Yoh 1:45-51
Santo Bartolomeus adalah salah seorang rasul dari kelompok dua belas murid
yang perayaannya dikenang oleh gereja Katolik sejagat pada hari ini
(Senin/24/8/2020). Nama lain dari Santo Bartolomeus adalah Natanael. Dalam
Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) para penginjil mencantumkan nama
Bartolomeus, sedangkan penginjil Yohanes menulis nama rasul Bartolomeus dengan
Natanael. Bartolomeus berasal dari Kana sebuah daerah di provinsi Galilea,
Israel utara. Galilea adalah sebuah kota dagang yang maju dan ramai. Sangat
jauh berbeda dengan Nazaret, sebuah kampung di pedalaman yang tidak begitu
dikenal. Sehingga menjadi wajar Bartolomeus bersikap skeptis ketika Filipus
hendak membawanya untuk bertemu dengan Yesus. “Mungkinkah sesuatu yang baik
datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Sebuah pertanyaan penuh dengan rasa tidak
percaya, apakah betul Yesus yang telah diramalkan oleh Musa dalam kitab Taurat
dan kitab para nabi sungguh-sungguh datang dari sebuah kampung terisolir yang
namanya Nazaret. Keragu-raguan Bartolomeus akhirnya terjawab ketika ia bertemu
langsung dengan sosok Yesus yang berasal dari kampung Nazaret.
Bartolomeus adalah seorang rasul yang cukup terpelajar. Hal ini dibuktikan
dengan pernyataan Yesus sendiri ketika melihat Natanael datang kepadanya. Yesus
sungguh mengakui Natanael sebagai seorang Israel sejati. Natanael menjadi
bingung karena ternyata Yesus sudah mengenalnya tanpa bertatap muka sebelumnya.
“Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara”, demikian kata Yesus (Yoh 1:50).
Kalimat “melihat di bawah pohon ara” sebenarnya bukanlah kalimat dalam arti
yang sebenarnya. Kalimat tersebut adalah sebuah ungkapan yang menyiratkan
sebuah pesan bahwa Bartolomeus mendapat tempat khusus di hati Yesus. Yesus
mengapreasi Bartolomeus karena keseriusan dan kecerdasannya dalam mendalami
kitab Taurat. Bartolomeus memiliki pengetahuan (wawasan) dan analisis yang
mendalam tentang teks kitab suci yang dibacanya. Tidak heran bahwa kemudian
Bartolomeus mengatakan kepada Yesus: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Rarja
orang Israel.” Statement Bartolomeus
ini tentu tidak sekedar keluar dari mulutnya. Bartolomeus sungguh telah membaca
kitab taurat dan kitab para nabi yang berbicara mengenai kehadiran Yesus. Dan
kemudian, berdasarkan perjumpaannya dengan teks Kitab Suci, akhirnya
Bartolomeus mampu secara jeli mengidentifikasi sosok yang sementara berbicara
di hadapannya. Lebih dari itu, pengakuan Bartolomeus adalah sebuah ungkapan
yang tulus dari kedalaman dan kemurnian hatinya. Bartolomeus secara tidak
langsung menepis sikap skeptisnya tentang figur Yesus yang datang dari Nazaret.
Sejak pertemuan pertama yang sungguh membekas tersebut, Bartolomeus
akhirnya masuk menjadi anggota kelompok dua belas rasul yang tetap setia
mengikuti Yesus hingga Ia wafat dan kemudian menjadi saksi kebangkitan-Nya.
Nama Natanael atau Bartolomeus disebut kembali di akhir Injil Yohanes.
Bersama-sama dengan beberapa murid yang lain - Simon Petrus, Thomas yang
disebut Didimus, anak-anak Zebedeus, dan dua orang murid yang lain – Natanael
menjadi salah satu murid yang menjadi saksi mata penampakan Yesus di pantai
danau Tiberias (Katakombe.org). Eusabius, salah seorang bapa gereja, menulis
dalam ecclesiastical History bahwa
setelah kenaikan Yesus, Bartolomeus pergi sebagai misionaris ke India, dimana
ia meninggalkan sebuah salinan Injil Matius. Tradisi lain mencatatnya sebagai
seorang misionaris yang bermisi ke Ethiopia, Mesopotamia. Parthia dam Lycaonia.
Santo Bartolomeus bersama rasul Yudas anak Yakobus, dikenal sebagai pembawa kekristenan
di negara Armenia pada abad ke-1 M. Kedua rasul ini dianggap sebagai santo
pelindung Gereja apostolik Armenia. Konon, Bartolomeus mati sebagai martir di
Albanopolis, Armenia (Katakombe.org).
Ada dua hal positif yang bisa kita tangkap mengenai sosok Santo Bartolemus.
Pertama, ia seorang pribadi yang sungguh menekuni teks kitab suci. Karena
ketekunannya tersebut maka Bartolomeus tumbuh menjadi seorang pribadi yang
cerdas dan memiliki wawasan yang luas tentang isi Kitab Suci. Pengetahuannya
yang mendalam tentang kitab suci menghantar Bartolomeus untuk secara lebih
mendalam mengenal dan mengakui sosok Yesus sebagai Sang Guru Ilahinya. Kedua,
Bartolomeus adalah seorang murid yang setia dan militan. Walaupun kita jarang
mendengar namanya disebut dalam teks Injil, namun Bartolomeus sebenarnya telah
menunjukkan jati dirinya sebagai seorang murid yang sangat setia kepada Yesus.
Bersama dengan para rasul yang lain, Bartolomeus rela berjalan kaki dari
kampung ke kampung untuk mendengarkan warta dan menyaksikan tindakan kenabian
Yesus yang membawa keselamatan bagi banyak orang di kala itu. Setelah Yesus
pergi dari dunia, Bartolomeus tetap menunjukkan kesetiannya kepada Yesus. Ia
pergi ke berbagai negara sebagai seorang misionaris untuk mewartakan kabar
gembira kepada segenap makhluk. Kesetiaan dan militansinya sebagai seorang
rasul betul-betul diuji ketika ia menghadapi berbagai tantangan dan hambatan.
Tetapi sama seperti Yesus, Sang Guru Agung, Bartolomeus tidak gentar dan
mundur. Ia akhirnya pergi dari dunia sebagai seorang martir yang menumpahkan
darahnya demi tumbuh kembang iman Kristen di semua wilayah yang pernah
disinggahinya.
Ketokohan Santo Bartolomeus telah menginspirasi kita sebagai para murid
Yesus di zaman ini. Bartolomeus mengajarkan kita untuk mau menekuni dan
mendalami bacaan Kitab Suci. Dengannya kita tidak hanya menjadi penuh dalam
tataran pengetahuan atau wawasan tetapi kita sungguh mengenal, memahami dan
meresapi siapa Tuhan dalam hati kita masing-masing. Pengetahuan dan pengenalan
kita yang sungguh mendalam akan Tuhan, secara otomatis akan mengarahkan dan
membimbing pribadi kita menjadi pribadi yang berkarakter setia dan militan
untuk terus membawa warta Injil dalam hidup kita sehari-hari. Pasti ada banyak
tantangan dan hambatan yang selalu menjadi “sahabat setia” dalam karya
pelayanan kita sebagai seorang murid. Tetapi, Bartolomeus telah mengajarkan
kita untuk terus berkarya kepada segenap manusia tanpa memandang latar suku,
agama, ras, dan golongan. Dengan demikian, kita sebenarnya sementara
membuktikan diri untuk masuk dalam singgasana keselamatan-Nya. Mari kita
meneladani semangat hidup Santo Bartolomeus dalam hidup kita masing-masing.
***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar