(Luk 17: 11-19)
Sehabis berbelanja di sebuah kios, seorang anak kecil, kira-kira berusia 3
tahun, diajarkan oleh ibunya untuk mengucapkan kalimat terima kasih kepada sang
tuan kios yang melayani. Dengan terbata-bata dan pelafalan yang tidak jelas
sang anak kecil mengucapkan kalimat terima kasih sambil tersenyum. Saya yang
turut menyaksikan peristiwa itu merasa bangga kepada sang ibu dan anaknya. “Ini
contoh ibu yang baik, yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang paling dasar
kepada sang anak”, kata saya dalam hati. Terima kasih, sebuah kalimat yang
sederhana namun mengandung makna yang sangat mendalam. Karena kesederhanaan
kalimat ini maka sering ia dilupakan dan jarang dipakai oleh manusia untuk
mengekpresikan rasa syukurnya akan sesuatu hal. Kecenderungan sifat manusia
adalah meminta bantuan atau pertolongan. Tetapi setelah mendapat apa yang ia
inginkan, sangat jarang manusia mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk
kalimat terima kasih.
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus dihadang oleh sepuluh orang kusta
yang meminta belaskasihan dari-Nya. “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (Luk
17:13). Mereka berdiri agak jauh karena penyakit yang mereka alami merupakan
penyakit menular yang sangat berbahaya. Merespon permintaan tersebut, Yesus
menyuruh mereka untuk pergi memperlihatkan diri mereka kepada para imam.
Memperlihatkan diri kepada imam adalah sebuah tradisi kala itu yang berlaku
bagi seseorang yang sudah sembuh dari penyakitnya dan hendak kembali ke
komunitas sosialnya. Sebelum kembali ke lingkungan asalnya, ia harus pergi
melaporkan diri kepada para imam. Dan para imam akan memastikan bahwa orang itu
sungguh-sungguh telah sehat dan boleh bergabung kembali bersama sanak
keluarganya. Peran imam zaman Yesus memang sangat vital dan multifungsi. Mereka
tidak hanya memiliki legitimasi untuk menjadi perantara antara manusia awam dan
Tuhan tetapi juga memiliki privilese atau keistimewaan seperti seorang dokter
di era ini.
Kesepuluh orang kusta itu sedang dalam perjalanan menuju rumah para imam
untuk mengecek kondisi tubuhnya. Dan di tengah perjalanan mereka menyadari
bahwa mereka telah tahir atau sembuh. Salah seorang dari kesepuluh orang itu
kembali kepada Yesus. Sambil tersungkur di hadapan Yesus, ia mengucap syukur
atas berkat kesembuhan yang telah dialaminya. Orang itu seorang Samaria. Oleh
orang Yahudi, orang Samaria dicap sebagai
masyarakat rendahan, orang berdosa, dan orang kafir. Yesus rupanya
terkejut karena walaupun dia seorang Samaria, tetapi orang itu bisa kembali
lagi dan mengucap syukur kepadanya. Lalu kemana perginya sembilan kawannya yang
tidak tahu diri itu? mungkin saking senang dan bahagia sehingga mereka lupa
dengan orang yang telah menyembuhkan penyakit mereka.
Ada tiga pelajaran penting yang bisa petik dari bacaan ini
(Rabu/11/11/2020). Pertama, sikap belaskasihan yang ditunjukkan oleh Yesus.
Kesepuluh orang kusta tidak saja menderita secara fisik dan psikis. Mereka juga
menderita secara sosial karena dibuang dan diasingkan oleh anggota keluarga dan
lingkungan sosialnya. Tidak ada tempat yang layak selain lokalisasi kumuh yang
pantas sebagai bentuk hukuman atas penyakit yang mereka derita. Walaupun
sebenarnya mereka juga tidak pantas mendapatkan hukuman. Karena penyakit itu
datang bukan karena kemauan mereka. Mereka ini adalah golongan orang yang tidak
layak mendapat belaskasihan dari orang lain. Mereka hanya pasrah dan tinggal
menunggu waktu untuk mati. Kehadiran Yesus sungguh memberi sebuah titik balik
dalam kehidupan mereka. Karena sikap belaskasihan dari Yesus, kesepuluh orang
kusta itu akhirnya menjadi sembuh. Mereka menjadi orang sehat dan bisa kembali
ke tengah lingkungan sosialnya. Sebuah harapan hidup yang tidak pernah
terlintas sebelumnya dalam benak mereka.
Kedua, sikap syukur dari orang Samaria. Setelah menyadari bahwa ia telah
sembuh, ia tidak memutuskan untuk terus pergi ke rumah imam. Ia berbalik dan
segera datang kepada Yesus untuk mengucap rasa syukur. Syukur karena oleh
kebaikan Tuhan, ia telah diselamatkan dan mendapatkan hidupnya kembali. Ketiga,
sikap masa bodoh yang ditunjukkan oleh sembilan orang kusta. Mereka menyadari
bahwa mereka telah menjadi sembuh. Tetapi entah apa yang mereka pikirkan
sehingga mereka menjadi lupa atau sengaja lupa sehingga tidak berbalik arah
untuk sekedar mengucap syukur kepada Yesus. Atau mungkin saja karena keinginan
pribadi yang menggebu-gebu untuk segera bertemu dengan imam inilah yang
mengalahkan nilai lebih penting yang harus mereka lakukan yakni mengucap rasa
syukur.
Sikap belaskasihan dan ucapan syukur adalah dua nilai positip sekaligus
berciri kristianitas yang harus kita junjung tinggi. Di tengah realitas sosial
yang membentang di depan mata, sebenarnya ada banyak orang yang membutuhkan
sikap belaskasihan dari kita. Tidak hanya orang yang sakit secara fisik dan ekonomi,
tetapi ada sekian banyak orang yang secara sosial benar-benar mengalami
kesakitan. Mereka ditinggalkan dan tidak mendapat perhatian oleh keluarganya.
Secara fisik mungkin mereka ada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka
cintai. Tetapi mereka tidak merasakan kedamaian, perhatian, dan cinta yang
tulus. Sikap belaskasihan menuntut kita untuk lebih peka merasakan hal-hal
demikian. Tidak hanya sekedar berempati namun lewat tindakan konkrit yang bisa
menyapa dan mengembalikan hidup mereka. Mungkin lewat kata-kata hiburan yang
sederhana tetapi bisa menguatkan hati, kita dapat menunjukkan keberpihakan,
perhatian dan cinta yang tulus untuk mereka.
Sikap syukur juga mau mendorong kita untuk tidak lupa akan segala kebaikan
dan berkat yang telah kita alami dalam hidup ini. Segala berkat dalam kehidupan
acapkali terjadi karena ada campur tangan dari orang lain. Oleh karena itu
jangan lupa untuk mengucapkan kalimat yang sederhana tetapi sungguh mendalam
maknanya, yakni “terima kasih.” Dan yang lebih penting jangan lupa untuk
mengucap syukur kepada Sang Empunya kehidupan yang telah menjadikan segala
kehidupan untuk kita. Jangan hanya mengeluh dan menggerutu saja untuk
mendapatkan lebih dari apa yang sudah kita dapatkan. Orang-orang dengan mental
seperti ini adalah tipe orang-orang egois yang tidak tahu mengucap syukur dalam
hidupnya. Selalu merasa diri kurang, padahal hidupnya sudah dicukupkan dengan
segala berkat yang ia terima.
Ucapan syukur kepada Tuhan tidak saja disampaikan pada saat kita
mendapatkan segala keberkahan atau kebaikan, tetapi saat kita mengalami segala
kesulitan dan tantangan dalam hidup. Tantangan dalam pekerjaan, tantangan dalam
keluarga, tantangan dalam hidup bermasyarakat, dan sebagainya. Dalam
peristiwa-peristiwa demikian justru kita semakin dikuatkan, dimatangkan, dan
didewasakan dalam hidup ini. Di atas semua itu, kita percaya bahwa Tuhan
sementara mendesain hidup yang terbaik untuk kita.
Sikap masa bodoh dan tidak mau tahu sebenarnya menjauhkan hakikat panggilan
kita sebagai orang Katolik untuk menunjukkan sikap belaskasihan dan syukur
terhadap segala realitas dan anugerah dalam hidup ini. Sikap masa bodoh dan
tidak mau tahu adalah bagian dari sikap arogan dan egois. Selalu merasa diri
paling benar, paling hebat dan selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain.
Sikap-sikap destruktif ini yang bisa mengancam dan merusak rasa persatuan dan
kekeluargaan kita. Saya teringat akan kata-kata bijak seperti ini, “Seorang
pemimpin itu dihormati bukan karena pendidikannya yang tinggi melainkan karena
kepedulian dan kerendahan hatinya.” Semoga kita mampu menjadi pemimpin bagi
diri sendiri dengan menjauhi sikap masa bodoh dan tidak mau tahu. Semoga kita
juga semakin mendekati keintiman bersama Tuhan dengan menunjukkan sikap
belaskasihan dan syukur dalam hidup kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar