Senin, 07 Desember 2020

Mengambil Bagian Dalam Hidup Maria

Keja 3:9-15.20 & Luk 1:26-38

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Gereja meyakini bahwa sejak awal mula Maria berada dalam lindungan Tuhan dan dipenuhi dengan rahmat Ilahi sehingga ia terbebaskan dari pengaruh ketercemaran yang mendera umat manusia dan terhindar dari kehilangan kekudusan. Sepanjang hidupnya Maria terhindar dari segala dosa. Ia tetaplah perawan yang suci dan murni.

 

Penampakan gadis cantik di Lourdes kepada Bernadette Soubirous pada tahun 1858 yang memperkenalkan dirinya sebagai “Yang Dikandung Tanpa Noda” diyakini sebagai Santa Perawan Maria dan meneguhkan apa yang acapkali oleh sensus fidei gelarkan kepada Maria sebagai “Sang Perawan Suci”.

 

Sebagai suatu penghormatan khusus kepada Sang Perawan Suci maka Gereja merayakannya secara khusus pada setiap tanggal 8 Desember. Penetapan tanggal perayaan itu diresmikan oleh paus Siktus IV pada tahun 1476 dan digolongkan sebagai bagian dari perayaan umum Gereja. Sebagaimana yang dinyatakan bahwa paus yang sama menghindar dari keinginan untuk mendogmakan doktrin tentang Maria Yang Dikandung Tanpa Noda, namun memberikan kebebasan kepada umat beriman untuk boleh percaya atau tidak. Maksudnya supaya tidak ada risiko dituduh melawan ajaran Gereja.

 

Doktrin tentang Maria yang dikandung tanpa dosa baru ditetapkan sebagai dogma oleh paus Pius IX melalui konstitusi apostoliknya, Ineffabilis Deus, pada tanggal 8 Desember 1854.

 

Penetapan itu mengikuti alur penghayatan iman di dalam sejarah perjalanan dan kehidupan Gereja. Mula-mula Gereja menerima apa yang diyakini sebagai suatu pengalaman iman pribadi beriman (sensus fidei). Pengalaman iman pribadi itu kemudian diterima dan dihayati bersama sebagai suatu keyakinan komuniter (sensus fidelium) dan pada akhirnya diterima sebagai kesepakatan bersama (consensus fidelium). Doktrin yang ditetapkan menjadi dogma oleh paus Pius IX adalah bagian dari consensus fidelium.

 

Dengan ditetapkanya menjadi pengajaran iman  maka ia bersifat mengikat semua umat beriman sejak penetapannya dan berlaku selamanya (lih. LG 25). Jadi, baik sekarang maupun nanti umat beriman menerima sebagai suatu warisan iman yang bernilai bahwa Maria sejak awal, pada waktu konsepsi dan sesudahnya tetap menjadi pribadi yang murni tanpa ada noda dosa.

 

Seperti yang disaksikan Kitab Suci bahwa keadaan unggul Maria di antara semua perempuan (diberkati di antara segala perempuan) itu terjadi bukan karena sesuatu yang telah Maria kerjakan dalam dirinya, melainkan karena kerja  Allah. Allah telah memilih Maria dan mengkhususkannya dari antara umat manusia untuk misi keselamatan-Nya. Keadaan isitimewa itu dapat dijejaki pada apa yang dikatakan tentangnya sebagai orang yang dikarunia dan Tuhan menyertainya (Luk 1:28). Ia penuh dengan rahmat Allah.

 

Jawaban Maria terhadap kehendak Allah dalam kata-katanya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, menunjukkan penyerahan yang sempurna pada terjadinya kehendak Allah dengan keadaan diri yang dikehendaki oleh Allah pula bahwa ia tetap menjadi Sang Perawan Suci. Ia adalah ibu yang unik dengan anugerah keibuan yang secara fisik unik pula dan oleh keunikan itulah ia menjadi ibu bagi semua yang hidup (Kej 3:20). Ia adalah Hawa Baru yang mendatangkan kehidupan.

 

Karena keibuan fisik itu unik maka tidak seorang pun dapat memiliknya. Meskipun demikian, setiap umat beriman termasuk kita yang merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, dengan penuh iman akan misteri keselamatan Allah dan rasa penghormatan yang dalam kepada keibuan fisik Maria, dapat mengambil bagian dalam keibuannya secara rohani ketika dalam iman yang sama seperti Maria kita memberikan jawaban yang sama: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

 

Jawaban itu membuka hati kita sepenuhnya pada rencana Allah yang mengubah keadaan keberdosaan kita menjadi keadaan kudus dan terselamatkan. Meskipun kita berbeda dari Maria oleh karena dosa, baik dosa pribadi maupun dosa turunkan Adam dan Hawa, namun oleh peranan Maria sebagai ibu bagi semua yang hidup dan keikutsertaan kita dalam imannya yang tanggap, maka kita pun boleh mengambil bagian dalam keadaan suci dan keselamatan yang dimakhotai kepadanya.

 

Kenyataan bahwa kita selalu terjebak dalam dosa dan acapkali membiarkan diri nyaman dalam kedosaan maka harapan akan keadaan suci dan terselamatkan mengandaikan adanya pertobatan. Ada kesadaran akan situasi keberdosaan dan gerakan pembaruan diri. Melalui jalan ini, dalam kerja sama dengan rahmat Allah yang membimbing kepada keselamatan, kita boleh berharap mengambil bagian dalam keadaan hidup Maria, Sang Perawan Suci.

 

Masa Adven yang sedang kita jalani sekarang ini merupakan suatu kesempatan istimewa  bagi kita untuk meretas kembali jalan pertobatan dan membangun kembali iman yang tergerus oleh zaman. Pertobatan dan pemulihan iman memberikan jaminan keterbukaan dan penyerahan diri pada rencana dan kehendak Tuhan atas diri kita. Kita diubah menjadi manusia baru dengan keadaan baru untuk menerima keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus yang kedatangan-Nya kita rayakan pada hari Natal.

 

Kehidupan Maria menginspirasi kita bahwa kita tidak saja berhenti menjadi orang dengan keadaan baru. Dalam keadaan baru itu kita mesti merasa terpanggil untuk menjadi tanda berkat dan kehidupan bagi orang lain. Kita menolong sesama kita untuk mengambil bagian dan mengalami secara nyata keibuan Maria secara rohani serta menikmati buahnya, hidup dalam kesuciaan dan keadaan selamat.

 

Marilah kita menjadi putra dan putri Maria dengan melakukan apa yang telah dilakukannya: hadir sebagai tanda berkat dan keselamatan.***Apol****

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar