Mat 11:25-27
Entah sadar atau tidak, Tuhan selalu hadir dan
mengisi hidup manusia. Kehadiran Tuhan dapat disadari kalau manusia itu
bersikap terbuka dan beriman kepada-Nya. Tanpa kesadaran hati yang kuat, kita
tidak pernah akan menyadari kehadiran Allah dan menerima-Nya. Keterbukaan hati
adalah kunci masuk pengenalan akan kasih dan kebaikan Allah. Yesus Anak Allah
benar-benar menyadari pentingnya membangun relasi yang kuat dengan Bapa-Nya. Relasi
macam ini yang kemudian dipakai oleh Yesus untuk diperkenalkan kepada manusia.
Rahasia Kerajaan Allah disingkapkan kepada dunia untuk diketahui, namun hanya
kepada mereka yang terbuka menerima rahmat keselamatan dari Allah. Yesus dalam
Injil hari ini mengungkapkan rasa syukur-Nya kepada Allah Bapa karena
kebaikan-Nya, rahasia Kerajaan Allah diterima dan dihidupi oleh orang-orang
kecil dan sederhana yang beriman kepada-Nya. Orang yang cerdik pandai selalu
menutup dirinya menolak kehadiran Anak Manusia karena tidak ada keterbukaan
hati dan kesediaan untuk menerima Wahyu Kebenaran hidup di depan mata mereka.
Kesadaran mereka telah hilang karena relasi intim dengan Allah tidak pernah
terbangun. Dengan demikian, anugerah rahmat dan kebaikan cinta Allah tidak
pernah dirasakan dalam hidupnya.
Yesus dalam Injil-Nya hari ini mengingatkan
kita untuk menjadi seperti orang kecil, sederhana dan rendah hati yang tahu
bersyukur serta menjadikan Allah sebagai kekuatan dan benteng hidup kita.
Mereka yang kecil dan sederhana memiliki peluang lebih besar untuk merasakan
rahmat dan kehadiran Allah dalam hidupnya. Orang sederhana dalam konteks ini
adalah mereka yang setia, patuh, beriman dan terbuka terhadap Kehendak Allah.
Dengan menjadi orang kecil dan sederhana Allah dapat menyingkapkan rahasia
Kerajaan-Nya untuk diketahui. Allah selalu berpihak kepada orang kecil dan
sederhana karena di dalam jiwa mereka terpancar ketaatan asli yang tidak
tereduksi. Orang kecil dan sederhana menerima kebenaran Wahyu dengan
keterbukaan hati dan menghidupinya di dalam perkataan dan tindakan mereka.
Karena itu Allah lebih memilih cara sederhana untuk mengungkapkan kasih-Nya
lewat orang-orang kecil, sederhana, rendah hati dan polos karena di dalam hati
mereka belum terkontaminasi dengan kepalsuan dan kebohongan. Sementara itu,
manusia yang pandai dan cerdik tidak memiliki kesempatan emas untuk merasakan
kehadiran Allah dalam hidupnya karena mereka terlalu tertutup dan mengandalkan
kemampuan intelektualnya. Segala sesuatu dipahami dan dijelaskan dengan bantuan
akal budi belaka. Pertanyaannya kemudian: Apakah Yesus tidak menyukai kemampuan
intelektual seseorang? Yesus dalam hal ini tidak melawan kekuatan intelektual,
tetapi yang Ia lawan adalah kesombongan dan arogansi intelektual. Doa Yesus dalam
Injil hari ini berbunyi “Semuanya Kau sembunyikan bagi orang bijak dan orang
pandai tetapi Kau-nyatakan kepada orang kecil”. Orang-orang pandai yang
dimaksudkan dalam teks Injil ini ialah orang-orang yang mengukur segala
pelayanannya berdasarkan kemampuan intelektual yang mereka miliki dan
mengabaikan aspek iman yang menuntut kerendahan hati untuk memahami segala
rencana Tuhan, karena itu, rahasia Kerajaan Allah menjadi sangat jauh dalam
hidup mereka, karena segala sesuatu dipertanyakan dan diperdebatkan dengan
menggunakan pisau cukur akal budi. Muncul pertanyaan lagi: mungkinkah iman dan
akal budi dapat berjalan serentak. Pertanyaan ini sering menjadi perdebatan
kaum atheis, sekularis, agnostik dan anti iman lainnya. Bagi mereka, intelek
tak bisa sejalan dengan iman. Iman memandulkan aspek intelektual karena
mengajak orang untuk percaya begitu saja pada penyelenggaraan Ilahi. Hal ini
tidaklah benar karena iman dan akal budi itu sangat integratif karena fenomena
iman sering menjadi topik pendalaman ilmiah yang menuntut nalar logis.
Sebaliknya, pengetahuan yang menyentuh nalar logis dapat diolah menjadi
kekayaan spiritual yang berguna bagi pengembangan iman seseorang. Maka pesan
sederhana bagi kita adalah kembangkanlah kemampuan intelektual sebaik mungkin dan
sekaligus tingkatkan kualitas rohani sampai batas maksimal agar iman dapat
menolong akal budi untuk memahami seluruh Kehendak Tuhan. Dengan demikian Yesus
sama sekali tidak menolak peran akal budi dalam perdebatan ilmiah tetapi ia
mendorong kita untuk memanfaatkan akal budi secara bijaksana untuk memahami dan
mengetahui rencana serta rahmat Tuhan dalam hidup kita.
Hari ini Gereja sejagad memperingati pesta St.
Bonaventura, uskup dan pujangga Gereja. Salah satu ajakan spektakuler dari St.
Bonaventura bagi kita semua agar kita selalu bersikap mawas diri adalah
“Kesombongan biasanya menggilakan manusia, karena ia diajar untuk meremehkan
apa yang sangat berharga seperti rahmat dan keselamatan, dan menjunjung tinggi
apa yang seharusnya dicela seperti kesiasiaan dan keserakahan”. Nasihat ini penting bagi kita murid-murid
Yesus untuk direfleksikan agar nilai kerendahan hati mewarnai seluruh hidup
kita. Kesombongan diri yang berlebihan biasanya membuat orang menjadi congkak dan
menganggap remeh orang lain. Hal ini juga mempengaruhi hidup rohani seseorang
karena orang sombong biasanya membanggakan diri sebagai pusat segala-galanya
bahkan rahmat dan keselamatan itu sendiri dirasa kurang penting diberi
perhatian karena tidak mendatangkan manfaat nyata untuk menambah kemegahan
diri. Kesombongan biasanya menghalalkan segala cara untuk mencapai kemegahan
diri, pada saat yang bersamaan, ia menutup kanal relasi dirinya dengan Tuhan
dan sesama. St. Bonaventura mengajak kita sekalian untuk selalu bersikap mawas
diri agar tidak jatuh dalam kesombongan belaka sehingga tidak menghancurkan
kehidupan rohani kita untuk dapat merasakan rahmat keselamatan serta kehadiran
Tuhan dalam hidup kita.
Entah disadari atau tidak Tuhan selalu hadir
dan berkarya dalam hidup kita. Untuk merasakan dan mengalami kehadiran-Nya
dibutuhkan sikap rendah hati dan keterbukaan layaknya seperti orang-orang
sederhana, kecil dan polos yang selalu
menyandarkan hidupnya pada kemurahan hati dan belas kasih orang lain. Orang
kecil dan sederhana biasanya luguh dan bersikap apa adanya, mereka selalu puas
dengan rezeki harian yang mereka dapat meski tidak cukup. Karena kesederhanaan
mereka, Allah memilih untuk bersahabat dengan mereka dan menyingkapkan diri-Nya
untuk dikenal. Karena kesederhanaan pula, mereka dengan suka rela memasrahkan
diri pada perlindungan dan penyelenggaraan Tuhan tanpa paksaan dan intimidasi.
Karena itu, hati yang bening dan bersih memungkinkan Allah bersemayam di dalam
hati dan merajai hidup kita agar kita boleh merasakan rahmat dan kasih-Nya yang
berlimpah. Karena itu, berikanlah porsi
waktu yang banyak untuk mengungkapkan rasa syukur kita atas anugerah
rahmat dan kebaikan-Nya yang kita peroleh setiap saat lewat sarana doa. Yesus sendiri telah memberikan contoh dan
teladan agung bagi kita agar rasa syukur kita terus dihidupkan untuk memuliakan
keagungan Allah. Kita juga dapat belajar dari nasihat St. Bonaventura, Uskup
dan Pujangga Gereja yang kita rayakan pestanya hari ini, dimana ia selalu
menyeruhkan kepada kita untuk melawan kesombongan diri agar aspek kerendahan
hati lebih mendominasi hidup kita sehingga kesadaran kita pulih kembali untuk
dapat merasakan dan mengalami rahmat dan kasih Tuhan. Dengan mengusung
kerendahan hati, kita memiliki kesempatan lebih untuk mengenal Allah dalam diri
Yesus Putera-Nya melalui warta sabda-Nya hari ini. Semoga kita juga selalu
berjuang untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah baik di saat suka
maupun dalam duka hidup kita. Lebih dari itu, keterbukaan hati menjadi sangat
penting yang memungkinkan kita dapat menerima kehadiran Tuhan dan segala
kebaikan-Nya dalam diri sesama kita. ***Bernad Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar