Mat 10: 1-7
Pernah ada seorang mantan atasan saya, dengan semangat berapi-api
mengatakan demikian: “Keberhasilan yang diraih oleh kantor ini bukanlah
prestasi saya sebagai pucuk pemimpin, tetapi prestasi kita semua, semua
pimpinan unit, semua pelaksana, yang telah bahu membahu, bekerja dengan ulet,
menjalin kerjasama yang apik mewujudkan prestasi itu.” Pernyataan ini tidak
sekedar ungkapan apresiatif dari sang pemimpin tersebut. Lebih dari itu, ia
menyadari dengan sungguh keterbatasannya sebagai seorang individu yang tidak
mungkin bekerja sendiri membangun sebuah roda organisasi yang besar. Ia
membutuhkan orang lain sebagai mitra kerja yang akan menopang setiap kebijakan
atau keputusan yang ia ambil. Tanpa dukungan orang lain sebagai mitra kerjanya,
tidak mungkin segala program dan rencana kerja dari organisasi yang ia pimpin
dapat dieksekusi dengan baik. Malahan akan membawa organisasi itu semakin
terpuruk dan tenggelam. Kerjasama yang solid antara pemimpin dan para
bawahannya adalah salah kunci utama dalam membangun sebuah sebuah roda
organisasi. Sekecil apa pun organisasi itu, aspek kerjasama menjadi fondasi
utama.
Begitu pun dengan konteks bacaan pada hari ini (Mat 10:1-7), Yesus
menyadari dengan sungguh bahwa tidak mungkin ia dapat bekerja sendirian,
membangun proyek keselamatan yang telah diinisiasi oleh Bapa-Nya di sorga bagi
umat manusia. Dalam komunitas kecil yang Ia pimpin, Yesus tidak sekedar
menginginkan orang-orang hanya sebagai pengikut biasa. Yesus membutuhkan
orang-orang yang bisa memahami apa yang Ia katakan dan Ia lakukan (semacam
program-program kerja ilahi). Kemudian orang-orang itu bisa menerjemahkannya
dalam tindakan-tindakan konkrit yang bisa mempengaruhi dan menarik sebanyak
orang untuk masuk dalam area Kerajaan Sorga. Sehebat apa pun diri-Nya sebagai
makluk ilahi, ia tetap membutuhkan para pembantu yang setia dan militan. Para
pembantu-Nya ini yang akan menjadi mitra kerja-Nya dalam mewujudkan proyek
ilahi, membawa umat manusia menuju keselamatan kekal. Oleh karena itu, pada
hari ini (Senin/6/7/2020), Yesus memanggil kedua belas murid untuk menjadi
mitra kerja-Nya. Kedua belas murid itu adalah Simon yang disebut Petrus dan
Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus
dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan
Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot (Mat 10:2-4).
Tidak hanya memanggil para murid-Nya, Yesus juga mengutus mereka untuk
pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada segenap makhluk terutama kepada
orang-orang yang telah tersesat. Dengan misi khusus “Pegilah dan beritakanlah:
Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat 10:7), Yesus memberikan amanat khusus kepada
para murid-Nya untuk membawa kembali “domba-domba” yang telah menyimpang dari
jalan kebenaran. Ada banyak orang Israel ketika itu yang hidupnya tidak sesuai
dengan kehendak Allah. Mereka tidak lagi mencintai Allah dengan
sungguh-sungguh. Segala ritus agama yang mereka praktekkan hanya sekedar
formalitas belaka agar dilihat dan diakui oleh orang lain. Banyak orang Israel
juga tidak menghargai orang lain sebagai sesamanya manusia. Mereka suka berlaku
tidak jujur, bertindak tidak adil, menindas sesamanya demi memuaskan nafsu dan
kepentingan pribadi. Dan masih banyak tindakan destruktif lainnya yang
membuktikan bahwa orang Israel telah tersesat dari hakikat pribadinya sebagai
makluk ciptaan Tuhan. Kepada orang-orang inilah Yesus mengutus para murid-Nya
untuk pergi dan membawa pertobatan bagi mereka. Tidak hanya kepada para pelaku
kejahatan, tetapi juga kepada mereka yang menjadi korban dari tindakan
kejahatan. Mereka yang tidak berdaya dan termarginalisasi dari kehidupannya.
Para murid Yesus akan datang untuk menghibur dan menguatkan hidup mereka
sehingga mereka tidak berputus asa. Kerajaan Sorga sudah dekat mengindikasikan
bahwa karya nyata Allah sudah ada dan sementara merajai hidup manusia. Manusia
harus segera bertobat dan kembali ke jalan kebenaran. Memang tidak mudah tugas
yang diemban oleh para murid. Namun dengan kuasa ilahi yang telah diwariskan
oleh Yesus, mereka dapat menuntaskan misi keselamatan dengan sukses.
Hari ini, kita semua diingatkan oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya yang
setia dan militan. Kita kembali mengingat saat dimana kita dibaptis dan secara
resmi menjadi anggota gereja Katolik. Kita telah dipanggil dengan nama kita
masing-masing untuk mengikuti Yesus. Dan dengan meterai pembaptisan itu, kita
secara sah telah menjadi mitra kerja Yesus untuk mewujudkan karya keselamatan
Allah di muka bumi. Tentu tidak mudah menjadi murid Yesus di era ini. Kita
dituntut untuk menjaga integritas pribadi agar keteladanan hidup yang kita bawa
sungguh menulari hidup orang lain di tengah kita. Inilah panggilan kemuridan
kita yang paling sederhana. Kita tidak mungkin membenahi orang lain menjadi
baik, sebelum kita membenahi diri kita menjadi baik terlebih dahulu. Mari kita
sungguh menyadari panggilan kemuridan kita sebagai murid Yesus. Bukan seorang
murid dengan kadar yang biasa-biasa saja. Tetapi seorang murid yang setia dan
militan untuk memberikan keteladan hidup kepada orang lain melalui kata-kata
dan perbuatan nyata kita setiap hari. Dengan demikian, akan semakin banyak
orang yang bertobat dan kembali ke jalan kebenaran. Jalan yang membawa kita
kepada kehidupan yang kekal. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD
Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar