Keja 3:9-15.20 & Luk 1:26-38
Hari
ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Gereja
meyakini bahwa sejak awal mula Maria berada dalam lindungan Tuhan dan dipenuhi
dengan rahmat Ilahi sehingga ia terbebaskan dari pengaruh ketercemaran yang
mendera umat manusia dan terhindar dari kehilangan kekudusan. Sepanjang
hidupnya Maria terhindar dari segala dosa. Ia tetaplah perawan yang suci dan
murni.
Penampakan
gadis cantik di Lourdes kepada Bernadette Soubirous pada tahun 1858 yang
memperkenalkan dirinya sebagai “Yang Dikandung Tanpa Noda” diyakini sebagai
Santa Perawan Maria dan meneguhkan apa yang acapkali oleh sensus fidei gelarkan kepada Maria sebagai “Sang Perawan Suci”.
Sebagai
suatu penghormatan khusus kepada Sang Perawan Suci maka Gereja merayakannya secara
khusus pada setiap tanggal 8 Desember. Penetapan tanggal perayaan itu
diresmikan oleh paus Siktus IV pada tahun 1476 dan digolongkan sebagai bagian
dari perayaan umum Gereja. Sebagaimana yang dinyatakan bahwa paus yang sama
menghindar dari keinginan untuk mendogmakan doktrin tentang Maria Yang
Dikandung Tanpa Noda, namun memberikan kebebasan kepada umat beriman untuk boleh
percaya atau tidak. Maksudnya supaya tidak ada risiko dituduh melawan ajaran
Gereja.
Doktrin
tentang Maria yang dikandung tanpa dosa baru ditetapkan sebagai dogma oleh paus
Pius IX melalui konstitusi apostoliknya, Ineffabilis Deus, pada tanggal
8 Desember 1854.
Penetapan
itu mengikuti alur penghayatan iman di dalam sejarah perjalanan dan kehidupan
Gereja. Mula-mula Gereja menerima apa yang diyakini sebagai suatu pengalaman
iman pribadi beriman (sensus fidei).
Pengalaman iman pribadi itu kemudian diterima dan dihayati bersama sebagai
suatu keyakinan komuniter (sensus
fidelium) dan pada akhirnya diterima sebagai kesepakatan bersama (consensus fidelium). Doktrin yang
ditetapkan menjadi dogma oleh paus Pius IX adalah bagian dari consensus fidelium.
Dengan
ditetapkanya menjadi pengajaran iman maka ia bersifat mengikat semua umat beriman
sejak penetapannya dan berlaku selamanya (lih. LG 25). Jadi, baik sekarang
maupun nanti umat beriman menerima sebagai suatu warisan iman yang bernilai
bahwa Maria sejak awal, pada waktu konsepsi dan sesudahnya tetap menjadi
pribadi yang murni tanpa ada noda dosa.
Seperti
yang disaksikan Kitab Suci bahwa keadaan unggul Maria di antara semua perempuan
(diberkati di antara segala perempuan) itu terjadi bukan karena sesuatu yang
telah Maria kerjakan dalam dirinya, melainkan karena kerja Allah. Allah telah memilih Maria dan
mengkhususkannya dari antara umat manusia untuk misi keselamatan-Nya. Keadaan
isitimewa itu dapat dijejaki pada apa yang dikatakan tentangnya sebagai orang
yang dikarunia dan Tuhan menyertainya (Luk 1:28). Ia penuh dengan rahmat Allah.
Jawaban
Maria terhadap kehendak Allah dalam kata-katanya: “Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, menunjukkan penyerahan
yang sempurna pada terjadinya kehendak Allah dengan keadaan diri yang
dikehendaki oleh Allah pula bahwa ia tetap menjadi Sang Perawan Suci. Ia adalah
ibu yang unik dengan anugerah keibuan yang secara fisik unik pula dan oleh
keunikan itulah ia menjadi ibu bagi semua yang hidup (Kej 3:20). Ia adalah Hawa
Baru yang mendatangkan kehidupan.
Karena
keibuan fisik itu unik maka tidak seorang pun dapat memiliknya. Meskipun
demikian, setiap umat beriman termasuk kita yang merayakan Hari Raya Santa
Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, dengan penuh iman akan misteri keselamatan
Allah dan rasa penghormatan yang dalam kepada keibuan fisik Maria, dapat
mengambil bagian dalam keibuannya secara rohani ketika dalam iman yang sama
seperti Maria kita memberikan jawaban yang sama: “Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.
Jawaban
itu membuka hati kita sepenuhnya pada rencana Allah yang mengubah keadaan
keberdosaan kita menjadi keadaan kudus dan terselamatkan. Meskipun kita berbeda
dari Maria oleh karena dosa, baik dosa pribadi maupun dosa turunkan Adam dan
Hawa, namun oleh peranan Maria sebagai ibu bagi semua yang hidup dan
keikutsertaan kita dalam imannya yang tanggap, maka kita pun boleh mengambil
bagian dalam keadaan suci dan keselamatan yang dimakhotai kepadanya.
Kenyataan
bahwa kita selalu terjebak dalam dosa dan acapkali membiarkan diri nyaman dalam
kedosaan maka harapan akan keadaan suci dan terselamatkan mengandaikan adanya
pertobatan. Ada kesadaran akan situasi keberdosaan dan gerakan pembaruan diri. Melalui
jalan ini, dalam kerja sama dengan rahmat Allah yang membimbing kepada
keselamatan, kita boleh berharap mengambil bagian dalam keadaan hidup Maria,
Sang Perawan Suci.
Masa
Adven yang sedang kita jalani sekarang ini merupakan suatu kesempatan istimewa bagi kita untuk meretas kembali jalan
pertobatan dan membangun kembali iman yang tergerus oleh zaman. Pertobatan dan
pemulihan iman memberikan jaminan keterbukaan dan penyerahan diri pada rencana
dan kehendak Tuhan atas diri kita. Kita diubah menjadi manusia baru dengan
keadaan baru untuk menerima keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus yang
kedatangan-Nya kita rayakan pada hari Natal.
Kehidupan
Maria menginspirasi kita bahwa kita tidak saja berhenti menjadi orang dengan
keadaan baru. Dalam keadaan baru itu kita mesti merasa terpanggil untuk menjadi
tanda berkat dan kehidupan bagi orang lain. Kita menolong sesama kita untuk
mengambil bagian dan mengalami secara nyata keibuan Maria secara rohani serta
menikmati buahnya, hidup dalam kesuciaan dan keadaan selamat.
Marilah
kita menjadi putra dan putri Maria dengan melakukan apa yang telah
dilakukannya: hadir sebagai tanda berkat dan keselamatan.***Apol****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar