Senin, 14 Desember 2020

PERTOBATAN: JALAN MENUJU KESELAMATAN

Mat 21:28-32

            Akhir-akhir ini muncul figur yang melakukan orasi dengan semangat ingin menyelamatkan negara dan membela agama tertentu. Orasinya menuai pro kontra  karena bernada profokatif memecah belah persatuan bangsa. Aksinya bahkan mendapat sambutan hangat dengan jumlah lautan massa, seakan si narator memiliki kekuatan dahsyat bak dewa dari kayangan.  Ia mampu mengindoktrinasi dan menghipnotis massa sehingga mereka mudah digerakkan dari pelosok tanah air datang mengelilingi dewa penyelamat mereka. Negara seakan dalam keadaan darurat perang hingga perlu diselamatkan oleh dewa buatan manusia. Pemuka agama adalah orang-orang taat beribadah, mengerti ajaran agama yang harusnya membimbing orang untuk saling mengasihi dan mencintai sebagai saudara. Sayangnya, orang-orang yang suci mulia ini justru nimbrung meneriakan yel-yel anti pemerintah yang dianggap diskriminatif. Patut disayangkan, mestinya para tokoh agama memiliki kewajiban moril untuk mencerahkan dan memberikan pemahaman kepada umat untuk taat pada hukum dan memberikan mandat kepada pemerintah untuk menyelesaikan semua masalah yang muncul. Namun yang terjadi sebaliknya, mereka semakin bringas memprofokasi massa dan memperkeruh suasana. Pemikiran solutif dan arif justru datang dari orang-orang kecil yang memiliki kerendahan hati meskipun minim pengetahuan agama dan kadang suara mereka tak didengarkan dan diabaikan. Merekalah pahlawan agung yang menggaungkan kedamaian, persatuan dan toleransi inter dan antar umat beragama.

            Injil yang baru saja kita dengar dimana Yesus mengawali perumpamaan-Nya dengan pertanyaan “apakah pendapatmu tentang ini?” (21:28). Suatu pertanyaan yang mengundang para pendengar Yesus untuk memikirkan perumpamaan ini dari perspektif diri mereka sendiri. Hal ini bertujuan untuk membawa orang-orang yang melakukan kesalahan keluar dari dirinya sendiri dan mencoba menilai perbuatan mereka sendiri dalam perspektif yang baru (perspektif yang cenderung netral). Hal ini dilakukan oleh Yesus karena manusia jauh lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahannya sendiri. Kelompok kaum agamawan ini sebenarnya tidak peduli dengan kehendak Tuhan, mereka tidak memikirkan apa yang Allah kehendaki bagi mereka. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri mereka sendiri. Para pemuka agama Yahudi ini membangun kebenaran mereka sendiri sehingga mereka tidak takluk pada kebenaran Allah. Keagamaan bangsa Yahudi yang dipimpin oleh imam-imam yang seperti ini merupakan agama yang berkutat dan berpusat pada hukum manusia dan bukan kepada Allah. Agama hanyalah legalitas hukum yang cenderung munafik. Mereka mengakui Allah tetapi bukan Allah yang ada di dalam kitab suci, walaupun Allah tersebut kerap kali disebut sebagai Allah yang Esa, namun mereka “menciptakan” allah lain, yang lebih sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun Allah telah berbicara kepada mereka berkali-kali melalui para nabinya,  bangsa ini tetap menolak Allah, karena Allah yang diberitakan dan dihadirkan oleh para nabi tersebut tidak sesuai apa yang mereka harapkan selama ini. Dalam kasus perbincangan para imam kepala dengan Yesus, jawaban mereka kepada Allah tidak didasarkan kepada kebenaran Allah yang berada dalam kitab suci. Mereka tidak menyukai Yohanes yang lantang berbicara tentang dosa dan kesalahan secara terang-terangan. Yohanes Pembaptis menelanjangi dosa-dosa kemunafikan kelompok agamawan. Kepada sesuatu yang mereka dan orang banyak tahu adalah benar, mereka tidak mau mengakuinya sebagai kebenaran. Jelas di sini terlihat suatu kebebalan hati oleh karena dosa telah menguasai kelompok agamawan ini. Mereka memangku jabatan-jabatan suci tetapi hidup mereka tidak suci. Hal ini sangat perlu untuk diwaspadai, karena orang-orang Farisi yang bebal ini adalah orang-orang yang juga buta. Mereka tidak mampu melihat kesalahan fatal yang ada dalam diri mereka. Sebaliknya dengan liciknya mereka menggunakan jabatan-jabatan agamawi mereka untuk meloloskan tujuan mereka melenyakkan Yesus, membunuh Anak Allah yang selalu membongkar dosa-dosa mereka.

            Sikap orang Yahudi teristimewa kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sering merasa paling suci, benar dan paling dekat dengan Allah ini dikritik secara tajam oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Perumpamaan tentang dua anak dengan bapanya ini menunjukkan tentang bagaimana kehidupan manusia yang tidak sempurna. Manusia yang dalam kesehariannya masih diliputi oleh keinginan bebasnya. Dari kedua anak yang diceritakan dalam perumpamaan tersebut, mereka memiliki karakter yang berbeda. Anak pertama memperlihatkan ciri anak yang pembohong, intensinya sekedar membuat ayahnya senang. Yang kedua adalah anak yang pada awalnya menginginkan kebebasannya, namun akhirnya menyadari bahwa apa yang diperintahkan oleh ayahnya memuat pengajaran akan tanggungjawab pada dirinya. Perumpamaan tentang anak sulung dan adiknya dalam menanggapi ajakan untuk kerja oleh ayahnya, dipakai oleh Yesus untuk menyampaikan ajaran tentang arti sebuah kesetiaan kepada Allah. Bahwa mereka yang masuk surga adalah mereka yang setia beriman, memiliki kesadaran untuk mau bertobat, mau berubah dan kembali kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh anak kedua dalam perumpamaan tadi, meskipun ia menjawab “Aku tidak mau” tetapi kemudian ia menyesal dan pergi bekerja di kebun anggur. Sikap munafik anak sulung terhadap ayahnya dan orang Yahudi yang menolak jalan kebenaran yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis menutup peluang bagi mereka untuk masuk surga. Ajakan pertobatan Yohanes Pembaptis didengar dan diterima dengan baik oleh orang-orang berdosa, pemungut cukai dan pelacur sehingga merekalah yang pantas mendapatkan keselamatan dari Allah. Allah tidak membutuhkan orang-orang pintar yang sok suci untuk masuk dalam kerajaan-Nya karena tindakan mereka bertentangan dengan kehendak Allah. Allah menginginkan adanya usaha pertobatan dari orang-orang berdosa, pemungut cukai dan para pelacur yang memohon keselamatan dan belas kasih dari Allah dengan sungguh-sungguh.

            Sikap kaum Farisi, ahli-ahli Taurat yang sok suci ini juga kita alami akhir-akhir ini merebak di seantero nusantara. Ada kelompok tertentu yang mengklaim diri paling suci, benar, sebagai penjaga kemurnian ajaran agama, sebagai penjaga akhlak dan moral bangsa. Mereka sangat berkoar-koar menuntut ditegakkannya moral bangsa tapi kenyataan menunjukkan bahwa mereka adalah pelaku amoral dan penista agama yang brutal. Mereka adalah pelanggar HAM berat yang bersembunyi dibalik slogan agama dan kemanusiaan. Kemunafikan orang Yahudi sedang dihidupkan secara masif oleh kelompok kecil yang merasa diri paling suci dan benar di negeri tercinta ini. Kelompok ini mengindoktrinasi dan menghipnotis orang untuk menerima begitu saja perjuangan kelompoknya berlabel agama, seolah-oleh mereka ini adalah eks penghuni surga yang diijinkan Tuhan untuk datang menyampaikan pesan-pesan keselamatan kepada manusia. Sikap arogan semacam ini membuat orang buta hati untuk melihat kebenaran sesungguhnya apalagi melihat kebenaran dalam diri orang lain. Kebenaran universal dianggap relatif sehingga tidak mutlak diperjuangkan. Kelompok intoleran semacam ini agak susah untuk menyadari keterbatasannya, yang mungkin bisa hanyalah kesadaran diikuti refleksi pribadi untuk memberikan porsi bagi kehadiran Tuhan dalam hatinya untuk mengalami kasih Allah.

            Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Usaha pertobatan itu bukan datang dari pihak lain atau juga paksaan dari Tuhan, melainkan muncul dari diri sendiri. Kita sendiri yang menentukan nasib keselamatan kita masing-masing sesuai amal perbuatan kita. Pemahaman kita akan ajaran agama sama sekali tidak menjamin kita otomatis untuk masuk surga. Surga hanya bisa dihuni oleh orang-orang berhati mulia, rendah hati dan memiliki usaha untuk berubah/bertobat dalam hidupnya. Orang yang hanya berbicara banyak tetapi tidak melaksanakannya sama seperti tong kosong nyaring bunyinya. Sikap hidup beriman hendaknya menyata dalam kata dan tindakan. Tindakan yang paling nyata terwujud dalam pertobatan yakni pembalikan hidup dari situasi kegelapan hati kepada terang yang berbuah pada perbuatan-perbuatan baik dan cara hidup yang berkenan bagi Allah dan sesama. Sikap pertobatan ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri. Ia telah menunjukkan jalan dan belas kasih Allah dalam hidup melalui kebaikan hati sesama dan ajaran-ajaran iman, agar kita semakin percaya serta hidup baik dan benar. upaya pertobatan dan percaya kepada Allah menjadi penegasan yang mesti dihidupi untuk menerima kedatangan Tuhan dalam hidup kita.

            Sikap kaum Farisi dan ahli Taurat serta anak sulung dalam cerita Injil hari ini, sering menjadi sikap hidup kita juga. Kita sering merasa paling suci,benar, paling dekat dengan Tuhan dan paling baik dibandingkan orang lain. Kita sering mempraktekkan peribahasa: lain di mulut-lain di hati. Kita gampang menghakimi dan menyalahkan orang lain sebagai penganut ajaran sesat. Kita mudah menghakimi orang lain sebagai pelanggar HAM berat. Injil hari ini mengajak serta menggugah hati kita untuk melakukan introspeksi diri secara personal maupun komunal menuju suatu perubahan sikap yang hakiki. Introspeksi diri harus mendapat kepenuhannya dalam penghayatan praktek-praktek kebajikan hidup kristiani. Penghayatan kebajikan hidup kristiani yang dianjurkan adalah kerendahan hati, mengakui kedosaan kita dan berani berubah ke jalan yang benar. Di penghujung Tahun ini, kita perlu melakukan refleksi diri yang mendalam agar hati dan budi kita tercerahkan untuk menatap tahun baru dengan pola hidup baru sebagai manusia baru. Di pekan Adven ini, kita terpanggil untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Anak Allah. Kita harus bisa berdamai dengan diri kita, dengan Tuhan dan sesama sambil melakukan pertobatan dan pembaharuan hati terus menerus lewat sikap dan tindakan yang berkenan dihadapan Allah. Semoga Tuhan selalu menyertai perjalanan ziarah hidup kita selanjutnya. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar