Senin, 13 Juli 2020

Makna Mujizat dan Kecaman Yesus


Mat 11:20-24
Yesus mengecam beberapa kota di antaranya Khorazim, Betsaida dan Kapernaum yang terletak di seputaran pantai utara danau Galilea. Alasannya adalah karena di kota-kota itu Yesus melakukan banyak mujizat, akan tetapi orang-orang dari kota-kota itu tidak bertobat.

Mujizat adalah tanda dari Allah yang mengungkapkan kasih dan kebaikan hati-Nya. Dengan mujizat yang dilakukan-Nya, Yesus menunjukkan kemurahan dan belas kasih Allah; Ia menyatakan keprihatinan dan kepedulian Allah terhadap situasi manusia yang dipenuhi dengan berbagai dosa dan kesalahan yang mencelakakan, dan memanggil manusia kembali kepada-Nya. Tidak pernah Allah melakukan mujizat hanya untuk mendemonstrasikan kekuasaan-Nya semata. Ia melakukannya sebagai panggilan kepada pertobatan.

Ketika Yesus menyatakan bahwa banyak mujizat yang dilakukan di kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum sesungguhnya Ia menyatakan betapa besar kasih Allah akan kota-kota itu dan memanggil mereka untuk bertobat. Besarnya kasih Allah itu berarti pula semakin besar tuntutan Allah terhadap orang-orang dari kota-kota itu untuk bertobat.

Maka ketika Yesus melakukan banyak mujizat maka Ia sebenarnya  sungguh-sungguh mau membuka hati orang-orang untuk mengalami betapa Ia begitu murah hati dan memanggil mereka kepada pertobatan. Akan tetapi tidak sedikit pun orang-orang dari kota-kota itu menanggapi kemurahan hati Allah itu. Mereka menolak rahmat Allah dan karya Allah yang memanggil mereka kepada keselamatan.

Sebaliknya yang ditunjukkan adalah rasa superioritas diri mereka. Dalam keangkuhan dan kesombongan mereka memandang diri mereka sebagai pusat kehidupan. Allah ditinggalkan dan mereka beralih kepada diri mereka sendiri. Kesuksesan dan keberhasilan adalah hasil kerja mereka sendiri, bukan anugera dari Allah.

Oleh karena ketegaran hati maka Yesus mengecam kota-kota itu. Mengecam menunjuk kepada kemarahan yang mendalam namun dilatari oleh kasih-Nya. Yesus marah oleh karena kasih demi kebaikan dan keselamatan mereka sendiri tidak ditanggapi secara positif.

Penolakan atas kasih Allah itu membuat kecaman itu menjadi riil. Kecaman mengacu kepada penderitaan yang hebat, suatu pengalaman akan keadaan tidak selamat. Menolak kasih Allah berarti membuat keadaan penderitaan hebat itu menjadi nyata dalam hidup.

Akan tetapi kecaman itu datangnya dari Allah yang berbelas kasih, maka Allah juga tidak akan pernah menolak setiap orang yang mendengarkan Dia betapapun besarnya dosa dan kesalahan yang dibuat. Ia membenci dosa akan tetapi mencintai pendosa yang bertobat. Maka ketika orang sadar oleh kecaman itu dan mau berbalik kepada Allah tentunya akan disambut oleh Allah yang berbelas kasih itu. Sungguh Allah murah hati!

Kecaman yang dilakukan Yesus sebagaimana yang diceritakan dalam Injil hari ini sudah terjadi beribu-ribu tahun yang silam. Namun kecaman itu tidak terlucuti oleh zaman yang berubah, melainkan menjadi semakin aktual dalam situasi zaman sekarang yang ditandai dengan pola perilaku hidup yang tidak berbeda dengan orang-orang dari ketiga kota yang dikecam Yesus. Kita melakukan dosa dan kesalahan yang sama.

Yesus mengecam hidup kita karena kita mengutamakan diri kita sebagai pusat kehidupan. Kita adalah diri kita sendiri. Dalam kesombongan dan keangkuhan, kita mengingkari Dia yang berperan dalam hidup kita dan memberikan kita anugerah hidup dari waktu ke waktu.

Kesuksesan dalam hidup kita pandang sebagai hasil usaha sendiri; kebaikan yang kita tunjukkan juga hasil produksi hati kita secara mandiri; mujizat yang dilakukan-Nya pun tidak kita pandang lebih dari sekadar pengalaman hidup manusiawi yang dapat terjadi begitu saja. Di atas semuanya itu kita mau hidup menurut keinginan hati kita sendiri tanpa peduli bahwa Dia berulang kali datang dalam berbagai cara untuk mengingatkan kita dan memanggil kita ke jalan yang benar.

Ketegaran hati ini membawa konsekuensi bahwa kita mengaktualisasikan kecaman Yesus sebagai suatu hukuman bagi diri kita sendiri, meskipun Yesus tidak pernah menginginkan hal itu terjadi pada diri kita. Yang diingikan Yesus adalah pertobatan. Ia mau kita kembali kepada Dia dan membangun kedekatan dengan Dia. Ada relasi intim dengan-Nya.

Jika kita membuka hati kepada Dia dan memaknai kecaman-Nya atas diri kita sebagai tanda kasih-Nya yang besar kepada kita, maka kita akan memandang kecaman-Nya sebagai suatu panggilan kepada pertobatan dan pengudusan hidup dari dosa kita. Kita mengerti bahwa ada suatu hal mendasar yang dituntut dari kita, tetapi kita tidak peduli dan kecaman dapat digunakan untuk menyadarkan kita pada hal yang mendasar itu dan kita bisa tergerak untuk menanggapinya secara positif.

Melalui refleksi ini kita disadarkan bahwa Allah itu begitu murah hati kepada kita umat-Nya. Demi kasih-Nya kepada kita, Ia menggunakan berbagai cara untuk membuat hati kita berbalik kepada-Nya. Kecuali jika kita menolaknya secara radikal maka Allah menghargai pilihan bebas kita dengan konsekuensi bahwa penderitaan besar atau keadaan tidak selamat akan menjadi suatu keadaan yang tidak dapat dielakkan.

Ajakan bagi kita adalah marilah kita membuka hati kepada Dia dan menanggapi apapun yang Tuhan kehendaki terjadi dalam hidup kita secara positif agar baik dan selamatlah keadaan kita baik di dunia ini maupun dunia yang akan datang.***Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar