Luk
21:5-11
“Waspadalah,
supaya kamu jangan disesatkan”(Luk 21:8). Inilah kata-kata Yesus yang
diucapkan-Nya dalam menanggapi pertanyaan para murid tentang saat kehancuraan
Yerusalem.
Tanggapan ini dan pembicaraan Yesus lebih lanjut tidak hanya berkenaan dengan
kehancuran Yerusalem semata, melainkan juga berhubungan dengan kedatangan-Nya
kali kedua.
Barangkali, seperti perkiraan para penafsir, kehancuran seperti yang
dikatakan-Nya itu menjadi suatu lambang dari kedatangan-Nya kedua untuk
menghakimi dunia.
Seperti yang dikisahkan Lukas, waktu kedatangan-Nya kali kedua tidak
dibicarakan Yesus dengan jelas. Yesus hanya menyinggung tanda-tanda seperti
perang, gempa bumi, penyakit, dan tanda-tanda dari langit – yang disebut
sebagai tanda-tanda apokaliptik - tanpa merujuk pada waktunya yang konkret;
kapan harinya, kapan jamnya.
Apa yang dikatakan ini memiliki maksud tertentu yaitu sebagai suatu antisipasi Yesus bagi saat-Nya dan supaya para murid-Nya waspada selalu dan menantikan saat itu dalam keadaan siap sedia. Fakta bahwa persiapan itu diwarnai oleh masa-masa sulit yang penuh dengan penderitaan adalah konsekuensi dari kemuridan Yesus. Dan itu dibicarakan Yesus sebagai suatu persiapan untuk menghadapinya.
Seorang murid yang waspada dan siap sedia akan mudah menghadapi situasi-situasi
sulit dan penderitaan, juga tidak mudah terjebak dalam kesesatan yang dibawa
oleh dunia dengan menggunakan nama Tuhan.
Ketakutan terhadap berbagai penderitaan dan juga harapan akan saat itu bisa
saja membuat orang terlampau peka akan nabi-nabi palsu dengan pesan-pesan palsu
yang dibawanya. Namun kewaspadaan dan kesiap-sediaan menjauhkan orang dari
keterjebakan diri dalam jerat nabi-nabi palsu dengan takaran tentang saat akhir
yang menyesatkan.
Tanda-tanda
apokaliptik seperti yang dikatakan Yesus memang dapat dilihat pada setiap
zaman, dan itu sudah menandakan bahwa akhir sudah datang, namun tidak pernah
dikatakan itulah waktunya atau jamnya.
Namun kenyataan ini dapat dimanipulasi. Banyak nabi palsu menggunakan
tanda-tanda itu untuk menebarkan kesesatan melalui pesan-pesan palsu yang
disisipkan. Bahkan Yesus bilang, mereka akan menggunakan naman-Nya dan
menyatakan bahwa saatnya sudah dekat.
Persoalan
nabi palsu dan pesan yang mereka bawa bukanlah hanya terjadi pada masa Yesus.
Yesus berbicara tentang hal ini merujuk pada sejarah keselamatan Israel yang
tidak luput dari kehadiran nabi-nabi palsu.
Ketika Ia mengingatkan para murid akan kehadiran dan aktivitas nabi-nabi itu
sesungguhnya Yesus menyatakan bahwa akan ada pula penyesatan yang terjadi.
Sejauh yang dapat diikuti, sampai sekarang pun penyesatan itu masih tetap ada.
Di zaman
ini, tanda-tanda itu dapat kita lihat misalnya pada sikap pendewaan tokoh-tokoh
tertentu sebagai keturunan nabi. Pengakuan akan dan pendewaan terhadap
nabi-nabi palsu serta ketakutan berlebihan pada ramalan yang tidak berdasar
membuat orang terlampau peka pada pesan-pesan palsu yang disampaikan. Ada
perbudakan spiritual yang melahirkan banyak kesesatan, konflik dan kaos dalam
kehidupan bersama sampai pada kematian yang sia-sia.
Kita tidak tertutup terhadap tanda-tanda sebab tanda-tanda itu sudah
dibicarakan Yesus, namun kita bukanlah pihak yang mengklaim dapat menentukan
saatnya Tuhan. Yang penting bagi kita seperti yang tandaskan Yesus adalah
kewaspadaan dan kesediap-sediaan kita untuk menghadapi saatnya yang terjadi
sewaktu-waktu. Tanda-tanda kita akui hadirnya sebagai kekuatan yang
meningkatkan kewaspadaan dan kesiap-sediaan kita.
Bagaimana harus waspada dan siap sedia menghadapi saat Tuhan? Tuhan sendiri
telah menyatakan dengan jelas apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi
saatnya Tuhan. Percayalah kepada Tuhan dan peganglah kata-kata-Nya dalam
menjalankan hidup ini. Iman membuat kita percaya bahwa kata-kata Tuhan adalah
kebenaran.
Melakukan
kebaikan dalam hidup seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita adalah cara
kita memersiapkan diri kita untuk menghadapi saatnya Tuhan. Ada banyak
tantangan, kesulitan dan penderitaan riil yang kita alami, namun kepercayaan
pada kebenaran sabda-Nya membuat kita tetap teguh berdiri, tidak berbelok
selangkah pun dalam menantikan saatnya Tuhan dan kita pasti didapati sebagai
hamba yang setia. *** Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar