Luk 2:22-35
Lukas
menulis bahwa Simeon adalah seorang yang benar dan saleh yang menantikan
penghiburan bagi Israel. Berkat kualitas hidupnya itu maka Roh Kudus hadir dan
berkarya di dalam dirinya. Disebtukan, ia datang ke Bait Allah karena dorongan
Roh Kudus.
Ketika ia menerima dan menatang Yesus, sambil
memuji Allah, Simeon yang terinspirasi oleh Roh Kudus itu memaklumkan kebenaran
secara resmi tentang penyelamatan definitif yang dibawa oleh Yesus dari dalam
Bait Allah. Ia mengakui Yesus dengan sungguh sebagai “Yang Diurapi
Allah”. Ia adalah terang keselamatan bagi bangsa-bangsa, daya pewahyuan bagi orang-orang kafir, dan juga kemuliaan bagi Israel.
Tidak hanya itu. Di bawah kuasa dan inspirasi
Roh Kudus Allah, Simeon yang memberkati orang tua Yesus, memeringatkan bahwa
Anak Yang Diurapi Allah itu akan menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di
Sirael dan menjadi tanda perbantahan. Kepada Maria, secara khusus, ia berpesan bahwa Maria bakal mengalami bahwa
suatu pedang akan menembusi jiwanya.
Apa yang diucapkan di bawah terang Roh Kudus
adalah suatu kebenaran yang bersifat tetap dan tidak mungkin tidak terlaksana. Terbukti
bahwa hidup dan karya Yesus di tengah bangsa Israel sungguh membangkitkan
perbantahan. Ia datang bukan membawa damai di atas bumi ini melainkan pedang (Mat 10:34; Luk
12:49-53). Dan Maria ibu-Nya itu mengalami kepahitan Jumat Agung ketika
menyaksikan putra-Nya tergantung di salib. Itulah pedang yang menebusi jiwanya.
Apa
yang ditunjukkan oleh Simeon menggambarkan kebenaran yang tidak dapat dinafikan
bahwa Roh Allah yang satu dan sama akan juga menginspirasi setiap orang beriman
yang oleh bimbingan imannya menjalani hidup dengan benar dan saleh. Akan selalu
ada kerja sama untuk membangun visi iman dan rohani yang jelas. Dan itulah
kekuatan yang mengikat orang beriman untuk menantikan pemenuhan harapan
sebagaimana yang dijanjikan Allah.
Bagi
orang beriman yang hidup benar dan saleh, Roh Allah itu akan hadir dan
membimbingnya ke tempat yang benar untuk mencari kebenaran, dan akan mengatakan
kebenaran pada waktu dan tempat yang tepat. Orang beriman tidak pernah akan
mengatakan yang tidak benar, menebarkan hoax
dan membangkitkan kekuatiran di tengah hidup bersama.
Karena
hidup dengan benar dan saleh menjadi kondisi bagi menetapnya Roh Allah, maka
pasti juga bahwa Roh itu akan menghindarkan orang dari perbuatan yang
mencemarkan hidupnya. Roh Allah akan memberi pertimbangan mendahului untuk
melakukan pemindaian bagi penentuan tindakan yang penting.
Melalui
suara hati Roh Allah akan menjustifikasi putusan yang tepat, melarang untuk
melakukan yang tidak baik, dan jika ternyata tak terhindarkan orang memilih
yang salah maka Roh Allah akan mengadili dan menarik orang kembali kepada
kebenaran.
Barangkali
kita bukanlah orang-orang dengan kualitas hidup seperti seorang Simeon yang
hidup dengan benar dan saleh sesuai iman, dan karena itu tidak selalu terbuka
bagi inspirasi dari Roh Allah. Kita menginginkan bahwa kita selalu berada
dalam posisi benar dan saleh namun
acapkali kita menutup diri bagi inspirasi Roh Allah ketika kita mengedepankan
keingnan diri kita sendiri. Alhasil yang kita lakukan juga jauh dari kebenaran
dan yang menodai kesalehan hidup.
Namun
demikian ketika kita menyadari kondisi demikian maka sebenaranya Roh Allah
masih bekerja untuk membalikan kita kepada jalan kebenaran dan kesalehan. Jika
kita mendengarkan bisikan-Nya dan mau kembali kepada jalan kebenaran maka kita
membuka jalan lebih lebar bagi karya Roh Allah untuk membangun hidup kita seperti
yang ditunjukkan oleh Simeon.
Marilah
kita membuka diri bagi kehadiran dan karya Roh Allah dalam hidup kita dengan
jalan menghayati kebenaran sebagaimana yang dikatakan oleh iman dan hidup dalam
kesalehan. Perayaan Natal yang barusan kita rayakan kiranya memertemukan kita
dengan Yesus, Dia Yang Diurapi Allah, memertajam iman kita dan menjiwai kita
untuk hidup dengan benar dan saleh sebagai kondisi yang penting bagi kehadiran
dan karya Roh Allah.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar