Minggu, 05 Juli 2020

TUHAN TELAH MEMANGGIL KITA


Mat 10: 1-7
Pernah ada seorang mantan atasan saya, dengan semangat berapi-api mengatakan demikian: “Keberhasilan yang diraih oleh kantor ini bukanlah prestasi saya sebagai pucuk pemimpin, tetapi prestasi kita semua, semua pimpinan unit, semua pelaksana, yang telah bahu membahu, bekerja dengan ulet, menjalin kerjasama yang apik mewujudkan prestasi itu.” Pernyataan ini tidak sekedar ungkapan apresiatif dari sang pemimpin tersebut. Lebih dari itu, ia menyadari dengan sungguh keterbatasannya sebagai seorang individu yang tidak mungkin bekerja sendiri membangun sebuah roda organisasi yang besar. Ia membutuhkan orang lain sebagai mitra kerja yang akan menopang setiap kebijakan atau keputusan yang ia ambil. Tanpa dukungan orang lain sebagai mitra kerjanya, tidak mungkin segala program dan rencana kerja dari organisasi yang ia pimpin dapat dieksekusi dengan baik. Malahan akan membawa organisasi itu semakin terpuruk dan tenggelam. Kerjasama yang solid antara pemimpin dan para bawahannya adalah salah kunci utama dalam membangun sebuah sebuah roda organisasi. Sekecil apa pun organisasi itu, aspek kerjasama menjadi fondasi utama.

Begitu pun dengan konteks bacaan pada hari ini (Mat 10:1-7), Yesus menyadari dengan sungguh bahwa tidak mungkin ia dapat bekerja sendirian, membangun proyek keselamatan yang telah diinisiasi oleh Bapa-Nya di sorga bagi umat manusia. Dalam komunitas kecil yang Ia pimpin, Yesus tidak sekedar menginginkan orang-orang hanya sebagai pengikut biasa. Yesus membutuhkan orang-orang yang bisa memahami apa yang Ia katakan dan Ia lakukan (semacam program-program kerja ilahi). Kemudian orang-orang itu bisa menerjemahkannya dalam tindakan-tindakan konkrit yang bisa mempengaruhi dan menarik sebanyak orang untuk masuk dalam area Kerajaan Sorga. Sehebat apa pun diri-Nya sebagai makluk ilahi, ia tetap membutuhkan para pembantu yang setia dan militan. Para pembantu-Nya ini yang akan menjadi mitra kerja-Nya dalam mewujudkan proyek ilahi, membawa umat manusia menuju keselamatan kekal. Oleh karena itu, pada hari ini (Senin/6/7/2020), Yesus memanggil kedua belas murid untuk menjadi mitra kerja-Nya. Kedua belas murid itu adalah Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot (Mat 10:2-4).

Tidak hanya memanggil para murid-Nya, Yesus juga mengutus mereka untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada segenap makhluk terutama kepada orang-orang yang telah tersesat. Dengan misi khusus “Pegilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat 10:7), Yesus memberikan amanat khusus kepada para murid-Nya untuk membawa kembali “domba-domba” yang telah menyimpang dari jalan kebenaran. Ada banyak orang Israel ketika itu yang hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mereka tidak lagi mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Segala ritus agama yang mereka praktekkan hanya sekedar formalitas belaka agar dilihat dan diakui oleh orang lain. Banyak orang Israel juga tidak menghargai orang lain sebagai sesamanya manusia. Mereka suka berlaku tidak jujur, bertindak tidak adil, menindas sesamanya demi memuaskan nafsu dan kepentingan pribadi. Dan masih banyak tindakan destruktif lainnya yang membuktikan bahwa orang Israel telah tersesat dari hakikat pribadinya sebagai makluk ciptaan Tuhan. Kepada orang-orang inilah Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi dan membawa pertobatan bagi mereka. Tidak hanya kepada para pelaku kejahatan, tetapi juga kepada mereka yang menjadi korban dari tindakan kejahatan. Mereka yang tidak berdaya dan termarginalisasi dari kehidupannya. Para murid Yesus akan datang untuk menghibur dan menguatkan hidup mereka sehingga mereka tidak berputus asa. Kerajaan Sorga sudah dekat mengindikasikan bahwa karya nyata Allah sudah ada dan sementara merajai hidup manusia. Manusia harus segera bertobat dan kembali ke jalan kebenaran. Memang tidak mudah tugas yang diemban oleh para murid. Namun dengan kuasa ilahi yang telah diwariskan oleh Yesus, mereka dapat menuntaskan misi keselamatan dengan sukses.

Hari ini, kita semua diingatkan oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya yang setia dan militan. Kita kembali mengingat saat dimana kita dibaptis dan secara resmi menjadi anggota gereja Katolik. Kita telah dipanggil dengan nama kita masing-masing untuk mengikuti Yesus. Dan dengan meterai pembaptisan itu, kita secara sah telah menjadi mitra kerja Yesus untuk mewujudkan karya keselamatan Allah di muka bumi. Tentu tidak mudah menjadi murid Yesus di era ini. Kita dituntut untuk menjaga integritas pribadi agar keteladanan hidup yang kita bawa sungguh menulari hidup orang lain di tengah kita. Inilah panggilan kemuridan kita yang paling sederhana. Kita tidak mungkin membenahi orang lain menjadi baik, sebelum kita membenahi diri kita menjadi baik terlebih dahulu. Mari kita sungguh menyadari panggilan kemuridan kita sebagai murid Yesus. Bukan seorang murid dengan kadar yang biasa-biasa saja. Tetapi seorang murid yang setia dan militan untuk memberikan keteladan hidup kepada orang lain melalui kata-kata dan perbuatan nyata kita setiap hari. Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang bertobat dan kembali ke jalan kebenaran. Jalan yang membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar