Yoh 2:13-22
Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Pemberkatan Basilika
Yohanes Lateran. Basilika ini dibangun oleh Kaisar Romawi Konstantinus Agung
pada tahun 324 M. Basilika ini tidak saja menjadi basilika pertama yang
dibangun, tetapi menjadi simbol kemerdekaan dan kebebasan umat Kristen. Maklum
saja, pada tahun-tahun sebelumnya umat Kristen tidak mengalami kebebasan untuk
mengekspresikan imannya secara terbuka. Mereka selalu mendapat hambatan,
penindasan, dan penganiayaan dari para kaisar yang berkuasa sebelum era
Konstantinus Agung. Bahkan banyak dari antara mereka yang mati sebagai seorang
martir. Untuk menjalankan ibadah waktu itu, orang Kristen harus melakukannya
secara tertutup di rumah-rumah umat atau di katakombe-katakombe yang sangat
dirahasiakan keberadaannya. Darah para martir yang tumpah di tanah Romawi
ternyata melahirkan sejarah baru yang prestisius. Kaisar Konstantinus
menetapkan agama Kristen sebagai agama resmi negara. Dan ia membangun sebuah
basilika yang megah yakni Basilika Yohanes Lateran untuk menandai kemerdekaan
dan kebebasan umat Kristen dalam menjalankan ibadahnya secara terbuka.
Dalam bacaan Injil suci hari ini (Yoh 2:13-22), mengetengahkan sebuah kisah
yang tidak lazim. Yesus marah dan mengamuk di Bait Allah karena mendapati
sejumlah pedagang yang menjadikan pelataran Bait Allah sebagai tempat untuk
berjualan. “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait
Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar
dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya (Yoh 2:15). Yesus
marah dan mengusir semua pedagang karena menjadikan Bait Allah tidak sesuai
dengan fungsinya. Bait Allah yang seharusnya digunakan sebagai tempat
perjumpaan manusia dengan Allah, faktanya dijadikan sebagai pasar yang
menyediakan semua jenis transaksi perdagangan bagi umat yang membutuhkannya.
Perayaan hari raya paskah orang Yahudi di Yerusalem menjadi perayaan besar
yang ditunggu-tunggu oleh semua umat Yahudi di seluruh dunia. Bukan saja bagi
umat Israel yang tinggal di Yerusalem. Pada saat itu, semua umat Yahudi datang
dari berbagai penjuru daerah dan negara untuk merayakan hari pembebasan mereka
dari tangan penjajah, bangsa Mesir. Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Tetapi
dengan membawa barang persembahan berupa binatang kurban, uang, dan barang
lainnya untuk dipersembahkan kepada Allah melalui tangan imam Bait Allah.
Persembahan yang dibawa tidak saja diterima begitu saja oleh otoritas Bait
Allah. Melainkan harus melewati sebuah tahap inspeksi yang memastikan bahwa
semua barang persembahan itu sehat dan tidak terkena noda atau cacat sedikit
pun. Untuk umat Yahudi yang tinggal di Israel tentu tidak terlalu sulit
manakala ada barang persembahan mereka yang tidak lolos test. Mereka akan
dengan mudah kembali ke daerahnya untuk mencari atau mengganti dengan barang
yang lebih baik.
Yang menjadi masalah adalah umat Yahudi yang tinggal di luar Israel.
Menjadi hal yang tidak masuk akal apabila mereka harus kembali ke negaranya
untuk menukar hasil persembahan mereka yang tidak lolos inspeksi. Pihak
otoritas Bait Allah kemudian mencari jalan alternatif untuk memfasilitasi
segala kebutuhan persembahan orang-orang non Israel. Maka dihadirkanlah sebuah
pasar dadakan di pelataran Bait Allah yang menyediakan segala kebutuhan
umat. Mereka cukup datang ke Bait Allah
dan mencari barang-barang persembahan yang dibutuhkan di pelataran Bait Allah.
Ada hewan kurban yang sudah dijamin kesehatannya. Ada money changer dimana mereka dapat menukar uangnya. Karena uang yang
mereka bawa tidak berlaku di Israel. Bait Allah menjelang hari raya Paskah umat
Yahudi tidak lebih dari sebuah tempat yang melegalisasi praktek-praktek
perdagangan yang tidak saja menguntungkan para pedagang itu sendiri tetapi juga
para elit agama yang memback up
praktek-praktek komersial tersebut.
Praktek-praktek perdagangan yang terjadi di Bait Allah inilah yang menjadi
sumber ketidaksukaan dan kemarahan dari Yesus. Bait Allah tidak lagi menjadi
tempat perjumpaan yang sakral antara manusia dengan Allah. Bait Allah telah
dinodai oleh aktivitas-aktivitas profan yang justru dilakukan oleh kaum Yahudi
sendiri. Banyak umat yang hadir di Bait Allah bukan fokus untuk menunaikan
kewajiban sucinya kepada Allah, tetapi lebih dipengaruhi oleh tawaran
keuntungan secara ekonomis dari praktek perdagangan yang dijalankan. Kehadiran
Yesus tidak saja memurnikan dan mengembalikan fungsi Bait Allah secara fisik
sesuai dengan peruntukannya. Yesus juga menegaskan kehadiran Bait Allah secara
spiritual yang nampak dalam diri-Nya. “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga
hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Secara simbolik Yesus sudah
meramalkan tentang kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga kepada semua
orang.
Ada dua pesan yang hendak disampaikan dari bacaan Injil yang kita baca pada
hari ini. Pertama, kita harus menyadari esensi utama dari bangunan Gereja
sebagai rumah Tuhan. Gereja secara fisik telah menjadi rumah persaudaraan dan
persatuan antar umat. Lebih dari itu, Gereja telah menjadi ruang dialog yang
intim bagi para umat beriman dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, sikap
liturgis dan fokus menjadi landasan utama bagi kita untuk menjadikan Gereja
sebagai sungguh-sungguh rumah Tuhan. Kedua, secara spiritual sebenarnya seluruh
anggota Gereja adalah Bait Allah yang kudus. Kita sebagai umat beriman adalah
Gereja-Gereja Allah yang hidup di tengah dunia. Menyadari status khusus dan
unik demikian, hendaknya kita selalu memperlihatkan “Gereja kudus tubuh kita”
dengan memancarkan nilai kasih, kebaikan, kedamaian dan persaudaraan di mana
saja kita berada.
Tuhan tidak meminta sesuatu yang luar biasa dari diri kita. Tuhan hanya
mengingatkan kita bahwa Gereja adalah representasi utama kehadiran Diri-Nya di
muka bumi. Maka dari itu, kita harus memperlakukan Gereja sebagai
sungguh-sungguh rumah tempat kediaman-Nya. Dan buka sebaliknya melecehkan
kehadiran-Nya dengan sikap dan perbuatan kita yang tidak pantas. Tuhan juga
berdiam di dalam hati kita sehingga kita secara otomatis telah menjadi Gereja-Gereja
kudus yang hidup di tengah dunia. Semoga kita mampu membawa diri kita menjadi
Gereja-gereja Allah yang sungguh-sungguh membawa keselamatan bagi diri sendiri
dan semua orang yang ada di sekitar kita. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar