Senin, 10 Agustus 2020

Menjadi Yang Terbesar

 

Mat 18:1-5.10.12-14


Anak adalah anugerah Allah terbesar dalam kehidupan orang tua. Betapa orang berbahagia mendapatkan anugerah ini. Lebih bahagia lagi mereka yang bertahun-tahun merindukannya hingga pada suatu ketika anugerah itu mereka peroleh.


Namun anugerah itu tidak serta merta dihormati selayaknya ketika masih kecil. Dalam banyak daerah dengan budaya patriarki yang kental, anak kecil sama seperti kaum perempuan dipandang subordinan. Mereka adalah kaum lemah dengan ruang gerak yang sangat terbatas. Ruang gerek mereka adalah rumah. Mereka tidak pernah dilibatkan dalam urusan publik; juga tidak untuk pembicaraan yang dipandang laik hanya untuk kaum lelaki. Sebagai kaum yang belum memiliki identitasnya sendiri, anak kecil hanya bisa mengikuti kehendak kaum lelaki. Tidak ada yang bisa dibut lebih selain taat.

 

Superioritas kaum lelaki ini juga melekat pada pribadi para murid yang bertumbuh dalam budaya patriarki yang kuat. Anak kecil tidak disandingkan dan dihormati selayaknya kaum lelaki dewasa. Malahan, bagi mereka, anak kecil adalah hambatan dalam gerak langkah mereka. Yesus pun ditarik masuk ke dalam pola pikir mereka. Tidak mengherankan, ketika orang membawa anak-anak kecil untuk diberkati Yesus, para murid memarahi mereka yang membawa anak-anak itu (Mat 19:13).


Berbeda sekali dengan para murid-Nya, Yesus malah sangat peduli dan menghormati anak kecil. Dalam Injil hari ini, kita mendengar Ia berkata: “...jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:10). Dalam hal yang sama Ia berkata kepada para murid-Nya: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 19:14).


Sikap hormat-Nya itu dinyatakan juga ketika Yesus menanggapi pertanyaan para murid-Nya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Mat 18:1). Yesus tidak serta merta menjawab pertanyaan mereka. Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkan di tengah-tengah mereka lalu mengajar mereka. Siapa yang ingin menjadi terbesar dalam dalam Kerajaan Sorga, maka ia harus bertobat dan menjadi seperti seorang anak kecil itu.

 

Yesus melihat ada penghalang terbesar bagi para murid-Nya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Penghalang itu adalah superioritas kelelakian yang membuat mereka hanya mencari nama dan kekuasaan duniawi (lih Mat 20:21). Demam tinggi akan hal ini membuat mereka mengabaikan martabat luhur anak-anak kecil yang telah dianugerahkan Allah sebagai anugerah termulia. Mereka menyepelehkan anak-anak yang sejatinya memancarkan kebajikan dasar yang membuat mereka menjadi besar dalam Kerajaan Sorga.

 

Yesus berbicara tentang pertobatan dan menjadi seperti anak kecil itu agar para murid membarui hidup mereka dan belajar untuk menjadi rendah hati, tulus dan polos seperti anak kecil. Bukan saja mengenakan “kualitas hidup seorang anak kecil”, melainkan juga di dalam kualitas seperti itu, semua orang, terutama anak-anak kecil dan juga kaum perempuan yang dipandang subordinan, dapat diterima dan dihormati sebagai makhluk yang semartabat. Hanya orang yang rendah hati dan tulus yang dapat menghargai semua orang dan tidak bisa memetakan satu dengan yang lain menurut cara pandang dunia yang dikotomis dan cenderung meremehkan.

 

Pertanyaan para murid kepada Yesus adalah juga pertanyaan kita kepada Yesus. Demikian pula jawaban Yesus.

 

Acapkali kita terdeterminasi oleh cara pandang dunia yang dikotomis dan meremehkan. Yang kita cari adalah popularitas diri dan kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Seperti para murid, pola pikir dan kecenderungan itu membuat kita fokus hanya pada kepentingan diri sendiri dan lupa melihat bahwa orang lain yang berada di sekitar kita adalah semartabat dan patut diperlakukan selayaknya, siapapun orang ituitu.

 

Yesus menantang kita untuk bertobat dan mengubah cara pandang duniwi kita dengan cara pandang-Nya yang menempatkan semua orang sebagai makhluk yang bermartabat. Menjadi seperti seorang anak kecil, bukan menjadi kekanak-kanakan, membuat kita bisa masuk ke dalam cara padang Yesus. Menghormati, menerima, mendengar dan belajar dari semua yang ada untuk semakin bertumbuh dalam kebajikan yang sangat dibutuhkan untuk masuk ke dalam Kerajaan sorga.


Marilah kita belajar bahwa superioritas dan keinginan untuk mencari kekuasaan serta popularitas diri bisa membimbing kita berperilaku seperti “kekanak-kanakan” yang mencelakakan, akan tetapi menjadi seperti anak kecil justru membawa kita kepada pertumbuhan menjadi “orang besar” karena kita memiliki kualitas hati yang rendah hati. *** Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar