Rabu, 12 Agustus 2020

Mengampuni Tanpa Henti

                                                                     Mat 18:21-9:1


Dalam kisah tentang hamba yang memohon agar ia diberi kesempatan untuk melunasi utangnya, dan belas kasihan raja atas hamba itu sehingga ia membebaskannya dan menghapus utangnya, Yesus memaklumkan Allah Bapa yang murah hati kepada manusia. Ia mengampuni orang yang bertobat, betapapun besarnya utang dosa dan kesalahan orang. Dan apabila Ia mengampuni maka utang dosa itu sudah hilang dan tidak ada lagi (Mat 18:27, bdk Yes 1:18; 6:7; 38:17; Luk 15:13-24) meskipun pada orang yang diampuni dosa itu masih tetap diingat.

 

Yesus tidak hanya memaklumkan Bapa-Nya yang murah hati dan berbelas kasihan, tetapi juga menyatakan bahwa setiap orang dipanggil untuk menjadi murah hati dan berbelas kasih; mudah dan suka mengampuni.


Karena Allah itu pengampun. Ia lebih dahulu mengampuni manusia pendosa. Maka setiap orang yang diampuni dosanya harus melakukan yang sama. “Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33).


Mengampuni bukan suatu tindakan yang murni berasal dari manusia. Ia adalah anugerah Allah; hadiah yang diberikan Allah kepada seseorang. Ketika diterima, pada waktu orang diampuni, anugerah itu mau tidak mau harus diteruskan.


Dengan meneruskan hadiah itu orang menolong dirinya sendiri berkembang dalam kemurahan hati. Mengampuni dan terus mengampuni adalah keuntungan untuk diri, bukan kerugian seperti yang disangkakan.


Jika dikekang maka anugerah itu berubah wujudnya menjadi ketidakadilan. Minta diampuni tetapi tidak mau mengampuni. Itu tidak adil. Perlakuan tidak adil itulah yang justru ditentang Allah. Buah dari ketidakadilan itu jelas. Hukuman tetap diterima dan tidak dapat dielakkan (Mat 18:34).


Agar kita terhindar dari perbuatan tidak adil, melainkan menjadi anak-anak Bapa yang murah hati, setiap kita memandang penting untuk melakukan apa yang diperintahkan Yesus kepada kita, yaitu bahwa kita harus meniru Allah dengan mengampuni tanpa henti – “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22).


Untuk maksud itu, tidak cukup kita mengerti dan menerima kebenaran ini. Pengertian mesti menjiwai semua kita untuk melakukannya dalam hidup kita. Jika hanya sampai pada pengertian, maka itu sama halnya dengan hanya mengucapkan doa: “dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4). Kita tidak bisa berbuat seperti yang diminta Yesus, mengampuni, padahal itulah tindakan terpenting.


Bukalah hati kita untuk menerima kebenaran ajaran Yesus ini karena ini menyangkut diri dan hidup kita. Jadikan kebenaran-Nya sebagai jiwa kita; nafas kehidupan kita. Pastilah kita akan tergerak untuk melakukannya.


Berat pada langkah awal bukanlah tanda buruk bahwa kita tidak bakal melakukannya dengan sempurna. Ia menjadi titik tolak untuk menjadi lebih baik sampai pada akhirnya kita benar-benar mengampuni seperti Allah yang bermurah hati untuk mengampuni.


Tetaplah teguh dalam komitmen iman. Kita akan mencapai garis akhir dengan selamat. ***Apol Wuwur***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar