Mat 12: 38-42
Kehadiran narasumber dalam suatu perhelatan seminar atau diskusi menjadi
salah satu komponen yang sangat penting. Ia dituntut untuk tampil prima
mengelaborasi suatu persoalan berdasarkan kompetensi dan disiplin ilmu yang
dimiliki. Kehadiran narasumber akan menjadi fokus dan sorotan publik yang turut
menyaksikannya. Oleh karena itu, seorang narasumber tidak hanya dituntut
memiliki kemampuan diplomasi atau berbicara yang baik. Tetapi latar ilmu
pendidikannya menjadi sesuatu yang urgen. Sejumlah gelar akademis yang dimiliki
menjadi tanda lahiriah seorang narasumber memiliki kompetensi di bidang
tertentu. Gelar akademis menjadi tanda yang merepresentasikan kecakapan dan
otoritas seorang narasumber ketika ia berbicara. Kredibilitas di mata publik
lahir tidak hanya karena kemampuan diplomasi tetapi juga dengan adanya pelbagai
gelar akademis yang dimiliki. Tanpa gelar akademis, seorang narasumber bisa
saja tidak diterima publik walaupun ia memiliki kemampuan yang mumpuni. Gelar akademis
menjadi “tanda baik” bagi seseorang untuk berbicara dan meyakinkan publik
dengan kata-kata yang diucapkannya.
Hari ini (Senin/20/7/2020) dalam bacaan Injil (Mat 12:38-42), ada sejumlah
ahli Taurat dan orang Farisi yang meminta tanda dari Yesus. Tanda itu sebagai
bukti yang merepresentasikan otoritas ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Rupanya
sudah lama para ahli Taurat dan orang Farisi memantau segala hal yang dilakukan
Yesus. Tidak hanya segala sabda-Nya, tetapi juga pelbagai tindakan mukjizat
yang diperlihatkan Yesus di depan orang banyak. Yang menggelitik hati para elit
agama tersebut adalah tidak sedikit orang yang mengikuti dan percaya kepada
Yesus. Hal inilah yang menimbulkan rasa penasaran dalam hati mereka. Siapakah
Yesus ini. Tanda apa yang Ia miliki sehingga ia begitu berani membawa nama
Allah dalam setiap karya pewartaan-Nya. Atau otoritas ilahi apa yang menjadi
bukti Ia melakukan segala perbuatan yang spektakuler di hadapan umat Israel.
Dan para elit agama tersebut merasa memiliki wewenang atau legitimasi yang
menyatakan tanda itu valid atau tidak. Jadi semakin jelas bahwa permintaan
tanda itu lahir dari sikap arogansi dan superioritas mereka. Permintaan sebuah
tanda dari Yesus bukan lahir dari kesungguhan hati tetapi hanya sebagai modus
untuk mencari-cari kesalahan Yesus.
Yesus membaca motivasi mereka sehingga Ia mengecam mereka sebagai generasi
yang jahat dan tidak setia. “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut
suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi
Yunus” (Mat 12:39). Selain mengecam, Yesus juga menegaskan tidak akan
memberikan tanda ilahi kepada mereka. Yesus hanya mempresentasikan sebuah tanda
yakni tanda Yunus. Nabi Yunus menjadi tanda pertobatan bagi orang Niniwe berkat
aksi heroiknya keluar dari perut ikan setelah berada di dalamnya selama tiga
hari. Walaupun banyak tafsiran yang menjelaskan bahwa Yunus selamat berkat
“kebaikan ikan” dan tentu saja ada intervensi Allah di dalamnya. Tetapi
peristiwa selamatnya nabi Yunus menjadi ungkapan simbolik dari kuasa ilahi yang
dimiliki oleh Yesus. Bahwa Yesus akan mati. Ia akan berada dalam kuasa maut
selama tiga hari. Dan pada hari ketiga Ia akan bangkit mengalahkan kuasa
kegelapan. Peristiwa nabi Yunus yang spektakuler mengindikasikan bahwa tanda Allah
sungguh menyata di dalam dirinya. Yesus juga tampil sebagai “tanda Yunus” yang
baru. Allah sungguh hadir dalam setiap kata-kata dan perbuatan-Nya. Nenek
moyang orang Israel sungguh percaya akan tanda yang dibawa oleh nabi Yunus.
Bahkan pribadi Yunus itu sendiri menjadi tanda yang membawa pertobatan dan
keselamatan bagi banyak orang. Sayangnya, sikap para elit agama justru bertolak
belakang dengan sikap pendahahulunya. Mereka tidak mampu membaca tanda
kehadiran Allah yang ada dalam diri Yesus. Sikap ego dan arogan telah menguasai
diri sehingga mata batin mereka menjadi tertutup. Tawaran keselamatan yang
dibawa oleh Yesus tidak dapat diterima oleh mereka. Yesus sudah berupaya
menyalurkan diri-Nya menjadi tanda yang baik namun oleh karena sikap ego dan arogan,
para elit agama tidak dapat membaca tanda berahmat itu dalam diri-Nya.
Demikian pula hidup kita di era ini. Kadangkala kita meminta jaminan atau
tanda dari Tuhan sebagai konsekuensi dari sikap iman kita. Kita sepertinya mau
menyogok Tuhan dengan ketaatan kepada segala ritus agama. Selain itu, kita juga
suka mengkalkulasikan segala perbuatan baik dengan harapan Allah pasti
menunjukkan sebuah tanda yang semakin menguatkan hidup iman kita kepada-Nya.
Padahal Allah sudah memberikan tanda itu secara nyata melalui Yesus yang
menyejarah dalam hidup manusia. Melalui sabda dan aksi mukjizat-Nya, Allah
sudah memperlihatkan kehadiran-Nya secara nyata dalam diri Yesus. Namun banyak
kali kita mengalami amnesia dan tidak menyadari Yesus sebagai sebagai tanda
yang membawa keselamatan bagi kita. Lebih banyak kita mengeluh dan merasa
terlempar dari kehidupan manakala kita menghadapi pelbagai kesulitan dan
tantangan. Padahal Allah melalui Yesus telah memberi garansi kehidupan kita di
dunia dan di akhirat nanti. Ia akan selalu menyertai dan menjadi tanda dalam
kehidupan kita, baik dalam suka maupun duka. Dengan menyadari Yesus sebagai
tanda akan semakin menguatkan hidup kita. Kita akan selalu mengucap syukur atas
segala berkat yang kita alami dalam hidup ini. Kita tidak akan mudah mengalami
putus asa ketika dibenturkan dengan aneka tantangan. Justru kita semakin
diteguhkan dan menjadi matang untuk menata hidup lebih baik. Karena kita yakin
Tuhan telah menunjukkan tanda-Nya kepada kita. Ia telah menjadi tanda yang
spektakuler bagi kita. ***Atanasius Dewantoro Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar