Selasa, 29 Desember 2020

KETAATAN BERBUAH MANIS

                                                                            Luk 1:57-66

Seorang anak yang lahir ke muka bumi merupakan buah cinta antara seorang ayah dan ibu. Kelahirannya begitu didambakan. Pada saat ia lahir, semua keluarga merasa gembira dan bersukacita. Tidak jarang, ekspresi kegembiraan dan rasa syukur itu diwujudkan dalam sebuah acara yang besar. Semua orang, sahabat, dan kenalan turut diundang untuk ikut mengambil bagian dalam kebahagiaan. Ada sepasang suami istri yang sudah menanti kehadiran seorang anak dalam keluarga kecil mereka sekitar sepuluh tahun. Berkat kesabaran untuk bertahan dalam berbagai tantangan dan ketaatan untuk tidak kendor mendaraskan doa kepada Tuhan, pada akhirnya mereka dianugerahi oleh Tuhan seorang anak perempuan yang cantik. Ketika anak itu dibaptis, perayaan syukurnya dibuat secara besar-besaran. Sang suami memberi kesaksian bahwa anak mereka yang lahir adalah tanda cinta Tuhan bagi mereka yang memiliki pengharapan dan iman yang mendalam.

 

Zakharia dan Elisabet pada hari ini juga merasakan kebesaran cinta Tuhan dalam hidup mereka. Melalui bayi yang bernama Yohanes, Zakharia dan Elisabet memiliki pengharapan akan janji Tuhan yang telah menjadi kenyataan. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dijelaskan dengan akan sehat. Mengingat keduanya telah lanjut usia; harapan untuk mendapatkan anak sebenarnya telah hilang total. Mereka hanya memiliki iman yang teguh kepada Tuhan sembari menantikan keselamatan kekal di akhir hidup. Zakharia dan Elisabet adalah segelintir orang Israel yang masih memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Banyak orang Israel pada masa itu yang telah kehilangan harapan dan imannya kepada Tuhan. Berada dalam kekuasaan dan penjajahan bangsa asing (Romawi) menjadi salah satu sebab orang Israel mempertanyakan kembali imannya kepada Tuhan. Banyak dari antara orang Israel juga yang telah berpindah keyakinan dengan menyembah dewa-dewa milik bangsa Yunani. Melalui Zakharia dan Elisabet, Tuhan hendak memberi pesan kepada semua orang Israel bahwa Ia tidak pernah meninggalkan mereka sendirian. Walaupun mereka telah berulangkali menunjukkan ketidaksetiaan kepada Tuhan.

Dalam suatu penglihatan ketika sedang bertugas di Bait Allah, malaikat Tuhan datang kepada Zakharia dan menyampaikan sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Bahwa istrinya Elisabet akan segera mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dan mereka harus memberi nama anak itu dengan nama Yohanes. Yohanes berarti Allah yang merahmati. Atau Tangan Tuhan yang menyertai. Malaikat Tuhan memberi gambaran yang sangat detil tentang sosok Yohanes. “Ia akan besar di  hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:15-17).

 

Mendengar kata-kata dari malaikat Tuhan tersebut, Zakharia tidak menunjukkan sukacitanya. Malahan ia bersikap pesimis tentang rencana Tuhan. Alasan mendasarnya sangat manusiawi. Karena sudah lanjut usia. Oleh sebab kekurangpercayaannya itu maka malaikat Tuhan membuat Zakharia menjadi tuli dan bisu. Ia akan kembali menjadi normal pada saat moment besar itu tiba dimana Yohanes Pembaptis akan dilahirkan dari rahim istrinya Elisabet.

 

Dan pada hari ini (Luk 1:57-66), moment yang dinantikan oleh sepasang suami istri lanjut usia itu telah tiba. Elisabet melahirkan seorang anak laki-laki. Seluruh keluarga besar, para sahabat dan kenalan turut bersukacita atas peristiwa langka tersebut. Pada hari kedelapan, ketika anak itu hendak disunat, semua orang datang dan ingin menamai dia seperti nama ayahnya Zakharia. Namun Elisabet mementahkan keinginan semua orang yang hadir dengan mengatakan bahwa bayinya harus dinamakan Yohanes. Tentu saja semua orang terkejut dan tidak percaya karena nama Yohanes sangat asing dalam keluarga besar Zakharia. Lagipula, menaru nama anak yang tidak sesuai dengan nama keluarga besar sangat berlawanan dengan tradisi nenek moyang. Lalu mereka mengkorfirmasi dengan isyarat kepada Zakharia tentang nama bayi tersebut. Zakharia pun mengafirmasi apa yang sudah disampaikan oleh istrinya dengan menulis nama bayi itu adalah Yohanes. Seperti janji malaikat Tuhan, pada saat itu juga Zakharia bisa kembali berbicara sambil memuji-muji nama Tuhan.

 

Karena ketaatan Zakharia dan Elisabet maka janji Tuhan menjadi nyata. Walaupun pada awalnya Zakharia masih menunjukkan keragu-raguannya, namun ia bersama istrinya, Elisabet, tetap taat untuk memegang janji yang sudah disampaikan oleh malaikat Tuhan. Mereka berdua menunjukkan keberanian dan konsistensi berhadapan dengan tekanan dari keluarga, sahabat dan kenalan. Selain itu, tidak gampang juga harus berseberangan dengan aturan dan tradisi yang sudah diwarisi turun temurun. Tetapi  mereka berdua tidak terpengaruh sedikit pun untuk membelokkan niat suci yang telah mereka pegang di hadapan Tuhan. Berkat ketaatan yang telah ditunjukkan, hasilnya pun berbuah manis. Bayi Yohanes Pembaptis lahir sebagai tanda cinta Tuhan. Tidak saja bagi Zakharia dan Elisabet, tetapi bagi semua orang yang memiliki iman yang teguh kepada-Nya.

 

Dewasa ini nilai ketaatan menjadi sebuah nilai yang mahal harganya. Banyak orang yang tidak sungguh-sungguh menghayati dan membawa nilai ketaatan dalam hidup sehari-hari. Jangankan nilai moral, taat kepada kehendak Tuhan yang terpatri dalam ajaran agama pun sudah mulai diabaikan. Nilai ketaatan menjadi relatif karena masing-masing orang bisa menafsir sesuai dengan kepentingan dan ego pribadi. Sehingga tidak menjadi heran kita menyaksikan seringkali terjadi geresekan, konflik, dan bahkan pertumpahan darah sebagai akibat hilangnya nilai ketaatan kepada norma-norma moral dan agama.

 

Zakharia dan Elisabet memberi inspirasi tentang nilai sebuah ketaatan. Ketaatan kepada kehendak Tuhan menjadikan pribadi kita semakin matang dalam berbagai dimensi kehidupan. Kita akan mampu menghidupi iman kepada Tuhan dalam segala tugas, karya dan pengabdian di mana saja kita berada. Terutama di komunitas Rumah Sakit Bukit ini. Taat kepada kehendak Tuhan mendorong kita untuk bisa taat kepada segala bentuk aturan dan kebijakan yang dapat membawa kemajuan dan perkembangan rumah sakit. Sikap taat kepada Tuhan memotivasi kita untuk selalu berpihak pada kebenaran manakala kita menemui aneka ketidakadilan yang terjadi di tempat ini. Sikap taat kepada Tuhan juga menggiring kita untuk semakin memompa energi pelayanan dan membagikannya dengan tulus kepada segenap orang yang sementara menantikan perhatian dan cinta kita.

 

Sikap taat kepada Tuhan adalah sebuah sikap iman yang membuat kita semakin layak menyambut Dia yang akan datang. Tinggal sesaat lagi kita akan menyambut Sang Bayi mungil pada hari Natal. Mari kita semakin mematangkan diri untuk bersikap taat pada segala kehendak-Nya, agar Dia yang datang dalam palungan hina dapat membawa segala kebaikan dan kemenangan dalam hidup kita. Sikap ketaatan itu pasti berbuah manis. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 28 Desember 2020

Orang Benar Dan Saleh Terbuka Akan Inspirasi Roh Kudus

Luk 2:22-35

Lukas  menulis bahwa Simeon adalah seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Berkat kualitas hidupnya itu maka Roh Kudus hadir dan berkarya di dalam dirinya. Disebtukan, ia datang ke Bait Allah karena dorongan Roh Kudus.

 

Ketika ia menerima dan menatang Yesus, sambil memuji Allah, Simeon yang terinspirasi oleh Roh Kudus itu memaklumkan kebenaran secara resmi tentang penyelamatan definitif yang dibawa oleh Yesus dari dalam Bait Allah. Ia  mengakui  Yesus dengan sungguh sebagai “Yang Diurapi Allah”. Ia adalah terang keselamatan bagi bangsa-bangsa,  daya pewahyuan bagi orang-orang kafir, dan  juga kemuliaan bagi Israel.

 

Tidak hanya itu. Di bawah kuasa dan inspirasi Roh Kudus Allah, Simeon yang memberkati orang tua Yesus, memeringatkan bahwa Anak Yang Diurapi Allah itu akan menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Sirael dan menjadi tanda perbantahan. Kepada Maria, secara khusus,  ia berpesan bahwa Maria bakal mengalami bahwa suatu pedang akan menembusi jiwanya.

 

Apa yang diucapkan di bawah terang Roh Kudus adalah suatu kebenaran yang bersifat tetap dan tidak mungkin tidak terlaksana. Terbukti bahwa hidup dan karya Yesus di tengah bangsa Israel sungguh membangkitkan perbantahan. Ia datang bukan membawa damai di atas bumi ini melainkan pedang (Mat 10:34; Luk 12:49-53). Dan Maria ibu-Nya itu mengalami kepahitan Jumat Agung ketika menyaksikan putra-Nya tergantung di salib. Itulah pedang yang menebusi jiwanya.

 

Apa yang ditunjukkan oleh Simeon menggambarkan kebenaran yang tidak dapat dinafikan bahwa Roh Allah yang satu dan sama akan juga menginspirasi setiap orang beriman yang oleh bimbingan imannya menjalani hidup dengan benar dan saleh. Akan selalu ada kerja sama untuk membangun visi iman dan rohani yang jelas. Dan itulah kekuatan yang mengikat orang beriman untuk menantikan pemenuhan harapan sebagaimana yang dijanjikan Allah.

 

Bagi orang beriman yang hidup benar dan saleh, Roh Allah itu akan hadir dan membimbingnya ke tempat yang benar untuk mencari kebenaran, dan akan mengatakan kebenaran pada waktu dan tempat yang tepat. Orang beriman tidak pernah akan mengatakan yang tidak benar, menebarkan hoax dan membangkitkan kekuatiran di tengah hidup bersama.

 

Karena hidup dengan benar dan saleh menjadi kondisi bagi menetapnya Roh Allah, maka pasti juga bahwa Roh itu akan menghindarkan orang dari perbuatan yang mencemarkan hidupnya. Roh Allah akan memberi pertimbangan mendahului untuk melakukan pemindaian bagi penentuan tindakan yang penting.

 

Melalui suara hati Roh Allah akan menjustifikasi putusan yang tepat, melarang untuk melakukan yang tidak baik, dan jika ternyata tak terhindarkan orang memilih yang salah maka Roh Allah akan mengadili dan menarik orang kembali kepada kebenaran.

 

Barangkali kita bukanlah orang-orang dengan kualitas hidup seperti seorang Simeon yang hidup dengan benar dan saleh sesuai iman, dan karena itu tidak selalu terbuka bagi inspirasi dari Roh Allah. Kita menginginkan bahwa kita selalu berada dalam  posisi benar dan saleh namun acapkali kita menutup diri bagi inspirasi Roh Allah ketika kita mengedepankan keingnan diri kita sendiri. Alhasil yang kita lakukan juga jauh dari kebenaran dan yang menodai kesalehan hidup.

 

Namun demikian ketika kita menyadari kondisi demikian maka sebenaranya Roh Allah masih bekerja untuk membalikan kita kepada jalan kebenaran dan kesalehan. Jika kita mendengarkan bisikan-Nya dan mau kembali kepada jalan kebenaran maka kita membuka jalan lebih lebar bagi karya Roh Allah untuk membangun hidup kita seperti yang ditunjukkan oleh Simeon.

 

Marilah kita membuka diri bagi kehadiran dan karya Roh Allah dalam hidup kita dengan jalan menghayati kebenaran sebagaimana yang dikatakan oleh iman dan hidup dalam kesalehan. Perayaan Natal yang barusan kita rayakan kiranya memertemukan kita dengan Yesus, Dia Yang Diurapi Allah, memertajam iman kita dan menjiwai kita untuk hidup dengan benar dan saleh sebagai kondisi yang penting bagi kehadiran dan karya Roh Allah.***

Selasa, 15 Desember 2020

Bertanyalah Kepada Suber Yang Otentik

Luk 7:19-23

Dari balik penjara, Yohanes Pembaptis mendengar banyak dari murid-muridnya tentang Yesus dan apa yang dilakukan-Nya. Namun ia masih ragu apakah Yesus yang diceritakan itu adalah Dia yang dimaksukannya ketika ia mengatakan bahwa akan datang seseorang yang “lebih berkuasa daripada aku” (Luk 3:16-17).

 

Dasar keraguannya sebagaimana yang dikemukakan para penafsir adalah kemungkinan Yohanes tidak melihat pemenuhan penghakiman eskatologis dalam kemurahan hati dan pengajaran-Nya tentang kasih kepada musuh.

 

Agar tidak tetap tinggal dalam keraguan yang bisa menghalangi rencana Ilahi, maka Yohanes memandang urgen untuk mengutus muridnya kepada Yesus dan mendapatkan informasi secara adekuat dari Yesus sendiri.

 

Seperti yang ditulis Lukas, Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung. Ia memberi jawaban kepada Yohanes dengan meminta para murid Yohanes menceritakan apa yang mereka lihat dan dengar tentang Yesus: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22).

 

Di sini Yesus menunjukkan gambaran diri-Nya seperti yang telah diramalkan Yesaya tentang tibanya hari pembebasan Mesias di mana orang buta melihat dan orang tuli mendengar (Yes 29:18-19; 35:5-6) sebagaimana pula telah dibicarakan Yesus sebagai rencana kerja Ilahi dalam kotbah-Nya di Nazaret (Luk 4:18-19).  

 

Dengan menunjuk pada apa yang telah dilakukan-Nya dan pada apa yang Kitab Suci bicarakan Yesus menyatakan tentang kebenaran diri-Nya sebagai Mesias yang dinantikan.

 

Kitab Suci tidak membicarakan alasan mengapa Yesus mesti memberikan jawaban atas pertanyaan Yohanes dengan cara demikian. Namun pasti bahwa atas dasar yang ada, yaitu perbuatan dan pengajaran-Nya yang merujuk pada apa yang telah dinubuatkan Yesaya, Yesus menyatakan diri-Nya secara tidak langsung sebagai Mesias yang dinantikan.

 

Sebagaimana yang dinyatakan kepada Yohanes Pembaptis demikianlah kepada semua murid-Nya. Acapkali Yesus memberikan gambaran tentang diri-Nya dan Kerajaan Allah yang diwartakan dalam sebuah teka-teki. Namun teka-teki itu menemukan titik terang-Nya dalam konteks sejarah keselamatan dan apa yang telah disabdakan-Nya sendiri.

 

Di sini kita diajak untuk membuka diri kepada apa yang terjadi dalam kehidupan kita dan membaca semua pengalaman hidup itu dalam terang sabda-Nya. Atas cara ini semua teka-teki dan juga keraguan apapun yang kita alami memeroleh jawaban dari Dia. Dalam hal ini, Yohanes menunjukkan suatu jalan yang baik dan tepat bagi kita untuk datang kepada sumbernya dan mencari tahu kebenaran tentang apa yang kita alami dalam hidup ini.

 

Kalau kita refleksikan perjalanan hidup ini, maka tidak sedikit orang, bahkan kita sendiri mengalami situasi dilematis juga berkenaan dengan keraguan iman dalam serba pengalaman dan situasi batas yang begitu kompleks. Meskipu begitu toh kita jarang sekali bertanya kepada Dia yang mampu mengatasi teka-teki kehidupan kita. Sementara itu yang lain tetap tinggal dalam keraguan. Semuanya itu mendatangkan serba kekacauan dalam hidup kita.

 

Sabda Tuhan ini mengajak kita untuk selalu datang dan bertanya kepada Dia untuk semua keraguan yang kita alami. Seperti Yohanes, kita tidak boleh membiarkan keraguan itu menyelimuti kita dan mambuat kita tertutup terhadap rencana Ilahi dan pemenuhan proyek keselamatan dalam hidup kita. Kita harus datang kepada Dia. Apapun keraguan kita atau apapun masalah itu Tuhan pasti memberikan jawaban yang tepat.

 

Karena Tuhan adalah sumber otentik satu-satunya dalam hidup kita, maka yang kita butuhkan adalah keterbukaan hati dan iman kita untuk datang kepada-Nya, bertanya kepada-Nya. Ia akan menunjukkan di mana kita menemukan jawaban atas persoalan kita. ***Apol***

Senin, 14 Desember 2020

PERTOBATAN: JALAN MENUJU KESELAMATAN

Mat 21:28-32

            Akhir-akhir ini muncul figur yang melakukan orasi dengan semangat ingin menyelamatkan negara dan membela agama tertentu. Orasinya menuai pro kontra  karena bernada profokatif memecah belah persatuan bangsa. Aksinya bahkan mendapat sambutan hangat dengan jumlah lautan massa, seakan si narator memiliki kekuatan dahsyat bak dewa dari kayangan.  Ia mampu mengindoktrinasi dan menghipnotis massa sehingga mereka mudah digerakkan dari pelosok tanah air datang mengelilingi dewa penyelamat mereka. Negara seakan dalam keadaan darurat perang hingga perlu diselamatkan oleh dewa buatan manusia. Pemuka agama adalah orang-orang taat beribadah, mengerti ajaran agama yang harusnya membimbing orang untuk saling mengasihi dan mencintai sebagai saudara. Sayangnya, orang-orang yang suci mulia ini justru nimbrung meneriakan yel-yel anti pemerintah yang dianggap diskriminatif. Patut disayangkan, mestinya para tokoh agama memiliki kewajiban moril untuk mencerahkan dan memberikan pemahaman kepada umat untuk taat pada hukum dan memberikan mandat kepada pemerintah untuk menyelesaikan semua masalah yang muncul. Namun yang terjadi sebaliknya, mereka semakin bringas memprofokasi massa dan memperkeruh suasana. Pemikiran solutif dan arif justru datang dari orang-orang kecil yang memiliki kerendahan hati meskipun minim pengetahuan agama dan kadang suara mereka tak didengarkan dan diabaikan. Merekalah pahlawan agung yang menggaungkan kedamaian, persatuan dan toleransi inter dan antar umat beragama.

            Injil yang baru saja kita dengar dimana Yesus mengawali perumpamaan-Nya dengan pertanyaan “apakah pendapatmu tentang ini?” (21:28). Suatu pertanyaan yang mengundang para pendengar Yesus untuk memikirkan perumpamaan ini dari perspektif diri mereka sendiri. Hal ini bertujuan untuk membawa orang-orang yang melakukan kesalahan keluar dari dirinya sendiri dan mencoba menilai perbuatan mereka sendiri dalam perspektif yang baru (perspektif yang cenderung netral). Hal ini dilakukan oleh Yesus karena manusia jauh lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahannya sendiri. Kelompok kaum agamawan ini sebenarnya tidak peduli dengan kehendak Tuhan, mereka tidak memikirkan apa yang Allah kehendaki bagi mereka. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri mereka sendiri. Para pemuka agama Yahudi ini membangun kebenaran mereka sendiri sehingga mereka tidak takluk pada kebenaran Allah. Keagamaan bangsa Yahudi yang dipimpin oleh imam-imam yang seperti ini merupakan agama yang berkutat dan berpusat pada hukum manusia dan bukan kepada Allah. Agama hanyalah legalitas hukum yang cenderung munafik. Mereka mengakui Allah tetapi bukan Allah yang ada di dalam kitab suci, walaupun Allah tersebut kerap kali disebut sebagai Allah yang Esa, namun mereka “menciptakan” allah lain, yang lebih sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun Allah telah berbicara kepada mereka berkali-kali melalui para nabinya,  bangsa ini tetap menolak Allah, karena Allah yang diberitakan dan dihadirkan oleh para nabi tersebut tidak sesuai apa yang mereka harapkan selama ini. Dalam kasus perbincangan para imam kepala dengan Yesus, jawaban mereka kepada Allah tidak didasarkan kepada kebenaran Allah yang berada dalam kitab suci. Mereka tidak menyukai Yohanes yang lantang berbicara tentang dosa dan kesalahan secara terang-terangan. Yohanes Pembaptis menelanjangi dosa-dosa kemunafikan kelompok agamawan. Kepada sesuatu yang mereka dan orang banyak tahu adalah benar, mereka tidak mau mengakuinya sebagai kebenaran. Jelas di sini terlihat suatu kebebalan hati oleh karena dosa telah menguasai kelompok agamawan ini. Mereka memangku jabatan-jabatan suci tetapi hidup mereka tidak suci. Hal ini sangat perlu untuk diwaspadai, karena orang-orang Farisi yang bebal ini adalah orang-orang yang juga buta. Mereka tidak mampu melihat kesalahan fatal yang ada dalam diri mereka. Sebaliknya dengan liciknya mereka menggunakan jabatan-jabatan agamawi mereka untuk meloloskan tujuan mereka melenyakkan Yesus, membunuh Anak Allah yang selalu membongkar dosa-dosa mereka.

            Sikap orang Yahudi teristimewa kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sering merasa paling suci, benar dan paling dekat dengan Allah ini dikritik secara tajam oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Perumpamaan tentang dua anak dengan bapanya ini menunjukkan tentang bagaimana kehidupan manusia yang tidak sempurna. Manusia yang dalam kesehariannya masih diliputi oleh keinginan bebasnya. Dari kedua anak yang diceritakan dalam perumpamaan tersebut, mereka memiliki karakter yang berbeda. Anak pertama memperlihatkan ciri anak yang pembohong, intensinya sekedar membuat ayahnya senang. Yang kedua adalah anak yang pada awalnya menginginkan kebebasannya, namun akhirnya menyadari bahwa apa yang diperintahkan oleh ayahnya memuat pengajaran akan tanggungjawab pada dirinya. Perumpamaan tentang anak sulung dan adiknya dalam menanggapi ajakan untuk kerja oleh ayahnya, dipakai oleh Yesus untuk menyampaikan ajaran tentang arti sebuah kesetiaan kepada Allah. Bahwa mereka yang masuk surga adalah mereka yang setia beriman, memiliki kesadaran untuk mau bertobat, mau berubah dan kembali kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh anak kedua dalam perumpamaan tadi, meskipun ia menjawab “Aku tidak mau” tetapi kemudian ia menyesal dan pergi bekerja di kebun anggur. Sikap munafik anak sulung terhadap ayahnya dan orang Yahudi yang menolak jalan kebenaran yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis menutup peluang bagi mereka untuk masuk surga. Ajakan pertobatan Yohanes Pembaptis didengar dan diterima dengan baik oleh orang-orang berdosa, pemungut cukai dan pelacur sehingga merekalah yang pantas mendapatkan keselamatan dari Allah. Allah tidak membutuhkan orang-orang pintar yang sok suci untuk masuk dalam kerajaan-Nya karena tindakan mereka bertentangan dengan kehendak Allah. Allah menginginkan adanya usaha pertobatan dari orang-orang berdosa, pemungut cukai dan para pelacur yang memohon keselamatan dan belas kasih dari Allah dengan sungguh-sungguh.

            Sikap kaum Farisi, ahli-ahli Taurat yang sok suci ini juga kita alami akhir-akhir ini merebak di seantero nusantara. Ada kelompok tertentu yang mengklaim diri paling suci, benar, sebagai penjaga kemurnian ajaran agama, sebagai penjaga akhlak dan moral bangsa. Mereka sangat berkoar-koar menuntut ditegakkannya moral bangsa tapi kenyataan menunjukkan bahwa mereka adalah pelaku amoral dan penista agama yang brutal. Mereka adalah pelanggar HAM berat yang bersembunyi dibalik slogan agama dan kemanusiaan. Kemunafikan orang Yahudi sedang dihidupkan secara masif oleh kelompok kecil yang merasa diri paling suci dan benar di negeri tercinta ini. Kelompok ini mengindoktrinasi dan menghipnotis orang untuk menerima begitu saja perjuangan kelompoknya berlabel agama, seolah-oleh mereka ini adalah eks penghuni surga yang diijinkan Tuhan untuk datang menyampaikan pesan-pesan keselamatan kepada manusia. Sikap arogan semacam ini membuat orang buta hati untuk melihat kebenaran sesungguhnya apalagi melihat kebenaran dalam diri orang lain. Kebenaran universal dianggap relatif sehingga tidak mutlak diperjuangkan. Kelompok intoleran semacam ini agak susah untuk menyadari keterbatasannya, yang mungkin bisa hanyalah kesadaran diikuti refleksi pribadi untuk memberikan porsi bagi kehadiran Tuhan dalam hatinya untuk mengalami kasih Allah.

            Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Usaha pertobatan itu bukan datang dari pihak lain atau juga paksaan dari Tuhan, melainkan muncul dari diri sendiri. Kita sendiri yang menentukan nasib keselamatan kita masing-masing sesuai amal perbuatan kita. Pemahaman kita akan ajaran agama sama sekali tidak menjamin kita otomatis untuk masuk surga. Surga hanya bisa dihuni oleh orang-orang berhati mulia, rendah hati dan memiliki usaha untuk berubah/bertobat dalam hidupnya. Orang yang hanya berbicara banyak tetapi tidak melaksanakannya sama seperti tong kosong nyaring bunyinya. Sikap hidup beriman hendaknya menyata dalam kata dan tindakan. Tindakan yang paling nyata terwujud dalam pertobatan yakni pembalikan hidup dari situasi kegelapan hati kepada terang yang berbuah pada perbuatan-perbuatan baik dan cara hidup yang berkenan bagi Allah dan sesama. Sikap pertobatan ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri. Ia telah menunjukkan jalan dan belas kasih Allah dalam hidup melalui kebaikan hati sesama dan ajaran-ajaran iman, agar kita semakin percaya serta hidup baik dan benar. upaya pertobatan dan percaya kepada Allah menjadi penegasan yang mesti dihidupi untuk menerima kedatangan Tuhan dalam hidup kita.

            Sikap kaum Farisi dan ahli Taurat serta anak sulung dalam cerita Injil hari ini, sering menjadi sikap hidup kita juga. Kita sering merasa paling suci,benar, paling dekat dengan Tuhan dan paling baik dibandingkan orang lain. Kita sering mempraktekkan peribahasa: lain di mulut-lain di hati. Kita gampang menghakimi dan menyalahkan orang lain sebagai penganut ajaran sesat. Kita mudah menghakimi orang lain sebagai pelanggar HAM berat. Injil hari ini mengajak serta menggugah hati kita untuk melakukan introspeksi diri secara personal maupun komunal menuju suatu perubahan sikap yang hakiki. Introspeksi diri harus mendapat kepenuhannya dalam penghayatan praktek-praktek kebajikan hidup kristiani. Penghayatan kebajikan hidup kristiani yang dianjurkan adalah kerendahan hati, mengakui kedosaan kita dan berani berubah ke jalan yang benar. Di penghujung Tahun ini, kita perlu melakukan refleksi diri yang mendalam agar hati dan budi kita tercerahkan untuk menatap tahun baru dengan pola hidup baru sebagai manusia baru. Di pekan Adven ini, kita terpanggil untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Anak Allah. Kita harus bisa berdamai dengan diri kita, dengan Tuhan dan sesama sambil melakukan pertobatan dan pembaharuan hati terus menerus lewat sikap dan tindakan yang berkenan dihadapan Allah. Semoga Tuhan selalu menyertai perjalanan ziarah hidup kita selanjutnya. ***Bernard Wadan***

Senin, 07 Desember 2020

Mengambil Bagian Dalam Hidup Maria

Keja 3:9-15.20 & Luk 1:26-38

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Gereja meyakini bahwa sejak awal mula Maria berada dalam lindungan Tuhan dan dipenuhi dengan rahmat Ilahi sehingga ia terbebaskan dari pengaruh ketercemaran yang mendera umat manusia dan terhindar dari kehilangan kekudusan. Sepanjang hidupnya Maria terhindar dari segala dosa. Ia tetaplah perawan yang suci dan murni.

 

Penampakan gadis cantik di Lourdes kepada Bernadette Soubirous pada tahun 1858 yang memperkenalkan dirinya sebagai “Yang Dikandung Tanpa Noda” diyakini sebagai Santa Perawan Maria dan meneguhkan apa yang acapkali oleh sensus fidei gelarkan kepada Maria sebagai “Sang Perawan Suci”.

 

Sebagai suatu penghormatan khusus kepada Sang Perawan Suci maka Gereja merayakannya secara khusus pada setiap tanggal 8 Desember. Penetapan tanggal perayaan itu diresmikan oleh paus Siktus IV pada tahun 1476 dan digolongkan sebagai bagian dari perayaan umum Gereja. Sebagaimana yang dinyatakan bahwa paus yang sama menghindar dari keinginan untuk mendogmakan doktrin tentang Maria Yang Dikandung Tanpa Noda, namun memberikan kebebasan kepada umat beriman untuk boleh percaya atau tidak. Maksudnya supaya tidak ada risiko dituduh melawan ajaran Gereja.

 

Doktrin tentang Maria yang dikandung tanpa dosa baru ditetapkan sebagai dogma oleh paus Pius IX melalui konstitusi apostoliknya, Ineffabilis Deus, pada tanggal 8 Desember 1854.

 

Penetapan itu mengikuti alur penghayatan iman di dalam sejarah perjalanan dan kehidupan Gereja. Mula-mula Gereja menerima apa yang diyakini sebagai suatu pengalaman iman pribadi beriman (sensus fidei). Pengalaman iman pribadi itu kemudian diterima dan dihayati bersama sebagai suatu keyakinan komuniter (sensus fidelium) dan pada akhirnya diterima sebagai kesepakatan bersama (consensus fidelium). Doktrin yang ditetapkan menjadi dogma oleh paus Pius IX adalah bagian dari consensus fidelium.

 

Dengan ditetapkanya menjadi pengajaran iman  maka ia bersifat mengikat semua umat beriman sejak penetapannya dan berlaku selamanya (lih. LG 25). Jadi, baik sekarang maupun nanti umat beriman menerima sebagai suatu warisan iman yang bernilai bahwa Maria sejak awal, pada waktu konsepsi dan sesudahnya tetap menjadi pribadi yang murni tanpa ada noda dosa.

 

Seperti yang disaksikan Kitab Suci bahwa keadaan unggul Maria di antara semua perempuan (diberkati di antara segala perempuan) itu terjadi bukan karena sesuatu yang telah Maria kerjakan dalam dirinya, melainkan karena kerja  Allah. Allah telah memilih Maria dan mengkhususkannya dari antara umat manusia untuk misi keselamatan-Nya. Keadaan isitimewa itu dapat dijejaki pada apa yang dikatakan tentangnya sebagai orang yang dikarunia dan Tuhan menyertainya (Luk 1:28). Ia penuh dengan rahmat Allah.

 

Jawaban Maria terhadap kehendak Allah dalam kata-katanya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, menunjukkan penyerahan yang sempurna pada terjadinya kehendak Allah dengan keadaan diri yang dikehendaki oleh Allah pula bahwa ia tetap menjadi Sang Perawan Suci. Ia adalah ibu yang unik dengan anugerah keibuan yang secara fisik unik pula dan oleh keunikan itulah ia menjadi ibu bagi semua yang hidup (Kej 3:20). Ia adalah Hawa Baru yang mendatangkan kehidupan.

 

Karena keibuan fisik itu unik maka tidak seorang pun dapat memiliknya. Meskipun demikian, setiap umat beriman termasuk kita yang merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, dengan penuh iman akan misteri keselamatan Allah dan rasa penghormatan yang dalam kepada keibuan fisik Maria, dapat mengambil bagian dalam keibuannya secara rohani ketika dalam iman yang sama seperti Maria kita memberikan jawaban yang sama: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

 

Jawaban itu membuka hati kita sepenuhnya pada rencana Allah yang mengubah keadaan keberdosaan kita menjadi keadaan kudus dan terselamatkan. Meskipun kita berbeda dari Maria oleh karena dosa, baik dosa pribadi maupun dosa turunkan Adam dan Hawa, namun oleh peranan Maria sebagai ibu bagi semua yang hidup dan keikutsertaan kita dalam imannya yang tanggap, maka kita pun boleh mengambil bagian dalam keadaan suci dan keselamatan yang dimakhotai kepadanya.

 

Kenyataan bahwa kita selalu terjebak dalam dosa dan acapkali membiarkan diri nyaman dalam kedosaan maka harapan akan keadaan suci dan terselamatkan mengandaikan adanya pertobatan. Ada kesadaran akan situasi keberdosaan dan gerakan pembaruan diri. Melalui jalan ini, dalam kerja sama dengan rahmat Allah yang membimbing kepada keselamatan, kita boleh berharap mengambil bagian dalam keadaan hidup Maria, Sang Perawan Suci.

 

Masa Adven yang sedang kita jalani sekarang ini merupakan suatu kesempatan istimewa  bagi kita untuk meretas kembali jalan pertobatan dan membangun kembali iman yang tergerus oleh zaman. Pertobatan dan pemulihan iman memberikan jaminan keterbukaan dan penyerahan diri pada rencana dan kehendak Tuhan atas diri kita. Kita diubah menjadi manusia baru dengan keadaan baru untuk menerima keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus yang kedatangan-Nya kita rayakan pada hari Natal.

 

Kehidupan Maria menginspirasi kita bahwa kita tidak saja berhenti menjadi orang dengan keadaan baru. Dalam keadaan baru itu kita mesti merasa terpanggil untuk menjadi tanda berkat dan kehidupan bagi orang lain. Kita menolong sesama kita untuk mengambil bagian dan mengalami secara nyata keibuan Maria secara rohani serta menikmati buahnya, hidup dalam kesuciaan dan keadaan selamat.

 

Marilah kita menjadi putra dan putri Maria dengan melakukan apa yang telah dilakukannya: hadir sebagai tanda berkat dan keselamatan.***Apol****

 

Selasa, 01 Desember 2020

Perjamuan Keselamatan

Yes 25:6-10a & Mat 15:29-37

 

Nabi Yesaya menggambarkan secara geografis gunung sebagai tempat Tuhan mengadakan suatu perjamuan yang istimewa bagi segala bangsa. Di atas gunung itu, Tuhan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan dan ditudungkan kepada segala suku bangsa. Tidak ada maut. Tidak ada air mata. Aib pun tidak ada karena telah dijauhkan. Dan semua orang bersorak-sorai dan bersukacita karena keselamatan yang diadakan Tuhan.

 

Gambaran tentang keselamatan simbolik ini kemudian ditampailkan secara konkret oleh penginjil Matius melalui mujizat penyembuhan dan pergandaan roti setelah introduksi geografis, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit dan duduk di situ.

 

Ada suatu pararelisme gambaran geografis yang dipakai oleh Yesaya maupun Matius untuk menunjukkan tempat istimewa di mana setiap orang boleh mengalami belas kasih dan kemurahan hati Tuhan.

 

Apa yang dilukiskan Yesaya tentang kain perkabungan yang disobekkan Tuhan di atas gunung, tidak ada maut, tidak ada air mata dan aib menunjuk kepada apa yang dialami oleh orang sakit yang disembuhkan. Belas kasih dan kemurahan hati telah menggerakkan Yesus dan oleh kuasa yang dimiliki-Nya terjadi perubahan signifikan atas semua orang yang mengalami berbagai jenis penyakit (lumpuh, timpang, buta, bisu dll). Semua yang sakit disembuhkan Yesus oleh penumpangan tangan-Nya.

 

Belas kasih dan kemurahan hati Yesus juga tertuju pada orang banyak yang sudah tiga hari mengikuti Dia dan mereka tidak mempunyai makanan. Faktanya ada kelaparan. Menurut pertimbangan Yesus, orang yang didera kelaparan tidak bisa disuruh pulang untuk mencari makanan sendiri. Mereka pasti akan pingsan di jalan. Pilihan yang paling penting adalah mereka harus diberi makan.

 

Maka atas persediaan yang ada (tujuh roti dan beberapa ikan kecil) Yesus mengadakan perjamuan untuk orang banyak. Ia mengambil roti dan ikan itu, mengucap syukur, memecahkahnya lalu membagikannya kepada murid untuk memberi makan orang banyak. Semua orang makan sampai kenyang dan masih ada sisa tujuh bakul.

 

Melihat pada penuturan Yesaya, apa yang disebutkannya perihal perjamuan Tuhan, jika dihubungkan dengan Injil, maka itu menunjuk pada apa yang dibuat Yesus di atas bukit. Ia menyelamatkan orang banyak dengan perjamuan yang diadakan-Nya. Bukan hanya memberi makan, tetapi memberi makan sampai kenyang dan berkelimpahan.

 

Apabila disimak maka segera menjadi jelas bahwa penggunaan bahasa oleh Yesus dalam peristiwa penggandaan roti dan ikan itu mengisyarakatkan warna Ekaristi. Kata-kata mengucap syukur, memecahkan roti dan membagikannya untuk memberi hidup adalah karakteristik Ekaristi sebagaimana yang biasa dirayakan umat beriman.

 

Kita menemukan di sini adanya hubungan erat antara gambaran simbolik Yesaya tentang perjamuan Tuhan di atas gunung untuk semua bangsa dan segala suku bangsa dengan perjamuan yang diadakan Yesus di atas bukit untuk menyelamatkan orang banyak. Perjamuan Tuhan dengan warna Ekaristi itu adalah perjamuan keselamatan dan itu mencakup juga peristiwa penyembuhan yang sudah terjadi sebelum perjamuan itu diadakan. Dan ini sesuai dengan keyakinan yang mendasari tindakan Gereja bahwa Ekaristi adalah puncak misteri keselamatan.

 

Melalui Ekaristi, kita tidak saja menyerahkan diri untuk disembuhkan dari berbagai penyakit, terutama adalah penyakit dosa kita, melainkan memberikan diri untuk mengalami kepenuhan hidup dan berkelimpahan rahmat.

 

Tidak berhenti di situ saja. Setelah diselamatkan dan mengalami situasi kelimpahan rahmat, Ekaristi menjiwai kita untuk menunjukkan belas kasih dan bermurah hati. Kita bersyukur atas apa yang sudah kita miliki dan memberikan diri kita untuk membantu orang lain untuk mengalami keselamatan yang sama. Tegasnya, perjamuan Tuhan yang kita alami itu kita bawa pula untuk orang lain dalam cara hidup kita yang bercorak ekaristis.

 

Pada moment ini di mana saudara/i kita mengalami musibah karena erupsi gunung Ile Ape, sebagai orang ekaristis, kita tidak saja menunjukkan kata-kata belas kasihan, melainkan seperti Yesus berani melakukan tindakan konkret untuk menyelamatkan orang yang kelaparan. Mereka harus diberi makan. Apapun yang kita lakukan, sekecil apapun itu, akan sangat bernilai untuk keselamatan sesama kita. ***Apol***