Senin, 24 Agustus 2020

SANTO BARTOLOMEUS

 

Yoh 1:45-51

 

Santo Bartolomeus adalah salah seorang rasul dari kelompok dua belas murid yang perayaannya dikenang oleh gereja Katolik sejagat pada hari ini (Senin/24/8/2020). Nama lain dari Santo Bartolomeus adalah Natanael. Dalam Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) para penginjil mencantumkan nama Bartolomeus, sedangkan penginjil Yohanes menulis nama rasul Bartolomeus dengan Natanael. Bartolomeus berasal dari Kana sebuah daerah di provinsi Galilea, Israel utara. Galilea adalah sebuah kota dagang yang maju dan ramai. Sangat jauh berbeda dengan Nazaret, sebuah kampung di pedalaman yang tidak begitu dikenal. Sehingga menjadi wajar Bartolomeus bersikap skeptis ketika Filipus hendak membawanya untuk bertemu dengan Yesus. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Sebuah pertanyaan penuh dengan rasa tidak percaya, apakah betul Yesus yang telah diramalkan oleh Musa dalam kitab Taurat dan kitab para nabi sungguh-sungguh datang dari sebuah kampung terisolir yang namanya Nazaret. Keragu-raguan Bartolomeus akhirnya terjawab ketika ia bertemu langsung dengan sosok Yesus yang berasal dari kampung Nazaret.

 

Bartolomeus adalah seorang rasul yang cukup terpelajar. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Yesus sendiri ketika melihat Natanael datang kepadanya. Yesus sungguh mengakui Natanael sebagai seorang Israel sejati. Natanael menjadi bingung karena ternyata Yesus sudah mengenalnya tanpa bertatap muka sebelumnya. “Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara”, demikian kata Yesus (Yoh 1:50). Kalimat “melihat di bawah pohon ara” sebenarnya bukanlah kalimat dalam arti yang sebenarnya. Kalimat tersebut adalah sebuah ungkapan yang menyiratkan sebuah pesan bahwa Bartolomeus mendapat tempat khusus di hati Yesus. Yesus mengapreasi Bartolomeus karena keseriusan dan kecerdasannya dalam mendalami kitab Taurat. Bartolomeus memiliki pengetahuan (wawasan) dan analisis yang mendalam tentang teks kitab suci yang dibacanya. Tidak heran bahwa kemudian Bartolomeus mengatakan kepada Yesus: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Rarja orang Israel.” Statement Bartolomeus ini tentu tidak sekedar keluar dari mulutnya. Bartolomeus sungguh telah membaca kitab taurat dan kitab para nabi yang berbicara mengenai kehadiran Yesus. Dan kemudian, berdasarkan perjumpaannya dengan teks Kitab Suci, akhirnya Bartolomeus mampu secara jeli mengidentifikasi sosok yang sementara berbicara di hadapannya. Lebih dari itu, pengakuan Bartolomeus adalah sebuah ungkapan yang tulus dari kedalaman dan kemurnian hatinya. Bartolomeus secara tidak langsung menepis sikap skeptisnya tentang figur Yesus yang datang dari Nazaret.

 

Sejak pertemuan pertama yang sungguh membekas tersebut, Bartolomeus akhirnya masuk menjadi anggota kelompok dua belas rasul yang tetap setia mengikuti Yesus hingga Ia wafat dan kemudian menjadi saksi kebangkitan-Nya. Nama Natanael atau Bartolomeus disebut kembali di akhir Injil Yohanes. Bersama-sama dengan beberapa murid yang lain - Simon Petrus, Thomas yang disebut Didimus, anak-anak Zebedeus, dan dua orang murid yang lain – Natanael menjadi salah satu murid yang menjadi saksi mata penampakan Yesus di pantai danau Tiberias (Katakombe.org). Eusabius, salah seorang bapa gereja, menulis dalam ecclesiastical History bahwa setelah kenaikan Yesus, Bartolomeus pergi sebagai misionaris ke India, dimana ia meninggalkan sebuah salinan Injil Matius. Tradisi lain mencatatnya sebagai seorang misionaris yang bermisi ke Ethiopia, Mesopotamia. Parthia dam Lycaonia. Santo Bartolomeus bersama rasul Yudas anak Yakobus, dikenal sebagai pembawa kekristenan di negara Armenia pada abad ke-1 M. Kedua rasul ini dianggap sebagai santo pelindung Gereja apostolik Armenia. Konon, Bartolomeus mati sebagai martir di Albanopolis, Armenia (Katakombe.org).

 

Ada dua hal positif yang bisa kita tangkap mengenai sosok Santo Bartolemus. Pertama, ia seorang pribadi yang sungguh menekuni teks kitab suci. Karena ketekunannya tersebut maka Bartolomeus tumbuh menjadi seorang pribadi yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas tentang isi Kitab Suci. Pengetahuannya yang mendalam tentang kitab suci menghantar Bartolomeus untuk secara lebih mendalam mengenal dan mengakui sosok Yesus sebagai Sang Guru Ilahinya. Kedua, Bartolomeus adalah seorang murid yang setia dan militan. Walaupun kita jarang mendengar namanya disebut dalam teks Injil, namun Bartolomeus sebenarnya telah menunjukkan jati dirinya sebagai seorang murid yang sangat setia kepada Yesus. Bersama dengan para rasul yang lain, Bartolomeus rela berjalan kaki dari kampung ke kampung untuk mendengarkan warta dan menyaksikan tindakan kenabian Yesus yang membawa keselamatan bagi banyak orang di kala itu. Setelah Yesus pergi dari dunia, Bartolomeus tetap menunjukkan kesetiannya kepada Yesus. Ia pergi ke berbagai negara sebagai seorang misionaris untuk mewartakan kabar gembira kepada segenap makhluk. Kesetiaan dan militansinya sebagai seorang rasul betul-betul diuji ketika ia menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Tetapi sama seperti Yesus, Sang Guru Agung, Bartolomeus tidak gentar dan mundur. Ia akhirnya pergi dari dunia sebagai seorang martir yang menumpahkan darahnya demi tumbuh kembang iman Kristen di semua wilayah yang pernah disinggahinya.

 

Ketokohan Santo Bartolomeus telah menginspirasi kita sebagai para murid Yesus di zaman ini. Bartolomeus mengajarkan kita untuk mau menekuni dan mendalami bacaan Kitab Suci. Dengannya kita tidak hanya menjadi penuh dalam tataran pengetahuan atau wawasan tetapi kita sungguh mengenal, memahami dan meresapi siapa Tuhan dalam hati kita masing-masing. Pengetahuan dan pengenalan kita yang sungguh mendalam akan Tuhan, secara otomatis akan mengarahkan dan membimbing pribadi kita menjadi pribadi yang berkarakter setia dan militan untuk terus membawa warta Injil dalam hidup kita sehari-hari. Pasti ada banyak tantangan dan hambatan yang selalu menjadi “sahabat setia” dalam karya pelayanan kita sebagai seorang murid. Tetapi, Bartolomeus telah mengajarkan kita untuk terus berkarya kepada segenap manusia tanpa memandang latar suku, agama, ras, dan golongan. Dengan demikian, kita sebenarnya sementara membuktikan diri untuk masuk dalam singgasana keselamatan-Nya. Mari kita meneladani semangat hidup Santo Bartolomeus dalam hidup kita masing-masing. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar