Minggu, 08 November 2020

TUBUH SEBAGAI GEREJA ALLAH

Yoh 2:13-22

Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Yohanes Lateran. Basilika ini dibangun oleh Kaisar Romawi Konstantinus Agung pada tahun 324 M. Basilika ini tidak saja menjadi basilika pertama yang dibangun, tetapi menjadi simbol kemerdekaan dan kebebasan umat Kristen. Maklum saja, pada tahun-tahun sebelumnya umat Kristen tidak mengalami kebebasan untuk mengekspresikan imannya secara terbuka. Mereka selalu mendapat hambatan, penindasan, dan penganiayaan dari para kaisar yang berkuasa sebelum era Konstantinus Agung. Bahkan banyak dari antara mereka yang mati sebagai seorang martir. Untuk menjalankan ibadah waktu itu, orang Kristen harus melakukannya secara tertutup di rumah-rumah umat atau di katakombe-katakombe yang sangat dirahasiakan keberadaannya. Darah para martir yang tumpah di tanah Romawi ternyata melahirkan sejarah baru yang prestisius. Kaisar Konstantinus menetapkan agama Kristen sebagai agama resmi negara. Dan ia membangun sebuah basilika yang megah yakni Basilika Yohanes Lateran untuk menandai kemerdekaan dan kebebasan umat Kristen dalam menjalankan ibadahnya secara terbuka.

 

Dalam bacaan Injil suci hari ini (Yoh 2:13-22), mengetengahkan sebuah kisah yang tidak lazim. Yesus marah dan mengamuk di Bait Allah karena mendapati sejumlah pedagang yang menjadikan pelataran Bait Allah sebagai tempat untuk berjualan. “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya (Yoh 2:15). Yesus marah dan mengusir semua pedagang karena menjadikan Bait Allah tidak sesuai dengan fungsinya. Bait Allah yang seharusnya digunakan sebagai tempat perjumpaan manusia dengan Allah, faktanya dijadikan sebagai pasar yang menyediakan semua jenis transaksi perdagangan bagi umat yang membutuhkannya.

 

Perayaan hari raya paskah orang Yahudi di Yerusalem menjadi perayaan besar yang ditunggu-tunggu oleh semua umat Yahudi di seluruh dunia. Bukan saja bagi umat Israel yang tinggal di Yerusalem. Pada saat itu, semua umat Yahudi datang dari berbagai penjuru daerah dan negara untuk merayakan hari pembebasan mereka dari tangan penjajah, bangsa Mesir. Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Tetapi dengan membawa barang persembahan berupa binatang kurban, uang, dan barang lainnya untuk dipersembahkan kepada Allah melalui tangan imam Bait Allah. Persembahan yang dibawa tidak saja diterima begitu saja oleh otoritas Bait Allah. Melainkan harus melewati sebuah tahap inspeksi yang memastikan bahwa semua barang persembahan itu sehat dan tidak terkena noda atau cacat sedikit pun. Untuk umat Yahudi yang tinggal di Israel tentu tidak terlalu sulit manakala ada barang persembahan mereka yang tidak lolos test. Mereka akan dengan mudah kembali ke daerahnya untuk mencari atau mengganti dengan barang yang lebih baik.

 

Yang menjadi masalah adalah umat Yahudi yang tinggal di luar Israel. Menjadi hal yang tidak masuk akal apabila mereka harus kembali ke negaranya untuk menukar hasil persembahan mereka yang tidak lolos inspeksi. Pihak otoritas Bait Allah kemudian mencari jalan alternatif untuk memfasilitasi segala kebutuhan persembahan orang-orang non Israel. Maka dihadirkanlah sebuah pasar dadakan di pelataran Bait Allah yang menyediakan segala kebutuhan umat.  Mereka cukup datang ke Bait Allah dan mencari barang-barang persembahan yang dibutuhkan di pelataran Bait Allah. Ada hewan kurban yang sudah dijamin kesehatannya. Ada money changer dimana mereka dapat menukar uangnya. Karena uang yang mereka bawa tidak berlaku di Israel. Bait Allah menjelang hari raya Paskah umat Yahudi tidak lebih dari sebuah tempat yang melegalisasi praktek-praktek perdagangan yang tidak saja menguntungkan para pedagang itu sendiri tetapi juga para elit agama yang memback up praktek-praktek komersial tersebut.

 

Praktek-praktek perdagangan yang terjadi di Bait Allah inilah yang menjadi sumber ketidaksukaan dan kemarahan dari Yesus. Bait Allah tidak lagi menjadi tempat perjumpaan yang sakral antara manusia dengan Allah. Bait Allah telah dinodai oleh aktivitas-aktivitas profan yang justru dilakukan oleh kaum Yahudi sendiri. Banyak umat yang hadir di Bait Allah bukan fokus untuk menunaikan kewajiban sucinya kepada Allah, tetapi lebih dipengaruhi oleh tawaran keuntungan secara ekonomis dari praktek perdagangan yang dijalankan. Kehadiran Yesus tidak saja memurnikan dan mengembalikan fungsi Bait Allah secara fisik sesuai dengan peruntukannya. Yesus juga menegaskan kehadiran Bait Allah secara spiritual yang nampak dalam diri-Nya. “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Secara simbolik Yesus sudah meramalkan tentang kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga kepada semua orang.

 

Ada dua pesan yang hendak disampaikan dari bacaan Injil yang kita baca pada hari ini. Pertama, kita harus menyadari esensi utama dari bangunan Gereja sebagai rumah Tuhan. Gereja secara fisik telah menjadi rumah persaudaraan dan persatuan antar umat. Lebih dari itu, Gereja telah menjadi ruang dialog yang intim bagi para umat beriman dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, sikap liturgis dan fokus menjadi landasan utama bagi kita untuk menjadikan Gereja sebagai sungguh-sungguh rumah Tuhan. Kedua, secara spiritual sebenarnya seluruh anggota Gereja adalah Bait Allah yang kudus. Kita sebagai umat beriman adalah Gereja-Gereja Allah yang hidup di tengah dunia. Menyadari status khusus dan unik demikian, hendaknya kita selalu memperlihatkan “Gereja kudus tubuh kita” dengan memancarkan nilai kasih, kebaikan, kedamaian dan persaudaraan di mana saja kita berada.

 

Tuhan tidak meminta sesuatu yang luar biasa dari diri kita. Tuhan hanya mengingatkan kita bahwa Gereja adalah representasi utama kehadiran Diri-Nya di muka bumi. Maka dari itu, kita harus memperlakukan Gereja sebagai sungguh-sungguh rumah tempat kediaman-Nya. Dan buka sebaliknya melecehkan kehadiran-Nya dengan sikap dan perbuatan kita yang tidak pantas. Tuhan juga berdiam di dalam hati kita sehingga kita secara otomatis telah menjadi Gereja-Gereja kudus yang hidup di tengah dunia. Semoga kita mampu membawa diri kita menjadi Gereja-gereja Allah yang sungguh-sungguh membawa keselamatan bagi diri sendiri dan semua orang yang ada di sekitar kita. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar