Selasa, 28 Juli 2020

SANTA MARTA SANG TELADAN HIDUP

SANTA MARTA SANG TELADAN HIDUP

Gereja Katolik sejagat pada hari ini (Rabu/29/7/2020), merayakan pesta Santa Marta. Menilik dari namanya, Marta berarti “nyonya rumah”. Ia mempunyai dua orang saudara yang bernama Lazarus dan Maria. Ketiganya berasal dari Betania, dekat Yerusalem. Tentang Santa Marta, ada legenda dan tradisi yang bercerita tentang makam Santa Marta dari Tarascon. Menurut legenda, Marta meninggalkan tanah Yudea dan bermigrasi ke negara Perancis, tepatnya di kota Tarascon. Di tempat tersebut, ia menghabiskan hidupnya dengan berdoa dan berpuasa. Kemudian ia meninggal dan dimakamkan di ruang bawah tanah di Gereja Collegiate di Tarascon.

Tiga bersaudara yang saling mencintai; Marta, Maria dan Lazarus memiliki relasi yang sangat dekat dengan Yesus. Dan kita bisa menemukan kisah menarik yang terjadi di antara mereka dalam Injil yang ditulis oleh Santo Yohanes dan Santo Lukas. Santo Lukas mengisahkan dalam Injilnya (Luk 10:38-42) bahwa ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung, mereka singgah di sebuah rumah yang ditempati Marta, Maria, dan Lazarus. Marta rupanya seorang perempuan yang ulet dan telaten. Ia mulai sibuk bekerja di dapur mempersiapkan segala kebutuhan untuk Yesus dan para murid. Namun saudaranya Maria hanya duduk saja dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan Yesus berbicara. Rupanya hal ini yang menimbulkan ketidaksukaan dari Marta. Ia menyuruh Yesus untuk menegur Marta agar bersedia membantunya bekerja di dapur. Bukannya membela Marta, Yesus malah menasihati Marta bahwa saudaranya Maria telah memilih bagian yang terbaik dalam hidupnya. Yesus secara tidak langsung mau mengatakan kepada Marta bahwa bekerja itu memang penting, tetapi yang perlu mendapat prioritas dalam hidup adalah mendengarkan sabda Tuhan dan merenungkannya.

Kisah lain yang mengisahkan tentang keintiman relasi Yesus dan tiga saudara dari Betania bisa kita lihat dalam Injil Yohanes (Yoh 11:1-44). Ketika Lazarus menderita sakit, kedua saudarinya, Marta dan Maria segera mengirim pesan tentang keadaan Lazarus kepada Yesus. “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit”, demikian bunyi pesan itu. Yesus sepertinya kurang tanggap terhadap berita itu. Empat hari kemudian barulah Yesus bersama para murid-Nya pergi ke Betania. Mereka mendapat Lazarus telah mati dan dikuburkan. Ketika mengetahui bahwa Yesus telah datang, Marta segera menyongsongnya dan berkata: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak akan mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Di sini terungkap dengan jelas kekuatan iman Marta yang kuat kepada Yesus. Tidak hanya sampai di situ saja, Marta sungguh mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Dari dua kisah yang ditulis oleh penginjil Lukas dan Yohanes ini, kita dapat mencatat tiga tokoh penting yang terdapat di dalamnya. Pertama, Yesus. Relasi yang ditunjukkan oleh Yesus kepada tiga orang sahabatnya, Marta, Maria dan Lazarus, mau menunjukkan bahwa Yesus sungguh seorang Anak Allah sekaligus manusia. Sebagai seorang manusia, Yesus begitu peduli dan menunjukkan kasih yang dalam kepada tiga sahabatnya ini. Di sisi lain sebagai Anak Allah, Yesus telah menunjukkan wibawa ilahi-Nya dengan membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Kedua, Maria. Maria sungguh telah memilih bagian yang terutama dalam hidupnya yakni dengan mendengarkan sabda Tuhan. Dengan mendengarkan sabda Tuhan, Maria secara sadar mengarahkan hidupnya untuk tetap setia dan selalu berbakti kepada Tuhan. Ketiga, Marta. Marta adalah seorang perempuan yang ulet, telaten dan penuh dedikasi. Lewat perkenalan dan pergaulannya dengan Yesus, Marta akhirnya juga, sama seperti saudarinya Maria, menyerahkan diri sepenuhnya untuk percaya dengan total dan tulus kepada Yesus. Marta sungguh menunjukkan imannya kepada Yesus ketika menyaksikan secara langsung Yesus membangkitkan Lazarus saudaranya dari kematian.

Marta adalah seorang perempuan yang luar biasa. Oleh karena itu, baiklah pada kesempatan hari ini, kita tidak hanya mengenang beliau semata sebagai seorang mempelai Allah yang kudus, tetapi ada banyak keteladanan yang diwariskan kepada kita semua sebagai umat beriman. Marta adalah seorang perempuan yang rajin dalam bekerja. Ia sungguh-sungguh menunjukkan semangat pelayanan dalam bekerja. Bekerja tidak setengah-setengah tetapi bekerja dengan total dan tulus. Ia juga perempuan yang sangat bertanggungjawab. Segala pekerjaan harus serius dikerjakan dan dilaksanakan sampai selesai. Itulah prinsip hidup dari seorang Marta. Pada akhirnya Marta juga telah menunjukkan imannya yang total kepada Yesus, representasi Allah yang hidup di muka bumi.

Marta telah mengajarkan kepada kita di dalam komunitas ini untuk sungguh-sungguh menunjukkan komitmen dalam bekerja di unit tugas kita masing-masing. Bekerja dengan total dan tulus serta dengan penuh semangat pelayanan. Marta juga meneguhkan kita untuk tetap percaya kepada Tuhan, walau mungkin ada begitu banyak kesulitan dan tantangan hidup yang kita hadapi. Bersama Yesus, Anak Allah yang hidup, Ia akan menguatkan dan membangkitkan semangat kita untuk tidak mudah putus asa dan terlempar dari kehidupan yang tidak gampang ini. Untuk saudari/i-ku para pasien rawat jalan dan rawat inap, belajarlah dari Marta untuk tetap teguh dalam iman kepada Yesus. Pengalaman sakit tidak membuat kita semakin jauh dari Tuhan tetapi semakin mendekatkan dan merekatkan relasi kita kepada-Nya. Kita semakin percaya dalam doa-doa kita bahwa Tuhan sementara mendesain hidup kita yang terbaik. Mari kita berdoa kepada Santa Marta untuk menguatkan dan meneguhkan perjalanan hidup yang sementara kita jalani ini. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Senin, 27 Juli 2020

MENJADI BIJI SESAWI DAN RAGI


Small is powerfull. Sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti “kecil yang berkekuatan.” Dalam arti lain, kalimat itu mau mengungkapkan bahwa sesuatu yang kelihatan kecil belum tentu tidak memiliki kekuatan atau kemampuan. Justru dari sesuatu yang kecil itu sebenarnya bisa tersembul sebuah potensi yang maha dasyat. Ungkapan bahasa Inggris di atas secara otomatis menegasikan stereoritip yang menegaskan bahwa sesuatu yang kecil tidak mempunyai kekuatan atau kemampuan. Sesuatu yang kecil mewakili kelemahan dan ketidakberdayaan. Namun tidak bisa digeneralisir demikian. Sesuatu yang kecil acapkali memberi energi positif yang luar biasa. Bahkan di luar akal sehat manusia. Sesuatu yang kecil ternyata tidak kecil. Ia bisa mempresentasikan sesuatu yang prestisius dan memberi kebanggaan bagi segenap orang yang melihat atau merasakan imbasnya.

Seperti dalam bacaan Injil (Mat 13:31-35) yang kita baca pada hari ini (Senin/27/7/2020). Yesus membentangkan dua perumpamaan sederhana dan praktis yang mewakili entitas Kerajaan Sorga. Yesus mengibaratkan Kerajaan Sorga dengan dua materi yang kelihatan kecil. Dua materi itu adalah biji sesawi dan ragi. Biji sesawi adalah sejenis biji tumbuhan yang paling kecil dari biji-biji tumbuhan yang lain. Tetapi apabila tumbuh, ia akan berkembang menjadi sayuran yang lebih besar. “Bahkan menjadi pohon sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya” (Mat 13:32). Pada masa Yesus, tanaman sesawi tidak menjadi tanaman favorit. Tumbuhan ini adalah tumbuhan liar dan dianggap sejenis gulma atau hama yang menghalangi laju perkembangan tanaman lain. Sehingga sawi menjadi tanaman yang tidak mendatangkan keuntungan dibandingkan tanaman yang lain. Selanjutnya ragi adalah sejenis zat yang menjadi bahan baku untuk membuat roti. Tanpa ragi, adonan roti tidak akan mengembang menjadi sebuah adonan yang baik. Dalam adonan terigu yang banyak, sedikit saja ragi yang ditambahkan akan membuat adonan bisa dibentuk menjadi roti yang indah dan manis. Pada masa Yesus, ragi kurang disukai karena menimbulkan aroma yang tidak sedap.

Tetapi di mata Yesus, kedua jenis materi yakni sawi dan ragi telah mengalami pergeseran makna. Dari makna yang negatif berkembang menjadi makna yang sungguh positif. Sawi dan ragi adalah dua materi yang kelihatan kecil, tidak berharga dan tidak bernilai. Namun di balik image miring tersebut, sawi dan ragi memainkan peran sebaliknya. Dari biji sawi yang bijinya paling kecil dari biji-biji yang lain tumbuh pohon besar sehingga dapat menjadi naungan dan tempat singgah pelbagai jenis burung. Begitu pun dari ragi yang minimalis dapat membantu adonan roti menjadi mengembang. Roti bisa menjadi enak karena ada peran ragi di dalamnya. Dua materi ini yang dijadikan Yesus sebagai ungkapan simbolik untuk menggambarkan peran Kerajaan Sorga yang dibawa Yesus ke dalam dunia. Term Kerajaan Sorga disamakan juga dengan term Kerajaan Allah. Dua term ini menunjuk pada peran nyata Allah yang sudah ada sekaligus sementara berkarya di tengah dunia. Peran nyata Allah itu telah mewujud dalam Pribadi Ilahi Yesus yang telah berinkarnasi menjadi manusia biasa. Yesus yang datang dalam rupa manusia kecil dan hina sebenarnya sementara membawa misi besar nan mulia dari Sang Bapa di Sorga untuk menyelamatkan umat manusia dari kedosaannya.

Ibarat biji sesawi dan ragi, demikian pula Yesus harus kelihatan kecil, hina dan tidak berdaya.  Dalam kekecilan-Nya itu, Yesus berusaha menancapkan misi Kerajaan Sorga dengan sabda mulia dan tindakan nyata yang menyasar semua orang. Terutama orang-orang kecil dan hina yang sangat merindukan kehadiran seorang penyelamat seperti Yesus. Misi kerajaan Allah yang dinakhodai oleh Yesus memang tidak berjalan mulus. Ada banyak sekali tantangan yang mempersulit gerak maju misi Kerajaan Allah. Baik bagi mereka yang memang kurang sreg atau tidak sejalan dengan ajaran Yesus atau juga bagi mereka yang merasa jabatan duniawinya terancam dengan kehadiran Yesus di muka publik. Yang patut diapresiasi bahwa misi Kerajaan Allah yang sebelumnya tidak pernah dianggap perlahan namun pasti menemukan irama yang semakin jelas dan pasti. Ia mulai berakar dan kokoh. Indikasinya, ada begitu banyak orang yang tercerahkan dengan ajaran Yesus. Mereka menjadi percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam rencana ilahi. Memang harus diakui, banyak pula yang percaya kepada Yesus karena merasa terpesona dan diselamatkan oleh tindakan mukjizat-Nya. Tetapi pada intinya mau dibeberkan bahwa karya Allah yang kecil, sederhana, dan hina dalam diri Yesus telah melahirkan iman yang semakin bertumbuh dan berkembang luas dalam diri masyarakat pada saat itu.

Yesus telah memberi inspirasi kepada kita tentang kehadiran-Nya yang membawa misi Kerajaan Sorga ibarat biji sesawi yang kecil dan ragi yang disepelekan oleh orang banyak. Yesus menghendaki agar kita juga mampu menjadikan pribadi kita sebagai biji sesawi dan ragi bagi banyak orang. Pada masa sekarang ini, ada begitu banyak kesulitan yang menantang hidup iman para pengikut Kristus. Ibarat biji sesawi yang kecil, kita harus mampu hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan bagi mereka yang mulai kehilangan semangat imannya akan Yesus. Dengan tindakan-tindakan kecil dan sederhana yang menyentuh pribadi, kehadiran kita dapat menumbuhkan lagi iman mereka akan Yesus yang telah mulai goyah. Ibarat ragi yang tidak disukai, kehadiran kita pasti menciptakan friksi. Ada banyak orang yang bersikap antipati terhadap niat dan ketulusan pribadi kita. Bersama Tuhan, kita tidak pernah mundur setapak pun. Kita tetap bekerja dalam iman untuk mewujudnyatakan Kerajaan Sorga dalam hidup di tengah masyarakat kita. Dengan ragi yang kita miliki, kita menjadi unsur pembeda yang merangkul semua orang dan menciptakan kedamaian bagi banyak orang. Sekecil apa pun yang kita lakukan demi Kerajaan Sorga tentu akan menjadi karya besar di mata Tuhan. Percayalah, dalam kekecilan dan kekurangan yang kita miliki, Tuhan pasti akan menyempurnakan-Nya dengan berkat yang melimpah. Mari kita menjadi biji sesawi dan ragi yang bermanfaat bagi banyak orang yang kita layani. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 21 Juli 2020

MENJADI SAUDARA DI DALAM YESUS


Mat 12:46-50
            Injil hari ini kalau dibaca sepintas lalu dan dimengerti secara harfiah maka kita akan menilai bahwa Yesus tidak jauh berbeda dengan cerita legenda dari Sumatera Barat “Malin Kundang”, si anak durhaka yang menyangkal keberadaan ibu kandungnya yang berjuang memeluknya di anjungan kapal pesiarnya. Teks Injil ini harus dibaca secara utuh untuk menemukan hakikat pesan dibalik sikap cuek Yesus kepada ibu dan saudara-saudara-Nya. Yesus tidak sedang mempertontonkan pemandangan yang kurang elok dengan menolak keluarga-Nya, tetapi Ia mau memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para pendengarnya untuk menjelaskan lingkup keluarga dalam arti baru dan lebih luas dalam kaitannya dengan kehendak Allah. Yesus ingin menjelaskan satu jenis hubungan baru yang terbentuk karena kehadiran-Nya. Hubungan yang baru ini tidak terbentuk karena pertalian biologis tetapi dibentuk atas dasar iman yaitu ketaatan mutlak untuk melaksanakan seluruh kehendak Allah Bapa di surga.  Dasar pijak bagi kita untuk masuk dalam persekutuan keluarga karena kehadiran-Nya merujuk pada (Mat 12:50): “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”. Karena itu, setiap orang yang bersedia dan berkehendak baik untuk melakukan seluruh kehendak Allah dalam hidupnya, maka ia telah masuk dalam lingkaran keluarga Yesus dalam arti sebenarnya. Melalui kehadiran-Nya, Yesus mengingatkan para murid-Nya tentang hakikat persaudaraan yang diwartakan-Nya. Bagi Yesus, persaudaraan karena pertautan darah tidaklah salah, tetapi dalam penghayatan iman, relasi pada level ini tidak boleh menjadi pegangan. Persaudaraan dalam iman haruslah merujuk kepada persaudaraan model para rasul dimana Kristus menjadi inti dan para murid berorientasi pada-Nya. Maka penghargaan pada ibu-Nya dan saudara-saudarNya tidaklah menggantikan tujuan persaudaraan baru yang sekarang dirintis-Nya, yakni persaudaraan yang dijiwai oleh sabda, dimana Allah Bapa menyampaikan Firman dan saudara-saudara seiman menanggapi dalam penghayatan Sabda itu.
            Tujuan Yesus diutus Allah ke dunia bukan untuk segelintir orang atau bukan untuk lingkaran keluarga tertentu, melainkan Ia datang untuk semua umat manusia yang percaya akan misi pewartaan-Nya menghimpun dan menyelematkan manusia dari belenggu dosa. Dengan kehadiran-Nya, Ia ingin membentuk satu persekutun hidup baru atas dasar iman untuk memanggil semua orang agar dapat hidup dalam persaudaraan cinta-Nya, saling mengasihi dan siap diutus menjadi pewarta kabar keselamatan bagi dunia dengan tetap fokus pada apa yang menjadi kehendak Allah.
            Gambaran Yesus ini membuka pemahaman baru bagi para pendengarnya agar mereka tidak terjebak dalam pemikiran sempit dan penilaian artifisial terhadap sikap Yesus berhadapan dengan ibu dan saudara-saudara bilogis-Nya. Berbicara tentang keluarga, orang cenderung berpikir tentang keluarga biologis yang memiliki hubungan darah dan pertalian atas dasar garis keturunan yang sama. Yesus tidak mengingkari keluarga dalam arti biologis-Nya, malah Ia sangat respek dengan mereka, namun pada kesempatan itu Ia ingin menjelaskan pentingnya keluarga-keluarga biologis memahami keluarga dalam arti luas sehingga mereka mampu melihat orang lain seperti dirinya sendiri dan mampu menyatukan diri dalam persekutuan hidup atas dasar iman yang sama kepada Allah Bapa di surga. Yesus menghendaki keluarga-keluarga biologis untuk membangun relasi cinta untuk mewujudkan nilai-nilai esensial hidup Kristiani yang sesuai dengan kehendak Allah melalui praktik hidup nyata. Praktik hidup benar yang diminta oleh Yesus adalah setia pada ajaran-ajaran-Nya, setia membangun hidup doa yang teratur, setia mendalami warta sabda-Nya dan lebih-lebih menunjukkan pola hidup yang benar dengan tetap merujuk pada nilai-nilai kebajikan hidup Kristiani yang diajarkan Yesus.
            Apabila pemahaman kita sudah sampai pada tingkat keluarga dalam arti luas sebagaimana yang dimaksudkan oleh Yesus maka kita semua sudah masuk dalam lingkaran keluarga Allah. Kita adalah ibu-Nya dan kita adalah saudara-saudara kandung-Nya dalam satu iman yang sama kepada Allah. Sakramen Baptis yang telah kita terima adalah tanda nyata kita telah dikukuhkan menjadi anak-anak Allah dan anggota gereja-Nya.
            Praktik dan ungkapan iman kepada Allah sebagai satu keluarga kudus harus dinyatakan secara aktual dalam hidup sehari-hari. Kita tidak bisa hidup mengambang dan fokus memperhatikan hubungan keluarga karena pertalian darah, kita harus keluar dari diri kita sendiri, memberi diri kepada orang lain dan berjuang membagi kasih Allah kepada sesama, kita harus membangun persaudaraan yang dijiwai oleh sabda-Nya untuk membantu sesama yang lain masuk dan hidup dalam persekutuan ikatan keluarga yang didasari oleh cinta Yesus dan mengambil bagian dalam tugas dan peran Yesus untuk mewartakan suka cita keselamatan dari Allah.
            Untuk mewujudkan keluarga dalam arti sebenarnya sebagaimana diajarkan Yesus, kita harus terus membaharui diri kita, agar komunitas yang dibangun atas dasar Sabda Tuhan tidak berubah menjadi komunitas kepentingan yang dangkal dan berorientasi pada nilai-nilai manusiawi. Komunitas yang dibentuk atas dasar Sabda Tuhan, membantu kita menemukan kehendak Allah untuk membangun persaudaraan hidup sejati. Tanpa dasar pijak Sabda Tuhan kita akan terjebak masuk dalam lingkaran egoisme diri yang sempit, akibatnya, kita menghabiskan waktu dan tenaga lebih banyak untuk berkorban bagi keluarga sendiri dan mengabaikan orang lain karena mereka tetap orang lain di luar keluarga karena tidak ada pertalian darah.
            Yesus dalam Injil-Nya hari ini memberikan satu pemahaman yang utuh kepada kita berkaitan dengan keluarga dalam arti baru karena kehadiran-Nya. Yesus mengharapkan kualitas pelayanan kita merujuk pada kehendak Allah semata bukan karena selera suka tidak suka alias terpaksa. Dengan begitu, kita telah masuk bergabung dalam kesatuan keluarga Allah. Sabda Tuhan ini menginspirasi dan membantu kita keluar dari pemikiran sempit dan terbatas kita tentang konsep keluarga dalam arti biologis dan terbatas pada hubungan darah. Injil hari ini telah memperkaya wawasan kita dalam memandang semua orang sebagai satu persekutuan cinta karena telah melaksanakan seluruh kehendak Allah.
            Konsep keluarga biologis yang kita pahami selama ini sangat mempengaruhi kualitas pewartaan kita. Konsep ini justru mempengaruhi cara pandang kita tentang orang lain. Mereka atau pribadi di luar kita dilihat tetap sebagai orang lain yang berbeda dari kita. Mereka dilihat sebagai orang asing sehingga mempengaruhi niat baik kita dalam pelayanan kasih. Yesus mengajak kita semua untuk mengubah pola pikir dan tindakan kita agar bisa keluar dari diri kita sendiri dan menjadikan sesama kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dan harus menjadi fokus perhatian dari pelayanan kita yang didasarkan pada iman yang sama kepada Yesus. Yesus mengundang kita untuk menyalurkan kasih Allah sampai menembus batas sekat-sekat primordial yang kaku dan terbatas sehingga kita semua boleh hidup sebagai saudara di dalam Yesus. ***Bernad Wadan***

Senin, 20 Juli 2020

YESUS SEBAGAI TANDA


Mat 12: 38-42
Kehadiran narasumber dalam suatu perhelatan seminar atau diskusi menjadi salah satu komponen yang sangat penting. Ia dituntut untuk tampil prima mengelaborasi suatu persoalan berdasarkan kompetensi dan disiplin ilmu yang dimiliki. Kehadiran narasumber akan menjadi fokus dan sorotan publik yang turut menyaksikannya. Oleh karena itu, seorang narasumber tidak hanya dituntut memiliki kemampuan diplomasi atau berbicara yang baik. Tetapi latar ilmu pendidikannya menjadi sesuatu yang urgen. Sejumlah gelar akademis yang dimiliki menjadi tanda lahiriah seorang narasumber memiliki kompetensi di bidang tertentu. Gelar akademis menjadi tanda yang merepresentasikan kecakapan dan otoritas seorang narasumber ketika ia berbicara. Kredibilitas di mata publik lahir tidak hanya karena kemampuan diplomasi tetapi juga dengan adanya pelbagai gelar akademis yang dimiliki. Tanpa gelar akademis, seorang narasumber bisa saja tidak diterima publik walaupun ia memiliki kemampuan yang mumpuni. Gelar akademis menjadi “tanda baik” bagi seseorang untuk berbicara dan meyakinkan publik dengan kata-kata yang diucapkannya.

Hari ini (Senin/20/7/2020) dalam bacaan Injil (Mat 12:38-42), ada sejumlah ahli Taurat dan orang Farisi yang meminta tanda dari Yesus. Tanda itu sebagai bukti yang merepresentasikan otoritas ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Rupanya sudah lama para ahli Taurat dan orang Farisi memantau segala hal yang dilakukan Yesus. Tidak hanya segala sabda-Nya, tetapi juga pelbagai tindakan mukjizat yang diperlihatkan Yesus di depan orang banyak. Yang menggelitik hati para elit agama tersebut adalah tidak sedikit orang yang mengikuti dan percaya kepada Yesus. Hal inilah yang menimbulkan rasa penasaran dalam hati mereka. Siapakah Yesus ini. Tanda apa yang Ia miliki sehingga ia begitu berani membawa nama Allah dalam setiap karya pewartaan-Nya. Atau otoritas ilahi apa yang menjadi bukti Ia melakukan segala perbuatan yang spektakuler di hadapan umat Israel. Dan para elit agama tersebut merasa memiliki wewenang atau legitimasi yang menyatakan tanda itu valid atau tidak. Jadi semakin jelas bahwa permintaan tanda itu lahir dari sikap arogansi dan superioritas mereka. Permintaan sebuah tanda dari Yesus bukan lahir dari kesungguhan hati tetapi hanya sebagai modus untuk mencari-cari kesalahan Yesus.

Yesus membaca motivasi mereka sehingga Ia mengecam mereka sebagai generasi yang jahat dan tidak setia. “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” (Mat 12:39). Selain mengecam, Yesus juga menegaskan tidak akan memberikan tanda ilahi kepada mereka. Yesus hanya mempresentasikan sebuah tanda yakni tanda Yunus. Nabi Yunus menjadi tanda pertobatan bagi orang Niniwe berkat aksi heroiknya keluar dari perut ikan setelah berada di dalamnya selama tiga hari. Walaupun banyak tafsiran yang menjelaskan bahwa Yunus selamat berkat “kebaikan ikan” dan tentu saja ada intervensi Allah di dalamnya. Tetapi peristiwa selamatnya nabi Yunus menjadi ungkapan simbolik dari kuasa ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Bahwa Yesus akan mati. Ia akan berada dalam kuasa maut selama tiga hari. Dan pada hari ketiga Ia akan bangkit mengalahkan kuasa kegelapan. Peristiwa nabi Yunus yang spektakuler mengindikasikan bahwa tanda Allah sungguh menyata di dalam dirinya. Yesus juga tampil sebagai “tanda Yunus” yang baru. Allah sungguh hadir dalam setiap kata-kata dan perbuatan-Nya. Nenek moyang orang Israel sungguh percaya akan tanda yang dibawa oleh nabi Yunus. Bahkan pribadi Yunus itu sendiri menjadi tanda yang membawa pertobatan dan keselamatan bagi banyak orang. Sayangnya, sikap para elit agama justru bertolak belakang dengan sikap pendahahulunya. Mereka tidak mampu membaca tanda kehadiran Allah yang ada dalam diri Yesus. Sikap ego dan arogan telah menguasai diri sehingga mata batin mereka menjadi tertutup. Tawaran keselamatan yang dibawa oleh Yesus tidak dapat diterima oleh mereka. Yesus sudah berupaya menyalurkan diri-Nya menjadi tanda yang baik namun oleh karena sikap ego dan arogan, para elit agama tidak dapat membaca tanda berahmat itu dalam diri-Nya.

Demikian pula hidup kita di era ini. Kadangkala kita meminta jaminan atau tanda dari Tuhan sebagai konsekuensi dari sikap iman kita. Kita sepertinya mau menyogok Tuhan dengan ketaatan kepada segala ritus agama. Selain itu, kita juga suka mengkalkulasikan segala perbuatan baik dengan harapan Allah pasti menunjukkan sebuah tanda yang semakin menguatkan hidup iman kita kepada-Nya. Padahal Allah sudah memberikan tanda itu secara nyata melalui Yesus yang menyejarah dalam hidup manusia. Melalui sabda dan aksi mukjizat-Nya, Allah sudah memperlihatkan kehadiran-Nya secara nyata dalam diri Yesus. Namun banyak kali kita mengalami amnesia dan tidak menyadari Yesus sebagai sebagai tanda yang membawa keselamatan bagi kita. Lebih banyak kita mengeluh dan merasa terlempar dari kehidupan manakala kita menghadapi pelbagai kesulitan dan tantangan. Padahal Allah melalui Yesus telah memberi garansi kehidupan kita di dunia dan di akhirat nanti. Ia akan selalu menyertai dan menjadi tanda dalam kehidupan kita, baik dalam suka maupun duka. Dengan menyadari Yesus sebagai tanda akan semakin menguatkan hidup kita. Kita akan selalu mengucap syukur atas segala berkat yang kita alami dalam hidup ini. Kita tidak akan mudah mengalami putus asa ketika dibenturkan dengan aneka tantangan. Justru kita semakin diteguhkan dan menjadi matang untuk menata hidup lebih baik. Karena kita yakin Tuhan telah menunjukkan tanda-Nya kepada kita. Ia telah menjadi tanda yang spektakuler bagi kita. ***Atanasius Dewantoro Labaona***

Rabu, 15 Juli 2020

MENYADARI KEHADIRAN TUHAN


Mat 11:25-27
Entah sadar atau tidak, Tuhan selalu hadir dan mengisi hidup manusia. Kehadiran Tuhan dapat disadari kalau manusia itu bersikap terbuka dan beriman kepada-Nya. Tanpa kesadaran hati yang kuat, kita tidak pernah akan menyadari kehadiran Allah dan menerima-Nya. Keterbukaan hati adalah kunci masuk pengenalan akan kasih dan kebaikan Allah. Yesus Anak Allah benar-benar menyadari pentingnya membangun relasi yang kuat dengan Bapa-Nya. Relasi macam ini yang kemudian dipakai oleh Yesus untuk diperkenalkan kepada manusia. Rahasia Kerajaan Allah disingkapkan kepada dunia untuk diketahui, namun hanya kepada mereka yang terbuka menerima rahmat keselamatan dari Allah. Yesus dalam Injil hari ini mengungkapkan rasa syukur-Nya kepada Allah Bapa karena kebaikan-Nya, rahasia Kerajaan Allah diterima dan dihidupi oleh orang-orang kecil dan sederhana yang beriman kepada-Nya. Orang yang cerdik pandai selalu menutup dirinya menolak kehadiran Anak Manusia karena tidak ada keterbukaan hati dan kesediaan untuk menerima Wahyu Kebenaran hidup di depan mata mereka. Kesadaran mereka telah hilang karena relasi intim dengan Allah tidak pernah terbangun. Dengan demikian, anugerah rahmat dan kebaikan cinta Allah tidak pernah dirasakan dalam hidupnya.

Yesus dalam Injil-Nya hari ini mengingatkan kita untuk menjadi seperti orang kecil, sederhana dan rendah hati yang tahu bersyukur serta menjadikan Allah sebagai kekuatan dan benteng hidup kita. Mereka yang kecil dan sederhana memiliki peluang lebih besar untuk merasakan rahmat dan kehadiran Allah dalam hidupnya. Orang sederhana dalam konteks ini adalah mereka yang setia, patuh, beriman dan terbuka terhadap Kehendak Allah. Dengan menjadi orang kecil dan sederhana Allah dapat menyingkapkan rahasia Kerajaan-Nya untuk diketahui. Allah selalu berpihak kepada orang kecil dan sederhana karena di dalam jiwa mereka terpancar ketaatan asli yang tidak tereduksi. Orang kecil dan sederhana menerima kebenaran Wahyu dengan keterbukaan hati dan menghidupinya di dalam perkataan dan tindakan mereka. Karena itu Allah lebih memilih cara sederhana untuk mengungkapkan kasih-Nya lewat orang-orang kecil, sederhana, rendah hati dan polos karena di dalam hati mereka belum terkontaminasi dengan kepalsuan dan kebohongan. Sementara itu, manusia yang pandai dan cerdik tidak memiliki kesempatan emas untuk merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya karena mereka terlalu tertutup dan mengandalkan kemampuan intelektualnya. Segala sesuatu dipahami dan dijelaskan dengan bantuan akal budi belaka. Pertanyaannya kemudian: Apakah Yesus tidak menyukai kemampuan intelektual seseorang? Yesus dalam hal ini tidak melawan kekuatan intelektual, tetapi yang Ia lawan adalah kesombongan dan arogansi intelektual. Doa Yesus dalam Injil hari ini berbunyi “Semuanya Kau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai tetapi Kau-nyatakan kepada orang kecil”. Orang-orang pandai yang dimaksudkan dalam teks Injil ini ialah orang-orang yang mengukur segala pelayanannya berdasarkan kemampuan intelektual yang mereka miliki dan mengabaikan aspek iman yang menuntut kerendahan hati untuk memahami segala rencana Tuhan, karena itu, rahasia Kerajaan Allah menjadi sangat jauh dalam hidup mereka, karena segala sesuatu dipertanyakan dan diperdebatkan dengan menggunakan pisau cukur akal budi. Muncul pertanyaan lagi: mungkinkah iman dan akal budi dapat berjalan serentak. Pertanyaan ini sering menjadi perdebatan kaum atheis, sekularis, agnostik dan anti iman lainnya. Bagi mereka, intelek tak bisa sejalan dengan iman. Iman memandulkan aspek intelektual karena mengajak orang untuk percaya begitu saja pada penyelenggaraan Ilahi. Hal ini tidaklah benar karena iman dan akal budi itu sangat integratif karena fenomena iman sering menjadi topik pendalaman ilmiah yang menuntut nalar logis. Sebaliknya, pengetahuan yang menyentuh nalar logis dapat diolah menjadi kekayaan spiritual yang berguna bagi pengembangan iman seseorang. Maka pesan sederhana bagi kita adalah kembangkanlah kemampuan intelektual sebaik mungkin dan sekaligus tingkatkan kualitas rohani sampai batas maksimal agar iman dapat menolong akal budi untuk memahami seluruh Kehendak Tuhan. Dengan demikian Yesus sama sekali tidak menolak peran akal budi dalam perdebatan ilmiah tetapi ia mendorong kita untuk memanfaatkan akal budi secara bijaksana untuk memahami dan mengetahui rencana serta rahmat Tuhan dalam hidup kita.

Hari ini Gereja sejagad memperingati pesta St. Bonaventura, uskup dan pujangga Gereja. Salah satu ajakan spektakuler dari St. Bonaventura bagi kita semua agar kita selalu bersikap mawas diri adalah “Kesombongan biasanya menggilakan manusia, karena ia diajar untuk meremehkan apa yang sangat berharga seperti rahmat dan keselamatan, dan menjunjung tinggi apa yang seharusnya dicela seperti kesiasiaan dan keserakahan”.  Nasihat ini penting bagi kita murid-murid Yesus untuk direfleksikan agar nilai kerendahan hati mewarnai seluruh hidup kita. Kesombongan diri yang berlebihan biasanya membuat orang menjadi congkak dan menganggap remeh orang lain. Hal ini juga mempengaruhi hidup rohani seseorang karena orang sombong biasanya membanggakan diri sebagai pusat segala-galanya bahkan rahmat dan keselamatan itu sendiri dirasa kurang penting diberi perhatian karena tidak mendatangkan manfaat nyata untuk menambah kemegahan diri. Kesombongan biasanya menghalalkan segala cara untuk mencapai kemegahan diri, pada saat yang bersamaan, ia menutup kanal relasi dirinya dengan Tuhan dan sesama. St. Bonaventura mengajak kita sekalian untuk selalu bersikap mawas diri agar tidak jatuh dalam kesombongan belaka sehingga tidak menghancurkan kehidupan rohani kita untuk dapat merasakan rahmat keselamatan serta kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Entah disadari atau tidak Tuhan selalu hadir dan berkarya dalam hidup kita. Untuk merasakan dan mengalami kehadiran-Nya dibutuhkan sikap rendah hati dan keterbukaan layaknya seperti orang-orang sederhana, kecil dan  polos yang selalu menyandarkan hidupnya pada kemurahan hati dan belas kasih orang lain. Orang kecil dan sederhana biasanya luguh dan bersikap apa adanya, mereka selalu puas dengan rezeki harian yang mereka dapat meski tidak cukup. Karena kesederhanaan mereka, Allah memilih untuk bersahabat dengan mereka dan menyingkapkan diri-Nya untuk dikenal. Karena kesederhanaan pula, mereka dengan suka rela memasrahkan diri pada perlindungan dan penyelenggaraan Tuhan tanpa paksaan dan intimidasi. Karena itu, hati yang bening dan bersih memungkinkan Allah bersemayam di dalam hati dan merajai hidup kita agar kita boleh merasakan rahmat dan kasih-Nya yang berlimpah. Karena itu, berikanlah porsi  waktu yang banyak untuk mengungkapkan rasa syukur kita atas anugerah rahmat dan kebaikan-Nya yang kita peroleh setiap saat lewat sarana doa.       Yesus sendiri telah memberikan contoh dan teladan agung bagi kita agar rasa syukur kita terus dihidupkan untuk memuliakan keagungan Allah. Kita juga dapat belajar dari nasihat St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja yang kita rayakan pestanya hari ini, dimana ia selalu menyeruhkan kepada kita untuk melawan kesombongan diri agar aspek kerendahan hati lebih mendominasi hidup kita sehingga kesadaran kita pulih kembali untuk dapat merasakan dan mengalami rahmat dan kasih Tuhan. Dengan mengusung kerendahan hati, kita memiliki kesempatan lebih untuk mengenal Allah dalam diri Yesus Putera-Nya melalui warta sabda-Nya hari ini. Semoga kita juga selalu berjuang untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah baik di saat suka maupun dalam duka hidup kita. Lebih dari itu, keterbukaan hati menjadi sangat penting yang memungkinkan kita dapat menerima kehadiran Tuhan dan segala kebaikan-Nya dalam diri sesama kita. ***Bernad Wadan***

Senin, 13 Juli 2020

Makna Mujizat dan Kecaman Yesus


Mat 11:20-24
Yesus mengecam beberapa kota di antaranya Khorazim, Betsaida dan Kapernaum yang terletak di seputaran pantai utara danau Galilea. Alasannya adalah karena di kota-kota itu Yesus melakukan banyak mujizat, akan tetapi orang-orang dari kota-kota itu tidak bertobat.

Mujizat adalah tanda dari Allah yang mengungkapkan kasih dan kebaikan hati-Nya. Dengan mujizat yang dilakukan-Nya, Yesus menunjukkan kemurahan dan belas kasih Allah; Ia menyatakan keprihatinan dan kepedulian Allah terhadap situasi manusia yang dipenuhi dengan berbagai dosa dan kesalahan yang mencelakakan, dan memanggil manusia kembali kepada-Nya. Tidak pernah Allah melakukan mujizat hanya untuk mendemonstrasikan kekuasaan-Nya semata. Ia melakukannya sebagai panggilan kepada pertobatan.

Ketika Yesus menyatakan bahwa banyak mujizat yang dilakukan di kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum sesungguhnya Ia menyatakan betapa besar kasih Allah akan kota-kota itu dan memanggil mereka untuk bertobat. Besarnya kasih Allah itu berarti pula semakin besar tuntutan Allah terhadap orang-orang dari kota-kota itu untuk bertobat.

Maka ketika Yesus melakukan banyak mujizat maka Ia sebenarnya  sungguh-sungguh mau membuka hati orang-orang untuk mengalami betapa Ia begitu murah hati dan memanggil mereka kepada pertobatan. Akan tetapi tidak sedikit pun orang-orang dari kota-kota itu menanggapi kemurahan hati Allah itu. Mereka menolak rahmat Allah dan karya Allah yang memanggil mereka kepada keselamatan.

Sebaliknya yang ditunjukkan adalah rasa superioritas diri mereka. Dalam keangkuhan dan kesombongan mereka memandang diri mereka sebagai pusat kehidupan. Allah ditinggalkan dan mereka beralih kepada diri mereka sendiri. Kesuksesan dan keberhasilan adalah hasil kerja mereka sendiri, bukan anugera dari Allah.

Oleh karena ketegaran hati maka Yesus mengecam kota-kota itu. Mengecam menunjuk kepada kemarahan yang mendalam namun dilatari oleh kasih-Nya. Yesus marah oleh karena kasih demi kebaikan dan keselamatan mereka sendiri tidak ditanggapi secara positif.

Penolakan atas kasih Allah itu membuat kecaman itu menjadi riil. Kecaman mengacu kepada penderitaan yang hebat, suatu pengalaman akan keadaan tidak selamat. Menolak kasih Allah berarti membuat keadaan penderitaan hebat itu menjadi nyata dalam hidup.

Akan tetapi kecaman itu datangnya dari Allah yang berbelas kasih, maka Allah juga tidak akan pernah menolak setiap orang yang mendengarkan Dia betapapun besarnya dosa dan kesalahan yang dibuat. Ia membenci dosa akan tetapi mencintai pendosa yang bertobat. Maka ketika orang sadar oleh kecaman itu dan mau berbalik kepada Allah tentunya akan disambut oleh Allah yang berbelas kasih itu. Sungguh Allah murah hati!

Kecaman yang dilakukan Yesus sebagaimana yang diceritakan dalam Injil hari ini sudah terjadi beribu-ribu tahun yang silam. Namun kecaman itu tidak terlucuti oleh zaman yang berubah, melainkan menjadi semakin aktual dalam situasi zaman sekarang yang ditandai dengan pola perilaku hidup yang tidak berbeda dengan orang-orang dari ketiga kota yang dikecam Yesus. Kita melakukan dosa dan kesalahan yang sama.

Yesus mengecam hidup kita karena kita mengutamakan diri kita sebagai pusat kehidupan. Kita adalah diri kita sendiri. Dalam kesombongan dan keangkuhan, kita mengingkari Dia yang berperan dalam hidup kita dan memberikan kita anugerah hidup dari waktu ke waktu.

Kesuksesan dalam hidup kita pandang sebagai hasil usaha sendiri; kebaikan yang kita tunjukkan juga hasil produksi hati kita secara mandiri; mujizat yang dilakukan-Nya pun tidak kita pandang lebih dari sekadar pengalaman hidup manusiawi yang dapat terjadi begitu saja. Di atas semuanya itu kita mau hidup menurut keinginan hati kita sendiri tanpa peduli bahwa Dia berulang kali datang dalam berbagai cara untuk mengingatkan kita dan memanggil kita ke jalan yang benar.

Ketegaran hati ini membawa konsekuensi bahwa kita mengaktualisasikan kecaman Yesus sebagai suatu hukuman bagi diri kita sendiri, meskipun Yesus tidak pernah menginginkan hal itu terjadi pada diri kita. Yang diingikan Yesus adalah pertobatan. Ia mau kita kembali kepada Dia dan membangun kedekatan dengan Dia. Ada relasi intim dengan-Nya.

Jika kita membuka hati kepada Dia dan memaknai kecaman-Nya atas diri kita sebagai tanda kasih-Nya yang besar kepada kita, maka kita akan memandang kecaman-Nya sebagai suatu panggilan kepada pertobatan dan pengudusan hidup dari dosa kita. Kita mengerti bahwa ada suatu hal mendasar yang dituntut dari kita, tetapi kita tidak peduli dan kecaman dapat digunakan untuk menyadarkan kita pada hal yang mendasar itu dan kita bisa tergerak untuk menanggapinya secara positif.

Melalui refleksi ini kita disadarkan bahwa Allah itu begitu murah hati kepada kita umat-Nya. Demi kasih-Nya kepada kita, Ia menggunakan berbagai cara untuk membuat hati kita berbalik kepada-Nya. Kecuali jika kita menolaknya secara radikal maka Allah menghargai pilihan bebas kita dengan konsekuensi bahwa penderitaan besar atau keadaan tidak selamat akan menjadi suatu keadaan yang tidak dapat dielakkan.

Ajakan bagi kita adalah marilah kita membuka hati kepada Dia dan menanggapi apapun yang Tuhan kehendaki terjadi dalam hidup kita secara positif agar baik dan selamatlah keadaan kita baik di dunia ini maupun dunia yang akan datang.***Apol Wuwur***

Kamis, 09 Juli 2020

Memberi Salam


Mat 10:7-15
Memberi salam adalah suatu kelaziman dalam hidup manusia. Seperti dalam tradisi dan adat-istiadat kita, orang-orang Yahudi memberikan salam kepada setiap orang yang dijumpai atau ketika menyambut seseorang.

Lebih dari sekadar sikap etis dalam sebuah relasi sosial, memberikan salam sesungguhnya berarti memberikan damai sesuai maknanya. Ketika seorang memberi salam, ia sebenarnya berharap dan berdoa bagi orang kepada siapa salam itu ditujukan, agar Allah Tuhan menganugerahkan damai sejahtera kepadanya. Tuhan dan anugerah-Nya yang termulia dihadirkan bagi orang yang diberi salam.

Tuhan memberikan damai-Nya bagi manusia. Misalnya, ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya, Ia memberikan salam: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Luk 24:36). Para murid yang telah menerima anugerah salam itu dipanggil untuk membagikan salam itu kepada orang lain. Maka ketika para murid memberikan salam, mereka mengambil bagian secara aktif dalam tindakan Allah yang menganugerahkan damai sejahtera kepada manusia.

Gambaran tentang panggilan itu dapat pula kita telusuri dari perintah Yesus dalam Injil hari ini. Yesus meminta para murid-Nya untuk memberi salam ketika mereka masuk rumah orang (Mat 10:12). Yesus yang memberi perintah maka ketika mereka melaksanakan perintah itu mereka bertindak atas nama Yesus. Jadi, para murid adalah pribadi-pribadi yang secara resmi dan otoritatif memberikan atau membagikan damai sejahtera Yesus kepada semua orang dalam rumah yang mereka datangi.

Sebagaimana lazimnya, salam itu diberikan sebagai suatu persiapan hati bagi komunikasi yang lebih intens dalam suatu perjumpaan manusiawi, demikian pula dalam kehidupan murid-murid Tuhan, salam diberikan juga menjadi suatu persiapan hati orang-orang kepada siapa Injil diwartakan.

Hati yang diliputi damai sejahtera ketika menerima salam itu akan membuka ruang bagi perjumpaan ilahi dan insani. Dalam perjumpaan itu hati manusia dijadikan Allah sendiri menjadi tempat yang subur bagi penyemaian benih sabda Allah dan membiarkannya bertumbuh dan menghasilkan buah, yaitu damai dan sejahtera yang lebih penuh. Kecuali jika salam itu ditolak, maka anugerah damai sejahtera itu tidak berkenan pada orang, tanda bahwa hati mereka tidak mau menerima warta Injil.

Inilah dasar bagi kita untuk memahami kata-kata Yesus: “Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu” (Mat 10:13-14).

Kita belajar dari Injil hari ini untuk menilik dan memaknai bahwa kita memiliki panggilan yang sama untuk membawa salam untuk semua orang yang kita jumpai dalam hidup kita. Pertama-tama kita memaknai bahwa memberi salam sebagaimana lazim kita lakukan bukanlah sekadar tuntutan etis sebuah relasi sosial, melainkan suatu panggilan iman di mana kita mau membagikan damai dan sejahtera dari Tuhan, dan itu sama dengan menghadirkan Tuhan dalam hidup orang.

Kesadaran ini akan menolong kita untuk menghayati iman dalam suatu tata pergaulan sosial yang sehat, tanpa manipulasi, dan tata perilaku iman kita itu akan memberi nilai spiritual kepada tata pergaulan itu. Tuhan hadir dalam diri kita dan orang kepada siapa salam itu kita berikan. Jika Tuhan ada di dalam setiap perjumpaan kita maka kita akan terdorong untuk membangun dan mengembangkan suatu relasi yang lebih berkualitas di mana damai dan sejahtera yang lebih sempurna dapat dialami dan dirasakan lebih nyata.

Ketika kita memiliki suatu relasi yang lebih sehat dan manusiawi kita akan terbuka untuk dapat mewartakan kebenaran Injil secara lebih leluasa. Acapkali kita gagal dalam misi membawa kebaikan bagi orang lain meskipun kita memiliki panggilan dan motivasi murni oleh karena kita tidak menciptakan terlebih dahulu situasi “salam” dalam diri orang lain untuk siapa misi kebaikan itu kita kiblatkan. Kita berpikir kita memiliki misi baik dan serta merta kita melakukannya tanpa mempertimbangkan suasana hati orang yang perlu dikondisikan terlebih dahulu.

Yesus meminta kita agar memberikan salam kepada orang yang kita datangi atau jumpai yang berarti menghadirkan Tuhan dalam diri orang itu agar damai sejahtera Tuhan menaungi hati orang itu. Kepentingan kita kita tanggalkan (emas, perak, tembaga, bekal, baju dua helai, kasut dan tongkat) agar kepentingan Tuhan sungguh diutamakan.

Jika kepentingan Tuhan yang kita utamakan maka tingkat ekspetasinya dapat dijamin. Sebaliknya ketika kita diperhadapkan dengan kegagalan, kita tidak akan mudah terjebak dalam pesimisme dan kehilangan harapan yang mematikan gerakan misioner kita, melainkan tetap optimis bahwa Tuhanlah yang akan menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Maka ketika kita ditolak sebenarnya bukan kitalah yang ditolak, melainkan Tuhanlah yang telah memanggil dan mengutus kita untuk membawa damai sejahtera itulah yang ditolak.

Di akhir dari refleksi kita, baiklah kita mencamkan bahwa kita dipanggil Tuhan untuk membawa salam dan Injil-Nya kepada orang lain, akan tetapi juga sebagai seorang murid yang mau bertumbuh dalam tingkatan kualitas yang lebih tinggi kita juga adalah sasaran dari Injil. Dan berkenaan dengan ini, maka baiklah kita merefleksikan lebih dalam bahwa kita juga sebenarnya menjadi sasaran penginjilan atau penginjilan kembali. Kepada kita “salam” Tuhan diarahkan dan keterbukaan kita akan salam ini membawa kita kepada kesediaan untuk menerima kebenaran-Nya yang dibawa kepada kita.

Kita membawa salam, tetapi kita juga menerima salam Tuhan. Demikianlah terjadi terus-menerus dalam hidup kita dan kita bertumbuh menjadi murid-Nya yang setia dan taat kepada-Nya.***Apol wuwur***

Minggu, 05 Juli 2020

TUHAN TELAH MEMANGGIL KITA


Mat 10: 1-7
Pernah ada seorang mantan atasan saya, dengan semangat berapi-api mengatakan demikian: “Keberhasilan yang diraih oleh kantor ini bukanlah prestasi saya sebagai pucuk pemimpin, tetapi prestasi kita semua, semua pimpinan unit, semua pelaksana, yang telah bahu membahu, bekerja dengan ulet, menjalin kerjasama yang apik mewujudkan prestasi itu.” Pernyataan ini tidak sekedar ungkapan apresiatif dari sang pemimpin tersebut. Lebih dari itu, ia menyadari dengan sungguh keterbatasannya sebagai seorang individu yang tidak mungkin bekerja sendiri membangun sebuah roda organisasi yang besar. Ia membutuhkan orang lain sebagai mitra kerja yang akan menopang setiap kebijakan atau keputusan yang ia ambil. Tanpa dukungan orang lain sebagai mitra kerjanya, tidak mungkin segala program dan rencana kerja dari organisasi yang ia pimpin dapat dieksekusi dengan baik. Malahan akan membawa organisasi itu semakin terpuruk dan tenggelam. Kerjasama yang solid antara pemimpin dan para bawahannya adalah salah kunci utama dalam membangun sebuah sebuah roda organisasi. Sekecil apa pun organisasi itu, aspek kerjasama menjadi fondasi utama.

Begitu pun dengan konteks bacaan pada hari ini (Mat 10:1-7), Yesus menyadari dengan sungguh bahwa tidak mungkin ia dapat bekerja sendirian, membangun proyek keselamatan yang telah diinisiasi oleh Bapa-Nya di sorga bagi umat manusia. Dalam komunitas kecil yang Ia pimpin, Yesus tidak sekedar menginginkan orang-orang hanya sebagai pengikut biasa. Yesus membutuhkan orang-orang yang bisa memahami apa yang Ia katakan dan Ia lakukan (semacam program-program kerja ilahi). Kemudian orang-orang itu bisa menerjemahkannya dalam tindakan-tindakan konkrit yang bisa mempengaruhi dan menarik sebanyak orang untuk masuk dalam area Kerajaan Sorga. Sehebat apa pun diri-Nya sebagai makluk ilahi, ia tetap membutuhkan para pembantu yang setia dan militan. Para pembantu-Nya ini yang akan menjadi mitra kerja-Nya dalam mewujudkan proyek ilahi, membawa umat manusia menuju keselamatan kekal. Oleh karena itu, pada hari ini (Senin/6/7/2020), Yesus memanggil kedua belas murid untuk menjadi mitra kerja-Nya. Kedua belas murid itu adalah Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot (Mat 10:2-4).

Tidak hanya memanggil para murid-Nya, Yesus juga mengutus mereka untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada segenap makhluk terutama kepada orang-orang yang telah tersesat. Dengan misi khusus “Pegilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat 10:7), Yesus memberikan amanat khusus kepada para murid-Nya untuk membawa kembali “domba-domba” yang telah menyimpang dari jalan kebenaran. Ada banyak orang Israel ketika itu yang hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mereka tidak lagi mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Segala ritus agama yang mereka praktekkan hanya sekedar formalitas belaka agar dilihat dan diakui oleh orang lain. Banyak orang Israel juga tidak menghargai orang lain sebagai sesamanya manusia. Mereka suka berlaku tidak jujur, bertindak tidak adil, menindas sesamanya demi memuaskan nafsu dan kepentingan pribadi. Dan masih banyak tindakan destruktif lainnya yang membuktikan bahwa orang Israel telah tersesat dari hakikat pribadinya sebagai makluk ciptaan Tuhan. Kepada orang-orang inilah Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi dan membawa pertobatan bagi mereka. Tidak hanya kepada para pelaku kejahatan, tetapi juga kepada mereka yang menjadi korban dari tindakan kejahatan. Mereka yang tidak berdaya dan termarginalisasi dari kehidupannya. Para murid Yesus akan datang untuk menghibur dan menguatkan hidup mereka sehingga mereka tidak berputus asa. Kerajaan Sorga sudah dekat mengindikasikan bahwa karya nyata Allah sudah ada dan sementara merajai hidup manusia. Manusia harus segera bertobat dan kembali ke jalan kebenaran. Memang tidak mudah tugas yang diemban oleh para murid. Namun dengan kuasa ilahi yang telah diwariskan oleh Yesus, mereka dapat menuntaskan misi keselamatan dengan sukses.

Hari ini, kita semua diingatkan oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya yang setia dan militan. Kita kembali mengingat saat dimana kita dibaptis dan secara resmi menjadi anggota gereja Katolik. Kita telah dipanggil dengan nama kita masing-masing untuk mengikuti Yesus. Dan dengan meterai pembaptisan itu, kita secara sah telah menjadi mitra kerja Yesus untuk mewujudkan karya keselamatan Allah di muka bumi. Tentu tidak mudah menjadi murid Yesus di era ini. Kita dituntut untuk menjaga integritas pribadi agar keteladanan hidup yang kita bawa sungguh menulari hidup orang lain di tengah kita. Inilah panggilan kemuridan kita yang paling sederhana. Kita tidak mungkin membenahi orang lain menjadi baik, sebelum kita membenahi diri kita menjadi baik terlebih dahulu. Mari kita sungguh menyadari panggilan kemuridan kita sebagai murid Yesus. Bukan seorang murid dengan kadar yang biasa-biasa saja. Tetapi seorang murid yang setia dan militan untuk memberikan keteladan hidup kepada orang lain melalui kata-kata dan perbuatan nyata kita setiap hari. Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang bertobat dan kembali ke jalan kebenaran. Jalan yang membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***