Mat 18:1-5.10.12-14
Anak adalah anugerah Allah terbesar dalam kehidupan orang tua. Betapa orang
berbahagia mendapatkan anugerah ini. Lebih bahagia lagi mereka yang
bertahun-tahun merindukannya hingga pada suatu ketika anugerah itu mereka
peroleh.
Namun anugerah itu tidak serta merta dihormati selayaknya ketika masih kecil.
Dalam banyak daerah dengan budaya patriarki yang kental, anak kecil sama
seperti kaum perempuan dipandang subordinan. Mereka adalah kaum lemah dengan
ruang gerak yang sangat terbatas. Ruang gerek mereka adalah rumah. Mereka tidak
pernah dilibatkan dalam urusan publik; juga tidak untuk pembicaraan yang
dipandang laik hanya untuk kaum lelaki. Sebagai kaum yang belum memiliki
identitasnya sendiri, anak kecil hanya bisa mengikuti kehendak kaum lelaki.
Tidak ada yang bisa dibut lebih selain taat.
Superioritas kaum lelaki ini juga melekat pada
pribadi para murid yang bertumbuh dalam budaya patriarki yang kuat. Anak kecil
tidak disandingkan dan dihormati selayaknya kaum lelaki dewasa. Malahan, bagi
mereka, anak kecil adalah hambatan dalam gerak langkah mereka. Yesus pun
ditarik masuk ke dalam pola pikir mereka. Tidak mengherankan, ketika orang
membawa anak-anak kecil untuk diberkati Yesus, para murid memarahi mereka yang
membawa anak-anak itu (Mat 19:13).
Berbeda sekali dengan para murid-Nya, Yesus malah sangat peduli dan menghormati
anak kecil. Dalam Injil hari ini, kita mendengar Ia berkata: “...jangan
menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Ada malaikat mereka di
sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:10). Dalam hal
yang sama Ia berkata kepada para murid-Nya: “Biarkanlah anak-anak itu,
janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang
seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 19:14).
Sikap hormat-Nya itu dinyatakan juga ketika Yesus menanggapi pertanyaan para
murid-Nya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Mat 18:1). Yesus
tidak serta merta menjawab pertanyaan mereka. Ia mengambil seorang anak kecil
dan menempatkan di tengah-tengah mereka lalu mengajar mereka. Siapa yang ingin
menjadi terbesar dalam dalam Kerajaan Sorga, maka ia harus bertobat dan menjadi
seperti seorang anak kecil itu.
Yesus melihat ada penghalang terbesar bagi
para murid-Nya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Penghalang itu adalah
superioritas kelelakian yang membuat mereka hanya mencari nama dan kekuasaan
duniawi (lih Mat 20:21). Demam tinggi akan hal ini membuat mereka mengabaikan
martabat luhur anak-anak kecil yang telah dianugerahkan Allah sebagai anugerah
termulia. Mereka menyepelehkan anak-anak yang sejatinya memancarkan kebajikan
dasar yang membuat mereka menjadi besar dalam Kerajaan Sorga.
Yesus berbicara tentang pertobatan dan menjadi
seperti anak kecil itu agar para murid membarui hidup mereka dan belajar untuk
menjadi rendah hati, tulus dan polos seperti anak kecil. Bukan saja mengenakan
“kualitas hidup seorang anak kecil”, melainkan juga di dalam kualitas seperti
itu, semua orang, terutama anak-anak kecil dan juga kaum perempuan yang
dipandang subordinan, dapat diterima dan dihormati sebagai makhluk yang
semartabat. Hanya orang yang rendah hati dan tulus yang dapat menghargai semua
orang dan tidak bisa memetakan satu dengan yang lain menurut cara pandang dunia
yang dikotomis dan cenderung meremehkan.
Pertanyaan para murid kepada Yesus adalah juga
pertanyaan kita kepada Yesus. Demikian pula jawaban Yesus.
Acapkali kita terdeterminasi oleh cara pandang
dunia yang dikotomis dan meremehkan. Yang kita cari adalah popularitas diri dan
kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Seperti para murid, pola pikir dan
kecenderungan itu membuat kita fokus hanya pada kepentingan diri sendiri dan
lupa melihat bahwa orang lain yang berada di sekitar kita adalah semartabat dan
patut diperlakukan selayaknya, siapapun orang ituitu.
Yesus menantang kita untuk bertobat dan
mengubah cara pandang duniwi kita dengan cara pandang-Nya yang menempatkan
semua orang sebagai makhluk yang bermartabat. Menjadi seperti seorang anak
kecil, bukan menjadi kekanak-kanakan, membuat kita bisa masuk ke dalam cara
padang Yesus. Menghormati, menerima, mendengar dan belajar dari semua yang ada
untuk semakin bertumbuh dalam kebajikan yang sangat dibutuhkan untuk masuk ke
dalam Kerajaan sorga.
Marilah kita belajar bahwa superioritas dan keinginan untuk mencari kekuasaan
serta popularitas diri bisa membimbing kita berperilaku seperti
“kekanak-kanakan” yang mencelakakan, akan tetapi menjadi seperti anak kecil
justru membawa kita kepada pertumbuhan menjadi “orang besar” karena kita
memiliki kualitas hati yang rendah hati. *** Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar