpamaan tentang pelita, Yesus menandaskan
bahwa pelita yang baik akan berfungsi dengan baik apabila di letakkan di atas
kaki dian supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.
Tentu saja, dengan ditaru di atas kaki dian, cahaya pelita tersebut dapat
menerangi keadaan sekitar sehingga orang tidak merasa kegelapan. Pelita akan
kehilangan fungsinya apabila orang menutupinya dengan tempayan atau
menempatkannya di bawah tempat tidur.
Pelita di atas kaki dian adalah bahasa simbolik.
Yesus menggunakan simbol pelita untuk menunjuk pada misi perutusan yang akan
dikerjakan oleh para murid. Para murid harus menjadi seperti pelita yang
membawa warta kebaikan bagi semua orang. Peran para murid yang sentral ini
tentu tidak mudah. Mereka harus memompa diri dengan kekuatan dari Yesus
sendiri. Mereka harus serius belajar dan terus melatih diri untuk menjadi
seorang pewarta yang mumpuni. Dalam bahasa simbolnya, mereka harus memiliki
sumbu yang baik dan minyak yang cukup agar tetap bernyala dalam misi perutusan.
Untuk menjadi pelita yang baik, ada beberapa
kualifikasi yang harus dimiliki oleh para murid. Pertama, mereka harus memiliki
wawasan atau pengetahuan yang baik akan warta atau sabda Allah. Dan dalam masa
kebersamaan bersama Yesus, secara tidak langsung mereka sementara belajar
sekaligus melatih diri. Ada banyak content atau isi sabda Yesus yang mereka
dengar dan secara otomatis terinternalisasi dalam diri. Dalam diskusi dan
dialog bersama Yesus, content tentang sabda Allah terus didalami dan
dimatangkan. Ada banyak hal yang pasti belum dipahami para murid karena
dibentangkan oleh Yesus dalam bahasa perumpamaan atau alegori.
Kedua, para murid harus memiliki kompetensi untuk
melakukan tindakan mukjizat. Untuk memperoleh kompetensi unik ini, para murid
harus sungguh percaya kepada Yesus. Dengan kepercayaan yang total, kompetensi
ini pasti akan mengalir dalam diri. Berkat khusus ini dengan sendirinya akan
diberikan Yesus kepada para murid sebagai mitra kerja-Nya. Kuncinya, mereka
harus sungguh percaya. Tanpa kepercayaan, mereka tidak akan bisa berbuat
apa-apa untuk meyakinkan para pendengarnya. Tindakan mukjizat menjadi unsur
penting bagi para murid dalam menjalankan fungsi sebagai pelita. Orang-orang
yang mendengar sabda Allah, akan semakin diyakinkan dengan tindakan mukjizat.
Orang-orang tidak akan ragu untuk mengikuti Allah, karena sabda-Nya begitu
nyata dinyatakan dengan aksil fenomenal yang menggugah.
Ketiga, para murid harus menjaga integritas diri.
Apa yang mereka katakan harus sejalan dengan tampilan pribadi secara konkrit di
tengah umat. Ketika berbicara tentang kejujuran, para murid harus benar-benar
mewujudkan kejujuran itu dalam tindakan. Mereka tidak boleh mengambil untung
dengan melakukan kebohongan atau ketidakjujuran. Ketika berbicara tentang
keberpihakan kepada orang kecil, mereka harus sungguh melakukannnya. Para murid
tidak boleh menunjukkan tindakan yang apatis atau masa bodoh ketika menghadapi
realitas demikian. Ketika berbicara tentang kebenaran, para murid harus
memperjuangkan kebenaran itu dalam aksi nyata. Mereka tidak boleh mempermainkan
kebenaran demi mendapatkan keuntungan secara pribadi atau kelompok. Ketika
berbicara tentang kesederhanaan dan kelembutan hati, para murid harus sungguh menunjukkan
pribadi yang sederhana dan lembut. Mereka tidak boleh menjadi pribadi yang
mencari kemewahan. Apalagi bersikap arogan dan tidak menganggap orang lain.
Menjadi pelita yang baik, tidak saja dimiliki oleh
para murid yang pertama. Melalui sakramen pembaptisan. kita tidak saja
dilegalkan menjadi anggota Gereja. Kita juga telah disahkan untuk menjadi
seorang pewarta Sabda Allah. Dalam bahasa Injil hari ini, kita memiliki
kewajiban dan hak untuk menjadi pelita yang baik. Tentu untuk menjadi pelita
yang baik tidak harus memiliki kualifikasi sempurna yang dimiliki oleh para
murid. Kita tidak perlu harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang mumpuni.
Kita juga tidak perlu belajar membuat tanda-tanda heran untuk meyakinkan orang
lain. Yang paling mendasar dari kualifikasi pelita yang baik adalah menjaga
integritas diri. Segala hal baik yang kita ucapkan, harus sungguh-sungguh
diwujudnyatakan dalam perbuatan atau tindakan nyata.
Saya merasa tergugah sekaligus tergugat dengan
syering seorang warga binaan Lapas terkait dengan bacaan Injil hari ini (Luk
8:16-18). Dalam syeringnya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga
integritas diri. Walaupun ia berasal dari kalangan intelektual yang berbicara
banyak tentang nilai-nilai kebaikan, namun sesungguhnya ia tidak mampu menjaga
integritas diri. Ia berlaku berlawanan dengan nilai-nilai moral dan ajaran
kristiani. Ia sebetulnya sudah mendapat peringatan. Tetapi ia tidak
mengindahkan peringatan tersebut. Ia tetap melakukan perbuatan yang jahat
sehingga pada akhirnya ia digiring ke dalam lembaga pemasyarakatan. Dalam
refleksinya, sang warga binaan tersebut membenarkan kata-kata yang telah
disampaikan oleh Yesus. “Tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan
diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya” (Luk 2:18). Semua kekayaan,
prestise dan prestasi dirinya telah hilang karena ia tidak mampu membawa nyala
pelita yang baik bagi orang lain.
Hari ini, kita mendapat pengajaran dari Yesus untuk menjadi pelita yang
baik bagi orang lain. Menjadi pelita yang baik berarti kita harus menjadi
pewarta yang membawa kebaikan dan keselamatan bagi sesama. Dalam tugas dan
pengabdian kita yang beraneka ragam, melekat tugas seorang murid Kristus untuk
menjadi pelita yang baik. Point paling penting untuk mengimplementasikannya adalah
menjaga integritas diri. Tentu hal ini tidak mudah. Ada banyak tantangan atau
halangan yang seringkali membuat nyala pelita kita menjadi suram atau padam.
Namun, tidak seharusnya kita bersikap pasrah dan putus asa. Kita harus bangkit
untuk menyalakan kembali pelita dalam diri kita masing-masing. Kita harus
kembali memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan dan tetap menjalin hubungan yang
akrab dengan diri-Nya. Mari kita menjadikan diri sebagai pelita yang baik bagi
orang-orang yang sementara kita layani dalam tugas dan pengabdian kita di
tengah dunia. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar