Luk 1:57-66
Seorang anak yang lahir ke muka bumi merupakan buah cinta antara seorang
ayah dan ibu. Kelahirannya begitu didambakan. Pada saat ia lahir, semua
keluarga merasa gembira dan bersukacita. Tidak jarang, ekspresi kegembiraan dan
rasa syukur itu diwujudkan dalam sebuah acara yang besar. Semua orang, sahabat,
dan kenalan turut diundang untuk ikut mengambil bagian dalam kebahagiaan. Ada
sepasang suami istri yang sudah menanti kehadiran seorang anak dalam keluarga
kecil mereka sekitar sepuluh tahun. Berkat kesabaran untuk bertahan dalam
berbagai tantangan dan ketaatan untuk tidak kendor mendaraskan doa kepada
Tuhan, pada akhirnya mereka dianugerahi oleh Tuhan seorang anak perempuan yang
cantik. Ketika anak itu dibaptis, perayaan syukurnya dibuat secara
besar-besaran. Sang suami memberi kesaksian bahwa anak mereka yang lahir adalah
tanda cinta Tuhan bagi mereka yang memiliki pengharapan dan iman yang mendalam.
Zakharia dan Elisabet pada hari ini juga merasakan kebesaran cinta Tuhan
dalam hidup mereka. Melalui bayi yang bernama Yohanes, Zakharia dan Elisabet
memiliki pengharapan akan janji Tuhan yang telah menjadi kenyataan. Sebuah
kenyataan yang tidak bisa dijelaskan dengan akan sehat. Mengingat keduanya
telah lanjut usia; harapan untuk mendapatkan anak sebenarnya telah hilang
total. Mereka hanya memiliki iman yang teguh kepada Tuhan sembari menantikan
keselamatan kekal di akhir hidup. Zakharia dan Elisabet adalah segelintir orang
Israel yang masih memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Banyak orang Israel
pada masa itu yang telah kehilangan harapan dan imannya kepada Tuhan. Berada
dalam kekuasaan dan penjajahan bangsa asing (Romawi) menjadi salah satu sebab
orang Israel mempertanyakan kembali imannya kepada Tuhan. Banyak dari antara
orang Israel juga yang telah berpindah keyakinan dengan menyembah dewa-dewa
milik bangsa Yunani. Melalui Zakharia dan Elisabet, Tuhan hendak memberi pesan
kepada semua orang Israel bahwa Ia tidak pernah meninggalkan mereka sendirian.
Walaupun mereka telah berulangkali menunjukkan ketidaksetiaan kepada Tuhan.
Dalam suatu penglihatan ketika sedang bertugas di Bait Allah, malaikat
Tuhan datang kepada Zakharia dan menyampaikan sebuah kabar yang sangat
menggembirakan. Bahwa istrinya Elisabet akan segera mengandung dan melahirkan
seorang anak laki-laki. Dan mereka harus memberi nama anak itu dengan nama
Yohanes. Yohanes berarti Allah yang merahmati. Atau Tangan Tuhan yang
menyertai. Malaikat Tuhan memberi gambaran yang sangat detil tentang sosok
Yohanes. “Ia akan besar di hadapan Tuhan
dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh
Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik
kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan
kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati
orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian
menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:15-17).
Mendengar kata-kata dari malaikat Tuhan tersebut, Zakharia tidak
menunjukkan sukacitanya. Malahan ia bersikap pesimis tentang rencana Tuhan.
Alasan mendasarnya sangat manusiawi. Karena sudah lanjut usia. Oleh sebab
kekurangpercayaannya itu maka malaikat Tuhan membuat Zakharia menjadi tuli dan
bisu. Ia akan kembali menjadi normal pada saat moment besar itu tiba dimana
Yohanes Pembaptis akan dilahirkan dari rahim istrinya Elisabet.
Dan pada hari ini (Luk 1:57-66), moment yang dinantikan oleh sepasang suami
istri lanjut usia itu telah tiba. Elisabet melahirkan seorang anak laki-laki.
Seluruh keluarga besar, para sahabat dan kenalan turut bersukacita atas
peristiwa langka tersebut. Pada hari kedelapan, ketika anak itu hendak disunat,
semua orang datang dan ingin menamai dia seperti nama ayahnya Zakharia. Namun
Elisabet mementahkan keinginan semua orang yang hadir dengan mengatakan bahwa
bayinya harus dinamakan Yohanes. Tentu saja semua orang terkejut dan tidak
percaya karena nama Yohanes sangat asing dalam keluarga besar Zakharia.
Lagipula, menaru nama anak yang tidak sesuai dengan nama keluarga besar sangat
berlawanan dengan tradisi nenek moyang. Lalu mereka mengkorfirmasi dengan
isyarat kepada Zakharia tentang nama bayi tersebut. Zakharia pun mengafirmasi
apa yang sudah disampaikan oleh istrinya dengan menulis nama bayi itu adalah
Yohanes. Seperti janji malaikat Tuhan, pada saat itu juga Zakharia bisa kembali
berbicara sambil memuji-muji nama Tuhan.
Karena ketaatan Zakharia dan Elisabet maka janji Tuhan menjadi nyata.
Walaupun pada awalnya Zakharia masih menunjukkan keragu-raguannya, namun ia
bersama istrinya, Elisabet, tetap taat untuk memegang janji yang sudah
disampaikan oleh malaikat Tuhan. Mereka berdua menunjukkan keberanian dan
konsistensi berhadapan dengan tekanan dari keluarga, sahabat dan kenalan.
Selain itu, tidak gampang juga harus berseberangan dengan aturan dan tradisi
yang sudah diwarisi turun temurun. Tetapi
mereka berdua tidak terpengaruh sedikit pun untuk membelokkan niat suci
yang telah mereka pegang di hadapan Tuhan. Berkat ketaatan yang telah
ditunjukkan, hasilnya pun berbuah manis. Bayi Yohanes Pembaptis lahir sebagai
tanda cinta Tuhan. Tidak saja bagi Zakharia dan Elisabet, tetapi bagi semua
orang yang memiliki iman yang teguh kepada-Nya.
Dewasa ini nilai ketaatan menjadi sebuah nilai yang mahal harganya. Banyak
orang yang tidak sungguh-sungguh menghayati dan membawa nilai ketaatan dalam
hidup sehari-hari. Jangankan nilai moral, taat kepada kehendak Tuhan yang
terpatri dalam ajaran agama pun sudah mulai diabaikan. Nilai ketaatan menjadi
relatif karena masing-masing orang bisa menafsir sesuai dengan kepentingan dan
ego pribadi. Sehingga tidak menjadi heran kita menyaksikan seringkali terjadi
geresekan, konflik, dan bahkan pertumpahan darah sebagai akibat hilangnya nilai
ketaatan kepada norma-norma moral dan agama.
Zakharia dan Elisabet memberi inspirasi tentang nilai sebuah ketaatan.
Ketaatan kepada kehendak Tuhan menjadikan pribadi kita semakin matang dalam berbagai
dimensi kehidupan. Kita akan mampu menghidupi iman kepada Tuhan dalam segala
tugas, karya dan pengabdian di mana saja kita berada. Terutama di komunitas
Rumah Sakit Bukit ini. Taat kepada kehendak Tuhan mendorong kita untuk bisa
taat kepada segala bentuk aturan dan kebijakan yang dapat membawa kemajuan dan
perkembangan rumah sakit. Sikap taat kepada Tuhan memotivasi kita untuk selalu
berpihak pada kebenaran manakala kita menemui aneka ketidakadilan yang terjadi
di tempat ini. Sikap taat kepada Tuhan juga menggiring kita untuk semakin
memompa energi pelayanan dan membagikannya dengan tulus kepada segenap orang
yang sementara menantikan perhatian dan cinta kita.
Sikap taat kepada Tuhan adalah sebuah sikap iman yang membuat kita semakin
layak menyambut Dia yang akan datang. Tinggal sesaat lagi kita akan menyambut
Sang Bayi mungil pada hari Natal. Mari kita semakin mematangkan diri untuk
bersikap taat pada segala kehendak-Nya, agar Dia yang datang dalam palungan
hina dapat membawa segala kebaikan dan kemenangan dalam hidup kita. Sikap
ketaatan itu pasti berbuah manis. Amin. ***Atanasius KD Labaona***