Selasa, 24 November 2020

TULUS MENGIKUTI YESUS

Luk 21:12-19

   Hidup dalam lindungan kasih Yesus sungguh tenteram dan damai. Setiap orang yang datang dengan sejuta masalah, sakit penyakit dan penderitaan hidup akan mendapat kelegahan dan kesembuhan. Kasih-Nya melampaui kasih manusia, Ia bahkan relah mengorbankan diri-Nya mati di salib karena cinta-Nya yang besar kepada manusia. Ia menghendaki agar semua orang dapat diselamatkan dan menikmati perjamuan kekal bersama para kudus di surga. Mengikuti Yesus tidaklah semudah keinginan, justru keputusan mengikuti-Nya kita harus siap memikul salib penderitaan dan hanya orang yang memiliki iman yang teguh saja yang dapat bertahan menjalaninya sampai puncak kesudahannya.

            Yesus dalam bacaan Injil hari ini berkata kepada murid-muridNya: “Akan datang harinya kalian ditangkap dan dianiaya. Karena nama-Ku kalian diserahkan ke rumah-rumah ibadat, dimasukan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja-raja dan para penguasa”. Perkataan Yesus ini sangat menantang iman para murid, seberapa dalam komitmen mereka mengikuti Yesus secara total. Sayangnya, dialog ini bersifat mono arah tidak ada kesempatan bagi para murid untuk menyampaikan tanggapannya sehingga sulit bagi kita menilai intensi kemuridan mereka. Entah dalam kesadaran penuh atau tidak, para murid terdiam seribu bahasa, bisa jadi kesedihan bercampur ketakutan sedang membius hati mereka. Keheningan  para murid juga bisa berarti mereka sedang menyelamai ajaran Yesus, mereka tahu konsekuensi yang harus ditanggung ketika memilih menjadi murid Yesus. Mereka siap bersaksi dan siap memikul salib penderitaan. Yesus adalah kebenaran pada diri-Nya, Ia menginginkan agar kebenaran hakiki itu dapat diwartakan oleh para murid-Nya menembus ruang dan waktu.

            Setiap kebenaran yang diwartakan akan selalu mendapat penolakan, tantangan, hinaan dan cercahan tak berujung. Bahkan Yesus telah memperingatkan para muridNya bahwa mereka akan dimusuhi, dilawan, ditantang dan ditangkap untuk diadili oleh para penguasa lalim baik dari unsur pemerintahan, otoritas agama dan bahkan sadisnya oleh keluarga dekat sendiri yang akan membunuh mereka. Permusuhan orang melawan kebenaran tak pernah akan berakhir karena dunia lebih nyaman hidup dalam ketidakbenaran alias kepalsuan. Kebenaran dilihat  seolah-olah onggokan kotoran hewan yang harus  dibersihkan dari pandangan mata karena akan menebarkan aroma busuk. Menjadi pengikut Yesus ibarat harus kuat menapaki kerikil-kerikil tajam dan jalan yang terjal sampai mencapai tujuan, itulah totalitas iman yang diharapkan oleh Yesus.

            Yesus menghimbau murid-muridNya agar kuat, teguh dan kokoh dalam menghadapi setiap penolakan dan penderitaan yang dialami dan dalam penderitaan itu, para murid harus berani bersaksi tentang nama-Nya. Intimidasi dan tekanan dari penguasa jangan sampai mengalahkan misi perutusan sebagai murid-murid Kristus. Justrus pengalaman penderitaan itu mendorong dan menguatkan iman akan kecintaan kepada Yesus jauh lebih besar.

            Pengalaman mengungkapkan bahwa banyak orang beriman yang ketika tersandung suatu kasus hukum dan hidup dalam pengawalan ketat, ditekan, diintimidasi bahkan diancam untuk dibunuh, mereka begitu mudah  berbelot dan mengkhianati imannya. Mereka tak mau kehilangan nyawanya, mereka lebih membela keselamatan badannya ketimbang keselamatan jiwanya. Pengalaman iman yang kecut seperti ini tidak pantas dan layak menjadi murid-murid Yesus. Kesetiaan imannya begitu rapuh dan lusuh, mudah dibarter layaknya pasar barter. Kalau seperti ini kualitas imannya maka patut dipertanyakan: untuk apa ia beriman, kalau imannya mudah dibeli dengan nilai barang yang lain?

            Hari ini Yesus dengan terang benderang memberi harapan besar kepada para murid-Nya: “ Karena nama-Ku kalian akan dibenci semua orang. Tetapi tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang. Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidupmu”.  Apabila semua orang beriman membaca dan merenungkan janji Yesus ini bagi orang yang setia dan tekun bersaksi demi namanya, maka tak seorang pun di antara kita yang relah berbelot atau berkhianat. Semua orang akan berlomba-lomba menjadi pengikut Yesus yang militan. Sayangnya, janji Yesus ini mudah dikalahkan oleh gemerlapnya tawaran dunia. Mengapa? Karena keinginan manusia jauh lebih kuat, ingin menikmati surganya dunia kini dan disini (Roh memang kuat tapi dangin lemah). Keselamatan kekal yang dijanjikan oleh Yesus itu dianggap tidak ada kepastiannya. Iman yang suam-suam kuku semacam ini tidak patut dihidupkan karena cepat atau lambat akan menjadi sampah busuk. Kerelaan untuk bersaksi tentang Yesus, tidaklah gratis alias perdeo tetapi selalu saja mendapat ganjaran hidup kekal nanti di surga. Janji Allah dalam diri Yesus ini tidaklah sekedar janji tetapi merupakan sebuah kepastian karena apa yang dikatakan Yesus bagi kita, semuanya bersumber dari sumber kebenaran mutlak sendiri yakni Allah Bapa-Nya. Tidak ada kebohongan atau kepalsuan dalam diri Yesus, Dia adalah representasi diri Allah sendiri yang menghendaki agar kebenaran yang dibawa-Nya diterima dan dijadikan sebagai bahan dalam bersaksi.

            Sebagai orang beriman yang mengimani Yesus, kita diteguhkan oleh-Nya bahwa setiap penderitaan yang kita alami karena kesaksian tentang nama-Nya, janganlah kita gegabah memikirkan pembelaan atas diri kita untuk mencari aman. Dalam kesulitan dan ketidakberdayaan kita, Yesus berjanji akan memberikan kata-kata hikmat untuk berkata-kata yang dapat mematikan langkah lawan dan penguasa lalim. Semua janji Yesus hari ini akan mendapat kepenuhannya apabila kita memiliki komitmen yang kuat untuk setia bersaksi tentang nama-Nya. Kebenaran hakiki harus tetap diusung bagi semua bangsa agar dengannya mencerahkan kehidupan iman umat yang masih berjalan tertati-tati bahkan sempoyongan. Tidak ada cara lain untuk mengubah wajah dunia yang dipoles dengan kosmetik murahan kecuali mempertobatkan orang agar tampil asli dan hidup dalam persekutuan bersama Yesus. Karena Yesus adalah jaminan hidup kekal kita, Yesus adalah pokok kebenaran dan keselamatan, Dialah satu-satuNya penguasa yang memiliki otoritas untuk menghakimi dunia.

            Sabda Yesus hari ini menginspirasi kita semua, bahwa menjadi pengikut Yesus di zaman ini bukanlah pilihan mudah. Menentukan pilihan berarti siap menanggung konsekuensi atasnya, artinya kita siap menanggung salib dan penderitaan hidup karena nama-Nya. Kita tidak perlu takut dengan penguasa dunia yang laim dan korup yang hanya bisa membunuh badan tetapi tidak bisa membunuh jiwa. Kita harus hadir di tengah-tengah dunia memberi warna keimanan kita, menjadi garam dan terang bagi dunia. Semangat mengubah dunia di sekitar kita adalah tanggung jawab kita bersama, kita harus berani menyuarakan kebenaran, membongkar kebobrokan dan struktur masif yang berpotensi merugikan banyak orang. Keberanian itu dimungkinkan apabila kita mempersenjatai diri kita dengan penghayatan iman yang kokoh akan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup kita. Kita yakin bahwa Allah akan ikut campur tangan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita, dan bahwa Allah sendiri akan memberikan kata-kata hikmat yang melumpuhkan kekuasaan penguasa masif.

            Menjadi murid-murid Yesus yang militan membutuhkan penghayan iman yang menyertainya. Di tengah krisis iman yang melanda dunia saat ini, kita semua terpanggil menjadi saksi-saksi Kristus yang siap memikul salib penderitaan hidup untuk mengubah dunia yang cenderung diwarnai hedonisme. Perubahan itu dapat terjadi kalau kita memiliki komitmen iman dan keperihatinan mendalam untuk membawa semakin banyak orang pada fase pertobatan sejati.  Zaman ini tidak ada banyak orang yang tertarik untuk mendalami, menghidupi dan menghayati hidup imannya secara baik dan benar. Semua orang beragama tetapi hanya segelintir orang yang mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan hidup agamanya secara tepat. Moment ini terjadi kevakuman yang berpotensi menghasilkan distabilitas dan intoleransi yang menghancurkan rahim kerukunan kita. Karenanya, kita berkewajiban hadir penuh dengan mengusung misi kedamaian, kebenaran dan menjunjung tinggi HAM sebagai penghayatan dan kesaksian iman kita akan Yesus. ***Bernard Wadan***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar