Senin, 20 Juli 2020

YESUS SEBAGAI TANDA


Mat 12: 38-42
Kehadiran narasumber dalam suatu perhelatan seminar atau diskusi menjadi salah satu komponen yang sangat penting. Ia dituntut untuk tampil prima mengelaborasi suatu persoalan berdasarkan kompetensi dan disiplin ilmu yang dimiliki. Kehadiran narasumber akan menjadi fokus dan sorotan publik yang turut menyaksikannya. Oleh karena itu, seorang narasumber tidak hanya dituntut memiliki kemampuan diplomasi atau berbicara yang baik. Tetapi latar ilmu pendidikannya menjadi sesuatu yang urgen. Sejumlah gelar akademis yang dimiliki menjadi tanda lahiriah seorang narasumber memiliki kompetensi di bidang tertentu. Gelar akademis menjadi tanda yang merepresentasikan kecakapan dan otoritas seorang narasumber ketika ia berbicara. Kredibilitas di mata publik lahir tidak hanya karena kemampuan diplomasi tetapi juga dengan adanya pelbagai gelar akademis yang dimiliki. Tanpa gelar akademis, seorang narasumber bisa saja tidak diterima publik walaupun ia memiliki kemampuan yang mumpuni. Gelar akademis menjadi “tanda baik” bagi seseorang untuk berbicara dan meyakinkan publik dengan kata-kata yang diucapkannya.

Hari ini (Senin/20/7/2020) dalam bacaan Injil (Mat 12:38-42), ada sejumlah ahli Taurat dan orang Farisi yang meminta tanda dari Yesus. Tanda itu sebagai bukti yang merepresentasikan otoritas ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Rupanya sudah lama para ahli Taurat dan orang Farisi memantau segala hal yang dilakukan Yesus. Tidak hanya segala sabda-Nya, tetapi juga pelbagai tindakan mukjizat yang diperlihatkan Yesus di depan orang banyak. Yang menggelitik hati para elit agama tersebut adalah tidak sedikit orang yang mengikuti dan percaya kepada Yesus. Hal inilah yang menimbulkan rasa penasaran dalam hati mereka. Siapakah Yesus ini. Tanda apa yang Ia miliki sehingga ia begitu berani membawa nama Allah dalam setiap karya pewartaan-Nya. Atau otoritas ilahi apa yang menjadi bukti Ia melakukan segala perbuatan yang spektakuler di hadapan umat Israel. Dan para elit agama tersebut merasa memiliki wewenang atau legitimasi yang menyatakan tanda itu valid atau tidak. Jadi semakin jelas bahwa permintaan tanda itu lahir dari sikap arogansi dan superioritas mereka. Permintaan sebuah tanda dari Yesus bukan lahir dari kesungguhan hati tetapi hanya sebagai modus untuk mencari-cari kesalahan Yesus.

Yesus membaca motivasi mereka sehingga Ia mengecam mereka sebagai generasi yang jahat dan tidak setia. “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” (Mat 12:39). Selain mengecam, Yesus juga menegaskan tidak akan memberikan tanda ilahi kepada mereka. Yesus hanya mempresentasikan sebuah tanda yakni tanda Yunus. Nabi Yunus menjadi tanda pertobatan bagi orang Niniwe berkat aksi heroiknya keluar dari perut ikan setelah berada di dalamnya selama tiga hari. Walaupun banyak tafsiran yang menjelaskan bahwa Yunus selamat berkat “kebaikan ikan” dan tentu saja ada intervensi Allah di dalamnya. Tetapi peristiwa selamatnya nabi Yunus menjadi ungkapan simbolik dari kuasa ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Bahwa Yesus akan mati. Ia akan berada dalam kuasa maut selama tiga hari. Dan pada hari ketiga Ia akan bangkit mengalahkan kuasa kegelapan. Peristiwa nabi Yunus yang spektakuler mengindikasikan bahwa tanda Allah sungguh menyata di dalam dirinya. Yesus juga tampil sebagai “tanda Yunus” yang baru. Allah sungguh hadir dalam setiap kata-kata dan perbuatan-Nya. Nenek moyang orang Israel sungguh percaya akan tanda yang dibawa oleh nabi Yunus. Bahkan pribadi Yunus itu sendiri menjadi tanda yang membawa pertobatan dan keselamatan bagi banyak orang. Sayangnya, sikap para elit agama justru bertolak belakang dengan sikap pendahahulunya. Mereka tidak mampu membaca tanda kehadiran Allah yang ada dalam diri Yesus. Sikap ego dan arogan telah menguasai diri sehingga mata batin mereka menjadi tertutup. Tawaran keselamatan yang dibawa oleh Yesus tidak dapat diterima oleh mereka. Yesus sudah berupaya menyalurkan diri-Nya menjadi tanda yang baik namun oleh karena sikap ego dan arogan, para elit agama tidak dapat membaca tanda berahmat itu dalam diri-Nya.

Demikian pula hidup kita di era ini. Kadangkala kita meminta jaminan atau tanda dari Tuhan sebagai konsekuensi dari sikap iman kita. Kita sepertinya mau menyogok Tuhan dengan ketaatan kepada segala ritus agama. Selain itu, kita juga suka mengkalkulasikan segala perbuatan baik dengan harapan Allah pasti menunjukkan sebuah tanda yang semakin menguatkan hidup iman kita kepada-Nya. Padahal Allah sudah memberikan tanda itu secara nyata melalui Yesus yang menyejarah dalam hidup manusia. Melalui sabda dan aksi mukjizat-Nya, Allah sudah memperlihatkan kehadiran-Nya secara nyata dalam diri Yesus. Namun banyak kali kita mengalami amnesia dan tidak menyadari Yesus sebagai sebagai tanda yang membawa keselamatan bagi kita. Lebih banyak kita mengeluh dan merasa terlempar dari kehidupan manakala kita menghadapi pelbagai kesulitan dan tantangan. Padahal Allah melalui Yesus telah memberi garansi kehidupan kita di dunia dan di akhirat nanti. Ia akan selalu menyertai dan menjadi tanda dalam kehidupan kita, baik dalam suka maupun duka. Dengan menyadari Yesus sebagai tanda akan semakin menguatkan hidup kita. Kita akan selalu mengucap syukur atas segala berkat yang kita alami dalam hidup ini. Kita tidak akan mudah mengalami putus asa ketika dibenturkan dengan aneka tantangan. Justru kita semakin diteguhkan dan menjadi matang untuk menata hidup lebih baik. Karena kita yakin Tuhan telah menunjukkan tanda-Nya kepada kita. Ia telah menjadi tanda yang spektakuler bagi kita. ***Atanasius Dewantoro Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar