Senin, 27 September 2021

BERI KESEMPATAN UNTUK BERUBAH

Luk 9:51-56

            Ketika kita ingin melakukan suatu kegiatan di tengah-tengah komunitas masyarakat meskipun memberi bermanfaat bagi kehidupan mereka namun terkadang maksud dan tujuan baik kita ditolak oleh komunitas itu tanpa suatu alasan mendasar. Secara manusiawi akan muncul kemarahan dan kejengkelan dalam hati meski kita berjuang untuk tampil tenang. Fenomena ini secara tegas mau menunjukkan bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan pada dirinya dan pada tahap tertentu kemarahan dan kebencian itu dapat meledak di luar kontrol. Pengolahan dan penguasaan emosi menjadi penting agar tidak meningkat menjadi permusuhan yang tidak perlu. Usaha pengendalian diri ini harus diikuti oleh komitmen yang kuat untuk mau berubah dan tidak tergantung dari orang lain.

           

Injil hari ini memberi kita suatu pelajaran berarti bagaimana Yesus menegur Yakobus dan Yohanes agar tidak bertindak gegaba mengutuk orang-orang Samaria yang menolak kehadiran dan rencana kedatangan Yesus dan murid-muridNya di Samaria. Yesus melihat masih ada peluang pertobatan bagi orang-orang Samaria, karena itu mereka harus diberi kesempatan untuk berubah. Cara pandang dan cara melihat Yesus berbeda degan cara pandang dan cara melihat manusia. Penolakan orang Samaria terhadap kehadiran Yesus sontak membuat kedua murid utusan Yesus marah besar bahkan mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”. Yesus mengarahkan pandangan dan menegur mereka untuk tidak melakukan hal konyol itu. Yesus seakan mau mengatakan: berilah mereka waktu dan kesempatan untuk berubah (bertobat) dan jangan membuang-buang kesempatan untuk memaksa orang yang tegar hati untuk mendadak bertobat seperti membalikan telapak tangan. Yesus mau mengajari para murid untuk bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan masalah, dan cara yang diambil Yesus untuk menenangkan hati para murid dengan menyuruh mereka berpindah ke desa yang lain, mungkin di sana mereka dapat menerima Juru selamat dan warta pertobatanNya. Pilihan untuk membinasakan orang-orang Samaria bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi masalah, setiap masalah harus diselesaikan dengan cara dan pendekatan bijak yang dikuatkan oleh doa. Doa menjadikan orang berhati batu menjadi lembut dan mampu menerima Tuhan dalam hidupnya. Yesus tidak saja mendidik para murid untuk matang secara Rohani tetapi juga harus matang secara psikologis agar terjadi keseimbangan yang ideal atasnya. Para murid tidak saja cakap dalam mengajar tetapi aspek kepribadian dan mental juga harus matang agar tidak mengambil tindakan yang kontras dengan misi kehadiran Yesus untuk menyelamatkan semua umat manusia.

           

Yakobus dan Yohanes sepertinya belum terbiasa menghadapi masalah dan penolakan dalam misi pewartaan mereka, sehingga kelihatan sekali ketika mereka mengalami penolakan dari orang Samaria mereka terkesan putus asa dan ingin mengambil langkah pintas untuk membumihanguskan desa Samaria. Pilihan tindakan mereka mencerminkan kualitas hidup rohani yang mereka miliki, karena orang yang memiliki hidup rohani yang matang selalu memiliki seribu satu pertimbangan dengan skala prioritas tinggi agar tidak mengaburkan dan menggagalkan misi utama pelayanan mereka. Dalam karya kerasulan dan pelayanan di tengah-tengah umat, kita tidak bisa mengharapkan pertobatan instan kepada mereka, ada proses yang harus dilalui untuk mencapai kematangan iman. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang akan kita hadapai berhadapan dengan kelompok yang suka mencari pembenaran diri. Untuk menghadapi kelompok orang semacam itu dibutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan untuk memenangkan hati mereka. 

           

Rasul Yakobus dan Yohanes adalah contoh nyata yang mengungkapkan perangai dan sifat dasar manusia dewasa ini. Kita seakan kurang dewasa menghadapi setiap masalah yang muncul, kita mengandalkan kekuatan dan emosi untuk menyelesaikan setiap masalah dan kita berpikir orang akan berubah kalau kekerasan kita gunakan untuk menjinakan mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap masalah yang diselesaikan dengan jalan kekerasan sama sekali tidak memberi solusi bahkan menciptakan masalah baru. Dalam konteks hidup beragama, Yesus datang membawa ajaran baru yaitu cinta kasih yang sama sekali berbeda dari ajaran apa pun, bahkan militansi dari ajaran baru ini mendorong kita untuk bersikap lemah lembut, sabar, pemaaf dan mendoakan musuh yang memusuhi kita. Ajaran baru ini hanya bisa dilaksanakan bila kita mengadopsi kerendahan hati Tuhan Yesus yang mendoakan musuh-musuNya dan rela berkorban bagi keselamatan umat manusia. Yakobus dan Yohanes berpikir mereka telah lama hidup bersama Yesus maka mereka berhak menggunakan rahmat dan kuasa yang mengalir dalam diri mereka untuk membinasakan orang lain. Teguran Yesus sebagai suatu peringatan agar mereka tidak menjadi sombong, harus lebih mawas diri dan bertanggungjawab menggunakan kuasa dan rahmat yang diberikan kepada mereka. Rahmat dan kuasa tidak boleh dipakai sewenang-wenang untuk mengutuk dan membinasakan orang tetapi hendaknya dipakai untuk membantu orang bertobat dan menghantar mereka kepada keselamatan.

           

Terkadang kita juga berlaku seperti Yakobus dan Yohanes, kita sering menggunakan kuasa dan jabatan kita untuk menekan orang lain/bawaan kita. Ketika mereka tidak lagi setia dan mau diajak bekerja sama, kita berjuang melengserkan mereka atau mengganti posisi mereka dari ruangan agar posisi itu bisa ditempati oleh orang-orang yang tidak berkualitas dan memiliki kualifikasi pada bidangnya, yang penting rajin manggut dan OBS (asal bapa senang). Strategi yang kita bangun ini sama sekali tidak mendidik, tidak membangun kesadaran dan kesetiaan orang, yang ada hanyalah kemunafikan yang dipertontonkan tanpa kualitas kerja yang memadai. Yesus menginginkan dari kita adalah pendekatan personal yang humanis agar dapat memenangkan hati orang yang keras, dengan begitu berangsur-angsur orang dapat kembali bertobat dan memberi diri untuk diselamatkan.

           

Injil yang kita renungkan hari ini menginspirasi dan memotivasi kita untuk mengutamakan kualitas pelayanan kepada sesama. Sikap dasar yang dibutuhkan dalam pendekatan pelayanan adalah kesabaran, kerendahan hati dan keteladanan yang memungkinkan orang dapat membaharui diri menuju pertobatan dan memperoleh keselamatan dari Allah. Kita  diminta oleh Yesus untuk melayani dengan hati dan menghindari kekerasan dan pemaksaan kepada sesama. Hendaknya kita mendedikasikan diri secara total dan mengarahkan mereka dengan kasih sayang agar kita dapat memenangkan hati dan jiwa mereka untuk hidup sesuai dengan Kehendak Allah. Semoga teladan kerendahan hati Yesus membaharui hati kita agar sikap dan tindakan kita kepada sesama mencerminkan kasih Yesus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar