Selasa, 01 Desember 2020

Perjamuan Keselamatan

Yes 25:6-10a & Mat 15:29-37

 

Nabi Yesaya menggambarkan secara geografis gunung sebagai tempat Tuhan mengadakan suatu perjamuan yang istimewa bagi segala bangsa. Di atas gunung itu, Tuhan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan dan ditudungkan kepada segala suku bangsa. Tidak ada maut. Tidak ada air mata. Aib pun tidak ada karena telah dijauhkan. Dan semua orang bersorak-sorai dan bersukacita karena keselamatan yang diadakan Tuhan.

 

Gambaran tentang keselamatan simbolik ini kemudian ditampailkan secara konkret oleh penginjil Matius melalui mujizat penyembuhan dan pergandaan roti setelah introduksi geografis, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit dan duduk di situ.

 

Ada suatu pararelisme gambaran geografis yang dipakai oleh Yesaya maupun Matius untuk menunjukkan tempat istimewa di mana setiap orang boleh mengalami belas kasih dan kemurahan hati Tuhan.

 

Apa yang dilukiskan Yesaya tentang kain perkabungan yang disobekkan Tuhan di atas gunung, tidak ada maut, tidak ada air mata dan aib menunjuk kepada apa yang dialami oleh orang sakit yang disembuhkan. Belas kasih dan kemurahan hati telah menggerakkan Yesus dan oleh kuasa yang dimiliki-Nya terjadi perubahan signifikan atas semua orang yang mengalami berbagai jenis penyakit (lumpuh, timpang, buta, bisu dll). Semua yang sakit disembuhkan Yesus oleh penumpangan tangan-Nya.

 

Belas kasih dan kemurahan hati Yesus juga tertuju pada orang banyak yang sudah tiga hari mengikuti Dia dan mereka tidak mempunyai makanan. Faktanya ada kelaparan. Menurut pertimbangan Yesus, orang yang didera kelaparan tidak bisa disuruh pulang untuk mencari makanan sendiri. Mereka pasti akan pingsan di jalan. Pilihan yang paling penting adalah mereka harus diberi makan.

 

Maka atas persediaan yang ada (tujuh roti dan beberapa ikan kecil) Yesus mengadakan perjamuan untuk orang banyak. Ia mengambil roti dan ikan itu, mengucap syukur, memecahkahnya lalu membagikannya kepada murid untuk memberi makan orang banyak. Semua orang makan sampai kenyang dan masih ada sisa tujuh bakul.

 

Melihat pada penuturan Yesaya, apa yang disebutkannya perihal perjamuan Tuhan, jika dihubungkan dengan Injil, maka itu menunjuk pada apa yang dibuat Yesus di atas bukit. Ia menyelamatkan orang banyak dengan perjamuan yang diadakan-Nya. Bukan hanya memberi makan, tetapi memberi makan sampai kenyang dan berkelimpahan.

 

Apabila disimak maka segera menjadi jelas bahwa penggunaan bahasa oleh Yesus dalam peristiwa penggandaan roti dan ikan itu mengisyarakatkan warna Ekaristi. Kata-kata mengucap syukur, memecahkan roti dan membagikannya untuk memberi hidup adalah karakteristik Ekaristi sebagaimana yang biasa dirayakan umat beriman.

 

Kita menemukan di sini adanya hubungan erat antara gambaran simbolik Yesaya tentang perjamuan Tuhan di atas gunung untuk semua bangsa dan segala suku bangsa dengan perjamuan yang diadakan Yesus di atas bukit untuk menyelamatkan orang banyak. Perjamuan Tuhan dengan warna Ekaristi itu adalah perjamuan keselamatan dan itu mencakup juga peristiwa penyembuhan yang sudah terjadi sebelum perjamuan itu diadakan. Dan ini sesuai dengan keyakinan yang mendasari tindakan Gereja bahwa Ekaristi adalah puncak misteri keselamatan.

 

Melalui Ekaristi, kita tidak saja menyerahkan diri untuk disembuhkan dari berbagai penyakit, terutama adalah penyakit dosa kita, melainkan memberikan diri untuk mengalami kepenuhan hidup dan berkelimpahan rahmat.

 

Tidak berhenti di situ saja. Setelah diselamatkan dan mengalami situasi kelimpahan rahmat, Ekaristi menjiwai kita untuk menunjukkan belas kasih dan bermurah hati. Kita bersyukur atas apa yang sudah kita miliki dan memberikan diri kita untuk membantu orang lain untuk mengalami keselamatan yang sama. Tegasnya, perjamuan Tuhan yang kita alami itu kita bawa pula untuk orang lain dalam cara hidup kita yang bercorak ekaristis.

 

Pada moment ini di mana saudara/i kita mengalami musibah karena erupsi gunung Ile Ape, sebagai orang ekaristis, kita tidak saja menunjukkan kata-kata belas kasihan, melainkan seperti Yesus berani melakukan tindakan konkret untuk menyelamatkan orang yang kelaparan. Mereka harus diberi makan. Apapun yang kita lakukan, sekecil apapun itu, akan sangat bernilai untuk keselamatan sesama kita. ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar