Selasa, 25 Agustus 2020

MENGHINDARI SIFAT MUNAFIK

 

(Mat 23: 27 – 32)

 

Ada seorang kerabat saya yang sangat pandai dalam bertutur kata. Kemampuan komunikasinya yang memikat memesonakan hati banyak orang yang mendengarnya. Kerabat saya ini juga memiliki pergaulan sosial yang luwes. Ia suka terlibat dalam banyak diskusi entah diskusi yang formal atau informal. Banyak masalah yang berhasil dipecahkannya. Banyak orang yang sudah dibantunya. Entah itu kontribusi berupa materi, sumbangan pikiran maupun keterlibatan secara fisik yang total bersama orang lain. Tidak heran bahwa kerabat saya ini memiliki banyak kenalan, banyak sahabat dan bahkan banyak simpatisan. Tetapi semua pesona dan kebaikan yang ditampilkannya tidak bertahan lama. Akar persoalannya karena ia gagal terpilih menjadi anggota DPRD. Suaranya jauh dari ambang batas sehingga tidak memungkinkan ia untuk lolos dan duduk di kursi empuk gedung DPRD. Pengalaman kegagalan tersebut menjadikan karakter kerabat ini berubah 180 derajat. Ia berubah menjadi pribadi yang emosional, apatis dan tidak mau tahu dengan situasi sosial yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Perubahan sikap yang cepat dan signifikan tersebut membuat semua orang bertanya-tanya. Termasuk saya. Saya menjadi bingung dengan perubahan sikap dirinya. Kira-kira apa alasan mendasar yang melatari perubahan sikapnya. Apakah hanya karena alasan gagal terjun dalam dunia politik. Atau adakah alasan yang lain.

 

Pada akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan umum bahwa kadang-kadang segala kebaikan yang ditampilkan lewat kata-kata dan perbuatan hanya tampilan bersifat lahiriah semata. Tidak mendarah daging dalam seluruh jiwa dan raga. Atau tidak menjadi karakter dasar yang sungguh dihidupi dalam seluruh konteks hidup manusia. Karakter palsu demikian yang memunculkan sifat munafik dalam diri manusia. Menurut kamus bahasa Indonesia Sifat munafik merujuk pada aspek berpura-pura bersikap baik tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak. Biasanya ada kepentingan instan yang mau dikejar sehingga orang berpura-pura menunjukkan sikap yang baik.

Seperti dalam bacaan Injil (Mat 23:27-32) yang kita baca pada hari ini (Rabu/26/8/2020). Yesus mengecam perilaku munafik yang ditampilkan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Para ahli taurat adalah kelompok akademisi atau golongan terpelajar yang memiliki kemampuan, keahlian dan legitimasi untuk menafsirkan ayat-ayat suci dalam Kitab Taurat. Sedangkan orang-orang Farisi adalah kelompok salah satu aliran keagamaan dalam agama Yahudi yang memperjuangkan dan menghidupi kemurnian hukum Taurat dengan segala tradisi yang mengikutinya. Kelompok Farisi hampir memiliki kesamaan dengan golongan saduki. Kedua kelompok ini sama-mama menghidupi hukum Taurat dalam ajaran pokok keyakinannya. Perbedaannya kalau kelompok Saduki hanya percaya dengan satu sumber pokok yakni hukum Taurat, maka golongan Farisi mengakui dua sumber dalam kepercayaan mereka yakni hukum taurat dan segala tradisi.

Penginjil Matius membeberkan kecaman Yesus kepada para ahli taurat dan golongan Farisi dengan alasan yang sangat mendasar bahwa mereka sungguh menunjukkan perilaku munafik dalam hidup sosial keagamaan mereka. Yesus menganalogikan sifat dan karakter mereka ibarat kuburan yang berlabur putih, yang sebelah luarnya tampak bersih dan indah, tetapi bagian dalamnya menyimpan tulang belulang dan berbagai kotoran (Mat 23:27). Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat memang tampil dengan segala kemewahan pakaian, atribut serta simbol-simbol keagamaan. Mereka juga sangat pandai berbicara mengarahkan umat untuk berlaku sesuai dengan hukum taurat. Tidak jarang, mereka juga menampilkan perbuatan-perbuatan baik di hadapan publik. Tetapi menurut Yesus, apa yang mereka lakukan tidak sungguh keluar dari kedalaman dan kemurnian hati. Mereka hanya berpura-pura baik dan suci dalam tutur dan laku untuk menarik simpati publik atas diri mereka. Dengan melihat tampilan suci dan perbuatan baik, umat akan merasa tersentuh dan memuji mereka. Fatalnya, mereka memanfaatkan popularitas dan keagungan semu yang dimiliki untuk meningkatkan prestise diri dan mencari keuntungan secara ekonomi. Ini kecaman pertama yang dikeluarkan oleh Yesus.

Kemudian Yesus mengecam perilaku orang Farisi dan ahli Taurat yang membangun makam para nabi dan memperindah tugu bagi orang-orang saleh (Mat 23:29). Lalu dengan gampang mereka membuat pernyataan bahwa seandainya mereka hidup pada zaman nabi maka pasti mereka tidak akan melakukan tindakan jahat kepada para nabi seperti yang dilakukan oleh para leluhur mereka. Namun apa yang mereka katakan tidak sejalan dengan apa yang mereka perbuat. Adanya sikap penolakan dan skeptis terhadap kehadiran Yesus dengan sendirinya membenarkan dan menegaskan perilaku buruk nenek moyang yang turun atas diri mereka. Dengan menolak Yesus berarti mereka mengulangi perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Mereka sengaja membangun makam para nabi dan tugu peringatan orang saleh yang indah agar mereka dipuji dan diakui oleh banyak orang. Padahal sesungguhnya hati mereka jauh dari Allah. Apa yang mereka buat hanya bersifat lahiriah semata untuk meraup kepentingan diri dan kelompok.

Sifat munafik yang ditampilkan oleh orang Farisi dan para ahli Taurat sebenarnya tidak pernah luntur dalam sejarah hidup manusia hingga kini. Kita yang mengaku diri sebagai orang Katolik juga acapkali mempertontonkan aneka wajah munafik dalam hidup kita sehari-hari. Mulai dari dalam rumah tempat tinggal kita, lingkungan tempat kita bercengkerama bersama orang lain, sampai di tempat kerja. Tidak terhitung berapa banyak kita telah mendramatisir segala tutur dan tindakan agar terlihat baik dan indah di hadapan keluarga, para kenalan, sahabat, dan rekan kerja. Kita melakukan demikian agar diakui dan dipuji oleh orang lain. Mungkin juga demi mendapatkan sesuatu dari orang lain. Namun apa yang kita lakukan jauh dari ketulusan dan kemurnian hati kita. Hari ini Yesus tidak hanya mengecam tetapi juga mengarahkan agar kita mau melepaskan segala sifat dan karakter munafik yang masih bercokol dalam hati kita. Kita kembali ke dalam kemurnian, ketulusan dan kebersihan hati untuk bertutur dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Karena segala hal yang kita lakukan untuk orang lain menggambarkan sikap hormat kita secara vertikal kepada Tuhan. Dan segala puji yang kita panjatkan bagi Dia di sorga memberi garansi akan sikap baik kita yang tulus kepada sesama. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 24 Agustus 2020

SANTO BARTOLOMEUS

 

Yoh 1:45-51

 

Santo Bartolomeus adalah salah seorang rasul dari kelompok dua belas murid yang perayaannya dikenang oleh gereja Katolik sejagat pada hari ini (Senin/24/8/2020). Nama lain dari Santo Bartolomeus adalah Natanael. Dalam Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) para penginjil mencantumkan nama Bartolomeus, sedangkan penginjil Yohanes menulis nama rasul Bartolomeus dengan Natanael. Bartolomeus berasal dari Kana sebuah daerah di provinsi Galilea, Israel utara. Galilea adalah sebuah kota dagang yang maju dan ramai. Sangat jauh berbeda dengan Nazaret, sebuah kampung di pedalaman yang tidak begitu dikenal. Sehingga menjadi wajar Bartolomeus bersikap skeptis ketika Filipus hendak membawanya untuk bertemu dengan Yesus. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Sebuah pertanyaan penuh dengan rasa tidak percaya, apakah betul Yesus yang telah diramalkan oleh Musa dalam kitab Taurat dan kitab para nabi sungguh-sungguh datang dari sebuah kampung terisolir yang namanya Nazaret. Keragu-raguan Bartolomeus akhirnya terjawab ketika ia bertemu langsung dengan sosok Yesus yang berasal dari kampung Nazaret.

 

Bartolomeus adalah seorang rasul yang cukup terpelajar. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Yesus sendiri ketika melihat Natanael datang kepadanya. Yesus sungguh mengakui Natanael sebagai seorang Israel sejati. Natanael menjadi bingung karena ternyata Yesus sudah mengenalnya tanpa bertatap muka sebelumnya. “Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara”, demikian kata Yesus (Yoh 1:50). Kalimat “melihat di bawah pohon ara” sebenarnya bukanlah kalimat dalam arti yang sebenarnya. Kalimat tersebut adalah sebuah ungkapan yang menyiratkan sebuah pesan bahwa Bartolomeus mendapat tempat khusus di hati Yesus. Yesus mengapreasi Bartolomeus karena keseriusan dan kecerdasannya dalam mendalami kitab Taurat. Bartolomeus memiliki pengetahuan (wawasan) dan analisis yang mendalam tentang teks kitab suci yang dibacanya. Tidak heran bahwa kemudian Bartolomeus mengatakan kepada Yesus: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Rarja orang Israel.” Statement Bartolomeus ini tentu tidak sekedar keluar dari mulutnya. Bartolomeus sungguh telah membaca kitab taurat dan kitab para nabi yang berbicara mengenai kehadiran Yesus. Dan kemudian, berdasarkan perjumpaannya dengan teks Kitab Suci, akhirnya Bartolomeus mampu secara jeli mengidentifikasi sosok yang sementara berbicara di hadapannya. Lebih dari itu, pengakuan Bartolomeus adalah sebuah ungkapan yang tulus dari kedalaman dan kemurnian hatinya. Bartolomeus secara tidak langsung menepis sikap skeptisnya tentang figur Yesus yang datang dari Nazaret.

 

Sejak pertemuan pertama yang sungguh membekas tersebut, Bartolomeus akhirnya masuk menjadi anggota kelompok dua belas rasul yang tetap setia mengikuti Yesus hingga Ia wafat dan kemudian menjadi saksi kebangkitan-Nya. Nama Natanael atau Bartolomeus disebut kembali di akhir Injil Yohanes. Bersama-sama dengan beberapa murid yang lain - Simon Petrus, Thomas yang disebut Didimus, anak-anak Zebedeus, dan dua orang murid yang lain – Natanael menjadi salah satu murid yang menjadi saksi mata penampakan Yesus di pantai danau Tiberias (Katakombe.org). Eusabius, salah seorang bapa gereja, menulis dalam ecclesiastical History bahwa setelah kenaikan Yesus, Bartolomeus pergi sebagai misionaris ke India, dimana ia meninggalkan sebuah salinan Injil Matius. Tradisi lain mencatatnya sebagai seorang misionaris yang bermisi ke Ethiopia, Mesopotamia. Parthia dam Lycaonia. Santo Bartolomeus bersama rasul Yudas anak Yakobus, dikenal sebagai pembawa kekristenan di negara Armenia pada abad ke-1 M. Kedua rasul ini dianggap sebagai santo pelindung Gereja apostolik Armenia. Konon, Bartolomeus mati sebagai martir di Albanopolis, Armenia (Katakombe.org).

 

Ada dua hal positif yang bisa kita tangkap mengenai sosok Santo Bartolemus. Pertama, ia seorang pribadi yang sungguh menekuni teks kitab suci. Karena ketekunannya tersebut maka Bartolomeus tumbuh menjadi seorang pribadi yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas tentang isi Kitab Suci. Pengetahuannya yang mendalam tentang kitab suci menghantar Bartolomeus untuk secara lebih mendalam mengenal dan mengakui sosok Yesus sebagai Sang Guru Ilahinya. Kedua, Bartolomeus adalah seorang murid yang setia dan militan. Walaupun kita jarang mendengar namanya disebut dalam teks Injil, namun Bartolomeus sebenarnya telah menunjukkan jati dirinya sebagai seorang murid yang sangat setia kepada Yesus. Bersama dengan para rasul yang lain, Bartolomeus rela berjalan kaki dari kampung ke kampung untuk mendengarkan warta dan menyaksikan tindakan kenabian Yesus yang membawa keselamatan bagi banyak orang di kala itu. Setelah Yesus pergi dari dunia, Bartolomeus tetap menunjukkan kesetiannya kepada Yesus. Ia pergi ke berbagai negara sebagai seorang misionaris untuk mewartakan kabar gembira kepada segenap makhluk. Kesetiaan dan militansinya sebagai seorang rasul betul-betul diuji ketika ia menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Tetapi sama seperti Yesus, Sang Guru Agung, Bartolomeus tidak gentar dan mundur. Ia akhirnya pergi dari dunia sebagai seorang martir yang menumpahkan darahnya demi tumbuh kembang iman Kristen di semua wilayah yang pernah disinggahinya.

 

Ketokohan Santo Bartolomeus telah menginspirasi kita sebagai para murid Yesus di zaman ini. Bartolomeus mengajarkan kita untuk mau menekuni dan mendalami bacaan Kitab Suci. Dengannya kita tidak hanya menjadi penuh dalam tataran pengetahuan atau wawasan tetapi kita sungguh mengenal, memahami dan meresapi siapa Tuhan dalam hati kita masing-masing. Pengetahuan dan pengenalan kita yang sungguh mendalam akan Tuhan, secara otomatis akan mengarahkan dan membimbing pribadi kita menjadi pribadi yang berkarakter setia dan militan untuk terus membawa warta Injil dalam hidup kita sehari-hari. Pasti ada banyak tantangan dan hambatan yang selalu menjadi “sahabat setia” dalam karya pelayanan kita sebagai seorang murid. Tetapi, Bartolomeus telah mengajarkan kita untuk terus berkarya kepada segenap manusia tanpa memandang latar suku, agama, ras, dan golongan. Dengan demikian, kita sebenarnya sementara membuktikan diri untuk masuk dalam singgasana keselamatan-Nya. Mari kita meneladani semangat hidup Santo Bartolomeus dalam hidup kita masing-masing. ***Atanasius KD Labaona***

Rabu, 12 Agustus 2020

Mengampuni Tanpa Henti

                                                                     Mat 18:21-9:1


Dalam kisah tentang hamba yang memohon agar ia diberi kesempatan untuk melunasi utangnya, dan belas kasihan raja atas hamba itu sehingga ia membebaskannya dan menghapus utangnya, Yesus memaklumkan Allah Bapa yang murah hati kepada manusia. Ia mengampuni orang yang bertobat, betapapun besarnya utang dosa dan kesalahan orang. Dan apabila Ia mengampuni maka utang dosa itu sudah hilang dan tidak ada lagi (Mat 18:27, bdk Yes 1:18; 6:7; 38:17; Luk 15:13-24) meskipun pada orang yang diampuni dosa itu masih tetap diingat.

 

Yesus tidak hanya memaklumkan Bapa-Nya yang murah hati dan berbelas kasihan, tetapi juga menyatakan bahwa setiap orang dipanggil untuk menjadi murah hati dan berbelas kasih; mudah dan suka mengampuni.


Karena Allah itu pengampun. Ia lebih dahulu mengampuni manusia pendosa. Maka setiap orang yang diampuni dosanya harus melakukan yang sama. “Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33).


Mengampuni bukan suatu tindakan yang murni berasal dari manusia. Ia adalah anugerah Allah; hadiah yang diberikan Allah kepada seseorang. Ketika diterima, pada waktu orang diampuni, anugerah itu mau tidak mau harus diteruskan.


Dengan meneruskan hadiah itu orang menolong dirinya sendiri berkembang dalam kemurahan hati. Mengampuni dan terus mengampuni adalah keuntungan untuk diri, bukan kerugian seperti yang disangkakan.


Jika dikekang maka anugerah itu berubah wujudnya menjadi ketidakadilan. Minta diampuni tetapi tidak mau mengampuni. Itu tidak adil. Perlakuan tidak adil itulah yang justru ditentang Allah. Buah dari ketidakadilan itu jelas. Hukuman tetap diterima dan tidak dapat dielakkan (Mat 18:34).


Agar kita terhindar dari perbuatan tidak adil, melainkan menjadi anak-anak Bapa yang murah hati, setiap kita memandang penting untuk melakukan apa yang diperintahkan Yesus kepada kita, yaitu bahwa kita harus meniru Allah dengan mengampuni tanpa henti – “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22).


Untuk maksud itu, tidak cukup kita mengerti dan menerima kebenaran ini. Pengertian mesti menjiwai semua kita untuk melakukannya dalam hidup kita. Jika hanya sampai pada pengertian, maka itu sama halnya dengan hanya mengucapkan doa: “dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4). Kita tidak bisa berbuat seperti yang diminta Yesus, mengampuni, padahal itulah tindakan terpenting.


Bukalah hati kita untuk menerima kebenaran ajaran Yesus ini karena ini menyangkut diri dan hidup kita. Jadikan kebenaran-Nya sebagai jiwa kita; nafas kehidupan kita. Pastilah kita akan tergerak untuk melakukannya.


Berat pada langkah awal bukanlah tanda buruk bahwa kita tidak bakal melakukannya dengan sempurna. Ia menjadi titik tolak untuk menjadi lebih baik sampai pada akhirnya kita benar-benar mengampuni seperti Allah yang bermurah hati untuk mengampuni.


Tetaplah teguh dalam komitmen iman. Kita akan mencapai garis akhir dengan selamat. ***Apol Wuwur***



Senin, 10 Agustus 2020

Menjadi Yang Terbesar

 

Mat 18:1-5.10.12-14


Anak adalah anugerah Allah terbesar dalam kehidupan orang tua. Betapa orang berbahagia mendapatkan anugerah ini. Lebih bahagia lagi mereka yang bertahun-tahun merindukannya hingga pada suatu ketika anugerah itu mereka peroleh.


Namun anugerah itu tidak serta merta dihormati selayaknya ketika masih kecil. Dalam banyak daerah dengan budaya patriarki yang kental, anak kecil sama seperti kaum perempuan dipandang subordinan. Mereka adalah kaum lemah dengan ruang gerak yang sangat terbatas. Ruang gerek mereka adalah rumah. Mereka tidak pernah dilibatkan dalam urusan publik; juga tidak untuk pembicaraan yang dipandang laik hanya untuk kaum lelaki. Sebagai kaum yang belum memiliki identitasnya sendiri, anak kecil hanya bisa mengikuti kehendak kaum lelaki. Tidak ada yang bisa dibut lebih selain taat.

 

Superioritas kaum lelaki ini juga melekat pada pribadi para murid yang bertumbuh dalam budaya patriarki yang kuat. Anak kecil tidak disandingkan dan dihormati selayaknya kaum lelaki dewasa. Malahan, bagi mereka, anak kecil adalah hambatan dalam gerak langkah mereka. Yesus pun ditarik masuk ke dalam pola pikir mereka. Tidak mengherankan, ketika orang membawa anak-anak kecil untuk diberkati Yesus, para murid memarahi mereka yang membawa anak-anak itu (Mat 19:13).


Berbeda sekali dengan para murid-Nya, Yesus malah sangat peduli dan menghormati anak kecil. Dalam Injil hari ini, kita mendengar Ia berkata: “...jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:10). Dalam hal yang sama Ia berkata kepada para murid-Nya: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 19:14).


Sikap hormat-Nya itu dinyatakan juga ketika Yesus menanggapi pertanyaan para murid-Nya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Mat 18:1). Yesus tidak serta merta menjawab pertanyaan mereka. Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkan di tengah-tengah mereka lalu mengajar mereka. Siapa yang ingin menjadi terbesar dalam dalam Kerajaan Sorga, maka ia harus bertobat dan menjadi seperti seorang anak kecil itu.

 

Yesus melihat ada penghalang terbesar bagi para murid-Nya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Penghalang itu adalah superioritas kelelakian yang membuat mereka hanya mencari nama dan kekuasaan duniawi (lih Mat 20:21). Demam tinggi akan hal ini membuat mereka mengabaikan martabat luhur anak-anak kecil yang telah dianugerahkan Allah sebagai anugerah termulia. Mereka menyepelehkan anak-anak yang sejatinya memancarkan kebajikan dasar yang membuat mereka menjadi besar dalam Kerajaan Sorga.

 

Yesus berbicara tentang pertobatan dan menjadi seperti anak kecil itu agar para murid membarui hidup mereka dan belajar untuk menjadi rendah hati, tulus dan polos seperti anak kecil. Bukan saja mengenakan “kualitas hidup seorang anak kecil”, melainkan juga di dalam kualitas seperti itu, semua orang, terutama anak-anak kecil dan juga kaum perempuan yang dipandang subordinan, dapat diterima dan dihormati sebagai makhluk yang semartabat. Hanya orang yang rendah hati dan tulus yang dapat menghargai semua orang dan tidak bisa memetakan satu dengan yang lain menurut cara pandang dunia yang dikotomis dan cenderung meremehkan.

 

Pertanyaan para murid kepada Yesus adalah juga pertanyaan kita kepada Yesus. Demikian pula jawaban Yesus.

 

Acapkali kita terdeterminasi oleh cara pandang dunia yang dikotomis dan meremehkan. Yang kita cari adalah popularitas diri dan kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Seperti para murid, pola pikir dan kecenderungan itu membuat kita fokus hanya pada kepentingan diri sendiri dan lupa melihat bahwa orang lain yang berada di sekitar kita adalah semartabat dan patut diperlakukan selayaknya, siapapun orang ituitu.

 

Yesus menantang kita untuk bertobat dan mengubah cara pandang duniwi kita dengan cara pandang-Nya yang menempatkan semua orang sebagai makhluk yang bermartabat. Menjadi seperti seorang anak kecil, bukan menjadi kekanak-kanakan, membuat kita bisa masuk ke dalam cara padang Yesus. Menghormati, menerima, mendengar dan belajar dari semua yang ada untuk semakin bertumbuh dalam kebajikan yang sangat dibutuhkan untuk masuk ke dalam Kerajaan sorga.


Marilah kita belajar bahwa superioritas dan keinginan untuk mencari kekuasaan serta popularitas diri bisa membimbing kita berperilaku seperti “kekanak-kanakan” yang mencelakakan, akan tetapi menjadi seperti anak kecil justru membawa kita kepada pertumbuhan menjadi “orang besar” karena kita memiliki kualitas hati yang rendah hati. *** Apol Wuwur***

Kamis, 06 Agustus 2020

Kekuasaan dan Kemuliaan Yesus

Dan 7:9-10.13-14; 2 Pet 1:16-19 & Mat 17:1-9

Di atas gunung yang tinggi, diperkirakan Gunung Tabor di Nazareth, Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di hadapan Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dalam penglihatan mereka, “... wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Bersamaan dengan itu, ketiga murid itu melihat “Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia”.

Musa dan Elia adalah dua tokoh penting dalam Perjanjian Lama; Musa mewakili hukum yang diberikan Allah kepada Israel dan Elia mewakili para nabi Allah. Penampakan dialog itu menjadi tanda penting yang mengungkapkan bahwa apa yang telah dimulai sejak Perjanjian Lama kini mencapai puncaknya dalam diri Yesus yang penuh dengan kemuliaan. Kemuliaan Allah yang mereka lihat menyata dalam diri Yesus.

Ketika ketiga murid itu diliputi sukacita karena peristiwa itu, terdengarlah suara di balik awan yang menaungi mereka: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Allah Bapa menyerukan dalam suatu nada perintah agar mendengarkan Putra-Nya, sebab segala kekuasaan dan kemuliaan telah diberikan kepada-Nya.

Petrus yang menyaksikan peristiwa itu kemudian dalam pewartaannya menegaskan kembali intisari nubuat Daniel (Dan 7:9-14) ketika ia berkata: “Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (2 Pet 1:17).

Namun kepada para murid-Nya, setelah peristiwa itu, ketika mereka kembali ke Yerusalem, Yesus mengingatkan agar mereka tidak menceriterakannya peristiwa itu sebelum tiba waktunya ketika Ia sudah bangkit dari alam maut dengan jaya dan penuh dengan kemuliaan. Masuk ke Yerusalem adalah berjalan menuju penderitaan dan kematian, namun itulah jalan menuju kemuliaan yang telah diantipasi dengan cahaya kemuliaan di atas gunung yang tinggi.

Peristiwa cahaya mulia di gunung tinggi itu merujuk kepada suatu pengalaman yang mendalam akan Allah yang berkuasa mengubah kita orang beriman setelah kita memasuki “Yerusalem” dan berjalan menuju pendakian gunung yang berat - penyangkalan diri dan memikul salib. Ada usaha dan perjuangan berat yang harus kita lakukan, meskipun yang terpenting adalah kemuliaan yang lebih besar yang kita peroleh karena kita mendengarkan Dia seperti yang dikehendaki Bapa dari kita dan membiarkan diri kita diubah oleh Dia yang penuh hormat dan kemuliaan.

Peristiwa transfigurasi mengingatkan kita bahwa kemuliaan Yesus yang dinyatakan di dalam penderitaan adalah kekuatan bagi kita yang percaya kepada-Nya dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. Ia menjiwai dan membentuk kita sehingga kita mampu mendengarkan dan melaksanakan apa yang disabdakan kepada kita, jalan melalui mana kita memberikan diri untuk diubah oleh Kristus mulia dan jaya. Di dalam Yesus kita diubah menjadi anak-anak Allah yang mulia *** Apol Wuwur***

 


Senin, 03 Agustus 2020

Basuh Tangan Dan Hati

Mat 15:1-2.10-14

Kesehatan adalah suatu yang berharga. Ia bagian dari hidup manusia dan diyakini sebagai anugerah dari Tuhan. Seperti yang diajarkan Gereja, kesehatan dan hidup itu milik Tuhan dan dipercayakan kepada manusia. Karena itu, lebih lanjut Gereja menandaskan bahwa kesehatan dan hidup itu harus dirawat dengan cara yang bijaksana (lih KGK 2288).

Makan dan minum yang sehat, menjaga pola hidup, juga perilaku hidup seperti yang disebutkan dalam Kitab Suci adalah bagian dari cara bijaksana kita memelihara dan menghormati anugerah dari Tuhan itu.

Di antara berbagai upaya untuk menjaga dan memelihara kesehatan hidup manusia, Injil menyinggung satu tindakan penting, yaitu membasuh tangan. Menurut tradisi, orang harus membasuh tangan sebelum makan. Maksudnya adalah agar kumat atau virus apapun itu tidak ikut masuk ke dalam dan merusakkan kesehatan manusia. Itulah perilaku hidup yang sehat.

Tanggapan Yesus atas keluhan orang Farisi dan ahli Taurat tidak bisa diartikan sebagai menentang apa yang baik untuk kesehatan manusia. Kata-kata-Nya: "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang," bukanlah ajaran untuk memandang rendah hal-hal yang perlu untuk kesehatan tubuh. Tuhan justru menghendaki agar manusia memelihara tubuhnya yang disebut sebagai Bait Roh Kudus.

Yang dikritik Yesus adalah sikap legalistis yang selalu menjadi yang ideal di kalangan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Bukan soal kesehatan atas tubuh sebagai Bait Allah, melainkan peraturan dalam dirinya sendiri. Maka kepada orang banyak Yesus: “Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang”.

 

Sebaliknya kepada orang banyak Yesus berusaha membawa suatu pandangan hidup yang jauh lebih sempurna sesuai tugas-Nya, menyempurnakan yang ada. Tidak hanya kesehatan tubuh jasmani yang dijaga dengan perilaku hidup yang sehat, seperti membasuh tangan sebelum makan, melainkan juga membasuh hati agar menjadi bersih, tempat yang baik untuk bertumbuh-kembangnya benih-benih Sabda Allah, bukan bibit-bibit kejahatan.

Apalah artinya menjaga peraturan agar dikatakan “baik”, akan tetapi memelihara hati yang kotor; hati yang penuh dengan kedengkian, iri hati, percabulan, tipu muslihat, amarah, dan berbagai perbendaharaan yang keluar dari hati yang kotor. Bukankan itu jauh lebih buruk merusak tubuh manusia sebagai bait-Nya? Jelas dikatakan Yesus: “... bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."

 Ketika wabah covid-19 menyerang hampir seluruh belahan bumi ini dan menjangkiti sekian banyak orang dan membawa banyak kematian, salah satu hal yang dipersyaratkan untuk memutuskan rantai penyebarannya adalah dengan membasuh tangan secara rutin. Ini perilaku yang baik. Tidak saja berkenaan dengan kesehatan diri sendiri, akan tetapi juga seperti dikatakan Gereja: “memperhatikan kebutuhan orang lain dan kesejahteraan umum” (ibid).

Sampai dengan memasuki masa “new normal” himbauan membasuh tangan, disamping himbauan yang lain, tetap digencarkan demi menjaga dan memelihara kesehatan hidup. Bahkan diharapkan bahwa tindakan ini menjadi perilaku hidup sehat yang tetap, sebagai tanda keberpihakan kepada kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan kepada kita.

Namun kepada kita juga Yesus mengingatkan agar secara berimbang menjaga kesehatan hati sebagai sumber perilaku hidup yang sehat sebagai anak-anak Allah. Baik jiwa maupun raga, kita tetap menjaga kesehatan dan kebugarannya dengan perilaku hidup yang baik sampai pada saatnya Tuhan sendiri memandang penting untuk mengambilnya dari kita.

Maka penting untuk kita lakukan adalah membasuh tangan dan hati kita dari waktu ke waktu karena dari waktu ke waktu kita juga dapat saja terserang ‘kuman dan virus’ yang membahayakan kesehatan tubuh dan jiwa kita.

Sebagai orang beriman, kesempurnaan hidup sehat akan kita miliki jika kita benar-benar mendengar dan melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan. Basuhlah tangan dan basuhlah juga hati kita. *** Apol Wuwur***