Rabu, 30 Juni 2021

IMAN HARUS LAHIR DARI PERGUMULAN PRIBADI

MAT 16:13-19

 

Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan pesta St. Petrus dan Paulus Rasul. Sejak permulaan, Gereja merayakan Pesta Santo Petrus dan Paulus secara bersamaan karena keduanya merupakan tokoh penting dalam sejarah Gereja Katolik. Petrus adalah putra seorang nelayan dari kampung Betsaida di tepi danau Genasareth. Dia tidak berpendidikan karena pekerjaan pokoknya adalah nelayan, tetapi merupakan orang kepercayaan Yesus. Sementara itu, Paulus lahir di Tarsus dari keturunan Yahudi tetapi warga negara Romawi. Dia seorang terdidik dan belajar Kitab Suci pada Gamaliel. Sebagai seorang Farisi yang fanatik, dia selalu mengejar pengikut-pengikut Kristus dan menganiaya mereka. Dalam perjalanannya ke Damaskus, Yesus memanggilnya dan menjadi rasul bagi bangsa kafir. Baik Petrus maupun Paulus mengalami banyak sekali penderitaan, penganiayaan dan ancaman mati karena mengikuti Yesus Kristus. Keduanya mati sebagai martir karena iman akan Yesus Kristus. Pertanyaan reflektif bagi kita masing-masing: sejauhmana tanggapan imanku akan Yesus?

 

            Berbicara tentang arti sebuah kesetiaan, maka pada saat yang bersamaan kita wajib melakukan introspeksi diri terhadap pergumulan hidup iman kita secara pribadi. Mengapa? Karena iman itu bukan soal gosip atau apa kata orang dan iman pun tidak ada begitu saja meniadakan proses. Iman itu menyangkut hakekat hidup seseorang yang perlu dibangun dalam diri bukan berdasarkan cerita atau bahan gosip jalanan/murahan. Jika iman adalah hakikat hidup setiap orang maka jawaban iman itu harus lahir dari pergumulan hidup nyata kita.

            Injil yang baru saja kita dengar tadi dimana Yesus ingin mengetahui seberapa besar iman dan kepercayaan para murid-Nya kepada Dia sebagai Guru dan Tuhan. Maka Ia bertanya:”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Bagi Yesus, orang kebanyakan boleh saja berpendapat tentang siapakah Dia tetapi sebagai murid-Nya, Yesus ingin mengetahui seberapa jauh iman para murid tentang Dia. Pertanyaan Yesus ini penting agar kita sebagai murid-muridNya dapat mengukur kedalaman iman kita berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Gereja dan pergumulan pribadi dalam terang Sabda Tuhan. Iman memang mesti lahir dari pergumulan pribadi bukan berdasarkan “apa kata orang”. Para murid dituntut untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Yesus, “siapakah Aku ini?”. Jawaban para murid adalah ukuran kedalaman iman mereka akan Yesus. Kebersamaan hidup para murid dengan Yesus bukanlah jaminan pasti bahwa pengenalan dan pengakuan akan diri Yesus dapat diketahui dengan pasti. Untuk menggali informasi tentang diri-Nya, Yesus menggunakan metode deduktif dimana pertanyaannya bersifat umum-khusus. (apa kata orang pada umumnya tentang Dia dan apa kata para murid-Nya tentang keberadaannya). Terlihat jelas dari jawaban-jawaban mereka ketika Yesus bertanya: “Siapakah Putra Manusia itu menurut pendapat orang?” Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan   Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Jawaban-jawaban tersebut mau menunjukkan kegagalan mereka dalam memahami pribadi Yesus, mereka seolah orang baru yang belum pernah menyaksikan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Yesus seolah menggiring para murid-Nya untuk mengetahui kedalaman iman para murid. Dia mengingkan jawaban yang jujur dari kedalaman hati mereka, bukan kata orang tentang diri-Nya. Oleh karena itu, ia mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik kepada murid-Nya bukan untuk mencobai mereka tetapi untuk mengetahui sejauh mana iman mereka akan Dia.Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Terhadap pertanyaan ini, Simon Petrus oleh dorongan Roh Kudus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Putera Allah yang hidup!” Jawaban jitu dari seorang rasul yang tidak berpendidikan namun memiliki refleksi iman yang mendalam. Kepada Petrus, Yesus memberikan kunci Kerajaan Surga kepadanya. Ternyata orang yang dianggap bodoh dan sederhana, mampu mengetahui rahasia dan misteri kerajaan surga.

 

            Iman dan kepercayaan kita kepada Yesus adalah faktor terpenting yang dituntut dari seseorang yang telah dibaptis dan yang telah dikukuhkan menjadi anggota Gereja dan anak-anak Allah. Sabda Tuhan hari ini mesti meneguhkan iman kita untuk selalu memberi jawaban atas iman kita dalam kesaksian hidup yang benar bahwa “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup”. Petrus berdasarkan dorongan Roh Kudus memberi jawaban yang tepat tentang siapakah Yesus. Jawaban Petrus ini harus menjadi jawaban kita masing-masing dalam pergumulan hidup setiap hari bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Jawaban ini akan membantu kita dalam menampilkan kemuridan kita sebagai pembawa hidup bagi sesama yang membutuhkan uluran kasih, jamahan tangan dan kemurahan hati kita di saat sesama kita meminta pertolongan dan bantuan kita. Kesempatan hari ini adalah kesempatan emas yang tak akan terulang kedua kalinya bagi kita untuk menebarkan kasih dan berkat bagi sesama yang membutuhkan senyum dan ketulusan hati kita dalam menolong mereka teristimewa bagi mereka yang sakit, miskin dan yang terpinggirkan.

 

            Bertepatan dengan pesta St. Petrus dan Paulus yang kita rayakan hari ini menginspirasi hidup iman kita agar lebih militan dalam memberikan kesaksian hidup yang lebih nyata dan aktual. St. Petrus dan Paulus mati sebagai martir karena iman mereka akan Yesus. Pilihan hidup mereka dalam mengikuti Yesus jauh lebih ekstrim, namun kita sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati di jaman ini, kemartiran tidak selalu berarti mengorbankan nyawa karena iman akan Kristus. Kemartiran dalam perspektif yang lebih luas berarti mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi demi menghayati nilai-nilai Injili. Semoga berkat doa kedua rasul agung kita hari ini, memotivasi kita sekalian untuk mengikuti Yesus secara konsekuen tanpa paksaan dan tekanan dari pihak mana pun.***BW***

Selasa, 22 Juni 2021

Menjadi Pohon Yang Baik

                                                                            Mat 7:15-20

Salah satu fenomena yang sering terjadi dan akan terus terjadi di tengah kehidupan kita adalah semakin maraknya orang berpindah keyakinan atau agama. Memang menganut agama atau kepercayaan tertentu adalah sebuah hak asasi yang dasariah. Tidak dapat diganggu gugat. Termasuk di dalamnya, orang bebas memilih untuk berpindah dan memeluk agama dan kepercayaan sesuai dengan pilihan hatinya. Namun, dalam banyak kasus yang terjadi, ada orang Katolik yang berpindah keyakinannya karena ada kepentingan dan kompensasi yang didapatkan. Kalau misalnya, orang berpindah keyakinan karena alasan perkawinan, mau mengikuti keyakinan pasangannya, saya kira masih dalam taraf normal. Tidak ada masalah. Masih bisa diterima oleh akal sehat. Yang menjadi masalah dan tidak bisa diterima oleh publik adalah ketika orang mau berpindah keyakinan karena ada tawaran uang, materi, pekerjaan, jabatan, dan kemudahan atau fasilitas lain yang mentereng.

 

Dan kasus ini, walaupun masih sangat terselubung, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Paling sering terjadi. Ada segelintir orang atau kelompok yang berasal dari aliran keagamaan tertentu, yang getol mencari jemaat baru dengan cara-cara murahan dan sesat seperti ini. Mereka sangat jeli membaca situasi sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya, mereka membaca peluang ini. Dengan mudahnya mereka masuk dan memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan umat. Bantuan akan terus diberikan sehingga menyebabkan rasa simpati yang mendalam dari umat. Dalam situasi kebatinan umat seperti ini, orang-orang yang berasal dari kelompok atau aliran agama tertentu, mulai memainkan aksi mereka yang sebenarnya. Mereka menawarkan visi-misi aliran keagamaannya, dan mengajak umat lain untuk bergabung. Tanpa berpikir dua kali, umat kita pasti dengan senang hati mau bergabung. Yang ada dalam kepala umat adalah problem dan beban keluarga teratasi. Soal agama dan Tuhan, itu nomor dua. Toh, semua agama mengajarkan tentang Tuhan. Jadi sama saja, entah mau memeluk agama apa sesuai dengan selera, yang penting ia merasakan peningkatan dan kesejahteraan dalam hidupnya.

 

Ternyata jauh sebelumnya, Yesus sudah mewanti-wanti akan kedatangan para nabi palsu yang mengenakan jubah agama. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). Model para nabi palsu ini tidak jauh beda dengan nabi yang asli. Kelihatan seperti asli, tetapi sesungguhnya tidak asli. Pernak-pernik dan atribut keagamaan yang dikenakan hanya sebatas tampilan. Tawaran kebaikan dan kenikmatan juga hanya sebagai modus untuk memuluskan tujuan yang ingin digapai. Mereka hadir di momen yang tepat. Di saat umat terlena akan pesona kebaikan dan tampilan fisik religius yang dimiliki. Melalui para pemimpin agama kala itulah, secara samar Yesus memberikan contoh, bagaimana mereka memperlakukan umat hanya demi meraup keuntungan secara pribadi dan kelompok. Umat hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk menaikan citra diri, mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dan mendongkrak posisi tawar mereka secara politis di mata bangsa penjajah, Romawi.

 

Nabi-nabi palsu tersebut akan tetap hadir sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Walaupun mereka hadir di zaman yang berbeda dengan aneka modus, tetapi niat atau urgensinya tetap sama. Salah satu contohnya seperti yang digambarkan pada bagian awal di atas. Ada target untuk menambah atau menaikan populasi jemaat dengan cara-cara yang tidak fair. Mereka mengabaikan nilai yang paling utama yakni soal kemurnian dan panggilan hati untuk menjawab bisikan ilahi Tuhan. Secara social dan ekonomi, mereka juga mendapatkan keuntungan. Mereka akan dikenal sebagai tokoh hebat minimal secara internal di dalam kelompok atau aliran mereka. Apresiasi terhadap kerja keras dan nyata juga pasti mereka dapatkan dalam bentuk uang dan materi yang lain.

 

Contoh lain yang bisa diangkat adalah munculnya para “nabi” dadakan pada musim politik. Baik musim pilpres untuk memilih presiden maupun pilkada untuk memilih gubernur, walikota, dan bupati. Mereka adalah para politisi yang menampilkan diri seperti para nabi. Ada banyak orang baik dan suci yang mendatangi masyarakat secara pribadi dan kelompok untuk menawarkan kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan hidup secara cuma-cuma. Mereka juga hadir dengan tangan tidak hampa. Ada banyak uang dan materi yang dibagi-bagikan demi mendapat simpati dan pilihan pada saat hari “H”. Sayang seribu sayang, ketika sudah memimpin atau berada pada posisi yang diingikannnya, ada kecenderungan yang sangat kuat untuk tidak lagi mendengarkan, memperhatikan, dan mewujudnyatakan apa yanga sudah dicanangkan untuk membawa perbaikan dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat. Orang-orang model ini, yang dikategorikan Yesus sebagai nabi-nabi palsu yang harus dihindari.

 

Yesus mengajarkan supaya kita harus menjadi pohon yang baik. Pohon yang baik bersumber dari pokok atau akar yang baik pula. Pohon yang baik bertumpu dan mengais sumber makanan yang bergizi dari pokok atau akar. Dan sang pokok yang menjadi sumber kehidupan kita adalah Tuhan sendiri. Tidak ada pokok lain yang kuat dan hebat seperti Dia. Dari Tuhanlah, kita menimba sumber energi yang menghidupkan dan menyegarkan agar bisa menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan. Contoh-contoh buah yang baik adalah kita mampu menolak segala tawaran yang menggiurkan untuk dapat berpindah kepada keyakinan atau kepercayaan tertentu yang sangat asing dalam pemahaman kita. Kita tidak boleh menggadaikan Tuhan yang kita imani seperti Yudas yang lebih mencintai uang dan barang. Kita juga mampu bersikap kritis terhadap orang-orang yang belum teruji dan terbukti baik rekam jejaknya. Orang-orang ini biasanya sangat suka menghamburkan materi dan berpura-pura baik untuk mendapatkan keuntungan secara social dan politik.

 

Kita bisa menjadi pohon yang baik dengan cara semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dalam doa dan mendengarkan firman-Nya. Dengan cara demikian, kita akan menghasilkan buah yang baik dalam setiap napas kehidupan. Kita tidak hanya memiliki iman yang kokoh kepada Tuhan. Kita juga mampu mendaratkan iman itu dalam setiap pengalaman, tugas, dan pengabdian dengan menjadi orang Katolik yang sungguh-sungguh Katolik. ***AKD***


Selasa, 08 Juni 2021

Spirit Kasih Yesus Dalam Hidup

                                                                    Mat 5: 17-19

 

Santa Teresa pernah berkata, “Kasih sejati tidak pernah menuntut, tetapi ia hanya dapat memberi”. Bagi Santa Teresa, ungkapan ini bukan sekedar kata-kata simbolik. Tetapi sungguh ia hidupi dalam karya pelayanannya sebagai seorang biarawati di kota Kalkuta, India. Sudah begitu banyak orang kecil dan orang sakit yang merasakan sentuhan kasih dari Santa Teresa selama hidupnya. Tanpa memandang latar dan status, Santa Teresa membagikan kasihnya kepada semua orang. Bagi Santa Teresa, semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus dikasihi. Karena kasih itu berasal dari Allah yang kita terima secara gratis, maka sejatinya semangat kasih itu harus dibagikan secara gratis dan tulus kepada semua makhluk. Spirit kasih itu lebih dari sekedar seperangkat peraturan atau tuntutan moral yang berlaku di tengah masyarakat. Ia harus keluar dari kejernihan dan kedalaman jiwa untuk memberi, dan tanpa mengharapkan balasan.

 

Kecaman Yesus kepada para elit agama yang menaruh prasangka kepada Diri-Nya hendak membuktikan bahwa Yesus tidak datang untuk mengurangi, apalagi mau meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus tidak hanya mau menggenapi apa yang tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi. Lebih dari itu, Yesus hendak memberi spirit kasih di dalam kitab-kitab itu. Spirit kasih menjadi substansi utama yang tidak boleh dianggap remeh dan dilupakan begitu saja. Dan disinilah letak persoalannya sehingga menimbulkan friksi dan konflik antara Yesus dan para pemimpin agama.

 

Sudah lama, bahkan jauh sebelum Yesus lahir, para elit agama kala itu begitu leluasa dan bebas memperlakukan hukum agama sebagai topeng memuluskan pelbagai kepentingan dan nafsu sesat mereka. Hukum agama bukan lagi didasari oleh semangat kasih. Hukum agama berdiri hanya sebagai seperangkat aturan yang kaku dan formal. Pelbagai aturan yang tertulis di dalamnya dipakai oleh para elit agama untuk memberi tekanan, tuntutan dan beban. Acapkali mereka berkoar-koar tentang hukum Taurat yang wajib ditaati oleh umat, namun mereka sendiri tidak pernah melakukannya. Banyak terjadi adalah hukum Taurat digunakan sebagai tameng untuk pembenaran diri. Dan lebih fatal lagi, dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi dan sosial. Para pemimpin agama lebih sibuk mengumpulkan pundi-pundi materi dan mencari prestise pribadi. Mereka telah melupakan atau bersikap apatis terhadap satu nilai yang lebih utama dalam hukum Taurat yakni nilai kasih.

 

Melihat realitas yang naif ini, Yesus tidak tinggal diam. Dengan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya, Ia menentang dan mengecam keras perilaku para pemimpin agama yang memperlakukan hukum Taurat tidak sesuai dengan kebenaran utama yang tertulis di dalamnya. Sungguh tidak masuk akal dan tidak adil apabila hukum Taurat itu bekerja tanpa roh yang menghidupinya. Justru yang terjadi adalah ia akan kehilangan arah dan menindas banyak orang. Oleh karena itu, dengan melawan arus, Yesus dengan sangat gigih membongkar sistem yang mapan dan mental feodal yang dimiliki oleh para pemimpin agama. Yesus mau supaya hukum Taurat dikembalikan kepada porsinya yang benar. Hukum Taurat harus dilandasi oleh spirit kasih yang membebaskan sehingga sungguh membawa kedamaian, keadilan, dan keselamatan dalam hidup umat. Terutama bagi mereka yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil. Orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh para pemimpinnya.

 

Spirit kasih dalam hidup yang digaungkan oleh Yesus, ternyata masih dihidupi oleh sebagian besar orang beriman di masa kini. Lihat saja, di tengah situasi sulit yang dihadapi oleh sesama saudara yang terkena dampak bencana alam di wilayah kita, ada begitu banyak bantuan yang datang. Entah itu secara pribadi maupun kelompok, mereka dengan tulus memberi sesuatu dari kepunyaannya untuk membantu sesama saudara yang sementara mengalami kesusahan dan penderitaan. Saya berkeyakinan bahwa, mereka yang memberikan donasi dalam wujud apa pun, tidak memiliki kepentingan apa pun, selain kepentingan untuk meringankan duka dan nestapa yang sementara dihadapi para korban. Kita semua menyaksikan dengan terang benderang, ada banyak saudara/i kita yang sungguh mengalami sentuhan kasih. Walaupun memang masih ada kekurangan dan kelemahan yang mestinya dievaluasi dan diperbaiki agar perhatian dan bantuan itu betul-betul merata dan sesuai dengan prinsip keadilan.

 

Gugatan Yesus akan perilaku para pemimpin agama yang meniadakan spirit kasih dalam hukum Taurat menjadi gugatan bagi diri kita masing-masing. Bagaimana posisi kita secara individu memahami spirit kasih Yesus dan mengimplementasikannya dalam hidup di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan di tempat kerja. Mungkin semua dari kita sudah memahami apa itu spirit kasih yang telah diwartakan oleh Yesus. Tetapi, masih banyak dari kita yang belum sungguh-sungguh menghidupi nilai kasih dalam hidup sehari-hari. Kita memang seringkali sudah mempraktekkan berbagai wujud kasih, namun belum dilandasi oleh spirit kasih Yesus yang sejati. Masih ada banyak pertimbangan untung ruginya. Banyak kalkulasi baik secara ekonomi, sosial, maupun politik turut berperan di dalamnya. Inilah tantangan-tantangan yang menghambat kita untuk mewujudnyatakan spirit kasih Yesus yang sejati dalam hidup.

 

Hari ini Yesus mencerahkan dan mengarahkan pribadi kita agar mau menghidupi spirit kasih yang sejati itu secara sungguh-sungguh dalam hidup. Kita perlu membebaskan diri dari pelbagai tantangan dan hambatan yang membatasi kita untuk memberi dan membagikan kasih yang sejati bagi mereka yang berkekurangan dan menderita. Tantangan dan hambatan yang terbesar itu sebenarnya muncul dari dalam diri sendiri seperti rasa gengsi, pemberian dengan syarat tertentu, dan pertimbangan secara matematis yang bisa menguntungkan kita secara ekonomi, sosial, dan politik. Mari kita menyadari diri pada hari ini untuk membumikan spirit kasih sejati dari Yesus bagi siapa saja, terutama bagi sesama yang sementara sakit. Karena “siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:19). Amin. ***AKD***

Minggu, 30 Mei 2021

Sukacita Tuhan Yang Harus Dibagikan

 

Luk 1:39-56

 

Semua kita pasti pernah atau seringkali mengalami pengalaman sukacita. Latar pengalaman sukacita itu beranekaragam. Ketika kita mengalami kesuksesan dalam pekerjaan, kesuksesan dalam usaha tertentu, kesuksesan dalam pendidikan anak-anak, dan kesuksesan dalam hal lainnya, kita pasti merasa sangat bersukacita. Satu kecenderungan yang tidak bisa kita elakkan ketika mengalami perasaan sukacita adalah kita suka berbagi atau menceritakan pengalaman itu kepada orang lain. Kita menghendaki orang lain juga mengetahui dan turut merasakan apa yang kita rasakan. Kita ingin orang lain memberi apresiasi. Hanya sekedar ucapan selamat saja, semakin membuat sukacita kita bertambah. Dan tentu saja semakin memotivasi kita untuk terus berusaha dan berprestasi dalam hidup.

 

Rasa sukacita dialami juga oleh dua orang perempuan luar biasa dalam bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56). Mereka berdua adalah Maria dan Elisabet. Maria bersukacita karena mendapat kabar gembira dari malaikat Gabriel untuk mengandung Sang Penyelamat umat manusia, Yesus Kristus. Dalam keperawanan dan kesuciannya sebagai seorang perempuan, Maria bersukacita atas amanat mulia yang diterimanya dari Tuhan melalui malaikat Gabriel. Sedangkan Elisabet bersukacita karena dalam usia tuanya, ia mendapat berkat dari Tuhan untuk segera mendapatkan seorang anak laki-laki. Ternyata usia yang senja, tidak membatasi Elisabet untuk mencapai apa yang menjadi harapan utama sepanjang hidupnya yakni memiliki seorang anak.

 

Suasana sukacita sungguh menyelimuti hati Maria. Kesukacitaan hatinya berlipat ganda ketika mengetahui bahwa Elisabet saudarinya, juga sedang mengandung seorang anak laki-laki. Dan usia kandungannya sudah memasuki bulan yang keenam (Luk 1:36). Oleh karena itu, Maria segera mempersiapkan diri dan bergegas mengunjungi saudarinya tersebut. Ia ingin membagikan sukacitanya sekaligus mengucapkan selamat berbahagia kepada Elisabet. Ternyata Elisabet sungguh mendapat berkat dengan kunjungan Maria. Ketika mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (Luk 1:41).

 

Efek dari pengaruh Roh Kudus ini pula yang mendorong Elisabet untuk memuji dan memberi apresiasi khusus kepada Maria. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Elisabet sangat bersukacita bukan hanya karena pengalaman rohani yang dialaminya. Tetapi juga, ia merasa bahwa Maria adalah perempuan yang sengaja diutus Tuhan untuk datang mengunjungi dirinya. Maria adalah perempuan spesial dengan buah rahim yang diberkati secara khusus pula oleh Tuhan. Elisabet sepertinya sudah membayangkan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak luar biasa. Seorang anak yang bukan sekedar anak biasa. Seorang anak yang dikhususkan oleh Tuhan bagi dunia.

 

Maria pun mengungkapkan sukacitanya ketika mendengar segala hal yang dikatakan oleh Elisabet. Sukacita Maria ini diekspresikan dalam sebuah magnifikat (doa Pujian). Isi magnifikat Maria berupa ungkapan syukur atas kuasa dan penyelenggaraan Allah kepada umat-Nya. Allah selalu menjaga, memperhatikan, dan memberikan segala berkat-Nya kepada umat yang menaru iman kepada-Nya. Terutama berkat yang didapat secara khusus oleh Maria – dan bukan perempuan lainnya - untuk memainkan peran sebagai mitra Allah dengan mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Penyelamat umat manusia. Maria pantas mendapat karunia khusus dari Allah oleh karena imannya yang teguh kepada Allah. Dan Maria sudah sewajarnya merasa bersukacita atas pengalaman rohani yang dialaminya.

 

Pertemuan dua saudari (Maria dan Elisabet) dalam nama Tuhan bukan sekedar silaturahmi biasa. Mereka berjumpah untuk saling berbagi sukacita atas karunia Tuhan yang menyelimuti diri mereka. Sukacita yang dibagikan menjadi daya dorong untuk tetap mengingatkan dan menguatkan iman mereka akan Tuhan. Sukacita yang dibagikan di antara mereka tidak tinggal diam. Karena sukacita itu akan berubah menjadi energi yang dasyat bagi mereka untuk berperan sebagai mitra Allah. Elisabet akan menjaga, memelihara, dan membimbing Yohanes Pembaptis menjadi seorang nabi besar yang akan mempersiapkan jalan bagi seorang penyelamat dunia, yakni Yesus. Sementara Maria akan menjaga, membimbing, dan mengarahkan Yesus menjadi seorang utusan Tuhan yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Maria juga akan berjalan bersama-sama dengan Yesus, Putera-Nya, tidak hanya dalam pengalaman sukacita, tetapi juga pengalaman dukacita menuju bukit Kalvari.

 

Pengalaman sukacita Maria dan Elisabet mengingatkan kita akan pengalaman sukacita yang kita alami di dunia ini. Bahwa pengalaman sukacita yang kita alami tidak hadir dengan sendirinya. Atau ia hadir bukan karena usaha semata dari diri kita sendiri. Ada intervensi atau campur tangan Tuhan yang menyertai pelbagai pengalaman sukacita yang kita alami. Pengalaman sukacita sebenarnya menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam hidup dan pengalaman kita sehari-hari. Semoga pengalaman sukacita itu semakin menguatkan iman kita akan Tuhan. Dan bukan sebaliknya menyebabkan krisis dalam iman kita kepada-Nya. Karena acapkali banyak orang cenderung melupakan Tuhan ketika mengalami berbagai pengalaman sukacita dalam hidupnya.

 

Pengalaman sukacita tidak saja menguatkan iman kita akan Tuhan seperti yang dialami Maria dan Elisabet. Namun semakin memotivasi kita untuk bersaksi akan sukacita Tuhan yang kita alami. Sukacita Tuhan dalam diri harus kita bagikan agar orang lain juga merasa bersukacita dan dikuatkan dalam iman. Kita akan tampil di mana saja kita berada untuk membawa suasana penuh persaudaraan, kasih dan damai. Karena hanya dengan demikian, sukacita Tuhan akan bertumbuh dan berkembang. Mari kita menjadi mitra Allah dengan membagi sukacita Tuhan dalam hidup kepada sesama kita. Amin. ***AKD***

Senin, 17 Mei 2021

KEKUATAN DOA MENEGUHKAN IMAN KITA

KIS 20:17-27; YOH 17:1-11a

 

            Perkembangan zaman saat ini semakin canggih, maju dan modern, dimana nilai-nilai universal yang mengatur hidup bersama dan menjaga martabat hidup manusia dan lingkungannya serasa dijungkirbalikan, bahkan nilai-nilai kebajikan hidup kristiani semakin tidak nampak dan diabaikan sehingga kita serasa kehilangan orientasi hidup. Hal yang kita rasakan sekarang bahwa zaman ini menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi dan kenikmatan duniawi lainnya. Sebagai murid-murid Kristus kita diharuskan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap orientasi hidup, pelayanan dan kesaksian hidup nyata kita. Untuk meningkatkan hidup iman dan kesetiaan kita kepada Allah, bacaan suci hari ini menampilkan dua tokoh inspiratif yang menginspirasi kita untuk selalu mempersembahkan seluruh hidup dan pelayanan kita kepada Allah. dua tokoh inspiratif itu yakni Yesus dan St. Paulus.

            Kita bisa belajar dari kesetiaan dan ketekunan St. Paulus yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, dimana Paulus memiliki konsep pelayanan yang amat jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pewarta Injil, meskipun itu berarti ia akan berhadapan dengan penolakan, penderitaan dan kematian sekalipun. Dalam misi pewartaannya, ia tidak hanya ingin menyenangkan teling pendengarnya, namun tujuannya selalu jelas supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Itulah sebabnya, ia memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Untuk merebut hati umat yang dilayaninya, Ia selalu tekun dalam doa dan pengajaran. Ia bahkan berani berkata bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang, baik yang diselamatkan maupun yang akan binasa. Paulus sangat berorientasi pada tujuan akhir, yaitu menyelesaikan tugas perutusan yang dipercayakan Yesus Kristus kepadanya. Paulus dalam setiap pelayanannya tidak sedikit pun bermaksud mencari popularitas diri, kedudukan, pengakuan atau pun mencari kekayaan. Namun, motivasi Paulus adalah untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah dan bukan oleh ambisi pribadinya. Paulus memusatkan hidupnya pada Kristus agar Yesus Kristus semakin dimuliakan dan dikenal oleh banyak orang. Sikap hidup Paulus ini menjadi panutan bagi kita semua, meskipun kita bukan biarawan/biarawati, katekis, guru agama atau agen-agen pastoral lainnya, tetapi hidup kita harus berpusatkan pada Kristus, kiranya menjadi kerinduan kita semua. Tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi saksi Kristus kita akan mengalami sekian banyak tantangan dan resiko, namun Paulus telah membuka jalan dan telah membangkitkan semangat kita semua untuk tetap bertahan dalam iman akan Yesus Kristus.

             Injil hari ini menggambarkan satu teladan istimewa yang dipraktekkan oleh Yesus yakni mendoakan dan menyerahkan murid-muridNya kepada Allah Bapa-Nya agar mereka tetap bersatu. Doa Yesus ini dianggap doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Allah Bapa melalui hidup dan karya-Nya di dunia, namun saat kematian-Nya telah tiba. Bila sebelumnya Yesus telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

            Ada dua pokok doa syafat Yesus kepada Bapa-Nya yang disampaikan oleh penginjil Yohanes hari ini. Pertama, di dalam permulaan doa-Nya Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa Yesus sangat egois, karena sesungguhnya Ia menunjukkan semua itu bagi kemuliaan Bapa-Nya. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (Yoh 17:2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan dosa umat manusia. Melalui karya salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal, dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus sendiri. Di sini kita dapat melihat keakraban Yesus dengan Allah Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa sekarang untuk ikut ambil bagian menikmati keakraban dengan Allah Bapa. Sebab itu, kita harus memanfaatkan setiap waktu kita untuk membangun relasi komunikasi dengan Allah untuk menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya. Namun yang perlu kita perhatikan bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita semakin menghormati Dia sebagai sumber dan asal tujuan hidup kita.

            Kedua adalah permohonan untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memlihara para murid karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa. Yesus menghendaki agar para murid hidup dalam persatuan dan setia mewartakan sabda Tuhan. Dalam doa-Nya, Yesus memberitahukan nama Allah kepada murid-murid-Nya, artinya para murid dapat mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan semua itu melalui hidup, karya pewartaan dan salib-Nya. Para murid percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya ke dunia untuk melaksanakan misi keselamatan bagi mereka. Yesus telah memelihara para murid-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa. Sekarang Yesus akan kembali kepada Bapa, tetapi murid-murid dan mereka yang percaya kepada-Nya masih tinggal di dunia untuk meneruskan misi pewartaan-Nya. Karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk menganugerahkan rahmat pemeliharaan atas para murid-Nya.

            Dalam doa-Nya, Yesus ingin agar mereka semua terjamin pasti dalam hubungan persatuan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh dengan sukacita dan mereka dapat disiapkan untuk meneruskan misi pewartaan Yesus bagi dunia. Doa Yesus ini, membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi semua orang beriman yang percaya kepada-Nya.

            Paulus telah merintis jalan pewartaan dengan kelemah-lembutan untuk memenangkan hati musuh-musuhnya. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem dalam misi pewartaan untuk memperkenalkan Yesus, ia menasihati dan mendorong para penatua  di Efesus untuk menjaga dan mengembangkan iman umat agar mereka senantiasa setia dan waspada terhadap pengaruh orang-orang Yahudi dan Yunani yang anti Kristus. Sedangkan Yesus mendoakan murid-murid-Nya untuk tetap hidup dalam persekutuan kasih dan setia mewartakan kasih Allah di dunia. Dua tokoh inspiratif ini menginspirasi kita agar kita setia dalam panggilan hidup kita masing-masing seraya terus bersaksi mengemban misi keselamatan yang dipercayakan Yesus kepada kita semua oleh karena pembaptisan yang telah memeterai kita. Kehidupan doa yang teratur meneguhkan hidup iman kita dalam persekutuan bersama Allah sehingga kita menjadi saksi dan pewarta sabda kasih Allah yang membawa semua orang ke jalan pertobatan.

            Doa Yesus hari ini tidak saja diperuntukan bagi para murid-Nya melainkan juga Ia menunjukkan perhatian dan kepedulian-Nya bagi kita semua umat beriman yang percaya kepada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pewarta Injil-Nya bagi dunia, maka kita membutuhkan penyertaan dan perlindungan dari Allah Bapa.  Karena itu, aspek yang dibutuhkan dalam membangun relasi komunikasi yang harmonis dengan Allah adalah melalui doa. Doa harus kita hidupi dari waktu ke waktu karena doa pada dirinya memiliki kekuatan dahsyat untuk membantu kita keluar dari tantangan hidup yang kita hadapi. Mestinya kita selalu bangga karena Yesus andalan kita selalu mendoakan dan menyertai kita. Maka kita akan menikmati keselamatannya ketika kita selalu hidup di dalam-Nya karena kita adalah milik-Nya (Yoh 17:9-11). Hidup di dalam Yesus yang selalu mendoakan kita berarti kita hidup dalam kebenaran-Nya, bukan kemunafikan, bukan untuk keuntungan sendiri, bukan untuk memuliakan diri, melainkan memuliakan Tuhan yang telah hadir dalam setiap karya yang dipercayakan kepada kita. Masihkah kita memegahkan diri kita, padahal Tuhan setia mendoakan dan menjaga kita? Di tengah pandemi covid-19 dan sekian banyak bencana alam yang melanda tanah air kita saat ini, kita semua diajak untuk menggalakan doa secara perorangan atau secara berjemaah untuk memohon rahmat pembebasan dan belas kasih Allah agar kita terhindar dan dijauhkan dari malapetaka yang mematikan ini. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh dan teladan istimewa yakni mendoakan para murid-Nya, karena itu, kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendoakan semua orang yang dilanda musibah agar iman mereka tidak goyah karena merasa ditinggalkan oleh Allah. Allah tidak pernah memberikan ujian iman melampaui kekuatan kita, Ia selalu menanti pertobatan dan usaha untuk bangkit dari kedosaan kita menuju keselamatan sejati. Semoga Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin. ***BW***

 

Minggu, 09 Mei 2021

PERAN ROH KUDUS DALAM PEWARTAAN IMAN

Yoh 16:5-11

Kita masih ingat baik ketika pemerintah Indonesia memutuskan untuk membatasi kehadiran misionaris asing di Indonesia, banyak perlawanan datang dari lembaga Gereja karena merasa kebijakan pemerintah kurang elok. Ketika perlawanan itu tidak membuahkan hasil, keputusan pemerintah itu dianggap bencana yang mengancam eksistensi hidup Gereja di Indonesia terutama karena kurangnya tenaga imam. Namun puluhan tahun kemudian, keputusan itu justru dilihat sebagai satu proses pendewasaan diri Gereja di Indonesia dalam hal personalia pelayanan. Konsolidasi diri terus digalakkan, panggilan lokal gencar digerakkan hingga menghasilkan begitu banyak imam. Sekarang, Gereja Indonesia boleh berbangga menjadi salah satu pengirim misionaris ke seluruh dunia. Krisis karena pembatasan misionaris itu, kini dilihat sebagai satu kekuatan bukan sebuah ancaman. Gereja Indonesia tidak boleh bergantung pada misionaris asing, melainkan harus berkembang ke arah kemandirian personel.

            Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa ia akan meninggalkan mereka. Penyampaian ini membawa  kegelisahan tersendiri bagi para murid karena selama ini hidup mereka sangat tergantung pada Yesus. Mereka merasa mapan kalau ada bersama terus dengan Yesus. Sekarang Ia pamit dan pergi, bak halilintar menyambar di siang bolong, para murid merasa kelabakan karena belum siap untuk berperan sebagai pewarta Injil menggantikan tugas utama Yesus. Namun, Yesus memberi penugahan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan datang. Sebaliknya kalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Penghibur itulah yang akan menggerakan dan menginsyafkan dunia akan dosa untuk kembali kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Jadi, para murid tidak perlu khawatir untuk  menyerukan pertobatan, bersaksi tentang kebenaran dan penghakiman, karena penghibur yang dijanjikan itu yang akan berbicara melalui mulut mereka. Yesus menginginkan agar para murid harus bisa mandiri meskipun Yesus harus pergi meninggalkan mereka. Yesus menghibur para murid-Nya agar tidak bersedih hati tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus sebagai pengganti diri-Nya untuk menyertai hidup mereka, sehingga mereka semakin matang dalam iman dan menjadi contoh bagi dunia.

           Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan ialah mengapa Yesus pergi dan digantikan oleh penghibur (Roh Kudus)? Bukankah kepergian-Nya membuat para murid semakin kehilangan arah dan mengaburkan misi utama pewartaan Yesus di dunia? Yesus menghendaki agar para murid harus mandiri dan matang dalam hal iman dan bisa berperan mengambil alih tugas pewartaan Yesus. Ketika para murid masih bersama-sama dengan Yesus, peranan utama terletak pada Yesus sendiri yang mengendalikan pewartaan dan pelayanan sedangkan para murid berada di garis belakang sebatas sebagai pendukung. Ketika Yesus pergi kepada Bapa-Nya, Ia digantikan oleh Roh Kudus tetapi tidak mengambil peran utama secara nyata, ia hanya bekerja di belakang layar, sementara yang berperan penting dalam hal pewartaan dan pelayanan adalah para murid sendiri. Sikap ketergantungan para murid kepada Yesus diubah menjadi sikap dewasa dan mandiri namun tetap digerakan oleh Roh Kudus.

           

Dewasa ini ada banyak orang yang ingin terus berada di dalam zona nyaman, padahal zona nyaman itu jika dipertahankan sebetulnya menandakan kemunduran. Dunia terus berubah, pelayanan iman kita pun harus berubah mengikuti perkembangan dan tuntutan perubahan jaman. Karena itu, setiap orang Kristiani harus terus mengembangkan kualitas rohani dan  keterampilan pelayanannya sehingga dalam situasi apapun ia dapat memberi kesaksian tentang keselamatan. Tujuan karya Roh Kudus akan tetap sama, karena memberi inspirasi untuk membangun Kerajaan Allah tetapi cara kita menerapkannya membutuhkan kejelihan di dalam menilai situasi konkrit yang kita hadapi. Berkaitan dengan kehadiran Roh Kudus, orang Kristiani diingatkan bahwa penolakan dan perlawanan kepada Roh Kudus adalah dosa terbesar yang tidak bisa diampuni, karena itu, kita harus menerima Roh Kudus yang merupakan perwujudan nyata diri Yesus dan Bapa-Nya.

 

Cara kerja Roh Kudus begitu dahsyat, tidak kelihatan tetapi memiliki kekuatan super yang mampu mempengaruhi, menggerakan, mengendalikan dan menginspirasi manusia untuk melakukan kebenaran hakiki sesuai Kehendak Allah. Roh Kudus sendiri tidak pernah membelot dari hakikat dirinya, ia berjuang menghantar orang pada keselamatan paripurna. Dewasa ini banyak orang yang hidupnya menyimpang dan gampang melanggar hukum Allah dan perintah-perintah Gereja, karena hatinya lebih dikuasai oleh tawaran kenikmatan duniawi. Mereka kurang memberikan tempat istimewa dalam hatinya untuk membiarkan Roh Kudus menguasai dan merajai hidupnya. Tuntutan menjadi murid-murid Kristus bagi kita orang Kristiani adalah setia pada Kehendak Allah dan menjadikan Roh Kudus sebagai senjata dan kekuatan kita. Roh Kudus mampu menghadirkan keberanian, memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk dapat bersaksi tentang kebenaran hakiki Allah. Jadi kita tidak perlu takut dan cemas dengan kekuatan dunia yang menghalangi semangat kita untuk bersaksi tentang sukacita Injil dan kebenarannya. Kita yakin dan percaya bahwa Allah selalu berpihak kepada kita, Ia akan terus menganugerahkan Roh Kudus yang memberikan keberanian kepada kita untuk mewujudkan kebenaran Allah di dunia.  Yesus pergi kepada Bapa untuk menegaskan Aku dan Bapa adalah satu dan lebih dari itu Yesus membawa misi yang mulia yakni agar dapat mengutus Roh Penghibur kepada para murid dan dunia. Roh Penghibur ini akan menginsafkankan manusia akan dosa agar kembali kepada jalan kebenaran Allah dan kebenaran Sabda Yesus.

 

Menjadi refleksi bagi kita semua orang beriman, bagaimana Roh Kudus dapat berperan dalam diri kita masing-masing? Roh Penghibur yang dijanjikan oleh Yesus itu terus bekerja dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Kita adalah perpanjangan tangan Allah sendiri dalam karya pelayanan dan pewartaan di tengah dunia. Aspek yang dibutuhkan dari kita adalah pengosongan diri dan membiarkan Roh Kudus bekerja merajai seluruh hidup kita agar kita fokus melakukan karya pewartaan tentang kebenaran Sabda-Nya. Sambil mengharapkan kemurahan hati Allah melalui cara kerja Roh Kudus, kita sekalian harus tekun dalam doa sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah yang telah hadir lewat cara-cara manusiawi kita. Dengan begitu, kepercayaan dan keyakinan kita harus terus berkembang dan militan di tengah-tengah arus jaman yang dipenuhi tantangan baik dalam diri maupun yang datang dari luar. Semoga Tuhan Yesus menganugerahkan Roh Kebenaran ke dalam hati kita masing-masing agar kita selalu insaf terhadap dosa dan siap sedia mengikuti kebenaran dan tuntunan Allah. Ziarah hidup kita di dunia akan bermakna bagi sesama bila kita setia menerima Roh Kebenaran yang mengarahkan sikap dan perbuatan kita sesuai Kehendak Allah. Semoga. ***Bernard Wadan***

Selasa, 27 April 2021

KETERBUKAAN HATI MENERIMA KEHADIRAN YESUS

Yoh 10:22-30

 

            Ada satu ungkapan yang sungguh menarik: “Setiap orang yang ingin berbuat baik, harus juga siap untuk menderita.” Kerelaan berbuat baik biasanya didorong oleh rasa cinta yang ada di dalam hati manusia. Berbuat baik itu merupakan satu ekspresi dan ungkapan “sifat ilahi” yang dimiliki oleh setiap orang atau biasanya orang mengatakan, orang yang berbuat baik adalah mereka yang menyadari bahwa hidupnya merupakan anugerah dan hadiah bagi orang lain. Hal ini merupakan suatu cara hidup yang sungguh-sungguh bermakna, namun dalam praktek hidup sehari-hari, berbuat baik itu tidak mudah karena mengharuskan orang untuk mengatasi gelora egoisme dalam dirinya dan orang harus siap untuk menerima tantangan silih berganti. Harus kita akui bahwa tidak semua orang berpikir dan memandang secara positif setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain. Selalu saja ada orang merasa terusik melihat niat baik orang untuk menolong sesamanya. Karena terusik, maka orang mulai mencari-cari alasan untuk menebarkan gosip (hoax) atau tuduhan palsu dengan tujuan merusak nama baik orang. Tantangan-tantangan hidup ini adalah warna hidup yang mesti kita lalui untuk mencapai suatu nilai tertinggi yang ingin kita perjuangkan dan untuk mengimani Yesus sebagai Gembala Baik membutuhkan keterbukaan hati dan penyangkalan diri terus menerus untuk menerima kehadiran-Nya.

 

            Dalam Injil yang baru saja kita dengar tadi, digambarkan bahwa banyak orang berhimpun di seputar Yesus dan bertanya kepada-Nya, apakah engkau adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau  Mesias, katakan terus terang kepada kami”. Kesan yang kita dapat dari pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus tersebut seolah-olah mereka begitu haus menantikan datangnya Mesias di tengah-tengah hidup mereka. Jika saja mereka sedikit membuka hati untuk menerima Yesus Gembala Baik, maka mereka akan menemukan Mesias dihadapan mata mereka yaitu Yesus sendiri. Di mata Yesus, pertanyaan semacam itu justru menunjukkan ketidakpercayaan mereka, karena tanda-tanda Mesias itu sudah mereka ketahui dari ramalan para nabi. Nabi Yesaya sendiri menggambarkan tanda-tanda kehadiran Mesias sebagai berikut: “Pada waktu itu, mata orang-orang buta akan dimelekkan, telinga orang-orang tuli akan dibukakan, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai“ (Yes 35:5-6). Membandingkan gambaran ini dengan apa yang dilakukan oleh Yesus seharusnya menuntun iman orang-orang Yahudi untuk melihat kebenaran dalam diri Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan itu. Namun karena hati mereka telah tumpul dan degil maka tanda apa pun yang dibuat oleh Yesus tidak dapat mengubah kepercayaan mereka lagi. Yesus sendiri mengalami kenyataan ini saat berbicara panjang lebar tentang diriNya sebagai “Gembala yang Baik” yang ingin menuntun setiap orang menuju jalan yang benar agar mengalami keselamatan. Lagi-lagi sepertinya Yesus berhadapan dengan kayu dan batu, malah orang-orang Yahudi balik bertanya tentang identitas dan misi Yesus yang sesungguhnya. Yesus sendiri tentu merasa sakit hati dan tidak mengerti, karena Ia telah menggunakan berbagai cara sederhana untuk berbicara tentang siapa diri-Nya bahkan misi-Nya di dunia ini. Untuk membuat orang-orang Yahudi bisa menerima Dia, Ia mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang mencintai domba-dombanya. Gembala yang baik adalah gembala yang mampu mengenali domba-dombanya satu per satu dan domba-dombanya pun mengenal suara dan kehadiran gembalanya.

 

            Yesus menolak pendapat orang Yahudi yang meminta kepastian tentang siapa diri-Nya. Bagi Yesus, permintaan itu hanya sebuah dalih untuk membenarkan posisi mereka yang berseberangan denganNya. Mereka sudah mengalami semua yang dilakukan Yesus dan sudah mendengar semua pengajaran-Nya, namun semua itu tidak mereka hiraukan. Semua penjelasan Yesus tentang diriNya sama sekali tidak membawa perubahan dalam diri mereka, karena hati mereka sudah buta yang tidak dijiwai oleh cinta yang tulus, mereka tidak relah mengubah cara pandang mereka walaupun itu sangat bertentangan dengan banyak orang. Pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus kalau dilihat sepintas maka terkesan mereka sungguh menyiapkan hati mereka menanti kedatangan sang Mesias, namun kalau ditelaa secara cermat maka pertanyaan mereka itu sekedar mencari sensasi untuk dinilai dan dilihat banyak orang sebagai orang yang sungguh beriman dan taat kepada kehendak Allah. Sikap munafik orang Yahudi ini membawa mereka pada kehancuran karena bukan kehendak Allah yang dicari tetapi popularitas dan kehormatan duniawi yang mereka kejar.

 

            Berangkat dari kemunafikan orang Yahudi dalam menanti datangnya Mesias ini sungguh mendorong kita murid-murid Yesus untuk menggarisbawahi pendirian iman kita bahwa hanya ada satu pilihan mutlak untuk mengikuti Yesus adalah selalu berbuat baik dalam hidup, ini merupakan identitas kita sebagai murid Yesus dan sekaligus misi kita yang wajib kita lakukan, meskipun kita harus menyadari bahwa ada konsekuensi akhir dari pilihan kita untuk berbuat baik seperti menuai penderitaan dan penolakan. Bagi kita murid-murid Yesus, sikap dan pendirian orang-orang Yahudi yang tertutup dan degil hatinya terhadap kehadiran Mesias di tengah-tengah mereka menginspirasi dan mendorong kita untuk bersikap terbuka terhadap kemurahan hati Allah dalam diri Yesus Kristus sang Gembala baik yang datang ke dunia membawa misi keselamatan bagi kita semua. Keterbukaan hati untuk menerima rahmat penebusan dari Tuhan menuntut pembaharuan diri dan sikap rendah hati untuk belajar dari orang lain tentang pentingnya berbuat baik dan membangun kesatuan hidup dengan sesama kita sebagai saudara. Kita jangan pernah gegabah menolak kehadiran orang lain dalam hidup kita, sebab bisa saja Allah memakai orang lain untuk mengubah diri kita, sikap dan perbuatan kita yang bertentangan dengan iman Kristiani. Sebagai murid-murid Yesus, kita dituntut untuk mengenal Yesus lebih dalam dengan cara tekun membaca, mendengarkan dan merefleksikan sabda-Nya setiap hari. Dengan cara itu roh Allah akan bekerja dalam hati kita, mengubah dan membaharui hidup kita sehingga kita layak menjadi alat-Nya yang siap diutus mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia. Aneka bencana yang melanda dunia saat ini bahkan menelan banyak korban, kita jadikan sebagai momentum untuk berefleksi dan kita pandang sebagai ujian iman bagi kita semua, mungkin Tuhan sedang mencobai kita karena kita kurang beriman kepada-Nya bahkan mungkin kita terlalu bangga dengan kemampuan diri kita. Mari kita membiarkan diri kita disapa, diubah dan dibentuk oleh Allah agar kita menjadi domba-domba yang setia mengikuti sang Gembala Baik yaitu Yesus yang datang ke dunia mencari dan menyelamatkan domba-domba yang hilang.

 

            Jalan keselamatan yang ditawarkan Yesus sungguh menuntut pembaharuan diri. Bagi banyak orang, pembaharuan diri itu terasa sangat berat karena dijalankan secara terpaksa. Kalau kita menjalaninya dengan penuh kasih, pembaharuan diri itu justru membawa kita kepada suatu penghiburan. Kita akan gembira karena melihat terang dan menemukan suatu kepastian hidup abadi. Inilah yang perlu kita tanamkan dalam penghayatan iman kita. Semoga mata iman kita terus terbuka untuk menerima kehadiran Yesus Sang Terang yang membawa kepastian keselamatan bagi kita semua. Semoga. ***Bernard Wadan***