Luk 4:31-37
Kekaguman adalah suatu pengalaman dasar yang
menggerakkan orang untuk mencari tahu lebih dalam akan sesuatu yang mengagumkan
itu. Ia memicu gerakkan rohani seseorang untuk bertanya tentang apa
sesungguhnya yang terjadi; ia membawa orang kepada hal yang lebih hakiki dan
tidak ada hal yang lebih istimewa daripada mencintai yang hakiki itu.
Orang-orang Kapernaum kagum, takjub akan kemampuan Yesus dalam berkata-kata.
Pengajaran-Nya sangat memikat hati. Terhadap roh jahat pun, kata-kata Yesus itu
penuh wibawa dan kuasa sehingga roh jahat itu pun turut kepada-Nya. Luar biasa
menakjubkan sehingga mulut mereka sendiri mengakui: “Alangkah hebatnya
perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada
roh-roh jahat dan mereka pun keluar”.
Namun kekaguman orang-orang Kapernaum itu hanya bersifat temporal karena mereka
berhenti pada pengalaman sebagai suatu fenomena yang mereka hadapi. Mereka
tidak menjadikan pengalaman kekaguman itu suatu dasar bagi mereka untuk
bertanya mengapa Yesus bisa melakukan semuanya seperti yang mereka saksikan.
Kekaguman mereka tidak membawa mereka untuk menelisik lebih dalam siapa itu
Yesus. Maka Yesus tetap asing bagi mereka. Mereka tidak menerima Dia sebagai
Pribadi yang layak diterima dan dicintai sebagai Pribadi yang senantiasa
mengagumkan dalam hidup mereka.
Sesungguhnya, maksud dari pengajaran dan perbuatan yang mengagumkan itu bukan
supaya orang tinggal dalam kekaguman belaka, melainkan suatu pengalaman yang
membawa mereka kepada iman dan pengakuan akan Yesus sebagai Tuhan. Akan tetapi
orang-orang Kapernaum, seperti juga kebanyakan orang lainnya, tidak sampai
kepada kebenaran yang hakiki ini, yakni Dia yang sesungguhnya memiliki kuasa
yang mendatangkan berbagai hal yang mengagumkan di dalam hidup ini.
Dalam kehidupan di dunia ini, terdapat banyak hal yang ditempatkan Tuhan
sebagai suatu yang mengagumkan. Masing-masing orang memiliki pengalaman yang
menakjubkan dalam hidupnya, entah berkaitan dengan alam ciptaan-Nya, maupun
pengalaman-pengalaman yang sangat pribadi dalam hidupnya. Pengalaman-pengalaman
itu hanya bermakna apabila ia menarik dan membawa setiap orang yang
mengalaminya masuk ke dalam hal yang lebih mendasar, yaitu iman akan Dia yang
penuh kuasa dan wibawa; Dia yang membuat semuanya indah dan dikagumi.
Refleksi atas pengalaman-pengalaman hidup membuat setiap orang menemukan Dia
yang menakjubkan itu di balik semua pengalaman yang mengagumkan. Refleksi itu
jalan jiwa bagi setiap orang untuk masuk lebih dalam ke kedalaman pengalaman,
dan pada titik terdalam setiap jiwa mampu menemukan apa yang hakiki dari
pengalaman-pengalaman manusiawi yang dialami dari waktu ke waktu. Melalui
refleksi, pengalaman-pengalaman itu membawa setiap pribadi kepada iman akan
Tuhan. Orang terpanggil untuk menerima dan mencintai Dia sebagai Pribadi yang
mengagumkan, dan pasti tetap mengagumkan.
Maka ajakan penting bagi kita adalah bahwa kita jangan membiarkan
pengalaman-pengalaman yang mengagumkan dalam hidup kita terlewatkan begitu
saja. Jangan berhenti pada pengalaman itu semata. Itu baru separuh perjalanan.
Ujung jalan perjalanan belum dicapai. Hanya apabila kita bertemu dengan Dia
yang membuat segala sesuatu itu menakjubkan kita mencapai garis akhir dari
perjalanan kita.
Untuk itu, maka dalam setiap waktu kita mesti mengambil kesempatan terbaik
untuk merefleksikan pengalaman kita, agar pengalaman itu menjadi bermakna bagi
iman kita. Kita senantiasa menerima dan mencintai Dia sebagai Tuhan di dalam
hidup kita. Dan Dia pasti membuat hidup kita penuh dengan hal-hal yang menakjubkan.***
Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar