Luk 12:35-38
Waspada atau berjaga-jaga adalah sikap iman
yang sangat dibutuhkan untuk menantikan keselamatan dari Tuhan yang sudah dekat
dan datangnya tidak diduga-duga. Ia dapat datang setiap waktu, tiba-tiba dan
karena itu merupakan suatu kejutan.
Tuhan pasti datang meskipun waktunya tidak pasti.
Hal ini menuntut bahwa setiap waktu mesti dihadapi
sebagai suatu persiapan; orang harus siaga
secara rohani untuk menantikan kedatangan Tuhan. Tidak ada waktu jeda bagi seorang
yang setia menantikan kedatangan Tuhan. Tidak ada waktu untuk lengah ataupun
berleha-leha.
Yesus
sendiri memberikan jaminan, yaitu suatu berkat khusus, berupa kehadiran dan
kasih-Nya, bagi setiap orang yang dengan penuh kesiagaan dan kesetiaan
menanti-nantikan dan berjaga-jaga untuk
kedatangan-Nya. Berkat khusus itu adalah kebahagiaan yang sempurna yang dialami pula oleh karena diikutsertakan
dalam perjamuan surgawi. Malahan Tuhan hadir untuk melayani.
Apa artinya
menanti-nantikan dan berjaga-jaga untuk kedatangan Tuhan? Penginjil Lukas hari
ini tidak melukiskan tindakan konkret apapun sebagai sikap menanti-nantikan dan
berjaga-jaga. Namun Kitab Suci berbicara kepada kita apa yang perlu kita
lakukan dan menunjukkan bahwa kita menanti-nanti dan berjaga-jaga bagi saat-Nya
Tuhan.
Dalam Injil kemarin, Yesus menasihati kita
agar waspada terhadap ketamakan (Luk 12:15) yang berkekuatan menjauhkan orang
dari Allah. Ketamakan menjadi tanda hidup tanpa Allah dan dapat disebut penyembahan
berhala (Ef 5:5; Kol 3:5). Hidup orang tamak terarah kepada dirinya sendiri,
namun selalu berusaha menunjukkan kekuasaannya dalam menekan dan memerkosa
kepentingan orang lain. Ia menggunakan orang lain, dan tentu merugikannya, entah
dengan memeras atau merampas.
Bahaya ini sangat nyata dan dapat menyerang
siapapun, termasuk orang percaya namun tidak waspada. Dan kepada kita
dinasihati hal ini agar kita bisa waspada dan menggunakan waktu kita sepenuhnya
untuk menanti-nantikan dan berjaga-jaga bagi saatnya Tuhan.
Waspada menggaris bawahi kenyataan bahwa hidup
kita tidak terlepas dari godaan dan tantangan terbesar ini. Ibarat domba di
tengah-tengah serigala, demikianlah hidup kita berada di tengah bahaya ketamakan.
Setiap saat ia mengintip dan siap menerkam seperti serigala mau menerkam
mangsanya.
Berhadapan dengan situasi seperti ini, kita
menggunakan nasihat Paulus sbagai jalan bagi kita untuk menjawabi tuntutan
Tuhan bagi saat kedatangan-Nya. Paulus menganjurkan agar kita perlu menyalibkan
kedagingan kita (bdk. Gal 5:24) di dalam Roh yang diberikan kepada kita karena
iman akan Yesus Kristus. Menggunakan bahasa Yesus, kita mesti menyangkal dan
memanggul salib setiap hari ( lih. Luk 9:23). Searah dengan ini, Gereja mengajarkan
tentang “pantang dan puasa” sebagai usaha mengolah dan mengatur keinginan
daging kita agar hidup kita menjadi teratur dan mengarah kepada kebaikan.
Tentu pantang dan puasa adalah salah satu dari
kegiatan penting yang perlu kita lalukan. Jika kita melengkapinya dengan kesetiaan
membaca dan merenungkan Kitab Suci, doa, berbagai perayaan sakramen, terutama
Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi, juga kegiatan iman lainnya, maka kita menolong diri kita sendiri untuk menyiapkan seluruh diri kita,
baik tubuh, jiwa maupun roh kita, agar sepenuhnya menjadi murni bagi kedatangan
Tuhan yang tidak dapat disangka. Kita didapati dalam keadaan siap siaga.
Sabda Tuhan diberikan kepada kita tanpa ada
hasil yang nyata. Setiap kita yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk
menjaga hidup kita dari berbagai kecemaran dan perbuatan yang sia-sia dan
menggunakan seluruh waktu kita sebagai persiapan bagi kedatangan-Nya, maka
kepada kita akan diberikan anugerah khusus. Tuhan hadir bagi kita dan kasih-Nya
akan merangkum kita semua dan mempersatukan kita di sekeliling meja
perjamuan-Nya untuk menikmati kebahagiaan dan sukacita abadi. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar