Luk 21:12-19
Hidup
dalam lindungan kasih Yesus sungguh tenteram dan damai. Setiap orang yang
datang dengan sejuta masalah, sakit penyakit dan penderitaan hidup akan
mendapat kelegahan dan kesembuhan. Kasih-Nya melampaui kasih manusia, Ia bahkan
relah mengorbankan diri-Nya mati di salib karena cinta-Nya yang besar kepada
manusia. Ia menghendaki agar semua orang dapat diselamatkan dan menikmati
perjamuan kekal bersama para kudus di surga. Mengikuti Yesus tidaklah semudah
keinginan, justru keputusan mengikuti-Nya kita harus siap memikul salib
penderitaan dan hanya orang yang memiliki iman yang teguh saja yang dapat
bertahan menjalaninya sampai puncak kesudahannya.
Yesus
dalam bacaan Injil hari ini berkata kepada murid-muridNya: “Akan datang harinya
kalian ditangkap dan dianiaya. Karena nama-Ku kalian diserahkan ke rumah-rumah
ibadat, dimasukan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja-raja dan para
penguasa”. Perkataan Yesus ini sangat menantang iman para murid, seberapa dalam
komitmen mereka mengikuti Yesus secara total. Sayangnya, dialog ini bersifat
mono arah tidak ada kesempatan bagi para murid untuk menyampaikan tanggapannya
sehingga sulit bagi kita menilai intensi kemuridan mereka. Entah dalam kesadaran
penuh atau tidak, para murid terdiam seribu bahasa, bisa jadi kesedihan
bercampur ketakutan sedang membius hati mereka. Keheningan para murid juga bisa berarti mereka sedang
menyelamai ajaran Yesus, mereka tahu konsekuensi yang harus ditanggung ketika
memilih menjadi murid Yesus. Mereka siap bersaksi dan siap memikul salib
penderitaan. Yesus adalah kebenaran pada diri-Nya, Ia menginginkan agar
kebenaran hakiki itu dapat diwartakan oleh para murid-Nya menembus ruang dan
waktu.
Setiap
kebenaran yang diwartakan akan selalu mendapat penolakan, tantangan, hinaan dan
cercahan tak berujung. Bahkan Yesus telah memperingatkan para muridNya bahwa
mereka akan dimusuhi, dilawan, ditantang dan ditangkap untuk diadili oleh para
penguasa lalim baik dari unsur pemerintahan, otoritas agama dan bahkan sadisnya
oleh keluarga dekat sendiri yang akan membunuh mereka. Permusuhan orang melawan
kebenaran tak pernah akan berakhir karena dunia lebih nyaman hidup dalam
ketidakbenaran alias kepalsuan. Kebenaran dilihat seolah-olah onggokan kotoran hewan yang
harus dibersihkan dari pandangan mata
karena akan menebarkan aroma busuk. Menjadi pengikut Yesus ibarat harus kuat
menapaki kerikil-kerikil tajam dan jalan yang terjal sampai mencapai tujuan,
itulah totalitas iman yang diharapkan oleh Yesus.
Yesus
menghimbau murid-muridNya agar kuat, teguh dan kokoh dalam menghadapi setiap
penolakan dan penderitaan yang dialami dan dalam penderitaan itu, para murid
harus berani bersaksi tentang nama-Nya. Intimidasi dan tekanan dari penguasa
jangan sampai mengalahkan misi perutusan sebagai murid-murid Kristus. Justrus
pengalaman penderitaan itu mendorong dan menguatkan iman akan kecintaan kepada
Yesus jauh lebih besar.
Pengalaman
mengungkapkan bahwa banyak orang beriman yang ketika tersandung suatu kasus
hukum dan hidup dalam pengawalan ketat, ditekan, diintimidasi bahkan diancam
untuk dibunuh, mereka begitu mudah
berbelot dan mengkhianati imannya. Mereka tak mau kehilangan nyawanya,
mereka lebih membela keselamatan badannya ketimbang keselamatan jiwanya.
Pengalaman iman yang kecut seperti ini tidak pantas dan layak menjadi
murid-murid Yesus. Kesetiaan imannya begitu rapuh dan lusuh, mudah dibarter
layaknya pasar barter. Kalau seperti ini kualitas imannya maka patut
dipertanyakan: untuk apa ia beriman, kalau imannya mudah dibeli dengan nilai
barang yang lain?
Hari
ini Yesus dengan terang benderang memberi harapan besar kepada para murid-Nya:
“ Karena nama-Ku kalian akan dibenci semua orang. Tetapi tidak sehelai pun
rambut kepalamu akan hilang. Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan
memperoleh hidupmu”. Apabila semua orang
beriman membaca dan merenungkan janji Yesus ini bagi orang yang setia dan tekun
bersaksi demi namanya, maka tak seorang pun di antara kita yang relah berbelot
atau berkhianat. Semua orang akan berlomba-lomba menjadi pengikut Yesus yang
militan. Sayangnya, janji Yesus ini mudah dikalahkan oleh gemerlapnya tawaran
dunia. Mengapa? Karena keinginan manusia jauh lebih kuat, ingin menikmati
surganya dunia kini dan disini (Roh memang kuat tapi dangin lemah). Keselamatan
kekal yang dijanjikan oleh Yesus itu dianggap tidak ada kepastiannya. Iman yang
suam-suam kuku semacam ini tidak patut dihidupkan karena cepat atau lambat akan
menjadi sampah busuk. Kerelaan untuk bersaksi tentang Yesus, tidaklah gratis
alias perdeo tetapi selalu saja mendapat ganjaran hidup kekal nanti di surga.
Janji Allah dalam diri Yesus ini tidaklah sekedar janji tetapi merupakan sebuah
kepastian karena apa yang dikatakan Yesus bagi kita, semuanya bersumber dari
sumber kebenaran mutlak sendiri yakni Allah Bapa-Nya. Tidak ada kebohongan atau
kepalsuan dalam diri Yesus, Dia adalah representasi diri Allah sendiri yang
menghendaki agar kebenaran yang dibawa-Nya diterima dan dijadikan sebagai bahan
dalam bersaksi.
Sebagai
orang beriman yang mengimani Yesus, kita diteguhkan oleh-Nya bahwa setiap
penderitaan yang kita alami karena kesaksian tentang nama-Nya, janganlah kita
gegabah memikirkan pembelaan atas diri kita untuk mencari aman. Dalam kesulitan
dan ketidakberdayaan kita, Yesus berjanji akan memberikan kata-kata hikmat
untuk berkata-kata yang dapat mematikan langkah lawan dan penguasa lalim. Semua
janji Yesus hari ini akan mendapat kepenuhannya apabila kita memiliki komitmen
yang kuat untuk setia bersaksi tentang nama-Nya. Kebenaran hakiki harus tetap
diusung bagi semua bangsa agar dengannya mencerahkan kehidupan iman umat yang
masih berjalan tertati-tati bahkan sempoyongan. Tidak ada cara lain untuk
mengubah wajah dunia yang dipoles dengan kosmetik murahan kecuali
mempertobatkan orang agar tampil asli dan hidup dalam persekutuan bersama
Yesus. Karena Yesus adalah jaminan hidup kekal kita, Yesus adalah pokok
kebenaran dan keselamatan, Dialah satu-satuNya penguasa yang memiliki otoritas
untuk menghakimi dunia.
Sabda
Yesus hari ini menginspirasi kita semua, bahwa menjadi pengikut Yesus di zaman
ini bukanlah pilihan mudah. Menentukan pilihan berarti siap menanggung
konsekuensi atasnya, artinya kita siap menanggung salib dan penderitaan hidup
karena nama-Nya. Kita tidak perlu takut dengan penguasa dunia yang laim dan
korup yang hanya bisa membunuh badan tetapi tidak bisa membunuh jiwa. Kita
harus hadir di tengah-tengah dunia memberi warna keimanan kita, menjadi garam
dan terang bagi dunia. Semangat mengubah dunia di sekitar kita adalah tanggung
jawab kita bersama, kita harus berani menyuarakan kebenaran, membongkar
kebobrokan dan struktur masif yang berpotensi merugikan banyak orang.
Keberanian itu dimungkinkan apabila kita mempersenjatai diri kita dengan
penghayatan iman yang kokoh akan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup kita.
Kita yakin bahwa Allah akan ikut campur tangan dalam menyelesaikan
persoalan-persoalan hidup kita, dan bahwa Allah sendiri akan memberikan
kata-kata hikmat yang melumpuhkan kekuasaan penguasa masif.
Menjadi
murid-murid Yesus yang militan membutuhkan penghayan iman yang menyertainya. Di
tengah krisis iman yang melanda dunia saat ini, kita semua terpanggil menjadi
saksi-saksi Kristus yang siap memikul salib penderitaan hidup untuk mengubah dunia
yang cenderung diwarnai hedonisme. Perubahan itu dapat terjadi kalau kita
memiliki komitmen iman dan keperihatinan mendalam untuk membawa semakin banyak
orang pada fase pertobatan sejati. Zaman
ini tidak ada banyak orang yang tertarik untuk mendalami, menghidupi dan
menghayati hidup imannya secara baik dan benar. Semua orang beragama tetapi
hanya segelintir orang yang mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan hidup
agamanya secara tepat. Moment ini terjadi kevakuman yang berpotensi
menghasilkan distabilitas dan intoleransi yang menghancurkan rahim kerukunan
kita. Karenanya, kita berkewajiban hadir penuh dengan mengusung misi kedamaian,
kebenaran dan menjunjung tinggi HAM sebagai penghayatan dan kesaksian iman kita
akan Yesus. ***Bernard Wadan***