Senin, 23 November 2020

Waspada, Supaya Kamu Jangan Disesatkan

Luk 21:5-11

“Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan”(Luk 21:8). Inilah kata-kata Yesus yang diucapkan-Nya dalam menanggapi pertanyaan para murid tentang saat kehancuraan Yerusalem.


Tanggapan ini dan pembicaraan Yesus lebih lanjut tidak hanya berkenaan dengan kehancuran Yerusalem semata, melainkan juga berhubungan dengan kedatangan-Nya kali kedua.


Barangkali, seperti perkiraan para penafsir, kehancuran seperti yang dikatakan-Nya itu menjadi suatu lambang dari kedatangan-Nya kedua untuk menghakimi dunia.


Seperti yang dikisahkan Lukas, waktu kedatangan-Nya kali kedua tidak dibicarakan Yesus dengan jelas. Yesus hanya menyinggung tanda-tanda seperti perang, gempa bumi, penyakit, dan tanda-tanda dari langit – yang disebut sebagai tanda-tanda apokaliptik - tanpa merujuk pada waktunya yang konkret; kapan harinya, kapan jamnya.

Apa yang dikatakan ini memiliki maksud tertentu yaitu sebagai suatu antisipasi Yesus bagi saat-Nya dan supaya para murid-Nya waspada selalu dan menantikan saat itu dalam keadaan siap sedia. Fakta bahwa persiapan itu diwarnai oleh masa-masa sulit yang penuh dengan penderitaan adalah konsekuensi dari kemuridan Yesus. Dan itu dibicarakan Yesus sebagai suatu persiapan untuk menghadapinya.


Seorang murid yang waspada dan siap sedia akan mudah menghadapi situasi-situasi sulit dan penderitaan, juga tidak mudah terjebak dalam kesesatan yang dibawa oleh dunia dengan menggunakan nama Tuhan.


Ketakutan terhadap berbagai penderitaan dan juga harapan akan saat itu bisa saja membuat orang terlampau peka akan nabi-nabi palsu dengan pesan-pesan palsu yang dibawanya. Namun kewaspadaan dan kesiap-sediaan menjauhkan orang dari keterjebakan diri dalam jerat nabi-nabi palsu dengan takaran tentang saat akhir yang menyesatkan.

 

Tanda-tanda apokaliptik seperti yang dikatakan Yesus memang dapat dilihat pada setiap zaman, dan itu sudah menandakan bahwa akhir sudah datang, namun tidak pernah dikatakan itulah waktunya atau jamnya.


Namun kenyataan ini dapat dimanipulasi. Banyak nabi palsu menggunakan tanda-tanda itu untuk menebarkan kesesatan melalui pesan-pesan palsu yang disisipkan. Bahkan Yesus bilang, mereka akan menggunakan naman-Nya dan menyatakan bahwa saatnya sudah dekat.

 

Persoalan nabi palsu dan pesan yang mereka bawa bukanlah hanya terjadi pada masa Yesus. Yesus berbicara tentang hal ini merujuk pada sejarah keselamatan Israel yang tidak luput dari kehadiran nabi-nabi palsu.


Ketika Ia mengingatkan para murid akan kehadiran dan aktivitas nabi-nabi itu sesungguhnya Yesus menyatakan bahwa akan ada pula penyesatan yang terjadi. Sejauh yang dapat diikuti, sampai sekarang pun penyesatan itu masih tetap ada.

 

Di zaman ini, tanda-tanda itu dapat kita lihat misalnya pada sikap pendewaan tokoh-tokoh tertentu sebagai keturunan nabi. Pengakuan akan dan pendewaan terhadap nabi-nabi palsu serta ketakutan berlebihan pada ramalan yang tidak berdasar membuat orang terlampau peka pada pesan-pesan palsu yang disampaikan. Ada perbudakan spiritual yang melahirkan banyak kesesatan, konflik dan kaos dalam kehidupan bersama sampai pada kematian yang sia-sia.


Kita tidak tertutup terhadap tanda-tanda sebab tanda-tanda itu sudah dibicarakan Yesus, namun kita bukanlah pihak yang mengklaim dapat menentukan saatnya Tuhan. Yang penting bagi kita seperti yang tandaskan Yesus adalah kewaspadaan dan kesediap-sediaan kita untuk menghadapi saatnya yang terjadi sewaktu-waktu. Tanda-tanda kita akui hadirnya sebagai kekuatan yang meningkatkan kewaspadaan dan kesiap-sediaan kita.


Bagaimana harus waspada dan siap sedia menghadapi saat Tuhan? Tuhan sendiri telah menyatakan dengan jelas apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi saatnya Tuhan. Percayalah kepada Tuhan dan peganglah kata-kata-Nya dalam menjalankan hidup ini. Iman membuat kita percaya bahwa kata-kata Tuhan adalah kebenaran.



Melakukan kebaikan dalam hidup seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita adalah cara kita memersiapkan diri kita untuk menghadapi saatnya Tuhan. Ada banyak tantangan, kesulitan dan penderitaan riil yang kita alami, namun kepercayaan pada kebenaran sabda-Nya membuat kita tetap teguh berdiri, tidak berbelok selangkah pun dalam menantikan saatnya Tuhan dan kita pasti didapati sebagai hamba yang setia. *** Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar