Small is powerfull. Sebuah ungkapan dalam
bahasa Inggris yang memiliki arti “kecil yang berkekuatan.” Dalam arti lain,
kalimat itu mau mengungkapkan bahwa sesuatu yang kelihatan kecil belum tentu
tidak memiliki kekuatan atau kemampuan. Justru dari sesuatu yang kecil itu sebenarnya
bisa tersembul sebuah potensi yang maha dasyat. Ungkapan bahasa Inggris di atas
secara otomatis menegasikan stereoritip yang menegaskan bahwa sesuatu yang
kecil tidak mempunyai kekuatan atau kemampuan. Sesuatu yang kecil mewakili
kelemahan dan ketidakberdayaan. Namun tidak bisa digeneralisir demikian.
Sesuatu yang kecil acapkali memberi energi positif yang luar biasa. Bahkan di
luar akal sehat manusia. Sesuatu yang kecil ternyata tidak kecil. Ia bisa
mempresentasikan sesuatu yang prestisius dan memberi kebanggaan bagi segenap
orang yang melihat atau merasakan imbasnya.
Seperti dalam bacaan Injil (Mat 13:31-35) yang kita baca pada hari ini
(Senin/27/7/2020). Yesus membentangkan dua perumpamaan sederhana dan praktis
yang mewakili entitas Kerajaan Sorga. Yesus mengibaratkan Kerajaan Sorga dengan
dua materi yang kelihatan kecil. Dua materi itu adalah biji sesawi dan ragi.
Biji sesawi adalah sejenis biji tumbuhan yang paling kecil dari biji-biji
tumbuhan yang lain. Tetapi apabila tumbuh, ia akan berkembang menjadi sayuran
yang lebih besar. “Bahkan menjadi pohon sehingga burung-burung di udara datang
bersarang pada cabang-cabangnya” (Mat 13:32). Pada masa Yesus, tanaman sesawi
tidak menjadi tanaman favorit. Tumbuhan ini adalah tumbuhan liar dan dianggap
sejenis gulma atau hama yang menghalangi laju perkembangan tanaman lain.
Sehingga sawi menjadi tanaman yang tidak mendatangkan keuntungan dibandingkan
tanaman yang lain. Selanjutnya ragi adalah sejenis zat yang menjadi bahan baku
untuk membuat roti. Tanpa ragi, adonan roti tidak akan mengembang menjadi
sebuah adonan yang baik. Dalam adonan terigu yang banyak, sedikit saja ragi
yang ditambahkan akan membuat adonan bisa dibentuk menjadi roti yang indah dan
manis. Pada masa Yesus, ragi kurang disukai karena menimbulkan aroma yang tidak
sedap.
Tetapi di mata Yesus, kedua jenis materi yakni sawi dan ragi telah
mengalami pergeseran makna. Dari makna yang negatif berkembang menjadi makna
yang sungguh positif. Sawi dan ragi adalah dua materi yang kelihatan kecil,
tidak berharga dan tidak bernilai. Namun di balik image miring tersebut, sawi dan ragi memainkan peran sebaliknya.
Dari biji sawi yang bijinya paling kecil dari biji-biji yang lain tumbuh pohon
besar sehingga dapat menjadi naungan dan tempat singgah pelbagai jenis burung.
Begitu pun dari ragi yang minimalis dapat membantu adonan roti menjadi
mengembang. Roti bisa menjadi enak karena ada peran ragi di dalamnya. Dua
materi ini yang dijadikan Yesus sebagai ungkapan simbolik untuk menggambarkan
peran Kerajaan Sorga yang dibawa Yesus ke dalam dunia. Term Kerajaan Sorga
disamakan juga dengan term Kerajaan Allah. Dua term ini menunjuk pada peran
nyata Allah yang sudah ada sekaligus sementara berkarya di tengah dunia. Peran
nyata Allah itu telah mewujud dalam Pribadi Ilahi Yesus yang telah berinkarnasi
menjadi manusia biasa. Yesus yang datang dalam rupa manusia kecil dan hina
sebenarnya sementara membawa misi besar nan mulia dari Sang Bapa di Sorga untuk
menyelamatkan umat manusia dari kedosaannya.
Ibarat biji sesawi dan ragi, demikian pula Yesus harus kelihatan kecil,
hina dan tidak berdaya. Dalam
kekecilan-Nya itu, Yesus berusaha menancapkan misi Kerajaan Sorga dengan sabda
mulia dan tindakan nyata yang menyasar semua orang. Terutama orang-orang kecil
dan hina yang sangat merindukan kehadiran seorang penyelamat seperti Yesus.
Misi kerajaan Allah yang dinakhodai oleh Yesus memang tidak berjalan mulus. Ada
banyak sekali tantangan yang mempersulit gerak maju misi Kerajaan Allah. Baik
bagi mereka yang memang kurang sreg atau tidak sejalan dengan ajaran Yesus atau
juga bagi mereka yang merasa jabatan duniawinya terancam dengan kehadiran Yesus
di muka publik. Yang patut diapresiasi bahwa misi Kerajaan Allah yang
sebelumnya tidak pernah dianggap perlahan namun pasti menemukan irama yang
semakin jelas dan pasti. Ia mulai berakar dan kokoh. Indikasinya, ada begitu
banyak orang yang tercerahkan dengan ajaran Yesus. Mereka menjadi percaya dan
menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam rencana ilahi. Memang harus diakui, banyak
pula yang percaya kepada Yesus karena merasa terpesona dan diselamatkan oleh
tindakan mukjizat-Nya. Tetapi pada intinya mau dibeberkan bahwa karya Allah
yang kecil, sederhana, dan hina dalam diri Yesus telah melahirkan iman yang
semakin bertumbuh dan berkembang luas dalam diri masyarakat pada saat itu.
Yesus telah memberi inspirasi kepada kita tentang kehadiran-Nya yang
membawa misi Kerajaan Sorga ibarat biji sesawi yang kecil dan ragi yang
disepelekan oleh orang banyak. Yesus menghendaki agar kita juga mampu menjadikan
pribadi kita sebagai biji sesawi dan ragi bagi banyak orang. Pada masa sekarang
ini, ada begitu banyak kesulitan yang menantang hidup iman para pengikut
Kristus. Ibarat biji sesawi yang kecil, kita harus mampu hadir untuk memberi
kekuatan dan peneguhan bagi mereka yang mulai kehilangan semangat imannya akan
Yesus. Dengan tindakan-tindakan kecil dan sederhana yang menyentuh pribadi,
kehadiran kita dapat menumbuhkan lagi iman mereka akan Yesus yang telah mulai
goyah. Ibarat ragi yang tidak disukai, kehadiran kita pasti menciptakan friksi.
Ada banyak orang yang bersikap antipati terhadap niat dan ketulusan pribadi
kita. Bersama Tuhan, kita tidak pernah mundur setapak pun. Kita tetap bekerja
dalam iman untuk mewujudnyatakan Kerajaan Sorga dalam hidup di tengah
masyarakat kita. Dengan ragi yang kita miliki, kita menjadi unsur pembeda yang
merangkul semua orang dan menciptakan kedamaian bagi banyak orang. Sekecil apa
pun yang kita lakukan demi Kerajaan Sorga tentu akan menjadi karya besar di
mata Tuhan. Percayalah, dalam kekecilan dan kekurangan yang kita miliki, Tuhan
pasti akan menyempurnakan-Nya dengan berkat yang melimpah. Mari kita menjadi
biji sesawi dan ragi yang bermanfaat bagi banyak orang yang kita layani.
Semoga. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar