Luk 11:47-54
Dalam Injil hari ini, Yesus mengecam para
petinggi agama Yahudi karena perbuatan mereka membangun makam para nabi yang
telah dibunuh oleh nenek moyang mereka.
Membangun makam dan mendirikan tugu peringatan
itu baik sebagai suatu penghormatan khusus kepada para nabi, bukan hanya untuk
mereka, tetapi juga untuk generasi jauh sesudah mereka. Namun mengapa tindakan
itu justru dikecam?
Secara kasat mata, di hadapan publik, perbuatan
membangun makam dan tugu peringatan itu dinilai baik. Para petinggi itu ingin
memperlihatkan rasa kagum dan hormat kepada para nabi. Namun kenyataan bahwa
para nabi itu semasa hidupnya mengalami nasib buruk. Bukan saja ditolak,
disingkirkan, tetapi dibunuh secara tragis oleh nenek moyang mereka.
Yesus menyebut nabi-nabi yang dibunuh itu mulai
dari Habel hingga Zakharia, artinya ada banyak nabi yang dibunuh, karena dua
nama itu menunjuk rentang panjang dalam masa Perjanjian Lama. Kisah Habel
tertera pada Kitab Kejadian 4:1-16
menunjukkan awal dan kisah Zakharia tertera pada Kitab 2 Tawarikh 24:20-22 adalah
akhir. Menurut kanon Kitab Suci Yahudi, Kitab
2 Tawarikh merupakan kitab terakhir dalam Perjanjian Lama.
Anehnya bahwa meskipun mereka ingin
menunjukkan rasa hormat kepada para nabi, namun pada kenyataan bahwa nabi-nabi
yang masih hidup pun diperlakukan hampir sama. Nabi-nabi yang masih hidup itu
juga ditolak, disingkirkan, bahkan berusaha dibunuh. Yohanes Pembaptis
dipenjarakan dan kemudian dibunuh Herodes karena ia menjalankan tugas profetisnya
(Mat 4:3-11).
Yesus sendiri selama hidup dan menjalankan
tugas perutusan-Nya mengalami serupa. Kita ingat pengalaman Yesus ditolak oleh
kaum sebangsanya, orang-orang Nazareth (Luk 4:23-29). Dalam bagian terakhir
dari teks Injil hari ini pun Yesus menyatakan penolakan dan usaha menyingkirkan
diri-Nya oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Luk 11:53-54). Jauh
sebelum Ia mengecam perbuatan mereka itu, Yesus sendiri sudah menyatakan
bahwa Ia “menanggung banyak penderitaan
dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepada dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh”
(Luk 9:22).
Fakta tentang hal ini mendasari kecaman Yesus
yang tajam dan keras: “Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi,
tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku,
bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah
membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya” (Luk 11:47-48).
Yesus menunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu
tidak lebih dari pengakuan atas perbuatan nenek moyang mereka dan dengan
demikian secara tidak terhindarkan mewarisi tabiat buruk nenek moyang mereka
itu.
Sementara itu, di sisi lain perbuatan mereka
itu juga memerlihatkan kehausan akan kehormatan di hadapan publik. Pikirnya,
dengan membangun makam dan mendirikan tugu peringatan mereka diakui telah
berbuat baik. Sayangnya kemunafikan semacam itu mudah sekali dibaca dan
dibongkar oleh Yesus dan kepada mereka diberi beban memikul rasa malu.
Dalam kehidupan kita, budaya hidup orang-orang
Farisi dan ahli-ahli Taurat seperti yang dikritik dan dikecam Yesus itu tidak
jarang ditemukan. Nafsu untuk menyingkirkan, menolak, dan bahkan membunuh itu
kuat dirasakan dan dialami. Ada banyak orang berbuat baik demi kemajuan dan
kebaikan bersama, namun justru mereka itulah yang ditolak, disingkirkan, bahkan
dibunuh. Pecinta kebenaran dan keadilan dicekal, diteror, diancam dan
dipenjarakan jika tidak dibunuh secara misterius.
Mungkin saja kita tidak pernah menunjukkan
tabiat buruk seburuk yang diperlihatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat, juga orang-orang kejam dan berdarah dingin yang telah menorehkan tinta
merah pada kemanusiaan di bumi kita, namun jika kita menyelisiki sejarah
kehidupan keluarga kita, komunitas kita, institusi dan tempat kerja kita,
ternyata peristiwa-peristiwa serupa terjadi.
Menghujani orang-orang di sekitar kita dengan
rupa-rupa soal dan penilaian-penilaian miring acapkali kita lakukan padahal mereka
telah menunjukkan itikad dan perbuatan baik demi kebaikan bersama. Orang-orang itu
meskipun potensial dan kritis namun kita padang sebagai gangguan bagi
kenyamanan kita. Orang-orang itu kita tolak dan singkirkan. Kita lupa bahwa
mereka itulah orang-orang terbaik yang pernah kita miliki.
Acapkali itu kita tunjukkan bukan dengan cara
terang-terangan dan frontal, melainkan melalui sikap dan perbuatan tertentu
yang terkesan baik, tetapi manipulatif dan menjerat seperti yang dilakukan
orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.
Dalam terang Injil hari ini, kita dipanggil
untuk mengkritisi diri kita sendiri. Sejauh mana kita menunjukkan sikap dan
perbuatan kita? Apakah sudah mendekati harapan Yesus atau masih di seputar
kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat?
Ideal hidup kita adalah hidup seperti Yesus
kehendaki. Maka jadilah murid Yesus yang sejati. Itulah panggilan kita. Tidak
akan ada kecaman buat kita. Jika ada maka itu demi kebaikan kita karena
kesalahan kita, dan seorang murid sejati akan menerimanya demi kesejatiannya
sebagai murid Tuhan. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar