Selasa, 24 November 2020

TULUS MENGIKUTI YESUS

Luk 21:12-19

   Hidup dalam lindungan kasih Yesus sungguh tenteram dan damai. Setiap orang yang datang dengan sejuta masalah, sakit penyakit dan penderitaan hidup akan mendapat kelegahan dan kesembuhan. Kasih-Nya melampaui kasih manusia, Ia bahkan relah mengorbankan diri-Nya mati di salib karena cinta-Nya yang besar kepada manusia. Ia menghendaki agar semua orang dapat diselamatkan dan menikmati perjamuan kekal bersama para kudus di surga. Mengikuti Yesus tidaklah semudah keinginan, justru keputusan mengikuti-Nya kita harus siap memikul salib penderitaan dan hanya orang yang memiliki iman yang teguh saja yang dapat bertahan menjalaninya sampai puncak kesudahannya.

            Yesus dalam bacaan Injil hari ini berkata kepada murid-muridNya: “Akan datang harinya kalian ditangkap dan dianiaya. Karena nama-Ku kalian diserahkan ke rumah-rumah ibadat, dimasukan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja-raja dan para penguasa”. Perkataan Yesus ini sangat menantang iman para murid, seberapa dalam komitmen mereka mengikuti Yesus secara total. Sayangnya, dialog ini bersifat mono arah tidak ada kesempatan bagi para murid untuk menyampaikan tanggapannya sehingga sulit bagi kita menilai intensi kemuridan mereka. Entah dalam kesadaran penuh atau tidak, para murid terdiam seribu bahasa, bisa jadi kesedihan bercampur ketakutan sedang membius hati mereka. Keheningan  para murid juga bisa berarti mereka sedang menyelamai ajaran Yesus, mereka tahu konsekuensi yang harus ditanggung ketika memilih menjadi murid Yesus. Mereka siap bersaksi dan siap memikul salib penderitaan. Yesus adalah kebenaran pada diri-Nya, Ia menginginkan agar kebenaran hakiki itu dapat diwartakan oleh para murid-Nya menembus ruang dan waktu.

            Setiap kebenaran yang diwartakan akan selalu mendapat penolakan, tantangan, hinaan dan cercahan tak berujung. Bahkan Yesus telah memperingatkan para muridNya bahwa mereka akan dimusuhi, dilawan, ditantang dan ditangkap untuk diadili oleh para penguasa lalim baik dari unsur pemerintahan, otoritas agama dan bahkan sadisnya oleh keluarga dekat sendiri yang akan membunuh mereka. Permusuhan orang melawan kebenaran tak pernah akan berakhir karena dunia lebih nyaman hidup dalam ketidakbenaran alias kepalsuan. Kebenaran dilihat  seolah-olah onggokan kotoran hewan yang harus  dibersihkan dari pandangan mata karena akan menebarkan aroma busuk. Menjadi pengikut Yesus ibarat harus kuat menapaki kerikil-kerikil tajam dan jalan yang terjal sampai mencapai tujuan, itulah totalitas iman yang diharapkan oleh Yesus.

            Yesus menghimbau murid-muridNya agar kuat, teguh dan kokoh dalam menghadapi setiap penolakan dan penderitaan yang dialami dan dalam penderitaan itu, para murid harus berani bersaksi tentang nama-Nya. Intimidasi dan tekanan dari penguasa jangan sampai mengalahkan misi perutusan sebagai murid-murid Kristus. Justrus pengalaman penderitaan itu mendorong dan menguatkan iman akan kecintaan kepada Yesus jauh lebih besar.

            Pengalaman mengungkapkan bahwa banyak orang beriman yang ketika tersandung suatu kasus hukum dan hidup dalam pengawalan ketat, ditekan, diintimidasi bahkan diancam untuk dibunuh, mereka begitu mudah  berbelot dan mengkhianati imannya. Mereka tak mau kehilangan nyawanya, mereka lebih membela keselamatan badannya ketimbang keselamatan jiwanya. Pengalaman iman yang kecut seperti ini tidak pantas dan layak menjadi murid-murid Yesus. Kesetiaan imannya begitu rapuh dan lusuh, mudah dibarter layaknya pasar barter. Kalau seperti ini kualitas imannya maka patut dipertanyakan: untuk apa ia beriman, kalau imannya mudah dibeli dengan nilai barang yang lain?

            Hari ini Yesus dengan terang benderang memberi harapan besar kepada para murid-Nya: “ Karena nama-Ku kalian akan dibenci semua orang. Tetapi tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang. Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidupmu”.  Apabila semua orang beriman membaca dan merenungkan janji Yesus ini bagi orang yang setia dan tekun bersaksi demi namanya, maka tak seorang pun di antara kita yang relah berbelot atau berkhianat. Semua orang akan berlomba-lomba menjadi pengikut Yesus yang militan. Sayangnya, janji Yesus ini mudah dikalahkan oleh gemerlapnya tawaran dunia. Mengapa? Karena keinginan manusia jauh lebih kuat, ingin menikmati surganya dunia kini dan disini (Roh memang kuat tapi dangin lemah). Keselamatan kekal yang dijanjikan oleh Yesus itu dianggap tidak ada kepastiannya. Iman yang suam-suam kuku semacam ini tidak patut dihidupkan karena cepat atau lambat akan menjadi sampah busuk. Kerelaan untuk bersaksi tentang Yesus, tidaklah gratis alias perdeo tetapi selalu saja mendapat ganjaran hidup kekal nanti di surga. Janji Allah dalam diri Yesus ini tidaklah sekedar janji tetapi merupakan sebuah kepastian karena apa yang dikatakan Yesus bagi kita, semuanya bersumber dari sumber kebenaran mutlak sendiri yakni Allah Bapa-Nya. Tidak ada kebohongan atau kepalsuan dalam diri Yesus, Dia adalah representasi diri Allah sendiri yang menghendaki agar kebenaran yang dibawa-Nya diterima dan dijadikan sebagai bahan dalam bersaksi.

            Sebagai orang beriman yang mengimani Yesus, kita diteguhkan oleh-Nya bahwa setiap penderitaan yang kita alami karena kesaksian tentang nama-Nya, janganlah kita gegabah memikirkan pembelaan atas diri kita untuk mencari aman. Dalam kesulitan dan ketidakberdayaan kita, Yesus berjanji akan memberikan kata-kata hikmat untuk berkata-kata yang dapat mematikan langkah lawan dan penguasa lalim. Semua janji Yesus hari ini akan mendapat kepenuhannya apabila kita memiliki komitmen yang kuat untuk setia bersaksi tentang nama-Nya. Kebenaran hakiki harus tetap diusung bagi semua bangsa agar dengannya mencerahkan kehidupan iman umat yang masih berjalan tertati-tati bahkan sempoyongan. Tidak ada cara lain untuk mengubah wajah dunia yang dipoles dengan kosmetik murahan kecuali mempertobatkan orang agar tampil asli dan hidup dalam persekutuan bersama Yesus. Karena Yesus adalah jaminan hidup kekal kita, Yesus adalah pokok kebenaran dan keselamatan, Dialah satu-satuNya penguasa yang memiliki otoritas untuk menghakimi dunia.

            Sabda Yesus hari ini menginspirasi kita semua, bahwa menjadi pengikut Yesus di zaman ini bukanlah pilihan mudah. Menentukan pilihan berarti siap menanggung konsekuensi atasnya, artinya kita siap menanggung salib dan penderitaan hidup karena nama-Nya. Kita tidak perlu takut dengan penguasa dunia yang laim dan korup yang hanya bisa membunuh badan tetapi tidak bisa membunuh jiwa. Kita harus hadir di tengah-tengah dunia memberi warna keimanan kita, menjadi garam dan terang bagi dunia. Semangat mengubah dunia di sekitar kita adalah tanggung jawab kita bersama, kita harus berani menyuarakan kebenaran, membongkar kebobrokan dan struktur masif yang berpotensi merugikan banyak orang. Keberanian itu dimungkinkan apabila kita mempersenjatai diri kita dengan penghayatan iman yang kokoh akan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup kita. Kita yakin bahwa Allah akan ikut campur tangan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita, dan bahwa Allah sendiri akan memberikan kata-kata hikmat yang melumpuhkan kekuasaan penguasa masif.

            Menjadi murid-murid Yesus yang militan membutuhkan penghayan iman yang menyertainya. Di tengah krisis iman yang melanda dunia saat ini, kita semua terpanggil menjadi saksi-saksi Kristus yang siap memikul salib penderitaan hidup untuk mengubah dunia yang cenderung diwarnai hedonisme. Perubahan itu dapat terjadi kalau kita memiliki komitmen iman dan keperihatinan mendalam untuk membawa semakin banyak orang pada fase pertobatan sejati.  Zaman ini tidak ada banyak orang yang tertarik untuk mendalami, menghidupi dan menghayati hidup imannya secara baik dan benar. Semua orang beragama tetapi hanya segelintir orang yang mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan hidup agamanya secara tepat. Moment ini terjadi kevakuman yang berpotensi menghasilkan distabilitas dan intoleransi yang menghancurkan rahim kerukunan kita. Karenanya, kita berkewajiban hadir penuh dengan mengusung misi kedamaian, kebenaran dan menjunjung tinggi HAM sebagai penghayatan dan kesaksian iman kita akan Yesus. ***Bernard Wadan***

 

Senin, 23 November 2020

Waspada, Supaya Kamu Jangan Disesatkan

Luk 21:5-11

“Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan”(Luk 21:8). Inilah kata-kata Yesus yang diucapkan-Nya dalam menanggapi pertanyaan para murid tentang saat kehancuraan Yerusalem.


Tanggapan ini dan pembicaraan Yesus lebih lanjut tidak hanya berkenaan dengan kehancuran Yerusalem semata, melainkan juga berhubungan dengan kedatangan-Nya kali kedua.


Barangkali, seperti perkiraan para penafsir, kehancuran seperti yang dikatakan-Nya itu menjadi suatu lambang dari kedatangan-Nya kedua untuk menghakimi dunia.


Seperti yang dikisahkan Lukas, waktu kedatangan-Nya kali kedua tidak dibicarakan Yesus dengan jelas. Yesus hanya menyinggung tanda-tanda seperti perang, gempa bumi, penyakit, dan tanda-tanda dari langit – yang disebut sebagai tanda-tanda apokaliptik - tanpa merujuk pada waktunya yang konkret; kapan harinya, kapan jamnya.

Apa yang dikatakan ini memiliki maksud tertentu yaitu sebagai suatu antisipasi Yesus bagi saat-Nya dan supaya para murid-Nya waspada selalu dan menantikan saat itu dalam keadaan siap sedia. Fakta bahwa persiapan itu diwarnai oleh masa-masa sulit yang penuh dengan penderitaan adalah konsekuensi dari kemuridan Yesus. Dan itu dibicarakan Yesus sebagai suatu persiapan untuk menghadapinya.


Seorang murid yang waspada dan siap sedia akan mudah menghadapi situasi-situasi sulit dan penderitaan, juga tidak mudah terjebak dalam kesesatan yang dibawa oleh dunia dengan menggunakan nama Tuhan.


Ketakutan terhadap berbagai penderitaan dan juga harapan akan saat itu bisa saja membuat orang terlampau peka akan nabi-nabi palsu dengan pesan-pesan palsu yang dibawanya. Namun kewaspadaan dan kesiap-sediaan menjauhkan orang dari keterjebakan diri dalam jerat nabi-nabi palsu dengan takaran tentang saat akhir yang menyesatkan.

 

Tanda-tanda apokaliptik seperti yang dikatakan Yesus memang dapat dilihat pada setiap zaman, dan itu sudah menandakan bahwa akhir sudah datang, namun tidak pernah dikatakan itulah waktunya atau jamnya.


Namun kenyataan ini dapat dimanipulasi. Banyak nabi palsu menggunakan tanda-tanda itu untuk menebarkan kesesatan melalui pesan-pesan palsu yang disisipkan. Bahkan Yesus bilang, mereka akan menggunakan naman-Nya dan menyatakan bahwa saatnya sudah dekat.

 

Persoalan nabi palsu dan pesan yang mereka bawa bukanlah hanya terjadi pada masa Yesus. Yesus berbicara tentang hal ini merujuk pada sejarah keselamatan Israel yang tidak luput dari kehadiran nabi-nabi palsu.


Ketika Ia mengingatkan para murid akan kehadiran dan aktivitas nabi-nabi itu sesungguhnya Yesus menyatakan bahwa akan ada pula penyesatan yang terjadi. Sejauh yang dapat diikuti, sampai sekarang pun penyesatan itu masih tetap ada.

 

Di zaman ini, tanda-tanda itu dapat kita lihat misalnya pada sikap pendewaan tokoh-tokoh tertentu sebagai keturunan nabi. Pengakuan akan dan pendewaan terhadap nabi-nabi palsu serta ketakutan berlebihan pada ramalan yang tidak berdasar membuat orang terlampau peka pada pesan-pesan palsu yang disampaikan. Ada perbudakan spiritual yang melahirkan banyak kesesatan, konflik dan kaos dalam kehidupan bersama sampai pada kematian yang sia-sia.


Kita tidak tertutup terhadap tanda-tanda sebab tanda-tanda itu sudah dibicarakan Yesus, namun kita bukanlah pihak yang mengklaim dapat menentukan saatnya Tuhan. Yang penting bagi kita seperti yang tandaskan Yesus adalah kewaspadaan dan kesediap-sediaan kita untuk menghadapi saatnya yang terjadi sewaktu-waktu. Tanda-tanda kita akui hadirnya sebagai kekuatan yang meningkatkan kewaspadaan dan kesiap-sediaan kita.


Bagaimana harus waspada dan siap sedia menghadapi saat Tuhan? Tuhan sendiri telah menyatakan dengan jelas apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi saatnya Tuhan. Percayalah kepada Tuhan dan peganglah kata-kata-Nya dalam menjalankan hidup ini. Iman membuat kita percaya bahwa kata-kata Tuhan adalah kebenaran.



Melakukan kebaikan dalam hidup seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita adalah cara kita memersiapkan diri kita untuk menghadapi saatnya Tuhan. Ada banyak tantangan, kesulitan dan penderitaan riil yang kita alami, namun kepercayaan pada kebenaran sabda-Nya membuat kita tetap teguh berdiri, tidak berbelok selangkah pun dalam menantikan saatnya Tuhan dan kita pasti didapati sebagai hamba yang setia. *** Apol***

Minggu, 22 November 2020

MEMBERI DIRI

Luk 21:1-4

Adagium Latin berbunyi: “Do ut des” (saya memberi supaya engkau juga memberi). Adagium ini memberi pelajaran penting bahwa ketika saya memberi sesuatu kepada anda, itu tidak sekedar “pepesan kosong”. Ada sinyal terselubung yang saya kirim kepada anda. Saya memberi sesuatu kepada anda karena saya meyakini bahwa suatu saat anda juga memberi sesuatu kepada saya. Atau jika tidak mau bersikap ego, saya lebih memilih nilai solidaritas yang berlaku secara universal. Saya mengharapkan bahwa anda mau meniru keteladanan yang telah saya lakukan dengan berbuat hal yang sama kepada orang lain. Dengan demikian Pemberian ini sifatnya pamrih. Pemberian dengan mengharapkan balasan. Apa pun motifnya, pemberian dengan balasan meniadakan suatu nilai yang paling urgen yakni memberi dengan penuh syukur dan ketulusan. Nilai dari pemberian ini sangat mulia. Orang memberi tanpa mengharapkan adanyan suatu balasan. Dan dalam hal memberi sesuatu, bukan soal banyak atau sedikit, berkualitas atau tidak, tetapi memberi dengan hati. Memberi dengan penuh keikhlasan.

 

Dalam kisah tentang Persembahan Seorang Janda Miskin (Luk 21:1-4), Yesus membandingkan dua model pemberian yang diwakili oleh dua tokoh, yang berbeda dalam status sosial. Pertama, Model pemberian dari orang kaya; yang memasukkan uang dalam jumlah yang sangat banyak ke dalam kotak persembahan. Kedua, model pemberian dari si janda miskin yang memasukkan uang dengan nominal yang sangat kecil – sebesar dua peser – ke dalam kotak persembahan. Menurut Yesus, si orang kaya memberi uang tidak dengan hati yang tulus. Ada kepentingan lain yang hendak ditonjolkan. Ia memberi supaya dilihat oleh orang lain. Ia juga memberi dari kelimpahan hartanya sehingga secara tidak langsung menegaskan kepada publik tentang status sosialnya yang mentereng.

 

Lain halnya dengan si janda miskin. Walaupun ia memberi dengan nominal yang sangat minimalis (dua peser), tetapi sesungguhnya ia memberi dengan hati yang tulus. Si janda miskin tidak memberi dari kelimpahan hartanya. Ia memberi dari kekurangan yang dimiliki. Menurut Yesus, meskipun orang kaya itu memiliki banyak harta, tetapi ia sebenarnya tidak memiliki apa-apa di mata Allah. Hal yang kontras dengan janda miskin. Meskipun tidak mempunyai apa-apa, tetapi sebenarnya ia sungguh kaya di mata Tuhan.

 

Ada dua hal inspiratif yang dapat kita belajar dari kisah Injil hari ini (Luk 21:1-4). Pertama, Yesus tidak pernah melarang orang untuk menjadi kaya secara ekonomi. Justru dari kekayaannya itu, ada nilai kristiani yang betul-betul diimplementasikan dalam hidup. Orang menjadi kaya supaya memiliki kepekaan nurani untuk dapat membantu orang lain (sesamanya). Tetapi dalam konteks ini, membantu bukan supaya diapresiasi atau disanjung oleh orang lain, namun membantu dengan hati yang tulus. Orang menjadi kaya supaya dapat menyisihkan sebagian hartanya demi keberlangsungan gereja Allah di tengah dunia. Namun bukan berarti orang membantu supaya dapat membanggakan identitas sosialnya kepada orang lain. Orang memberi atau menyumbang, entah dalam jiumlah berapa pun, karena ia memiliki hati yang tulus dan dengan penuh syukur mau menghadap kiblat-Nya.

 

Kedua, orang yang menjadi miskin itu bukan kemauan dari Tuhan. Dengan kemiskinan yang dimiliki, membuat seseorang dengan sadar, tahu dan rela, mau merekatkan relasinya dengan Sang Pencipta-Nya. Kemiskinan tidak menjadikan seseorang menjadi minder, putus asa, dan menyesali hidupnya. Atau bahkan secara lebih frontal menyalahkan Tuhan sebagai penyebabnya. Kemiskinan yang melekat sebenarnya dapat menciptakan pribadi-pribadi yang selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Ia menjadi yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan ia berjalan sendirian. Dengan hati yang total dan penuh syukur, ia tidak hanya memberi sesuatu dari kekurangan, tetapi ia memberi seluruh hidupnya dalam penyelenggaraan ilahi.

 

Memberi harus dengan penuh syukur dan hati yang tulus. Si janda miskin telah menorehkan suatu nilai yang berkualitas dalam hidup iman kita. Tidak sekedar menggugah tetapi menggugat pengalaman obyektif-empiris kita. Masih jamak dalam hidup, kita mempertontonkan sikap memberi yang tidak tulus. Kita masih mengharapkan pamrih atau balasan manakala ada sesuatu telah kita berikan kepada orang lain. Sikap baik atau tidak baik dari seseorang, masih kita ukur dari kerelaannya mau membalas atau tidak segala hal yang telah kita perbuat. Dan kita gampang untuk memvonis orang lain dengan berbagai label negatif manakala ada harapan dan tuntutan kita yang tidak tercapai.

 

Memberi dengan penuh syukur dan tulus hati adalah sebuah harga yang sangat mahal di era ini. Namun sikap ini menjadi sebuah tuntutan iman dan gerakan moral yang mestinya kita sadari dan transformasikan dalam hidup kita sehari-hari. Memberi dari apa yang kita miliki tidak sebatas dalam lingkup finansial atau materi dalam wujud apa pun. Memberi dalam lingkup yang lebih luas adalah memberi diri dengan penuh syukur dan total dalam segala karya Allah di tengah-tengah dunia. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Dalam konteks hidup sosial, kita bisa tampil menjadi pribadi pembeda di antara pribadi-pribadi lainnya dengan segala tutur dan laku kita yang membawa kehangatan dan kedamaian.

 

Di tengah masih mewabahnya Virus Covid-19, kehadiran kita di tengah masyarakat dapat memberi pemahaman yang komprehensif dan bernilai sehingga orang tidak ragu untuk menaati segala protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang. Di samping itu, orang lain juga merasa dikuatkan, didukung, dan tetap merasa optimis untuk tidak takut akan bahaya Covid-19. Hal sederhana dan praktis ini hanya dilakukan oleh pribadi yang mampu memberikan dirinya secara total demi pelayanan dan kemaslahan publik. Di atas semua itu, sikap memberi diri yang total mengungkapkan bentuk ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberi berbagai anugerah dalam hidup manusia. Mari kita memberi diri secara total dan penuh ungkapan syukur kepada Tuhan. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 15 November 2020

MENOLAK LUPA PADA TUHAN

(Luk 17: 11-19)

Sehabis berbelanja di sebuah kios, seorang anak kecil, kira-kira berusia 3 tahun, diajarkan oleh ibunya untuk mengucapkan kalimat terima kasih kepada sang tuan kios yang melayani. Dengan terbata-bata dan pelafalan yang tidak jelas sang anak kecil mengucapkan kalimat terima kasih sambil tersenyum. Saya yang turut menyaksikan peristiwa itu merasa bangga kepada sang ibu dan anaknya. “Ini contoh ibu yang baik, yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang paling dasar kepada sang anak”, kata saya dalam hati. Terima kasih, sebuah kalimat yang sederhana namun mengandung makna yang sangat mendalam. Karena kesederhanaan kalimat ini maka sering ia dilupakan dan jarang dipakai oleh manusia untuk mengekpresikan rasa syukurnya akan sesuatu hal. Kecenderungan sifat manusia adalah meminta bantuan atau pertolongan. Tetapi setelah mendapat apa yang ia inginkan, sangat jarang manusia mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk kalimat terima kasih.

 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus dihadang oleh sepuluh orang kusta yang meminta belaskasihan dari-Nya. “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (Luk 17:13). Mereka berdiri agak jauh karena penyakit yang mereka alami merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya. Merespon permintaan tersebut, Yesus menyuruh mereka untuk pergi memperlihatkan diri mereka kepada para imam. Memperlihatkan diri kepada imam adalah sebuah tradisi kala itu yang berlaku bagi seseorang yang sudah sembuh dari penyakitnya dan hendak kembali ke komunitas sosialnya. Sebelum kembali ke lingkungan asalnya, ia harus pergi melaporkan diri kepada para imam. Dan para imam akan memastikan bahwa orang itu sungguh-sungguh telah sehat dan boleh bergabung kembali bersama sanak keluarganya. Peran imam zaman Yesus memang sangat vital dan multifungsi. Mereka tidak hanya memiliki legitimasi untuk menjadi perantara antara manusia awam dan Tuhan tetapi juga memiliki privilese atau keistimewaan seperti seorang dokter di era ini.

 

Kesepuluh orang kusta itu sedang dalam perjalanan menuju rumah para imam untuk mengecek kondisi tubuhnya. Dan di tengah perjalanan mereka menyadari bahwa mereka telah tahir atau sembuh. Salah seorang dari kesepuluh orang itu kembali kepada Yesus. Sambil tersungkur di hadapan Yesus, ia mengucap syukur atas berkat kesembuhan yang telah dialaminya. Orang itu seorang Samaria. Oleh orang Yahudi, orang Samaria dicap sebagai  masyarakat rendahan, orang berdosa, dan orang kafir. Yesus rupanya terkejut karena walaupun dia seorang Samaria, tetapi orang itu bisa kembali lagi dan mengucap syukur kepadanya. Lalu kemana perginya sembilan kawannya yang tidak tahu diri itu? mungkin saking senang dan bahagia sehingga mereka lupa dengan orang yang telah menyembuhkan penyakit mereka.

 

Ada tiga pelajaran penting yang bisa petik dari bacaan ini (Rabu/11/11/2020). Pertama, sikap belaskasihan yang ditunjukkan oleh Yesus. Kesepuluh orang kusta tidak saja menderita secara fisik dan psikis. Mereka juga menderita secara sosial karena dibuang dan diasingkan oleh anggota keluarga dan lingkungan sosialnya. Tidak ada tempat yang layak selain lokalisasi kumuh yang pantas sebagai bentuk hukuman atas penyakit yang mereka derita. Walaupun sebenarnya mereka juga tidak pantas mendapatkan hukuman. Karena penyakit itu datang bukan karena kemauan mereka. Mereka ini adalah golongan orang yang tidak layak mendapat belaskasihan dari orang lain. Mereka hanya pasrah dan tinggal menunggu waktu untuk mati. Kehadiran Yesus sungguh memberi sebuah titik balik dalam kehidupan mereka. Karena sikap belaskasihan dari Yesus, kesepuluh orang kusta itu akhirnya menjadi sembuh. Mereka menjadi orang sehat dan bisa kembali ke tengah lingkungan sosialnya. Sebuah harapan hidup yang tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benak mereka.

 

Kedua, sikap syukur dari orang Samaria. Setelah menyadari bahwa ia telah sembuh, ia tidak memutuskan untuk terus pergi ke rumah imam. Ia berbalik dan segera datang kepada Yesus untuk mengucap rasa syukur. Syukur karena oleh kebaikan Tuhan, ia telah diselamatkan dan mendapatkan hidupnya kembali. Ketiga, sikap masa bodoh yang ditunjukkan oleh sembilan orang kusta. Mereka menyadari bahwa mereka telah menjadi sembuh. Tetapi entah apa yang mereka pikirkan sehingga mereka menjadi lupa atau sengaja lupa sehingga tidak berbalik arah untuk sekedar mengucap syukur kepada Yesus. Atau mungkin saja karena keinginan pribadi yang menggebu-gebu untuk segera bertemu dengan imam inilah yang mengalahkan nilai lebih penting yang harus mereka lakukan yakni mengucap rasa syukur.

 

Sikap belaskasihan dan ucapan syukur adalah dua nilai positip sekaligus berciri kristianitas yang harus kita junjung tinggi. Di tengah realitas sosial yang membentang di depan mata, sebenarnya ada banyak orang yang membutuhkan sikap belaskasihan dari kita. Tidak hanya orang yang sakit secara fisik dan ekonomi, tetapi ada sekian banyak orang yang secara sosial benar-benar mengalami kesakitan. Mereka ditinggalkan dan tidak mendapat perhatian oleh keluarganya. Secara fisik mungkin mereka ada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai. Tetapi mereka tidak merasakan kedamaian, perhatian, dan cinta yang tulus. Sikap belaskasihan menuntut kita untuk lebih peka merasakan hal-hal demikian. Tidak hanya sekedar berempati namun lewat tindakan konkrit yang bisa menyapa dan mengembalikan hidup mereka. Mungkin lewat kata-kata hiburan yang sederhana tetapi bisa menguatkan hati, kita dapat menunjukkan keberpihakan, perhatian dan cinta yang tulus untuk mereka.

 

Sikap syukur juga mau mendorong kita untuk tidak lupa akan segala kebaikan dan berkat yang telah kita alami dalam hidup ini. Segala berkat dalam kehidupan acapkali terjadi karena ada campur tangan dari orang lain. Oleh karena itu jangan lupa untuk mengucapkan kalimat yang sederhana tetapi sungguh mendalam maknanya, yakni “terima kasih.” Dan yang lebih penting jangan lupa untuk mengucap syukur kepada Sang Empunya kehidupan yang telah menjadikan segala kehidupan untuk kita. Jangan hanya mengeluh dan menggerutu saja untuk mendapatkan lebih dari apa yang sudah kita dapatkan. Orang-orang dengan mental seperti ini adalah tipe orang-orang egois yang tidak tahu mengucap syukur dalam hidupnya. Selalu merasa diri kurang, padahal hidupnya sudah dicukupkan dengan segala berkat yang ia terima.

 

Ucapan syukur kepada Tuhan tidak saja disampaikan pada saat kita mendapatkan segala keberkahan atau kebaikan, tetapi saat kita mengalami segala kesulitan dan tantangan dalam hidup. Tantangan dalam pekerjaan, tantangan dalam keluarga, tantangan dalam hidup bermasyarakat, dan sebagainya. Dalam peristiwa-peristiwa demikian justru kita semakin dikuatkan, dimatangkan, dan didewasakan dalam hidup ini. Di atas semua itu, kita percaya bahwa Tuhan sementara mendesain hidup yang terbaik untuk kita.

 

Sikap masa bodoh dan tidak mau tahu sebenarnya menjauhkan hakikat panggilan kita sebagai orang Katolik untuk menunjukkan sikap belaskasihan dan syukur terhadap segala realitas dan anugerah dalam hidup ini. Sikap masa bodoh dan tidak mau tahu adalah bagian dari sikap arogan dan egois. Selalu merasa diri paling benar, paling hebat dan selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain. Sikap-sikap destruktif ini yang bisa mengancam dan merusak rasa persatuan dan kekeluargaan kita. Saya teringat akan kata-kata bijak seperti ini, “Seorang pemimpin itu dihormati bukan karena pendidikannya yang tinggi melainkan karena kepedulian dan kerendahan hatinya.” Semoga kita mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri dengan menjauhi sikap masa bodoh dan tidak mau tahu. Semoga kita juga semakin mendekati keintiman bersama Tuhan dengan menunjukkan sikap belaskasihan dan syukur dalam hidup kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***


Minggu, 08 November 2020

TUBUH SEBAGAI GEREJA ALLAH

Yoh 2:13-22

Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Yohanes Lateran. Basilika ini dibangun oleh Kaisar Romawi Konstantinus Agung pada tahun 324 M. Basilika ini tidak saja menjadi basilika pertama yang dibangun, tetapi menjadi simbol kemerdekaan dan kebebasan umat Kristen. Maklum saja, pada tahun-tahun sebelumnya umat Kristen tidak mengalami kebebasan untuk mengekspresikan imannya secara terbuka. Mereka selalu mendapat hambatan, penindasan, dan penganiayaan dari para kaisar yang berkuasa sebelum era Konstantinus Agung. Bahkan banyak dari antara mereka yang mati sebagai seorang martir. Untuk menjalankan ibadah waktu itu, orang Kristen harus melakukannya secara tertutup di rumah-rumah umat atau di katakombe-katakombe yang sangat dirahasiakan keberadaannya. Darah para martir yang tumpah di tanah Romawi ternyata melahirkan sejarah baru yang prestisius. Kaisar Konstantinus menetapkan agama Kristen sebagai agama resmi negara. Dan ia membangun sebuah basilika yang megah yakni Basilika Yohanes Lateran untuk menandai kemerdekaan dan kebebasan umat Kristen dalam menjalankan ibadahnya secara terbuka.

 

Dalam bacaan Injil suci hari ini (Yoh 2:13-22), mengetengahkan sebuah kisah yang tidak lazim. Yesus marah dan mengamuk di Bait Allah karena mendapati sejumlah pedagang yang menjadikan pelataran Bait Allah sebagai tempat untuk berjualan. “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya (Yoh 2:15). Yesus marah dan mengusir semua pedagang karena menjadikan Bait Allah tidak sesuai dengan fungsinya. Bait Allah yang seharusnya digunakan sebagai tempat perjumpaan manusia dengan Allah, faktanya dijadikan sebagai pasar yang menyediakan semua jenis transaksi perdagangan bagi umat yang membutuhkannya.

 

Perayaan hari raya paskah orang Yahudi di Yerusalem menjadi perayaan besar yang ditunggu-tunggu oleh semua umat Yahudi di seluruh dunia. Bukan saja bagi umat Israel yang tinggal di Yerusalem. Pada saat itu, semua umat Yahudi datang dari berbagai penjuru daerah dan negara untuk merayakan hari pembebasan mereka dari tangan penjajah, bangsa Mesir. Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Tetapi dengan membawa barang persembahan berupa binatang kurban, uang, dan barang lainnya untuk dipersembahkan kepada Allah melalui tangan imam Bait Allah. Persembahan yang dibawa tidak saja diterima begitu saja oleh otoritas Bait Allah. Melainkan harus melewati sebuah tahap inspeksi yang memastikan bahwa semua barang persembahan itu sehat dan tidak terkena noda atau cacat sedikit pun. Untuk umat Yahudi yang tinggal di Israel tentu tidak terlalu sulit manakala ada barang persembahan mereka yang tidak lolos test. Mereka akan dengan mudah kembali ke daerahnya untuk mencari atau mengganti dengan barang yang lebih baik.

 

Yang menjadi masalah adalah umat Yahudi yang tinggal di luar Israel. Menjadi hal yang tidak masuk akal apabila mereka harus kembali ke negaranya untuk menukar hasil persembahan mereka yang tidak lolos inspeksi. Pihak otoritas Bait Allah kemudian mencari jalan alternatif untuk memfasilitasi segala kebutuhan persembahan orang-orang non Israel. Maka dihadirkanlah sebuah pasar dadakan di pelataran Bait Allah yang menyediakan segala kebutuhan umat.  Mereka cukup datang ke Bait Allah dan mencari barang-barang persembahan yang dibutuhkan di pelataran Bait Allah. Ada hewan kurban yang sudah dijamin kesehatannya. Ada money changer dimana mereka dapat menukar uangnya. Karena uang yang mereka bawa tidak berlaku di Israel. Bait Allah menjelang hari raya Paskah umat Yahudi tidak lebih dari sebuah tempat yang melegalisasi praktek-praktek perdagangan yang tidak saja menguntungkan para pedagang itu sendiri tetapi juga para elit agama yang memback up praktek-praktek komersial tersebut.

 

Praktek-praktek perdagangan yang terjadi di Bait Allah inilah yang menjadi sumber ketidaksukaan dan kemarahan dari Yesus. Bait Allah tidak lagi menjadi tempat perjumpaan yang sakral antara manusia dengan Allah. Bait Allah telah dinodai oleh aktivitas-aktivitas profan yang justru dilakukan oleh kaum Yahudi sendiri. Banyak umat yang hadir di Bait Allah bukan fokus untuk menunaikan kewajiban sucinya kepada Allah, tetapi lebih dipengaruhi oleh tawaran keuntungan secara ekonomis dari praktek perdagangan yang dijalankan. Kehadiran Yesus tidak saja memurnikan dan mengembalikan fungsi Bait Allah secara fisik sesuai dengan peruntukannya. Yesus juga menegaskan kehadiran Bait Allah secara spiritual yang nampak dalam diri-Nya. “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Secara simbolik Yesus sudah meramalkan tentang kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga kepada semua orang.

 

Ada dua pesan yang hendak disampaikan dari bacaan Injil yang kita baca pada hari ini. Pertama, kita harus menyadari esensi utama dari bangunan Gereja sebagai rumah Tuhan. Gereja secara fisik telah menjadi rumah persaudaraan dan persatuan antar umat. Lebih dari itu, Gereja telah menjadi ruang dialog yang intim bagi para umat beriman dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, sikap liturgis dan fokus menjadi landasan utama bagi kita untuk menjadikan Gereja sebagai sungguh-sungguh rumah Tuhan. Kedua, secara spiritual sebenarnya seluruh anggota Gereja adalah Bait Allah yang kudus. Kita sebagai umat beriman adalah Gereja-Gereja Allah yang hidup di tengah dunia. Menyadari status khusus dan unik demikian, hendaknya kita selalu memperlihatkan “Gereja kudus tubuh kita” dengan memancarkan nilai kasih, kebaikan, kedamaian dan persaudaraan di mana saja kita berada.

 

Tuhan tidak meminta sesuatu yang luar biasa dari diri kita. Tuhan hanya mengingatkan kita bahwa Gereja adalah representasi utama kehadiran Diri-Nya di muka bumi. Maka dari itu, kita harus memperlakukan Gereja sebagai sungguh-sungguh rumah tempat kediaman-Nya. Dan buka sebaliknya melecehkan kehadiran-Nya dengan sikap dan perbuatan kita yang tidak pantas. Tuhan juga berdiam di dalam hati kita sehingga kita secara otomatis telah menjadi Gereja-Gereja kudus yang hidup di tengah dunia. Semoga kita mampu membawa diri kita menjadi Gereja-gereja Allah yang sungguh-sungguh membawa keselamatan bagi diri sendiri dan semua orang yang ada di sekitar kita. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 02 November 2020

Celakalah Kamu

Luk 11:47-54

Dalam Injil hari ini, Yesus mengecam para petinggi agama Yahudi karena perbuatan mereka membangun makam para nabi yang telah dibunuh oleh nenek moyang mereka.

 

Membangun makam dan mendirikan tugu peringatan itu baik sebagai suatu penghormatan khusus kepada para nabi, bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk generasi jauh sesudah mereka. Namun mengapa tindakan itu justru dikecam?

 

Secara kasat mata, di hadapan publik, perbuatan membangun makam dan tugu peringatan itu dinilai baik. Para petinggi itu ingin memperlihatkan rasa kagum dan hormat kepada para nabi. Namun kenyataan bahwa para nabi itu semasa hidupnya mengalami nasib buruk. Bukan saja ditolak, disingkirkan, tetapi dibunuh secara tragis oleh nenek moyang mereka.

 

Yesus menyebut nabi-nabi yang dibunuh itu mulai dari Habel hingga Zakharia, artinya ada banyak nabi yang dibunuh, karena dua nama itu menunjuk rentang panjang dalam masa Perjanjian Lama. Kisah Habel tertera pada Kitab Kejadian 4:1-16 menunjukkan awal dan kisah Zakharia tertera pada Kitab 2 Tawarikh 24:20-22 adalah akhir.  Menurut kanon Kitab Suci Yahudi, Kitab 2 Tawarikh merupakan kitab terakhir dalam Perjanjian Lama.

 

Anehnya bahwa meskipun mereka ingin menunjukkan rasa hormat kepada para nabi, namun pada kenyataan bahwa nabi-nabi yang masih hidup pun diperlakukan hampir sama. Nabi-nabi yang masih hidup itu juga ditolak, disingkirkan, bahkan berusaha dibunuh. Yohanes Pembaptis dipenjarakan dan kemudian dibunuh Herodes karena ia menjalankan tugas profetisnya (Mat 4:3-11).

 

Yesus sendiri selama hidup dan menjalankan tugas perutusan-Nya mengalami serupa. Kita ingat pengalaman Yesus ditolak oleh kaum sebangsanya, orang-orang Nazareth (Luk 4:23-29). Dalam bagian terakhir dari teks Injil hari ini pun Yesus menyatakan penolakan dan usaha menyingkirkan diri-Nya oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Luk 11:53-54). Jauh sebelum Ia mengecam perbuatan mereka itu, Yesus sendiri sudah menyatakan bahwa  Ia “menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepada dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh” (Luk 9:22).

 

Fakta tentang hal ini mendasari kecaman Yesus yang tajam dan keras: “Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya” (Luk 11:47-48).

 

Yesus menunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu tidak lebih dari pengakuan atas perbuatan nenek moyang mereka dan dengan demikian secara tidak terhindarkan mewarisi tabiat buruk nenek moyang mereka itu.

 

Sementara itu, di sisi lain perbuatan mereka itu juga memerlihatkan kehausan akan kehormatan di hadapan publik. Pikirnya, dengan membangun makam dan mendirikan tugu peringatan mereka diakui telah berbuat baik. Sayangnya kemunafikan semacam itu mudah sekali dibaca dan dibongkar oleh Yesus dan kepada mereka diberi beban memikul rasa malu.

 

Dalam kehidupan kita, budaya hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat seperti yang dikritik dan dikecam Yesus itu tidak jarang ditemukan. Nafsu untuk menyingkirkan, menolak, dan bahkan membunuh itu kuat dirasakan dan dialami. Ada banyak orang berbuat baik demi kemajuan dan kebaikan bersama, namun justru mereka itulah yang ditolak, disingkirkan, bahkan dibunuh. Pecinta kebenaran dan keadilan dicekal, diteror, diancam dan dipenjarakan jika tidak dibunuh secara misterius.

 

Mungkin saja kita tidak pernah menunjukkan tabiat buruk seburuk yang diperlihatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, juga orang-orang kejam dan berdarah dingin yang telah menorehkan tinta merah pada kemanusiaan di bumi kita, namun jika kita menyelisiki sejarah kehidupan keluarga kita, komunitas kita, institusi dan tempat kerja kita, ternyata peristiwa-peristiwa serupa terjadi.

 

Menghujani orang-orang di sekitar kita dengan rupa-rupa soal dan penilaian-penilaian miring acapkali kita lakukan padahal mereka telah menunjukkan itikad dan perbuatan baik demi kebaikan bersama. Orang-orang itu meskipun potensial dan kritis namun kita padang sebagai gangguan bagi kenyamanan kita. Orang-orang itu kita tolak dan singkirkan. Kita lupa bahwa mereka itulah orang-orang terbaik yang pernah kita miliki.

 

Acapkali itu kita tunjukkan bukan dengan cara terang-terangan dan frontal, melainkan melalui sikap dan perbuatan tertentu yang terkesan baik, tetapi manipulatif dan menjerat seperti yang dilakukan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

 

Dalam terang Injil hari ini, kita dipanggil untuk mengkritisi diri kita sendiri. Sejauh mana kita menunjukkan sikap dan perbuatan kita? Apakah sudah mendekati harapan Yesus atau masih di seputar kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat?

 

Ideal hidup kita adalah hidup seperti Yesus kehendaki. Maka jadilah murid Yesus yang sejati. Itulah panggilan kita. Tidak akan ada kecaman buat kita. Jika ada maka itu demi kebaikan kita karena kesalahan kita, dan seorang murid sejati akan menerimanya demi kesejatiannya sebagai murid Tuhan. ***Apol***

Minggu, 01 November 2020

Waspada Sebagai Sikap Iman

Luk 12:35-38

Waspada atau berjaga-jaga adalah sikap iman yang sangat dibutuhkan untuk menantikan keselamatan dari Tuhan yang sudah dekat dan datangnya tidak diduga-duga. Ia dapat datang setiap waktu, tiba-tiba dan karena itu merupakan suatu kejutan.  Tuhan pasti datang  meskipun  waktunya tidak pasti.

 

Hal ini menuntut bahwa setiap waktu mesti dihadapi sebagai suatu persiapan; orang harus siaga secara rohani untuk menantikan kedatangan Tuhan. Tidak ada waktu jeda bagi seorang yang setia menantikan kedatangan Tuhan. Tidak ada waktu untuk lengah ataupun berleha-leha.

 

Yesus sendiri memberikan jaminan, yaitu suatu berkat khusus, berupa kehadiran dan kasih-Nya, bagi setiap orang yang dengan penuh kesiagaan dan kesetiaan menanti-nantikan dan berjaga-jaga  untuk kedatangan-Nya. Berkat khusus itu adalah kebahagiaan yang sempurna  yang dialami pula oleh karena diikutsertakan dalam perjamuan surgawi. Malahan Tuhan hadir untuk melayani.

 

Apa artinya menanti-nantikan dan berjaga-jaga untuk kedatangan Tuhan? Penginjil Lukas hari ini tidak melukiskan tindakan konkret apapun sebagai sikap menanti-nantikan dan berjaga-jaga. Namun Kitab Suci berbicara kepada kita apa yang perlu kita lakukan dan menunjukkan bahwa kita menanti-nanti dan berjaga-jaga bagi saat-Nya Tuhan.

 

Dalam Injil kemarin, Yesus menasihati kita agar waspada terhadap ketamakan (Luk 12:15) yang berkekuatan menjauhkan orang dari Allah. Ketamakan menjadi tanda hidup tanpa Allah dan dapat disebut penyembahan berhala (Ef 5:5; Kol 3:5). Hidup orang tamak terarah kepada dirinya sendiri, namun selalu berusaha menunjukkan kekuasaannya dalam menekan dan memerkosa kepentingan orang lain. Ia menggunakan orang lain, dan tentu merugikannya, entah dengan memeras atau merampas.

 

Bahaya ini sangat nyata dan dapat menyerang siapapun, termasuk orang percaya namun tidak waspada. Dan kepada kita dinasihati hal ini agar kita bisa waspada dan menggunakan waktu kita sepenuhnya untuk menanti-nantikan dan berjaga-jaga bagi saatnya Tuhan.

 

Waspada menggaris bawahi kenyataan bahwa hidup kita tidak terlepas dari godaan dan tantangan terbesar ini. Ibarat domba di tengah-tengah serigala, demikianlah hidup kita berada di tengah bahaya ketamakan. Setiap saat ia mengintip dan siap menerkam seperti serigala mau menerkam mangsanya.

 

Berhadapan dengan situasi seperti ini, kita menggunakan nasihat Paulus sbagai jalan bagi kita untuk menjawabi tuntutan Tuhan bagi saat kedatangan-Nya. Paulus menganjurkan agar kita perlu menyalibkan kedagingan kita (bdk. Gal 5:24) di dalam Roh yang diberikan kepada kita karena iman akan Yesus Kristus. Menggunakan bahasa Yesus, kita mesti menyangkal dan memanggul salib setiap hari ( lih. Luk 9:23). Searah dengan ini, Gereja mengajarkan tentang “pantang dan puasa” sebagai usaha mengolah dan mengatur keinginan daging kita agar hidup kita menjadi teratur dan mengarah kepada kebaikan.

 

Tentu pantang dan puasa adalah salah satu dari kegiatan penting yang perlu kita lalukan. Jika kita melengkapinya dengan kesetiaan membaca dan merenungkan Kitab Suci, doa, berbagai perayaan sakramen, terutama Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi, juga kegiatan iman  lainnya, maka kita menolong diri kita  sendiri untuk menyiapkan seluruh diri kita, baik tubuh, jiwa maupun roh kita, agar sepenuhnya menjadi murni bagi kedatangan Tuhan yang tidak dapat disangka. Kita didapati dalam keadaan siap siaga.

Sabda Tuhan diberikan kepada kita tanpa ada hasil yang nyata. Setiap kita yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjaga hidup kita dari berbagai kecemaran dan perbuatan yang sia-sia dan menggunakan seluruh waktu kita sebagai persiapan bagi kedatangan-Nya, maka kepada kita akan diberikan anugerah khusus. Tuhan hadir bagi kita dan kasih-Nya akan merangkum kita semua dan mempersatukan kita di sekeliling meja perjamuan-Nya untuk menikmati kebahagiaan dan sukacita abadi. ***Apol***