Selasa, 28 Juli 2020

SANTA MARTA SANG TELADAN HIDUP

SANTA MARTA SANG TELADAN HIDUP

Gereja Katolik sejagat pada hari ini (Rabu/29/7/2020), merayakan pesta Santa Marta. Menilik dari namanya, Marta berarti “nyonya rumah”. Ia mempunyai dua orang saudara yang bernama Lazarus dan Maria. Ketiganya berasal dari Betania, dekat Yerusalem. Tentang Santa Marta, ada legenda dan tradisi yang bercerita tentang makam Santa Marta dari Tarascon. Menurut legenda, Marta meninggalkan tanah Yudea dan bermigrasi ke negara Perancis, tepatnya di kota Tarascon. Di tempat tersebut, ia menghabiskan hidupnya dengan berdoa dan berpuasa. Kemudian ia meninggal dan dimakamkan di ruang bawah tanah di Gereja Collegiate di Tarascon.

Tiga bersaudara yang saling mencintai; Marta, Maria dan Lazarus memiliki relasi yang sangat dekat dengan Yesus. Dan kita bisa menemukan kisah menarik yang terjadi di antara mereka dalam Injil yang ditulis oleh Santo Yohanes dan Santo Lukas. Santo Lukas mengisahkan dalam Injilnya (Luk 10:38-42) bahwa ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung, mereka singgah di sebuah rumah yang ditempati Marta, Maria, dan Lazarus. Marta rupanya seorang perempuan yang ulet dan telaten. Ia mulai sibuk bekerja di dapur mempersiapkan segala kebutuhan untuk Yesus dan para murid. Namun saudaranya Maria hanya duduk saja dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan Yesus berbicara. Rupanya hal ini yang menimbulkan ketidaksukaan dari Marta. Ia menyuruh Yesus untuk menegur Marta agar bersedia membantunya bekerja di dapur. Bukannya membela Marta, Yesus malah menasihati Marta bahwa saudaranya Maria telah memilih bagian yang terbaik dalam hidupnya. Yesus secara tidak langsung mau mengatakan kepada Marta bahwa bekerja itu memang penting, tetapi yang perlu mendapat prioritas dalam hidup adalah mendengarkan sabda Tuhan dan merenungkannya.

Kisah lain yang mengisahkan tentang keintiman relasi Yesus dan tiga saudara dari Betania bisa kita lihat dalam Injil Yohanes (Yoh 11:1-44). Ketika Lazarus menderita sakit, kedua saudarinya, Marta dan Maria segera mengirim pesan tentang keadaan Lazarus kepada Yesus. “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit”, demikian bunyi pesan itu. Yesus sepertinya kurang tanggap terhadap berita itu. Empat hari kemudian barulah Yesus bersama para murid-Nya pergi ke Betania. Mereka mendapat Lazarus telah mati dan dikuburkan. Ketika mengetahui bahwa Yesus telah datang, Marta segera menyongsongnya dan berkata: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak akan mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Di sini terungkap dengan jelas kekuatan iman Marta yang kuat kepada Yesus. Tidak hanya sampai di situ saja, Marta sungguh mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Dari dua kisah yang ditulis oleh penginjil Lukas dan Yohanes ini, kita dapat mencatat tiga tokoh penting yang terdapat di dalamnya. Pertama, Yesus. Relasi yang ditunjukkan oleh Yesus kepada tiga orang sahabatnya, Marta, Maria dan Lazarus, mau menunjukkan bahwa Yesus sungguh seorang Anak Allah sekaligus manusia. Sebagai seorang manusia, Yesus begitu peduli dan menunjukkan kasih yang dalam kepada tiga sahabatnya ini. Di sisi lain sebagai Anak Allah, Yesus telah menunjukkan wibawa ilahi-Nya dengan membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Kedua, Maria. Maria sungguh telah memilih bagian yang terutama dalam hidupnya yakni dengan mendengarkan sabda Tuhan. Dengan mendengarkan sabda Tuhan, Maria secara sadar mengarahkan hidupnya untuk tetap setia dan selalu berbakti kepada Tuhan. Ketiga, Marta. Marta adalah seorang perempuan yang ulet, telaten dan penuh dedikasi. Lewat perkenalan dan pergaulannya dengan Yesus, Marta akhirnya juga, sama seperti saudarinya Maria, menyerahkan diri sepenuhnya untuk percaya dengan total dan tulus kepada Yesus. Marta sungguh menunjukkan imannya kepada Yesus ketika menyaksikan secara langsung Yesus membangkitkan Lazarus saudaranya dari kematian.

Marta adalah seorang perempuan yang luar biasa. Oleh karena itu, baiklah pada kesempatan hari ini, kita tidak hanya mengenang beliau semata sebagai seorang mempelai Allah yang kudus, tetapi ada banyak keteladanan yang diwariskan kepada kita semua sebagai umat beriman. Marta adalah seorang perempuan yang rajin dalam bekerja. Ia sungguh-sungguh menunjukkan semangat pelayanan dalam bekerja. Bekerja tidak setengah-setengah tetapi bekerja dengan total dan tulus. Ia juga perempuan yang sangat bertanggungjawab. Segala pekerjaan harus serius dikerjakan dan dilaksanakan sampai selesai. Itulah prinsip hidup dari seorang Marta. Pada akhirnya Marta juga telah menunjukkan imannya yang total kepada Yesus, representasi Allah yang hidup di muka bumi.

Marta telah mengajarkan kepada kita di dalam komunitas ini untuk sungguh-sungguh menunjukkan komitmen dalam bekerja di unit tugas kita masing-masing. Bekerja dengan total dan tulus serta dengan penuh semangat pelayanan. Marta juga meneguhkan kita untuk tetap percaya kepada Tuhan, walau mungkin ada begitu banyak kesulitan dan tantangan hidup yang kita hadapi. Bersama Yesus, Anak Allah yang hidup, Ia akan menguatkan dan membangkitkan semangat kita untuk tidak mudah putus asa dan terlempar dari kehidupan yang tidak gampang ini. Untuk saudari/i-ku para pasien rawat jalan dan rawat inap, belajarlah dari Marta untuk tetap teguh dalam iman kepada Yesus. Pengalaman sakit tidak membuat kita semakin jauh dari Tuhan tetapi semakin mendekatkan dan merekatkan relasi kita kepada-Nya. Kita semakin percaya dalam doa-doa kita bahwa Tuhan sementara mendesain hidup kita yang terbaik. Mari kita berdoa kepada Santa Marta untuk menguatkan dan meneguhkan perjalanan hidup yang sementara kita jalani ini. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar