Senin, 15 Agustus 2022

Hidup Dalam Kerajaan Sorga

                                                                        Mat 13:44-46

 

Seorang ibu pernah bertanya, apa itu Kerajaan Sorga. Dan apakah sesudah mati baru orang mengalami Kerajaana Sorga itu. Secara sederhana saya menjelaskan bahwa Kerajaan Sorga adalah suatu keadaan atau situasi di mana Allah sungguh meraja dan memerintah atasnya. Kerajaan Sorga itu memang akan mengalami kepenuhannya saat orang “beralih dari dunia ini”. Tetapi bukan berarti orang tidak mengalami Kerajaan Sorga saat ia masih hidup di dunia. Kerajaan sorga itu ada di tengah dunia, bahkan dalam diri manusia sendiri, Kerajaan Sorga itu bisa menyata. Walaupun sifatnya temporer atau sementara. Kebanyakan orang memang belum menyadari arti Kerajaan Sorga. Kemudian soal keberadaan Kerajaan Sorga, lebih banyak orang memahaminya sebagai suatu situasi yang akan diperoleh saat manusia sudah meninggalkan dunia. Pertanyaan paling fundamental adalah seperti apa model Kerajaan Sorga itu. Atau apa indikasinya atau tanda-tanda yang menggambarkan bahwa Kerajaan Sorga itu sungguh ada.

 

Karena Kerajaan Sorga adalah Allah yang sungguh hadir dan meraja maka orang akan mengalami situasi hidup yang membahagiakan, aman, damai, penuh sukacita dan kegembiraan. Situasi-situasi ini sudah dimulai pada saat ini, ketika manusia masih merasakan napas kehidupan di atas dunia. Walaupun memang ada pergumulan, pergulatan, dan keterpurukan dalam hidup, namun ketika manusia bisa menghadapinya dengan tenang dan bisa menemukan jalan keluar yang baik, itu juga menjadi bagian dari tanda Kerajaan Sorga menyata dalam hidup manusia. Dalam diri manusia Kerajaan Sorga juga bisa nampak, Ketika manusia memperlakukan diri dan hidupnya sebagai sarana untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, di situ juga cahaya Kerajaan Sorga akan muncul di tengah dunia. Jadi Kerajaan Sorga bukan hanya bersifat eskatologis (masa depan), saat manusia kembali ke haribaan Tuhan. Namun sudah, sedang, dan akan terjadi secara nyata dalam hidup manusia.

 

Kerajaan Sorga menjadi wacana yang sangat menarik. Sehingga ketika memaparkannya, Yesus sampai menggunakan dua perumpamaan. Pertama, Kerajaan Sorga yang dianalogikan sebagai harta yang terpendam di ladang. Harta itu kemudian ditemukan orang, lalu ditanamnya lagi. Barulah kemudian, ia menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan ladang beserta harta yang terpendam di dalamnya. Memang dari sisi kehidupan sosial budaya orang Israel pada saat itu, menyimpan harta di dalam tanah merupakan suatu hal yang lazim. Situasi kehidupan yang seringkali tidak aman, menuntun orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pilihan untuk menyembunyikan harta dalam tanah merupakan pilihan yang terbaik pada saa itu. Yang menjadi persoalan apabila si pemilik tanah sudah lupa atau meninggal sehingga hartanya tetap tertanam di dalam tanah. Orang yang menemukannya tidak serta merta membawanya pulang ke rumah. Karena hukum Yahudi melarangnya. Kalau hendak mengambil dan memiliki harta tersebut, orang harus membeli ladang itu dahulu.

 

Kedua, Kerajaan Sorga itu dianalogikan sebagai mutiara yang indah. Lagi-lagi berawal dari kebiasaan orang Israel yang suka mengoleksi mutiara. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan mutiara tersebut. Termasuk dengan menjual seluruh harta yang dimilikinya. Tidak peduli bahwa hartanya akan habis. Asalkan mereka merasa puas dan senang karena sudah memiliki mutiara yang didambakan. Menarik sekalih. Dari dua perumpamaan Yesus, yang membeberkan tentang Kerajaan Sorga, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Kerajaan Sorga itu tidak hanya indah, tetapi mempunyai harga yang sangat mahal. Tidak mudah untuk memperolehnya. Orang harus berjuang dan berjibaku. Tidak setengah-setengah. Harus total dan fokus.

 

Dalam realitas kehidupan duniawi, Kerajaan Sorga menunjuk pada pelbagai aspek yang menjadi fokus dan lokus kita. Entah itu menyangkut kehidupan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pendidikan dan kesehatan, relasi sosial dengan sesama, dan sebagainya. Ada hal yang tentu saja menjadi fokus kita masing-masing, tetapi tetap menjadi bagian integral (tidak terpisahkan) dengan keimanan kita akan Tuhan dan segala ajaran-Nya yang menjadi kompas kehidupan. Dalam menata kehidupan keluarga, ada garis komando yang sama-sama kita ikuti dalam status sebagai suami, istri dan anak. Ada sikap saling menghargai, menghormati, memahami satu sama lain sehingga tercipta nuansa kehidupan keluarga yang bahagia. Dalam mengelola pekerjaan yang berdampak pada kehidupan ekonomi pribadi dan keluarga, perlu adanya sikap total dan kerja keras. Tidak malas dan tidak berorientasi pada sikap hedonis atau konsumtif semata. Perlu ada pemahaman bahwa pekerjaan yang kita miliki adalah sebuah amanah suci dari Tuhan. Berapa pun hasil yang kita terima, pasti akan membawa nilai yang sangat berarti bagi pribadi dan keluarga.

 

Dalam membangun relasi dengan sesama, sikap rendah hati, saling menerima apa adanya, saling menghargai, saling menolong, menjadi deretan hal-hal konkrit yang bisa kita lakukan untuk menciptakan suasana hidup yang menyenangkan dan membawa kedamaian. Inilah beberapa contoh yang hendak menggambarkan bahwa Kerajaa Sorga itu sungguh ada dan menyata dalam kehidupan kita di tengah dunia. Namun untuk memperolehnya, kita harus “menjual” apa yang kita miliki. Kata menjual dalam konteks ini berarti melepaskan. Kita harus berani melepaskan, memotong, dan menghilangkan sikap-sikap destruktif (negatif) yang menjadi penghalang bagi terciptanya Kerajaan Sorga di tengah dunia. Sikap destruktif itu seperti sikap ego (mementingkan diri), sombong, apatis, merasa diri paling benar dan hebat, sikap malas, tidak disiplin, sikap hedonis (mengutamakan kenikmatan duniawi), dan sebagainya.

 

 Kerajaan Sorga yang kita alami di dunia sejatinya mengungkapkan kehidupan Kerajaan Sorga yang paripurna yakni saat nanti di dalam kehidupan akhirat. Mari kita senantiasa menciptakan suasana Kerajaan Sorga di tengah dunia dengan menginventasikan atau menabung banyak kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Sehingga pada saat nanti, kita sungguh merasakan Kerajaan Sorga yang tidak lagi bersifat temporal tetapi sungguh-sungguh berada dalam keabadian. ***

Rabu, 03 Agustus 2022

Menjadi Pribadi Yang Matang Dalam Iman

                                                                Mat 13:1-9

 

Ada seorang sahabat pernah mencurahkan isi hatinya kepada saya. Ia mengatakan bahwa dalam melakukan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) di tempat kerja, selalu berusaha meresapi dan melaksanakan kode etik yang termaktub dalam lima nilai budaya kerja. Lima nilai budaya kerja itu yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Integritas berkaitan dengan menjaga keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Profesionalitas memiliki makna bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Inovasi berhubungan dengan kegiatan menyempurnakan sesuatu hal yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Tanggung jawab berarti bekerja secara tuntas dan konsekuen. Sedangkan keteladanan menjadi nilai pamungkas dari empat nilai yang lain. Setiap orang harus menjadi contoh yang baik bagi orang lain dengan mengimplementasikan empat nilai di atas.

 

Kembali ke cerita sahabat saya. Tidak hanya memahami dan menerapkan lima nilai budaya kerja dalam Tupoksinya sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara). Dalam membangun relasi dengan sesama rekan kerja, ia juga berusaha selalu baik, ramah, dan peduli pada mereka. Setiap hari ia akan menerapkan 3S: Senyum, Sapa dan Salam kepada semua orang di tempat kerja. Ia tidak berpikir negatif tentang orang lain. Ia juga menaburkan sikap, tutur kata, dan perilaku yang baik. Namun seringkali ia menerima balasan yang menyakitkan. Ada segelintir rekannya yang masih saja menaruh sikap apatis, prasangka dan sentimen (iri hati) kepadanya. Menyikapi realitas negatif ini, sang sahabat memilih sikap diam dan tenang. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya. Ia senantiasa membangun pikiran-pikiran yang konstruktif dalam dirinya. Ia hanya menghibur hatinya dengan berpikir bahwa mereka yang membenci atau tidak suka kepada dirinya adalah tipe orang yang tidak memiliki kemampuan atau kompetensi.

 

Dalam bacaan Injil (Mat 13:1-9), Yesus membeberkan sejumlah tantangan atau hambatan kepada para rasul dan semua orang yang mengikuti-Nya. Tentu saja, tidak hanya kepada mereka. Kepada kita sebagai orang Katolik, tantangan atau hambatan itu acapkali menyasar dan menyerang pribadi kita. Tantangan atau hambatan itu diungkapkan secara simbolik dengan tiga media tumbuh kembang benih yang kurang baik. Media pinggir jalan, tanah berbatu, dan semak berduri. Benih itu mewakili Sabda Allah. Sementara media, tempat jatuh benih merupakan setiap pribadi manusia yang menerima Sabda Allah. Memang benih itu sempat jatuh dan tumbuh. Namun pelbagai tantangan seperti tipisnya tanah, diterpa sinar matahari, dihimpit semak berduri, bahkan dimakan burung, membuat benih tidak berdaya. Ia hilang dan mati binasa.

 

Model atau bentuk tantangan dengan aneka karakteristiknya, menjadi faktor utama yang menjauhkan manusia dari firman Allah. Tantangan dan hambatan diklasifikasikan dalam dua jenis. Tantangan dari dalam dan tantangan dari luar. Tantangan dari dalam meliputi sikap rasio yang berlebihan sehingga membuat manusia sulit percaya dengan hal-hal di luar logika. Misalnya tidak percaya kepada Tuhan, karena orang merasa tidak pernah melihat dan merasakan efek Tuhan dalam hidupnya. Rasio memang dibutuhkan untuk memverifikasi pelbagai kenyataan atau realitas. Namun kalau tidak diimbangi dengan kekuatan yang lain maka rasio akan berjalan timpang. Tantangan berikutnya adalah sikap ego atau mementingkan diri sendiri. Merasa diri paling hebat dan benar. Selanjutnya sikap malas dan apatis. Orang sudah tidak mau peduli lagi dengan hal-hal yang bersifat spiritual dan rohani. Tantangan lain dari dalam yang bisa disebut adalah sikap hedonis dan materialistis. Gaya hidup instan, pesta pora, dan sikap konsumtif (mengeluarkan uang melebihi pemasukan atau pendapatan) seakan menjadi agama baru bagi manusia. Tuhan bukan menjadi hal utama atau prioritas dalam hidup. Orang lebih men-Tuhan-kan hal-hal duniawi, Sehingga Tuhan yang diyakini dalam agama menjadi hilang. Efek domino yang ditimbulkan kemudian adalah orang-orang menjadi tidak peduli dengan sesamanya. Orang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Orang gampang memandang rendah sesamanya. Orang mudah memanfaatkan sesamanya untuk mendapatkan keuntungan. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diajarkan oleh agama otomatis menjadi hilang.

 

Tantangan dari luar dapat dideskripsikan sebagai berbagai gangguan atau hambatan yang datang dari luar diri manusia. Misalnya orang yang menjadi korban penghinaan dan penindasan lewat kata-kata barbar (kasar) dan tidak etis. Tidak cukup dengan kata-kata, orang juga bisa menjadi korban dari tindakan main hakim sendiri yang dilakukan sesamanya. Penindasan atau penghinaan atas nama agama juga seringkali terjadi. Orang merasa agama atau keyakinannya lebih benar kemudian dijadikan alasan untuk mendiskreditkan orang dan agama lain. Penindasan atas nama agama kerapkali terjadi bukan secara fisik. Justru yang lebih menusuk tajam adalah penindasan secara verbal. Melalui kata-kata yang diungkapkan baik secara langsung atau pun lewat media sosial, orang merasa tersakiti karena hal-hal yang menjadi prinsip dalam hidupnya diintervensi secara tidak adil. Sejumlah tantangan atau hambatan di atas menjadi kenyataan atau realitas yang dihadapi oleh dunia masa kini. Terutama kita sebagai orang Katolik, tantangan dan hambatan demikian terasa tidak pernah berakhir. Malahan semakin kuat getarannya. Tantangan itu begitu mengancam dan bisa menggerus hidup keimanan kita. Dan Yesus sebenarnya sudah mewanti-wanti kehadiran tantangan dan hambatan itu. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat 13:9). Allah lewat sabda Yesus, sudah memperingatkan agar kita bersikap hati-hati terhadap pelbagai tantangan dan hambatan.

 

Namun sebagai orang Katolik, kita percaya Tuhan akan memberikan berkat-Nya. Menghadapi tantangan dari dalam diri, tawaran akan sikap tobat senantiasa dicurahkan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah berhenti menawarkan rahmat keselamatan kepada umat manusia. Walaupun umat manusia juga tidak pernah berhenti bersikap jahat dan tidak setia kepada-Nya. Kita senantiasa diarahkan oleh Tuhan untuk mematangkan iman. Salah satunya dengan belajar dari kesalahan untuk memperbaiki diri dan menjadi semakin baik. Menyikapi tantangan dari luar diri, Tuhan memang tidak menghilangkan tantangan atau hambatan itu. Ia hanya memberi rahmat kekuatan agar kita semakin kuat dan matang menghadapinya. Kita juga tidak akan mudah putus asa dan kehilangan harapan.

 

Sejatinya tantangan atau hambatan yang dihadapi semakin mematangkan hidup iman kekatolikan kita. Terutama dalam menjalankan Tupoksi di rumah besar ini (Rumah Sakit Bukit Lewoleba). Kita tetap bekerja dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki di unit kerja masing-masing dengan menghayati lima nilai budaya kerja; integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Kita juga terus menerapkan budaya 3S, senyum, sapa, dan salam, kepada siapa saja, khususnya bagi orang-orang yang membutuhkan pelayanan dan perhatian dari kita. Bagi sesama saudara yang sementara bergumul dengan pengalaman sakit di ruang-ruang pasien; entah ruang rawat nginap atau rawat jalan, jangan merasa cemas, panik, dan putus asa. Pengalaman sakit merupakan sebuah pengalaman iman. Dengannya kita semakin dikuatkan dalam iman dan tetap menaruh pengharapan kepada Tuhan. Yakinlah, tidak ada yang mustahil dalam kemuliaan nama-Nya. Karena Ia akan membuka jalan kebaikan di tengah ketidakbaikan yang sementara kita alami. Mari ciptakan pribadi yang matang di dalam setiap tantangan atau hambatan hidup yang kita alami. Sehingga kita bisa menjadikan pribadi kita sebagai media tumbuh kembang firman Tuhan yang akan menghasilkan buah berlimpah. 

Minggu, 31 Juli 2022

Selalu Bersyukur Kepada Tuhan

                                                                     Mat 11:25-27

 

Mengucap syukur karena mengalami sukacita dalam hidup merupakan hal yang biasa kita lakukan. Ada banyak pengalaman baik atau positif yang kita alami. Kita mendapat rezeki dan apresiasi yang baik dari pekerjaan, anak-anak mendapatkan hasil yang memuaskan dalam pendidikan, ada kemelut hidup yang berhasil diatasi, ada harapan atau cita-cita yang berhasil digapai, dan sebagainya. Dan sebagai bentuk ekspresi, kita mengucap syukur atas semuanya. Kita mengucap syukur kepada Tuhan atas segala anugerah positif yang kita dapatkan dalam hidup.

 

Lalu bagaimana kalau kita mengalami pengalaman yang tidak mengenakan dalam hidup? Apakah kita pernah bersyukur kepada Tuhan atasnya. Saya pikir hal ini sangat sulit. Karena kerap terjadi adalah ungkapan kekecewaan, marah, sakit hati, dan bahkan orang bisa mengalami putus asa dan kehilangan harapan. Dalam tataran manusiawi, hal ini wajar. Oleh karena itu, menjadi hal yang luar biasa, apabila ada orang yang merespon kegagalan dan keterpurukan dalam hidupnya dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Dalam kepercayaan iman kita, mengucap syukur kepada Tuhan itu tidak terbatas pada pengalaman yang baik atau positif saja. Ucapan syukur kepada Tuhan menembus aneka pengalaman kehidupan. Entah yang baik atau pun tidak baik. Baik yang mengenakan maupun yang tidak mengenakan. Entah itu positif atau pun negatif.

 

Ungkapan syukur juga dilakukan oleh Yesus dalam bacaan Injil (Mat 11:25-27).. Ada dua hal yang dilakukan oleh Yesus. Pertama-tama, Yesus beryukur dan memuji Bapa di Sorga. Ia berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Kedua, Yesus mengenal diri-Nya sebagai Anak dan Allah sebagai Bapa-Nya. Mereka saling mengenal satu sama lain. Yesus berkata: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27).

 

Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya atas anugerah ilahi yang telah diterima-Nya sebagai Putera Allah. Dan dengan identitas Putera Allah itu, Allah telah mengutus Diri-Nya ke muka bumi untuk menjadi “kecil” sama seperti umat manusia. Dengan kekecilan yang tampak sebagai makhluk yang miskin dan hina, diharapkan agar umat manusia dapat menerima dan mengikuti segala hal yang Ia sampaikan. Yesus bersyukur karena dengan penampakan Diri-Nya yang sederhana dan miskin, telah menarik banyak orang kecil dan miskin untuk percaya kepada-Nya. Hanya orang yang tinggi hati dan “kepala batu” yang tidak percaya dan menolak kehadiran-Nya. Orang-orang ini yang merasa dirinya sebagai orang bijak dan pandai. Mereka merasa tidak selevel dengan Yesus dengan jabatan dan kuasa mentereng yang melekat dalam dirinya. Rasa gengsi dan arogan menjadi tembok penghalang bagi mereka untuk melihat kuasa ilahi dalam diri Yesus. Berbeda dengan orang-orang kecil, karena tidak memiliki kepentingan apa-apa selain kepentingan untuk mengalami Yesus sebagai sumber pengharapan dan keselamatan.

 

Ucapan syukur dikumandangkan juga oleh Yesus karena kedekatan atau keintiman relasi yang terbangun antara Yesus dan Allah. Yesus sungguh mengenal Allah sebagai Bapa-Nya. Dan Allah sungguh mengenal Yesus sebagai Anak-Nya. Karena kelekatan relasi itu, maka apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus adalah kehendak Bapa-Nya. Demikian juga apa yang dikehendaki oleh Sang Bapa, sudah termanifestasi atau terwujud dalam diri Yesus, Sang Anak. Yesus bersyukur karena kumpulan orang yang percaya kepada-Nya adalah juga kumpulan orang yang percaya kepada Allah. Demikian juga mereka yang tidak percaya dan menolak Yesus sama artinya dengan tidak percaya dan menolak Allah.

 

Ungkapan syukur yang dilakukan Yesus, sejatinya menjadi salah satu pokok ajaran dalam hidup iman kita sebagai orang Katolik. Mengucap syukur harus menjadi hal biasa yang senantiasa kita ungkapkan dalam setiap pengalaman hidup. Ungkapan syukur kepada Tuhan harus mendarah daging dalam jati diri setiap orang Katolik. Kita mengucap syukur atas segala anugerah hidup yang terjadi dalam hidup. Pada satu sisi, ucapan syukur kita sampaikan kepada Tuhan berkat segala kebaikan, keberhasilan, kesuksesan, dan sukacita yang terjadi. Tentu tidak menafikan (menghilangkan) peran manusiawi kita. Namun kita percaya bahwa atas intervensi Tuhan, kita boleh mengalami hal-hal yang positif dalam kehidupan. Pada sisi yang lain, ungkapan syukur juga patut kita gaungkan kepada Tuhan atas pengalaman kegagalan, kesulitan, pergumulan, dan bahkan keterpurukan dalam hidup. Ada kalanya, Tuhan membiarkan pengalaman-pengamalan demikian untuk mematangkan dan mendewasakan pribadi kita. Supaya kita menjadi pribadi yang kuat, tahan banting, tidak mudah goyah dan patah dalam mengarungi alam kehidupan fana yang tidak mudah ini.

 

Ungkapan syukur kepada Tuhan mempresentasikan pengalaman tidak terbatas pribadi kita sebagai makhluk terbatas di hadapan Tuhan. Banyak pengalaman yang kita alami dalam kehidupan tidaklah cukup ditangkap dan dimengerti dengan indrawi manusiawi. Kita membutuhkan pengertian dan pemahaman  yang melampaui batas indrawi agar kita bisa memahami makna hidup yang paling hakiki. Karena di dalamnya, ada entitas adikodrati yang bernama Tuhan. Tuhan yang kita imani sebagai orang Katolik. Ungkapan syukur kepada Tuhan menjadi jalan bagi kita sebagai orang beriman untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Dan kita tidak salah memilih. Karena ungkapan syukur kepada-Nya, dapat menguatkan pribadi dan membawa keselamatan dalam hidup kita.

Rabu, 22 Juni 2022

Semakin Berserah Kepada Tuhan

Mat 7:1-5

 

Ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik. Suatu hari, seorang pengusaha kaya ingin membeli kuda itu. Ia menawar kuda itu dengan harga yang sangat tinggi. Sayang si petani tidak menjualnya. Teman-temannya menyayangkan dan mengejek dia karena tidak menjual kudanya. Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya. Maka teman-temannya berkata: “Sungguh jelek nasibmu, padahal kalau kemarin kudanya dijual pasti kamu sudah menjadi orang kaya”. Si petani miskin hanya diam saja. Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama lima ekor kuda lainnya. Menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu, kawan-kawan petani berkata: “Wah beruntung sekalih nasibmu. Ternyata kudamu membawa keberuntungan”. Si petani hanya diam saja.

 

 Beberapa hari sesudahnya, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru mereka, terjatuh dan kakinya patah. Kawan-kawannya berkata: “Rupanya kuda-kuda itu membawa sial. Lihat sekarang anakmu. Kakinya patah”. Si petani tetap diam dan tidak berkomentar. Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu. Semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang. Kecuali si anak petani karena tidak bisa berjalan. Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis: “Beruntung sekalih nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang. Kami harus kehilangan anak-anak kami”. Si petani pun berkomentar: “Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasi baik atau jelek. Semuanya adalah suati rangkaian proses. Syukuri dan terimalah keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok. Yang pasti Tuhan paling tahu yang terbaik untuk hidup kita. Lakukan apa yang menjadi tugas kita. Selanjutnya biarkan Allah melakukan juga apa yang menjadi bagiannya dalam hidup kita.

 

Manusia mempunyai kecenderungan menghakimi orang lain dengan tergesa-gesa. Manusia bisa menghakimi orang lain karena satu hal atau lebih. Tetapi ternyata seringkali ia tidak mampu melihat aneka kekurangan atau kesalahan yang ada dalam dirinya. Seperti kata pepatah, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Kuman di seberang laut tampak. Leo Tolstoy pernah berkata: “Banyak orang yang berambisi ingin mengubah dunia. Banyak orang yang berambisi untuk mengubah hidup orang lain, tetapi terlalu sedikit orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”. Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang demikian. Dan ini juga menjadi tantangan atau ujian bagi kita dalam hidup bersama sebagai umat Allah.

 

Yesus juga menegur dengan keras perilaku orang-orang yang suka menghakimi sesamanya. “Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi” (Mat7:1). Sikap menghakimi yang dimaksudkan dalam hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengkritik orang lain. Atau bukan berarti juga kita tidak boleh menegur kesalahan orang lain. Bukan berarti pula kita meniadakan nalar kritis kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah; mana yang baik dan mana yang jahat. Bukan juga maksudnya kita tidak peduli dengan kesalahan orang lain, menutup mata dengan kesalahan orang lain. Bukan demikian poinnya. Tetapi sikap menghakimi yang dimaksudkan di sini adalah lebih kepada sikap yang begitu fanatik dan agresif terhadap dosa-dosa orang lain, namun menjadi toleran dengan dosa-dosa sendiri. Sikap menghakimi di sini lebih kepada sikap yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi dirinya sendiri tidak sadar bahwa dia sebenarnya juga memiliki kesalahan yang jauh lebih besar. Manusia begitu marah melihat dosa-dosa orang lain, tetapi tidak marah terhadap dosa-dosa sendiri. Meremehkan dosa-dosa sendiri adalah salah satu bentuk kemunafikan. Dosa kemunafikan adalah dosa yang paling sulit kita lihat. Paling sulit kita sadari, karena dosa ini membutakan diri kita sendiri. Dosa kemunafikan berakar dalam sikap pembenaran diri.

 

Sikap menghakimi dan munafik memiliki korelasi yang dekat. Orang yang suka menghakimi biasanya memiliki kecenderungan untuk bersikap munafik. Ia akan menutup rapat pelbagai kekurangan, kesalahan, dan dosa yang dipunyai. Bersamaan dengan itu, ia begitu gampang untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Setelah mendapat apa yang diinginkan, ia pun membangun kekuatan baik secara pribadi maupun secara kolektif untuk menyerang orang lain. Serangan yang menghakimi orang lain bisa dilakukan secara langsung. Bertemu orangnya dan langsung menyerang. Bisa juga tindakan main hakim dilaksanakan secara tidak langsung. Misalnya,melalui media daring (FB, twiiter, instagram. Menurut saya, sikap main hakim lewat media online ini sudah sangat menjamur, dianggap lebih mudah dilakukan tanpa beban karena tidak berhadapan muka. Dan tentu saja sudah masuk pada level yang sangat mengkuatirkan. Karena orang tidak peduli lagi dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Apalagi dengan ajaran agama. Orang mungkin bisa mendengkarkan, namun tidak bisa merealisasikan dalam perbuatan konkrit apa yang telah ditangkap oleh indra pendengar. Justru yang jamak terjadi adalah pengembangbiakan sikap munafik. Orang cenderung bermain aman dengan sikap munafik ketika hendak melakukan penghakiman terhadap sesamanya.

 

Marilah kita semakin berserah kepada Tuhan. Datanglah kepada Tuhan seperti pemungut cukai. Biarkan Tuhan mengeluarkan selumbar di matamu. Biarkan Tuhan menyingkap kesalahan dalam hidupmu. Biarkalah Ia meluruskan jalanmu. Setelah Tuhan mengeluarkan balok di dalam mata, maka kita dapat melihat bahwa Dia adalah satu-satunya Hakim yang benar.

Selasa, 21 Juni 2022

Hidup Dalam Semangat Pengampunan

Mat 5: 38-42

 

Hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati seorang imam dan pujangga gereja yang telah menjadi seorang kudus. Dia adalah Santo Antonius Padua. Antonius lahir di Lisbon, Portugal pada tahun 1195, dari latar keluarga yang kaya dan terpandang. Awalnya ia adalah seorang biarawan dari ordo Agustinian. Namun motivasinya terlecut untuk menjadi biarawan dari ordo Fransiskan (OFM), ketika melihat secara langsung relikwi (bagian tubuh atau barang-barang pribadi milik orang kudus) Santo Bernardus Abas dan kawan-kawannya yang disemayamkan di kapel milik Agustinian. Bernardus Abas dan kawan-kawannya menjadi martir di tanah Afrika. Dan Antonius memiliki tekad yang kuat untuk menggantikan mereka; bermisi di tanah Afrika.

 

Setelah mendapat izin dari pimpinannya dari ordo Agustinian, akhirnya Antonius bergabung dengan ordo Fransiskan pada tahun 1221. Di dorong oleh motivasi yang kuat untuk menjadi misionaris di tanah Afrika, Antonius pun memenuhi nazarnya dengan mendarat di tanah Maroko. Sebuah negara yang terletak di Afrika bagian utara. Setibanya di Maroko, masalah pelik pun muncul. Antonius tidak bisa berkarya ditempat itu, karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. Ia terus mengalami sakit sehingga pihak otoritas ordo Fransiskan memutuskan untuk memulangkannya ke Portugal. Namun karena kapal laut yang ditumpanginya terhalang oleh badai, Antonius tidak kembali negara asalnya, Portugal. Antonius bersama awak kapal berhenti di Sisilia, Italia. Para Fransiskan yang ada di sana memberi tumpangan dan mengajaknya bergabung dalam segala kegiatan mereka. Pada awalnya, para Fransiskan di Italia tidak mengetahui potensi besar yang dimiliki Antonius. Mereka hanya menganggapnya sebagai seorang biarawan biasa. Apalagi dia hanya seorang asing yang membutuhkan tempat tinggal. Bakat besarnya sebagai pengkotbah ulung baru terekspose ketika ia diminta untuk berkotbah menggantikan pengkotbah lain yang berhalangan hadir. Semua orang merasa heran dan kagum dengan kata-kata yang diucapkannya. Termasuk Fransiskus, seorang biarawan Fransiskan yang kemudian dikenal dalam gereja Katolik sebagai orang kudus dengan nama Santo Fransiskus Asisi. Oleh Fransiskus Asisi, Antonius diberi tugas untuk mengajar dan berkotbah dalam banyak kesempatan. Secara khusus, Antonius diberi tugas oleh Fransiskus Asisi untuk mengajar para bruder Fransiskan.

 

Karena kecakapannya dalam berbicara dan berkotbah, Antonius begitu dipuji, dikagumi, dan disenangi oleh banyak orang. Setelah mendengar kotbahnya, banyak orang yang tergerak untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan. Antonius juga memiliki kecakapan lain untuk membuat mukjizat pertobatan. Banyak orang yang saling bermusuhan bisa didamaikan olehnya. Banyak pengumpat dan pemfitnah meminta maaf. Banyak pencuri dan pemeras yang bertobat. Mereka mengembalikan barang hasil curian atau pemerasan kepada para korbannya. Tidak heran, Antonius Padua dikenal sebagai santo pelindung bagi orang yang kehilangan barang. Dari sekian tempat yang menjadi medan perutusannya, Antonius sangat merasa tertarik dan betah untuk tinggal di daerah Padua. Kesetiaan iman yang kokoh dari umat Padua menjadi salah satu pertimbangan dasar mengapa Antonius sangat mencintai wilayah Padua. Di tempat inilah, pada tanggal 13 Juni 1231, Santo Antonius dari Padua menghembuskan napasnya yang terakhir. Kesalehan hidup santo Antonius Padua sungguh bercermin dari Sang Guru Ilahinya, Yesus Kristus. Terutama elemen penting untuk mengasihi semua orang yang telah berbuat kejahatan. Kasih kepada para musuh atau pelaku kejahatan dikonritkan dalam semangat pengampunan. Semangat pengampunan itu tergambar secara nyata dalam kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42). “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39). Santo Antonius tidak pernah membenci pribadi para penjahat, pencuri, dan pemeras. Yang dia benci hanyalah sikap atau perilaku dari orang-orang yang bertindak di luar kehendak Allah. Oleh karena itu, Antonius berdoa kepada Allah agar para penjahat, pencuri, dan pemeras segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Berkat efek doa yang dasyat, banyak orang mengalami mukjizat pertobatan.

 

Kalau pada hari ini, saya bertanya kepada anda sekalian, mampukah anda mengampuni semua orang yang telah bersalah kepada kita? Saya sangat yakin bahwa sebagian besar dari kita pasti menjawab sangat berat dan tidak mampu. Apalagi perbuatan jahat yang ditimpakan itu menyerang area privasi dan begitu menyakitkan pribadi kita. Secara manusiawi, tentu kita mengambil sikap resisten atau melawan. Kita tidak menerima begitu saja sikap tidak baik dari orang lain. Prinsip gigi ganti gigi, mata ganti mata ternyata bukan sekedar slogan. Karena sampai dengan saat ini, ungkapan usang tersebut masih kita hidupi dalam realitas sehari-hari. Sangat sulit kita memberi ampun atau maaf manakala kita mengalami langsung dampak dari perilaku tidak baik yang dilakukan oleh orang lain. Hidup dalam semangat pengampunan itu menjadi ciri khas hidup kekristenan kita. Kalau kita belum atau tidak mampu hidup dalam spirit pengampunan, sejatinya kita belum menjadi seorang murid Yesus yang sejati. Ini hal yang paling berat diperbuat manusia yakni harus mengampuni orang yang telah bersalah. Namun seturut ajaran Yesus, spirit pengampunan itu harus tergambar dalam kenyataan hidup sehari-hari, Tidak sekedar diucapkan. Santo Antonius Padua telah memberi contoh nyata bagaimana ia mengampuni para penjahat, pencuri, pemeras, pemfitnah, dan pengumpat dengan cara mendoakan mereka supaya bertobat. Kita bukan seperti Santo Antonius yang memiliki kharisma khusus untuk mentobatkan seseorang.

 

Namun minimal dengan mengelola sikap dan pikiran secara baik, tidak terprovokasi oleh situasi buruk, mulai membangun konstruksi berpikir yang positif, saya kira bisa menjadi langkah awal bagi kita untuk menghidupi spirit pengampunan dalam diri. Dalam ilmu psikologi, sikap pengampunan merupakan sebuah nilai positif dalam rangka membangun kepribadian yang kokoh. Hanya dengan mengampuni, seseorang dapat memperoleh kesehatan secara jasmani dan rohani. Dan dalam keyakinan iman kita, sikap pengampunan merupakan sikap mulia yang dikehendaki oleh Tuhan agar kita dapat mencapai kebaikan dan keselamatan hidup. Kerajaan Allah sungguh membumi karena kita tidak ragu menonjolkan semangat pengampunan. Mari kita membangun keadaban baru dalam hidup dengan spirit pengampunan. ***AKD***

Kamis, 07 April 2022

BERIMAN TEGUH KEPADA YESUS

 

Yoh 10:31-42

 

                        Budaya kebanyakan orang adalah lebih suka melihat dan menilai kelemahan orang lain ketimbang mengintrospeksi kelemahan diri sendiri dan berniat memperbaikinya. Apabila kritik dan saran kita kepada orang lain dengan maksud dan intensi yang positif, maka secara tidak langsung kita sedang berjuang mengembangkan orang itu, meskipun untuk itu dia harus berjuang keras untuk merubah sikapnya. Sikap kritis itu penting dibutuhkan asalkan kritik itu tidak membabi buta. Mestinya kita harus membuka hati dan diri kita untuk mengakui bahwa masih ada kebenaran lain yang lebih hakiki yang disampaikan oleh orang lain. Terkadang, kritik yang disampaikan oleh orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita selalu dianggap penista agama, padahal apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran. Orang yang fanatik biasanya menganggap bahwa satu-satunya kebenaran mutlak adalah agamanya, bahkan mereka menganggap bahwa di luar agamanya tidak ada keselamatan. Konsep berpikir yang demikian, menutup jalan bagi kita untuk mengetahui kebenaran sejati. Injil hari ini melukiskan sebuah ironi besar dalam sejara keselamatan. Para pemimpin agama Yahudi yang biasanya mengajarkan jalan kebenaran dan hidup yang benar, berkonspirasi untuk melakukan kejahatan. Alasan yang dipakai bukan semata-mata memenuhi hukum agama, tetapi untuk menyelamatkan kedudukan dan kekuasaan duniawi mereka. Pertanyaannya kemudian: apakah sikap yang demikian masih kita hidupi dan praktekkan di zaman yang sudah modern ini?

 

                        Orang-orang Yahudi bisa dikategorikan sebagai kelompok yang sangat fanatik dan begitu kaku memahami seluruh hukum Taurat sehingga mereka tidak mau apa pun perkataan Yesus yang mengungkapkan hakikat-Nya sebagai Putera Allah. Pengungkapan diri ini penting, karena justru hakikat diri Yesus inilah yang menjadi pintu gerbang keselamatan. Yesus bersabda: “Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya”. Pertentangan orang-orang Yahudi dengan Yesus bersumber dari ketidakmampuan mereka memahami siapa Yesus sesungguhnya. Mereka sangat kagum dengan figur Abraham sebagai bapa bangsa tetapi mereka sendiri tidak menghayati iman menurut teladan Abraham. Bagi orang-orang Yahudi, Allah adalah satu-satunya pribadi yang sangat dihormati dan mereka begitu getol membela Dia dari segala bentuk penistaan. Dengan dalil itu, mereka ingin melempari Yesus dengan batu: “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau hanya seorang manusia”. Menurut mereka, Yesus adalah penista agama dan jelas-jelas menghujat Allah sehingga harus menerima hukuman mati dengan cara dirajam. Tuduhan palsu ini melunturkan semua prestasi yang telah dikerjakan oleh Yesus seperti pengajaranNya tentang cinta kasih dan mukjizat-mukjizat lainnya yang tidak mampu dikerjakan oleh manusia biasa kalau bukan bersumber dari Allah sendiri dalam diri Yesus Kristus PuteraNya.

 

                        Orang-orang Yahudi begitu tertutup hatinya terhadap kebenaran firman yang disampaikan oleh Yesus karena mereka tidak mendalami firman Allah secara benar dan sungguh-sungguh. Mereka memandang firman Allah tidak lebih dari sekedar deretan hukum yang harus dipatuhi untuk mengatur ketertiban hidup bersama. Firman Allah harus didalami dengan bantuan iman sehingga menumbuhkan harapan yang kokoh pada penyelenggaraan Ilahi karena firman itu adalah sumber kebenaran orang beriman. Akan tetapi, kalau firman itu hanya dipahami sebagai seperangkat aturan untuk mengatur hidup bersama dalam masyarakat, maka rasa cinta pada firman itu berkurang dan tidak bermakna. Sebetulnya di sini sedang terjadi penghinaan terhadap keluhuran martabat Firman sebagai karunia Allah yang menghantar manusia kepada jalan kebenaran hakiki. Pikiran orang-orang Yahudi itu begitu sempit sehingga gagal melihat peran Allah di balik perbuatan-perbuatan baik Yesus. Melihat fenomena kehidupan iman orang-orang Farisi yang dangkal tersebut, maka Yesus pun tidak memaksa mereka untuk percaya pada kata-kataNya tetapi meminta mereka untuk percaya pada apa yang dilakukanNya. Karena, perbuatan-perbuatan tersebut membuktikan bahwa “Bapa ada dalam Aku dan Aku ada di dalam Bapa.”

 

                        Kekerasan hati orang-orang Yahudi praktis membuat mereka sulit sekali mengakui Yesus sebagai Putera Allah. Segala pengajaran, mukjizat dan perbuatan-perbuatan baik lainnya yang dilakukan Yesus bukannya membuat mereka percaya tetapi justrus mereka menolak dan bahkan berusaha membinasakan Yesus dengan alasan Ia telah menghujat Allah. Hati kita pun sering kali juga keras seperti mereka, sehingga kita tidak mampu menangkap dan memahami karya-karya baik Allah melalui orang-orang yang diutus-Nya. Kita sering terperangkap dan terbelenggu melihat pribadi orang, bukan maksud baiknya. Sehingga, ketika orang tersebut melakukan suatu kebaikan, kita menolak atau bahkan mencurigainya dengan berbagai macam alasan. Yesus menasihati orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada-Nya, agar mereka mempercayai kebaikan-kebaikan karya yang dilakukanNya, sehingga mereka percaya kepada Bapa yang ada di dalam diriNya. Nasihat itu ditunjukkan juga kepada kita, jika muncul penolakan  dalam hati kita terhadap seseorang yang mewartakan Allah melalui suatu karya atau perbuatan yang baik, hendaknya kita melihat buah-buah kebaikan dari karya itu supaya kita bisa menerima kebaikan-kebaikan Tuhan yang diberikan kepada kita melalui orang lain.

 

                        Kata-kata memang bisa diperdebatkan tetapi perbuatan nyata mengatasi dan mengalahkan semua argumen yang kita bangun. Yesus membuktikan identitas ilahi-Nya lewat perbuatan-perbuatan nyata sebagai representasi kehendak Allah sendiri dan tidak pernah membangun opini kosong. Yesus terus menerus berfirman kepada kita dalam berbagai peristiwa hidup. Kitab Suci menjadi pedoman dasar bagi kita dan rahmat Ilahi tampak dalam banyak hal seperti alam raya yang indah, kebaikan sesama, bahkan dahsyatnya bencana alam yang memporak-porandakan wilayah kita. semua peristiwa hidup yang kita jumpai dan alami, sesungguhnya sedang berbicara tentang hakekat Allah yang mungkin tidak kita sadari. Semua fenomena yang terjadi, harus dilihat sebagai peristiwa iman bukan sebuah kebtulan. Berbagai tantangan akan tetap saja merongrong hidup iman dan perutusan kita sebagai  pengikut Yesus zaman ini. Kadang serasa berat membebani kita, namun demikian, kita mesti berani menghadapi  dengan sikap seperti yang telah diteladankan oleh Sang Guru Ilahi. Kita berjuang terus dalam proses jatuh dan bangun, seraya menjadikan firman Allah sebagai andalan dan kekuatan kita: “Bapa, terjadilah kehendakMu atas diri kami.” Injil hari ini, menyadarkan kita semua  bahwa kita bisa membuktikan diri sebagai pengikut Yesus lewat sikap dan perbuatan baik kita kepada sesama, bukan sedang berjuang melawan kehadiran Allah dan pengajaranNya tentang kebaikan dan kasih. Bangunan Gereja yang megah, ibadat yang meriah, doa, ziarah, jalan salib yang kita lakukan sepanjang masa pra-Paskah ini sunguh mengaruhkan, namun belum bisa  menjadi bukti yang menjamin seorang pengikut Kristus, kalau semuanya itu hanyalah upaya pencitraan diri semata. Mari kita menajamkan suara hati kita agar mampu melihat bahwa Firman itu bukan sekedar seperangkat aturan yang kaku melainkan jiwa dari seluruh eksistensi kita sebagai manusia beriman. Sikap dan penolakan orang-orang Yahudi terhadap hakikat Yesus, membantu kita yang sedang mempersiapkan diri di masa pra-Paskah ini untuk memurnikan hati dan iman kita agar menyongsong Paskah kebangkitan Tuhan dengan pertobatan sejati.

Senin, 21 Maret 2022

Menjauhi Sikap Iri Hati

Luk 4:24-30

 

Salah satu ciri khas sikap manusia adalah cenderung merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Oleh karena itu dengan berbagai cara dan usaha yang keras, manusia berusaha memenuhi apa yang menjadi target, kebutuhan atau bahkan sekedar keinginan yang tidak penting. Manusia tidak saja tidak merasa puas dengan apa yang dimilikinya secara pribadi. Manusia acapkali juga merasa tidak puas, merasa tidak senang, merasa tidak bahagia dengan segala kepunyaan yang dimiliki orang lain. Dalam konteks ini, sikap negatif yang ditampilkan manusia adalah sikap iri hati. Orang yang mengidap jenis penyakit ini, tidak menghendaki orang lain memiliki kelebihan atau keunggulan dalam bidang tertentu. Apalagi jika ia sendiri tidak mampu mencapai level itu. Tentu, kadar iri hatinya semakin besar.

 

Perlakuan tidak adil dan tidak manusiawi dialami Yesus dalam peristiwa Injil kali ini (Luk 2:24-30). Dan ironisnya lagi, pengalaman tidak mengenakan itu justru dialami Yesus di kampung halaman-Nya sendiri yakni Nazaret. Yesus ditolak oleh keluarga dan orang-orang sekampung-Nya setelah mereka melihat pelbagai hal hebat dan ajaib yang dilakukan oleh-Nya. Bukannya memberikan dukungan moril dan merasa bangga, malahan mereka merespon dengan sikap negatif. Mereka menolak kehadiran Yesus dan berencana membunuhnya. Orang-orang Nazaret beralasan bahwa mereka sangat mengenal latar keluarga Yesus. Ia hanyalah anak seorang tukang kayu miskin yang bernama Yosef. Ibunya, Maria, memiliki kehidupan yang sangat sederhana. Tidak mungkin dari keluarga kecil ini bisa melahirkan seseorang yang hebat dan cerdas. Maklum pada saat itu, secara sosial budaya, hanya orang kaya dan berasal dari kalangan atas yang memiliki akses untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Dan hanya dari kalangan inilah akan muncul orang hebat, cerdas, dan pintar.

 

Ketidaksesuaian antara latar kehidupan dan segala hal fenomenal yang melekat dalam diri Yesus inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang Israel tidak menerima Yesus. Dengan kata lain, mereka bersikap iri hati kepada-Nya. Sehingga tidak heran apabila Yesus membuat persamaan antara apa yang dilakukan oleh orang Israel dulu dan orang Israel pada zaman-Nya. Yesus mengingatkan orang-orang sekampung-Nya bahwa apa yang mereka lakukan terhadap diri-Nya, sama persis dengan tindakan orang Israel tempo dulu terhadap nabi Elia dan Elisa. Dua nabi besar ini berasal dari Israel. Namun sungguh aneh karena keduanya tidak diakui dan tidak diterima dalam kalangan orang Israel sendiri. Justru kedua nabi besar ini mendapat penerimaan dan kepercayaan dari bangsa lain yang dianggap sebagai bangsa kafir oleh orang Israel. Misalnya Elia yang menolong seorang janda di Sarfat, tanah sidon (Luk 4:26). Atau Elisa yang menyembuhkan Naaman, orang Siria, dari sakit kusta (Luk 4:27). Mereka ditolong oleh dua nabi besar ini (Elia dan Elisa) karena kehadiran mereka lebih diterima di tempat lain, bukan di tanah Israel.

 

Perilaku destruktif yang dilakukan oleh Israel zaman Yesus, seolah-olah menulis ulang cerita kelam yang dialami oleh para nabi utusan Allah di tanah Israel. Bahwa mereka sungguh tidak diterima dan tidak dipercayai. Diterima saja tidak, apalagi mendapat kepercayaan. Ternyata sikap iri hati memainkan peran yang sangat menonjol. Orang Nazaret – yang adalah juga Israel – tidak menerima kemampuan fenomenal yang dimiliki Yesus. Mungkin sebatas kagum, heran, dan bingung. Lain dari pada itu, mereka tidak mengakui dan menolak Yesus dengan tegas. Mereka merasa iri karena mungkin beberapa hal berikut. Pertama, hanya Yesus dari kalangan bawah yang memiliki anugerah demikian. Kedua, mereka tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas seperti Yesus. Ketiga, para kaum ulama di kampung Nazaret merasa takut akan kehilangan jabatan, prestise dan simpati publik.

 

Sikap iri hati memang tidak pernah lekang oleh waktu. Ia tetap ada sepanjang segala zaman yang berbeda. Dan kita yang mengaku sebagai pengikut Yesus masa kini, kadang-kadang atau seringkali menjadi aktor utama dari sikap negatif ini. Acapkali kita merasa susah dengan kesenangan yang dimiliki orang lain. Bisa juga di lain waktu, kita merasa senang dengan kesusahan yang dialami oleh sesama. Kita tidak tahan diri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Entah itu bersifat materi atau keunggulan lain dalam kompetensi, minat atau bakat tertentu. Kita gampang berlaku iri hati dengan orang yang memiliki sesuatu. Tidak hanya secara samar-samar. Bisa juga secara eksplisit atau terang benderang, kita nyatakan rasa iri hati dalam kata-kata dan perbuatan yang menyakiti, merendahkan, dan membunuh karakter. Kita tidak mau orang lain memiliki sesuatu dan merasa bahagia. Kita hanya mau apabila mereka hanya ditimpa kegagalan dan kesusahan. Kita tidak mau orang lain melewati kita dengan keunggulan atau kelebihan dalam hal tertentu. Kita hanya mau mereka tetap berada di bawah. Atau lebih parah lagi, di bawah telapak kaki.

 

Kini kita telah memasuki masa prapaskah minggu ketiga. Semoga kita mendapat inspirasi yang baik pada hari ini untuk segera membongkar dan melepaskan sikap iri hati yang masih bercokol dalam hati dan pikiran. Kita mulai menanamkan sikap saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam bingkai membangun rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Kita mau saling belajar untuk terus maju dan berkembang dari segala kelebihan dan keunggulan yang dimiliki masing-masing. Dan di atas semua itu, kita mau bertobat dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Karena kita yakin, Tuhan sementara menulis ulang segala hal baik yang akan kita alami di dalam kehidupan ini.

Rabu, 23 Februari 2022

Mengusung Sikap Toleransi

                                      Mrk 9:38-40

 

Toleransi adalah sikap manusia untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan baik antar individu maupun kelompok. Untuk menghadirkan perdamaian dalam keberagaman, perlu adanya sikap toleransi. Secara etimologi (asal-usu kata), kata toleransi berasal dari bahasa Latin Tolerare yang berarti sabar dan menahan diri. Kemudian kata Tolerare diadopsi ke dalam bahasa Inggris Tolerance yang berarti membiarkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata toleransi berarti sikap toleran, membiarkan, dan mendiamkan. Toleransi dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Tasamuh. Dengan demikian, hakikat sikap toleransi menunjuk pada sikap saling menerima adanya perbedaan entah suku, agama, golongan, etnis, dengan saling menghargai dan menghiormati satu sama lain. Jadi sejatinya, sikap toleransi melampaui sekat-sekat atau perbedaan yang melekat dalam kehidupan sosial masyarakat.

 

Sikap toleransi ternyata sudah berusia sangat tua. Pada zaman Yesus, sikap toleransi sebenarnya sudah dihidupi dan dipraktekkan. Dan Yesus sendiri menjadi inisiator sekaligus motivator yang menggerakkan para murid-Nya untuk tidak ragu-ragu menerapkan sikap toleransi dalam hidup. Dalam suatu kesempatan, salah seorang murid, yang bernama Yohanes, melakukan curhat dengan Yesus. “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita” (Mrk 9:38). Yohanes menyangka bahwa ia akan mendapat dukungan moril dari Yesus terkait dengan tindakannya itu. Namun, jawaban Yesus sungguh berbanding terbalik dengan harapannya. “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku” (Mrk 9:39).

 

Jawaban Yesus di atas, secara otomatis meredam pemikiran sempit para murid yang diwakili oleh Yohanes. Sekian lama berada dan meng”ada”bersama-sama dengan Yesus, menciptakan sikap ekslusif dikalangan dua belas rasul. Mereka merasa berbeda dengan orang lain pada umumnya. Mereka merasa diri lebih hebat, lebih memiliki kemampuan, kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang murid Yesus. Karena rasa yang ekslusif demikian, para murid berpikir bahwa hanya dalam kalangan mereka saja yang bisa melakukan mukjizat atau tanda heran dalam nama Yesus. Mereka tidak mengakui ada orang lain di luar kelompok mereka yang bisa melakukan mukjizat.

 

Dan hal ini terbaca dalam diri Yohanes ketika secara eksplisit, ia bersama-sama dengan para murid yang lain mencegah orang lain yang melakukan mukjizat dalam nama Yesus. Dengan tegas, Yesus membuka cakrawala berpikir para murid-Nya, agar bisa melihat realitas secara proporsional, tidak sempit dan ekslusif. Belum tentu mereka yang melakukan mukjizat dalam nama-Nya, kemudian berbalik melawan diri-Nya. Justru menurut Yesus, orang lain di luar mereka, dapat menjadi bagian dari mereka. Karena ia melakukan sesuatu yang benar di mata Yesus. Walaupun belum tentu ia mengenal dan percaya kepada Yesus secara pribadi.

 

Dengan hal ini, pada hakikatnya, Yesus mau mengusung sikap toleransi dalam hidup manusia. Bahwa di tengah realitas sosial yang penuh keberagaman, sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan itu sangat penting. Kebenaran itu tidak bisa diklaim oleh salah satu kelompok saja. Dan tidak dengan serta merta seseorang atau kelompok orang tertentu mempersalahkan orang atau kelompok lain atas nama kebenaran pribadi atau kelompoknya. Seturut ajaran Yesus, kebenaran itu sifatnya universal. Barangsiapa melakukan prinsi-prinsip kebaikan dan kebenaran dalam hidupnya, ia adalah murid Yesus, walaupun ia tidak mengenal dan mengimani Yesus.

 

Gereja sebelum Konsili Vatikan II memang mengusung slogan extra ecclesiam nulla salus. Di luar gereja tidak ada kebenaran. Namun hasi keputusan Konsili Vatikan II (1962-1965) merekonstruksi slogan ekslusif di atas menjadi lebih inklusif. Slogan Gereja Katolik era Vatikan II kemudian dikenal sampai sekarang dengan istilah extra ecclesiam salus est (di luar gereja ada kebenaran). Gereja Katolik akhirnya mengakui bahwa di luar dirinya, ternyata ada kebenaran. Kebenaran itu milik siapa saja. Tidak terbatas dalam Gereja Katolik. Milik semua orang dan kelompok yang menghidupi, memperjuangkan dan membumikan prinsip-prinsip kebenaran demi kemaslahatan atau kebaikan bagi segenap makhluk. Dengan mengakui kebenaran yang ada pada orang atau kelompok lain, Gereja Katolik era Konsili Vatikan II semakin belajar untuk memahami dan menghidupi semangat toleransi yang sudah diwartakan dan dilakukan oleh Yesus.

 

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa realitas sering berkata lain. Walaupun pikiran kita sudah banyak dijejali dengan ajaran yang konstruktif untuk membangun semangat toleransi, ternyata belum sepenuhnya diimplementasikan dalam hidup. Kita masih cenderung berpikir dan berlaku demi kita saja. Dan dengan tegas kita menarik batas yang jelas dengan orang lain yang berbeda dengan kita. Entah berbeda dalam agama, daerah, suku, golongan, etnis, dan sebagainya. Kadang kita merasa dan berpikir paling benar sehingga mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang lain yang berbeda dengan kita. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang lain, tidak dirasa benar karena sudah diberi label berbeda. Karena dianggap berbeda, cenderung kita memperlakukan mereka secara berbeda pula. Ada sikap diskriminatif yang kita lakonkan sehingga mempertontonkan sikap tidak menghargai dan menghormati.

 

Hari ini kita mendapat inspirasi yang sangat bernilai dari Yesus sendiri untuk mengusung nilai toleransi dalam hidup. Kita mau hidup untuk membangun semangat toleransi dengan siapa saja yang berbeda dengan kita. Kita percaya, walaupun mereka tidak mengimani Yesus, namun sesungguhnya mereka adalah murid Yesus yang tergambar dalam sikap dan perbuatan mereka yang baik dan benar. St Yakobus mengingatkan kita dalam suratnya pada hari ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17). Oleh karena itu, bersama St. Polikarpus yang kita kenangkan pada hari ini, mari kita selalu mengusung sikap toleransi dalam hidup dengan melakukan banyak kebaikan bagi orang lain, tanpa memandang sekat-sekat yang membatasi.

Senin, 21 Februari 2022

Memahami Berkat Yang Tersembunyi

                                                              Mrk 8:22-26

 

Mungkin anda pernah mendengar pepatah Latin yang berbunyi vita est militia. Hidup adalah perjuangan. Tidak sedikit orang melekatkan kalimat ini dalam curriculum vitae (riwayat hidup) sebagai motto hidup. Kalau pun tidak sempat menulis dalam biografi hidup, setidaknya secara lisan, banyak yang mengakui atau menegaskan kata-kata latin ini sebagai motto hidup. Memang betul, vita est militia merupakan sebuah kalimat yang terbentuk dari kata-kata yang sederhana. Namun pada dirinya sendiri, mengandung makna yang sangat dalam. Bahkan kalau diulas lebih jauh, bisa menghasilkan sebuah maha karya yang menginspirasi banyak orang.

 

Vita est militia adalah filosofi hidup yang mendeskripsikan esensi sekaligus eksistensi hidup manusia yang sesungguhnya. Bahwa untuk menggapai hidup yang penuh makna, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak kecil. Hidup adalah perjuangan merupakan sebuah proses kehidupan untuk menegaskan eksistensi manusia yang hidup di atas dunia. Menjalani kehidupan itu tidak mudah. Tidak instan seperti mie instan. Sekali masak langsung jadi. Hidup itu harus diperjuangan dan dimenangkan dalam tahap demi tahap. Dan dalam setiap tahap kehidupan, ada sekian tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Jiwa manusia tidak boleh lemah. Apalagi menjadi putus asa. Hidup itu harus senantiasa diperjuangkan step by step (tahap demi tahap) agar manusia sungguh mengerti betapa berartinya sebuah kehidupan. Dalam kaca mata iman, kita percaya bahwa dalam ziarah kehidupan manusia yang penuh dinamika dan kompleks, sebenarnya ada intervensi Tuhan yang sementara mendidik pribadi manusia menjadi lebih matang dan dewasa.

 

Dalam peristiwa penyembuhan seorang buta oleh Yesus di daerah Betsaida (Mrk 8:22-26) diperlihatkan kepada kita semua sebuah kisah yang unik dan menarik. Orang buta yang menjadi sasaran penyembuhan itu tidak langsung mengalami kesembuhan. Secara rinci, penginjil Markus membeberkan tahap demi tahap penyembuhan itu. pertama-tama, ada orang yang membawa si buta kepada Yesus dan memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan orang buta tersebut. Kemudian Yesus memegang tangan si buta, menuntun dia ke luar kampung. Kemudian Yesus meludahi mata orang buta dan meletakkan tangan atasnya. Namun, orang buta itu masih melihat samar-samar alias belum jelas. Sekali lagi Yesus meletakkan tangan-Nya pada mata orang buta itu. Dan mukjizat itu mencapai kesempurnaannya. Mata orang buta itu menjadi sembuh sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.

 

Bagi saya, adegan penyembuhan ini terlihat tidak biasa. Biasanya, setiap aksi fenomenal yang dilakukan Yesus itu langsung sekali jadi. Tidak membutuhkan proses atau tahap demi tahap. Namun kita tidak seharusnya membaca kisah penyembuhan ini secara tekstual semata. Kisah ini tidak hanya berhenti pada adegan penyembuhan orang buta. Tentu ada pesan terselubung yang hendak dititipkan oleh Markus dalam kisahnya kali ini. Sejatinya, orang buta tesebut adalah lambang dari para murid pertama dan semua murid Yesus, yang memerlukan sentuhan yang menyembuhkan (Tafsir Alkitab PB, hal.96). Untuk menjadi seorang murid Yesus yang sejati, pasti tidak mudah. Tidak sekali jadi. Butuh proses agar para murid sungguh mengenal dan memahami Yesus secara lebih mendalam. Para murid harus disembuhkan dari kebutaannya agar mata mereka menjadi terbuka melihat Diri Yesus yang sesungguhnya. Secara perlahan-lahan, para murid mulai belajar mengenal siapa Yesus dan mengadopsi segala hal yang Ia katakan dan perbuat. Pada akhirnya mereka juga dapat memahami misi perutusannya sendiri untuk mewartakan Dia yang sungguh-sungguh mereka imani.

 

Tidak hanya murid pertama. Demikian juga kita sebagai murid Yesus di era ini. Walaupun sudah dikukuhkan menjadi anggota gereja melalui sakramen pembaptisan, tidak bisa memberi garansi atau jaminan bagi kita menjadi murid yang sejati. Secara formal kita adalah seorang murid Yesus, namun dalam praksisnya, belum tentu gerak hati, pikiran, dan perbuatan kita selalu terarah kepada-Nya. Kita memerlukan proses waktu untuk lebih dekat dan intim dengan-Nya. Dalam percakapan rohani yang secara terus menerus dibangun bersama Dia, kita membutuhkan sentuhan ilahi-Nya, agar mata hati dan pikiran kita menjadi terbuka. Kita dapat sungguh-sungguh mengenal Yesus dan mengimaninya dengan total. Mengimani tidak hanya dalam kata-kata, tetapi dibuahi dalam perbuatan konkrit.

 

Pengalaman kebutaan tidak hanya dialami oleh si buta dalam Injil. Seringkali, kita juga menjadi buta dalam menyikapi aneka tantangan dan kesulitan yang kita hadapi dalam hidup. Kita gampang terperosok menjadi pribadi yang lemah dan cepat putus asa. Kita tidak tahan banting menghadapi badai cobaan dan tantangan yang datang mendera hidup. Hari ini, Tuhan memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Melalui pengalaman dan kenyataan hidup yang gelap dan menyakitkan, sebenarnya Tuhan sementara menyembuhkan dan memulihkan jati diri kita menjadi pribadi yang tangguh dan matang dalam iman. Kita tidak boleh berkecil hati apalagi sampai mengundurkan diri dari kehidupan yang keras dan menantang ini. Karena di balik keburukan atau kekelaman hidup yang terjadi, Tuhan sementara mendesain hidup yang terbaik bagi kita. Dan itu jauh melampaui pikiran dan intuisi manusiawi kita. Marilah kita sungguh percaya dan mengimani dengan hati yang yang tulus dan total

Menghidupi Iman Dengan Cara Sederhana

 Mrk 6:53-56

 

Iman adalah tanggapan manusia atas wahyu Allah. Iman juga merupakan sikap penyerahan diri yang total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan dengan sukarela. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas. Ia menyapa manusia dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi pula. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi Hidup. Pengalaman religius memang merupakan pengalaman dasar. Di atas pengalaman dasar itulah dibangun iman, penyerahan kepada Allah, pertemuan dengan Allah. Manusia dari dirinya sendiri tidak mungkin mengenal Allah. Umat Kristen mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. Dalam kitab Suci dikatakan, “Tidak seorang pun mengenal Bapa, selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya” (Mat 11:27).

 

Sikap iman yang total kepada Yesus ditunjukkan oleh orang-orang ketika melihat Yesus berada di daerah Genesaret. Tidak sekedar datang melihat Yesus. Mereka juga membawa orang-orang sakit ke hadapan Yesus. Mereka percaya, Yesus akan memberi kesembuhan kepada orang-orang sakit. Saking yakinnya, mereka memohon kepada Yesus untuk cukup saja menyentuh jumbai jubah-Nya. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan keselamatan. Hal ini memberi inspirasi kepada kita betapa orang-orang itu tidak hanya total menaruh iman mereka kepada Yesus. Orang-orang itu juga menghidupi iman mereka dengan cara yang sederhana. Tidak rumit.

 

Sikap iman yang total dan sederhana dari orang-orang, ternyata kontras (berbanding terbalik) dengan sikap iman yang ditunjukkan oleh para murid. Sekian lama berada dan melihat banyak hal tentang Yesus, ternyata belum mampu mendongkrak kadar iman para murid akan Yesus. Dalam peristiwa sebelumnya, yang mengisahkan Yesus berjalan di atas air (Mrk 6:45-52), para murid sangat ketakutan dan mengira Yesus adalah hantu. Bahkan ketika Yesus sudah memperkenalkan diri dan naik ke perahu bersama-sama dengan mereka, itu belum cukup membuat mereka yakin. Injil mencatat ”Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu (Yesus memberi makan lima ribu orang) mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Mrk 6:51-52).

 

Sikap para murid yang belum mampu menunjukkan sikap percaya dan iman yang total kepada Yesus, sebenarnya mempresentasikan sikap iman kita dewasa ini. Sebagai seorang pengikut Yesus, kita acapkali belum atau tidak mampu menunjukkan iman yang total kepada Yesus dan Bapa-Nya. Kita lebih mengandalkan logika atau rasio dalam setiap pengalaman hidup yang kita alami. Pengalaman yang baik dilihat sebagai hal yang biasa saja. Dalam tiap keberhasilan atau kesuksesan yang diraih, kita lebih membanggakan usaha dan prestasi pribadi. Sebaliknya, dalam pengalaman kegagalan, penderitaan, dan keterpurukan, kadang kita lari dan tidak mau menghadapinya. Malahan, kita melempar tanggung jawab, sibuk mencari kambing hitam dan tidak lupa menegaskan pembenaran diri.

 

Dalam pengalaman sakit, yang mungkin pernah atau pada saat sekarang kita sedang mengalaminya, kita belum mau menunjukkan iman yang total kepada Yesus. Malahan kita mengambil jarak dengan Dia dengan tidak mau berdoa. Anehnya, kita lebih mengandalkan kekuatan-kekuatan luar selain kekuatan Yesus. Kita mencari paranormal atau dukun, orang pintar, dan orang hebat untuk mencari tahu dan menyembuhkan rasa sakit dan penyakit yang kita rasakan. Kita tidak mau pergi ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, karena kita lebih mempercayai dukun atau paranormal. Nanti tunggu rasa sakit semakin menjadi-jadi dan tidak diatasi oleh dukun barulah tergopoh-gopoh kita pergi ke fasilitas kesehatan.

 

Orang-orang Genesaret telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Sikap iman kepada Tuhan itu harus dihidupi tanpa adanya sikap kompromi, ragu-ragu, apatis dan sombong. Kita perlu belajar dari orang-orang Genesaret untuk menghidupi iman kita kepada Tuhan dengan sikap iman yang sederhana. Sikap iman yang sederhana menunjuk pada sikap iman yang tulus dan total. Kita mau datang kepada Tuhan dengan cara-cara yang sederhana dan tidak rumit. Kita mau mempercakapkan banyak hal tentang kehidupan kita kepada-Nya dengan kata-kata yang sederhana. Tidak dengan kata-kata yang tinggi dan sulit dimengerti. Bahkan Tuhan sendiri juga bingung dengan aneka istilah yang kita gunakan. Kita butuh waktu yang sederhana, singkat, dan tidak bertele-tele. Dalam kesendirian dan kesunyian, kita mau menyerahkan diri secara total agar Ia mau mendengar segala keluh kesah kita. Kita percaya Tuhan akan menindaklanjuti apa yang kita sampaikan dengan cara-Nya yang penuh misteri, rahasia tetapi sungguh memberi kelegaan dan keselamatan. 

Dan melalui para dokter, para perawat, para bidan, dan semua orang yang bertugas di rumah sakit ini, Tuhan sementara menyingkapkan tindakan-Nya yang penuh misteri agar kita sungguh menyadari kehadiran-Nya di tempat ini. Tuhan sungguh menjawab apa yang kita sampaikan kepada-Nya melalui para tenaga kesehatan yang sementara bertugas di tempat ini. Mereka sebenarnya adalah representasi (perwakilan) dari Tuhan sendiri yang datang untuk memberi kesembuhan dan keselamatan bagi kita yang sementara mengalami sakit. Menghidupi iman yang sederhana berarti pula kita menyadari kehadiran Tuhan yang sungguh misteri, serentak pula menyadari kehadiran-Nya yang sungguh nyata di tempat ini. Kita percaya, Tuhan akan menjawab segala doa yang kita panjatkan kepada-Nya dengan kebijaksanaan ilahi-Nya. Mari kita menyerahkan diri kepada Tuhan dengan menghidupi iman kita secara sederhana.