Luk
9:51-56
Ketika
kita ingin melakukan suatu kegiatan di tengah-tengah komunitas masyarakat
meskipun memberi bermanfaat bagi kehidupan mereka namun terkadang maksud dan
tujuan baik kita ditolak oleh komunitas itu tanpa suatu alasan mendasar. Secara
manusiawi akan muncul kemarahan dan kejengkelan dalam hati meski kita berjuang
untuk tampil tenang. Fenomena ini secara tegas mau menunjukkan bahwa manusia
memiliki kekurangan dan keterbatasan pada dirinya dan pada tahap tertentu
kemarahan dan kebencian itu dapat meledak di luar kontrol. Pengolahan dan
penguasaan emosi menjadi penting agar tidak meningkat menjadi permusuhan yang
tidak perlu. Usaha pengendalian diri ini harus diikuti oleh komitmen yang kuat
untuk mau berubah dan tidak tergantung dari orang lain.
Injil hari ini memberi kita suatu
pelajaran berarti bagaimana Yesus menegur Yakobus dan Yohanes agar tidak
bertindak gegaba mengutuk orang-orang Samaria yang menolak kehadiran dan
rencana kedatangan Yesus dan murid-muridNya di Samaria. Yesus melihat masih ada
peluang pertobatan bagi orang-orang Samaria, karena itu mereka harus diberi
kesempatan untuk berubah. Cara pandang dan cara melihat Yesus berbeda degan
cara pandang dan cara melihat manusia. Penolakan orang Samaria terhadap
kehadiran Yesus sontak membuat kedua murid utusan Yesus marah besar bahkan
mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari
langit untuk membinasakan mereka?”. Yesus mengarahkan pandangan dan menegur
mereka untuk tidak melakukan hal konyol itu. Yesus seakan mau mengatakan:
berilah mereka waktu dan kesempatan untuk berubah (bertobat) dan jangan
membuang-buang kesempatan untuk memaksa orang yang tegar hati untuk mendadak
bertobat seperti membalikan telapak tangan. Yesus mau mengajari para murid
untuk bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan
masalah, dan cara yang diambil Yesus untuk menenangkan hati para murid dengan
menyuruh mereka berpindah ke desa yang lain, mungkin di sana mereka dapat
menerima Juru selamat dan warta pertobatanNya. Pilihan untuk membinasakan
orang-orang Samaria bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi masalah, setiap
masalah harus diselesaikan dengan cara dan pendekatan bijak yang dikuatkan oleh
doa. Doa menjadikan orang berhati batu menjadi lembut dan mampu menerima Tuhan
dalam hidupnya. Yesus tidak saja mendidik para murid untuk matang secara Rohani
tetapi juga harus matang secara psikologis agar terjadi keseimbangan yang ideal
atasnya. Para murid tidak saja cakap dalam mengajar tetapi aspek kepribadian
dan mental juga harus matang agar tidak mengambil tindakan yang kontras dengan
misi kehadiran Yesus untuk menyelamatkan semua umat manusia.
Yakobus dan Yohanes sepertinya belum
terbiasa menghadapi masalah dan penolakan dalam misi pewartaan mereka, sehingga
kelihatan sekali ketika mereka mengalami penolakan dari orang Samaria mereka
terkesan putus asa dan ingin mengambil langkah pintas untuk membumihanguskan
desa Samaria. Pilihan tindakan mereka mencerminkan kualitas hidup rohani yang
mereka miliki, karena orang yang memiliki hidup rohani yang matang selalu
memiliki seribu satu pertimbangan dengan skala prioritas tinggi agar tidak
mengaburkan dan menggagalkan misi utama pelayanan mereka. Dalam karya kerasulan
dan pelayanan di tengah-tengah umat, kita tidak bisa mengharapkan pertobatan
instan kepada mereka, ada proses yang harus dilalui untuk mencapai kematangan
iman. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang akan kita hadapai berhadapan
dengan kelompok yang suka mencari pembenaran diri. Untuk menghadapi kelompok
orang semacam itu dibutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan untuk memenangkan
hati mereka.
Rasul Yakobus dan Yohanes adalah
contoh nyata yang mengungkapkan perangai dan sifat dasar manusia dewasa ini.
Kita seakan kurang dewasa menghadapi setiap masalah yang muncul, kita
mengandalkan kekuatan dan emosi untuk menyelesaikan setiap masalah dan kita
berpikir orang akan berubah kalau kekerasan kita gunakan untuk menjinakan
mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap masalah yang diselesaikan dengan
jalan kekerasan sama sekali tidak memberi solusi bahkan menciptakan masalah
baru. Dalam konteks hidup beragama, Yesus datang membawa ajaran baru yaitu
cinta kasih yang sama sekali berbeda dari ajaran apa pun, bahkan militansi dari
ajaran baru ini mendorong kita untuk bersikap lemah lembut, sabar, pemaaf dan
mendoakan musuh yang memusuhi kita. Ajaran baru ini hanya bisa dilaksanakan
bila kita mengadopsi kerendahan hati Tuhan Yesus yang mendoakan musuh-musuNya
dan rela berkorban bagi keselamatan umat manusia. Yakobus dan Yohanes berpikir
mereka telah lama hidup bersama Yesus maka mereka berhak menggunakan rahmat dan
kuasa yang mengalir dalam diri mereka untuk membinasakan orang lain. Teguran
Yesus sebagai suatu peringatan agar mereka tidak menjadi sombong, harus lebih
mawas diri dan bertanggungjawab menggunakan kuasa dan rahmat yang diberikan
kepada mereka. Rahmat dan kuasa tidak boleh dipakai sewenang-wenang untuk
mengutuk dan membinasakan orang tetapi hendaknya dipakai untuk membantu orang
bertobat dan menghantar mereka kepada keselamatan.
Terkadang kita juga berlaku seperti
Yakobus dan Yohanes, kita sering menggunakan kuasa dan jabatan kita untuk
menekan orang lain/bawaan kita. Ketika mereka tidak lagi setia dan mau diajak
bekerja sama, kita berjuang melengserkan mereka atau mengganti posisi mereka
dari ruangan agar posisi itu bisa ditempati oleh orang-orang yang tidak
berkualitas dan memiliki kualifikasi pada bidangnya, yang penting rajin manggut
dan OBS (asal bapa senang). Strategi yang kita bangun ini sama sekali tidak
mendidik, tidak membangun kesadaran dan kesetiaan orang, yang ada hanyalah
kemunafikan yang dipertontonkan tanpa kualitas kerja yang memadai. Yesus
menginginkan dari kita adalah pendekatan personal yang humanis agar dapat
memenangkan hati orang yang keras, dengan begitu berangsur-angsur orang dapat
kembali bertobat dan memberi diri untuk diselamatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar