Selasa, 29 September 2020

Malaikat-Malaikat Allah

Dan 7:9-10.13-14 & Yoh 1:47-51

Natanael adalah seorang yang sangat tekun dan setia dalam mencari kebijaksanaan hidup. Sebelum dipanggil Filipus untuk bertemu Tuhan, Natanael duduk di bawa pohon Ara. Para ahli menafsirkan, bahwa duduk di bawah pohon Ara adalah tindakan simbolik untuk mencari kebijaksanaan yang membawa pencerahan rohani. Ia mempelajari Sabda Allah dan mencari kebenaran-Nya.

 

Ketika dibawa oleh Filipus untuk bertemu dengan Yesus dan dalam dialog dengan Yesus ia mengetahui bahwa Yesus sungguh mengenalnya, maka terbukalah mata imannya. Ia melihat bahwa Yesus yang sedang berbicara dengannya adalah Kebijaksaan Hidup yang selama ini dicarinya. Ia adalah janji Allah yang telah diramalkan para nabi; Ia adalah Raja Israel yang sejati. Maka dari mulutnya keluarlah pengakuan iman: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"

 

Atas pengakuan iman yang terang itu, maka kepada Natanael Yesus memberikan suatu anugerah istimewa: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51). Sebelumnya Yesus berjanji kepadanya: “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu”.

 

Bukan hanya suatu penglihatan rohani, melainkan kepada Natanael Yesus menegaskan kebenaran tentang keberadaan dan peran para malaikat Allah yang melayani kepentingan Allah – suatu kebenaran yang sebenarnya sudah hidup dan berkembang dalam keyakinan orang-orang Yahudi. Yesus tidak menyebut identitas masing-masing malaikat. Ia hanya menyebut “malaikat-malaikat Allah”. Artinya ada banyak malaikat Allah yang melayani kepentingan-Nya.

 

Menurut tradisi Yahudi ada tujuh Malaikat Agung, yaitu Uriel, Rafael, Raguel, Mikael, Sariel, Gabriel dan Remiel. Masing-masing malaikat memiliki peran yang spesifik dalam melayani Allah. Yang dikenal dan sering dirayakan dalam gereja Katolik adalah adalah ketiga malaikat agung: Mikael, Gabriel, Rafael. Namun demikian penghormatan kepada ketiganya tidak mengabaikan penghormatan kepada semua malaikat Allah yang diyakini tidak hanya melayani kepentingan Allah, tetapi juga kepentingan manusia.

 

Malaikat Gabriel ditentukan Allah untuk membela dan melindungi manusia dari kekuatan setan dan kuasa jahat. Titik tolaknya adalah kitab Daniel yang menggambarkan Mikhael sebagai seorang yang membantu Israel melawan musuhnya. Sedangkan kitab Wahyu menggambarkannya sebagai kepala pasukan malaikat Allah yang mengalahkan kekuatan Iblis di bawah pimpinan Lucifer.

 

Malaikat Gabriel ditentukan Allah untuk melayani Allah sebagai juru bicara-Nya. Ia memberikan kabar gembira kepada Maria tentang keterpilihannya untuk mengandung dan melahirkan Yesus, Anak Allah, Raja Israel. Dalam kitab Daniel, malaikat yang satu ini memberi kabar tentang tugas malaikat Mikhael bagi Daniel dan Israel dan berita tentang kehadiran Mesias di masa depan – mungkin juga yang telah dikontemplasikan oleh Natanael sebagai seorang pencari kebenaran.

 

Sedangkan malaikat Rafael diberi tugas sebagai malaikat kesembuhan dari Allah. Peran malaikat ini dihubungkan dengan apa yang ditulis oleh Yohanes: “Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya” (Yoh 5:4).

 

Berkenaan dengan paparan ini, yang hendak kita petik untuk hidup kita adalah: Pertama, Yesus mengundang kita untuk duduk di bawah pohon Ara. Maksudnya adalah mengkontemplasikan Sabda Allah sebagai suatu aktivitas yang dilakukan dengan penuh kecintaan dan kesetiaan (bdk. Mzr 1:2). Kontemplasi membuka pintu berkat Allah dan damai-Nya bagi kita sebagaimana yang disimbolkan dengan pohon Ara. Kesejatian kita sebagai murid Tuhan ditentukan oleh kecintaan dan kesetiaan kita pada mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Dan inilah subangan Natanael untuk kita.

 

Kedua, menghormati kedudukan para malaikat agung (Mihkael, Gabriel dan Rafael) pada pesta ketiga malaikat ini merangkum dua sisi yang penting dan tak terpisahkan. Pada aspek ritual, rasa hormat mesti membentuk sikap batin kita. Sikap ini kemudian dinyatakan secara hidup dan dinamis dalam tata lahiriah kita. Kita mengidentifikasikan diri kita dengan peran masing-masing malaikat itu lalu menunjukkan keunggulan mereka dalam sikap, tutur kata dan perilaku hidup.

 

Kontemplasi Sabda Allah dan penghormatan kepada para malaikat menjiwai kita untuk bisa hadir sebagai seorang Mikael yang membela dan melindungi, bukan mengacaukan dan memecah-belah; seorang Gabriel yang membawa kabar sukacita, bukan kabar buruk yang meresahkan; dan Rafael yang memberikan kesejukan hati, ketenangan batin dan menyembuhkan, bukan meyakiti dan melukai.

 

Kita semua diajak untuk bekerja sama dengan para malaikat Allah untuk memajukan Kerajaan Allah dalam hidup kita di tengah dunia ini, sambil kita menantikan anugerah hidup rohani yang sempurna: memandang Allah seperti yang dianugerakan kepada Natanael. ***Apol***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar