Selasa, 17 Agustus 2021

Tuhan Memiliki Keadilan-Nya Sendiri

                                                                         Mat 20: 1-16a

 

Pada hakekatnya prinsip keadilan mengakomodir setiap orang untuk mendapatkan hak sesuai dengan kualifikasi atau persyaratan tertentu yang berlaku secara umum. Volume kerja, tingkat kesulitan, besar kecilnya tanggung jawab, durasi atau lamanya waktu kerja, menjadi hal-hal lazim yang sangat mempengaruhi porsi hak yang akan diterima setiap orang. Semakin besar volume kerja, tingkat kesulitan dan waktu yang butuhkan, maka semakin besar pula hak yang akan diterima. Begitu pun sebaliknya, sudah sewajarnya apabila hak yang diterima seseorang semakin kecil karena disesuaikan dengan volume kerja yang kecil, tingkat kesulitan yang tidak seberapa, dan waktu yang singkat. Menjadi sesuatu yang aneh apabila terjadi penyeragaman dalam penerimaan hak. Orang akan mengklaim terjadi ketidakadilan dan penindasan. Karena keadilan itu tidak sama dengan keseragaman. Dan keseragaman belum tentu memenuhi unsur keadilan yang diharapkan. Keadilan akan tercapai dalam hidup apabila setiap orang mendapat haknya secara proporsional.

 

Gambaran tentang keadilan bertolak belakang dengan kisah yang digambarkan oleh bacaan Injil pada hari ini (Mat 20:1-16a). Dalam perumpamaan-Nya tentang orang-orang upahan di kebun anggur, Yesus membeberkan cerita seorang tuan kebun anggur yang membagi hak sebesar satu dinar kepada orang-orang upahan yang bekerja dalam durasi waktu yang berbeda-beda. Ada yang bekerja penuh mulai dari pagi sampai sore. Ada yang bekerja setengah hari yakni dari siang sampai sore. Dan bahkan ada yang baru masuk sore hari. Praktis waktu kerjanya amat singkat. Jadi kalau kita mengamati terjadi penyeragaman hak yang dilakukan oleh tuan kebun anggur kepada para pekerja-Nya. Walaupun masing-masing orang bekerja dengan rentang waktu yang berbeda-beda, mereka semua mendapat hak yang sama sebesar satu dinar. Hal ini memicu persoalan karena orang-orang yang bekerja paling lama melakukan protes. Mereka tidak terima dan merasa diperlakukan tidak adil. Seharusnya mereka mendapat hak lebih banyak. Namun tuan kebun anggur mengklaim bahwa sudah terjadi kesepakatan di antara mereka untuk mendapat satu dinar, tanpa memperhitungkan aspek-aspek penting seperti volume kerja, tingkat kesulitan, dan durasi waktu. Tuan kebun anggur juga menegaskan bahwa ia memiliki otonomi untuk menentukan dan memberi hak sesuai dengan keinginannya.

 

Saya membayangkan akan terjadi chaos atau kekacauan besar pada masa sekarang, apabila ada majikan, pemilik modal atau pengusaha yang membayar hak para pekerjanya tidak sesuai dengan prinsip keadilan. Namun apa yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya hanyalah sebuah kisah simbolik yang mau mengungkapkan logika kerajaan sorga yang sebenarnya. Sang tuan kebun anggur adalah Allah yang sementara menunjukkan kemahakuasaan dan kemurahan hati-Nya kepada umat manusia. Ia datang dan menawarkan keselamatan kepada umat-Nya tanpa memperhitungkan seberapa besar jasa atau kebaikan yang telah diperbuat oleh manusia. Kisah perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur mengelaborasi (menjelaskan) kasih Allah yang sungguh besar dan otonomi atau kapasitas Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

 

Kasih Allah itu sungguh dasyat dan tidak terbantahkan. Jauh melampaui semangat kasih yang dimiliki oleh manusia. Allah tidak sedikit pun terpengaruh dengan pelbagai tipe manusia yang di atas dunia. Entah manusia itu baik atau jahat, tetap menjadi kewajiban bagi Allah untuk terus menawarkan keselamatan. Allah memiliki otonomi yang tidak bisa diintervensi oleh manusia. Bagi Allah, semua manusia memiliki hak dan derajat yang sama di mata-Nya. Tidak ada manusia yang merasa diri paling hebat dan benar di hadapan Tuhan. Tidak ada manusia yang mengklaim dirinya secara otomatis masuk sorga. Semuanya tergantung dari kewenangan Allah. Hanya Allah yang bisa menentukan keselamatan akhir bagi manusia. Dan hadiah keselamatan itu hanya dapat terjadi kalau manusia mau membuka diri dan bekerja pada kebun anggur-Nya. Hadiah keselamatan itu terjadi secara merata pada setiap manusia tanpa memperhitungkan seberapa lama ia menjadi orang beragama dan seberapa besar segala kebaikan yang telah ditanamkannya.

 

Era ini, banyak orang beragama yang merasa diri paling benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tidak jarang orang-orang ini mengutip ayat-ayat suci untuk mendukung pembenaran dirinya. Tetapi sungguh naif karena segala klaim atau pembenaran diri dilakukan untuk memenuhi atau mencapai target dan kepentingan yang berlaku secara duniawi. Ada indikasi atau fenomena yang menguatkan dugaan bahwa orang merasa paling benar dan suci karena ada kepentingan yang ingin digapai secara ekonomi, sosial dan politik. Lebih parah lagi, mereka selalu memandang remeh dan rendah orang lain. Di mulutnya hanya ada kata-kata nyinyir dan bully. Mereka selalu mempermasalahkan apa yang dibuat orang lain. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang, tidak selalu baik dan benar. Mereka menuntut orang harus mengikuti segala ajaran, kehendak dan keinginan mereka. Kalau tidak sejalan berarti orang dianggap sesat dan tidak mendapat tempat di sorga bersama Allah.

 

Mungkin sebagian dari kita juga seringkali merasa diri paling baik dan benar. Kita merasa bangga dengan identitas iman yang melekat. Kita juga merasa sudah banyak menyenangkan Tuhan dengan hal-hal baik yang telah dilakukan. Timbul kesombongan rohani dalam pribadi. Kita menganggap orang lain lebih rendah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diri kita. Dengan gampang kita menghakimi orang lain sebagai pendosa dan melabeli mereka sebagai calon penghuni neraka jahanam. Tidak berlebihan saya mengatakan demikian. Banyak realitas dan fakta yang menunjukkan demikian. Jamak terjadi kita lebih membanggakan prestasi, kebaikan, dan kesuksesan yang kita alami. Di sisi lain, kita sangat mudah untuk mengungkap kekurangan, masalah, dan aib yang dimiliki orang lain. Pernah saya mendengar kata-kata bijak dari seorang ibu. Ia mengatakan: “Kebenaran itu sejatinya hanya milik Tuhan. Di dunia manusia boleh merasa benar dan dibenarkan. Namun belum tentu di mata Tuhan. Karena Ia sungguh menyatakan kebenarannya dengan adil.”

 

Sepenggal kisah tentang orang-orang upahan di kebun anggur mau mengafirmasi dua hal. Pertama, kasih Allah yang tidak terbatas kepada manusia. Dengan kemahakuasaan-Nya Allah bebas menyatakan kasih dan menawarkan keselamatan kepada manusia. Kedua, sifat otonom Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Allah leluasa memberi keselamatan kepada manusia dengan tidak melakukan pembedaan. Pada prinsipnya semua manusia memiliki martabat yang sama di mata-Nya. Entah orang benar dan tidak benar, semua memiliki hak yang satu dan sama yakni mendapatkan keselamatan. Bisa saja orang yang berkoar-koar tentang kebenaran di dunia dan merasa diri paling pantas untuk mendapatkan keselamatan ternyata pada akhir, tidak mendapatkannya. Dan orang yang dianggap sesat, kotor dan jahat di dunia, sangat boleh jadi mendapatkan keselamatan itu dari Tuhan. Keadilan yang dimiliki Tuhan tentu tidak sama dengan keadilan yang dianut oleh manusia. Mari kita senantiasa membuka diri kepada-Nya agar kita tetap hidup dalam spirit dan tuntunan-Nya. Semoga kita tidak jatuh dalam dosa kesombongan yang dapat membawa kita kepada ketidakselamatan. Amin. ***AKD*** 

 

Selasa, 03 Agustus 2021

Beriman Dengan Sikap Rasional Yang Baik

 

Mat 15: 21-28

 

Berpikir rasional sama artinya dengan berpikir menurut pikiran dan pertimbangan yang logis dan sehat. Berpikir rasional membantu manusia untuk menganalisis sesuatu hal atau kejadian dengan baik sehingga apa yang menjadi keputusannya dapat berjalan secara baik pula. Misalnya, ketika melihat cuaca mendung, manusia langsung menangkap pesan bahwa akan segera turun hujan. Logika manusia akan bekerja dengan baik sehingga ia bisa mengambil keputusan dengan bijak, seperti mengambil pakaian di tempat jemuran, mengenakan mantel hujan kalau hendak bepergian, menutup pintu dan jendela rumah, dan sebagainya.

 

Berpikir rasional juga dibutuhkan dalam sikap iman kepada Tuhan. Berpikir rasional membentengi diri agar kita tidak memiliki iman secara buta. Contoh praksis iman secara buta misalnya, orang tidak mau bekerja dalam hidupnya. Ia hanya mengandalkan doa sepanjang waktu sambil berharap Tuhan menurunkan makanan dan minuman dari langit. Atau dalam masa pandemi Covid-19, orang lebih mementingkan sikap egonya dengan tidak menaati protokel kesehatan sehingga bisa membayakan diri dan sesamanya untuk terpapar virus Covid-19. Berpikir rasional atau logis dalam iman mendorong kaum beriman untuk mewujudnyatakan imannya secara baik dalam tindakan konkrit, karena ia memahami iman tanpa perbuatan adalah sesuatu yang non sense (tidak masuk akal).

 

Berpikir secara rasional sejatinya dapat menuntun seseorang untuk lebih mendewasakan karakter dan hidup pribadinya. Termasuk dalam mendewasakan sikap imannya kepada Tuhan. Ia lebih paham memahami konsep tentang Tuhan dan segala intervensi-Nya dalam hidup manusia. Orang yang memiliki logika yang tidak lurus dan tidak sehat, cenderung tidak mampu memahami campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Ia lebih berpikir skeptis atau tidak percaya. Apalagi kalau doa dan permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Pasti lebih menambah rasa skeptis dalam diri tentang adanya Tuhan.

 

Berpikir secara rasional haruslah membawa orang pada keutamaan dan kebijaksanaan hidup. Salah satu contoh orang yang hendak digambarkan di sini adalah seorang perempuan dari Kanaan. Menilik asal usulnya, ia berasal dari daerah yang anggota masyarakatnya tidak lagi memiliki darah Yahudi yang murni. Akibat perkawinan campur dengan bangsa asing, komunitas Yahudi di daerah Kanaan diberi label sebagai daerah orang kafir. Imbasnya, orang Kanaan dianggap tidak layak berbicara atau bergaul dengan sesama saudaranya dari Israel, yang tetap memiliki darah yahudi yang pure (asli).

 

Tetapi tidak bagi seorang perempuan Kanaan, yang berani mendatangi Yesus untuk meminta pertolongan karena anak perempuannya sedang dirasuki setan. Perjuangannya ternyata tidak berjalan mulus seperti diharapkan. Malahan ia harus menghadapi sikap apatis, hinaan, dan diskriminasi yang datang dari Yesus dan para murid-Nya. Kita dapat memaklumi karena Yesus dan para murid berasal dari kultur dan tradisi Yahudi yang kental. Sehingga mereka juga mengambil sikap sama seperti saudara sebangsanya. Mereka berbuat demikian untuk memaksa perempuan itu segera berlalu.

 

Namun ketahanan mental dan keyakinan perempuan itu tidak surut. Ia tetap bersikap sabar, rendah hati, dan tekun memohon bantuan dari Yesus. Yesus sungguh mengapresiasi sikap iman yang teguh dari perempuan Kanaan itu. “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Buah dari iman yang kokoh akhirnya melahirkan keselamatan dan kebaikan hidup bagi sang perempuan Kanaan. Seandainya, ia tidak memiliki iman yang kokoh, sudah pasti ia akan menyerah dan tidak mau mengikuti Yesus lagi. Mungkin saja, ia akan pulang dengan rasa kecewa dan marah yang besar karena sudah diperlakukan dengan tidak manusiawi.

 

Di sini dibutuhkan iman dan cara berpikir rasional yang matang. Perempuan Kanaan itu sudah mewujudkannya dengan sikap berani, sabar, tekun, dan rendah hati. Sikap iman yang kokoh harus dibarengi dengan sikap rasional yang kokoh pula, sehingga orang tidak terjebak dalam sikap iman yang buta dan dangkal. Sebuah sikap iman yang tidak berakar kuat. Karena orang hanya mendambakan kebaikan dan kemulusan hidup, namun tidak menginginkan tantangan dan kesulitan hidup. Tantangan dan kesulitan hidup ditafsir sebagai ketidakberpihakan Tuhan. Dan hanya kesuksesan, kemenangan, dan kebaikan hidup yang dilihat sebagai keberpihakan Tuhan.

 

Acapkali, kita juga menunjukkan sikap iman yang buta. Kita cepat merasa kecewa dan putus asa manakala permohonan kita tidak segera atau sama sekalih tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kita mengklaim Tuhan tidak adil. Atau mungkin juga kita mempertanyakan eksistensi-Nya, kemudian bersikap skeptis. Di tengah masa pandemi Covid-19, banyak orang beriman yang sudah menunjukkan sikap jenuh, marah, dan kecewa. Mereka tidak hanya marah kepada virus Covid-19, tetapi juga seolah-olah marah kepada Tuhan. Hidup orang beriman semakin jauh dari lingkaran Tuhan. Orang tidak mau berdoa di ruang-ruang privat sebagai dampak lanjut dari penutupan tempat ibadah untuk sementara waktu. Dan orang tidak memedulikan diri dan sesamanya dengan tidak menaati protokol kesehatan.

 

Beriman yang matang membutuhkan sikap rasional yang mumpuni. Dalam iman yang terpenting bukan soal intensi dan permonan. Ada nilai dan keutamaan yang menjadi prioritas yakni soal keberanian, ketabahan, ketekunan, dan kerendahan hati dalam menghadapi setiap tantangan, pergumulan, keterpurukan dan pergolakan hidup. Inilah yang dinamakan beriman dengan sikap rasional yang baik. Kita tidak gampang menyerah dan putus asa ketika Tuhan tidak mengabulkan doa dan permohonan. Ada kalanya Tuhan sementara mendidik kita untuk bersikap lebih sabar, berani, tekun, dan rendah hati.

 

St. Yohanes Maria Vianney yang pestanya kita peringati pada hari ini adalah figur orang kudus yang sabar, berani, tekun, dan rendah hati. Walaupun dicap sebagai orang yang paling bodoh secara akademis di masanya, ia tetap menunjukkan kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hikmat dan berkat Tuhan tidak diperolehnya dengan gampang. Ada banyak kesulitan dan pergumulan hidup yang harus dilaluinya. Mari kita beriman dengan sikap rasional yang baik untuk dapat memperoleh hikmat dan berkat Tuhan dalam hidup. Amin. ***AKD***

Minggu, 01 Agustus 2021

Memiliki Karakter Lebah Dalam Hidup

 

Mat 13:16-17

Lebah dan lalat adalah dua jenis binatang yang memiliki persamaan dan perbedaan. Kedua hewan ini sama-sama berasal dari golongan serangga yang memiliki sayap untuk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun ada perbedaan mendasar yang melingkupi keduanya. Lebah mencari sari bunga untuk menjadi sumber makanannya. Di mana pun tempatnya, entah di tempat yang bersih atau kotor, lebah akan selalu mendeteksi sari bunga untuk dihinggapi dan diisap sari madunya. Sedangkan lalat mendapatkan sumber makanan dari kotoran. Di mana pun tempatnya, sesuatu yang kotor dan berbau pasti disenangi oleh lalat. Dari deskripsi singkat mengenai lebah dan lalat ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa lebah lebih menyukai keindahan, keharuman dan kenikmatan. Sementara, lalat memiliki ketertarikan dengan segala sesuatu yang kotor dan berbau.

 

Lebah dan lalat menganalogikan dua sikap atau cara pandang manusia yang berbeda. Pertama, karakter lebah mewakili sikap atau cara pandang manusia yang positif. Di mana pun tempatnya dan apa pun situasinya, manusia yang memiliki karakter lebah, selalu melihat segala sesuatu dari cara pandang yang baik. Bahkan, dalam situasi yang sulit dan buruk sekali pun, ia tidak terpengaruh untuk berpikir negatif atau buruk. Ia selalu berpikir, merasakan, dan menganalisisnya dari cara pandang konstruktif. Tentu saja, dari hal yang buruk atau jahat selalu mengajarkan sesuatu yang bernilai baik dalam kehidupannya. Kedua, karakter lalat merepresentasikan sikap atau cara pandang manusia yang suka melihat segala sesuatu dari sudut yang negatif. Ia tidak pernah menemukan kebaikan atau hal yang positif yang terjadi dalam kehidupan. Walaupun realitas itu baik, selalu ada celah yang ia dapatkan untuk selalu berpikir tidak baik. Ia suka menaruh curiga dan prasangka terhadap orang lain. Ia tidak mau belajar dari pengalaman kehidupannya. Ia selalu merasa diri paling benar dan tidak menganggap orang lain yang ada di sekitarnya.

 

Media sosial kita kerap dibanjiri dengan dengan sikap nyinyir (cerewet), merendahkan dan bullying (menindas). Ada orang atau sekelompok orang yang suka memposting kata-kata berupa status dan komentar yang tidak baik tentang suatu realitas sosial atau menyangkut pribadi orang tertentu. Mereka cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif sehingga sangat gampang membuat klaim atau vonis yang buruk. Mirisnya, apa yang mereka sampaikan atau ungkapkan tidak berdasarkan basis data yang obyektif dan akurat. Tingkat pengetahuan atau pemahaman mereka tentang suatu hal mungkin masih minim atau sama sekalih tidak ada. Namun, apa yang mereka posting di media sosial seolah-olah sangat benar sehingga bisa mengundang simpati dan empati publik.

 

Tidak jarang, pelbagai status dan komentar demikian, memicu friksi atau keterbelahan di tengah situasi konkrit masyarakat. Muncul sikap pro dan kontra. Masyarakat terpecah dalam kubu-kubu tertentu. Nilai persatuan dan persaudaraan kita sebagai sesama manusia mengalami ancaman serius. Di tengah berbagai upaya pemerintah untuk menanggulangi badai pandemi Covid-19 misalnya, ternyata ada sikap atau perilaku dari kelompok orang tertentu untuk mulai mencari-cari kelemahan dan kesalahan pemerintah. Narasi sesat pun mulai dibangun untuk menurunkan pemerintahan yang sah. Contoh kasus ini, memberi gambaran bahwa orang sangat gampang menunjukkan karakter lalat dalam kehidupannya. Di sisi yang lain, terasa cukup sulit untuk membangun karakter lebah dalam pribadi seseorang.

 

Menarik kita menyimak kata-kata Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini (Mat 13:16-17). Dengan tegas Yesus berkata: “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat 13:16). Ada dua hal yang bisa kita telusuri dari pernyataan Yesus ini. Pertama, Yesus memberi apresiasi kepada para murid-Nya (termasuk juga orang lain yang hadir) yang telah mampu melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang baik dari Diri-Nya. Dari setiap sabda dan tindakan mukjizat Yesus, para murid menjadi percaya dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Karena telah melihat dan mendengar sesuatu yang baik dari Yesus, maka para murid mulai belajar untuk menjadi seorang pewarta yang baik. Mereka tidak menyebarkan hoax atau berita bohong melainkan berita nyata dan gembira yang mempresentasikan kehadiran kerajaan Allah di tengah dunia. Kedua, Yesus menyindir dan mengkritik perilaku orang-orang yang merasa diri paling hebat dan benar. Orang-orang ini tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan warta keselamatan ilahi yang dikumandangkan oleh Yesus. Hati dan pikiran mereka telah menjadi keras sehingga mulai muncul sikap nyinyir dan tidak menganggap Yesus. Malahan mereka mulai mencari-cari kesalahan untuk menjerat-Nya.

 

Sikap yang ditunjukkan oleh para murid dan orang yang percaya kepada Yesus adalah sikap atau perilaku orang yang mampu melihat dan berpikir positif dalam hidupnya. Dalam pribadi mereka ada karakter lebah karena mereka bisa berpikir dan merasakan segala kebaikan dan keharuman yang terjadi dalam hidup. Dan sumber kebaikan dan keharuman dalam hidup mereka adalah Yesus sendiri. Mereka belajar dari Yesus untuk menjadi pribadi yang baik dan benar. Pribadi yang selalu mengarahkan hati, pikiran dan tindakannya kepada Allah. Aktualisasi diri mereka adalah menjadi murid Yesus yang sejati dan militan. Seorang murid yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam kata-kata dan tindakan konkrit. Sebaliknya orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan kepada Yesus adalah orang-orang dengan karakter lalat. Mereka hanya melihat hal yang tidak baik dari Yesus, karena mereka merasa diri paling baik dan benar. 

 

Hari ini, saya dan anda terinspirasi untuk memiliki karakter lebah dalam hidup. Karakter yang suka akan kebaikan, keharuman dan keindahan hidup. Karakter yang bersumber dari Sang Guru Ilahi, yakni Yesus Kristus. Kita semua mau belajar tentang kebaikan hidup dari setiap peristiwa hidup yang kita alami. Baik itu peristiwa yang positif maupun yang negatif. Semoga kita dapat menarik hal yang baik terutama dalam setiap hal atau situasi yang pahit dan tidak mengenakan. Kita belajar menjadi pribadi yang matang dan bijak dalam kehidupan. Sehingga apa yang kita hasilkan dari dalam diri adalah hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Dan bukan sebaliknya membawa kita kepada kesesatan berpikir dan bertindak. Dengan demikian, apa yang kita lakukan adalah bagian penting dari cara kita menghidupi jati diri sebagai seorang murid Yesus yang sejati. Dalam semangat St. Yoakim dan Sta. Ana yang pestanya kita rayakan pada hari ini, mari kita selalu menjadi pribadi yang baik dengan menjadi mitra Allah dalam tugas dan karya kita di tengah dunia. Kita mampu membawa perubahan yang baik terutama dengan menyebarkan informasi dan motivasi yang baik dan benar kepada semua orang. Amin. ***AKD***

Rabu, 14 Juli 2021

Hakikat Kerendahan Hati

Mat 11:25-27

 

Arki Sudito dalam artikelnya, “4 Manfaat Kerendahan Hati”, (Kompas.com), menjelaskan kerendahan hati sebagai sikap atau perasaan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan khusus yang membuat dirinya lebih baik atau lebih unggul daripada orang lain. Sepintas kita memahami bahwa sikap kerendahan hati cenderung membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang memiliki kualitas yang negatif. Kualitas pribadi yang tidak memiliki kepercayaan diri dan mentalitas yang kokoh. Pada kenyataannya, sikap kerendahan hati memungkinkan manusia untuk selalu bersikap terbuka, menyadari keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, ia akan terus memotivasi dirinya untuk mau belajar dan berkembang dari waktu ke waktu.

 

Menurut Arki Sudito, ada empat manfaat dari sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh manusia. Pertama, dengan kerendahan hati, kita akan mampu memiliki pola pikir yang berkembang. Manusia dengan pola pikir yang berkembang akan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki dirinya. Ia akan terbuka menerima kritik dan masukan dari orang lain sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Kedua, memiliki kerendahan hati memungkinkan manusia untuk memberikan makna terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, baik peristiwa yang positif maupun negatif. Peristiwa positif yang dialami mengalirkan energi positif dalam diri manusia untuk terus berkembang.

 

Begitu pula dengan adanya pengalaman negatif, tidak serta merta melemahkan jati diri manusia. Melainkan menciptakan sikap sabar dan tidak cepat putus asa. Pengalaman negatif akan menginspirasi manusia untuk bangkit dan terus maju. Ketiga, memiliki kerendahan hati akan mendorong kreativitas kita dalam menjalani hidup. Kerendahan hati akan membuka begitu banyak kemungkinan dan pilihan dalam hidup. Saat inilah, kreativitas manusia akan terdorong untuk bekerja dengan lebih baik dan efektif. Keempat, kerendahan hati membantu kita untuk menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan memiliki kerendahan hati, seseorang dapat berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia hanya fokus memperhatikan dan mengembangkan dirinya sendiri demi menemukan dan mencapai tujuan dalam hidupnya yang sebenarnya.

 

Sikap kerendahan hati dimiliki secara penuh oleh para murid Yesus. Dalam bacaan Injil pada hari ini, secara implisit dalam ucapan syukur-Nya, Yesus memuji sikap kerendahan hati dari para rasul. Indikatornya jelas. Para murid Yesus tidak merasa diri paling hebat dan pintar. Mereka mau mengikuti Yesus dan menyerahkan diri secara total dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Mereka mau mendengar setiap sabda-Nya. Mereka melihat dengan jelas setiap aksi mukjizat-Nya. Dan yang lebih penting adalah para murid mau belajar untuk berkembang dalam kuasa ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Terminologi “orang kecil” yang diungkapkan oleh Yesus, bukan mau mengungkapkan kekecilan diri, kemiskinan dan ketidakberdayaan pribadi para murid. Frase orang kecil mengafirmasi sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh para rasul, karena mereka mau bersikap terbuka, mau belajar untuk menjadi lebih baik dalam bimbingan kuasa ilahi Allah.

 

Sebaliknya, sikap sombong atau arogan, sebagai lawan dari sikap rendah hati, dipertontonkan oleh para pemuka agama di masa Yesus. Mereka merasa diri lebih pintar dan hebat karena memiliki pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan orang lain. Keunggulan dalam bidang pengetahuan inilah yang membentuk pribadi mereka menjadi pribadi yang arogan dan anti kritik. Mereka selalu merasa diri benar dan mengklaim diri sebagai sumber kebenaran. Mereka tidak pernah merasa diri salah, dan selalu menolak untuk dikritik. Bahkan tidak segan-segan, mereka melawan para pengkritiknya dengan sikap represif. Termasuk yang dialami oleh Yesus. Yesus menjadi korban dari arogansi para elit agama, yang merasa diri paling pintar dan hebat.

 

Arogansi diri para elit agama di masa Yesus, menjadi cerminan dari sikap kita sebagai orang beragama di era ini. Kita acapkali merasa diri paling benar dalam setiap tutur kata dan tindakan. Walaupun apa yang kita sampaikan dan lakukan, belum tentu memiliki nilai kebenaran. Fatalnya, kita memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kita sampaikan atau lakukan. Kita juga merasa tersinggung, kecewa dan marah kalau ada orang tidak mau mengikuti apa yang telah kita buat. Kita lebih marah dan kecewa saat ada orang memberi kritik atau saran yang konstruktif demi perbaikan diri. Kita tidak bisa melakukan introspeksi diri atau otokritik karena yang tertanam dalam pribadi adalah sikap sombong dan merasa diri paling pintar atau hebat.

 

Hari ini kita mau belajar dari para murid untuk menjadi orang kecil. Kita bukan mau menjadi pribadi yang lemah, tertindas dan tidak berdaya. Kita mau menjadi pribadi yang rendah hati. Pribadi yang mau belajar dari setiap pengalaman. Terutama pengalaman tentang kegagalan dan keterpurukan hidup. Kita mau belajar untuk bangkit dan berkembang. Tidak mudah putus asa, memiliki kesabaran dan mentalitas diri yang tangguh. Kita mau belajar dari orang lain. Dan bukan menaruh iri hati terhadap mereka. Kita siap dikritik demi perbaikan dan pengembangan diri yang lebih baik. Di atas semua itu, kita dididik untuk memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita mau datang ke hadapan-Nya karena kita mau belajar menjadi pribadi yang kokoh dalam iman. Pribadi yang tidak mudah goyah dan putus asa dalam menghadapi badai pandemi Covid-19. Kita tetap memiliki optimisme diri karena kita yakin Tuhan sementara mendesain hidup yang lebih baik di balik terpaan badai Covid-19. Mari kita selalu menanamkan sikap rendah hati dalam hidup di tengah dunia. Amin. ***AKD***


Minggu, 04 Juli 2021

Menemukan Idola Hidup Yang Sesungguhnya

Mat 9:18-26

 

Setiap kita pasti mempunyai tokoh idola. Tokoh yang kita sukai, kita senangi, dan kita banggakan. Selain itu, tokoh idola dapat memberi inspirasi dan keteladanan yang baik dalam hidup kita. Banyak orang memiliki niat atau motivasi yang berbeda-beda dari tokoh idola yang dimiliki. Ada yang mungkin hanya sekedar melihat penampilan fisiknya. Ada yang mungkin mengagumi keunggulan intelektual dan cara berkomunikasi yang mumpuni dari sang tokoh idola. Dan ada yang mungkin merasa terpanggil untuk mengikuti cara hidup sang tokoh idola yang baik dan penuh keteladanan.

 

Yesus telah menjadi tokoh idola bagi orang. Banyak orang datang dari berbagai daerah dan mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi. Namun orang banyak mengikuti Yesus, mempunyai niat dan motivasi yang berbeda-beda pula. Ada yang datang karena merasa heran dengan aksi mukjizat yang telah dilakukan-Nya. Ada juga yang merasa kagum dengan kebijaksanaan dan cara berbicara-Nya yang luar biasa. Rasa penasaran telah mendorong mereka untuk terus mengikuti dan menikmati apa yang hendak dikatakan dan dilakukan-Nya.

 

Dari sekian banyak orang yang mengikuti Yesus, sangat jarang orang memiliki niat atau motivasi karena iman. Dalam bacaan hari ini (Mat 9:18-26), dibentangkan dua sikap orang yang memiliki iman yang kokoh kepada Yesus. Pertama, seorang kepala rumah ibadat yang baru saja kehilangan anak perempuannya karena meninggal dunia. Kedua, seorang perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun. Bagi kedua orang ini, tidak ada yang mustahil karena mengikuti Yesus dengan iman. Mereka percaya bahwa apa yang menjadi harapan dan cita-cita pasti akan terwujud dalam nama Yesus.

 

Kepada rumah ibadat sudah mengetahui bahwa anaknya telah meninggal dunia. Dan dapat dipastikan bahwa tidak ada peluang lagi bagi anaknya untuk hidup lagi. Ia juga seorang tokoh agama yang pasti mengetahui seluk beluk ajaran agamanya dengan sangat baik. Sehingga, ia tidak gampang terpengaruh dengan orang lain. Namun karena imannya yang kuat kepada Yesus, ia bertindak melampaui segala keyakinan pribadi dan prestise hidup yang dimiliki sebagai seorang tokoh agama. Berkat imannya kepada Yesus, anaknya menjadi hidup kembali.

 

Dan seorang perempuan yang telah mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun adalah seorang yang berani dan nekat. Ia tidak malu-malu mendekati Yesus dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Ia sangat percaya, aksinya itu akan mendatangkan keselamatan dalam hidupnya. Walaupun dilakukan secara diam-diam, pada akhirnya Yesus memuji aksi perempuan itu. “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Karena imannya kepada Yesus, ia pun dibebaskan dari sakit pendarahan.

Dewasa ini, banyak orang Katolik tidak lagi mengidolakan Yesus dalam hidupnya. Ruang-ruang hati mereka telah diisi oleh model atau gaya hidup baru yang lebih membawa kesenangan dan kenikmatan duniawi. Orang lebih mengidolakan uang dan materi lainnya. Dan orang lebih suka berperilaku hedonis. Gaya hidup yang memprioritaskan kesenangan dan kenikmatan. Dengan dua kecenderungan yang telah menjadi idola hidup, manusia semakin diseret untuk semakin menjauhi idola hidupnya yang paling benar yakni Yesus Kristus.

 

Dua idola hidup duniawi yakni materialisme dan hedonisme telah menginvasi hidup manusia, termasuk orang Katolik. Manusia dituntut untuk bekerja lebih keras demi mendapatkan materi. Bahkan seringkali dengan cara-cara kotor dan sesat seperti mencuri, merampok, dan korupsi. Pada akhirnya, semua materi ini pasti bersinggungan dengan gaya hidup hedonis. Manusia memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk pesta pora, mabuk-mabukkan, judi, dan kesenangan lainnya.

 

Badai Covid-19 yang masih melanda negeri dan wilayah kita menyiratkan pesan yang sangat mendalam. Pandemi Covid-19 sebenarnya sementara menguji dan menantang kadar keimanan kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk menepi dan berdiam dalam kesendirian untuk mencari Tuhan dan kembali membangun relasi pribadi yang lebih akrab dengan-Nya. Mungkin sebelum badai ini datang, kita lebih sibuk untuk mengejar materi dan berperilaku hedonis. Dan kita entah sengaja atau tidak melupakan Dia yang telah menjadikan kita di atas dunia ini. Ketika kita sudah berada dalam pusaran badai ini, kita diarahkan untuk kembali kepada idola hidup yang sejati yakni Allah dan Yesus Kristus.

 

Melihat realitas hidup yang terjadi belakangan ini, jujur harus kita akui bahwa masih banyak orang Katolik yang belum kembali kepada idola hidup mereka yang sebenarnya. Ketika diberi ruang untuk menyelenggarakan pesta iman (permandian, komuni suci, dan perkawinan), banyak orang Katolik yang merayakannya dengan mengundang banyak orang dan membuat resepsi yang besar. Tentu saja dengan anggaran yang tidak sedikit pula. Walaupun sudah dibatasi dengan aturan atau protocol kesehatan, tetapi ada saja celah yang dipakai oleh manusia untuk memuluskan apa yang menjadi harapan dan keinginannya. Dalam hal ini, manusia masih mengidolakan pola hidup materialistis dan hedonis sehingga tidak akan mudah melepas atau meninggalkannya.

 

Hari ini, sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk menemukan kembali idola hidup yang yang paling sejati yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Kita kembali kepada hakekat Dwitunggal oleh karena iman, dan bukan karena kepentingan yang lain. Kita mau membangun relasi yang lebih intim dengan Dia, karena kita yakin dalam iman, kita pasti mendapatkan kebaikan. Terutama dalam badai Covid-19, kita semua akan dikuatkan dan diberi keselamatan. Di atas semua itu, sebagai orang Katolik, kita akan semakin dicerahkan untuk berperilaku sebagai orang yang sungguh-sungguh Katolik. Kita mau meninggalkan idola hidup lama yang tidak benar, dan kembali kepada idola hidup kita yang paling hakiki. Amin. ***AKD***


Rabu, 30 Juni 2021

IMAN HARUS LAHIR DARI PERGUMULAN PRIBADI

MAT 16:13-19

 

Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan pesta St. Petrus dan Paulus Rasul. Sejak permulaan, Gereja merayakan Pesta Santo Petrus dan Paulus secara bersamaan karena keduanya merupakan tokoh penting dalam sejarah Gereja Katolik. Petrus adalah putra seorang nelayan dari kampung Betsaida di tepi danau Genasareth. Dia tidak berpendidikan karena pekerjaan pokoknya adalah nelayan, tetapi merupakan orang kepercayaan Yesus. Sementara itu, Paulus lahir di Tarsus dari keturunan Yahudi tetapi warga negara Romawi. Dia seorang terdidik dan belajar Kitab Suci pada Gamaliel. Sebagai seorang Farisi yang fanatik, dia selalu mengejar pengikut-pengikut Kristus dan menganiaya mereka. Dalam perjalanannya ke Damaskus, Yesus memanggilnya dan menjadi rasul bagi bangsa kafir. Baik Petrus maupun Paulus mengalami banyak sekali penderitaan, penganiayaan dan ancaman mati karena mengikuti Yesus Kristus. Keduanya mati sebagai martir karena iman akan Yesus Kristus. Pertanyaan reflektif bagi kita masing-masing: sejauhmana tanggapan imanku akan Yesus?

 

            Berbicara tentang arti sebuah kesetiaan, maka pada saat yang bersamaan kita wajib melakukan introspeksi diri terhadap pergumulan hidup iman kita secara pribadi. Mengapa? Karena iman itu bukan soal gosip atau apa kata orang dan iman pun tidak ada begitu saja meniadakan proses. Iman itu menyangkut hakekat hidup seseorang yang perlu dibangun dalam diri bukan berdasarkan cerita atau bahan gosip jalanan/murahan. Jika iman adalah hakikat hidup setiap orang maka jawaban iman itu harus lahir dari pergumulan hidup nyata kita.

            Injil yang baru saja kita dengar tadi dimana Yesus ingin mengetahui seberapa besar iman dan kepercayaan para murid-Nya kepada Dia sebagai Guru dan Tuhan. Maka Ia bertanya:”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Bagi Yesus, orang kebanyakan boleh saja berpendapat tentang siapakah Dia tetapi sebagai murid-Nya, Yesus ingin mengetahui seberapa jauh iman para murid tentang Dia. Pertanyaan Yesus ini penting agar kita sebagai murid-muridNya dapat mengukur kedalaman iman kita berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Gereja dan pergumulan pribadi dalam terang Sabda Tuhan. Iman memang mesti lahir dari pergumulan pribadi bukan berdasarkan “apa kata orang”. Para murid dituntut untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Yesus, “siapakah Aku ini?”. Jawaban para murid adalah ukuran kedalaman iman mereka akan Yesus. Kebersamaan hidup para murid dengan Yesus bukanlah jaminan pasti bahwa pengenalan dan pengakuan akan diri Yesus dapat diketahui dengan pasti. Untuk menggali informasi tentang diri-Nya, Yesus menggunakan metode deduktif dimana pertanyaannya bersifat umum-khusus. (apa kata orang pada umumnya tentang Dia dan apa kata para murid-Nya tentang keberadaannya). Terlihat jelas dari jawaban-jawaban mereka ketika Yesus bertanya: “Siapakah Putra Manusia itu menurut pendapat orang?” Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan   Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Jawaban-jawaban tersebut mau menunjukkan kegagalan mereka dalam memahami pribadi Yesus, mereka seolah orang baru yang belum pernah menyaksikan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Yesus seolah menggiring para murid-Nya untuk mengetahui kedalaman iman para murid. Dia mengingkan jawaban yang jujur dari kedalaman hati mereka, bukan kata orang tentang diri-Nya. Oleh karena itu, ia mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik kepada murid-Nya bukan untuk mencobai mereka tetapi untuk mengetahui sejauh mana iman mereka akan Dia.Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Terhadap pertanyaan ini, Simon Petrus oleh dorongan Roh Kudus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Putera Allah yang hidup!” Jawaban jitu dari seorang rasul yang tidak berpendidikan namun memiliki refleksi iman yang mendalam. Kepada Petrus, Yesus memberikan kunci Kerajaan Surga kepadanya. Ternyata orang yang dianggap bodoh dan sederhana, mampu mengetahui rahasia dan misteri kerajaan surga.

 

            Iman dan kepercayaan kita kepada Yesus adalah faktor terpenting yang dituntut dari seseorang yang telah dibaptis dan yang telah dikukuhkan menjadi anggota Gereja dan anak-anak Allah. Sabda Tuhan hari ini mesti meneguhkan iman kita untuk selalu memberi jawaban atas iman kita dalam kesaksian hidup yang benar bahwa “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup”. Petrus berdasarkan dorongan Roh Kudus memberi jawaban yang tepat tentang siapakah Yesus. Jawaban Petrus ini harus menjadi jawaban kita masing-masing dalam pergumulan hidup setiap hari bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Jawaban ini akan membantu kita dalam menampilkan kemuridan kita sebagai pembawa hidup bagi sesama yang membutuhkan uluran kasih, jamahan tangan dan kemurahan hati kita di saat sesama kita meminta pertolongan dan bantuan kita. Kesempatan hari ini adalah kesempatan emas yang tak akan terulang kedua kalinya bagi kita untuk menebarkan kasih dan berkat bagi sesama yang membutuhkan senyum dan ketulusan hati kita dalam menolong mereka teristimewa bagi mereka yang sakit, miskin dan yang terpinggirkan.

 

            Bertepatan dengan pesta St. Petrus dan Paulus yang kita rayakan hari ini menginspirasi hidup iman kita agar lebih militan dalam memberikan kesaksian hidup yang lebih nyata dan aktual. St. Petrus dan Paulus mati sebagai martir karena iman mereka akan Yesus. Pilihan hidup mereka dalam mengikuti Yesus jauh lebih ekstrim, namun kita sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati di jaman ini, kemartiran tidak selalu berarti mengorbankan nyawa karena iman akan Kristus. Kemartiran dalam perspektif yang lebih luas berarti mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi demi menghayati nilai-nilai Injili. Semoga berkat doa kedua rasul agung kita hari ini, memotivasi kita sekalian untuk mengikuti Yesus secara konsekuen tanpa paksaan dan tekanan dari pihak mana pun.***BW***

Selasa, 22 Juni 2021

Menjadi Pohon Yang Baik

                                                                            Mat 7:15-20

Salah satu fenomena yang sering terjadi dan akan terus terjadi di tengah kehidupan kita adalah semakin maraknya orang berpindah keyakinan atau agama. Memang menganut agama atau kepercayaan tertentu adalah sebuah hak asasi yang dasariah. Tidak dapat diganggu gugat. Termasuk di dalamnya, orang bebas memilih untuk berpindah dan memeluk agama dan kepercayaan sesuai dengan pilihan hatinya. Namun, dalam banyak kasus yang terjadi, ada orang Katolik yang berpindah keyakinannya karena ada kepentingan dan kompensasi yang didapatkan. Kalau misalnya, orang berpindah keyakinan karena alasan perkawinan, mau mengikuti keyakinan pasangannya, saya kira masih dalam taraf normal. Tidak ada masalah. Masih bisa diterima oleh akal sehat. Yang menjadi masalah dan tidak bisa diterima oleh publik adalah ketika orang mau berpindah keyakinan karena ada tawaran uang, materi, pekerjaan, jabatan, dan kemudahan atau fasilitas lain yang mentereng.

 

Dan kasus ini, walaupun masih sangat terselubung, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Paling sering terjadi. Ada segelintir orang atau kelompok yang berasal dari aliran keagamaan tertentu, yang getol mencari jemaat baru dengan cara-cara murahan dan sesat seperti ini. Mereka sangat jeli membaca situasi sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya, mereka membaca peluang ini. Dengan mudahnya mereka masuk dan memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan umat. Bantuan akan terus diberikan sehingga menyebabkan rasa simpati yang mendalam dari umat. Dalam situasi kebatinan umat seperti ini, orang-orang yang berasal dari kelompok atau aliran agama tertentu, mulai memainkan aksi mereka yang sebenarnya. Mereka menawarkan visi-misi aliran keagamaannya, dan mengajak umat lain untuk bergabung. Tanpa berpikir dua kali, umat kita pasti dengan senang hati mau bergabung. Yang ada dalam kepala umat adalah problem dan beban keluarga teratasi. Soal agama dan Tuhan, itu nomor dua. Toh, semua agama mengajarkan tentang Tuhan. Jadi sama saja, entah mau memeluk agama apa sesuai dengan selera, yang penting ia merasakan peningkatan dan kesejahteraan dalam hidupnya.

 

Ternyata jauh sebelumnya, Yesus sudah mewanti-wanti akan kedatangan para nabi palsu yang mengenakan jubah agama. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). Model para nabi palsu ini tidak jauh beda dengan nabi yang asli. Kelihatan seperti asli, tetapi sesungguhnya tidak asli. Pernak-pernik dan atribut keagamaan yang dikenakan hanya sebatas tampilan. Tawaran kebaikan dan kenikmatan juga hanya sebagai modus untuk memuluskan tujuan yang ingin digapai. Mereka hadir di momen yang tepat. Di saat umat terlena akan pesona kebaikan dan tampilan fisik religius yang dimiliki. Melalui para pemimpin agama kala itulah, secara samar Yesus memberikan contoh, bagaimana mereka memperlakukan umat hanya demi meraup keuntungan secara pribadi dan kelompok. Umat hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk menaikan citra diri, mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dan mendongkrak posisi tawar mereka secara politis di mata bangsa penjajah, Romawi.

 

Nabi-nabi palsu tersebut akan tetap hadir sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Walaupun mereka hadir di zaman yang berbeda dengan aneka modus, tetapi niat atau urgensinya tetap sama. Salah satu contohnya seperti yang digambarkan pada bagian awal di atas. Ada target untuk menambah atau menaikan populasi jemaat dengan cara-cara yang tidak fair. Mereka mengabaikan nilai yang paling utama yakni soal kemurnian dan panggilan hati untuk menjawab bisikan ilahi Tuhan. Secara social dan ekonomi, mereka juga mendapatkan keuntungan. Mereka akan dikenal sebagai tokoh hebat minimal secara internal di dalam kelompok atau aliran mereka. Apresiasi terhadap kerja keras dan nyata juga pasti mereka dapatkan dalam bentuk uang dan materi yang lain.

 

Contoh lain yang bisa diangkat adalah munculnya para “nabi” dadakan pada musim politik. Baik musim pilpres untuk memilih presiden maupun pilkada untuk memilih gubernur, walikota, dan bupati. Mereka adalah para politisi yang menampilkan diri seperti para nabi. Ada banyak orang baik dan suci yang mendatangi masyarakat secara pribadi dan kelompok untuk menawarkan kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan hidup secara cuma-cuma. Mereka juga hadir dengan tangan tidak hampa. Ada banyak uang dan materi yang dibagi-bagikan demi mendapat simpati dan pilihan pada saat hari “H”. Sayang seribu sayang, ketika sudah memimpin atau berada pada posisi yang diingikannnya, ada kecenderungan yang sangat kuat untuk tidak lagi mendengarkan, memperhatikan, dan mewujudnyatakan apa yanga sudah dicanangkan untuk membawa perbaikan dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat. Orang-orang model ini, yang dikategorikan Yesus sebagai nabi-nabi palsu yang harus dihindari.

 

Yesus mengajarkan supaya kita harus menjadi pohon yang baik. Pohon yang baik bersumber dari pokok atau akar yang baik pula. Pohon yang baik bertumpu dan mengais sumber makanan yang bergizi dari pokok atau akar. Dan sang pokok yang menjadi sumber kehidupan kita adalah Tuhan sendiri. Tidak ada pokok lain yang kuat dan hebat seperti Dia. Dari Tuhanlah, kita menimba sumber energi yang menghidupkan dan menyegarkan agar bisa menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan. Contoh-contoh buah yang baik adalah kita mampu menolak segala tawaran yang menggiurkan untuk dapat berpindah kepada keyakinan atau kepercayaan tertentu yang sangat asing dalam pemahaman kita. Kita tidak boleh menggadaikan Tuhan yang kita imani seperti Yudas yang lebih mencintai uang dan barang. Kita juga mampu bersikap kritis terhadap orang-orang yang belum teruji dan terbukti baik rekam jejaknya. Orang-orang ini biasanya sangat suka menghamburkan materi dan berpura-pura baik untuk mendapatkan keuntungan secara social dan politik.

 

Kita bisa menjadi pohon yang baik dengan cara semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dalam doa dan mendengarkan firman-Nya. Dengan cara demikian, kita akan menghasilkan buah yang baik dalam setiap napas kehidupan. Kita tidak hanya memiliki iman yang kokoh kepada Tuhan. Kita juga mampu mendaratkan iman itu dalam setiap pengalaman, tugas, dan pengabdian dengan menjadi orang Katolik yang sungguh-sungguh Katolik. ***AKD***