Yes
25:6-10a & Mat 15:29-37
Nabi
Yesaya menggambarkan secara geografis gunung sebagai tempat Tuhan mengadakan
suatu perjamuan yang istimewa bagi segala bangsa. Di atas gunung itu, Tuhan
mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan dan ditudungkan kepada segala
suku bangsa. Tidak ada maut. Tidak ada air mata. Aib pun tidak ada karena telah
dijauhkan. Dan semua orang bersorak-sorai dan bersukacita karena keselamatan
yang diadakan Tuhan.
Gambaran
tentang keselamatan simbolik ini kemudian ditampailkan secara konkret oleh
penginjil Matius melalui mujizat penyembuhan dan pergandaan roti setelah
introduksi geografis, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas
bukit dan duduk di situ.
Ada
suatu pararelisme gambaran geografis yang dipakai oleh Yesaya maupun Matius
untuk menunjukkan tempat istimewa di mana setiap orang boleh mengalami belas
kasih dan kemurahan hati Tuhan.
Apa yang dilukiskan Yesaya tentang kain perkabungan yang
disobekkan Tuhan di atas gunung, tidak ada maut, tidak ada air mata dan aib
menunjuk kepada apa yang dialami oleh orang sakit yang disembuhkan. Belas kasih
dan kemurahan hati telah menggerakkan Yesus dan oleh kuasa yang dimiliki-Nya
terjadi perubahan signifikan atas semua orang yang mengalami berbagai jenis
penyakit (lumpuh, timpang, buta, bisu dll). Semua yang sakit disembuhkan Yesus
oleh penumpangan tangan-Nya.
Belas kasih dan kemurahan hati Yesus juga tertuju pada orang
banyak yang sudah tiga hari mengikuti Dia dan mereka tidak mempunyai makanan.
Faktanya ada kelaparan. Menurut pertimbangan Yesus, orang yang didera kelaparan
tidak bisa disuruh pulang untuk mencari makanan sendiri. Mereka pasti akan
pingsan di jalan. Pilihan yang paling penting adalah mereka harus diberi makan.
Maka atas persediaan yang ada (tujuh roti dan beberapa ikan kecil)
Yesus mengadakan perjamuan untuk orang banyak. Ia mengambil roti dan ikan itu,
mengucap syukur, memecahkahnya lalu membagikannya kepada murid untuk memberi
makan orang banyak. Semua orang makan sampai kenyang dan masih ada sisa tujuh
bakul.
Melihat pada penuturan Yesaya, apa yang disebutkannya perihal perjamuan
Tuhan, jika dihubungkan dengan Injil, maka itu menunjuk pada apa yang dibuat
Yesus di atas bukit. Ia menyelamatkan orang banyak dengan perjamuan yang
diadakan-Nya. Bukan hanya memberi makan, tetapi memberi makan sampai kenyang
dan berkelimpahan.
Apabila disimak maka segera menjadi jelas bahwa penggunaan bahasa
oleh Yesus dalam peristiwa penggandaan roti dan ikan itu mengisyarakatkan warna
Ekaristi. Kata-kata mengucap syukur, memecahkan roti dan membagikannya untuk
memberi hidup adalah karakteristik Ekaristi sebagaimana yang biasa dirayakan
umat beriman.
Kita menemukan di sini adanya hubungan erat antara gambaran
simbolik Yesaya tentang perjamuan Tuhan di atas gunung untuk semua bangsa dan
segala suku bangsa dengan perjamuan yang diadakan Yesus di atas bukit untuk
menyelamatkan orang banyak. Perjamuan Tuhan dengan warna Ekaristi itu adalah
perjamuan keselamatan dan itu mencakup juga peristiwa penyembuhan yang sudah
terjadi sebelum perjamuan itu diadakan. Dan ini sesuai dengan keyakinan yang
mendasari tindakan Gereja bahwa Ekaristi adalah puncak misteri keselamatan.
Melalui Ekaristi, kita tidak saja menyerahkan diri untuk
disembuhkan dari berbagai penyakit, terutama adalah penyakit dosa kita,
melainkan memberikan diri untuk mengalami kepenuhan hidup dan berkelimpahan
rahmat.
Tidak berhenti di situ saja. Setelah diselamatkan dan mengalami
situasi kelimpahan rahmat, Ekaristi menjiwai kita untuk menunjukkan belas kasih
dan bermurah hati. Kita bersyukur atas apa yang sudah kita miliki dan
memberikan diri kita untuk membantu orang lain untuk mengalami keselamatan yang
sama. Tegasnya, perjamuan Tuhan yang kita alami itu kita bawa pula untuk orang
lain dalam cara hidup kita yang bercorak ekaristis.
Pada moment ini di mana saudara/i kita mengalami musibah karena
erupsi gunung Ile Ape, sebagai orang ekaristis, kita tidak saja menunjukkan
kata-kata belas kasihan, melainkan seperti Yesus berani melakukan tindakan
konkret untuk menyelamatkan orang yang kelaparan. Mereka harus diberi makan.
Apapun yang kita lakukan, sekecil apapun itu, akan sangat bernilai untuk keselamatan
sesama kita. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar