(Mat 23: 27 – 32)
Ada seorang kerabat saya yang sangat pandai dalam bertutur kata. Kemampuan
komunikasinya yang memikat memesonakan hati banyak orang yang mendengarnya.
Kerabat saya ini juga memiliki pergaulan sosial yang luwes. Ia suka terlibat
dalam banyak diskusi entah diskusi yang formal atau informal. Banyak masalah
yang berhasil dipecahkannya. Banyak orang yang sudah dibantunya. Entah itu
kontribusi berupa materi, sumbangan pikiran maupun keterlibatan secara fisik
yang total bersama orang lain. Tidak heran bahwa kerabat saya ini memiliki
banyak kenalan, banyak sahabat dan bahkan banyak simpatisan. Tetapi semua
pesona dan kebaikan yang ditampilkannya tidak bertahan lama. Akar persoalannya
karena ia gagal terpilih menjadi anggota DPRD. Suaranya jauh dari ambang batas
sehingga tidak memungkinkan ia untuk lolos dan duduk di kursi empuk gedung
DPRD. Pengalaman kegagalan tersebut menjadikan karakter kerabat ini berubah 180
derajat. Ia berubah menjadi pribadi yang emosional, apatis dan tidak mau tahu
dengan situasi sosial yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Perubahan
sikap yang cepat dan signifikan tersebut membuat semua orang bertanya-tanya.
Termasuk saya. Saya menjadi bingung dengan perubahan sikap dirinya. Kira-kira
apa alasan mendasar yang melatari perubahan sikapnya. Apakah hanya karena
alasan gagal terjun dalam dunia politik. Atau adakah alasan yang lain.
Pada akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan umum bahwa kadang-kadang
segala kebaikan yang ditampilkan lewat kata-kata dan perbuatan hanya tampilan
bersifat lahiriah semata. Tidak mendarah daging dalam seluruh jiwa dan raga.
Atau tidak menjadi karakter dasar yang sungguh dihidupi dalam seluruh konteks
hidup manusia. Karakter palsu demikian yang memunculkan sifat munafik dalam
diri manusia. Menurut kamus bahasa Indonesia Sifat munafik merujuk pada aspek
berpura-pura bersikap baik tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak. Biasanya ada
kepentingan instan yang mau dikejar sehingga orang berpura-pura menunjukkan
sikap yang baik.
Seperti dalam bacaan Injil (Mat 23:27-32) yang kita baca pada hari ini (Rabu/26/8/2020). Yesus mengecam perilaku munafik yang ditampilkan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Para ahli taurat adalah kelompok akademisi atau golongan terpelajar yang memiliki kemampuan, keahlian dan legitimasi untuk menafsirkan ayat-ayat suci dalam Kitab Taurat. Sedangkan orang-orang Farisi adalah kelompok salah satu aliran keagamaan dalam agama Yahudi yang memperjuangkan dan menghidupi kemurnian hukum Taurat dengan segala tradisi yang mengikutinya. Kelompok Farisi hampir memiliki kesamaan dengan golongan saduki. Kedua kelompok ini sama-mama menghidupi hukum Taurat dalam ajaran pokok keyakinannya. Perbedaannya kalau kelompok Saduki hanya percaya dengan satu sumber pokok yakni hukum Taurat, maka golongan Farisi mengakui dua sumber dalam kepercayaan mereka yakni hukum taurat dan segala tradisi.
Penginjil Matius membeberkan kecaman Yesus kepada para ahli taurat dan golongan Farisi dengan alasan yang sangat mendasar bahwa mereka sungguh menunjukkan perilaku munafik dalam hidup sosial keagamaan mereka. Yesus menganalogikan sifat dan karakter mereka ibarat kuburan yang berlabur putih, yang sebelah luarnya tampak bersih dan indah, tetapi bagian dalamnya menyimpan tulang belulang dan berbagai kotoran (Mat 23:27). Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat memang tampil dengan segala kemewahan pakaian, atribut serta simbol-simbol keagamaan. Mereka juga sangat pandai berbicara mengarahkan umat untuk berlaku sesuai dengan hukum taurat. Tidak jarang, mereka juga menampilkan perbuatan-perbuatan baik di hadapan publik. Tetapi menurut Yesus, apa yang mereka lakukan tidak sungguh keluar dari kedalaman dan kemurnian hati. Mereka hanya berpura-pura baik dan suci dalam tutur dan laku untuk menarik simpati publik atas diri mereka. Dengan melihat tampilan suci dan perbuatan baik, umat akan merasa tersentuh dan memuji mereka. Fatalnya, mereka memanfaatkan popularitas dan keagungan semu yang dimiliki untuk meningkatkan prestise diri dan mencari keuntungan secara ekonomi. Ini kecaman pertama yang dikeluarkan oleh Yesus.
Kemudian Yesus mengecam perilaku orang Farisi dan ahli Taurat yang membangun makam para nabi dan memperindah tugu bagi orang-orang saleh (Mat 23:29). Lalu dengan gampang mereka membuat pernyataan bahwa seandainya mereka hidup pada zaman nabi maka pasti mereka tidak akan melakukan tindakan jahat kepada para nabi seperti yang dilakukan oleh para leluhur mereka. Namun apa yang mereka katakan tidak sejalan dengan apa yang mereka perbuat. Adanya sikap penolakan dan skeptis terhadap kehadiran Yesus dengan sendirinya membenarkan dan menegaskan perilaku buruk nenek moyang yang turun atas diri mereka. Dengan menolak Yesus berarti mereka mengulangi perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Mereka sengaja membangun makam para nabi dan tugu peringatan orang saleh yang indah agar mereka dipuji dan diakui oleh banyak orang. Padahal sesungguhnya hati mereka jauh dari Allah. Apa yang mereka buat hanya bersifat lahiriah semata untuk meraup kepentingan diri dan kelompok.
Sifat munafik yang ditampilkan oleh orang Farisi dan para ahli Taurat sebenarnya tidak pernah luntur dalam sejarah hidup manusia hingga kini. Kita yang mengaku diri sebagai orang Katolik juga acapkali mempertontonkan aneka wajah munafik dalam hidup kita sehari-hari. Mulai dari dalam rumah tempat tinggal kita, lingkungan tempat kita bercengkerama bersama orang lain, sampai di tempat kerja. Tidak terhitung berapa banyak kita telah mendramatisir segala tutur dan tindakan agar terlihat baik dan indah di hadapan keluarga, para kenalan, sahabat, dan rekan kerja. Kita melakukan demikian agar diakui dan dipuji oleh orang lain. Mungkin juga demi mendapatkan sesuatu dari orang lain. Namun apa yang kita lakukan jauh dari ketulusan dan kemurnian hati kita. Hari ini Yesus tidak hanya mengecam tetapi juga mengarahkan agar kita mau melepaskan segala sifat dan karakter munafik yang masih bercokol dalam hati kita. Kita kembali ke dalam kemurnian, ketulusan dan kebersihan hati untuk bertutur dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Karena segala hal yang kita lakukan untuk orang lain menggambarkan sikap hormat kita secara vertikal kepada Tuhan. Dan segala puji yang kita panjatkan bagi Dia di sorga memberi garansi akan sikap baik kita yang tulus kepada sesama. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar