Minggu, 14 Maret 2021

MENGHIDUPI SIKAP RENDAH HATI

Yoh 4:43-54

Pada masa awal melakukan tugas sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara), secara kebetulan saya bertemu dengan seorang ulama muslim di suatu tempat. Singkat cerita, saya begitu terkesan dengan kata-kata, nasihat dan dukungan morilnya terhadap pribadi saya. Ia banyak menasihati agar saya tidak boleh menjadi pribadi arogan dan lupa diri. Saya harus tetap menunjukkan sikap rendah hati kepada siapa saja; baik kepada pimpinan, rekan kerja, sahabat, kenalan, anggota keluarga, maupun kepada orang-orang yang tidak saya kenal. Dan terutama sikap rendah hati itu harus saya tunjukkan kepada Tuhan yang telah memberikan anugerah yang baik dalam hidup.

 

Sikap rendah hati di hadapan Tuhan juga secara otomatis menegaskan bahwa saya tidak boleh melupakan Tuhan. Saya harus tetap berserah diri dan percaya dengan total kepada segala kehendak-Nya. Karena Tuhan punya cara tersendiri dalam memberikan segala berkat-Nya. Jauh di luar bayangan, pikiran dan pengetahuan saya sebagai manusia. Pertemuan sekilas dengan sang ulama tersebut ternyata tetap membekas dan memberi makna mendalam. Menjadi pribadi rendah hati adalah filosofi hidup yang harus terus saya perjuangkan, saya gaungkan dalam seluruh hidup dan pengalaman pribadi.

 

Sikap rendah hati dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54) ditunjukkan oleh seorang pegawai istana yang datang menemui Yesus agar anaknya dapat disembuhkan dari penyakit. Sang pegawai istana rupanya sudah tahu bahwa Yesus telah sampai di Galilea. Lebih dari itu, ia tahu akan kemampuan karismatik yang dimiliki Yesus. Yesus bukan manusia biasa. Yesus memiliki kompetensi ilahi untuk berbuat apa saja demi menyelamatkan setiap orang yang menaruh harapan kepada-Nya. Dengan dasar keyakinan ini, sang pegawai istana dengan hati yang mantap datang sendiri kepada Yesus.

 

Kalau saja mau, ia dapat menyuruh orang suruhannya datang menemui Yesus. Seorang pegawai istana tentu saja memiliki bawahan. Pada masa itu dikenal dengan istilah budak. Istilah ini sebenarnya terdengar kasar dan tidak pantas. Namun itulah realitas sebenarnya. Bahwa seorang budak pada masa itu memang memiliki tugas untuk melayani tuannya dalam segala hal tanpa mendapat bayaran sedikit pun. Tetapi itu tidak dilakukan oleh sang pegawai istana. Ia memutuskan untuk sendiri datang kepada Yesus.

 

Sang pegawai istana telah menunjukkan sikap rendah hatinya untuk datang menemui Yesus. Dan dengan rendah hati pula memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang sementara menderita sakit. Yesus sempat menantangnya dengan berkata: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya” (Yoh 4:48). Namun dengan kesungguhan hati pegawai istana itu berkata: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati” (Yoh 4:49). Kata-kata optimisme ini menggambarkan bahwa sang pegawai istana dengan segala kerendahan hatinya, begitu yakin dengan imannya akan Yesus. Meskipun ia belum melihat tanda dan mujizat itu. Ia sangat percaya bahwa anaknya pasti mendapat kesembuhan. Sang pegawai istana menyadari keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa. Tidak mungkin anaknya menjadi sehat kalau ia tetap mengandalkan kemampuan manusiawinya. Ia harus melepaskan arogansi pribadinya untuk kemudian datang kepada Yesus. Berkat kerendahan hati dan keteguhan imannya, anaknya menjadi sehat.

 

Sikap rendah hati adalah sebuah nilai moral sekaligus nilai kristiani yang memiliki harga sangat mahal di era ini. Kalau kita perhatikan realitas hidup kita, sangat jarang orang menghidupi nilai ini dalam seluruh hidupnya. Yang banyak terjadi adalah orang sering atau selalu menunjukkan ego dan arogansi pribadi dalam seluruh pengalaman hidupnya. Dalam keluarga, sering terjadi suami tidak lagi memperhatikan kesejahteraan istri dan anaknya. Sebaliknya, Istri juga tidak lagi mendengar dan menghargai suaminya. Demikian juga anak-anak tidak lagi menaruh rasa hormat dan bahkan mendurhakai orang tuanya sendiri.

 

Dalam lingkup pergaulan sosial, karena merasa memiliki jabatan dan status sosial yang tinggi, tidak jarang kita tidak lagi mau menunjukkan rasa simpati dan empati dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Bahkan sekedar menegur saja sangat jarang atau tidak pernah kita lakukan. Mata kita telah menjadi buta dan hati kita telah menjadi tumpul manakala menyaksikan berbagai keprihatinan sosial yang terjadi. Kita menjadi pribadi yang apatis dan tidak mau tahu karena telah digerogoti oleh sikap ego dan sombong.

 

Dalam lingkungan kerja, karena rasa gengsi dan demi menjaga wibawa acapkali pimpinan (atasan) sangat membatasi diri untuk membangun komunikasi dengan para bawahannya. Walaupun itu mungkin sifatnya informal. Maka yang terjadi selanjutnya adalah sang pempimpin lebih sibuk dengan urusan pribadinya dan tidak sungguh memperhatikan kepentingan bawahannya. Mungkin juga ada rekan kerja yang dihinggapi oleh sikap arogansi karena merasa diri paling hebat dan pintar. Kemudian dengan tahu dan mau merendahkan dan melecehkan martabat sesamanya.

 

Sikap ego dan arogansi zaman ini telah melukai rasa kemanusiaan dan menggugat serta menggeser jati diri manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki sikap rendah hati. Mirisnya, sikap ego dan arogan juga dipertontonkan oleh umat beriman kepada sang penciptanya sendiri. Orang-orang lebih cenderung mengandalkan diri dan kekuatan lain selain kekuatan Tuhan, untuk membereskan segala persoalan hidup yang dihadapinya. Sehingga yang terjadi bukan kebaikan dan keselamatan hidup yang didapat, malahan sebaliknya, orang-orang semakin lepas kendali untuk tidak ragu-ragu berbuat jahat terhadap sesamanya sendiri.

 

Sang pegawai istana telah memberi contoh hidup yang baik bagaimana seharusnya kita memahami dan menginternalisasikan nilai kerendahan hati dalam seluruh hidup kita. Kita harus berani melepaskan sikap ego dan arogansi pribadi karena kita adalah pribadi yang terbatas. Banyak persoalan dan dinamika hidup yang tidak mungkin selesai dari kaca mata manusiawi. Kita membutuhkan pribadi adikodrati yakni Tuhan, untuk menuntun dan mengarahkan kita kepada segala kebaikan dan keselamatan. Dan ini hanya dapat dicapai apabila kita mau menghidupi sikap rendah hati di hadapan Tuhan.

 

Dengan mengutamakan sikap rendah hati di hadapan Tuhan, kita juga akan mampu bersikap rendah hati kepada orang lain, tanpa memandang usia, status, jabatan, suku, agama, golongan dan sebagainya. Marilah di masa prapaskah pekan keempat ini, kita semakin menyadari diri untuk menjadi manusia yang rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 28 Februari 2021

JADILAH MURAH HATI

 

Luk 6:36-38

Apa yang ada di benak anda ketika membayangkan seseorang yang memiliki sikap murah hati? Saya yakin kita pasti memiliki kriteria sendiri. Kriteria itu tentu saja tidak datang dari sebuah ruang kosong. Tetapi berangkat dari pengetahuan yang dimiliki dan pengalaman yang kita alami. Secara umum kualifikasi orang yang memiliki sikap murah hati ditandai dengan kebiasaannya untuk memberi. Entah bersifat materi / barang atau pun non materi. Non materi yang dimaksudkan di sini berupa jasa tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh seseorang. Misalnya pada saat kita sedang dirundung masalah, dan ada seseorang hadir memberi kita hiburan atau penguatan.

 

Atau contoh lain misalnya kita sedang mengalami kesulitan dalam mengerjakan sesuatu hal. Dan ada rekan kerja yang bersedia membagikan kemampuan atau keterampilan yang dimiliki sehingga kita dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ini merupakan contoh-contoh kebaikan yang kita alami dari kemurahan hati orang lain. Di samping itu, sikap murah hati yang paling menonjol dan menyentuh hati adalah tatkala orang memberi bantuan berupa uang atau barang kepada orang lain. Apalagi bantuan itu diberikan kepada orang-orang yang betul membutuhkannya. Seketika si pemberi barang atau uang, dipuja-puja sebagai orang yang murah hati. Jadi sikap murah hati mengindikasikan bahwa orang dengan bebas, tahu dan mau memberikan sesuatu dari apa yang dia miliki kepada orang lain.

 

Hari ini Yesus mempresentasikan ciri orang murah hati lebih dari cara pandang manusiawi kita. Yesus menegaskan bahwa orang yang memiliki sikap murah hati itu sama seperti Bapa-Nya di sorga. Ini merupakan sesuatu yang istimewa. Bagaimana mungkin orang yang murah hati disamakan dengan Bapa yang ada di dalam sorga. Tetapi segala hal yang tidak mungkin di hadapan manusia, dapat menjadi mungkin di mata Tuhan. Ibarat matahari yang menyinari manusia tanpa henti. Atau seperti hujan yang turun membasahi bumi. Begitulah sikap murah hati yang ditunjukkan oleh Bapa. Walaupun sering manusia tidak menyadari dan bahkan menolak-Nya.

 

Lalu sikap murah hati macam apa yang diperlihatkan oleh Yesus? Pertama jangan menghakimi atau menghukum orang lain. Walaupun dalam kenyataan, seseorang memiliki kesalahan, kecerobohan atau kejahatan, kita tidak memiliki hak untuk memberi penghakiman atau hukuman. Kita tidak memiliki hak untuk menilai apakah seseorang itu bersalah atau tidak. Apakah seseorang itu berdosa atau tidak. Sikap murah hati mendorong agar kita lebih berhati-hati dalam melihat realitas persoalan yang sebenarnya. Kita tidak gegabah untuk menjatuhkan pilihan yang melukai perasaan atau martabat seseorang oleh karena perbuatannya yang buruk atau jahat. Dalam hal ini, pikiran positif (positive thinking) perlu dikedepenkan dalam menyikapi aneka persoalan.

 

Kedua, sikap pengampunan. Sikap ini yang menurut saya paling berat untuk kita laksanakan dalam hidup. Menurut Yesus, apabila kita mau menjadi orang yang murah hati maka kita harus bersedia mengampuni orang yang telah bersalah. Seberat apa pun kesalahan yang telah dilakukan, hati kita tetap terbuka untuk memberi pengampunan. Karena dengannya, kita pun mendapat ampun dari Bapa yang tidak kelihatan. Ketiga, sikap memberi. Sikap ini sudah jamak kita amati dan seringkali kita praktekkan dalam hidup. Dengan segala kelebihan, bakat, kemampuan, kita sudah turut berkontribusi membantu orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Namun yang ditekankan oleh Yesus dalam sikap ini adalah memberi dengan tulus dan tanpa mengharapkan balasan. Kita memberi bukan supaya nanti kita juga diberi. Kita memberi karena ada kepekaan dan kemauan dari hati untuk membantu atau menolong orang lain.

 

Sebagai manusia, kita mudah untuk jatuh dalam sikap menghakimi atau menghukum orang lain. Tidak hanya lewat tindakan, tetapi lebih banyak lewat tutur kata yang kejam. Seringkali kita suka menceritakan keburukan atau kejelekan yang dimiliki oleh kawan, sahabat, rekan kerja, dan anggota keluarga kita sendiri. Kita sangat lihai memainkan kata-kata, menambah berbagai bumbu dalam percakapan sehingga mengundang simpati dari orang lain yang mendengarnya. Kita juga sering berpura-pura menunjukkan rasa iba dan empati terhadap orang lain yang sementara mengalami kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya. Namun jauh di lubuh hati yang paling dalam, kita merasa bangga dan senang karena kita tidak mengalaminya.

 

Sikap menghakimi atau menghukum orang lain – entah orang itu bersalah atau tidak – menggiring kita untuk bersikap keras hati, tidak mau menerima orang lain sebagai sesama saudara. Kita enggan memberi ampun atau memaafkan orang lain yang mungkin telah bersalah kita. Kita merasa diri paling benar dan paling hebat sehingga menutup ruang hati untuk menerima orang lain. Kita juga kadang-kadang sangat susah meminta maaf karena kelalaian, kesalahan, atau kejahatan yang menyinggung, menyakiti dan melukai perasaan orang lain. Dengan enteng dan tanpa beban, kita mempertontonkan diri tanpa salah dan dosa. Tanpa disadari, kita terus menimbun banyak ngengat dan ulat dalam tubuh yang pada saatnya akan meledak dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

 

Yesus telah memberi inspirasi yang sangat baik kepada kita tentang sikap murah hati seorang kristiani. Sikap murah hati paling sejati dan merepresentasikan jati diri Allah sendiri. Sikap murah hati itu tidak hanya ditunjukkan dengan sikap memberi dengan tulus dan tanpa pamrih. Sikap murah hati dapat ditunjukkan oleh orang kristen dengan tidak menghakimi atau menghukum orang lain. Kita dintuntut untuk selalu berpikir positif dan bukan sebaliknya berpikir negatif kepada orang lain. Selain itu, sikap murah hati juga membentuk pribadi kita untuk mau memberi ampun atau maaf kepada sesama yang bersalah. Begitu juga, kita juga harus bersedia meminta maaf kepada orang lain akibat perbuatan atau tutur kita yang salah.

 

Marilah di pekan prapaskah yang kedua ini, bersama pemazmur kita berdoa kepada Tuhan: “Tolonglah kami, Ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu” (Mzm79:9). Semoga kita bisa menjadi anak-anak Tuhan yang murah hati. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 14 Februari 2021

TANDA YANG BAIK DARI TUHAN

 

Mrk 8: 11-13

Bertepatan dengan hari valentine’s day, 14 Februari (hari Minggu kemarin), seorang sahabat mengirim ucapan kasih sayang. Yang menarik, sang sahabat menghiasi ucapan selamatnya dengan menambahkan kata-kata yang inspiratif. Kata-kata tersebut berisi 10 cara mengasihi yang memiliki dasar biblis. Pertama, mendengar tanpa menyela (Amsal 18:13. Kedua, berbicara tanpa mencela (Yakobus 1:19). Ketiga, memberi tanpa batas (Amsal 21:26). Keempat, mendoakan tanpa henti (Kolose 1:9). Kelima, Menjawab tanpa berbantah (Amsal 17:1). Keenam, mengasihi tanpa pura-pura (Roma 12:9). Ketujuh, mengerjakan tanpa bersungut (Filipi 2:14). Kedelapan, Mempercayai tanpa ragu (1 Kor 13:7). Kesembilan, mengampuni tanpa dendam (Kolose 3:13). Kesepuluh, berjanji tanpa melupakan (Amsal 13:12).

 

Bagi saya, 10 cara mengasihi ini tidak sekedar mengandung pesan injil yang indah. Kita tidak sekedar membaca. Tidak juga sebatas kagum akan kata-katanya yang indah. Tetapi harus menjadi untaian permata yang tertanam kuat dalam hati dan mampu diwujudnyatakan oleh setiap orang. Ini memang tugas dan panggilan kristiani yang mudah diucapkan namun sulit untuk diterapkan. Dengan sikap iman yang teguh kepada Tuhan, akan mampu mendorong agar kita bisa menjadi tanda yang baik. Sebuah tanda ilahi yang membawa kebaikan dan kedamaian bagi setiap makhluk ciptaan.

 

Yesus adalah sebuah tanda agung yang membawa misi keselamatan dari Bapa di sorga. Yesus yang menyejarah dalam sejarah kehidupan umat manusia telah menyatakan Diri-Nya sebagai tanda yang baik dan agung kepada setiap orang. Tidak sedikit orang yang mampu membaca tanda agung yang menyata dalam diri Yesus. Mereka sungguh mendengarkan sabda dan percaya kepada-Nya. Akibat dari rasa kepercayaan yang kuat kepada Yesus, mereka kemudian mendapat anugerah atau berkat dalam banyak hal. Mereka disembuhkan dari berbagai penyakit dan gangguan atau kerasukan roh jahat. Mereka juga dikenyangkan ketika merasa lapar. Bahkan mereka yang sudah mati juga bisa dibangkitkan oleh Yesus. Mereka sungguh merasakan “tanda Yesus” yang membawa kebaikan dan keselamatan. Implikasi lanjutnya, mereka semakin merasa kuat menjalani hidupnya di tengah kemiskinan ekonomi dan ketidakadilan sosial yang mereka dapatkan dari para pemimpin negara dan agama.

 

Di samping orang-orang yang percaya kepada Yesus, ada juga sebagian orang, terutama dari kalangan atas yang terdiri dari para penguasa dan pemimpin agama yang tidak mempercayai Yesus sebagai utusan Allah. Malah dengan berani mereka menggugat otoritas ilahi yang digunakan Yesus. Mereka meminta sebuah tanda yang melegitimasi berbagai tindakan yang dilakukan-Nya. Ini sebuah hal yang konyol. Dengan terang benderang, Yesus telah menyatakan Diri-Nya sebagai sebuah tanda lewat perkataan dan perbuatan-Nya yang penuh kuasa dan fenomenal. Anehnya, bukannya percaya, mereka malah meragukan dan mengambil sikap tidak percaya kepada-Nya.

 

Keragu-raguan dan ketidakpercayaan para penguasa dan pemimpin agama Yahudi terhadap Yesus dilatari oleh sikap sombong. Mereka merasa diri lebih pintar dan lebih hebat. Oleh karena sikap negatif demikian, pikiran dan hati mereka menjadi buta. Mereka menjadi buta secara spiritual karena tidak dapat mengenali Yesus sebagai seorang utusan sekaligus Anak Allah. Kehadiran Yesus dianggap sebagai ancaman yang mengganggu zona nyaman atau situasi mapan yang telah mereka raih. Mereka takut kehilangan muka atau pamor di hadapan orang banyak. Mereka juga takut kehilangan keuntungan secara ekonomi, karena bisa saja semua orang mendukung Yesus dan berbalik menyerang mereka.  Di atas semua itu, sikap sombong menjadi dasar dari sikap ragu-ragu dan ketidakpercayaan para penguasa dan elit agama terhadap Yesus.

 

Kita juga acapkali dihinggapi oleh sikap sombong yang membuat kita tidak menyadari tanda-tanda kebaikan yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri dalam hidup kita. Mungkin kita pernah ditegur atau diberi nasihat oleh karena sikap atau tindakan kita yang salah atau tidak pantas. Bisa saja kita berlaku indisipliner karena melanggar segala aturan yang berlaku di tempat kerja. Atau bisa juga tindakan kita mengarah kepada sikap amoral (tidak bermoral baik) yang mengganggu kenyamanan dan keamanan, tidak saja secara personal (pribadi), tetapi secara kolektif dalam hidup sosial. Kita lalu tidak menerimanya. Kita bahkan menunjukkan sikap resisten (melawan), tidak mau mengalah dan tidak mengakui kelemahan dan kekurangan kita di hadapan orang lain. Kita merasa lebih hebat sehingga tidak perlu mengakui kesalahan. Justru kita merasa diri benar karena didorong oleh sikap angkuh. Sikap negatif ini menutup jalan pikiran dan hati sehingga kita tidak menyadari apa yang telah kita buat. Kita juga tidak bisa mengenali campur tangan Tuhan lewat orang lain yang berusaha mengendalikan dan mengarahkan jalan sesat yang telah kita tempuh.

 

Dalam refleksi pribadi, saya mengambil kesimpulan bahwa sikap sombong terhadap orang lain dapat terjadi karena di hadapan Tuhan, kita juga menunjukkan sikap demikian. Kita kurang membangun relasi yang akrab dengan-Nya dengan berbagai alasan. Entah karena kemalasan, sikap jenuh, tidak mau tahu, dan sebagainya. Dengan logika yang kosong, kita gampang terjerembab dalam kepercayaan diri yang berlebihan. Kita merasa diri bisa sukses oleh karena kemampuan pribadi. Bukan oleh campur tangan orang lain. Termasuk Tuhan sendiri.

 

Refleksi bacaan Injil hari ini membuka pikiran dan hati agar kita lebih peka membaca segala tanda yang dihadirkan Tuhan dalam hidup. Yang bisa kita lakukan adalah menyingkirkan sikap sombong dan membangun kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita perlu waktu sejenak untuk mendengarkan sabda-Nya. Agar kita lebih memahami dan meresapi kehadiran-Nya sebagai tanda yang baik dalam hidup kita. Dalam segala peristiwa; tidak hanya sukacita dan kemenangan, tetapi yang menantang dan mengguncang rasa manusiawi, kita selalu yakin akan kehadiran tanda yang baik dari Tuhan untuk menuntun kita kepada kebaikan dan keselamatan.

 

Dengan mengenali dan mempercayai kehadiran Tuhan sebagai tanda yang baik dalam hidup, kita juga akan mampu menjadi pelaku untuk menjadi tanda yang baik bagi diri sendiri dan orang lain dalam segala peristiwa hidup yang kita alami. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 02 Februari 2021

PERSEMBAHAN DIRI KEPADA TUHAN

LUK 2:22-40

            Kita semua datang dan hidup dari sebuah tradisi yang kuat dan mengakar yang menanamkan jiwa kekatolikan kepada kita. Tanpa devosi dan tradisi, kehidupan umat beriman menjadi kering dan hambar. Tradisi dapat membentuk seseorang untuk keluar dari egoisme dirinya dan mengutamakan rencana dan Kehendak Allah. Keluarga Katolik zaman ini yang memperhatikan dengan sungguh tradisi keagamaan akan menghasilkan orang-orang yang bisa menjadi tiang dan pembawa berkat Allah bagi sesamanya. Tradisi keagamaan yang kita hidupkan saat ini telah dihidupi sebelumnya oleh Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna pada zamannya. Spirit kesetiaan dan persembahan diri kepada Tuhan menantang iman kita di zaman modern ini, Apakah kita masih setia dan merasa penting mempersembahkan diri kepada Allah untuk dijadikan agen pewarta kasih-Nya atau kita memilih bertuan kepada uang dan kekuasaan yang mencebur kita masuk dalam lumpur dosa?

            Hari ini Gereja Katolik memperingati pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Empat puluh hari setelah Natal, kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah atau menurut penginjil Lukas, ”Yesus diserahkan kepada Tuhan.” Injil menceriterakan  bahwa Yosef dan Maria sebagai orang tua, sadar betul bahwa kehadiran Yesus dalam keluarga mereka bukan karena karya atau kehendak mereka tetapi semata-mata karena rencana dan karya Tuhan bagi dunia. Yosef dan Maria melakukan tradisi untuk memenuhi hukum Musa, namun peristiwa yang biasa bagi keluarga Yahudi ini berubah makna karena kehadiran dan kesaksian Simeon dan Hanna di Kenisah. Simeon dan Hanna sebagai pribadi bersahaja yang menubuatkan kedatangan Tuhan, mereka  sadar bahwa janji Tuhan itu tidak akan sia-sia. Rencana keselamatan dari Tuhan mulai terpenuhi dalam sejarah umat manusia. Baik Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna memiliki disposisi batin yang mulia yakni mereka terus menerus memuliakan keagungan Tuhan dan bersyukur atas rahmat istimewa tersebut. Bahkan Simeon dan Hanna begitu terpesona akan kemuliaan Tuhan itu dan berani berkata di depan bayi Yesus: “Kami bersedia mati karena telah melihat keselamatan yang datang dari Allah.”

            Kesadaran bahwa Tuhan melakukan segala sesuatu bagi diri dan hidup kita, mendorong kita untuk mempersembahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Kesadaran bahwa Allah bekerja dengan sangat dahsyat dalam seluruh sejarah hidup manusia, membangkitkan rasa syukur kita kepada-Nya. Simeon dan Hanna adalah sejumlah kecil orang yang setia memegang janji keselamatan Tuhan yang diwartakan oleh para nabi berabad-abad sebelumnya. Kesetiaan itu adalah perjuangan karena mereka harus menahan diri dari godaan duniawi. Mereka selalu setia datang ke Bait Allah untuk berdoa, hidup penuh mati raga dan puasa. Iman mereka utuh mengarah kepada Allah dan perjuangan kesetiaan mereka mendapat ganjaran karena mata iman mereka sanggup melihat pemenuhan janji Allah yang sedang berlangsung di dalam bayi Yesus, anak Yosef dan Maria. Simeon dan Hanna adalah contoh pribadi yang memiliki kepekaan hati yang sanggup membaca dan melihat siapa sebetulnya Yesus itu dalam hidup mereka.

            Setiap kita pasti merindukan keselamatan bagi jiwa kita masing-masing kelak. Untuk maksud ini, orang akan berusaha mencari cara dan pola hidup yang baik dan benar untuk menyukakan hati Tuhan. Simeon sang kakek yang saleh dalam hidupnya, memilih untuk mengabdikan diri untuk melayani di Kenisah Allah sebagai salah satu cara hidup yang menjadi jaminan bagi keselamatannya kelak. Pertemuannya dengan Yosef, Maria dan bayi Yesus di Kenisah, menjadi peneguhan atas apa yang dia rindukan selama ini, yakni ingin bertemu dengan Sang Juruselamat sebelum ia meninggal dunia. Ungkapan kebahagiaan hatinya ia nyatakan dalam ungkapan pujiannya “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hambamu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabda-Mu. Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa. Cahaya untuk menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.”

            Seperti Simeon, kita juga memiliki kerinduan yang sama untuk berjumpa dengan Yesus agar bisa mengalami rahmat keselamatan. Meskipun kita tidak bertemu dengan Yesus secara nyata, tetapi harapan untuk berjumpa dengan-Nya kelak menjadi kerinduan akhir hidup semua orang beriman. Kita akan bertemu dengan Dia sesuai dengan janji-Nya bahwa, Ia menyiapkan tempat di rumah Bapa bagi kita yang percaya kepada-Nya. Kerinduan dan harapan itu harus terus menggema dalam hati dan menjiwai hidup kita, agar kita selalu konsisten mempersembahkan diri kita sebagai ungkapan iman kepada Allah. Ungkapan iman itu kita nyatakan dalam pelayanan dan kerja nyata kita membantu dan melayani sesama di sekitar kita tanpa membeda-bedakan suku, agama ras dan antar golongan sebab semua identitas yang kita sanjung dan banggakan di dunia ini tidak memberi jaminan pasti bahwa kita akan diselamatkan. Di mata Allah, hanya kebaikan tulus yang kita lakukan kepada sesama dan kehidupan doa yang teratur (wujud iman) yang mampu memberi jaminan hidup kekal.

            Kesaksian dan ramalan dua orang tua saleh di Kenisah membantu kita untuk merefleksikan secara lebih mendalam misteri kelahiran Yesus yang kita rayakan pada masa Natal. Yesus adalah jawaban kerinduan bangsa Israel, kerinduan Simeon dan Hanna serta kerinduan hati semua manusia akan keselamatan Allah. Bagi Simeon, bayi Yesus yang masuk ke Kenisah adalah terang yang menerangi bangsa-bangsa dan sumber kemuliaan bagi Israel.  Dalam misa kita menyaksikan ada upacara pemberkatan dan perarakan lilin bernyala yang melambangkan Terang Dunia masuk ke dalam Kenisah. Dengan memasuki Kenisah, Terang Dunia masuk ke dalam hati setiap orang dan berdiam di dalamnya. Terang Dunia datang ke tengah kegelapan untuk menghancurkan dosa dan kematian. Karena itu, kemana pun kita melangkah, Terang Dunia harus tetap diusung untuk menerangi langkah sesama kita. Kita jangan membiarkan Terang Dunia itu menerangi diri kita saja,  tetapi kekuatan Terang Dunia yang sama harus kita pancarkan bagi orang lain yang masih doyan hidup dalam kegelapan dosa.

            Sabda Tuhan hari ini sungguh-sungguh mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian, ketika kita mempersembahan diri secara total kepada-Nya maka Ia selalu menuntun dan membingbing kita menuju jalan keselamatan kekal. Kita jangan terjebak dengan pesona dunia, segala tawaran dan kenikmatan duniawi yang menjadikan uang dan materi sebagi pusat hidup manusia harus disikapi secara bijak karena keduanya akan menjerat dan menjadikan kita budak tawanannya. Persembahan diri kepada Allah adalah jalan sempurna yang menuntun kita pada pertobatan sejati. Kita mesti selalu menumbuhkembangkan kepekaan spiritual agar bisa membaca kehadiran Allah dalam hidup kita. Kepekaan spiritual hanya dapat dihidupkan lewat kegiatan doa, membaca Kitab Suci, rajin bekerja dengan intensi yang luhur, berpuasa dan matiraga. Hati yang setia kepada Tuhan memampukan kita secara tajam dapat menilai euforia dunia yang sedang menggiring orang beriman masuk dalam perangkap hedonisme. Kita berkomitmen mempersembahkan diri kepada Tuhan dengan tetap setia melaksankan tugas-tugas pelayanan kita kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan dan sentuhan kasih kita sehingga mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang terpinggirkan benar-benar merasakan kehadiran dan cinta Allah yang membebaskan. Semoga. ***Bernard Wadan***

Selasa, 26 Januari 2021

MENJADI TANAH DAN PENABUR YANG BAIK

 

Mrk 4: 1-20

Ada seorang sahabat dari tempat yang jauh menceritakan pengalamannya mengenai seorang pastor yang berkarya di parokinya. Menurut sahabat saya ini, sang pastor tersebut sangat cerdas secara intelektual. Namun ia sering mendapat kritik karena kurang mengenal umatnya. Ia jarang mengunjungi dan berinteraksi secara sosial dengan mereka. Perilaku sang pastor demikian kalau dihubungkan dengan bahasa gaul (sehari-hari) di tengah masyarakat, dikenal dengan istilah jaim, jaga imej. Jaga wibawa supaya tetap disegani dan mendapat tempat terhormat. Kira-kita begitu tafsiran bebas dari frase jaga imej. Ada hal lain yang menambah rasa antipati umat adalah isi kotbah sang pastor yang kurang menyentuh dengan persoalan kontekstual yang dihadapi umat. Ia sangat suka menggunakan istilah-istilah ilmiah dan kata-kata puitis. Padahal rata-rata umat di paroki itu berpendidikan rendah sehingga pastinya mereka tidak paham dengan isi kotbah sang pastor. Intinya, kotbah sang pastor mengawang tinggi di langit dan tidak mendarat di bumi untuk menjawabi situasi aktual dan konkrit di tengah umat.

 

Bacaan hari ini (Mrk 4:1-20) mengetengahkan kotbah Yesus yang menggunakan perumpamaan. “Perumpamaan adalah suatu metafora atau persamaan yang diambil dari alam atau kehidupan biasa, memikat pendengar oleh gambarannya yang hidup dan aneh, dan membiarkan pikiran bertanya-tanya mengenai apa persis penerapannya” (Tafsir Alkitab PB, hal 88.). Yesus dengan jeli menangkap situasi praktis dan konkrit yang dialami oleh umat Israel saat itu. Kemudian Ia mengangkat pengetahuan dan pengalaman umat yang sederhana itu dalam isi pengajaran-Nya sebagai bahasa perumpamaan. Agar umat bisa memahami entitas Allah dan kerajaan ilahi yang ada di dalamnya. Yesus sengaja menggunakan bahasa perumpamaan untuk merangsang pengetahuan umat yang terbatas sehingga mereka dapat mengenali wujud Allah dan kerajaan-Nya.

 

Pada kesempatan kali ini, Yesus memakai kata penabur sebagai kata kunci untuk menjelaskan pengajaran-Nya. Kata penabur merupakan sebuah istilah familiar karena pada umumnya umat Israel kala itu memiliki pekerjaan sebagai petani. Petani dapat dikatakan juga sebagai penabur karena esensi pekerjaannya adalah menabur benih di ladang. Selain kata penabur, ada dua kata kunci lain dalam kotbah Yesus. Dua kata itu adalah benih dan tanah. Tiga kata kunci ini (penabur, benih, dan tanah) merupakan ungkapan simbolik untuk menjelaskan hakikat Allah dan perwujudan karya-Nya. Kata penabur merepresentasikan wujud Allah. Kata benih mewakili wujud firman atau sabda yang ditaburkan Allah. Sedangkan kata tanah merujuk pada pribadi manusia yang menerima firman atau sabda Allah.

 

Dalam isi wejangan-Nya, Yesus menyampaikan bahwa ada seorang penabur keluar dari rumahnya untuk pergi menabur benih. Entah disengaja atau tidak tetapi benih-benih yang dibawa itu jatuh di empat area yang berbeda-beda. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan. Jatuh di tanah yang berbatu-batu. Jatuh dalam semak belukar. Dan ada benih yang jatuh di tanah yang baik. Dari keempat area tersebut, hanya area keempat yang bisa mengakomodir benih itu tumbuh dan menghasilkan buah yang banyak. Area itu tanah yang baik. Sedangkan tiga area yang lain yakni area pinggir jalan, tanah berbatu-batu, dan semak belukar, merupakan tiga lokasi kurang strategis karena menghambat dan mematikan benih yang tumbuh.

 

Kata penabur dalam perumpamaan itu adalah Allah sendiri yang datang ke dunia dalam diri Yesus untuk mewartakan sabda Allah agar semua umat menjadi selamat dan masuk dalam Kerajaan Allah. Dalam pewartaan-Nya tentu tidak berjalan mulus. Ada banyak tantangan dan hambatan yang menahan laju kembang firman Tuhan. Namun patut disyukuri bahwa ada banyak orang yang mengalami penerangan, bertobat dan percaya kepada Allah. Walaupun jumlahnya sangat minimalis, namun cukup efektif. Mereka adalah golongan orang yang memiliki konsistensi dan komitmen untuk menyediakan dirinya sebagai ladang pesemaian yang baik. Mereka juga memperlakukan benih itu dengan baik. Mereka menjaga dan memberi pupuk sehingga benih itu terus tumbuh dan berkembang. Dan bahkan menghasilkan banyak buah. Menjaga dan memberi pupuk memiliki makna bahwa orang-orang yang menerima sabda itu sungguh-sungguh mendengarkan, meresapi dan menghayati firman yang datang di dalam hati. Mereka tidak terpengaruh dengan berbagai tantangan dan halangan yang datang. Mereka sungguh percaya kepada Allah dengan melaksanakan segala kehendak-Nya dan menjauhi segala hal yang menjadi larangan-Nya.

 

Tantangan dan hambatan dalam menerima pewartaan dilukiskan oleh benih yang jatuh di pinggir jalan, benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan benih yang jatuh dalam semak berduri. Sekian tantangan dan hambatan bisa disebutkan, misalnya: yang pertama, ketidakseriusan atau kemalasan orang untuk mendengarkan sabda. Firman Allah yang didengar itu hanya numpang lewat saja. Selanjutnya akan hilang bersamaan dengan angin yang berhembus. Kedua, firman yang didengar itu hanya bertahan dalam tataran pikiran atau pengetahuan. Tidak merasuk jauh ke dalam hati. Oleh karena itu ia akan gampang menguap dan dilupakan. Ketiga, rasa kuatir dan cemas akan adanyan penindasan dan penganiayaan. Orang gampang menggadaikan imannya manakala menghadapi aneka tantangan berupa hinaan, ancaman, penindasan, dan penganiayaan. Tidak hanya kekerasan secara fisik tetapi secara verbal (melalui kata-kata), orang gampang melepaskan imannya yang sudah bertumbuh dan berkembang.

 

Keempat, tantangan hidup dalam budaya materialisme, hedonisme dan konsumerisme. Saya pikir jenis tantangan ini yang paling berbahaya dalam hidup iman kita. Budaya materialisme itu budaya hidup yang mementingkan materi dan kekayaan. Banyak cara termasuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Orang bisa melakukan korupsi, penipuan dan memanfaatkan kepolosan orang lain untuk mendapatkan harta atau kekayaan apa saja. Budaya hedonisme adalah corak hidup yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan. Pesta pora, mabuk-mabukan, judi adalah sebagian tipe hidup dalam hedonisme. Dan budaya konsumerisme mengutamakan hidup penuh konsumtif. Tidak produktif. Orang hanya memiliki mental santai. Mau makan dan minum enak tetapi tidak mau bekerja. Apalagi berkerja keras. Kalau tiga virus ini sudah menghinggapi hidup maka tidak menjadi heran kalau orang tidak menganggap Tuhan dan agama sebagai elemen penting dalam hidupnya. Mereka sudah menemukan “tuhan dan agama baru” dalam perilaku hidup yang tidak benar dan menyesatkan.

 

Hari ini kita semua diberi penerangan dan penguatan oleh Tuhan agar kita mampu menyiapkan ladang hati sebagai tempat tumbuhkembang benih Sabda Allah. Kita senantiasa membersihkan kerikil-kerikil dan duri-duri tajam yang menghambat hidup iman kita dengan tidak pernah bosan mendengar curahan sabda dan meresapi-Nya jauh di kedalaman hati. Kita juga perlu membangun komunikasi yang semakin akrab dengan Tuhan melalui doa secara pribadi atau pun kolektif. Kita tidak perlu ragu untuk meminta petunjuk dan bimbingan Tuhan agar kita tetap diberi kemudahan dalam banyak hal. Andaikan kita mendapat kesulitan, kita memohon kekuatan-Nya agar kita tidak jatuh terpuruk dan lari dari pada-Nya. Dalam iman kita yakin Tuhan sementara merancang hidup lebih baik yang tidak pernah kita pikir atau bayangkan.

 

Tentu kita tidak berhenti pada level menyiapkan ladang hati yang baik. Kita juga seharusnya menjadi penabur-penabur kecil yang mewartakan Sabda Allah dengan memberi kesaksian hidup yang baik lewat kata-kata dan perbuatan. Dengan demikian kita semakin dilayakkan menjadi mitra Tuhan dalam rangka mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

 

Selasa, 19 Januari 2021

CURIGA NO, SIKAP KASIH YES !

Mrk 3: 1-6

 

Manusia secara kodrati adalah pribadi yang terbentuk dari dua kutub yang berbeda. Dua kutub itu yakni kutub positif dan negatif. Dua kutub ini secara konseptual dipandang sebagai dua kekuatan sekaligus potensi yang inheren (melekat) dalam diri manusia. Kutub positif memberi ruang bagi manusia untuk melakukan hal-hal yang baik. Sementara kutub negatif membuka kemungkinan bagi manusia untuk bertindak jahat atau buruk. Oleh karena itu karekteristik pribadi seorang manusia diteropong dari sejauh mana dia memberdayakan dua kekuatan dan potensi itu. Jikalau seseorang lebih memberi fokus kehidupannya pada kutub positif maka dia menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, apabila seseorang lebih memberi fokus kehidupannya pada kutub negatif maka otomatis dia menjadi pribadi yang jahat.

 

Contoh sikap negatif yang ada dalam diri manusia adalah sikap menaru curiga dan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap menaru curiga dilandasi oleh cara pandang individu yang subyektif. Cara pandang yang masih dalam tataran dugaan; dan bisa dikategorikan juga sebagai rumor atau gosip. Karena belum atau tidak memiliki kebenaran yang sahih. Cara pandang demikian dapat menggiring seseorang untuk selalu mencari-cari kesalahan yang dimiliki oleh sesamanya. Orang gampang memvonis dan menghakimi sesamanya karena di sisi lain ia merasa paling benar. Dan kenyamanannya terusik dengan kehadiran orang lain.

 

Buntut dari ketidaknyaman dan ketidaksukaan kepada Yesus, dipamerkan oleh para elit agama Yahudi (orang Farisi) yang merasa diri paling benar. Mereka mengklaim diri sebagai penjaga tradisi dan nilai-nilai yang terkandung dalam agama Yahudi. Ketika melihat Yesus bertindak berseberangan dengan segala aturan dan ketentuan yang berlaku, timbul rasa cemas dan tidak nyaman dalam diri mereka. Mereka kemudian mulai melakukan perlawanan dengan mencari-cari kesalahan-Nya. Sudah dua kali kesempatan Yesus mempermalukan sekaligus membungkam mereka di depan publik. Ketika bersoal jawab tentang esensi puasa dan hari Sabat pada dua bacaan sebelumnya, Yesus mengafirmasi perlunya menjaga martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Daripada sekedar menonjolkan segala aturan dan tradisi yang pada gilirannya hanya menekan dan menindas manusia. Hati mereka semakin panas karena tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menjerat Yesus.

 

Para elit agama terus mengikuti dan mengamati pergerakan Yesus ke mana saja Ia pergi. Mereka terus berupaya mencari celah agar dapat menemukan kesalahan-Nya. Hingga pada suatu waktu di hari Sabat, di dalam rumah ibadat, mereka menyaksikan Yesus menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya. Inilah moment yang ditunggu. Mereka telah menemukan kesalahan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari Sabat. Sebuah tindakan yang digolongkan dalam jenis pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Rupanya Yesus sudah mengetahui kalau ada orang yang tidak sepakat dengan perbuatan-Nya. Maka sebelum melakukan aksi mukjizat-Nya, Ia menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk tampil ke tengah orang banyak. Lalu Ia berkata: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:4).

 

Dengan menampilkan si sakit di tengah publik, Yesus ingin semua orang mengetahui bahwa ada orang yang sementara menderita dan sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan. Di satu sisi walaupun ada aturan dan tradisi yang membatasi, namun di sisi lain ada nilai kemanusiaan yang harus dikedepankan. Ada martabat manusia yang harus mendapat prioritas daripada sekedar mempertahankan aturan dan tradisi. Tanpa menunggu respon dari orang lebih lanjut, Yesus segera menunjukkan tindakan kasih-Nya dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangan-Nya. Secara implisit Yesus telah menegaskan kepada semua orang bahwa Ia telah hadir sebagai repsesentasi Allah sendiri dengan melampaui segala aturan dan tradisi yang ada. Selain itu, Yesus ingin menyampaikan pesan bahwa tindakan kasih yang Ia lakukan kepada orang sakit jauh lebih penting daripada segala aturan yang ada. Yesus telah berusaha menghilangkan segala kecurigaan yang tidak berdasar dari orang-orang yang tidak menyukai-Nya. Dengan menghilangkan segala kecurigaan dan memberi pemahaman kepada semua orang akan nilai kasih Allah yang jauh lebih tinggi dari segala aturan dan tradisi yang dibuat manusia, diharapkan tidak akan muncul mispersepsi dan penghakiman yang tidak benar kepada diri-Nya.

 

Sebagai manusia biasa yang secara kodrati memiliki potensi untuk berbuat jahat, kita seringkali suka mengembangkan sikap curiga dan selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Kita gampang menaru curiga kepada sesama manakala kita merasa tersaingi. Kita merasa ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar, dan “lebih banyak memiliki” daripada yang ada pada kita. Kita merasa tidak nyaman dan terusik. Kemudian kita terjebak dalam sikap menghakimi orang lain tanpa dasar. Kita dengan mudah mempersalahkan orang lain tanpa melihat hal-hal obyektif dan fakta-fakta yang berbicara atasnya. Tidak hanya kepada manusia, sikap curiga dan mencari kesalahan juga bisa saja kita alamatkan kepada Tuhan manakala kita dihadapkan dengan problem hidup yang berat dan tak kunjung usai. Kita bisa dengan mudah mencurigai dan mengkambinghitamkan Tuhan atas segala penderitaan, dukacita, dan segala keterpurukan hidup yang kita alami.

 

Tindakan kasih yang dilakukan oleh Yesus kepada orang yang mati sebelah tangan-Nya pada hari Sabat, semakin membuka pikiran dan meyakinkan hati kita untuk tidak lagi mencurigai dan gampang mempersalahkan Tuhan dalam hidup. Sebenarnya, Tuhan selalu ada dalam setiap napas dan pengalaman hidup. Dalam setiap pergulatan, kesulitan, kegalauan dan penderitaan, Tuhan selalu hadir memberi kekuatan agar kita tidak mudah putus asa dan jatuh. Tuhan juga memberi bimbingan dan arahan. Melalui tangan-tangan orang lain, Tuhan sementara menjadikan mereka alat-alat-Nya untuk membawa kita keluar dari sebuah persoalan. Oleh karena itu, jadikan orang lain sebagai partner yang senantiasa membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Dan bukan sebaliknya menaru curiga dan mendiskreditkan mereka. Tanamkan dalam diri sikap positif agar kita lebih mudah memahami dan memberi apresiasi atas prestasi yang dimiliki oleh orang lain.

 

Sikap positif akan melahirkan perbuatan-perbuatan kasih tanpa ada sekat-sekat yang menghalangi. Tidak ada lagi rasa ego yang mementingkan diri. Tidak ada lagi kerikil-kerikil bahkan batu besar yang menjadi penghalang bagi kita untuk melaksanakan perbuatan kasih kepada orang lain. Karena kita percaya, kasih Tuhan jauh lebih dasyat untuk memberi kebaikan, kebahagiaan, kenyamanan dan keselamatan bagi semua orang. Mari kita menghentikan sikap curiga kepada orang lain dan mengimplementasikan nilai kasih demi terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 12 Januari 2021

DIPANGGIL UNTUK MELAYANI

 

(Mrk 1: 29-39)

Realitas membuktikan bahwa kekuasaan dan jabatan memberi banyak keuntungan. Tidak hanya secara finansial. Namun dalam aneka dimensi kehidupan. Secara sosial misalnya, status seseorang otomatis mengalami peningkatan. Dia mendapat pengakuan, disegani, dan dihormati. Tidak jarang, seseorang dengan status sosial yang sedikit mentereng, menjadi idola atau sumber kekuatan (pelindung) bagi keluarga dan orang-orang di sekitar. Jamak terjadi juga bahwa orang-orang yang memiliki jabatan dan kuasa seringkali atau biasanya mau dilayani daripada melayani.

 

Ada satu pengalaman berbeda yang saya alami. Di tempat saya bekerja, ada seorang senior yang cukup disegani. Usianya nyaris mendekati usia pensiun bagi seorang ASN. Ia telah mencapai pangkat dan golongan kerja yang tinggi. Lagipula, Ia memiliki jabatan atau kedudukan yang cukup mapan dalam kariernya sebagai seorang abdi negara. Ada sisi lain dari kepribadiannya yang sangat berkesan dan menginspirasi yakni semangat pelayanannya. Ia tipe pemimpin yang tidak mau dilayani. Kecuali dalam porsi tertentu sebagai seorang pemimpin dan dalam situasi yang formal, tentu ia membutuhkan para staf untuk membantunya. Di luar situasi itu, ia tampil sebagai seorang rekan, sahabat yang siap melayani dengan sepenuh hati. Banyak kali terjadi, dengan inisiatif pribadi, ia membawa makanan dan minuman untuk para stafnya. Ia pula sendiri yang membagi-bagikannya. Kalau ada problem yang dialami oleh para stafnya, dengan senang hati ia mau membantu dan mencari solusi atasnya. Ini tipe pemimpin yang sangat jarang saya temui. Semangat pelayanannya begitu tulus dan memotivasi banyak orang untuk dapat berlaku demikian.

 

Sebagai seorang pemimpin yang memiliki karunia ilahi, Yesus telah menampilkan semangat pelayanan dalam seluruh hidup dan karyanya. Dalam bacaan hari ini (Mrk 1:29-39), Yesus menunjukkan semangat pelayanannya dengan menyembuhkan ibu mertua Simon yang menderita sakit demam. Ketika mendapat informasi dari para murid-Nya, Yesus langsung bertindak dengan meredakan sakit demam perempuan itu. Kita juga mendapat informasi dari teks Kitab Suci bahwa setelah sembuh, ibu mertua Simon pula yang melayani Yesus dan para murid di rumahnya. Sebuah tindakan yang lahir bukan sekedar balas jasa dari kebaikan yang sudah dialaminya. Lebih dari itu, sebuah sikap pelayanan penuh ketulusan yang mau ditonjolkan. Sikap pelayanan juga ditunjukkan oleh Yesus ketika menyembuhkan banyak orang yang berkerumun di depan pintu rumah pada malam hari. Yesus tidak mengeluh atau menolak mereka yang berdesak-desakan di luar rumah. Dengan setia, sabar dan tulus, Ia menyembuhkan berbagai penyakit yang dialami oleh mereka.

 

Eforia tindakan mukjizat oleh Yesus berlanjut sampai pagi. Cerita dari mulut ke mulut dengan cepat beredar. Lebih banyak lagi orang datang untuk bertemu dengan Yesus. Mungkin ada yang minta disembuhkan dari sakitnya. Atau juga, tidak sedikit dari mereka yang sekedar ingin melihat dari dekat pemandangan yang tidak biasanya tersebut. Para murid dengan cemas menyusul Yesus yang sementara berdoa di suatu tempat yang sunyi. Mereka memberitahu kepada Yesus tentang banyak orang yang sedang mencari-Nya. Bukannya menjawabi rasa penasaran orang banyak dengan datang menemui mereka, Yesus malah mengajak para murid-Nya untuk segera bergeser ke daerah lain. Dalam hal ini, Yesus tidak mau bersikap ego dengan hanya memberikan pelayanan di satu tempat saja. Ada banyak orang di daerah lain juga membutuhkan perhatian dan kasih-Nya. Yesus tidak mau semangat dan karya pelayanan-Nya dibatasi pada satu titik saja. Ciri dan semangat pelayanan yang universal dari Yesus harus tetap mengalir kepada segenap makhluk yang mencari keselamatan.

 

Yesus sungguh menginspirasi dan mengajarkan kita tentang semangat pelayanan dalam panggilan hidup sebagai murid-Nya. Ada tiga kualifikasi semangat pelayanan yang bisa kita pelajari. Pertama, semangat pelayanan tanpa kompromi. Banyak orang Katolik yang gagal mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan karena terjebak dengan aneka kompromi. Ada saja alasan yang muncul sehingga menyebabkan orang tidak mau memberikan perhatian dan kasih kepada sesamanya. Semangat ini mendorong kita untuk tidak boleh menghindar atau menolak dengan berbagai alasan ketika hendak memberi pelayanan kepada orang yang membutuhkan. Kedua, semangat pelayanan yang tulus dan ikhlas. Banyak orang Katolik yang kelihatan sungguh-sungguh melayani orang lain tetapi sebenarnya tidak dijiwai oleh semangat pelayanan yang tulus. Mereka bekerja hanya demi tuntutan profesi dan mengejar kesejahteraan finansial semata. Semangat pelayanan yang tulus memompa kita untuk lebih fokus dan serius memandang orang lain dan diri kita dalam kesetaraan sebagai citra Allah. Ketiga, semangat pelayanan yang universal. Tanpa membeda-bedakan suku, agama, daerah dan golongan. Acapkali kita lebih mengutamakan keluarga, sahabat, tetangga rumah, dan orang yang kita kenal. Dan tanpa malu-malu kita bersikap apatis dan kurang bersahabat dengan orang lain yang asing menurut kita. Semangat pelayanan universal membuka cakrawala berpikir agar kita seharusnya menempatkan dan memperlakukan diri demi terciptanya kebaikan dan keselamatan semua orang tanpa adanya diskriminasi.

 

Hari ini kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk meresapi semangat pelayanan tanpa kompromi, semangat pelayanan yang tulus, dan semangat pelayanan yang universal dalam hati kita masing-masing. Semoga kita mampu menginternalisasikan segala nilai tersebut dalam jiwa kita. Dan yang lebih penting, kita mampu mengolahnya dengan baik dan melaksanakannya dalam memberikan pelayanan yang prima kepada sesama yang membutuhkan. Tuhan senantiasa menjadikan kita sebagai alat-Nya untuk mewujudkan terciptanya Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***