Minggu, 19 September 2021

Menjadi Pelita

Luk 8:16-18

 

Pada zaman dahulu, sebelum ada dan berkembangnya listrik seperti sekarang ini, pelita menjadi sumber utama penerangan di malam hari. Komponen pelita sangat sederhana. Ada kaleng bekas yang berfungsi sebagai rumah pelita. Dalam rumah pelita ini ada bahan bakar minyak dan sumbu yang dimasukkan dalam sepotong pipa. Kaleng bekas, minyak, dan sumbu adalah tiga komponen penting yang menjadikan pelita bisa bekerja dengan baik. Minyak yang cukup dan sumbu yang baik akan menciptakan nyala pelita yang baik pula.

 

Dalam perumpamaan tentang pelita, Yesus menandaskan bahwa pelita yang baik akan berfungsi dengan baik apabila di letakkan di atas kaki dian supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Tentu saja, dengan ditaru di atas kaki dian, cahaya pelita tersebut dapat menerangi keadaan sekitar sehingga orang tidak merasa kegelapan. Pelita akan kehilangan fungsinya apabila orang menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur.

 

Pelita di atas kaki dian adalah bahasa simbolik. Yesus menggunakan simbol pelita untuk menunjuk pada misi perutusan yang akan dikerjakan oleh para murid. Para murid harus menjadi seperti pelita yang membawa warta kebaikan bagi semua orang. Peran para murid yang sentral ini tentu tidak mudah. Mereka harus memompa diri dengan kekuatan dari Yesus sendiri. Mereka harus serius belajar dan terus melatih diri untuk menjadi seorang pewarta yang mumpuni. Dalam bahasa simbolnya, mereka harus memiliki sumbu yang baik dan minyak yang cukup agar tetap bernyala dalam misi perutusan.

 

Untuk menjadi pelita yang baik, ada beberapa kualifikasi yang harus dimiliki oleh para murid. Pertama, mereka harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang baik akan warta atau sabda Allah. Dan dalam masa kebersamaan bersama Yesus, secara tidak langsung mereka sementara belajar sekaligus melatih diri. Ada banyak content atau isi sabda Yesus yang mereka dengar dan secara otomatis terinternalisasi dalam diri. Dalam diskusi dan dialog bersama Yesus, content tentang sabda Allah terus didalami dan dimatangkan. Ada banyak hal yang pasti belum dipahami para murid karena dibentangkan oleh Yesus dalam bahasa perumpamaan atau alegori.

 

Kedua, para murid harus memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan mukjizat. Untuk memperoleh kompetensi unik ini, para murid harus sungguh percaya kepada Yesus. Dengan kepercayaan yang total, kompetensi ini pasti akan mengalir dalam diri. Berkat khusus ini dengan sendirinya akan diberikan Yesus kepada para murid sebagai mitra kerja-Nya. Kuncinya, mereka harus sungguh percaya. Tanpa kepercayaan, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk meyakinkan para pendengarnya. Tindakan mukjizat menjadi unsur penting bagi para murid dalam menjalankan fungsi sebagai pelita. Orang-orang yang mendengar sabda Allah, akan semakin diyakinkan dengan tindakan mukjizat. Orang-orang tidak akan ragu untuk mengikuti Allah, karena sabda-Nya begitu nyata dinyatakan dengan aksil fenomenal yang menggugah.

 

Ketiga, para murid harus menjaga integritas diri. Apa yang mereka katakan harus sejalan dengan tampilan pribadi secara konkrit di tengah umat. Ketika berbicara tentang kejujuran, para murid harus benar-benar mewujudkan kejujuran itu dalam tindakan. Mereka tidak boleh mengambil untung dengan melakukan kebohongan atau ketidakjujuran. Ketika berbicara tentang keberpihakan kepada orang kecil, mereka harus sungguh melakukannnya. Para murid tidak boleh menunjukkan tindakan yang apatis atau masa bodoh ketika menghadapi realitas demikian. Ketika berbicara tentang kebenaran, para murid harus memperjuangkan kebenaran itu dalam aksi nyata. Mereka tidak boleh mempermainkan kebenaran demi mendapatkan keuntungan secara pribadi atau kelompok. Ketika berbicara tentang kesederhanaan dan kelembutan hati, para murid harus sungguh menunjukkan pribadi yang sederhana dan lembut. Mereka tidak boleh menjadi pribadi yang mencari kemewahan. Apalagi bersikap arogan dan tidak menganggap orang lain.

 

Menjadi pelita yang baik, tidak saja dimiliki oleh para murid yang pertama. Melalui sakramen pembaptisan. kita tidak saja dilegalkan menjadi anggota Gereja. Kita juga telah disahkan untuk menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Dalam bahasa Injil hari ini, kita memiliki kewajiban dan hak untuk menjadi pelita yang baik. Tentu untuk menjadi pelita yang baik tidak harus memiliki kualifikasi sempurna yang dimiliki oleh para murid. Kita tidak perlu harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang mumpuni. Kita juga tidak perlu belajar membuat tanda-tanda heran untuk meyakinkan orang lain. Yang paling mendasar dari kualifikasi pelita yang baik adalah menjaga integritas diri. Segala hal baik yang kita ucapkan, harus sungguh-sungguh diwujudnyatakan dalam perbuatan atau tindakan nyata.

 

Saya merasa tergugah sekaligus tergugat dengan syering seorang warga binaan Lapas terkait dengan bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18). Dalam syeringnya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga integritas diri. Walaupun ia berasal dari kalangan intelektual yang berbicara banyak tentang nilai-nilai kebaikan, namun sesungguhnya ia tidak mampu menjaga integritas diri. Ia berlaku berlawanan dengan nilai-nilai moral dan ajaran kristiani. Ia sebetulnya sudah mendapat peringatan. Tetapi ia tidak mengindahkan peringatan tersebut. Ia tetap melakukan perbuatan yang jahat sehingga pada akhirnya ia digiring ke dalam lembaga pemasyarakatan. Dalam refleksinya, sang warga binaan tersebut membenarkan kata-kata yang telah disampaikan oleh Yesus. “Tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya” (Luk 2:18). Semua kekayaan, prestise dan prestasi dirinya telah hilang karena ia tidak mampu membawa nyala pelita yang baik bagi orang lain.

 

Hari ini, kita mendapat pengajaran dari Yesus untuk menjadi pelita yang baik bagi orang lain. Menjadi pelita yang baik berarti kita harus menjadi pewarta yang membawa kebaikan dan keselamatan bagi sesama. Dalam tugas dan pengabdian kita yang beraneka ragam, melekat tugas seorang murid Kristus untuk menjadi pelita yang baik. Point paling penting untuk mengimplementasikannya adalah menjaga integritas diri. Tentu hal ini tidak mudah. Ada banyak tantangan atau halangan yang seringkali membuat nyala pelita kita menjadi suram atau padam. Namun, tidak seharusnya kita bersikap pasrah dan putus asa. Kita harus bangkit untuk menyalakan kembali pelita dalam diri kita masing-masing. Kita harus kembali memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan dan tetap menjalin hubungan yang akrab dengan diri-Nya. Mari kita menjadikan diri sebagai pelita yang baik bagi orang-orang yang sementara kita layani dalam tugas dan pengabdian kita di tengah dunia. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar