Mat 15:1-2.10-14
Kesehatan adalah suatu yang berharga. Ia bagian dari hidup manusia dan diyakini
sebagai anugerah dari Tuhan. Seperti yang diajarkan Gereja, kesehatan dan hidup
itu milik Tuhan dan dipercayakan kepada manusia. Karena itu, lebih lanjut
Gereja menandaskan bahwa kesehatan dan hidup itu harus dirawat dengan cara yang
bijaksana (lih KGK 2288).
Makan dan minum yang sehat, menjaga pola hidup, juga perilaku hidup seperti yang disebutkan dalam Kitab Suci adalah bagian dari cara bijaksana kita memelihara dan menghormati anugerah dari Tuhan itu.
Di antara berbagai upaya untuk menjaga dan memelihara kesehatan hidup manusia, Injil menyinggung satu tindakan penting, yaitu membasuh tangan. Menurut tradisi, orang harus membasuh tangan sebelum makan. Maksudnya adalah agar kumat atau virus apapun itu tidak ikut masuk ke dalam dan merusakkan kesehatan manusia. Itulah perilaku hidup yang sehat.
Tanggapan Yesus atas keluhan orang Farisi dan ahli Taurat tidak bisa diartikan
sebagai menentang apa yang baik untuk kesehatan manusia. Kata-kata-Nya:
"Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan
orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang,"
bukanlah ajaran untuk memandang rendah hal-hal yang perlu untuk kesehatan
tubuh. Tuhan justru menghendaki agar manusia memelihara tubuhnya yang disebut
sebagai Bait Roh Kudus.
Yang dikritik Yesus adalah sikap legalistis yang selalu menjadi yang ideal di kalangan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Bukan soal kesehatan atas tubuh sebagai Bait Allah, melainkan peraturan dalam dirinya sendiri. Maka kepada orang banyak Yesus: “Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang”.
Sebaliknya kepada orang banyak Yesus berusaha
membawa suatu pandangan hidup yang jauh lebih sempurna sesuai tugas-Nya,
menyempurnakan yang ada. Tidak hanya kesehatan tubuh jasmani yang dijaga dengan
perilaku hidup yang sehat, seperti membasuh tangan sebelum makan, melainkan
juga membasuh hati agar menjadi bersih, tempat yang baik untuk
bertumbuh-kembangnya benih-benih Sabda Allah, bukan bibit-bibit kejahatan.
Apalah artinya menjaga peraturan agar dikatakan “baik”, akan tetapi memelihara
hati yang kotor; hati yang penuh dengan kedengkian, iri hati, percabulan, tipu
muslihat, amarah, dan berbagai perbendaharaan yang keluar dari hati yang kotor.
Bukankan itu jauh lebih buruk merusak tubuh manusia sebagai bait-Nya? Jelas
dikatakan Yesus: “... bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang,
melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
Sampai dengan memasuki masa “new normal” himbauan membasuh tangan, disamping
himbauan yang lain, tetap digencarkan demi menjaga dan memelihara kesehatan
hidup. Bahkan diharapkan bahwa tindakan ini menjadi perilaku hidup sehat yang
tetap, sebagai tanda keberpihakan kepada kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan
kepada kita.
Namun kepada kita juga Yesus mengingatkan agar secara berimbang menjaga
kesehatan hati sebagai sumber perilaku hidup yang sehat sebagai anak-anak
Allah. Baik jiwa maupun raga, kita tetap menjaga kesehatan dan kebugarannya
dengan perilaku hidup yang baik sampai pada saatnya Tuhan sendiri memandang
penting untuk mengambilnya dari kita.
Maka penting untuk kita lakukan adalah membasuh tangan dan hati kita dari waktu
ke waktu karena dari waktu ke waktu kita juga dapat saja terserang ‘kuman dan
virus’ yang membahayakan kesehatan tubuh dan jiwa kita.
Sebagai orang beriman, kesempurnaan hidup sehat akan kita miliki jika kita benar-benar mendengar dan melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan. Basuhlah tangan dan basuhlah juga hati kita. *** Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar