Rabu, 14 Juli 2021

Hakikat Kerendahan Hati

Mat 11:25-27

 

Arki Sudito dalam artikelnya, “4 Manfaat Kerendahan Hati”, (Kompas.com), menjelaskan kerendahan hati sebagai sikap atau perasaan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan khusus yang membuat dirinya lebih baik atau lebih unggul daripada orang lain. Sepintas kita memahami bahwa sikap kerendahan hati cenderung membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang memiliki kualitas yang negatif. Kualitas pribadi yang tidak memiliki kepercayaan diri dan mentalitas yang kokoh. Pada kenyataannya, sikap kerendahan hati memungkinkan manusia untuk selalu bersikap terbuka, menyadari keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, ia akan terus memotivasi dirinya untuk mau belajar dan berkembang dari waktu ke waktu.

 

Menurut Arki Sudito, ada empat manfaat dari sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh manusia. Pertama, dengan kerendahan hati, kita akan mampu memiliki pola pikir yang berkembang. Manusia dengan pola pikir yang berkembang akan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki dirinya. Ia akan terbuka menerima kritik dan masukan dari orang lain sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Kedua, memiliki kerendahan hati memungkinkan manusia untuk memberikan makna terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, baik peristiwa yang positif maupun negatif. Peristiwa positif yang dialami mengalirkan energi positif dalam diri manusia untuk terus berkembang.

 

Begitu pula dengan adanya pengalaman negatif, tidak serta merta melemahkan jati diri manusia. Melainkan menciptakan sikap sabar dan tidak cepat putus asa. Pengalaman negatif akan menginspirasi manusia untuk bangkit dan terus maju. Ketiga, memiliki kerendahan hati akan mendorong kreativitas kita dalam menjalani hidup. Kerendahan hati akan membuka begitu banyak kemungkinan dan pilihan dalam hidup. Saat inilah, kreativitas manusia akan terdorong untuk bekerja dengan lebih baik dan efektif. Keempat, kerendahan hati membantu kita untuk menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan memiliki kerendahan hati, seseorang dapat berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia hanya fokus memperhatikan dan mengembangkan dirinya sendiri demi menemukan dan mencapai tujuan dalam hidupnya yang sebenarnya.

 

Sikap kerendahan hati dimiliki secara penuh oleh para murid Yesus. Dalam bacaan Injil pada hari ini, secara implisit dalam ucapan syukur-Nya, Yesus memuji sikap kerendahan hati dari para rasul. Indikatornya jelas. Para murid Yesus tidak merasa diri paling hebat dan pintar. Mereka mau mengikuti Yesus dan menyerahkan diri secara total dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Mereka mau mendengar setiap sabda-Nya. Mereka melihat dengan jelas setiap aksi mukjizat-Nya. Dan yang lebih penting adalah para murid mau belajar untuk berkembang dalam kuasa ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Terminologi “orang kecil” yang diungkapkan oleh Yesus, bukan mau mengungkapkan kekecilan diri, kemiskinan dan ketidakberdayaan pribadi para murid. Frase orang kecil mengafirmasi sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh para rasul, karena mereka mau bersikap terbuka, mau belajar untuk menjadi lebih baik dalam bimbingan kuasa ilahi Allah.

 

Sebaliknya, sikap sombong atau arogan, sebagai lawan dari sikap rendah hati, dipertontonkan oleh para pemuka agama di masa Yesus. Mereka merasa diri lebih pintar dan hebat karena memiliki pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan orang lain. Keunggulan dalam bidang pengetahuan inilah yang membentuk pribadi mereka menjadi pribadi yang arogan dan anti kritik. Mereka selalu merasa diri benar dan mengklaim diri sebagai sumber kebenaran. Mereka tidak pernah merasa diri salah, dan selalu menolak untuk dikritik. Bahkan tidak segan-segan, mereka melawan para pengkritiknya dengan sikap represif. Termasuk yang dialami oleh Yesus. Yesus menjadi korban dari arogansi para elit agama, yang merasa diri paling pintar dan hebat.

 

Arogansi diri para elit agama di masa Yesus, menjadi cerminan dari sikap kita sebagai orang beragama di era ini. Kita acapkali merasa diri paling benar dalam setiap tutur kata dan tindakan. Walaupun apa yang kita sampaikan dan lakukan, belum tentu memiliki nilai kebenaran. Fatalnya, kita memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kita sampaikan atau lakukan. Kita juga merasa tersinggung, kecewa dan marah kalau ada orang tidak mau mengikuti apa yang telah kita buat. Kita lebih marah dan kecewa saat ada orang memberi kritik atau saran yang konstruktif demi perbaikan diri. Kita tidak bisa melakukan introspeksi diri atau otokritik karena yang tertanam dalam pribadi adalah sikap sombong dan merasa diri paling pintar atau hebat.

 

Hari ini kita mau belajar dari para murid untuk menjadi orang kecil. Kita bukan mau menjadi pribadi yang lemah, tertindas dan tidak berdaya. Kita mau menjadi pribadi yang rendah hati. Pribadi yang mau belajar dari setiap pengalaman. Terutama pengalaman tentang kegagalan dan keterpurukan hidup. Kita mau belajar untuk bangkit dan berkembang. Tidak mudah putus asa, memiliki kesabaran dan mentalitas diri yang tangguh. Kita mau belajar dari orang lain. Dan bukan menaruh iri hati terhadap mereka. Kita siap dikritik demi perbaikan dan pengembangan diri yang lebih baik. Di atas semua itu, kita dididik untuk memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita mau datang ke hadapan-Nya karena kita mau belajar menjadi pribadi yang kokoh dalam iman. Pribadi yang tidak mudah goyah dan putus asa dalam menghadapi badai pandemi Covid-19. Kita tetap memiliki optimisme diri karena kita yakin Tuhan sementara mendesain hidup yang lebih baik di balik terpaan badai Covid-19. Mari kita selalu menanamkan sikap rendah hati dalam hidup di tengah dunia. Amin. ***AKD***


Minggu, 04 Juli 2021

Menemukan Idola Hidup Yang Sesungguhnya

Mat 9:18-26

 

Setiap kita pasti mempunyai tokoh idola. Tokoh yang kita sukai, kita senangi, dan kita banggakan. Selain itu, tokoh idola dapat memberi inspirasi dan keteladanan yang baik dalam hidup kita. Banyak orang memiliki niat atau motivasi yang berbeda-beda dari tokoh idola yang dimiliki. Ada yang mungkin hanya sekedar melihat penampilan fisiknya. Ada yang mungkin mengagumi keunggulan intelektual dan cara berkomunikasi yang mumpuni dari sang tokoh idola. Dan ada yang mungkin merasa terpanggil untuk mengikuti cara hidup sang tokoh idola yang baik dan penuh keteladanan.

 

Yesus telah menjadi tokoh idola bagi orang. Banyak orang datang dari berbagai daerah dan mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi. Namun orang banyak mengikuti Yesus, mempunyai niat dan motivasi yang berbeda-beda pula. Ada yang datang karena merasa heran dengan aksi mukjizat yang telah dilakukan-Nya. Ada juga yang merasa kagum dengan kebijaksanaan dan cara berbicara-Nya yang luar biasa. Rasa penasaran telah mendorong mereka untuk terus mengikuti dan menikmati apa yang hendak dikatakan dan dilakukan-Nya.

 

Dari sekian banyak orang yang mengikuti Yesus, sangat jarang orang memiliki niat atau motivasi karena iman. Dalam bacaan hari ini (Mat 9:18-26), dibentangkan dua sikap orang yang memiliki iman yang kokoh kepada Yesus. Pertama, seorang kepala rumah ibadat yang baru saja kehilangan anak perempuannya karena meninggal dunia. Kedua, seorang perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun. Bagi kedua orang ini, tidak ada yang mustahil karena mengikuti Yesus dengan iman. Mereka percaya bahwa apa yang menjadi harapan dan cita-cita pasti akan terwujud dalam nama Yesus.

 

Kepada rumah ibadat sudah mengetahui bahwa anaknya telah meninggal dunia. Dan dapat dipastikan bahwa tidak ada peluang lagi bagi anaknya untuk hidup lagi. Ia juga seorang tokoh agama yang pasti mengetahui seluk beluk ajaran agamanya dengan sangat baik. Sehingga, ia tidak gampang terpengaruh dengan orang lain. Namun karena imannya yang kuat kepada Yesus, ia bertindak melampaui segala keyakinan pribadi dan prestise hidup yang dimiliki sebagai seorang tokoh agama. Berkat imannya kepada Yesus, anaknya menjadi hidup kembali.

 

Dan seorang perempuan yang telah mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun adalah seorang yang berani dan nekat. Ia tidak malu-malu mendekati Yesus dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Ia sangat percaya, aksinya itu akan mendatangkan keselamatan dalam hidupnya. Walaupun dilakukan secara diam-diam, pada akhirnya Yesus memuji aksi perempuan itu. “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Karena imannya kepada Yesus, ia pun dibebaskan dari sakit pendarahan.

Dewasa ini, banyak orang Katolik tidak lagi mengidolakan Yesus dalam hidupnya. Ruang-ruang hati mereka telah diisi oleh model atau gaya hidup baru yang lebih membawa kesenangan dan kenikmatan duniawi. Orang lebih mengidolakan uang dan materi lainnya. Dan orang lebih suka berperilaku hedonis. Gaya hidup yang memprioritaskan kesenangan dan kenikmatan. Dengan dua kecenderungan yang telah menjadi idola hidup, manusia semakin diseret untuk semakin menjauhi idola hidupnya yang paling benar yakni Yesus Kristus.

 

Dua idola hidup duniawi yakni materialisme dan hedonisme telah menginvasi hidup manusia, termasuk orang Katolik. Manusia dituntut untuk bekerja lebih keras demi mendapatkan materi. Bahkan seringkali dengan cara-cara kotor dan sesat seperti mencuri, merampok, dan korupsi. Pada akhirnya, semua materi ini pasti bersinggungan dengan gaya hidup hedonis. Manusia memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk pesta pora, mabuk-mabukkan, judi, dan kesenangan lainnya.

 

Badai Covid-19 yang masih melanda negeri dan wilayah kita menyiratkan pesan yang sangat mendalam. Pandemi Covid-19 sebenarnya sementara menguji dan menantang kadar keimanan kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk menepi dan berdiam dalam kesendirian untuk mencari Tuhan dan kembali membangun relasi pribadi yang lebih akrab dengan-Nya. Mungkin sebelum badai ini datang, kita lebih sibuk untuk mengejar materi dan berperilaku hedonis. Dan kita entah sengaja atau tidak melupakan Dia yang telah menjadikan kita di atas dunia ini. Ketika kita sudah berada dalam pusaran badai ini, kita diarahkan untuk kembali kepada idola hidup yang sejati yakni Allah dan Yesus Kristus.

 

Melihat realitas hidup yang terjadi belakangan ini, jujur harus kita akui bahwa masih banyak orang Katolik yang belum kembali kepada idola hidup mereka yang sebenarnya. Ketika diberi ruang untuk menyelenggarakan pesta iman (permandian, komuni suci, dan perkawinan), banyak orang Katolik yang merayakannya dengan mengundang banyak orang dan membuat resepsi yang besar. Tentu saja dengan anggaran yang tidak sedikit pula. Walaupun sudah dibatasi dengan aturan atau protocol kesehatan, tetapi ada saja celah yang dipakai oleh manusia untuk memuluskan apa yang menjadi harapan dan keinginannya. Dalam hal ini, manusia masih mengidolakan pola hidup materialistis dan hedonis sehingga tidak akan mudah melepas atau meninggalkannya.

 

Hari ini, sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk menemukan kembali idola hidup yang yang paling sejati yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Kita kembali kepada hakekat Dwitunggal oleh karena iman, dan bukan karena kepentingan yang lain. Kita mau membangun relasi yang lebih intim dengan Dia, karena kita yakin dalam iman, kita pasti mendapatkan kebaikan. Terutama dalam badai Covid-19, kita semua akan dikuatkan dan diberi keselamatan. Di atas semua itu, sebagai orang Katolik, kita akan semakin dicerahkan untuk berperilaku sebagai orang yang sungguh-sungguh Katolik. Kita mau meninggalkan idola hidup lama yang tidak benar, dan kembali kepada idola hidup kita yang paling hakiki. Amin. ***AKD***


Rabu, 30 Juni 2021

IMAN HARUS LAHIR DARI PERGUMULAN PRIBADI

MAT 16:13-19

 

Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan pesta St. Petrus dan Paulus Rasul. Sejak permulaan, Gereja merayakan Pesta Santo Petrus dan Paulus secara bersamaan karena keduanya merupakan tokoh penting dalam sejarah Gereja Katolik. Petrus adalah putra seorang nelayan dari kampung Betsaida di tepi danau Genasareth. Dia tidak berpendidikan karena pekerjaan pokoknya adalah nelayan, tetapi merupakan orang kepercayaan Yesus. Sementara itu, Paulus lahir di Tarsus dari keturunan Yahudi tetapi warga negara Romawi. Dia seorang terdidik dan belajar Kitab Suci pada Gamaliel. Sebagai seorang Farisi yang fanatik, dia selalu mengejar pengikut-pengikut Kristus dan menganiaya mereka. Dalam perjalanannya ke Damaskus, Yesus memanggilnya dan menjadi rasul bagi bangsa kafir. Baik Petrus maupun Paulus mengalami banyak sekali penderitaan, penganiayaan dan ancaman mati karena mengikuti Yesus Kristus. Keduanya mati sebagai martir karena iman akan Yesus Kristus. Pertanyaan reflektif bagi kita masing-masing: sejauhmana tanggapan imanku akan Yesus?

 

            Berbicara tentang arti sebuah kesetiaan, maka pada saat yang bersamaan kita wajib melakukan introspeksi diri terhadap pergumulan hidup iman kita secara pribadi. Mengapa? Karena iman itu bukan soal gosip atau apa kata orang dan iman pun tidak ada begitu saja meniadakan proses. Iman itu menyangkut hakekat hidup seseorang yang perlu dibangun dalam diri bukan berdasarkan cerita atau bahan gosip jalanan/murahan. Jika iman adalah hakikat hidup setiap orang maka jawaban iman itu harus lahir dari pergumulan hidup nyata kita.

            Injil yang baru saja kita dengar tadi dimana Yesus ingin mengetahui seberapa besar iman dan kepercayaan para murid-Nya kepada Dia sebagai Guru dan Tuhan. Maka Ia bertanya:”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Bagi Yesus, orang kebanyakan boleh saja berpendapat tentang siapakah Dia tetapi sebagai murid-Nya, Yesus ingin mengetahui seberapa jauh iman para murid tentang Dia. Pertanyaan Yesus ini penting agar kita sebagai murid-muridNya dapat mengukur kedalaman iman kita berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Gereja dan pergumulan pribadi dalam terang Sabda Tuhan. Iman memang mesti lahir dari pergumulan pribadi bukan berdasarkan “apa kata orang”. Para murid dituntut untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Yesus, “siapakah Aku ini?”. Jawaban para murid adalah ukuran kedalaman iman mereka akan Yesus. Kebersamaan hidup para murid dengan Yesus bukanlah jaminan pasti bahwa pengenalan dan pengakuan akan diri Yesus dapat diketahui dengan pasti. Untuk menggali informasi tentang diri-Nya, Yesus menggunakan metode deduktif dimana pertanyaannya bersifat umum-khusus. (apa kata orang pada umumnya tentang Dia dan apa kata para murid-Nya tentang keberadaannya). Terlihat jelas dari jawaban-jawaban mereka ketika Yesus bertanya: “Siapakah Putra Manusia itu menurut pendapat orang?” Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan   Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Jawaban-jawaban tersebut mau menunjukkan kegagalan mereka dalam memahami pribadi Yesus, mereka seolah orang baru yang belum pernah menyaksikan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Yesus seolah menggiring para murid-Nya untuk mengetahui kedalaman iman para murid. Dia mengingkan jawaban yang jujur dari kedalaman hati mereka, bukan kata orang tentang diri-Nya. Oleh karena itu, ia mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik kepada murid-Nya bukan untuk mencobai mereka tetapi untuk mengetahui sejauh mana iman mereka akan Dia.Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Terhadap pertanyaan ini, Simon Petrus oleh dorongan Roh Kudus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Putera Allah yang hidup!” Jawaban jitu dari seorang rasul yang tidak berpendidikan namun memiliki refleksi iman yang mendalam. Kepada Petrus, Yesus memberikan kunci Kerajaan Surga kepadanya. Ternyata orang yang dianggap bodoh dan sederhana, mampu mengetahui rahasia dan misteri kerajaan surga.

 

            Iman dan kepercayaan kita kepada Yesus adalah faktor terpenting yang dituntut dari seseorang yang telah dibaptis dan yang telah dikukuhkan menjadi anggota Gereja dan anak-anak Allah. Sabda Tuhan hari ini mesti meneguhkan iman kita untuk selalu memberi jawaban atas iman kita dalam kesaksian hidup yang benar bahwa “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup”. Petrus berdasarkan dorongan Roh Kudus memberi jawaban yang tepat tentang siapakah Yesus. Jawaban Petrus ini harus menjadi jawaban kita masing-masing dalam pergumulan hidup setiap hari bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Jawaban ini akan membantu kita dalam menampilkan kemuridan kita sebagai pembawa hidup bagi sesama yang membutuhkan uluran kasih, jamahan tangan dan kemurahan hati kita di saat sesama kita meminta pertolongan dan bantuan kita. Kesempatan hari ini adalah kesempatan emas yang tak akan terulang kedua kalinya bagi kita untuk menebarkan kasih dan berkat bagi sesama yang membutuhkan senyum dan ketulusan hati kita dalam menolong mereka teristimewa bagi mereka yang sakit, miskin dan yang terpinggirkan.

 

            Bertepatan dengan pesta St. Petrus dan Paulus yang kita rayakan hari ini menginspirasi hidup iman kita agar lebih militan dalam memberikan kesaksian hidup yang lebih nyata dan aktual. St. Petrus dan Paulus mati sebagai martir karena iman mereka akan Yesus. Pilihan hidup mereka dalam mengikuti Yesus jauh lebih ekstrim, namun kita sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati di jaman ini, kemartiran tidak selalu berarti mengorbankan nyawa karena iman akan Kristus. Kemartiran dalam perspektif yang lebih luas berarti mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi demi menghayati nilai-nilai Injili. Semoga berkat doa kedua rasul agung kita hari ini, memotivasi kita sekalian untuk mengikuti Yesus secara konsekuen tanpa paksaan dan tekanan dari pihak mana pun.***BW***

Selasa, 22 Juni 2021

Menjadi Pohon Yang Baik

                                                                            Mat 7:15-20

Salah satu fenomena yang sering terjadi dan akan terus terjadi di tengah kehidupan kita adalah semakin maraknya orang berpindah keyakinan atau agama. Memang menganut agama atau kepercayaan tertentu adalah sebuah hak asasi yang dasariah. Tidak dapat diganggu gugat. Termasuk di dalamnya, orang bebas memilih untuk berpindah dan memeluk agama dan kepercayaan sesuai dengan pilihan hatinya. Namun, dalam banyak kasus yang terjadi, ada orang Katolik yang berpindah keyakinannya karena ada kepentingan dan kompensasi yang didapatkan. Kalau misalnya, orang berpindah keyakinan karena alasan perkawinan, mau mengikuti keyakinan pasangannya, saya kira masih dalam taraf normal. Tidak ada masalah. Masih bisa diterima oleh akal sehat. Yang menjadi masalah dan tidak bisa diterima oleh publik adalah ketika orang mau berpindah keyakinan karena ada tawaran uang, materi, pekerjaan, jabatan, dan kemudahan atau fasilitas lain yang mentereng.

 

Dan kasus ini, walaupun masih sangat terselubung, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Paling sering terjadi. Ada segelintir orang atau kelompok yang berasal dari aliran keagamaan tertentu, yang getol mencari jemaat baru dengan cara-cara murahan dan sesat seperti ini. Mereka sangat jeli membaca situasi sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya, mereka membaca peluang ini. Dengan mudahnya mereka masuk dan memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan umat. Bantuan akan terus diberikan sehingga menyebabkan rasa simpati yang mendalam dari umat. Dalam situasi kebatinan umat seperti ini, orang-orang yang berasal dari kelompok atau aliran agama tertentu, mulai memainkan aksi mereka yang sebenarnya. Mereka menawarkan visi-misi aliran keagamaannya, dan mengajak umat lain untuk bergabung. Tanpa berpikir dua kali, umat kita pasti dengan senang hati mau bergabung. Yang ada dalam kepala umat adalah problem dan beban keluarga teratasi. Soal agama dan Tuhan, itu nomor dua. Toh, semua agama mengajarkan tentang Tuhan. Jadi sama saja, entah mau memeluk agama apa sesuai dengan selera, yang penting ia merasakan peningkatan dan kesejahteraan dalam hidupnya.

 

Ternyata jauh sebelumnya, Yesus sudah mewanti-wanti akan kedatangan para nabi palsu yang mengenakan jubah agama. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). Model para nabi palsu ini tidak jauh beda dengan nabi yang asli. Kelihatan seperti asli, tetapi sesungguhnya tidak asli. Pernak-pernik dan atribut keagamaan yang dikenakan hanya sebatas tampilan. Tawaran kebaikan dan kenikmatan juga hanya sebagai modus untuk memuluskan tujuan yang ingin digapai. Mereka hadir di momen yang tepat. Di saat umat terlena akan pesona kebaikan dan tampilan fisik religius yang dimiliki. Melalui para pemimpin agama kala itulah, secara samar Yesus memberikan contoh, bagaimana mereka memperlakukan umat hanya demi meraup keuntungan secara pribadi dan kelompok. Umat hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk menaikan citra diri, mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dan mendongkrak posisi tawar mereka secara politis di mata bangsa penjajah, Romawi.

 

Nabi-nabi palsu tersebut akan tetap hadir sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Walaupun mereka hadir di zaman yang berbeda dengan aneka modus, tetapi niat atau urgensinya tetap sama. Salah satu contohnya seperti yang digambarkan pada bagian awal di atas. Ada target untuk menambah atau menaikan populasi jemaat dengan cara-cara yang tidak fair. Mereka mengabaikan nilai yang paling utama yakni soal kemurnian dan panggilan hati untuk menjawab bisikan ilahi Tuhan. Secara social dan ekonomi, mereka juga mendapatkan keuntungan. Mereka akan dikenal sebagai tokoh hebat minimal secara internal di dalam kelompok atau aliran mereka. Apresiasi terhadap kerja keras dan nyata juga pasti mereka dapatkan dalam bentuk uang dan materi yang lain.

 

Contoh lain yang bisa diangkat adalah munculnya para “nabi” dadakan pada musim politik. Baik musim pilpres untuk memilih presiden maupun pilkada untuk memilih gubernur, walikota, dan bupati. Mereka adalah para politisi yang menampilkan diri seperti para nabi. Ada banyak orang baik dan suci yang mendatangi masyarakat secara pribadi dan kelompok untuk menawarkan kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan hidup secara cuma-cuma. Mereka juga hadir dengan tangan tidak hampa. Ada banyak uang dan materi yang dibagi-bagikan demi mendapat simpati dan pilihan pada saat hari “H”. Sayang seribu sayang, ketika sudah memimpin atau berada pada posisi yang diingikannnya, ada kecenderungan yang sangat kuat untuk tidak lagi mendengarkan, memperhatikan, dan mewujudnyatakan apa yanga sudah dicanangkan untuk membawa perbaikan dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat. Orang-orang model ini, yang dikategorikan Yesus sebagai nabi-nabi palsu yang harus dihindari.

 

Yesus mengajarkan supaya kita harus menjadi pohon yang baik. Pohon yang baik bersumber dari pokok atau akar yang baik pula. Pohon yang baik bertumpu dan mengais sumber makanan yang bergizi dari pokok atau akar. Dan sang pokok yang menjadi sumber kehidupan kita adalah Tuhan sendiri. Tidak ada pokok lain yang kuat dan hebat seperti Dia. Dari Tuhanlah, kita menimba sumber energi yang menghidupkan dan menyegarkan agar bisa menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan. Contoh-contoh buah yang baik adalah kita mampu menolak segala tawaran yang menggiurkan untuk dapat berpindah kepada keyakinan atau kepercayaan tertentu yang sangat asing dalam pemahaman kita. Kita tidak boleh menggadaikan Tuhan yang kita imani seperti Yudas yang lebih mencintai uang dan barang. Kita juga mampu bersikap kritis terhadap orang-orang yang belum teruji dan terbukti baik rekam jejaknya. Orang-orang ini biasanya sangat suka menghamburkan materi dan berpura-pura baik untuk mendapatkan keuntungan secara social dan politik.

 

Kita bisa menjadi pohon yang baik dengan cara semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dalam doa dan mendengarkan firman-Nya. Dengan cara demikian, kita akan menghasilkan buah yang baik dalam setiap napas kehidupan. Kita tidak hanya memiliki iman yang kokoh kepada Tuhan. Kita juga mampu mendaratkan iman itu dalam setiap pengalaman, tugas, dan pengabdian dengan menjadi orang Katolik yang sungguh-sungguh Katolik. ***AKD***


Selasa, 08 Juni 2021

Spirit Kasih Yesus Dalam Hidup

                                                                    Mat 5: 17-19

 

Santa Teresa pernah berkata, “Kasih sejati tidak pernah menuntut, tetapi ia hanya dapat memberi”. Bagi Santa Teresa, ungkapan ini bukan sekedar kata-kata simbolik. Tetapi sungguh ia hidupi dalam karya pelayanannya sebagai seorang biarawati di kota Kalkuta, India. Sudah begitu banyak orang kecil dan orang sakit yang merasakan sentuhan kasih dari Santa Teresa selama hidupnya. Tanpa memandang latar dan status, Santa Teresa membagikan kasihnya kepada semua orang. Bagi Santa Teresa, semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus dikasihi. Karena kasih itu berasal dari Allah yang kita terima secara gratis, maka sejatinya semangat kasih itu harus dibagikan secara gratis dan tulus kepada semua makhluk. Spirit kasih itu lebih dari sekedar seperangkat peraturan atau tuntutan moral yang berlaku di tengah masyarakat. Ia harus keluar dari kejernihan dan kedalaman jiwa untuk memberi, dan tanpa mengharapkan balasan.

 

Kecaman Yesus kepada para elit agama yang menaruh prasangka kepada Diri-Nya hendak membuktikan bahwa Yesus tidak datang untuk mengurangi, apalagi mau meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus tidak hanya mau menggenapi apa yang tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi. Lebih dari itu, Yesus hendak memberi spirit kasih di dalam kitab-kitab itu. Spirit kasih menjadi substansi utama yang tidak boleh dianggap remeh dan dilupakan begitu saja. Dan disinilah letak persoalannya sehingga menimbulkan friksi dan konflik antara Yesus dan para pemimpin agama.

 

Sudah lama, bahkan jauh sebelum Yesus lahir, para elit agama kala itu begitu leluasa dan bebas memperlakukan hukum agama sebagai topeng memuluskan pelbagai kepentingan dan nafsu sesat mereka. Hukum agama bukan lagi didasari oleh semangat kasih. Hukum agama berdiri hanya sebagai seperangkat aturan yang kaku dan formal. Pelbagai aturan yang tertulis di dalamnya dipakai oleh para elit agama untuk memberi tekanan, tuntutan dan beban. Acapkali mereka berkoar-koar tentang hukum Taurat yang wajib ditaati oleh umat, namun mereka sendiri tidak pernah melakukannya. Banyak terjadi adalah hukum Taurat digunakan sebagai tameng untuk pembenaran diri. Dan lebih fatal lagi, dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi dan sosial. Para pemimpin agama lebih sibuk mengumpulkan pundi-pundi materi dan mencari prestise pribadi. Mereka telah melupakan atau bersikap apatis terhadap satu nilai yang lebih utama dalam hukum Taurat yakni nilai kasih.

 

Melihat realitas yang naif ini, Yesus tidak tinggal diam. Dengan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya, Ia menentang dan mengecam keras perilaku para pemimpin agama yang memperlakukan hukum Taurat tidak sesuai dengan kebenaran utama yang tertulis di dalamnya. Sungguh tidak masuk akal dan tidak adil apabila hukum Taurat itu bekerja tanpa roh yang menghidupinya. Justru yang terjadi adalah ia akan kehilangan arah dan menindas banyak orang. Oleh karena itu, dengan melawan arus, Yesus dengan sangat gigih membongkar sistem yang mapan dan mental feodal yang dimiliki oleh para pemimpin agama. Yesus mau supaya hukum Taurat dikembalikan kepada porsinya yang benar. Hukum Taurat harus dilandasi oleh spirit kasih yang membebaskan sehingga sungguh membawa kedamaian, keadilan, dan keselamatan dalam hidup umat. Terutama bagi mereka yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil. Orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh para pemimpinnya.

 

Spirit kasih dalam hidup yang digaungkan oleh Yesus, ternyata masih dihidupi oleh sebagian besar orang beriman di masa kini. Lihat saja, di tengah situasi sulit yang dihadapi oleh sesama saudara yang terkena dampak bencana alam di wilayah kita, ada begitu banyak bantuan yang datang. Entah itu secara pribadi maupun kelompok, mereka dengan tulus memberi sesuatu dari kepunyaannya untuk membantu sesama saudara yang sementara mengalami kesusahan dan penderitaan. Saya berkeyakinan bahwa, mereka yang memberikan donasi dalam wujud apa pun, tidak memiliki kepentingan apa pun, selain kepentingan untuk meringankan duka dan nestapa yang sementara dihadapi para korban. Kita semua menyaksikan dengan terang benderang, ada banyak saudara/i kita yang sungguh mengalami sentuhan kasih. Walaupun memang masih ada kekurangan dan kelemahan yang mestinya dievaluasi dan diperbaiki agar perhatian dan bantuan itu betul-betul merata dan sesuai dengan prinsip keadilan.

 

Gugatan Yesus akan perilaku para pemimpin agama yang meniadakan spirit kasih dalam hukum Taurat menjadi gugatan bagi diri kita masing-masing. Bagaimana posisi kita secara individu memahami spirit kasih Yesus dan mengimplementasikannya dalam hidup di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan di tempat kerja. Mungkin semua dari kita sudah memahami apa itu spirit kasih yang telah diwartakan oleh Yesus. Tetapi, masih banyak dari kita yang belum sungguh-sungguh menghidupi nilai kasih dalam hidup sehari-hari. Kita memang seringkali sudah mempraktekkan berbagai wujud kasih, namun belum dilandasi oleh spirit kasih Yesus yang sejati. Masih ada banyak pertimbangan untung ruginya. Banyak kalkulasi baik secara ekonomi, sosial, maupun politik turut berperan di dalamnya. Inilah tantangan-tantangan yang menghambat kita untuk mewujudnyatakan spirit kasih Yesus yang sejati dalam hidup.

 

Hari ini Yesus mencerahkan dan mengarahkan pribadi kita agar mau menghidupi spirit kasih yang sejati itu secara sungguh-sungguh dalam hidup. Kita perlu membebaskan diri dari pelbagai tantangan dan hambatan yang membatasi kita untuk memberi dan membagikan kasih yang sejati bagi mereka yang berkekurangan dan menderita. Tantangan dan hambatan yang terbesar itu sebenarnya muncul dari dalam diri sendiri seperti rasa gengsi, pemberian dengan syarat tertentu, dan pertimbangan secara matematis yang bisa menguntungkan kita secara ekonomi, sosial, dan politik. Mari kita menyadari diri pada hari ini untuk membumikan spirit kasih sejati dari Yesus bagi siapa saja, terutama bagi sesama yang sementara sakit. Karena “siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:19). Amin. ***AKD***

Minggu, 30 Mei 2021

Sukacita Tuhan Yang Harus Dibagikan

 

Luk 1:39-56

 

Semua kita pasti pernah atau seringkali mengalami pengalaman sukacita. Latar pengalaman sukacita itu beranekaragam. Ketika kita mengalami kesuksesan dalam pekerjaan, kesuksesan dalam usaha tertentu, kesuksesan dalam pendidikan anak-anak, dan kesuksesan dalam hal lainnya, kita pasti merasa sangat bersukacita. Satu kecenderungan yang tidak bisa kita elakkan ketika mengalami perasaan sukacita adalah kita suka berbagi atau menceritakan pengalaman itu kepada orang lain. Kita menghendaki orang lain juga mengetahui dan turut merasakan apa yang kita rasakan. Kita ingin orang lain memberi apresiasi. Hanya sekedar ucapan selamat saja, semakin membuat sukacita kita bertambah. Dan tentu saja semakin memotivasi kita untuk terus berusaha dan berprestasi dalam hidup.

 

Rasa sukacita dialami juga oleh dua orang perempuan luar biasa dalam bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56). Mereka berdua adalah Maria dan Elisabet. Maria bersukacita karena mendapat kabar gembira dari malaikat Gabriel untuk mengandung Sang Penyelamat umat manusia, Yesus Kristus. Dalam keperawanan dan kesuciannya sebagai seorang perempuan, Maria bersukacita atas amanat mulia yang diterimanya dari Tuhan melalui malaikat Gabriel. Sedangkan Elisabet bersukacita karena dalam usia tuanya, ia mendapat berkat dari Tuhan untuk segera mendapatkan seorang anak laki-laki. Ternyata usia yang senja, tidak membatasi Elisabet untuk mencapai apa yang menjadi harapan utama sepanjang hidupnya yakni memiliki seorang anak.

 

Suasana sukacita sungguh menyelimuti hati Maria. Kesukacitaan hatinya berlipat ganda ketika mengetahui bahwa Elisabet saudarinya, juga sedang mengandung seorang anak laki-laki. Dan usia kandungannya sudah memasuki bulan yang keenam (Luk 1:36). Oleh karena itu, Maria segera mempersiapkan diri dan bergegas mengunjungi saudarinya tersebut. Ia ingin membagikan sukacitanya sekaligus mengucapkan selamat berbahagia kepada Elisabet. Ternyata Elisabet sungguh mendapat berkat dengan kunjungan Maria. Ketika mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (Luk 1:41).

 

Efek dari pengaruh Roh Kudus ini pula yang mendorong Elisabet untuk memuji dan memberi apresiasi khusus kepada Maria. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Elisabet sangat bersukacita bukan hanya karena pengalaman rohani yang dialaminya. Tetapi juga, ia merasa bahwa Maria adalah perempuan yang sengaja diutus Tuhan untuk datang mengunjungi dirinya. Maria adalah perempuan spesial dengan buah rahim yang diberkati secara khusus pula oleh Tuhan. Elisabet sepertinya sudah membayangkan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak luar biasa. Seorang anak yang bukan sekedar anak biasa. Seorang anak yang dikhususkan oleh Tuhan bagi dunia.

 

Maria pun mengungkapkan sukacitanya ketika mendengar segala hal yang dikatakan oleh Elisabet. Sukacita Maria ini diekspresikan dalam sebuah magnifikat (doa Pujian). Isi magnifikat Maria berupa ungkapan syukur atas kuasa dan penyelenggaraan Allah kepada umat-Nya. Allah selalu menjaga, memperhatikan, dan memberikan segala berkat-Nya kepada umat yang menaru iman kepada-Nya. Terutama berkat yang didapat secara khusus oleh Maria – dan bukan perempuan lainnya - untuk memainkan peran sebagai mitra Allah dengan mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Penyelamat umat manusia. Maria pantas mendapat karunia khusus dari Allah oleh karena imannya yang teguh kepada Allah. Dan Maria sudah sewajarnya merasa bersukacita atas pengalaman rohani yang dialaminya.

 

Pertemuan dua saudari (Maria dan Elisabet) dalam nama Tuhan bukan sekedar silaturahmi biasa. Mereka berjumpah untuk saling berbagi sukacita atas karunia Tuhan yang menyelimuti diri mereka. Sukacita yang dibagikan menjadi daya dorong untuk tetap mengingatkan dan menguatkan iman mereka akan Tuhan. Sukacita yang dibagikan di antara mereka tidak tinggal diam. Karena sukacita itu akan berubah menjadi energi yang dasyat bagi mereka untuk berperan sebagai mitra Allah. Elisabet akan menjaga, memelihara, dan membimbing Yohanes Pembaptis menjadi seorang nabi besar yang akan mempersiapkan jalan bagi seorang penyelamat dunia, yakni Yesus. Sementara Maria akan menjaga, membimbing, dan mengarahkan Yesus menjadi seorang utusan Tuhan yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Maria juga akan berjalan bersama-sama dengan Yesus, Putera-Nya, tidak hanya dalam pengalaman sukacita, tetapi juga pengalaman dukacita menuju bukit Kalvari.

 

Pengalaman sukacita Maria dan Elisabet mengingatkan kita akan pengalaman sukacita yang kita alami di dunia ini. Bahwa pengalaman sukacita yang kita alami tidak hadir dengan sendirinya. Atau ia hadir bukan karena usaha semata dari diri kita sendiri. Ada intervensi atau campur tangan Tuhan yang menyertai pelbagai pengalaman sukacita yang kita alami. Pengalaman sukacita sebenarnya menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam hidup dan pengalaman kita sehari-hari. Semoga pengalaman sukacita itu semakin menguatkan iman kita akan Tuhan. Dan bukan sebaliknya menyebabkan krisis dalam iman kita kepada-Nya. Karena acapkali banyak orang cenderung melupakan Tuhan ketika mengalami berbagai pengalaman sukacita dalam hidupnya.

 

Pengalaman sukacita tidak saja menguatkan iman kita akan Tuhan seperti yang dialami Maria dan Elisabet. Namun semakin memotivasi kita untuk bersaksi akan sukacita Tuhan yang kita alami. Sukacita Tuhan dalam diri harus kita bagikan agar orang lain juga merasa bersukacita dan dikuatkan dalam iman. Kita akan tampil di mana saja kita berada untuk membawa suasana penuh persaudaraan, kasih dan damai. Karena hanya dengan demikian, sukacita Tuhan akan bertumbuh dan berkembang. Mari kita menjadi mitra Allah dengan membagi sukacita Tuhan dalam hidup kepada sesama kita. Amin. ***AKD***

Senin, 17 Mei 2021

KEKUATAN DOA MENEGUHKAN IMAN KITA

KIS 20:17-27; YOH 17:1-11a

 

            Perkembangan zaman saat ini semakin canggih, maju dan modern, dimana nilai-nilai universal yang mengatur hidup bersama dan menjaga martabat hidup manusia dan lingkungannya serasa dijungkirbalikan, bahkan nilai-nilai kebajikan hidup kristiani semakin tidak nampak dan diabaikan sehingga kita serasa kehilangan orientasi hidup. Hal yang kita rasakan sekarang bahwa zaman ini menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi dan kenikmatan duniawi lainnya. Sebagai murid-murid Kristus kita diharuskan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap orientasi hidup, pelayanan dan kesaksian hidup nyata kita. Untuk meningkatkan hidup iman dan kesetiaan kita kepada Allah, bacaan suci hari ini menampilkan dua tokoh inspiratif yang menginspirasi kita untuk selalu mempersembahkan seluruh hidup dan pelayanan kita kepada Allah. dua tokoh inspiratif itu yakni Yesus dan St. Paulus.

            Kita bisa belajar dari kesetiaan dan ketekunan St. Paulus yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, dimana Paulus memiliki konsep pelayanan yang amat jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pewarta Injil, meskipun itu berarti ia akan berhadapan dengan penolakan, penderitaan dan kematian sekalipun. Dalam misi pewartaannya, ia tidak hanya ingin menyenangkan teling pendengarnya, namun tujuannya selalu jelas supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Itulah sebabnya, ia memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Untuk merebut hati umat yang dilayaninya, Ia selalu tekun dalam doa dan pengajaran. Ia bahkan berani berkata bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang, baik yang diselamatkan maupun yang akan binasa. Paulus sangat berorientasi pada tujuan akhir, yaitu menyelesaikan tugas perutusan yang dipercayakan Yesus Kristus kepadanya. Paulus dalam setiap pelayanannya tidak sedikit pun bermaksud mencari popularitas diri, kedudukan, pengakuan atau pun mencari kekayaan. Namun, motivasi Paulus adalah untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah dan bukan oleh ambisi pribadinya. Paulus memusatkan hidupnya pada Kristus agar Yesus Kristus semakin dimuliakan dan dikenal oleh banyak orang. Sikap hidup Paulus ini menjadi panutan bagi kita semua, meskipun kita bukan biarawan/biarawati, katekis, guru agama atau agen-agen pastoral lainnya, tetapi hidup kita harus berpusatkan pada Kristus, kiranya menjadi kerinduan kita semua. Tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi saksi Kristus kita akan mengalami sekian banyak tantangan dan resiko, namun Paulus telah membuka jalan dan telah membangkitkan semangat kita semua untuk tetap bertahan dalam iman akan Yesus Kristus.

             Injil hari ini menggambarkan satu teladan istimewa yang dipraktekkan oleh Yesus yakni mendoakan dan menyerahkan murid-muridNya kepada Allah Bapa-Nya agar mereka tetap bersatu. Doa Yesus ini dianggap doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Allah Bapa melalui hidup dan karya-Nya di dunia, namun saat kematian-Nya telah tiba. Bila sebelumnya Yesus telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

            Ada dua pokok doa syafat Yesus kepada Bapa-Nya yang disampaikan oleh penginjil Yohanes hari ini. Pertama, di dalam permulaan doa-Nya Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa Yesus sangat egois, karena sesungguhnya Ia menunjukkan semua itu bagi kemuliaan Bapa-Nya. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (Yoh 17:2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan dosa umat manusia. Melalui karya salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal, dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus sendiri. Di sini kita dapat melihat keakraban Yesus dengan Allah Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa sekarang untuk ikut ambil bagian menikmati keakraban dengan Allah Bapa. Sebab itu, kita harus memanfaatkan setiap waktu kita untuk membangun relasi komunikasi dengan Allah untuk menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya. Namun yang perlu kita perhatikan bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita semakin menghormati Dia sebagai sumber dan asal tujuan hidup kita.

            Kedua adalah permohonan untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memlihara para murid karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa. Yesus menghendaki agar para murid hidup dalam persatuan dan setia mewartakan sabda Tuhan. Dalam doa-Nya, Yesus memberitahukan nama Allah kepada murid-murid-Nya, artinya para murid dapat mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan semua itu melalui hidup, karya pewartaan dan salib-Nya. Para murid percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya ke dunia untuk melaksanakan misi keselamatan bagi mereka. Yesus telah memelihara para murid-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa. Sekarang Yesus akan kembali kepada Bapa, tetapi murid-murid dan mereka yang percaya kepada-Nya masih tinggal di dunia untuk meneruskan misi pewartaan-Nya. Karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk menganugerahkan rahmat pemeliharaan atas para murid-Nya.

            Dalam doa-Nya, Yesus ingin agar mereka semua terjamin pasti dalam hubungan persatuan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh dengan sukacita dan mereka dapat disiapkan untuk meneruskan misi pewartaan Yesus bagi dunia. Doa Yesus ini, membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi semua orang beriman yang percaya kepada-Nya.

            Paulus telah merintis jalan pewartaan dengan kelemah-lembutan untuk memenangkan hati musuh-musuhnya. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem dalam misi pewartaan untuk memperkenalkan Yesus, ia menasihati dan mendorong para penatua  di Efesus untuk menjaga dan mengembangkan iman umat agar mereka senantiasa setia dan waspada terhadap pengaruh orang-orang Yahudi dan Yunani yang anti Kristus. Sedangkan Yesus mendoakan murid-murid-Nya untuk tetap hidup dalam persekutuan kasih dan setia mewartakan kasih Allah di dunia. Dua tokoh inspiratif ini menginspirasi kita agar kita setia dalam panggilan hidup kita masing-masing seraya terus bersaksi mengemban misi keselamatan yang dipercayakan Yesus kepada kita semua oleh karena pembaptisan yang telah memeterai kita. Kehidupan doa yang teratur meneguhkan hidup iman kita dalam persekutuan bersama Allah sehingga kita menjadi saksi dan pewarta sabda kasih Allah yang membawa semua orang ke jalan pertobatan.

            Doa Yesus hari ini tidak saja diperuntukan bagi para murid-Nya melainkan juga Ia menunjukkan perhatian dan kepedulian-Nya bagi kita semua umat beriman yang percaya kepada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pewarta Injil-Nya bagi dunia, maka kita membutuhkan penyertaan dan perlindungan dari Allah Bapa.  Karena itu, aspek yang dibutuhkan dalam membangun relasi komunikasi yang harmonis dengan Allah adalah melalui doa. Doa harus kita hidupi dari waktu ke waktu karena doa pada dirinya memiliki kekuatan dahsyat untuk membantu kita keluar dari tantangan hidup yang kita hadapi. Mestinya kita selalu bangga karena Yesus andalan kita selalu mendoakan dan menyertai kita. Maka kita akan menikmati keselamatannya ketika kita selalu hidup di dalam-Nya karena kita adalah milik-Nya (Yoh 17:9-11). Hidup di dalam Yesus yang selalu mendoakan kita berarti kita hidup dalam kebenaran-Nya, bukan kemunafikan, bukan untuk keuntungan sendiri, bukan untuk memuliakan diri, melainkan memuliakan Tuhan yang telah hadir dalam setiap karya yang dipercayakan kepada kita. Masihkah kita memegahkan diri kita, padahal Tuhan setia mendoakan dan menjaga kita? Di tengah pandemi covid-19 dan sekian banyak bencana alam yang melanda tanah air kita saat ini, kita semua diajak untuk menggalakan doa secara perorangan atau secara berjemaah untuk memohon rahmat pembebasan dan belas kasih Allah agar kita terhindar dan dijauhkan dari malapetaka yang mematikan ini. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh dan teladan istimewa yakni mendoakan para murid-Nya, karena itu, kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendoakan semua orang yang dilanda musibah agar iman mereka tidak goyah karena merasa ditinggalkan oleh Allah. Allah tidak pernah memberikan ujian iman melampaui kekuatan kita, Ia selalu menanti pertobatan dan usaha untuk bangkit dari kedosaan kita menuju keselamatan sejati. Semoga Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin. ***BW***