Minggu, 01 November 2020

Waspada Sebagai Sikap Iman

Luk 12:35-38

Waspada atau berjaga-jaga adalah sikap iman yang sangat dibutuhkan untuk menantikan keselamatan dari Tuhan yang sudah dekat dan datangnya tidak diduga-duga. Ia dapat datang setiap waktu, tiba-tiba dan karena itu merupakan suatu kejutan.  Tuhan pasti datang  meskipun  waktunya tidak pasti.

 

Hal ini menuntut bahwa setiap waktu mesti dihadapi sebagai suatu persiapan; orang harus siaga secara rohani untuk menantikan kedatangan Tuhan. Tidak ada waktu jeda bagi seorang yang setia menantikan kedatangan Tuhan. Tidak ada waktu untuk lengah ataupun berleha-leha.

 

Yesus sendiri memberikan jaminan, yaitu suatu berkat khusus, berupa kehadiran dan kasih-Nya, bagi setiap orang yang dengan penuh kesiagaan dan kesetiaan menanti-nantikan dan berjaga-jaga  untuk kedatangan-Nya. Berkat khusus itu adalah kebahagiaan yang sempurna  yang dialami pula oleh karena diikutsertakan dalam perjamuan surgawi. Malahan Tuhan hadir untuk melayani.

 

Apa artinya menanti-nantikan dan berjaga-jaga untuk kedatangan Tuhan? Penginjil Lukas hari ini tidak melukiskan tindakan konkret apapun sebagai sikap menanti-nantikan dan berjaga-jaga. Namun Kitab Suci berbicara kepada kita apa yang perlu kita lakukan dan menunjukkan bahwa kita menanti-nanti dan berjaga-jaga bagi saat-Nya Tuhan.

 

Dalam Injil kemarin, Yesus menasihati kita agar waspada terhadap ketamakan (Luk 12:15) yang berkekuatan menjauhkan orang dari Allah. Ketamakan menjadi tanda hidup tanpa Allah dan dapat disebut penyembahan berhala (Ef 5:5; Kol 3:5). Hidup orang tamak terarah kepada dirinya sendiri, namun selalu berusaha menunjukkan kekuasaannya dalam menekan dan memerkosa kepentingan orang lain. Ia menggunakan orang lain, dan tentu merugikannya, entah dengan memeras atau merampas.

 

Bahaya ini sangat nyata dan dapat menyerang siapapun, termasuk orang percaya namun tidak waspada. Dan kepada kita dinasihati hal ini agar kita bisa waspada dan menggunakan waktu kita sepenuhnya untuk menanti-nantikan dan berjaga-jaga bagi saatnya Tuhan.

 

Waspada menggaris bawahi kenyataan bahwa hidup kita tidak terlepas dari godaan dan tantangan terbesar ini. Ibarat domba di tengah-tengah serigala, demikianlah hidup kita berada di tengah bahaya ketamakan. Setiap saat ia mengintip dan siap menerkam seperti serigala mau menerkam mangsanya.

 

Berhadapan dengan situasi seperti ini, kita menggunakan nasihat Paulus sbagai jalan bagi kita untuk menjawabi tuntutan Tuhan bagi saat kedatangan-Nya. Paulus menganjurkan agar kita perlu menyalibkan kedagingan kita (bdk. Gal 5:24) di dalam Roh yang diberikan kepada kita karena iman akan Yesus Kristus. Menggunakan bahasa Yesus, kita mesti menyangkal dan memanggul salib setiap hari ( lih. Luk 9:23). Searah dengan ini, Gereja mengajarkan tentang “pantang dan puasa” sebagai usaha mengolah dan mengatur keinginan daging kita agar hidup kita menjadi teratur dan mengarah kepada kebaikan.

 

Tentu pantang dan puasa adalah salah satu dari kegiatan penting yang perlu kita lalukan. Jika kita melengkapinya dengan kesetiaan membaca dan merenungkan Kitab Suci, doa, berbagai perayaan sakramen, terutama Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi, juga kegiatan iman  lainnya, maka kita menolong diri kita  sendiri untuk menyiapkan seluruh diri kita, baik tubuh, jiwa maupun roh kita, agar sepenuhnya menjadi murni bagi kedatangan Tuhan yang tidak dapat disangka. Kita didapati dalam keadaan siap siaga.

Sabda Tuhan diberikan kepada kita tanpa ada hasil yang nyata. Setiap kita yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjaga hidup kita dari berbagai kecemaran dan perbuatan yang sia-sia dan menggunakan seluruh waktu kita sebagai persiapan bagi kedatangan-Nya, maka kepada kita akan diberikan anugerah khusus. Tuhan hadir bagi kita dan kasih-Nya akan merangkum kita semua dan mempersatukan kita di sekeliling meja perjamuan-Nya untuk menikmati kebahagiaan dan sukacita abadi. ***Apol***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar