Minggu, 15 November 2020

MENOLAK LUPA PADA TUHAN

(Luk 17: 11-19)

Sehabis berbelanja di sebuah kios, seorang anak kecil, kira-kira berusia 3 tahun, diajarkan oleh ibunya untuk mengucapkan kalimat terima kasih kepada sang tuan kios yang melayani. Dengan terbata-bata dan pelafalan yang tidak jelas sang anak kecil mengucapkan kalimat terima kasih sambil tersenyum. Saya yang turut menyaksikan peristiwa itu merasa bangga kepada sang ibu dan anaknya. “Ini contoh ibu yang baik, yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang paling dasar kepada sang anak”, kata saya dalam hati. Terima kasih, sebuah kalimat yang sederhana namun mengandung makna yang sangat mendalam. Karena kesederhanaan kalimat ini maka sering ia dilupakan dan jarang dipakai oleh manusia untuk mengekpresikan rasa syukurnya akan sesuatu hal. Kecenderungan sifat manusia adalah meminta bantuan atau pertolongan. Tetapi setelah mendapat apa yang ia inginkan, sangat jarang manusia mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk kalimat terima kasih.

 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus dihadang oleh sepuluh orang kusta yang meminta belaskasihan dari-Nya. “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (Luk 17:13). Mereka berdiri agak jauh karena penyakit yang mereka alami merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya. Merespon permintaan tersebut, Yesus menyuruh mereka untuk pergi memperlihatkan diri mereka kepada para imam. Memperlihatkan diri kepada imam adalah sebuah tradisi kala itu yang berlaku bagi seseorang yang sudah sembuh dari penyakitnya dan hendak kembali ke komunitas sosialnya. Sebelum kembali ke lingkungan asalnya, ia harus pergi melaporkan diri kepada para imam. Dan para imam akan memastikan bahwa orang itu sungguh-sungguh telah sehat dan boleh bergabung kembali bersama sanak keluarganya. Peran imam zaman Yesus memang sangat vital dan multifungsi. Mereka tidak hanya memiliki legitimasi untuk menjadi perantara antara manusia awam dan Tuhan tetapi juga memiliki privilese atau keistimewaan seperti seorang dokter di era ini.

 

Kesepuluh orang kusta itu sedang dalam perjalanan menuju rumah para imam untuk mengecek kondisi tubuhnya. Dan di tengah perjalanan mereka menyadari bahwa mereka telah tahir atau sembuh. Salah seorang dari kesepuluh orang itu kembali kepada Yesus. Sambil tersungkur di hadapan Yesus, ia mengucap syukur atas berkat kesembuhan yang telah dialaminya. Orang itu seorang Samaria. Oleh orang Yahudi, orang Samaria dicap sebagai  masyarakat rendahan, orang berdosa, dan orang kafir. Yesus rupanya terkejut karena walaupun dia seorang Samaria, tetapi orang itu bisa kembali lagi dan mengucap syukur kepadanya. Lalu kemana perginya sembilan kawannya yang tidak tahu diri itu? mungkin saking senang dan bahagia sehingga mereka lupa dengan orang yang telah menyembuhkan penyakit mereka.

 

Ada tiga pelajaran penting yang bisa petik dari bacaan ini (Rabu/11/11/2020). Pertama, sikap belaskasihan yang ditunjukkan oleh Yesus. Kesepuluh orang kusta tidak saja menderita secara fisik dan psikis. Mereka juga menderita secara sosial karena dibuang dan diasingkan oleh anggota keluarga dan lingkungan sosialnya. Tidak ada tempat yang layak selain lokalisasi kumuh yang pantas sebagai bentuk hukuman atas penyakit yang mereka derita. Walaupun sebenarnya mereka juga tidak pantas mendapatkan hukuman. Karena penyakit itu datang bukan karena kemauan mereka. Mereka ini adalah golongan orang yang tidak layak mendapat belaskasihan dari orang lain. Mereka hanya pasrah dan tinggal menunggu waktu untuk mati. Kehadiran Yesus sungguh memberi sebuah titik balik dalam kehidupan mereka. Karena sikap belaskasihan dari Yesus, kesepuluh orang kusta itu akhirnya menjadi sembuh. Mereka menjadi orang sehat dan bisa kembali ke tengah lingkungan sosialnya. Sebuah harapan hidup yang tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benak mereka.

 

Kedua, sikap syukur dari orang Samaria. Setelah menyadari bahwa ia telah sembuh, ia tidak memutuskan untuk terus pergi ke rumah imam. Ia berbalik dan segera datang kepada Yesus untuk mengucap rasa syukur. Syukur karena oleh kebaikan Tuhan, ia telah diselamatkan dan mendapatkan hidupnya kembali. Ketiga, sikap masa bodoh yang ditunjukkan oleh sembilan orang kusta. Mereka menyadari bahwa mereka telah menjadi sembuh. Tetapi entah apa yang mereka pikirkan sehingga mereka menjadi lupa atau sengaja lupa sehingga tidak berbalik arah untuk sekedar mengucap syukur kepada Yesus. Atau mungkin saja karena keinginan pribadi yang menggebu-gebu untuk segera bertemu dengan imam inilah yang mengalahkan nilai lebih penting yang harus mereka lakukan yakni mengucap rasa syukur.

 

Sikap belaskasihan dan ucapan syukur adalah dua nilai positip sekaligus berciri kristianitas yang harus kita junjung tinggi. Di tengah realitas sosial yang membentang di depan mata, sebenarnya ada banyak orang yang membutuhkan sikap belaskasihan dari kita. Tidak hanya orang yang sakit secara fisik dan ekonomi, tetapi ada sekian banyak orang yang secara sosial benar-benar mengalami kesakitan. Mereka ditinggalkan dan tidak mendapat perhatian oleh keluarganya. Secara fisik mungkin mereka ada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai. Tetapi mereka tidak merasakan kedamaian, perhatian, dan cinta yang tulus. Sikap belaskasihan menuntut kita untuk lebih peka merasakan hal-hal demikian. Tidak hanya sekedar berempati namun lewat tindakan konkrit yang bisa menyapa dan mengembalikan hidup mereka. Mungkin lewat kata-kata hiburan yang sederhana tetapi bisa menguatkan hati, kita dapat menunjukkan keberpihakan, perhatian dan cinta yang tulus untuk mereka.

 

Sikap syukur juga mau mendorong kita untuk tidak lupa akan segala kebaikan dan berkat yang telah kita alami dalam hidup ini. Segala berkat dalam kehidupan acapkali terjadi karena ada campur tangan dari orang lain. Oleh karena itu jangan lupa untuk mengucapkan kalimat yang sederhana tetapi sungguh mendalam maknanya, yakni “terima kasih.” Dan yang lebih penting jangan lupa untuk mengucap syukur kepada Sang Empunya kehidupan yang telah menjadikan segala kehidupan untuk kita. Jangan hanya mengeluh dan menggerutu saja untuk mendapatkan lebih dari apa yang sudah kita dapatkan. Orang-orang dengan mental seperti ini adalah tipe orang-orang egois yang tidak tahu mengucap syukur dalam hidupnya. Selalu merasa diri kurang, padahal hidupnya sudah dicukupkan dengan segala berkat yang ia terima.

 

Ucapan syukur kepada Tuhan tidak saja disampaikan pada saat kita mendapatkan segala keberkahan atau kebaikan, tetapi saat kita mengalami segala kesulitan dan tantangan dalam hidup. Tantangan dalam pekerjaan, tantangan dalam keluarga, tantangan dalam hidup bermasyarakat, dan sebagainya. Dalam peristiwa-peristiwa demikian justru kita semakin dikuatkan, dimatangkan, dan didewasakan dalam hidup ini. Di atas semua itu, kita percaya bahwa Tuhan sementara mendesain hidup yang terbaik untuk kita.

 

Sikap masa bodoh dan tidak mau tahu sebenarnya menjauhkan hakikat panggilan kita sebagai orang Katolik untuk menunjukkan sikap belaskasihan dan syukur terhadap segala realitas dan anugerah dalam hidup ini. Sikap masa bodoh dan tidak mau tahu adalah bagian dari sikap arogan dan egois. Selalu merasa diri paling benar, paling hebat dan selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain. Sikap-sikap destruktif ini yang bisa mengancam dan merusak rasa persatuan dan kekeluargaan kita. Saya teringat akan kata-kata bijak seperti ini, “Seorang pemimpin itu dihormati bukan karena pendidikannya yang tinggi melainkan karena kepedulian dan kerendahan hatinya.” Semoga kita mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri dengan menjauhi sikap masa bodoh dan tidak mau tahu. Semoga kita juga semakin mendekati keintiman bersama Tuhan dengan menunjukkan sikap belaskasihan dan syukur dalam hidup kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar