Minggu, 13 Februari 2022

Menjaga Kehalalan Diri

 

Mrk 7:14-23

 

Pernah suatu saat, saya diberi beberapa buah mangga yang hampir masak. Dari kulit luar tampak warna merah kekuning-kuningan. Saya sangat yakin buah ini sangat gurih dan nikmat. Ketika sampai di rumah, saya buru-buru mengupas buah mangga itu. Tanpa berpikir panjang saya langsung melahap satu irisan yang cukup besar. Tak disangka, rasanya sangat asam. Gigi saya terasa ngilu, rasanya mau copot; akibat efek dari buah mangga yang asam. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, ini buah makan jenis apa. Dari kulit luar kelihatan sangat menarik. Tetapi isi dalamnya, sangat mengecewakan. Ternyata setelah saya mendengar informasi dari orang yang cukup ahli dalam dunia buah-buahan, memang ada jenis mangga tertentu yang tampak sudah masak dari kulit luar. Padahal sebenarnya, isinya belum masak. Butuh waktu yang cukup agar buah mangga itu benar-benar masak saat dipetik dari pohonnya.

Ilustrasi sederhana tentang buah mangga di atas, mengingatkan saya akan teks Injil pada hari ini (Mrk 7:14-23). Yesus mengkritik perilaku orang-orang, terutama para elit agama, yang memainkan kesalehen palsu dalam hidup. Dari tampang kelihatan kudus, tetapi hati mereka penuh kebusukan. Mereka sangat mengutamakan hal-hal lahiriah seperti kewajiban melakukan ritus dan tradisi serta menjauhi segala larangan atau pantangan. Misalnya kewajiban untuk menaati prosedur ketika hendak makan. Atau sampai kepada larangan untuk makan makanan tertentu yang najis (tidak halal). Namun mereka tidak memiliki hati yang bersih untuk sungguh-sungguh melaksanakan kehendak Allah. Secara fisik, kelihatan mereka sangat dekat dengan Allah, padahal hati mereka sangat jauh dari Allah.

Yesus sebenarnya tidak mempermasahkan segala aturan yang berkaitan dengan kewajiban dan larangan dalam agama. Kewajiban dan larangan yang tertulis dalam Kitab Suci dan tradisi itu baik adanya. Kehadiran dan pemberlakuannya sebagai sarana untuk mendekatkan relasi antara manusia dengan Tuhan. Namun, fakta yang terjadi sangat kontras. Orang-orang, terkhusus para elit agama kala itu, gagal menimba spirit yang paling fundamental dari segala aturan dan tradisi tersebut. Pelaksanaan kewajiban dan larangan dalam agama harus diseimbangkan dengan implementasi nilai-nilai kemanusiaan yang memanusiakan manusia. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang muncul dari dalam hati, itulah yang harus diperjuangkan dan dimenangkan dalam hidup. Bukan fokus pada pelaksanaan segala aturan dan kewajiban agama semata.

Secara eksplisit Yesus mengatakan: “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mr 7:14). Sekilas kita memahami bahwa Yesus melegalkan segala jenis makanan yang dimakan oleh umat saat itu. Namun pada prinsipnya, Yesus tidak melarang hal itu. Hukum, aturan, dan tradisi tetap berjalan sesuai dengan porsinya. Dan orang-orang wajib untuk menaatinya. Yang menjadi problem nyata adalah membiasnya sikap palsu dalam hidup keagamaan. Karena dari dalam hati tetap timbul hal-hal yang destruktif. Kitab suci mencatat, hal-hal yang destruktif terekspose dalam pikiran yang jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kekebalan.

Menurut Yesus, sejatinya hal-hal destruktif demikian yang seharusnya dikategorikan ke dalam sikap dan perbuatan yang najis. Karena tanpa atau dengan sengaja, orang-orang telah membiarkan dirinya untuk berseberangan dengan kehendak Allah sendiri. Dengan kata lain, orang-orang telah menajiskan dirinya dengan perbuatan yang tidak benar di hadapan Allah. Jikalau benar orang-orang telah mencemarkan atau menajiskan dirinya dengan hal-hal yang tidak baik dan benar, apa untungnya mereka mengikuti bahkan turut mengkampanyekan ritus-ritus lahiriah yang tertulis rapih dalam kitab suci dan tradisi suci? Tidak mengherankan, mereka ingin mencari keuntungan, entah secara pribadi atau kelompok. Mereka ingin dilabeli sebagal orang-orang suci. Mereka ingin mendapatkan keuntungan secara sosial dan politik. Bahkan juga mendapat keuntungan secara ekonomi. Kalkulasinya jelas. Mereka akan mendapat simpati publik, disegani, dihormati, diberi kekayaan, dan prestise atau pamor diri di muka publik akan terdongrak.

Hari ini, kita semua diingatkan oleh Yesus akan dua hal. Pertama, penting bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan antara ketaatan pada ritus dan tradisi keagamaan di satu sisi, dan ketaatan untuk mengamalkan kasih dan kebenaran Allah di lain pihak. Sebagai orang Katolik, kita tetap memenuhi kewajiban agama untuk pergi ke gereja pada hari Minggu, berdoa secara pribadi di rumah, atau berdoa secara kolektif di KBG atau lingkungan. Aspek ini akan mendapat kepenuhannya apabila kita sungguh-sungguh menjaga hati dan pikiran untuk tetap berpikir dan melaksanakan hal-hal yang positif sesuai dengan kehendak Allah. Kedua, hal prinsip yang ditegaskan oleh Yesus adalah soal najis atau haram. Bahwa yang membuat seseorang itu terperosok menjadi pribadi najis atau haram itu bukan terletak pada soal makanan atau minuman yang masuk dalam tubuh, melainkan terdeteksi melalui pikiran dan perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Mari kita senantiasa menjaga kehalalan diri kita dengan berpikir dan berbuat yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Jangan Takut Berbuat Baik dan Benar

 

Mrk 4:1-20

 

Suatu hari, ada anak seorang lelaki miskin, penjual asongan dari pintu ke pintu, tidak memiliki uang untuk membeli makanan dan minuman. Dia sangat lelah dan lapar. Akhirnya dia memutuskan untuk meminta makanan di rumah berikutnya. Akan tetapi, anak tersebut kehilangan keberanian. Pada saat yang hampir bersamaan, seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan. Dia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak laki-laki itu pasti lapar. Oleh karena itu dia membawakan segelas susu. Dan anak lelaki tersebut meminumnya dengan perlahan. Kemudian dia bertanya: “Berapa aku harus membayar untuk segelas susu ini?” Wanita itu menjawab: “Kamu tidak perlu bayar apa pun. Agama saya mengajarkan untuk jangan menerima bayaran untuk sebuah kebaikan”. Kemudian anak laki-laki itu menghabiskan susunya. Ia berkata: “Terima kasih atas kebaikan ibu. Semoga Allah membalas kebaikan yang tulus ini dengan berlipat ganda”. “Sama-sama. Kita saling mendoakan. Kamu juga harus jadi orang sukses”, wanita itu menimpali.

 

Sekian tahun berlalu ternyata wanita baik tersebut mengalami sakit jantung yang serius. Para dokter ahli di kotanya sudah tidak sanggup menangani penyakitnya. Akhirnya, wanita itu dirujuk ke Jakarta untuk bisa ditangani oleh dokter ahli spesialis jantung yang lebih berpengalaman. Singkat cerita, sang dokter ahli spesialis jantung dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Ketika membaca profil wanita yang menjadi pasiennya, sontak dokter itu sedikit kaget. Rupanya wanita itu sekampung dengannya. Terbersit dalam pikirannya, bayangan seorang wanita mulia yang pernah menolongnya. Segera beliau bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit menuju kamar rawat wanita itu.Dengan berpakaian jubah kedokteran, dia menemui wanita itu. Akhirnya, sang dokter pun langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang. Sejak hari itu, dia selalu memberikan perhatian khusus untuk wanita tersebut. Setelah melalui proses perjuangan yang panjang, akhirnya penyakit wanita itu dapat diatasi. Wanita itu pun dinyatakan sembuh dari penyakitnya.

 

Kemudian, sang dokter ahli meminta bagian administrasi rumah sakit agar mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan wanita itu kepadanya. Dokter melihat biaya tagihan dan menulis sesuatu pada pojok di atas lembaran tagihan tersebut. Lalu dia mengirimkannya ke kamar pasien wanita itu. Saat menerima resep tagihan, sang wanita sangat gelisah. Ia kuatir tidak bisa membayar biaya yang tercantum di dalamnya, sekali pun harus dicicil seumur hidup. Namun dia memberanikan diri untuk membuka tagihan itu. Ternyata pada pojok atas lembar tagihan itu ada tertera tulisan “Telah Dibayar Lunas Dengan Segelas Susu. Tertanda Dokter Spesialis Jantung”. Air mata kebahagiaan menbanjiri mata wanita itu. Anda tahu siapa dokter spesialis jantung itu? Dia adalah anak penjual asongan yang pernah diberi segelas susu oleh sang wanita.

 

Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9) membentangkan kisah penunjukkan 70 murid oleh Yesus. Mereka akan disebarkan ke daerah-daerah misi untuk mewartakan Sabda Tuhan. Hal yang menjadi perhatian adalah sebelum pergi untuk menjalani misi perutusan, mereka diberi semacam pembekalan atau penguatan khusus. Yesus mewanti-wanti para murid tentang situasi atau keadaan daerah misi.Yesus menggambarkan kehadiran mereka di daerah misi ibarat domba-domba yang dikirim ke tengah-tengah serigala. Para murid rupanya sementara ditantang oleh Yesus bahwa misi yang akan mereka jalani ini sangat berbahaya. Nyawa menjadi taruhan. Mereka harus siap dimangsa oleh serigala yang sedang siap menanti. Ada banyak tantangan, kesulitan, dan hambatan yang akan menerpa diri mereka. Mereka siap dihina, dicemooh, dikejar, dianiaya, dan dibunuh.

 

Para murid juga diingatkan oleh Yesus untuk tidak membawa pundi-pundi, bekal, atau kasut, dan jangan memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Ini yang aneh dan tidak masuk akal menurut kita. Sebenarnya, Yesus sedang menekankan pentingnya nilai kesehajaan atau kesederhanaan hidup. Para murid harus membebaskan diri dari keterikatan dengan hal-hal yang bersifat materi. Sehingga apa yang menjadi fokus dari misi mereka tetap terjaga. Mereka tidak boleh diganggu atau disibukkan dengan hal-hal materi yang pada gilirannya dapat menghilangkan konsentrasi akan tujuan perjalanan. Memang di satu sisi materi itu penting dalam kehidupan, namun tidak menjadi fokus dan lokus bagi seseorang yang mau mengikuti Yesus. Berkenaan dengan arahan untuk tidak memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan, kita semua tentu berkeberatan. Masa, saya tidak boleh menegur atau sekedar bercengkerama dengan orang yang saya temui. Bagaimana kalau nanti saya tersesat. Pasti saya membutuhkan orang-orang yang saya temui untuk bertanya kepada mereka. Saya kira, kita tidak boleh menafsir secara lurus apa yang dikatakan oleh Yesus dalam firman-Nya. Butuh kedalaman jiwa untuk menganalisa subtansi utama yang dimaksud oleh Yesus. Esensi menegur atau menyapa orang dalam perjalanan sebenarnya tidak hilang. Para murid tentu boleh bertegur sapa dengan siapa saja dalam perjalanan. Asalkan tidak mengganggu atau bahkan membelokkan misi utama yang menjadi tujuan. Bisa saja dalam percakapan, para murid dipengaruhi oleh orang lain untuk tidak boleh pergi bermisi. Apalagi kalau isi pengaruhnya ditambahkan juga dengan tawaran materi. Hal-hal sepele inilah yang diantisipasi oleh Yesus supaya para murid tidak terjebak dan terkubur di dalamnya.

 

Dari hal-hal yang digambarkan di atas, menjadi nyata kepada kita bahwa sebenarnya ada dua jenis tantangan yang seharusnya kita waspadai sebagai seorang murid Yesus. Pertama, tantangan yang datang dari luar diri. Misalnya kita mendapat bully, hinaan, ancaman, siksaan, atau bahkan nyawa menjadi taruhan ketika hendak memperjuangkan sebuah kebenaran atau kebaikan. Kedua, tantangan yang datang dari dalam diri sendiri. Ini lebih kepada soal integritas atau bagaimana menjaga ketahanan diri dari pelbagai situasi, godaan atau tawaran yang memberi kenyamanan dan kenikmatan. Saya berkeyakinan bahwa tantangan dari dalam diri ini, memiliki daya kejut yang lebih besar. Banyak dari kita yang acapkali terseret oleh arusnya. Dan banyak orang Katolik seringkali menggadaikan agama dan ajaran imannya demi memiliki kenyamanan, kekayaan, dan kenikmatan dalam hidupnya. Banyak umat Katolik tidak kuat menolak atau menerima dengan sukacita ketika diberi uang, barang, jabatan, kuasa, dan prestise diri. Imbasnya, mereka harus rela menanggalkan spirit kebenaran dan kebaikan yang mestinya diperjuangan dan terus dikobarkan dalam hidup.

 

Tuhan Yesus telah memberi pengajaran yang sangat bernilai pada hari ini. Kita senantiasa diingatkan oleh Yesus bahwa mengikuti Diri-Nya itu tidak gampang. Ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan hidup yang harus kita lewati. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Yang menjadi luar biasa adalah ketika kita bangkit untuk mulai memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dan benar. Kita tidak perlu takut mewartakan kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Karena kita selalu yakin, kebaikan dan kebenaran itu selalu membimbing dan menguatkan iman kita kepada Dia, Sang Tuhan, Pemberi kehidupan umat manusia

Kamis, 20 Januari 2022

Tuhan Ada Dalam Spirit Kasih

Mrk 3:1-6

 

Ada pepatah latin yang berbunyi cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada. Apa yang kita pikirkan sebenarnya menggambarkan siapa diri kita yang sebenarnya. Jika konstruksi berpikir kita positif maka dengan sendirinya mengalirkan kebaikan dalam pribadi. Sebaliknya, jikalau bangunan berpikir kita negatif maka akan mengalirkan ketidakbaikan dalam diri. Sebagai contoh, misalnya, apabila saya memandang seseorang sebagai sahabat, terlepas dari segala kekurangan yang melekat dalam dirinya, maka saya akan memperlakukan dia sebagai seorang sahabat. Sebaliknya, apabila saya selalu memandang orang lain sebagai ancaman atau musuh, maka selanjutnya saya akan terus memperlakukan dia sebagai musuh yang harus dihindari atau dilawan. Sebesar apa pun kebaikan yang ditampilkan oleh seseorang, tidak akan membawa dampak positif bagi orang lain yang sudah terlanjur memberi cap negatif.

 

Konstruksi berpikir negatif demikian, diperankan oleh orang-orang Farisi yang sudah terlanjur melihat Yesus sebagai musuh bersama yang harus dijegal. Dan bahkan kalau ada peluang langsung dilenyapkan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Yesus memberi arah baru dalam pola idealisme beragama. Banyak kelaziman yang berlaku dalam ajaran kitab suci dan tradisi Yahudi didekontruksi dan diperbarui lagi oleh Yesus. Dan Yesus memiliki alasan yang jelas dan rasional. Bahwa aturan dan tradisi itu memberangus nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, aturan dan tradisi yang diberlakukan oleh para pemimpin agama tidak sesuai dengan spirit kasih yang dikampanyekan oleh Allah sendiri. Menurut Yesus, aturan dan tradisi itu tidak salah. Karena di dalamnya telah terkandung spirit kasih yang memanusiakan manusia. Hanya pelbagai kepentingan duniawi saja, yang menjadikan aturan dan tradisi itu berjalan timpang, tidak sesuai dengak spirit kasih. Dengan terang benderang, Yesus menunjuk para elit agama sebagai aktor-aktor utama yang menyusupkan pelbagai kepentingan mereka yang tidak benar di dalam aturan dan tradisi.

 

Para elit agama membungkus kemunafikan dan kesesatan mereka di balik aturan dan tradisi yang mengekang dan menindas umat. Salah satunya adalah aturan tentang hari Sabat. Hari Sabat adalah hari yang dikuduskan oleh umat Yahudi. Pada hari itu, semua aktivitas duniawi dihentikan agar orang tetap fokus untuk beribadah kepada Allah dan memberi korban di Bait Allah. Ada banyak sekalih larangan yang diberlakukan khusus pada hari Sabat. Misalnya larangan untuk bekerja. Dalam item pekerjaan juga, terdistribusi sekian banyak jenis pekerjaan yang tidak boleh dilakukan. Termasuk di dalamnya larangan untuk menyembuhkan orang sakit. Di luar hari Sabat, tindakan menyembuhkan atau menyelamatkan orang sakit boleh dilakukan. Namun khusus pada hari Sabat, tindakan tersebut dilarang keras.

 

Hal ini yang menjadi titik perbedaan dan memantik konflik panas di antara dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Kekuatan ortodoks yang ingin mempertahankan status quo yakni para elit agama. Dan kekuatan berikutnya adalah Yesus sendiri, yang mewakili kekuatan reformasi. Kekuatan yang ingin membawa perubahan, agar aturan dan tradisi itu harus dikembalikan sesuai dengan spiritnya yang ideal yakni spirit kasih Allah. Namun, para elit agama tetap bersikukuh dengan pandangan dan sikap mereka. Mereka tetap merasa diri paling benar karena gengsi pribadi dan kekuasaan yang terpatri dalam diri. Mengikuti kata-kata Yesus berarti kiamat telah menghampiri hidup. Mereka pasti akan kehilangan simpati dan rasa hormat yang ditunjukkan oleh publik. Tidak hanya itu, mereka juga akan kehilangan sumber-sumber pendapatan yang bernilai ekonomi. Mereka tidak akan mendapat bagian lagi dari persembahan dan pajak yang diberikan oleh umat.

 

Bagi Yesus, kebenaran harus tetap menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran itu tidak boleh dipermainkan atas nama kepentingan sesaat yang membawa sesat. Dimensi hari sabat tetap diletakkan  sesuai dengan porsinya dalam aturan dan tradisi. Namun seiring dengan itu, tidak menghilangkan spirit kasih yang membawa kebaikan dan keselamatan bagi semua orang. Aturan dan tradisi diciptakan oleh karena hadirnya manusia. Dan bukan manusia diciptakan karena adanya aturan dan tradisi. Dengan demikian, aturan dan tradisi tentang hari Sabat bukannya mengekang jiwa-jiwa manusia, namun semakin membuka ruang terciptanya kebaikan dan keselamatan. Kebaikan dan keselamatan inilah yang diinspirasi dan dijiwai oleh spirit kasih Allah. Tindakan Yesus pada hari Sabat yang membawa keselamatan bagi orang yang mati sebelah tangannya adalah tindakan yang diinspirasi sekaligus dijiwai oleh spirit kasih Allah. Dengan aksi fenomenal dan heroik ini, Yesus mau menegaskan bahwa spirit kasih Allah melebihi atau melampaui segala jenis aturan dan tradisi yang dibuat oleh manusia. Dan manusia harus tunduk untuk mengikuti spirit kasih Allah itu agar dapat tercipta keselamatan dan kebaikan dalam hidup.

 

Atas nama gengsi pribadi, status dan jabatan, seringkali kita menggadaikan hidup untuk memenuhi nafsu, keinginan, dan ketamakan duniawi. Kita tidak rela mengamalkan nilai kasih dalam hidup sosial karena pikiran dan laku masih ditunggangi oleh pelbagai kepentingan. Kita takut tidak dihormati atau disegani lagi. Kita merasa malu bergaul dengan orang-orang yang tidal selevel dengan kita. Kita masih bersikap ego untuk menumpuk kekayaan dengan memanfaatkan situasi. Bahkan seringkali dengan tindakan yang tidak jujur dan menindas orang lain. Kita masih sibuk mencari jabatan dan kekuasaan sehingga melalaikan semangat kasih. Hari ini Tuhan sungguh mencerahkan dan meneguhkan hidup kita. Pertama-pata, Tuhan merefresh dan menguppgrade pikiran kita agar kita mampu berpikir positif tentang situasi dan orang lain di sekitar. Dengan pikiran yang positif, sebenarnya memampukan kita melepaskan keterikatan-keterikatan duniawi yang membelenggu hidup. Keterikatan-keterikatan tersebut ibarat aturan hari Sabat yang membelenggu sehingga menutup mata kita terhadap spirit kasih Allah. kedua, Tuhan menghendaki agar kita berani keluar dari zona nyaman sehingga benar-benar bebas mengimplementasikan nilai kasih itu bagi siapa saja, terutama bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Allah itu adalah kasih. Dan kita meyakini bahwa setiap tindakan kasih yang kita nyatakan, Tuhan pasti ada dan selalu membawa berkat dalam hidup kita. Mari kita selalu membawa spirit kasih dalam hidup kita. Amin. ***AKD***

 

Selasa, 11 Januari 2022

Selalu Mencari Tuhan

Mrk 1:29-39

 

Ketika disodorkan sebuah pertanyaan, sudahkah anda menemukan Yesus dalam hidup anda? Mungkin sebagian dari kita secara spontan menjawab iya, tanpa mengetahui dengan jelas alasan apa mendasarinya. Mungkin juga ada segelintir orang yang sudah secara matang telah menemukan Yesus dalam hidupnya, sehingga mereka tidak ragu-ragu menjawab iya. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak dari kita yang mungkin belum menemukan Yesus dalam hidupnya. Setelah sekian lama mencari dan terus mencari tentang sosok Yesus, ternyata kita belum menemukan figur Yesus yang mempengaruhi hidup kita. Kesaksian hidup seperti ini memang sungguh kontras jikalau diucapkan oleh seorang Kristen atau pengikut Kristus. Tetapi inilah kenyataan yang membentang di hadapan kita. Bahwa banyak orang Kristen yang belum mengenal Kristus dalam hidupnya. Mengenal saja belum. Apalagi sungguh merasakan daya pikat-Nya yang mengintervensi hidup manusia.

 

Daya pikat atau pesona yang ditunjukkan oleh Yesus betul-betul dialami oleh orang-orang sezaman Yesus. Tidak hanya dengan kata-kata, melainkan dengan aksi fenomenal-Nya, kehadiran Yesus begitu dinanti-nantikan. Dalam bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), kita mengetahui bahwa setelah Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dari penyakit demamnya, berita tentang kedatangan Yesus dan aksi mukjizat-Nya dengan cepat menyebar. Dan sepertinya tidak menunggu terlalu lama karena segera sesudah itu, banyak orang secara massal datang untuk bertemu dengan Yesus. Mayoritas yang datang karena mereka memiliki kepentingan untuk disembuhkan oleh Yesus. Mereka datang dengan pelbagai penyakit dan mengharapkan pertolongan dari Yesus. Yesus tidak menolak mereka. Ia menerima kehadiran mereka dengan kasih yang tulus. Dan dengan semangat kasih itu pula, Ia menyembuhkan segala penyakit yang mendera mereka.

 

Spirit kasih yang ditunjukkan oleh Yesus tidak ekslusif menyasar wilayah tertentu saja. Spirit kasih itu tentu berciri universal. Dan Yesus sungguh menyadari bahwa Ia datang bukan hanya untuk satu kelompok manusia saja melainkan semua orang yang selalu mencari dan merindukan kehadiran Diri-Nya di mana dan kapan saja Ia berada. Oleh karena itu tidak heran bahwa menjelang pagi hari (waktu hari masih pagi-pagi benar), Yesus segera menyingkir untuk pergi ke daerah lain. Ketika Simon menemukan Yesus dan mengatakan bahwa semua orang mencari-Nya, Yesus dengan tegas berkata: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (Mrk 1:38).

 

Semangat “selalu mencari Yesus” yang diperlihatkan oleh orang-orang Israel membuktikan bahwa pertama, orang Israel sudah mengetahui siapa sosok Yesus sebenarnya. Ternyata Yesus bukan orang sembarangan. Kalau Ia tidak memiliki keistimewaan, pasti orang-orang sezaman-Nya tidak akan mencari dan mengikuti Dia. Keistimewaan Yesus itu terletak pada kata-kata dan perbuatan ajaib-Nya. Kata-kata-Nya begitu meneguhkan dan memberi penguatan terutama bagi orang-orang kecil dan miskin di kala itu. Orang-orang juga mengenal Yesus karena Ia selalu melakukan aksi mukjizat. Misalnya dengan menyembuhkan orang sakit, orang lumpuh, orang yang kerasukan roh jahat, dan bahkan membangkitkan orang mati. Kedua, orang-orang Israel dengan inisiatif sendiri atau ajakan orang lain, mau datang dengan kerelaan hati untuk menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Mereka terbuka kepada keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Tidak hanya keselamatan secara fisik, namun secara rohani. Mereka mau percaya dengan total kepada Yesus dan mengikuti segala ajaran-Nya. Memang ada juga orang-orang yang bersikap pragmatis dan oportunis. Mereka hanya memanfaatkan momentum untuk mencari keselamatan fisik semata. Setelah pulang, belum tentu mereka mau mengikuti Yesus dan segala ajaran-Nya.

 

Berbicara tentang agama dan Tuhan di masa kini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai orang-orang yang beragama. Terutama bagi kita penganut iman kristiani, Orang-orang Kristen sepertinya tidak merasa tertarik lagi dengan segala hal yang berbau agama dan Tuhan. Orang lebih merasa kepemilikian agama dan Tuhan itu sesuatu hal yang sangat privasi. Tidak boleh diumbar atau diperlihatkan baik dalam kata-kata atau pun perbuatan. Kita sepakat dengan pernyataan ini. Namun menjadi non sense dan tidak benar apabila orang-orang Kristen hendak berlindung di balik pernyataan itu untuk tidak mau lagi melibatkan diri dalam segala urusan yang berbau rohani. Lebih miris lagi, kalau kita melihat dan menyaksikan banyak orang Kristen yang hidupnya sudah tidak kristiani lagi. Mereka suka melakukan tipu daya, berlaku tidak adil terhadap orang lain, melakukan korupsi, mencari keuntungan dan prestise diri dengan cara yang tidak halal, berlaku munafik, bersikap pongah atau sombong dan tidak jujur dalam hidupnya.

 

Hari ini kita semua diundang untuk tidak berhenti mencari Tuhan dalam hidup. Kita mencari Tuhan bukan saja karena kita ingin mendapatkan keselamatan. Lebih dari itu, kita ingin membangun percakapan yang lebih akrab dengan Diri-Nya. Kita ingin bersatu lebih dalam dengan Tuhan untuk mau mendengarkan dan meresapi segala hal yang telah dikatakan-Nya. Kita mau mengambil langkah yang lebih baik dan benar dalam hidup. Agar hidup kita lebih bernilai dan bermartabat di mata Tuhan dan sesama. Selalu mencari Tuhan dalam hidup adalah setia melakukan perjalanan spiritual untuk mendengarkan sabda-Nya, berdoa dengan sungguh-sungguh, dan berusaha mencari jawaban ilahi dari setiap pergalaman atau pergulatan hidup yang kita alami. Amin. ***AKD***

Selasa, 14 Desember 2021

Semakin Percaya Kepada Tuhan

Luk 7:19-23

 

Esensi pertanyaan dalam konteks meminta klarifikasi atau konfirmasi pada hakikatnya memiliki tujuan utama agar sebuah hal atau persoalan yang pada mulanya belum jelas, masih kabur pada akhirnya dapat secara terang, utuh dan jernih dijelaskan. Orang yang meminta klarifikasi atau konfirmasi atas sesuatu hal biasanya dilatari oleh sikap ragu-ragu. Atau bisa juga ia tidak tahu sehingga ia meminta klarifikasi atau konfirmasi.

 

Ketika mendengar segala sesuatu tentang Yesus dan sepak terjang-Nya, timbul sikap ragu-ragu dalam diri Yohanes Pembaptis tentang Yesus. Yang ia pahami tentang Yesus adalah sosok “Daud baru” yang akan membawa perubahan secara politik dalam negeri di tanah Israel. Yesus disejajarkan sebagai seorang raja duniawi yang besar dan agung. Karena ia akan memiliki kerajaannya sendiri, terlepas dari intervensi bangsa asing. Dia akan memimpin bangsanya dengan gagah berani untuk membebaskan bangsa Israel keluar dari penjajahan dan penindasan bangsa asing. Konsep pemikiran dan pemahaman Yohanes Pembaptis ini tidak sesuai dengan apa yang ia dengar dan ketahui secara riil tentang Yesus.

 

Ada hal kontras yang menciptakan sikap ragu-ragu dalam dirinya. Mana mungkin Mesias yang digambarkan sebagai sosok yang garang untuk berkonfrontasi dengan bangsa penjajah bisa menyata dalam diri Yesus. Sementara Yesus yang ia dengar tidaklah demikian. Yesus sebagai Sang Mesias ini sungguh jauh dari kesan raja duniawi. Ia pergi dari satu kampung ke kampung yang lain membawa warta kasih Allah dengan sabda dan aksi mukjizat-Nya. Ia menawarkan keselamatan kepada semua orang sembari mengajak mereka untuk berjalan di jalan yang benar. Jalan yang sejatinya telah disabdakan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya. Bahkan Yesus juga mengajarkan spirit pengampunan. Setiap orang tidak boleh melakukan balas dendam kepada sesamanya. Mereka tidak boleh membenci musuhnya. Mereka harus mengasihi musuhnya.

 

Ini hal yang aneh dan janggal menurut Yohanes Pembaptis. Oleh karena itu, dia meminta para muridnya untuk meminta informasi secara langsung kepada Yesus. Boleh dikatakan dalam hal ini. Yohanes Pembaptis meminta klarifikasi dan konfirmasi mengenai siapa Yesus melalui para muridnya. “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang yang lain?” (Luk 7:19). Yesus menjawab pertanyaan Yohanes dengan menafsirkan perbuatan-Nya melalui teks dari Yesaya, yang menggambarkan hari pembebasan Mesias. Orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan (Yes 29:18-19;35:5-6). “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Sekali lagi, dengan menghidupkan kata-kata Yesaya dalam perbuatan-Nya, Yesus menegaskan Diri-Nya dan meyakinkan Yohanes untuk tidak ragu-ragu terhadap Diri-Nya.

 

Bahwa sesungguhnya, Yesus adalah Mesias yang sementara dinanti-nantikan itu. Ia adalah Daud baru dengan membawa kerajaan yang baru pula. Ia bukan raja duniawi tetapi raja ilahi yang menyata dalam kerajaan duniawi. Ia datang bukan untuk menegakkan kerajaan duniawi. Melainkan kerajaan Allah yang terwujud dalam dunia nyata. Ia datang membawa pesan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Tidak saja dengan kata-kata yang meneguhkan dan menguatkan. Melalui perbuatan ajaib atau aksi mukjizat, Yesus sungguh menyatakan dan menegaskan kasih Allah untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

 

Sukacita Injil itu sebenarnya telah hadir bersama-sama dengan kita pada hari ini. Di pekan ketiga masa Adven. Tuhan hendak menyatakan dan menegaskan kepada kita semua bahwa Ia adalah Mesias. Anak Allah yang hidup. Dia datang sendiri ke tengah-tengah kita untuk membawa pembebasan atas dosa-dosa. Dan kita semua akan masuk dalam lingkaran orang-orang yang diselamatkan. Namun apakah kita sungguh percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup atau tidak. Dalam kehidupan riil, kita seringkali berlaku seperti Yohanes Pembaptis yang masih bersikap ragu-ragu atau tidak percaya kepada Yesus sebagai Sang Mesias.

Melalui pikiran dan kata-kata, acapkali kita masih mempertanyakan arti sebuah kebenaran dan keselamatan. Apakah Yesus dan Allah itu sungguh ada? Apakah Yesus yang menyejarah itu adalah Allah yang hidup? Apakah setiap manusia dapat diselamatkan melalui jalan Allah dan Yesus? Apakah sesudah kematian ada kebangkitan untuk menyongsong hidup yang baru? Apakah sorga dan neraka itu sungguh-sungguh ada? Bagaimana garansi atau jaminan yang saya dapat ketika dibaptis menjadi orang Katolik? Dan masih banyak lagi litani keragu-raguan kita akan Yesus sebagai Mesias. Anak Allah yang membawa sukacita dan keselamatan dalam hidup orang beriman.

 

Keragu-raguan terhadap Yesus dan Allah yang menggumpal dalam pikiran dan kata-kata membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang apatis, tidak mau tahu dan permisif. Kita tidak peduli lagi dengan kehidupan iman kristiani. Kita tidak lagi bergairah untuk berdoa. Baik secara pribadi maupun dalam kelompok. Atau secara berjamaah di gereja. Kita juga tidak peduli untuk terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan baik di basis, lingkungan, maupun secara paroki. Secara sosial kita juga mengalami kematian, Walaupun masih hidup secara fisik. Kita tidak mau tahu dengan pelbagai keprihatinan sosial yang ada di sekitar. Karena kita hanya peduli dengan diri sendiri.

 

Hari ini kita semua diajak untuk sungguh yakin kepada Yesus, sebagai Sang Mesias, Anak Allah yang hidup. Kita semua diarahkan untuk mau membangun religiositas yang bersifat interpersonal. Kita dengar sadar, tulus, dan rendah hati mau membangun relasi yang lebih intim dengan Dia yang kita imani. Dalam percakapan-percakapan rohani yang bersifat pribadi dan kolektif, baiklah kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, Yesus dan Allah, agar kita tidak bersikap ragu-ragu dan tidak percaya kepada-Nya. Marilah kita mendekatkan diri kepada Tuhan di masa Adven ini dengan membawa sukacita Injil. Semangat mendengarkan Sabda Tuhan, semangat dalam doa dan semangat pelayanan kepada sesama adalah hal-hal konkrit dari sukacita Injil yang bisa kita lakukan. Semoga. ***AKD***

Kamis, 09 Desember 2021

Membangun Iman Komuniter

 

Luk 5:17-26

           

Mengunjungi beberapa keluarga - baik keluarga Katolik maupun non Katolik – memiliki pengalaman dan makna tersendiri dalam hidup saya secara pribadi. Saya menjalaninya bukan sekedar tugas pokok sebagai seorang penyuluh agama Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata. Lebih dari itu, saya memahaminya sebagai sebuah panggilan jiwa untuk membawa kasih dan pelayanan kepada orang lain. Datang, duduk, dengar, dan berbagi kisah dengan keluarga-keluarga yang saya kunjungi menjadi aktualisasi atau wujud nyata iman saya akan Tuhan. Kehadiran saya setidak-tidaknya membawa penghiburan, kekuatan, dan peneguhan bagi mereka untuk tetap bertahan dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Walaupun memang, saya bukan seorang superman yang bisa membawa solusi atas pelbagai persoalan yang mereka hadapi. Dalam kebersamaan dan percakapan sederhana yang kami bangun, iman komuniter sangat kental terasa. Ada timbal balik “keselamatan” yang sama-sama kami alami. Mereka sungguh diteguhkan dan dikuatkan. Begitu juga sebaliknya, saya mengalami hal yang sama.

 

Pengalaman iman komuniter ternyata kita temukan juga dalam bacaan Injil hari ini. Beberapa orang dengan tulus sekaligus berani mengusung saudara mereka yang lumpuh kepada Yesus. Niatnya cuma satu. Supaya saudara yang lumpuh itu dapat sembuh dan berjalan. Karena tidak menemui celah untuk menerobos kerumusan banyak orang, mereka nekat memutuskan untuk memasukkan si lumpuh lewat atap rumah yang dibongkar. Ternyata usaha mereka tidak sia-sia. Yesus kagum dengan sikap iman yang telah mereka tunjukkan kepada-Nya. Maka tanpa ragu-ragu Ia memberi pengampunan atas dosa-dosa mereka. Dan kepada si lumpuh, Yesus juga menyembuhkan penyakitnya. Tidak hanya si lumpuh, namun semua orang yang menyaksikan secara langsung peristiwa fenomenal itu, mengucap syukur dan memuliakan nama Allah.

 

Ada dua catatan penting yang bisa dipetik dari kisah Injil hari ini. Pertama, karena memiliki kuasa ilahi, maka Yesus memiliki legitimasi untuk mengampuni dosa dan menyembuhkan orang yang lumpuh. Jikalau ia tidak memiliki kuasa demikian, tentu ia tidak bisa mengampuni, apalagi menyembuhkan orang sakit. Para pemimpin Yahudi (ahli-ahli taurat dan orang Farisi) sangat gusar dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Mereka terkejut dan mengira Yesus menghujat nama Allah. Kita bisa memaklumi hal ini karena pikiran dan hati mereka belum terbuka untuk mengenal siapa sosok Yesus sebenarnya. Afirmasi Yesus jelas terbaca dalam sabda-Nya. “Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Luk 5:24). Anak Manusia menunjuk diri jati diri Yesus. Karena datang dan diutus oleh Allah, maka Yesus memiliki kuasa ilahi untuk mengampuni dan menyelamatkan semua orang.

Kedua, sikap kerjasama yang ditunjukkan oleh orang-orang yang membantu si lumpuh. Si lumpuh bisa dipastikan tidak akan selamat apabila tidak dibantu oleh sesama saudaranya. Ia tetap akan tinggal dalam kesendirian dan ketidakselamatan karena tidak ditolong oleh orang lain. Berkat rasa simpati, empati, dan perhatian dari orang lain, si lumpuh akhirnya dapat berjumpah dengan Yesus. Dan ia pun – bersama dengan para pengusungnya – mendapatkan keselamatan. Sikap kerjasama dan mau membantu inilah yang menjadi ciri khas kehidupan iman komuniter. Ciri khas iman yang komuniter menjadi lebih hidup dan bermakna karena orang sungguh percaya akan karya Allah yang turut ikut campur dalam kehidupan manusia. Tanpa percaya kepada Allah, iman komuniter itu tidak akan tumbuh. Ia hanya akan menjadi sebuah komunitas biasa. Komunitas tanpa spiritualitas Allah.

 

Orang-orang yang datang kepada Yesus membawa si lumpuh adalah karakteristik orang-orang yang sementara membangun iman yang komuniter. Mereka sungguh percaya kepada Yesus. Melalui penyerahan diri yang total kepada Yesus, mereka percaya hidupnya akan diselamatkan. Tidak hanya si lumpuh. Namun mereka semua yang hidup dan tumbuh dalam komunitas iman itu. Mereka juga menyadari bahwa tanpa kepercayaan kepada Yesus, keselamatan itu tetap tinggal dalam sebuah harapan kosong.

 

Sebagai pengikut Kristus, acapkali kita juga kurang atau tidak menghidupi ciri iman komuniter dalam kehidupan. Lebih banyak kita berjuang sendiri mencari keselamatan. Kita bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu dengan situasi yang dialami oleh orang lain. Kita memiliki prinsip untuk mendahulukan kepentingan diri sendiri. Hari ini kita diteguhkan untuk lebih bersikap terbuka dalam membangun iman komuniter bersama orang-orang yang ada dan hidup bersama kita. Keselamatan itu semestinya tidak bersifat personal. Tidak diperjuangkan secara pribadi. Namun sejatinya dibangun dan diperjuangkan bersama-sama dengan orang lain.

 

Kini kita telah memasuki masa Adven yang kedua. Sebuah pekan dimana kita menghayati nilai kesetiaan untuk mempersiapkan jalan kedatangan bagi Tuhan. Dalam makna kesetiaan itu, mari kita membangun sikap iman yang komuniter. Semoga mata hati kita lebih terbuka untuk melihat pelbagai keprihatinan sosial yang ada di sekitar kita. Sehingga tanpa ragu, kita datang “menyembuhkan” mereka walaupun dengan hal-hal yang kecil dan sederhana. Semoga. ***AKD***

Minggu, 21 November 2021

MEMBERI DENGAN TULUS

Luk 21:1-4

 

Dalam moment persiapan suksesi acara syukuran imam baru yang sudah berlangsung sekitar tiga pekan yang lalu, saya membawa sumbangan atau kontribusi dari instansi tempat saya bernaung (Kementerian Agama Kab. Lembata). Jumlah nominalnya tidak seberapa. Namun dalam lingkup acara keluarga yang sederhana, nominal sumbangan itu dilihat sebagai angka yang cukup besar. Ada beberapa orang yang berseloroh bahwa kantor agama itu urusannya soal agama jadi pantas kalau mereka menyumbang demikian untuk sebuah pesta iman (syukuran imam baru). Saya hanya tersenyum. Mencoba mengamini saja apa yang mereka sampaikan. Sebenarnya terbersit dalam hati dan pikiran alasan yang lebih rasional dan mulia, daripada sekedar alasan di atas.

 

Para sahabat saya di instansi Kementerian Agama memberi kontribusi karena dilatari oleh beberapa alasan. Pertama, sudah ada semacam kesepakatan lisan di antara kami untuk turut bersolider satu sama lain dalam pelbagai urusan yang penting. Kedua, ada filosofi do ut des. Saya memberi supaya kamu juga memberi. Memang prinsip dengan pamrih itu harus kita hindari dalam memberi sesuatu. Namun, dalam realitas tidak bisa dipungkiri bahwa semangat solidaritas dan tolong menolong itu harus mendapat tempat pertama dan utama. Walaupun tidak bersifat memaksa, namun tentu ada kepekaan dan kepedulian yang mendorong orang untuk saling berpartisipasi. Ketiga, spirit memberi sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan instansi kementerian agama. Ini bukan suatu yang berlebihan. Atau bukan juga ada kehendak ingin mengagungkan instansi yang bersangkutan. Ada spirit tertentu yang sudah, sedang, dan akan terus dihidupi. Spirit itu adalah spirit ikhlas beramal. Segala hal yang hendak diberikan, entah sedikit atau banyak, tetap menjadi bagian yang tulus dan tidak terpisahkan dalam nuansa kebersamaan.

 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengkontraskan tindakan memberi persembahan yang dilakukan oleh dua kelompok sosial yang berbeda. Kelompok yang  pertama adalah orang kaya. Sedangkan kelompok yang kedua adalah orang miskin, yang diwakili oleh seorang janda miskin. Bagi Yesus, menjadi hal yang lazim ketika orang kaya menyumbang. Dia menyumbang karena tentu memiliki kelebihan. Yang menjadi tidak biasa dan menggugah nurani adalah ketika melihat seorang janda miskin turut menyumbang. Si janda adalah perempuan yang hidup sendirian karena sudah ditinggal mati atau cerai oleh suaminya. Stereotip atau cap yang disematkan bagi seorang janda cenderung negatif. Karena sudah dtinggal oleh suaminya, praktis ia tidak lagi memiliki sandaran dalam kehidupannya. Termasuk dalam sisi ekonomi. Pasti seorang janda tidak lagi memiliki apa-apa. Ia tidak hanya menjadi janda. Namun janda yang miskin. Walaupun realitas tidak selalu menyatakan demikian. Karena ada banyak juga janda-janda yang hidupnya berkecukupan dan bahkan bergelimang harta.

Namun yang dilihat oleh Yesus pasti sungguh-sungguh seorang janda miskin. Dalam kesulitan dan kemiskinannya, ia masih mampu berpikir untuk berderma dari kekurangannya. Berbeda dengan orang-orang kaya yang dilihat oleh Yesus. Rupanya Yesus sudah mengetahui latar atau rekam jejak dari para penyumbang elitis tersebut. Mereka menyumbang karena pertama mereka memiliki kelebihan. Kedua, mereka menyumbang dengan motivasi yang tidak murni. Mereka ingin dilihat dan diakui oleh banyak orang. mereka mau mencari hormat dan sembah sujud dari orang yang melihatnya. Sebesar apa pun sumbangan yang mereka berikan, tentu berbeda nilainya dengan sumbangan si janda miskin. Si janda miskin memberi dari kekurangannya dengan ihklas. Sedangkan orang-orang kaya memberi dari kelimpahan, tetapi tidak memiliki niat dan motivasi yang tulus. “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Mrk 21:4).

 

Bagi saya, dan saya kira kita semua sepakat, tolok ukur dalam memberi atau berderma tidak bisa dilihat dari besar kecilnya jumlah atau nilai yang terkandung di dalam pemberian itu. Yang paling penting dan mengatasi semua entitas pemberian itu adalah spirit ketulusan dan keikhlasan. Orang harus melepaskan segala keterikatan manusiawinya ketika hendak memberikan sesuatu. Orang harus dibebaskan dari sikap ego, angkuh, dan kepentingan untuk mencari pamor atau popularitas diri. Sikap tulus atau ikhlas mendorong kita untuk tidak jumawa atau merasa diri paling hebat atau berjasa. Sikap tulus atau ikhlas menghalangi kepentingan ego untuk berpikir tentang pamrih atau balas jasa. Dan sikap tulus membebaskan ambisi pribadi untuk mencari prestise dan rasa gengsi.

 

Paus Fransiskus pernah berkata: “Hidup itu baik ketika anda berbahagia. Namun alangkah lebih baik apabila, orang merasa berbahagia karena kebaikan yang anda lakukan”. Salah satu kebaikan yang kita lakukan adalah memberi dengan sikap yang tulus. Tanpa ada kepentingan menyimpang yang bermain di dalamnya. Saya memberi atau menyumbang karena dilandasi oleh sikap moral mau berbela rasa atau peduli dengan orang lain yang sementara menderita atau sakit. Dan yang lebih utama adalah saya memberi karena diajarkan oleh Tuhan yang saya imani dalam hidup. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

 

Hari ini kita memperingati Santa Sesilia yang membaktikan kemurnian seluruh diri dan hidupnya demi Tuhan. Karena ketulusan dan kesalehan hidupnya yang mempesona, Sesilia berhasil membawa suaminya Valerianus dan Tiburtius saudara suaminya, menjadi seorang pengikut dan martir Tuhan yang sejati. Pada akhirnya juga, Santa Sesilia harus mempertaruhkan nyawanya sebagai seorang martir demi mempertahankan iman dan ketulusan hidupnya bagi Tuhan. Bersama Santa Sesilia, mari kita mempersembahkan seluruh diri dan hidup demi kemuliaan nama Allah di atas bumi dan di dalam Sorga. Tentu tidak harus sebanding seperti apa yang sudah dilakukan oleh Sesilia. Dengan hal-hal kecil yang bisa membuat orang lain tersenyum, dikuatkan dan diteguhkan, sebenarnya kita sementara memberi diri dengan baik dan tulus bagi Tuhan. Amin. ***AKD***