Mat 18:21-9:1
Dalam kisah tentang hamba yang memohon agar ia diberi kesempatan untuk melunasi
utangnya, dan belas kasihan raja atas hamba itu sehingga ia membebaskannya dan
menghapus utangnya, Yesus memaklumkan Allah Bapa yang murah hati kepada
manusia. Ia mengampuni orang yang bertobat, betapapun besarnya utang dosa dan
kesalahan orang. Dan apabila Ia mengampuni maka utang dosa itu sudah hilang dan
tidak ada lagi (Mat 18:27, bdk Yes 1:18; 6:7; 38:17; Luk 15:13-24) meskipun
pada orang yang diampuni dosa itu masih tetap diingat.
Yesus tidak hanya memaklumkan Bapa-Nya yang
murah hati dan berbelas kasihan, tetapi juga menyatakan bahwa setiap orang
dipanggil untuk menjadi murah hati dan berbelas kasih; mudah dan suka
mengampuni.
Karena Allah itu pengampun. Ia lebih dahulu mengampuni manusia pendosa. Maka
setiap orang yang diampuni dosanya harus melakukan yang sama. “Bukankah engkau
pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (Mat
18:33).
Mengampuni bukan suatu tindakan yang murni berasal dari manusia. Ia adalah
anugerah Allah; hadiah yang diberikan Allah kepada seseorang. Ketika diterima,
pada waktu orang diampuni, anugerah itu mau tidak mau harus diteruskan.
Dengan meneruskan hadiah itu orang menolong dirinya sendiri berkembang dalam
kemurahan hati. Mengampuni dan terus mengampuni adalah keuntungan untuk diri,
bukan kerugian seperti yang disangkakan.
Jika dikekang maka anugerah itu berubah wujudnya menjadi ketidakadilan. Minta
diampuni tetapi tidak mau mengampuni. Itu tidak adil. Perlakuan tidak adil
itulah yang justru ditentang Allah. Buah dari ketidakadilan itu jelas. Hukuman
tetap diterima dan tidak dapat dielakkan (Mat 18:34).
Agar kita terhindar dari perbuatan tidak adil, melainkan menjadi anak-anak Bapa
yang murah hati, setiap kita memandang penting untuk melakukan apa yang
diperintahkan Yesus kepada kita, yaitu bahwa kita harus meniru Allah dengan
mengampuni tanpa henti – “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh
kali tujuh kali” (Mat 18:22).
Untuk maksud itu, tidak cukup kita mengerti dan menerima kebenaran ini.
Pengertian mesti menjiwai semua kita untuk melakukannya dalam hidup kita. Jika
hanya sampai pada pengertian, maka itu sama halnya dengan hanya mengucapkan
doa: “dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang
yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4). Kita tidak bisa berbuat seperti yang
diminta Yesus, mengampuni, padahal itulah tindakan terpenting.
Bukalah hati kita untuk menerima kebenaran ajaran Yesus ini karena ini
menyangkut diri dan hidup kita. Jadikan kebenaran-Nya sebagai jiwa kita; nafas
kehidupan kita. Pastilah kita akan tergerak untuk melakukannya.
Berat pada langkah awal bukanlah tanda buruk bahwa kita tidak bakal
melakukannya dengan sempurna. Ia menjadi titik tolak untuk menjadi lebih baik
sampai pada akhirnya kita benar-benar mengampuni seperti Allah yang bermurah
hati untuk mengampuni.
Tetaplah teguh dalam komitmen iman. Kita akan mencapai garis akhir dengan
selamat. ***Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar