Senin, 27 Juli 2020

MENJADI BIJI SESAWI DAN RAGI


Small is powerfull. Sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti “kecil yang berkekuatan.” Dalam arti lain, kalimat itu mau mengungkapkan bahwa sesuatu yang kelihatan kecil belum tentu tidak memiliki kekuatan atau kemampuan. Justru dari sesuatu yang kecil itu sebenarnya bisa tersembul sebuah potensi yang maha dasyat. Ungkapan bahasa Inggris di atas secara otomatis menegasikan stereoritip yang menegaskan bahwa sesuatu yang kecil tidak mempunyai kekuatan atau kemampuan. Sesuatu yang kecil mewakili kelemahan dan ketidakberdayaan. Namun tidak bisa digeneralisir demikian. Sesuatu yang kecil acapkali memberi energi positif yang luar biasa. Bahkan di luar akal sehat manusia. Sesuatu yang kecil ternyata tidak kecil. Ia bisa mempresentasikan sesuatu yang prestisius dan memberi kebanggaan bagi segenap orang yang melihat atau merasakan imbasnya.

Seperti dalam bacaan Injil (Mat 13:31-35) yang kita baca pada hari ini (Senin/27/7/2020). Yesus membentangkan dua perumpamaan sederhana dan praktis yang mewakili entitas Kerajaan Sorga. Yesus mengibaratkan Kerajaan Sorga dengan dua materi yang kelihatan kecil. Dua materi itu adalah biji sesawi dan ragi. Biji sesawi adalah sejenis biji tumbuhan yang paling kecil dari biji-biji tumbuhan yang lain. Tetapi apabila tumbuh, ia akan berkembang menjadi sayuran yang lebih besar. “Bahkan menjadi pohon sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya” (Mat 13:32). Pada masa Yesus, tanaman sesawi tidak menjadi tanaman favorit. Tumbuhan ini adalah tumbuhan liar dan dianggap sejenis gulma atau hama yang menghalangi laju perkembangan tanaman lain. Sehingga sawi menjadi tanaman yang tidak mendatangkan keuntungan dibandingkan tanaman yang lain. Selanjutnya ragi adalah sejenis zat yang menjadi bahan baku untuk membuat roti. Tanpa ragi, adonan roti tidak akan mengembang menjadi sebuah adonan yang baik. Dalam adonan terigu yang banyak, sedikit saja ragi yang ditambahkan akan membuat adonan bisa dibentuk menjadi roti yang indah dan manis. Pada masa Yesus, ragi kurang disukai karena menimbulkan aroma yang tidak sedap.

Tetapi di mata Yesus, kedua jenis materi yakni sawi dan ragi telah mengalami pergeseran makna. Dari makna yang negatif berkembang menjadi makna yang sungguh positif. Sawi dan ragi adalah dua materi yang kelihatan kecil, tidak berharga dan tidak bernilai. Namun di balik image miring tersebut, sawi dan ragi memainkan peran sebaliknya. Dari biji sawi yang bijinya paling kecil dari biji-biji yang lain tumbuh pohon besar sehingga dapat menjadi naungan dan tempat singgah pelbagai jenis burung. Begitu pun dari ragi yang minimalis dapat membantu adonan roti menjadi mengembang. Roti bisa menjadi enak karena ada peran ragi di dalamnya. Dua materi ini yang dijadikan Yesus sebagai ungkapan simbolik untuk menggambarkan peran Kerajaan Sorga yang dibawa Yesus ke dalam dunia. Term Kerajaan Sorga disamakan juga dengan term Kerajaan Allah. Dua term ini menunjuk pada peran nyata Allah yang sudah ada sekaligus sementara berkarya di tengah dunia. Peran nyata Allah itu telah mewujud dalam Pribadi Ilahi Yesus yang telah berinkarnasi menjadi manusia biasa. Yesus yang datang dalam rupa manusia kecil dan hina sebenarnya sementara membawa misi besar nan mulia dari Sang Bapa di Sorga untuk menyelamatkan umat manusia dari kedosaannya.

Ibarat biji sesawi dan ragi, demikian pula Yesus harus kelihatan kecil, hina dan tidak berdaya.  Dalam kekecilan-Nya itu, Yesus berusaha menancapkan misi Kerajaan Sorga dengan sabda mulia dan tindakan nyata yang menyasar semua orang. Terutama orang-orang kecil dan hina yang sangat merindukan kehadiran seorang penyelamat seperti Yesus. Misi kerajaan Allah yang dinakhodai oleh Yesus memang tidak berjalan mulus. Ada banyak sekali tantangan yang mempersulit gerak maju misi Kerajaan Allah. Baik bagi mereka yang memang kurang sreg atau tidak sejalan dengan ajaran Yesus atau juga bagi mereka yang merasa jabatan duniawinya terancam dengan kehadiran Yesus di muka publik. Yang patut diapresiasi bahwa misi Kerajaan Allah yang sebelumnya tidak pernah dianggap perlahan namun pasti menemukan irama yang semakin jelas dan pasti. Ia mulai berakar dan kokoh. Indikasinya, ada begitu banyak orang yang tercerahkan dengan ajaran Yesus. Mereka menjadi percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam rencana ilahi. Memang harus diakui, banyak pula yang percaya kepada Yesus karena merasa terpesona dan diselamatkan oleh tindakan mukjizat-Nya. Tetapi pada intinya mau dibeberkan bahwa karya Allah yang kecil, sederhana, dan hina dalam diri Yesus telah melahirkan iman yang semakin bertumbuh dan berkembang luas dalam diri masyarakat pada saat itu.

Yesus telah memberi inspirasi kepada kita tentang kehadiran-Nya yang membawa misi Kerajaan Sorga ibarat biji sesawi yang kecil dan ragi yang disepelekan oleh orang banyak. Yesus menghendaki agar kita juga mampu menjadikan pribadi kita sebagai biji sesawi dan ragi bagi banyak orang. Pada masa sekarang ini, ada begitu banyak kesulitan yang menantang hidup iman para pengikut Kristus. Ibarat biji sesawi yang kecil, kita harus mampu hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan bagi mereka yang mulai kehilangan semangat imannya akan Yesus. Dengan tindakan-tindakan kecil dan sederhana yang menyentuh pribadi, kehadiran kita dapat menumbuhkan lagi iman mereka akan Yesus yang telah mulai goyah. Ibarat ragi yang tidak disukai, kehadiran kita pasti menciptakan friksi. Ada banyak orang yang bersikap antipati terhadap niat dan ketulusan pribadi kita. Bersama Tuhan, kita tidak pernah mundur setapak pun. Kita tetap bekerja dalam iman untuk mewujudnyatakan Kerajaan Sorga dalam hidup di tengah masyarakat kita. Dengan ragi yang kita miliki, kita menjadi unsur pembeda yang merangkul semua orang dan menciptakan kedamaian bagi banyak orang. Sekecil apa pun yang kita lakukan demi Kerajaan Sorga tentu akan menjadi karya besar di mata Tuhan. Percayalah, dalam kekecilan dan kekurangan yang kita miliki, Tuhan pasti akan menyempurnakan-Nya dengan berkat yang melimpah. Mari kita menjadi biji sesawi dan ragi yang bermanfaat bagi banyak orang yang kita layani. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar