Senin, 02 November 2020

Celakalah Kamu

Luk 11:47-54

Dalam Injil hari ini, Yesus mengecam para petinggi agama Yahudi karena perbuatan mereka membangun makam para nabi yang telah dibunuh oleh nenek moyang mereka.

 

Membangun makam dan mendirikan tugu peringatan itu baik sebagai suatu penghormatan khusus kepada para nabi, bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk generasi jauh sesudah mereka. Namun mengapa tindakan itu justru dikecam?

 

Secara kasat mata, di hadapan publik, perbuatan membangun makam dan tugu peringatan itu dinilai baik. Para petinggi itu ingin memperlihatkan rasa kagum dan hormat kepada para nabi. Namun kenyataan bahwa para nabi itu semasa hidupnya mengalami nasib buruk. Bukan saja ditolak, disingkirkan, tetapi dibunuh secara tragis oleh nenek moyang mereka.

 

Yesus menyebut nabi-nabi yang dibunuh itu mulai dari Habel hingga Zakharia, artinya ada banyak nabi yang dibunuh, karena dua nama itu menunjuk rentang panjang dalam masa Perjanjian Lama. Kisah Habel tertera pada Kitab Kejadian 4:1-16 menunjukkan awal dan kisah Zakharia tertera pada Kitab 2 Tawarikh 24:20-22 adalah akhir.  Menurut kanon Kitab Suci Yahudi, Kitab 2 Tawarikh merupakan kitab terakhir dalam Perjanjian Lama.

 

Anehnya bahwa meskipun mereka ingin menunjukkan rasa hormat kepada para nabi, namun pada kenyataan bahwa nabi-nabi yang masih hidup pun diperlakukan hampir sama. Nabi-nabi yang masih hidup itu juga ditolak, disingkirkan, bahkan berusaha dibunuh. Yohanes Pembaptis dipenjarakan dan kemudian dibunuh Herodes karena ia menjalankan tugas profetisnya (Mat 4:3-11).

 

Yesus sendiri selama hidup dan menjalankan tugas perutusan-Nya mengalami serupa. Kita ingat pengalaman Yesus ditolak oleh kaum sebangsanya, orang-orang Nazareth (Luk 4:23-29). Dalam bagian terakhir dari teks Injil hari ini pun Yesus menyatakan penolakan dan usaha menyingkirkan diri-Nya oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Luk 11:53-54). Jauh sebelum Ia mengecam perbuatan mereka itu, Yesus sendiri sudah menyatakan bahwa  Ia “menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepada dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh” (Luk 9:22).

 

Fakta tentang hal ini mendasari kecaman Yesus yang tajam dan keras: “Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya” (Luk 11:47-48).

 

Yesus menunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu tidak lebih dari pengakuan atas perbuatan nenek moyang mereka dan dengan demikian secara tidak terhindarkan mewarisi tabiat buruk nenek moyang mereka itu.

 

Sementara itu, di sisi lain perbuatan mereka itu juga memerlihatkan kehausan akan kehormatan di hadapan publik. Pikirnya, dengan membangun makam dan mendirikan tugu peringatan mereka diakui telah berbuat baik. Sayangnya kemunafikan semacam itu mudah sekali dibaca dan dibongkar oleh Yesus dan kepada mereka diberi beban memikul rasa malu.

 

Dalam kehidupan kita, budaya hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat seperti yang dikritik dan dikecam Yesus itu tidak jarang ditemukan. Nafsu untuk menyingkirkan, menolak, dan bahkan membunuh itu kuat dirasakan dan dialami. Ada banyak orang berbuat baik demi kemajuan dan kebaikan bersama, namun justru mereka itulah yang ditolak, disingkirkan, bahkan dibunuh. Pecinta kebenaran dan keadilan dicekal, diteror, diancam dan dipenjarakan jika tidak dibunuh secara misterius.

 

Mungkin saja kita tidak pernah menunjukkan tabiat buruk seburuk yang diperlihatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, juga orang-orang kejam dan berdarah dingin yang telah menorehkan tinta merah pada kemanusiaan di bumi kita, namun jika kita menyelisiki sejarah kehidupan keluarga kita, komunitas kita, institusi dan tempat kerja kita, ternyata peristiwa-peristiwa serupa terjadi.

 

Menghujani orang-orang di sekitar kita dengan rupa-rupa soal dan penilaian-penilaian miring acapkali kita lakukan padahal mereka telah menunjukkan itikad dan perbuatan baik demi kebaikan bersama. Orang-orang itu meskipun potensial dan kritis namun kita padang sebagai gangguan bagi kenyamanan kita. Orang-orang itu kita tolak dan singkirkan. Kita lupa bahwa mereka itulah orang-orang terbaik yang pernah kita miliki.

 

Acapkali itu kita tunjukkan bukan dengan cara terang-terangan dan frontal, melainkan melalui sikap dan perbuatan tertentu yang terkesan baik, tetapi manipulatif dan menjerat seperti yang dilakukan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

 

Dalam terang Injil hari ini, kita dipanggil untuk mengkritisi diri kita sendiri. Sejauh mana kita menunjukkan sikap dan perbuatan kita? Apakah sudah mendekati harapan Yesus atau masih di seputar kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat?

 

Ideal hidup kita adalah hidup seperti Yesus kehendaki. Maka jadilah murid Yesus yang sejati. Itulah panggilan kita. Tidak akan ada kecaman buat kita. Jika ada maka itu demi kebaikan kita karena kesalahan kita, dan seorang murid sejati akan menerimanya demi kesejatiannya sebagai murid Tuhan. ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar