Rabu, 15 September 2021

Dukacita Maria Menjadi Penuh Sukacita

Luk 2:33-35; Yoh 19;25-27

Hari ini tanggal 15 September, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Berdukacita. Perayaan ini sudah dimulai sejak abad kedua belas. Pada tahun 1814, untuk menghormati tujuh Dukacita Maria, Paus Pius X menetapkan tanggal 15 September sebagai hari bagi umat beriman merayakan pesta Santa Perawan Maria Berdukacita. Pesta santa Perawan Maria Berdukacita merupakan penghormatan terhadap kemartiran rohani Bunda Maria serta kebersamaan dalam penderitaannya bersama Putranya, Yesus Kristus. Maria menjadi Co-Redemptrix atau penebus penyerta karena berperan penting dalam membantu sejarah keselamatan bersama Yesus. Peran Maria sebagai penebus penyerta tentu tidak menggantikan peran Yesus sebagai Sang Penebus utama. Maria hadir sebagai mitra Allah untuk turut mengalami penderitaan yang dialami Yesus. Maria yang berdukacita sungguh menggambarkan dirinya sebagai seorang murid yang setia dan penuh keteladanan. Seorang murid yang tidak saja taat, tetapi secara total memasrahkan dirinya dalam penderitaan untuk mensukseskan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

 

Simeon melukiskan dukacita Maria dengan kata-kata: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Maria tentu saja bingung dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Simeon. Namun dalam ketidakpahamannya, Maria tetap bersikap setia dan taat pada segala rencana Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk 1:38). Sejalan dengan tradisi gereja, ada tujuh dukacita yang telah dialami Maria. Pertama, Pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Kedua, Kanak-Kanak Yesus yang hilang dan ditemukan di Bait Allah. Ketiga, nubuat Simeon. Keempat, Bunda Maria berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan-Nya ke bukit Kalvari. Kelima, Bunda Maria berdiri di dekat kayu Salib ketika Yesus disalibkan. Keenam, Bunda Maria memangku jenazah Yesus setelah diturunkan dari Salib. Dan ketujuh, Yesus dimakamkan. Tujuh dukacita Maria ini menegaskan ramalan Simeon tentang sebuah pedang yang menembus jiwa Maria.

 

Tujuh dukacita Bunda Maria erat terkait dengan Paskah Yesus Kristus sendiri. Semua dukacita Bunda Maria dilakukan karena ketaatannya kepada kehendak Tuhan. Bunda Maria menggambarkan dirinya sebagai abdi Tuhan. Seorang abdi yang memberikan dirinya secara total kepada Allah dengan menyertai Yesus Putera Allah. Bunda Maria senantiasa hadir sepanjang hidup Yesus. Sejak pertama kali menerima kabar sukacita hingga hari raya pentekosta, Bunda Maria selalu hadir. Hingga saat ini, Gereja sungguh merasakan kehadiran Bunda Maria. Kita semua selalu berdoa: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati”. Ketidaktaatan manusia kepada kehendak Allah,”ditebus”melalui ketaatan Maria kepada rencana Allah. Karena itu, para Bapa Gereja menyebut Maria sebagai Hawa baru. St. Hieronimus (347-420) mengatakan “Per Evam mors, per Maria vita”. Maut datang melalui Hawa, kehidupan datang melalui Maria. 

 

Keterlibatan Bunda Maria di dalam Gereja merupakan perintah dari Yesus Putranya. Penginjil Yohanes melaporkan bahwa ketika Yesus sedang bergantung di salib, berdirilah ibu Yesus, saudara ibu Yesus, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena. Pada saat menderita seperti ini Yesus memandang ibu-Nya dan menyerahkan murid yang dikasihi-Nya. Ia berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Ia juga berkata kepada murid yang dikasihi-Nya: “Inilah ibumu!” Dan dikatakan bahwa sejak saat itu, murid yang dikasihi Yesus menerima Maria di rumahnya. Kisah ini sangat  indah. Tuhan Yesus dalam suasana penderitaan sekalipun masih mempunyai kesempatan untuk menyerahkan Gereja-Nya kepada Maria ibu-Nya. Maria menerimanya dan menyertainya selama-lamanya. Dan Gereja menerima Maria sebagai ibu selama-lamanya. Maria hadir dan mendoakannya supaya selalu dekat dengan Puteranya. Bunda Maria Berdukacita, tetapi dukacitanya menjadi sukacita di dalam Gereja. Gereja tetap hidup karena Maria hadir sebagai ibu. Ibu yang menderita supaya Gereja bertahan dalam penderitaannya. Konsili Vatikan kedua dalam Konstitusi Dogmatis Gereja menulis: “Ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya, ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya”.

 

Semangat ketaatan dan kepasrahan Bunda Maria kepada kehendak Allah menginspirasi dan menjadi sumber keteladanan bagi kita umat beriman. Dalam setiap situasi, dimana dan kapan saja, hendaknya ketaatan kita kepada Allah tidak pernah luntur. Terutama dalam menghadapi setiap pengalaman penderitaan yang menguji iman kepada-Nya. Kita sebenarnya tidak mengharapkan adanya tantangan yang membawa keterpurukan dan penderitaan. Namun, tentu kita tidak akan pernah menolak apabila tantangan dan penderitaan itu datang menghampiri hidup kita. Sebenarnya tantangan dan penderitaan itu juga memiliki peran penting untuk semakin mengembangkan kepribadian dan mendewasakan hidup iman kita. Kita menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan matang. Di atas semua itu, kita semakin menyadari peran Tuhan dalam setiap pengalaman penderitaan. Tuhan sementara merancang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup di balik setiap pengalaman penderitaan yang kita alami.

 

Peringatan Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita sebenarnya mau mengingatkan pengalaman dukacita Bunda Maria yang membawa sukacita. Sukacita akan kebaikan dan keselamatan yang diterima oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh memaknai setiap pengalaman kehidupan dalam terang iman agar kita dapat menjadi seorang murid yang setia dan dapat membawa keteladanan bagi setiap orang yang ada di sekitar kita. Semoga. ***AKD***

Rabu, 08 September 2021

Belajar Dari Maria Dan Yusuf

Mat 1 :18-23

 

Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Figur seorang perempuan yang turut mengambil bagian aktif dalam proyek keselamatan Allah di muka bumi. Maria adalah mitra Allah yang menunjukkan perannya dengan mengandung dan melahirkan sang Juruselamat Yesus Kristus. Tidak hanya sampai di situ, Maria juga senantiasa menjaga dan mendampingi Yesus hingga kematian-Nya di kayu salib. Fokus peringatan hari kelahiran Santa Perawan Maria bukan soal angka sejarah. Karena memang secara faktual, tidak ditemukan secara pasti dan akurat mengenai waktu kelahiran dari Santa Perawan Maria. Tradisi peringatan pesta kelahiran Santa Perawan Maria sebelumnya sudah dilakukan oleh gereja dengan tradisi timur. Kemudian, gereja Katolik Roma (tradisi barat), mulai mengikuti tradisi demikan sampai dengan saat ini. Sehingga, yang mau ditonjolkan dari peringatan Pesta Kelahiran Santa Maria adalah soal peran pribadi Maria yang begitu vital dalam karya keselamatan Allah. Maria mau menyediakan tubuh biologisnya sebagai tempat bersemayam Sang Putera Fajar, Yesus Kristus.

 

Maria sedari awal memang sudah ditentukan oleh Allah sebagai sosok yang akan memainkan peran penting sebagai mitra Allah. Berawal dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menentukan Maria sebagai sosok Hawa baru yang akan menggantikan peran manusia hawa lama yang sudah tercemar oleh dosa. Karena Hawa, sang manusia pertama tidak mampu menjaga marwah atau martabat luhurnya sebagai makluk ciptaan Tuhan, maka Allah perlu mencari dan menentukan figur Hawa baru. Hawa baru inilah yang akan membantu Allah mempurifikasi atau menyucikan tubuh manusia dari dosa yang ditinggalkan oleh hawa lama. Hawa baru akan membantu umat manusia menemukan jalan kembali menuju keselamatan kepada Allah Bapa di Sorga. Dan sosok Hawa baru itu adalah Santa Perawan Maria.

 

Santa Maria memiliki pribadi yang sangat tulus. Sehingga ketika Allah datang mengampirinya melalui malaikat Gabriel, ia langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi ibu Yesus, walaupun dengan risiko yang besar bahwa nanti ia akan diadili dan dikucilkan oleh masyarakat. Maria sudah memikirkan risiko besar yang akan menimpa dirinya. Apalagi ia sudah memiliki sang kekasih bernama Yusuf. Tentu, risiko yang akan ditimbulkan menjadi berlipat karena ia diketahui mengandung di luar pernikahan yang sah. Namun, kasihnya kepada Allah sungguh dasyat. Ia rela mempertaruhkan hidupnya demi terwujudnya misi Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Di lain tempat, Yusuf, sang kekasih Maria, sudah mengetahui apa yang terjadi dalam diri Maria. Ternyata, ia juga memiliki hati yang tulus. Ia tidak mau mencemarkan nama baik Maria. Sehingga timbul niat dalam hatinya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Sebelum niatnya tercapai, malaikat Tuhan datang menghalanginya dengan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:20-21). Mendengar hal demikian, Yusuf langsung berubah pikiran untuk tidak mau menceraikan Maria. Yusuf semakin menguatkan hatinya untuk menjaga Maria. Terutama menjaga Sang Juru Selamat, yang akan segera lahir demi menyelamatkan umat manusia dari keterpurukan dosa.

 

Pada peringatan pesta Santa Perawan Maria hari ini, tidak hanya figur Maria yang menjadi pusat refleksi. Suaminya, Yusuf, ternyata juga memainkan peran yang tidak kalah pentingnya. Keduanya, bahu membahu dan sehati sejiwa mau bekerja sama dengan Allah mewujudkan karya keselamatan manusia melalui diri Yesus. Maria dan Yusuf adalah dua tokoh penting dalam gereja Katolik yang mengajarkan nilai ketulusan, ketaatan dan tanggung jawab. Tanpa peran keduanya, mungkin misi keselamatan itu tetap akan terlaksana karena Allah dengan otoritas ilahi-Nya bisa melakukan pelbagai cara. Namun kita tidak akan pernah belajar untuk mendapatkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh Maria dan Yusuf.

 

Maria dan Yusuf adalah simbol ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang sementara mengalami banyak pergeseran, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab menjadi nilai langka yang sulit ditemukan dalam kehidupan riil umat manusia. Yang jamak terjadi adalah sikap kemunafikan, ketidaktaatan dan lemahnya integritas pribadi. Dalam pelbagai ranah kehidupan, sering gampang terjadi gesekan dan konflik karena orang tidak lagi memedulikan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Masing-masing orang atau pihak lebih mempertahankan ego dan gengsi pribadi atau kelompok.

 

Dalam lingkup kerja, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab bisa menampilkan wajah ganda. Orang bisa berpura-pura tulus, taat, dan tanggung jawab hanya karena mengejar kepentingan tertentu. Misalnya jabatan, kuasa, dan harta. Orang tidak mau sungguh-sungguh bersikap tulus, taat, dan tanggung jawab apabila tidak ada kepentingan tertentu yang ada di dalamnya. Dalam lingkup keluarga, lingkungan, dan basis, ketidaktulusan, ketidaktaatan, dan keroposnya sikap tanggung jawab menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Nilai-nilai atau keutamaan hidup menjadi relatif. Masing-masing orang atau pihak dapat menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa peduli lagi pada standar nilai yang menjadi patokan kebenaran universal.

 

Hari ini Maria dan Yusuf mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab tidak hanya menjadi bagian dari tindakan moral yang membawa kebaikan bagi dunia. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab menjadi bagian inti dari sikap iman kita kepada Tuhan. Dengan melakukan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab, sebenarnya kta telah menjadi mitra Allah untuk membawa misi keselamatan Allah secara konkrit di tengah dunia. Amin. ***AKD***

 

Selasa, 17 Agustus 2021

Tuhan Memiliki Keadilan-Nya Sendiri

                                                                         Mat 20: 1-16a

 

Pada hakekatnya prinsip keadilan mengakomodir setiap orang untuk mendapatkan hak sesuai dengan kualifikasi atau persyaratan tertentu yang berlaku secara umum. Volume kerja, tingkat kesulitan, besar kecilnya tanggung jawab, durasi atau lamanya waktu kerja, menjadi hal-hal lazim yang sangat mempengaruhi porsi hak yang akan diterima setiap orang. Semakin besar volume kerja, tingkat kesulitan dan waktu yang butuhkan, maka semakin besar pula hak yang akan diterima. Begitu pun sebaliknya, sudah sewajarnya apabila hak yang diterima seseorang semakin kecil karena disesuaikan dengan volume kerja yang kecil, tingkat kesulitan yang tidak seberapa, dan waktu yang singkat. Menjadi sesuatu yang aneh apabila terjadi penyeragaman dalam penerimaan hak. Orang akan mengklaim terjadi ketidakadilan dan penindasan. Karena keadilan itu tidak sama dengan keseragaman. Dan keseragaman belum tentu memenuhi unsur keadilan yang diharapkan. Keadilan akan tercapai dalam hidup apabila setiap orang mendapat haknya secara proporsional.

 

Gambaran tentang keadilan bertolak belakang dengan kisah yang digambarkan oleh bacaan Injil pada hari ini (Mat 20:1-16a). Dalam perumpamaan-Nya tentang orang-orang upahan di kebun anggur, Yesus membeberkan cerita seorang tuan kebun anggur yang membagi hak sebesar satu dinar kepada orang-orang upahan yang bekerja dalam durasi waktu yang berbeda-beda. Ada yang bekerja penuh mulai dari pagi sampai sore. Ada yang bekerja setengah hari yakni dari siang sampai sore. Dan bahkan ada yang baru masuk sore hari. Praktis waktu kerjanya amat singkat. Jadi kalau kita mengamati terjadi penyeragaman hak yang dilakukan oleh tuan kebun anggur kepada para pekerja-Nya. Walaupun masing-masing orang bekerja dengan rentang waktu yang berbeda-beda, mereka semua mendapat hak yang sama sebesar satu dinar. Hal ini memicu persoalan karena orang-orang yang bekerja paling lama melakukan protes. Mereka tidak terima dan merasa diperlakukan tidak adil. Seharusnya mereka mendapat hak lebih banyak. Namun tuan kebun anggur mengklaim bahwa sudah terjadi kesepakatan di antara mereka untuk mendapat satu dinar, tanpa memperhitungkan aspek-aspek penting seperti volume kerja, tingkat kesulitan, dan durasi waktu. Tuan kebun anggur juga menegaskan bahwa ia memiliki otonomi untuk menentukan dan memberi hak sesuai dengan keinginannya.

 

Saya membayangkan akan terjadi chaos atau kekacauan besar pada masa sekarang, apabila ada majikan, pemilik modal atau pengusaha yang membayar hak para pekerjanya tidak sesuai dengan prinsip keadilan. Namun apa yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya hanyalah sebuah kisah simbolik yang mau mengungkapkan logika kerajaan sorga yang sebenarnya. Sang tuan kebun anggur adalah Allah yang sementara menunjukkan kemahakuasaan dan kemurahan hati-Nya kepada umat manusia. Ia datang dan menawarkan keselamatan kepada umat-Nya tanpa memperhitungkan seberapa besar jasa atau kebaikan yang telah diperbuat oleh manusia. Kisah perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur mengelaborasi (menjelaskan) kasih Allah yang sungguh besar dan otonomi atau kapasitas Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

 

Kasih Allah itu sungguh dasyat dan tidak terbantahkan. Jauh melampaui semangat kasih yang dimiliki oleh manusia. Allah tidak sedikit pun terpengaruh dengan pelbagai tipe manusia yang di atas dunia. Entah manusia itu baik atau jahat, tetap menjadi kewajiban bagi Allah untuk terus menawarkan keselamatan. Allah memiliki otonomi yang tidak bisa diintervensi oleh manusia. Bagi Allah, semua manusia memiliki hak dan derajat yang sama di mata-Nya. Tidak ada manusia yang merasa diri paling hebat dan benar di hadapan Tuhan. Tidak ada manusia yang mengklaim dirinya secara otomatis masuk sorga. Semuanya tergantung dari kewenangan Allah. Hanya Allah yang bisa menentukan keselamatan akhir bagi manusia. Dan hadiah keselamatan itu hanya dapat terjadi kalau manusia mau membuka diri dan bekerja pada kebun anggur-Nya. Hadiah keselamatan itu terjadi secara merata pada setiap manusia tanpa memperhitungkan seberapa lama ia menjadi orang beragama dan seberapa besar segala kebaikan yang telah ditanamkannya.

 

Era ini, banyak orang beragama yang merasa diri paling benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tidak jarang orang-orang ini mengutip ayat-ayat suci untuk mendukung pembenaran dirinya. Tetapi sungguh naif karena segala klaim atau pembenaran diri dilakukan untuk memenuhi atau mencapai target dan kepentingan yang berlaku secara duniawi. Ada indikasi atau fenomena yang menguatkan dugaan bahwa orang merasa paling benar dan suci karena ada kepentingan yang ingin digapai secara ekonomi, sosial dan politik. Lebih parah lagi, mereka selalu memandang remeh dan rendah orang lain. Di mulutnya hanya ada kata-kata nyinyir dan bully. Mereka selalu mempermasalahkan apa yang dibuat orang lain. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang, tidak selalu baik dan benar. Mereka menuntut orang harus mengikuti segala ajaran, kehendak dan keinginan mereka. Kalau tidak sejalan berarti orang dianggap sesat dan tidak mendapat tempat di sorga bersama Allah.

 

Mungkin sebagian dari kita juga seringkali merasa diri paling baik dan benar. Kita merasa bangga dengan identitas iman yang melekat. Kita juga merasa sudah banyak menyenangkan Tuhan dengan hal-hal baik yang telah dilakukan. Timbul kesombongan rohani dalam pribadi. Kita menganggap orang lain lebih rendah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diri kita. Dengan gampang kita menghakimi orang lain sebagai pendosa dan melabeli mereka sebagai calon penghuni neraka jahanam. Tidak berlebihan saya mengatakan demikian. Banyak realitas dan fakta yang menunjukkan demikian. Jamak terjadi kita lebih membanggakan prestasi, kebaikan, dan kesuksesan yang kita alami. Di sisi lain, kita sangat mudah untuk mengungkap kekurangan, masalah, dan aib yang dimiliki orang lain. Pernah saya mendengar kata-kata bijak dari seorang ibu. Ia mengatakan: “Kebenaran itu sejatinya hanya milik Tuhan. Di dunia manusia boleh merasa benar dan dibenarkan. Namun belum tentu di mata Tuhan. Karena Ia sungguh menyatakan kebenarannya dengan adil.”

 

Sepenggal kisah tentang orang-orang upahan di kebun anggur mau mengafirmasi dua hal. Pertama, kasih Allah yang tidak terbatas kepada manusia. Dengan kemahakuasaan-Nya Allah bebas menyatakan kasih dan menawarkan keselamatan kepada manusia. Kedua, sifat otonom Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Allah leluasa memberi keselamatan kepada manusia dengan tidak melakukan pembedaan. Pada prinsipnya semua manusia memiliki martabat yang sama di mata-Nya. Entah orang benar dan tidak benar, semua memiliki hak yang satu dan sama yakni mendapatkan keselamatan. Bisa saja orang yang berkoar-koar tentang kebenaran di dunia dan merasa diri paling pantas untuk mendapatkan keselamatan ternyata pada akhir, tidak mendapatkannya. Dan orang yang dianggap sesat, kotor dan jahat di dunia, sangat boleh jadi mendapatkan keselamatan itu dari Tuhan. Keadilan yang dimiliki Tuhan tentu tidak sama dengan keadilan yang dianut oleh manusia. Mari kita senantiasa membuka diri kepada-Nya agar kita tetap hidup dalam spirit dan tuntunan-Nya. Semoga kita tidak jatuh dalam dosa kesombongan yang dapat membawa kita kepada ketidakselamatan. Amin. ***AKD*** 

 

Selasa, 03 Agustus 2021

Beriman Dengan Sikap Rasional Yang Baik

 

Mat 15: 21-28

 

Berpikir rasional sama artinya dengan berpikir menurut pikiran dan pertimbangan yang logis dan sehat. Berpikir rasional membantu manusia untuk menganalisis sesuatu hal atau kejadian dengan baik sehingga apa yang menjadi keputusannya dapat berjalan secara baik pula. Misalnya, ketika melihat cuaca mendung, manusia langsung menangkap pesan bahwa akan segera turun hujan. Logika manusia akan bekerja dengan baik sehingga ia bisa mengambil keputusan dengan bijak, seperti mengambil pakaian di tempat jemuran, mengenakan mantel hujan kalau hendak bepergian, menutup pintu dan jendela rumah, dan sebagainya.

 

Berpikir rasional juga dibutuhkan dalam sikap iman kepada Tuhan. Berpikir rasional membentengi diri agar kita tidak memiliki iman secara buta. Contoh praksis iman secara buta misalnya, orang tidak mau bekerja dalam hidupnya. Ia hanya mengandalkan doa sepanjang waktu sambil berharap Tuhan menurunkan makanan dan minuman dari langit. Atau dalam masa pandemi Covid-19, orang lebih mementingkan sikap egonya dengan tidak menaati protokel kesehatan sehingga bisa membayakan diri dan sesamanya untuk terpapar virus Covid-19. Berpikir rasional atau logis dalam iman mendorong kaum beriman untuk mewujudnyatakan imannya secara baik dalam tindakan konkrit, karena ia memahami iman tanpa perbuatan adalah sesuatu yang non sense (tidak masuk akal).

 

Berpikir secara rasional sejatinya dapat menuntun seseorang untuk lebih mendewasakan karakter dan hidup pribadinya. Termasuk dalam mendewasakan sikap imannya kepada Tuhan. Ia lebih paham memahami konsep tentang Tuhan dan segala intervensi-Nya dalam hidup manusia. Orang yang memiliki logika yang tidak lurus dan tidak sehat, cenderung tidak mampu memahami campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Ia lebih berpikir skeptis atau tidak percaya. Apalagi kalau doa dan permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Pasti lebih menambah rasa skeptis dalam diri tentang adanya Tuhan.

 

Berpikir secara rasional haruslah membawa orang pada keutamaan dan kebijaksanaan hidup. Salah satu contoh orang yang hendak digambarkan di sini adalah seorang perempuan dari Kanaan. Menilik asal usulnya, ia berasal dari daerah yang anggota masyarakatnya tidak lagi memiliki darah Yahudi yang murni. Akibat perkawinan campur dengan bangsa asing, komunitas Yahudi di daerah Kanaan diberi label sebagai daerah orang kafir. Imbasnya, orang Kanaan dianggap tidak layak berbicara atau bergaul dengan sesama saudaranya dari Israel, yang tetap memiliki darah yahudi yang pure (asli).

 

Tetapi tidak bagi seorang perempuan Kanaan, yang berani mendatangi Yesus untuk meminta pertolongan karena anak perempuannya sedang dirasuki setan. Perjuangannya ternyata tidak berjalan mulus seperti diharapkan. Malahan ia harus menghadapi sikap apatis, hinaan, dan diskriminasi yang datang dari Yesus dan para murid-Nya. Kita dapat memaklumi karena Yesus dan para murid berasal dari kultur dan tradisi Yahudi yang kental. Sehingga mereka juga mengambil sikap sama seperti saudara sebangsanya. Mereka berbuat demikian untuk memaksa perempuan itu segera berlalu.

 

Namun ketahanan mental dan keyakinan perempuan itu tidak surut. Ia tetap bersikap sabar, rendah hati, dan tekun memohon bantuan dari Yesus. Yesus sungguh mengapresiasi sikap iman yang teguh dari perempuan Kanaan itu. “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Buah dari iman yang kokoh akhirnya melahirkan keselamatan dan kebaikan hidup bagi sang perempuan Kanaan. Seandainya, ia tidak memiliki iman yang kokoh, sudah pasti ia akan menyerah dan tidak mau mengikuti Yesus lagi. Mungkin saja, ia akan pulang dengan rasa kecewa dan marah yang besar karena sudah diperlakukan dengan tidak manusiawi.

 

Di sini dibutuhkan iman dan cara berpikir rasional yang matang. Perempuan Kanaan itu sudah mewujudkannya dengan sikap berani, sabar, tekun, dan rendah hati. Sikap iman yang kokoh harus dibarengi dengan sikap rasional yang kokoh pula, sehingga orang tidak terjebak dalam sikap iman yang buta dan dangkal. Sebuah sikap iman yang tidak berakar kuat. Karena orang hanya mendambakan kebaikan dan kemulusan hidup, namun tidak menginginkan tantangan dan kesulitan hidup. Tantangan dan kesulitan hidup ditafsir sebagai ketidakberpihakan Tuhan. Dan hanya kesuksesan, kemenangan, dan kebaikan hidup yang dilihat sebagai keberpihakan Tuhan.

 

Acapkali, kita juga menunjukkan sikap iman yang buta. Kita cepat merasa kecewa dan putus asa manakala permohonan kita tidak segera atau sama sekalih tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kita mengklaim Tuhan tidak adil. Atau mungkin juga kita mempertanyakan eksistensi-Nya, kemudian bersikap skeptis. Di tengah masa pandemi Covid-19, banyak orang beriman yang sudah menunjukkan sikap jenuh, marah, dan kecewa. Mereka tidak hanya marah kepada virus Covid-19, tetapi juga seolah-olah marah kepada Tuhan. Hidup orang beriman semakin jauh dari lingkaran Tuhan. Orang tidak mau berdoa di ruang-ruang privat sebagai dampak lanjut dari penutupan tempat ibadah untuk sementara waktu. Dan orang tidak memedulikan diri dan sesamanya dengan tidak menaati protokol kesehatan.

 

Beriman yang matang membutuhkan sikap rasional yang mumpuni. Dalam iman yang terpenting bukan soal intensi dan permonan. Ada nilai dan keutamaan yang menjadi prioritas yakni soal keberanian, ketabahan, ketekunan, dan kerendahan hati dalam menghadapi setiap tantangan, pergumulan, keterpurukan dan pergolakan hidup. Inilah yang dinamakan beriman dengan sikap rasional yang baik. Kita tidak gampang menyerah dan putus asa ketika Tuhan tidak mengabulkan doa dan permohonan. Ada kalanya Tuhan sementara mendidik kita untuk bersikap lebih sabar, berani, tekun, dan rendah hati.

 

St. Yohanes Maria Vianney yang pestanya kita peringati pada hari ini adalah figur orang kudus yang sabar, berani, tekun, dan rendah hati. Walaupun dicap sebagai orang yang paling bodoh secara akademis di masanya, ia tetap menunjukkan kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hikmat dan berkat Tuhan tidak diperolehnya dengan gampang. Ada banyak kesulitan dan pergumulan hidup yang harus dilaluinya. Mari kita beriman dengan sikap rasional yang baik untuk dapat memperoleh hikmat dan berkat Tuhan dalam hidup. Amin. ***AKD***

Minggu, 01 Agustus 2021

Memiliki Karakter Lebah Dalam Hidup

 

Mat 13:16-17

Lebah dan lalat adalah dua jenis binatang yang memiliki persamaan dan perbedaan. Kedua hewan ini sama-sama berasal dari golongan serangga yang memiliki sayap untuk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun ada perbedaan mendasar yang melingkupi keduanya. Lebah mencari sari bunga untuk menjadi sumber makanannya. Di mana pun tempatnya, entah di tempat yang bersih atau kotor, lebah akan selalu mendeteksi sari bunga untuk dihinggapi dan diisap sari madunya. Sedangkan lalat mendapatkan sumber makanan dari kotoran. Di mana pun tempatnya, sesuatu yang kotor dan berbau pasti disenangi oleh lalat. Dari deskripsi singkat mengenai lebah dan lalat ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa lebah lebih menyukai keindahan, keharuman dan kenikmatan. Sementara, lalat memiliki ketertarikan dengan segala sesuatu yang kotor dan berbau.

 

Lebah dan lalat menganalogikan dua sikap atau cara pandang manusia yang berbeda. Pertama, karakter lebah mewakili sikap atau cara pandang manusia yang positif. Di mana pun tempatnya dan apa pun situasinya, manusia yang memiliki karakter lebah, selalu melihat segala sesuatu dari cara pandang yang baik. Bahkan, dalam situasi yang sulit dan buruk sekali pun, ia tidak terpengaruh untuk berpikir negatif atau buruk. Ia selalu berpikir, merasakan, dan menganalisisnya dari cara pandang konstruktif. Tentu saja, dari hal yang buruk atau jahat selalu mengajarkan sesuatu yang bernilai baik dalam kehidupannya. Kedua, karakter lalat merepresentasikan sikap atau cara pandang manusia yang suka melihat segala sesuatu dari sudut yang negatif. Ia tidak pernah menemukan kebaikan atau hal yang positif yang terjadi dalam kehidupan. Walaupun realitas itu baik, selalu ada celah yang ia dapatkan untuk selalu berpikir tidak baik. Ia suka menaruh curiga dan prasangka terhadap orang lain. Ia tidak mau belajar dari pengalaman kehidupannya. Ia selalu merasa diri paling benar dan tidak menganggap orang lain yang ada di sekitarnya.

 

Media sosial kita kerap dibanjiri dengan dengan sikap nyinyir (cerewet), merendahkan dan bullying (menindas). Ada orang atau sekelompok orang yang suka memposting kata-kata berupa status dan komentar yang tidak baik tentang suatu realitas sosial atau menyangkut pribadi orang tertentu. Mereka cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif sehingga sangat gampang membuat klaim atau vonis yang buruk. Mirisnya, apa yang mereka sampaikan atau ungkapkan tidak berdasarkan basis data yang obyektif dan akurat. Tingkat pengetahuan atau pemahaman mereka tentang suatu hal mungkin masih minim atau sama sekalih tidak ada. Namun, apa yang mereka posting di media sosial seolah-olah sangat benar sehingga bisa mengundang simpati dan empati publik.

 

Tidak jarang, pelbagai status dan komentar demikian, memicu friksi atau keterbelahan di tengah situasi konkrit masyarakat. Muncul sikap pro dan kontra. Masyarakat terpecah dalam kubu-kubu tertentu. Nilai persatuan dan persaudaraan kita sebagai sesama manusia mengalami ancaman serius. Di tengah berbagai upaya pemerintah untuk menanggulangi badai pandemi Covid-19 misalnya, ternyata ada sikap atau perilaku dari kelompok orang tertentu untuk mulai mencari-cari kelemahan dan kesalahan pemerintah. Narasi sesat pun mulai dibangun untuk menurunkan pemerintahan yang sah. Contoh kasus ini, memberi gambaran bahwa orang sangat gampang menunjukkan karakter lalat dalam kehidupannya. Di sisi yang lain, terasa cukup sulit untuk membangun karakter lebah dalam pribadi seseorang.

 

Menarik kita menyimak kata-kata Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini (Mat 13:16-17). Dengan tegas Yesus berkata: “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat 13:16). Ada dua hal yang bisa kita telusuri dari pernyataan Yesus ini. Pertama, Yesus memberi apresiasi kepada para murid-Nya (termasuk juga orang lain yang hadir) yang telah mampu melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang baik dari Diri-Nya. Dari setiap sabda dan tindakan mukjizat Yesus, para murid menjadi percaya dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Karena telah melihat dan mendengar sesuatu yang baik dari Yesus, maka para murid mulai belajar untuk menjadi seorang pewarta yang baik. Mereka tidak menyebarkan hoax atau berita bohong melainkan berita nyata dan gembira yang mempresentasikan kehadiran kerajaan Allah di tengah dunia. Kedua, Yesus menyindir dan mengkritik perilaku orang-orang yang merasa diri paling hebat dan benar. Orang-orang ini tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan warta keselamatan ilahi yang dikumandangkan oleh Yesus. Hati dan pikiran mereka telah menjadi keras sehingga mulai muncul sikap nyinyir dan tidak menganggap Yesus. Malahan mereka mulai mencari-cari kesalahan untuk menjerat-Nya.

 

Sikap yang ditunjukkan oleh para murid dan orang yang percaya kepada Yesus adalah sikap atau perilaku orang yang mampu melihat dan berpikir positif dalam hidupnya. Dalam pribadi mereka ada karakter lebah karena mereka bisa berpikir dan merasakan segala kebaikan dan keharuman yang terjadi dalam hidup. Dan sumber kebaikan dan keharuman dalam hidup mereka adalah Yesus sendiri. Mereka belajar dari Yesus untuk menjadi pribadi yang baik dan benar. Pribadi yang selalu mengarahkan hati, pikiran dan tindakannya kepada Allah. Aktualisasi diri mereka adalah menjadi murid Yesus yang sejati dan militan. Seorang murid yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam kata-kata dan tindakan konkrit. Sebaliknya orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan kepada Yesus adalah orang-orang dengan karakter lalat. Mereka hanya melihat hal yang tidak baik dari Yesus, karena mereka merasa diri paling baik dan benar. 

 

Hari ini, saya dan anda terinspirasi untuk memiliki karakter lebah dalam hidup. Karakter yang suka akan kebaikan, keharuman dan keindahan hidup. Karakter yang bersumber dari Sang Guru Ilahi, yakni Yesus Kristus. Kita semua mau belajar tentang kebaikan hidup dari setiap peristiwa hidup yang kita alami. Baik itu peristiwa yang positif maupun yang negatif. Semoga kita dapat menarik hal yang baik terutama dalam setiap hal atau situasi yang pahit dan tidak mengenakan. Kita belajar menjadi pribadi yang matang dan bijak dalam kehidupan. Sehingga apa yang kita hasilkan dari dalam diri adalah hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Dan bukan sebaliknya membawa kita kepada kesesatan berpikir dan bertindak. Dengan demikian, apa yang kita lakukan adalah bagian penting dari cara kita menghidupi jati diri sebagai seorang murid Yesus yang sejati. Dalam semangat St. Yoakim dan Sta. Ana yang pestanya kita rayakan pada hari ini, mari kita selalu menjadi pribadi yang baik dengan menjadi mitra Allah dalam tugas dan karya kita di tengah dunia. Kita mampu membawa perubahan yang baik terutama dengan menyebarkan informasi dan motivasi yang baik dan benar kepada semua orang. Amin. ***AKD***

Rabu, 14 Juli 2021

Hakikat Kerendahan Hati

Mat 11:25-27

 

Arki Sudito dalam artikelnya, “4 Manfaat Kerendahan Hati”, (Kompas.com), menjelaskan kerendahan hati sebagai sikap atau perasaan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan khusus yang membuat dirinya lebih baik atau lebih unggul daripada orang lain. Sepintas kita memahami bahwa sikap kerendahan hati cenderung membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang memiliki kualitas yang negatif. Kualitas pribadi yang tidak memiliki kepercayaan diri dan mentalitas yang kokoh. Pada kenyataannya, sikap kerendahan hati memungkinkan manusia untuk selalu bersikap terbuka, menyadari keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, ia akan terus memotivasi dirinya untuk mau belajar dan berkembang dari waktu ke waktu.

 

Menurut Arki Sudito, ada empat manfaat dari sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh manusia. Pertama, dengan kerendahan hati, kita akan mampu memiliki pola pikir yang berkembang. Manusia dengan pola pikir yang berkembang akan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki dirinya. Ia akan terbuka menerima kritik dan masukan dari orang lain sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Kedua, memiliki kerendahan hati memungkinkan manusia untuk memberikan makna terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, baik peristiwa yang positif maupun negatif. Peristiwa positif yang dialami mengalirkan energi positif dalam diri manusia untuk terus berkembang.

 

Begitu pula dengan adanya pengalaman negatif, tidak serta merta melemahkan jati diri manusia. Melainkan menciptakan sikap sabar dan tidak cepat putus asa. Pengalaman negatif akan menginspirasi manusia untuk bangkit dan terus maju. Ketiga, memiliki kerendahan hati akan mendorong kreativitas kita dalam menjalani hidup. Kerendahan hati akan membuka begitu banyak kemungkinan dan pilihan dalam hidup. Saat inilah, kreativitas manusia akan terdorong untuk bekerja dengan lebih baik dan efektif. Keempat, kerendahan hati membantu kita untuk menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan memiliki kerendahan hati, seseorang dapat berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia hanya fokus memperhatikan dan mengembangkan dirinya sendiri demi menemukan dan mencapai tujuan dalam hidupnya yang sebenarnya.

 

Sikap kerendahan hati dimiliki secara penuh oleh para murid Yesus. Dalam bacaan Injil pada hari ini, secara implisit dalam ucapan syukur-Nya, Yesus memuji sikap kerendahan hati dari para rasul. Indikatornya jelas. Para murid Yesus tidak merasa diri paling hebat dan pintar. Mereka mau mengikuti Yesus dan menyerahkan diri secara total dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Mereka mau mendengar setiap sabda-Nya. Mereka melihat dengan jelas setiap aksi mukjizat-Nya. Dan yang lebih penting adalah para murid mau belajar untuk berkembang dalam kuasa ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Terminologi “orang kecil” yang diungkapkan oleh Yesus, bukan mau mengungkapkan kekecilan diri, kemiskinan dan ketidakberdayaan pribadi para murid. Frase orang kecil mengafirmasi sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh para rasul, karena mereka mau bersikap terbuka, mau belajar untuk menjadi lebih baik dalam bimbingan kuasa ilahi Allah.

 

Sebaliknya, sikap sombong atau arogan, sebagai lawan dari sikap rendah hati, dipertontonkan oleh para pemuka agama di masa Yesus. Mereka merasa diri lebih pintar dan hebat karena memiliki pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan orang lain. Keunggulan dalam bidang pengetahuan inilah yang membentuk pribadi mereka menjadi pribadi yang arogan dan anti kritik. Mereka selalu merasa diri benar dan mengklaim diri sebagai sumber kebenaran. Mereka tidak pernah merasa diri salah, dan selalu menolak untuk dikritik. Bahkan tidak segan-segan, mereka melawan para pengkritiknya dengan sikap represif. Termasuk yang dialami oleh Yesus. Yesus menjadi korban dari arogansi para elit agama, yang merasa diri paling pintar dan hebat.

 

Arogansi diri para elit agama di masa Yesus, menjadi cerminan dari sikap kita sebagai orang beragama di era ini. Kita acapkali merasa diri paling benar dalam setiap tutur kata dan tindakan. Walaupun apa yang kita sampaikan dan lakukan, belum tentu memiliki nilai kebenaran. Fatalnya, kita memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kita sampaikan atau lakukan. Kita juga merasa tersinggung, kecewa dan marah kalau ada orang tidak mau mengikuti apa yang telah kita buat. Kita lebih marah dan kecewa saat ada orang memberi kritik atau saran yang konstruktif demi perbaikan diri. Kita tidak bisa melakukan introspeksi diri atau otokritik karena yang tertanam dalam pribadi adalah sikap sombong dan merasa diri paling pintar atau hebat.

 

Hari ini kita mau belajar dari para murid untuk menjadi orang kecil. Kita bukan mau menjadi pribadi yang lemah, tertindas dan tidak berdaya. Kita mau menjadi pribadi yang rendah hati. Pribadi yang mau belajar dari setiap pengalaman. Terutama pengalaman tentang kegagalan dan keterpurukan hidup. Kita mau belajar untuk bangkit dan berkembang. Tidak mudah putus asa, memiliki kesabaran dan mentalitas diri yang tangguh. Kita mau belajar dari orang lain. Dan bukan menaruh iri hati terhadap mereka. Kita siap dikritik demi perbaikan dan pengembangan diri yang lebih baik. Di atas semua itu, kita dididik untuk memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita mau datang ke hadapan-Nya karena kita mau belajar menjadi pribadi yang kokoh dalam iman. Pribadi yang tidak mudah goyah dan putus asa dalam menghadapi badai pandemi Covid-19. Kita tetap memiliki optimisme diri karena kita yakin Tuhan sementara mendesain hidup yang lebih baik di balik terpaan badai Covid-19. Mari kita selalu menanamkan sikap rendah hati dalam hidup di tengah dunia. Amin. ***AKD***


Minggu, 04 Juli 2021

Menemukan Idola Hidup Yang Sesungguhnya

Mat 9:18-26

 

Setiap kita pasti mempunyai tokoh idola. Tokoh yang kita sukai, kita senangi, dan kita banggakan. Selain itu, tokoh idola dapat memberi inspirasi dan keteladanan yang baik dalam hidup kita. Banyak orang memiliki niat atau motivasi yang berbeda-beda dari tokoh idola yang dimiliki. Ada yang mungkin hanya sekedar melihat penampilan fisiknya. Ada yang mungkin mengagumi keunggulan intelektual dan cara berkomunikasi yang mumpuni dari sang tokoh idola. Dan ada yang mungkin merasa terpanggil untuk mengikuti cara hidup sang tokoh idola yang baik dan penuh keteladanan.

 

Yesus telah menjadi tokoh idola bagi orang. Banyak orang datang dari berbagai daerah dan mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi. Namun orang banyak mengikuti Yesus, mempunyai niat dan motivasi yang berbeda-beda pula. Ada yang datang karena merasa heran dengan aksi mukjizat yang telah dilakukan-Nya. Ada juga yang merasa kagum dengan kebijaksanaan dan cara berbicara-Nya yang luar biasa. Rasa penasaran telah mendorong mereka untuk terus mengikuti dan menikmati apa yang hendak dikatakan dan dilakukan-Nya.

 

Dari sekian banyak orang yang mengikuti Yesus, sangat jarang orang memiliki niat atau motivasi karena iman. Dalam bacaan hari ini (Mat 9:18-26), dibentangkan dua sikap orang yang memiliki iman yang kokoh kepada Yesus. Pertama, seorang kepala rumah ibadat yang baru saja kehilangan anak perempuannya karena meninggal dunia. Kedua, seorang perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun. Bagi kedua orang ini, tidak ada yang mustahil karena mengikuti Yesus dengan iman. Mereka percaya bahwa apa yang menjadi harapan dan cita-cita pasti akan terwujud dalam nama Yesus.

 

Kepada rumah ibadat sudah mengetahui bahwa anaknya telah meninggal dunia. Dan dapat dipastikan bahwa tidak ada peluang lagi bagi anaknya untuk hidup lagi. Ia juga seorang tokoh agama yang pasti mengetahui seluk beluk ajaran agamanya dengan sangat baik. Sehingga, ia tidak gampang terpengaruh dengan orang lain. Namun karena imannya yang kuat kepada Yesus, ia bertindak melampaui segala keyakinan pribadi dan prestise hidup yang dimiliki sebagai seorang tokoh agama. Berkat imannya kepada Yesus, anaknya menjadi hidup kembali.

 

Dan seorang perempuan yang telah mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun adalah seorang yang berani dan nekat. Ia tidak malu-malu mendekati Yesus dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Ia sangat percaya, aksinya itu akan mendatangkan keselamatan dalam hidupnya. Walaupun dilakukan secara diam-diam, pada akhirnya Yesus memuji aksi perempuan itu. “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Karena imannya kepada Yesus, ia pun dibebaskan dari sakit pendarahan.

Dewasa ini, banyak orang Katolik tidak lagi mengidolakan Yesus dalam hidupnya. Ruang-ruang hati mereka telah diisi oleh model atau gaya hidup baru yang lebih membawa kesenangan dan kenikmatan duniawi. Orang lebih mengidolakan uang dan materi lainnya. Dan orang lebih suka berperilaku hedonis. Gaya hidup yang memprioritaskan kesenangan dan kenikmatan. Dengan dua kecenderungan yang telah menjadi idola hidup, manusia semakin diseret untuk semakin menjauhi idola hidupnya yang paling benar yakni Yesus Kristus.

 

Dua idola hidup duniawi yakni materialisme dan hedonisme telah menginvasi hidup manusia, termasuk orang Katolik. Manusia dituntut untuk bekerja lebih keras demi mendapatkan materi. Bahkan seringkali dengan cara-cara kotor dan sesat seperti mencuri, merampok, dan korupsi. Pada akhirnya, semua materi ini pasti bersinggungan dengan gaya hidup hedonis. Manusia memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk pesta pora, mabuk-mabukkan, judi, dan kesenangan lainnya.

 

Badai Covid-19 yang masih melanda negeri dan wilayah kita menyiratkan pesan yang sangat mendalam. Pandemi Covid-19 sebenarnya sementara menguji dan menantang kadar keimanan kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk menepi dan berdiam dalam kesendirian untuk mencari Tuhan dan kembali membangun relasi pribadi yang lebih akrab dengan-Nya. Mungkin sebelum badai ini datang, kita lebih sibuk untuk mengejar materi dan berperilaku hedonis. Dan kita entah sengaja atau tidak melupakan Dia yang telah menjadikan kita di atas dunia ini. Ketika kita sudah berada dalam pusaran badai ini, kita diarahkan untuk kembali kepada idola hidup yang sejati yakni Allah dan Yesus Kristus.

 

Melihat realitas hidup yang terjadi belakangan ini, jujur harus kita akui bahwa masih banyak orang Katolik yang belum kembali kepada idola hidup mereka yang sebenarnya. Ketika diberi ruang untuk menyelenggarakan pesta iman (permandian, komuni suci, dan perkawinan), banyak orang Katolik yang merayakannya dengan mengundang banyak orang dan membuat resepsi yang besar. Tentu saja dengan anggaran yang tidak sedikit pula. Walaupun sudah dibatasi dengan aturan atau protocol kesehatan, tetapi ada saja celah yang dipakai oleh manusia untuk memuluskan apa yang menjadi harapan dan keinginannya. Dalam hal ini, manusia masih mengidolakan pola hidup materialistis dan hedonis sehingga tidak akan mudah melepas atau meninggalkannya.

 

Hari ini, sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk menemukan kembali idola hidup yang yang paling sejati yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Kita kembali kepada hakekat Dwitunggal oleh karena iman, dan bukan karena kepentingan yang lain. Kita mau membangun relasi yang lebih intim dengan Dia, karena kita yakin dalam iman, kita pasti mendapatkan kebaikan. Terutama dalam badai Covid-19, kita semua akan dikuatkan dan diberi keselamatan. Di atas semua itu, sebagai orang Katolik, kita akan semakin dicerahkan untuk berperilaku sebagai orang yang sungguh-sungguh Katolik. Kita mau meninggalkan idola hidup lama yang tidak benar, dan kembali kepada idola hidup kita yang paling hakiki. Amin. ***AKD***