Kamis, 09 Juli 2020

Memberi Salam


Mat 10:7-15
Memberi salam adalah suatu kelaziman dalam hidup manusia. Seperti dalam tradisi dan adat-istiadat kita, orang-orang Yahudi memberikan salam kepada setiap orang yang dijumpai atau ketika menyambut seseorang.

Lebih dari sekadar sikap etis dalam sebuah relasi sosial, memberikan salam sesungguhnya berarti memberikan damai sesuai maknanya. Ketika seorang memberi salam, ia sebenarnya berharap dan berdoa bagi orang kepada siapa salam itu ditujukan, agar Allah Tuhan menganugerahkan damai sejahtera kepadanya. Tuhan dan anugerah-Nya yang termulia dihadirkan bagi orang yang diberi salam.

Tuhan memberikan damai-Nya bagi manusia. Misalnya, ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya, Ia memberikan salam: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Luk 24:36). Para murid yang telah menerima anugerah salam itu dipanggil untuk membagikan salam itu kepada orang lain. Maka ketika para murid memberikan salam, mereka mengambil bagian secara aktif dalam tindakan Allah yang menganugerahkan damai sejahtera kepada manusia.

Gambaran tentang panggilan itu dapat pula kita telusuri dari perintah Yesus dalam Injil hari ini. Yesus meminta para murid-Nya untuk memberi salam ketika mereka masuk rumah orang (Mat 10:12). Yesus yang memberi perintah maka ketika mereka melaksanakan perintah itu mereka bertindak atas nama Yesus. Jadi, para murid adalah pribadi-pribadi yang secara resmi dan otoritatif memberikan atau membagikan damai sejahtera Yesus kepada semua orang dalam rumah yang mereka datangi.

Sebagaimana lazimnya, salam itu diberikan sebagai suatu persiapan hati bagi komunikasi yang lebih intens dalam suatu perjumpaan manusiawi, demikian pula dalam kehidupan murid-murid Tuhan, salam diberikan juga menjadi suatu persiapan hati orang-orang kepada siapa Injil diwartakan.

Hati yang diliputi damai sejahtera ketika menerima salam itu akan membuka ruang bagi perjumpaan ilahi dan insani. Dalam perjumpaan itu hati manusia dijadikan Allah sendiri menjadi tempat yang subur bagi penyemaian benih sabda Allah dan membiarkannya bertumbuh dan menghasilkan buah, yaitu damai dan sejahtera yang lebih penuh. Kecuali jika salam itu ditolak, maka anugerah damai sejahtera itu tidak berkenan pada orang, tanda bahwa hati mereka tidak mau menerima warta Injil.

Inilah dasar bagi kita untuk memahami kata-kata Yesus: “Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu” (Mat 10:13-14).

Kita belajar dari Injil hari ini untuk menilik dan memaknai bahwa kita memiliki panggilan yang sama untuk membawa salam untuk semua orang yang kita jumpai dalam hidup kita. Pertama-tama kita memaknai bahwa memberi salam sebagaimana lazim kita lakukan bukanlah sekadar tuntutan etis sebuah relasi sosial, melainkan suatu panggilan iman di mana kita mau membagikan damai dan sejahtera dari Tuhan, dan itu sama dengan menghadirkan Tuhan dalam hidup orang.

Kesadaran ini akan menolong kita untuk menghayati iman dalam suatu tata pergaulan sosial yang sehat, tanpa manipulasi, dan tata perilaku iman kita itu akan memberi nilai spiritual kepada tata pergaulan itu. Tuhan hadir dalam diri kita dan orang kepada siapa salam itu kita berikan. Jika Tuhan ada di dalam setiap perjumpaan kita maka kita akan terdorong untuk membangun dan mengembangkan suatu relasi yang lebih berkualitas di mana damai dan sejahtera yang lebih sempurna dapat dialami dan dirasakan lebih nyata.

Ketika kita memiliki suatu relasi yang lebih sehat dan manusiawi kita akan terbuka untuk dapat mewartakan kebenaran Injil secara lebih leluasa. Acapkali kita gagal dalam misi membawa kebaikan bagi orang lain meskipun kita memiliki panggilan dan motivasi murni oleh karena kita tidak menciptakan terlebih dahulu situasi “salam” dalam diri orang lain untuk siapa misi kebaikan itu kita kiblatkan. Kita berpikir kita memiliki misi baik dan serta merta kita melakukannya tanpa mempertimbangkan suasana hati orang yang perlu dikondisikan terlebih dahulu.

Yesus meminta kita agar memberikan salam kepada orang yang kita datangi atau jumpai yang berarti menghadirkan Tuhan dalam diri orang itu agar damai sejahtera Tuhan menaungi hati orang itu. Kepentingan kita kita tanggalkan (emas, perak, tembaga, bekal, baju dua helai, kasut dan tongkat) agar kepentingan Tuhan sungguh diutamakan.

Jika kepentingan Tuhan yang kita utamakan maka tingkat ekspetasinya dapat dijamin. Sebaliknya ketika kita diperhadapkan dengan kegagalan, kita tidak akan mudah terjebak dalam pesimisme dan kehilangan harapan yang mematikan gerakan misioner kita, melainkan tetap optimis bahwa Tuhanlah yang akan menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Maka ketika kita ditolak sebenarnya bukan kitalah yang ditolak, melainkan Tuhanlah yang telah memanggil dan mengutus kita untuk membawa damai sejahtera itulah yang ditolak.

Di akhir dari refleksi kita, baiklah kita mencamkan bahwa kita dipanggil Tuhan untuk membawa salam dan Injil-Nya kepada orang lain, akan tetapi juga sebagai seorang murid yang mau bertumbuh dalam tingkatan kualitas yang lebih tinggi kita juga adalah sasaran dari Injil. Dan berkenaan dengan ini, maka baiklah kita merefleksikan lebih dalam bahwa kita juga sebenarnya menjadi sasaran penginjilan atau penginjilan kembali. Kepada kita “salam” Tuhan diarahkan dan keterbukaan kita akan salam ini membawa kita kepada kesediaan untuk menerima kebenaran-Nya yang dibawa kepada kita.

Kita membawa salam, tetapi kita juga menerima salam Tuhan. Demikianlah terjadi terus-menerus dalam hidup kita dan kita bertumbuh menjadi murid-Nya yang setia dan taat kepada-Nya.***Apol wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar