Selasa, 15 Desember 2020

Bertanyalah Kepada Suber Yang Otentik

Luk 7:19-23

Dari balik penjara, Yohanes Pembaptis mendengar banyak dari murid-muridnya tentang Yesus dan apa yang dilakukan-Nya. Namun ia masih ragu apakah Yesus yang diceritakan itu adalah Dia yang dimaksukannya ketika ia mengatakan bahwa akan datang seseorang yang “lebih berkuasa daripada aku” (Luk 3:16-17).

 

Dasar keraguannya sebagaimana yang dikemukakan para penafsir adalah kemungkinan Yohanes tidak melihat pemenuhan penghakiman eskatologis dalam kemurahan hati dan pengajaran-Nya tentang kasih kepada musuh.

 

Agar tidak tetap tinggal dalam keraguan yang bisa menghalangi rencana Ilahi, maka Yohanes memandang urgen untuk mengutus muridnya kepada Yesus dan mendapatkan informasi secara adekuat dari Yesus sendiri.

 

Seperti yang ditulis Lukas, Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung. Ia memberi jawaban kepada Yohanes dengan meminta para murid Yohanes menceritakan apa yang mereka lihat dan dengar tentang Yesus: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22).

 

Di sini Yesus menunjukkan gambaran diri-Nya seperti yang telah diramalkan Yesaya tentang tibanya hari pembebasan Mesias di mana orang buta melihat dan orang tuli mendengar (Yes 29:18-19; 35:5-6) sebagaimana pula telah dibicarakan Yesus sebagai rencana kerja Ilahi dalam kotbah-Nya di Nazaret (Luk 4:18-19).  

 

Dengan menunjuk pada apa yang telah dilakukan-Nya dan pada apa yang Kitab Suci bicarakan Yesus menyatakan tentang kebenaran diri-Nya sebagai Mesias yang dinantikan.

 

Kitab Suci tidak membicarakan alasan mengapa Yesus mesti memberikan jawaban atas pertanyaan Yohanes dengan cara demikian. Namun pasti bahwa atas dasar yang ada, yaitu perbuatan dan pengajaran-Nya yang merujuk pada apa yang telah dinubuatkan Yesaya, Yesus menyatakan diri-Nya secara tidak langsung sebagai Mesias yang dinantikan.

 

Sebagaimana yang dinyatakan kepada Yohanes Pembaptis demikianlah kepada semua murid-Nya. Acapkali Yesus memberikan gambaran tentang diri-Nya dan Kerajaan Allah yang diwartakan dalam sebuah teka-teki. Namun teka-teki itu menemukan titik terang-Nya dalam konteks sejarah keselamatan dan apa yang telah disabdakan-Nya sendiri.

 

Di sini kita diajak untuk membuka diri kepada apa yang terjadi dalam kehidupan kita dan membaca semua pengalaman hidup itu dalam terang sabda-Nya. Atas cara ini semua teka-teki dan juga keraguan apapun yang kita alami memeroleh jawaban dari Dia. Dalam hal ini, Yohanes menunjukkan suatu jalan yang baik dan tepat bagi kita untuk datang kepada sumbernya dan mencari tahu kebenaran tentang apa yang kita alami dalam hidup ini.

 

Kalau kita refleksikan perjalanan hidup ini, maka tidak sedikit orang, bahkan kita sendiri mengalami situasi dilematis juga berkenaan dengan keraguan iman dalam serba pengalaman dan situasi batas yang begitu kompleks. Meskipu begitu toh kita jarang sekali bertanya kepada Dia yang mampu mengatasi teka-teki kehidupan kita. Sementara itu yang lain tetap tinggal dalam keraguan. Semuanya itu mendatangkan serba kekacauan dalam hidup kita.

 

Sabda Tuhan ini mengajak kita untuk selalu datang dan bertanya kepada Dia untuk semua keraguan yang kita alami. Seperti Yohanes, kita tidak boleh membiarkan keraguan itu menyelimuti kita dan mambuat kita tertutup terhadap rencana Ilahi dan pemenuhan proyek keselamatan dalam hidup kita. Kita harus datang kepada Dia. Apapun keraguan kita atau apapun masalah itu Tuhan pasti memberikan jawaban yang tepat.

 

Karena Tuhan adalah sumber otentik satu-satunya dalam hidup kita, maka yang kita butuhkan adalah keterbukaan hati dan iman kita untuk datang kepada-Nya, bertanya kepada-Nya. Ia akan menunjukkan di mana kita menemukan jawaban atas persoalan kita. ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar