Senin, 17 Mei 2021

KEKUATAN DOA MENEGUHKAN IMAN KITA

KIS 20:17-27; YOH 17:1-11a

 

            Perkembangan zaman saat ini semakin canggih, maju dan modern, dimana nilai-nilai universal yang mengatur hidup bersama dan menjaga martabat hidup manusia dan lingkungannya serasa dijungkirbalikan, bahkan nilai-nilai kebajikan hidup kristiani semakin tidak nampak dan diabaikan sehingga kita serasa kehilangan orientasi hidup. Hal yang kita rasakan sekarang bahwa zaman ini menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi dan kenikmatan duniawi lainnya. Sebagai murid-murid Kristus kita diharuskan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap orientasi hidup, pelayanan dan kesaksian hidup nyata kita. Untuk meningkatkan hidup iman dan kesetiaan kita kepada Allah, bacaan suci hari ini menampilkan dua tokoh inspiratif yang menginspirasi kita untuk selalu mempersembahkan seluruh hidup dan pelayanan kita kepada Allah. dua tokoh inspiratif itu yakni Yesus dan St. Paulus.

            Kita bisa belajar dari kesetiaan dan ketekunan St. Paulus yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, dimana Paulus memiliki konsep pelayanan yang amat jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pewarta Injil, meskipun itu berarti ia akan berhadapan dengan penolakan, penderitaan dan kematian sekalipun. Dalam misi pewartaannya, ia tidak hanya ingin menyenangkan teling pendengarnya, namun tujuannya selalu jelas supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Itulah sebabnya, ia memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Untuk merebut hati umat yang dilayaninya, Ia selalu tekun dalam doa dan pengajaran. Ia bahkan berani berkata bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang, baik yang diselamatkan maupun yang akan binasa. Paulus sangat berorientasi pada tujuan akhir, yaitu menyelesaikan tugas perutusan yang dipercayakan Yesus Kristus kepadanya. Paulus dalam setiap pelayanannya tidak sedikit pun bermaksud mencari popularitas diri, kedudukan, pengakuan atau pun mencari kekayaan. Namun, motivasi Paulus adalah untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah dan bukan oleh ambisi pribadinya. Paulus memusatkan hidupnya pada Kristus agar Yesus Kristus semakin dimuliakan dan dikenal oleh banyak orang. Sikap hidup Paulus ini menjadi panutan bagi kita semua, meskipun kita bukan biarawan/biarawati, katekis, guru agama atau agen-agen pastoral lainnya, tetapi hidup kita harus berpusatkan pada Kristus, kiranya menjadi kerinduan kita semua. Tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi saksi Kristus kita akan mengalami sekian banyak tantangan dan resiko, namun Paulus telah membuka jalan dan telah membangkitkan semangat kita semua untuk tetap bertahan dalam iman akan Yesus Kristus.

             Injil hari ini menggambarkan satu teladan istimewa yang dipraktekkan oleh Yesus yakni mendoakan dan menyerahkan murid-muridNya kepada Allah Bapa-Nya agar mereka tetap bersatu. Doa Yesus ini dianggap doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Allah Bapa melalui hidup dan karya-Nya di dunia, namun saat kematian-Nya telah tiba. Bila sebelumnya Yesus telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

            Ada dua pokok doa syafat Yesus kepada Bapa-Nya yang disampaikan oleh penginjil Yohanes hari ini. Pertama, di dalam permulaan doa-Nya Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa Yesus sangat egois, karena sesungguhnya Ia menunjukkan semua itu bagi kemuliaan Bapa-Nya. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (Yoh 17:2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan dosa umat manusia. Melalui karya salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal, dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus sendiri. Di sini kita dapat melihat keakraban Yesus dengan Allah Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa sekarang untuk ikut ambil bagian menikmati keakraban dengan Allah Bapa. Sebab itu, kita harus memanfaatkan setiap waktu kita untuk membangun relasi komunikasi dengan Allah untuk menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya. Namun yang perlu kita perhatikan bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita semakin menghormati Dia sebagai sumber dan asal tujuan hidup kita.

            Kedua adalah permohonan untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memlihara para murid karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa. Yesus menghendaki agar para murid hidup dalam persatuan dan setia mewartakan sabda Tuhan. Dalam doa-Nya, Yesus memberitahukan nama Allah kepada murid-murid-Nya, artinya para murid dapat mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan semua itu melalui hidup, karya pewartaan dan salib-Nya. Para murid percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya ke dunia untuk melaksanakan misi keselamatan bagi mereka. Yesus telah memelihara para murid-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa. Sekarang Yesus akan kembali kepada Bapa, tetapi murid-murid dan mereka yang percaya kepada-Nya masih tinggal di dunia untuk meneruskan misi pewartaan-Nya. Karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk menganugerahkan rahmat pemeliharaan atas para murid-Nya.

            Dalam doa-Nya, Yesus ingin agar mereka semua terjamin pasti dalam hubungan persatuan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh dengan sukacita dan mereka dapat disiapkan untuk meneruskan misi pewartaan Yesus bagi dunia. Doa Yesus ini, membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi semua orang beriman yang percaya kepada-Nya.

            Paulus telah merintis jalan pewartaan dengan kelemah-lembutan untuk memenangkan hati musuh-musuhnya. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem dalam misi pewartaan untuk memperkenalkan Yesus, ia menasihati dan mendorong para penatua  di Efesus untuk menjaga dan mengembangkan iman umat agar mereka senantiasa setia dan waspada terhadap pengaruh orang-orang Yahudi dan Yunani yang anti Kristus. Sedangkan Yesus mendoakan murid-murid-Nya untuk tetap hidup dalam persekutuan kasih dan setia mewartakan kasih Allah di dunia. Dua tokoh inspiratif ini menginspirasi kita agar kita setia dalam panggilan hidup kita masing-masing seraya terus bersaksi mengemban misi keselamatan yang dipercayakan Yesus kepada kita semua oleh karena pembaptisan yang telah memeterai kita. Kehidupan doa yang teratur meneguhkan hidup iman kita dalam persekutuan bersama Allah sehingga kita menjadi saksi dan pewarta sabda kasih Allah yang membawa semua orang ke jalan pertobatan.

            Doa Yesus hari ini tidak saja diperuntukan bagi para murid-Nya melainkan juga Ia menunjukkan perhatian dan kepedulian-Nya bagi kita semua umat beriman yang percaya kepada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pewarta Injil-Nya bagi dunia, maka kita membutuhkan penyertaan dan perlindungan dari Allah Bapa.  Karena itu, aspek yang dibutuhkan dalam membangun relasi komunikasi yang harmonis dengan Allah adalah melalui doa. Doa harus kita hidupi dari waktu ke waktu karena doa pada dirinya memiliki kekuatan dahsyat untuk membantu kita keluar dari tantangan hidup yang kita hadapi. Mestinya kita selalu bangga karena Yesus andalan kita selalu mendoakan dan menyertai kita. Maka kita akan menikmati keselamatannya ketika kita selalu hidup di dalam-Nya karena kita adalah milik-Nya (Yoh 17:9-11). Hidup di dalam Yesus yang selalu mendoakan kita berarti kita hidup dalam kebenaran-Nya, bukan kemunafikan, bukan untuk keuntungan sendiri, bukan untuk memuliakan diri, melainkan memuliakan Tuhan yang telah hadir dalam setiap karya yang dipercayakan kepada kita. Masihkah kita memegahkan diri kita, padahal Tuhan setia mendoakan dan menjaga kita? Di tengah pandemi covid-19 dan sekian banyak bencana alam yang melanda tanah air kita saat ini, kita semua diajak untuk menggalakan doa secara perorangan atau secara berjemaah untuk memohon rahmat pembebasan dan belas kasih Allah agar kita terhindar dan dijauhkan dari malapetaka yang mematikan ini. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh dan teladan istimewa yakni mendoakan para murid-Nya, karena itu, kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendoakan semua orang yang dilanda musibah agar iman mereka tidak goyah karena merasa ditinggalkan oleh Allah. Allah tidak pernah memberikan ujian iman melampaui kekuatan kita, Ia selalu menanti pertobatan dan usaha untuk bangkit dari kedosaan kita menuju keselamatan sejati. Semoga Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin. ***BW***

 

Minggu, 09 Mei 2021

PERAN ROH KUDUS DALAM PEWARTAAN IMAN

Yoh 16:5-11

Kita masih ingat baik ketika pemerintah Indonesia memutuskan untuk membatasi kehadiran misionaris asing di Indonesia, banyak perlawanan datang dari lembaga Gereja karena merasa kebijakan pemerintah kurang elok. Ketika perlawanan itu tidak membuahkan hasil, keputusan pemerintah itu dianggap bencana yang mengancam eksistensi hidup Gereja di Indonesia terutama karena kurangnya tenaga imam. Namun puluhan tahun kemudian, keputusan itu justru dilihat sebagai satu proses pendewasaan diri Gereja di Indonesia dalam hal personalia pelayanan. Konsolidasi diri terus digalakkan, panggilan lokal gencar digerakkan hingga menghasilkan begitu banyak imam. Sekarang, Gereja Indonesia boleh berbangga menjadi salah satu pengirim misionaris ke seluruh dunia. Krisis karena pembatasan misionaris itu, kini dilihat sebagai satu kekuatan bukan sebuah ancaman. Gereja Indonesia tidak boleh bergantung pada misionaris asing, melainkan harus berkembang ke arah kemandirian personel.

            Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa ia akan meninggalkan mereka. Penyampaian ini membawa  kegelisahan tersendiri bagi para murid karena selama ini hidup mereka sangat tergantung pada Yesus. Mereka merasa mapan kalau ada bersama terus dengan Yesus. Sekarang Ia pamit dan pergi, bak halilintar menyambar di siang bolong, para murid merasa kelabakan karena belum siap untuk berperan sebagai pewarta Injil menggantikan tugas utama Yesus. Namun, Yesus memberi penugahan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan datang. Sebaliknya kalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Penghibur itulah yang akan menggerakan dan menginsyafkan dunia akan dosa untuk kembali kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Jadi, para murid tidak perlu khawatir untuk  menyerukan pertobatan, bersaksi tentang kebenaran dan penghakiman, karena penghibur yang dijanjikan itu yang akan berbicara melalui mulut mereka. Yesus menginginkan agar para murid harus bisa mandiri meskipun Yesus harus pergi meninggalkan mereka. Yesus menghibur para murid-Nya agar tidak bersedih hati tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus sebagai pengganti diri-Nya untuk menyertai hidup mereka, sehingga mereka semakin matang dalam iman dan menjadi contoh bagi dunia.

           Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan ialah mengapa Yesus pergi dan digantikan oleh penghibur (Roh Kudus)? Bukankah kepergian-Nya membuat para murid semakin kehilangan arah dan mengaburkan misi utama pewartaan Yesus di dunia? Yesus menghendaki agar para murid harus mandiri dan matang dalam hal iman dan bisa berperan mengambil alih tugas pewartaan Yesus. Ketika para murid masih bersama-sama dengan Yesus, peranan utama terletak pada Yesus sendiri yang mengendalikan pewartaan dan pelayanan sedangkan para murid berada di garis belakang sebatas sebagai pendukung. Ketika Yesus pergi kepada Bapa-Nya, Ia digantikan oleh Roh Kudus tetapi tidak mengambil peran utama secara nyata, ia hanya bekerja di belakang layar, sementara yang berperan penting dalam hal pewartaan dan pelayanan adalah para murid sendiri. Sikap ketergantungan para murid kepada Yesus diubah menjadi sikap dewasa dan mandiri namun tetap digerakan oleh Roh Kudus.

           

Dewasa ini ada banyak orang yang ingin terus berada di dalam zona nyaman, padahal zona nyaman itu jika dipertahankan sebetulnya menandakan kemunduran. Dunia terus berubah, pelayanan iman kita pun harus berubah mengikuti perkembangan dan tuntutan perubahan jaman. Karena itu, setiap orang Kristiani harus terus mengembangkan kualitas rohani dan  keterampilan pelayanannya sehingga dalam situasi apapun ia dapat memberi kesaksian tentang keselamatan. Tujuan karya Roh Kudus akan tetap sama, karena memberi inspirasi untuk membangun Kerajaan Allah tetapi cara kita menerapkannya membutuhkan kejelihan di dalam menilai situasi konkrit yang kita hadapi. Berkaitan dengan kehadiran Roh Kudus, orang Kristiani diingatkan bahwa penolakan dan perlawanan kepada Roh Kudus adalah dosa terbesar yang tidak bisa diampuni, karena itu, kita harus menerima Roh Kudus yang merupakan perwujudan nyata diri Yesus dan Bapa-Nya.

 

Cara kerja Roh Kudus begitu dahsyat, tidak kelihatan tetapi memiliki kekuatan super yang mampu mempengaruhi, menggerakan, mengendalikan dan menginspirasi manusia untuk melakukan kebenaran hakiki sesuai Kehendak Allah. Roh Kudus sendiri tidak pernah membelot dari hakikat dirinya, ia berjuang menghantar orang pada keselamatan paripurna. Dewasa ini banyak orang yang hidupnya menyimpang dan gampang melanggar hukum Allah dan perintah-perintah Gereja, karena hatinya lebih dikuasai oleh tawaran kenikmatan duniawi. Mereka kurang memberikan tempat istimewa dalam hatinya untuk membiarkan Roh Kudus menguasai dan merajai hidupnya. Tuntutan menjadi murid-murid Kristus bagi kita orang Kristiani adalah setia pada Kehendak Allah dan menjadikan Roh Kudus sebagai senjata dan kekuatan kita. Roh Kudus mampu menghadirkan keberanian, memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk dapat bersaksi tentang kebenaran hakiki Allah. Jadi kita tidak perlu takut dan cemas dengan kekuatan dunia yang menghalangi semangat kita untuk bersaksi tentang sukacita Injil dan kebenarannya. Kita yakin dan percaya bahwa Allah selalu berpihak kepada kita, Ia akan terus menganugerahkan Roh Kudus yang memberikan keberanian kepada kita untuk mewujudkan kebenaran Allah di dunia.  Yesus pergi kepada Bapa untuk menegaskan Aku dan Bapa adalah satu dan lebih dari itu Yesus membawa misi yang mulia yakni agar dapat mengutus Roh Penghibur kepada para murid dan dunia. Roh Penghibur ini akan menginsafkankan manusia akan dosa agar kembali kepada jalan kebenaran Allah dan kebenaran Sabda Yesus.

 

Menjadi refleksi bagi kita semua orang beriman, bagaimana Roh Kudus dapat berperan dalam diri kita masing-masing? Roh Penghibur yang dijanjikan oleh Yesus itu terus bekerja dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Kita adalah perpanjangan tangan Allah sendiri dalam karya pelayanan dan pewartaan di tengah dunia. Aspek yang dibutuhkan dari kita adalah pengosongan diri dan membiarkan Roh Kudus bekerja merajai seluruh hidup kita agar kita fokus melakukan karya pewartaan tentang kebenaran Sabda-Nya. Sambil mengharapkan kemurahan hati Allah melalui cara kerja Roh Kudus, kita sekalian harus tekun dalam doa sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah yang telah hadir lewat cara-cara manusiawi kita. Dengan begitu, kepercayaan dan keyakinan kita harus terus berkembang dan militan di tengah-tengah arus jaman yang dipenuhi tantangan baik dalam diri maupun yang datang dari luar. Semoga Tuhan Yesus menganugerahkan Roh Kebenaran ke dalam hati kita masing-masing agar kita selalu insaf terhadap dosa dan siap sedia mengikuti kebenaran dan tuntunan Allah. Ziarah hidup kita di dunia akan bermakna bagi sesama bila kita setia menerima Roh Kebenaran yang mengarahkan sikap dan perbuatan kita sesuai Kehendak Allah. Semoga. ***Bernard Wadan***

Selasa, 27 April 2021

KETERBUKAAN HATI MENERIMA KEHADIRAN YESUS

Yoh 10:22-30

 

            Ada satu ungkapan yang sungguh menarik: “Setiap orang yang ingin berbuat baik, harus juga siap untuk menderita.” Kerelaan berbuat baik biasanya didorong oleh rasa cinta yang ada di dalam hati manusia. Berbuat baik itu merupakan satu ekspresi dan ungkapan “sifat ilahi” yang dimiliki oleh setiap orang atau biasanya orang mengatakan, orang yang berbuat baik adalah mereka yang menyadari bahwa hidupnya merupakan anugerah dan hadiah bagi orang lain. Hal ini merupakan suatu cara hidup yang sungguh-sungguh bermakna, namun dalam praktek hidup sehari-hari, berbuat baik itu tidak mudah karena mengharuskan orang untuk mengatasi gelora egoisme dalam dirinya dan orang harus siap untuk menerima tantangan silih berganti. Harus kita akui bahwa tidak semua orang berpikir dan memandang secara positif setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain. Selalu saja ada orang merasa terusik melihat niat baik orang untuk menolong sesamanya. Karena terusik, maka orang mulai mencari-cari alasan untuk menebarkan gosip (hoax) atau tuduhan palsu dengan tujuan merusak nama baik orang. Tantangan-tantangan hidup ini adalah warna hidup yang mesti kita lalui untuk mencapai suatu nilai tertinggi yang ingin kita perjuangkan dan untuk mengimani Yesus sebagai Gembala Baik membutuhkan keterbukaan hati dan penyangkalan diri terus menerus untuk menerima kehadiran-Nya.

 

            Dalam Injil yang baru saja kita dengar tadi, digambarkan bahwa banyak orang berhimpun di seputar Yesus dan bertanya kepada-Nya, apakah engkau adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau  Mesias, katakan terus terang kepada kami”. Kesan yang kita dapat dari pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus tersebut seolah-olah mereka begitu haus menantikan datangnya Mesias di tengah-tengah hidup mereka. Jika saja mereka sedikit membuka hati untuk menerima Yesus Gembala Baik, maka mereka akan menemukan Mesias dihadapan mata mereka yaitu Yesus sendiri. Di mata Yesus, pertanyaan semacam itu justru menunjukkan ketidakpercayaan mereka, karena tanda-tanda Mesias itu sudah mereka ketahui dari ramalan para nabi. Nabi Yesaya sendiri menggambarkan tanda-tanda kehadiran Mesias sebagai berikut: “Pada waktu itu, mata orang-orang buta akan dimelekkan, telinga orang-orang tuli akan dibukakan, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai“ (Yes 35:5-6). Membandingkan gambaran ini dengan apa yang dilakukan oleh Yesus seharusnya menuntun iman orang-orang Yahudi untuk melihat kebenaran dalam diri Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan itu. Namun karena hati mereka telah tumpul dan degil maka tanda apa pun yang dibuat oleh Yesus tidak dapat mengubah kepercayaan mereka lagi. Yesus sendiri mengalami kenyataan ini saat berbicara panjang lebar tentang diriNya sebagai “Gembala yang Baik” yang ingin menuntun setiap orang menuju jalan yang benar agar mengalami keselamatan. Lagi-lagi sepertinya Yesus berhadapan dengan kayu dan batu, malah orang-orang Yahudi balik bertanya tentang identitas dan misi Yesus yang sesungguhnya. Yesus sendiri tentu merasa sakit hati dan tidak mengerti, karena Ia telah menggunakan berbagai cara sederhana untuk berbicara tentang siapa diri-Nya bahkan misi-Nya di dunia ini. Untuk membuat orang-orang Yahudi bisa menerima Dia, Ia mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang mencintai domba-dombanya. Gembala yang baik adalah gembala yang mampu mengenali domba-dombanya satu per satu dan domba-dombanya pun mengenal suara dan kehadiran gembalanya.

 

            Yesus menolak pendapat orang Yahudi yang meminta kepastian tentang siapa diri-Nya. Bagi Yesus, permintaan itu hanya sebuah dalih untuk membenarkan posisi mereka yang berseberangan denganNya. Mereka sudah mengalami semua yang dilakukan Yesus dan sudah mendengar semua pengajaran-Nya, namun semua itu tidak mereka hiraukan. Semua penjelasan Yesus tentang diriNya sama sekali tidak membawa perubahan dalam diri mereka, karena hati mereka sudah buta yang tidak dijiwai oleh cinta yang tulus, mereka tidak relah mengubah cara pandang mereka walaupun itu sangat bertentangan dengan banyak orang. Pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus kalau dilihat sepintas maka terkesan mereka sungguh menyiapkan hati mereka menanti kedatangan sang Mesias, namun kalau ditelaa secara cermat maka pertanyaan mereka itu sekedar mencari sensasi untuk dinilai dan dilihat banyak orang sebagai orang yang sungguh beriman dan taat kepada kehendak Allah. Sikap munafik orang Yahudi ini membawa mereka pada kehancuran karena bukan kehendak Allah yang dicari tetapi popularitas dan kehormatan duniawi yang mereka kejar.

 

            Berangkat dari kemunafikan orang Yahudi dalam menanti datangnya Mesias ini sungguh mendorong kita murid-murid Yesus untuk menggarisbawahi pendirian iman kita bahwa hanya ada satu pilihan mutlak untuk mengikuti Yesus adalah selalu berbuat baik dalam hidup, ini merupakan identitas kita sebagai murid Yesus dan sekaligus misi kita yang wajib kita lakukan, meskipun kita harus menyadari bahwa ada konsekuensi akhir dari pilihan kita untuk berbuat baik seperti menuai penderitaan dan penolakan. Bagi kita murid-murid Yesus, sikap dan pendirian orang-orang Yahudi yang tertutup dan degil hatinya terhadap kehadiran Mesias di tengah-tengah mereka menginspirasi dan mendorong kita untuk bersikap terbuka terhadap kemurahan hati Allah dalam diri Yesus Kristus sang Gembala baik yang datang ke dunia membawa misi keselamatan bagi kita semua. Keterbukaan hati untuk menerima rahmat penebusan dari Tuhan menuntut pembaharuan diri dan sikap rendah hati untuk belajar dari orang lain tentang pentingnya berbuat baik dan membangun kesatuan hidup dengan sesama kita sebagai saudara. Kita jangan pernah gegabah menolak kehadiran orang lain dalam hidup kita, sebab bisa saja Allah memakai orang lain untuk mengubah diri kita, sikap dan perbuatan kita yang bertentangan dengan iman Kristiani. Sebagai murid-murid Yesus, kita dituntut untuk mengenal Yesus lebih dalam dengan cara tekun membaca, mendengarkan dan merefleksikan sabda-Nya setiap hari. Dengan cara itu roh Allah akan bekerja dalam hati kita, mengubah dan membaharui hidup kita sehingga kita layak menjadi alat-Nya yang siap diutus mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia. Aneka bencana yang melanda dunia saat ini bahkan menelan banyak korban, kita jadikan sebagai momentum untuk berefleksi dan kita pandang sebagai ujian iman bagi kita semua, mungkin Tuhan sedang mencobai kita karena kita kurang beriman kepada-Nya bahkan mungkin kita terlalu bangga dengan kemampuan diri kita. Mari kita membiarkan diri kita disapa, diubah dan dibentuk oleh Allah agar kita menjadi domba-domba yang setia mengikuti sang Gembala Baik yaitu Yesus yang datang ke dunia mencari dan menyelamatkan domba-domba yang hilang.

 

            Jalan keselamatan yang ditawarkan Yesus sungguh menuntut pembaharuan diri. Bagi banyak orang, pembaharuan diri itu terasa sangat berat karena dijalankan secara terpaksa. Kalau kita menjalaninya dengan penuh kasih, pembaharuan diri itu justru membawa kita kepada suatu penghiburan. Kita akan gembira karena melihat terang dan menemukan suatu kepastian hidup abadi. Inilah yang perlu kita tanamkan dalam penghayatan iman kita. Semoga mata iman kita terus terbuka untuk menerima kehadiran Yesus Sang Terang yang membawa kepastian keselamatan bagi kita semua. Semoga. ***Bernard Wadan***

Kamis, 22 April 2021

YESUS: SEBUAH HIDANGAN YANG MENYELAMATKAN

 

Yoh 6: 35-40

Rumah sakit, penjara, dan kuburan. Ada seorang kaya memandang keluar jendela dan melihat seorang laki-laki mengambil sesuatu dari tong sampah. Ia berkata: “Syukurlah saya tidak miskin”. Orang miskin memandang sekeliling dan melihat seorang pengemis compang camping di jalan. Ia berkata: “Syukurlah walaupun miskin, saya tidak menjadi pengemis”. Si pengemis memandang ke depan dan melihat ambulans yang membawa orang sakit. Ia berkata: “Syukurlah saya tidak sakit”.  Orang sakit di rumah sakit melihat troli membawa jenazah pasien. Ia berkata: “Syukurlah saya masih hidup”. Ternyata hanya orang yang sudah mati yang tidak dapat berkata: “Syukurlah”.

 

Mengapa kita sering lupa untuk bersyukur karena hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup. Sesekali berkunjunglah ke tiga tempat, yaitu rumah sakit, penjara, dan kuburan. Di rumah sakit, kita akan memahami bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kesehatan. Di penjara, kita akan menyadari bahwa kebebasan adalah hal yang paling berharga. Di kuburan, kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak akan berarti apa-apa. Karena tanah yang kita pijak hari ini akan menjadi atap kita di esok hari. Selagi kita masih diberi waktu dan kesempatan, perbanyaklah perbuat baik pada orang lain. Hendaklah kita selalu bersyukur terlepas dari apapun keadaan kita.

 

Hari ini (Rabu/21/4/2021), Yesus mendeklarasikan diri-Nya di hadapan publik bahwa Ia adalah roti hidup. Yang unik dari roti hidup itu adalah setiap orang yang memakan-Nya tidak akan merasa lapar lagi. Dengan berbicara tentang konsep roti hidup sebenarnya secara tidak langsung Yesus sedang mengkontraskan dua jenis makanan yang diperuntukkan secara khusus bagi umat Israel. Dua jenis makanan itu adalah manna dan roti hidup. Manna adalah makanan yang diturunkan oleh Allah kepada umat Israel yang sementara mengembara di padang gurun menuju tanah terjanji. Manna itu berbeda dengan roti hidup. Karena setiap orang yang memakan manna akan tetap merasa lapar lagi. Sementara roti hidup tidak demikian. Yesus mencoba membuka kesadaran umat Israel bahwa roti hidup yang akan mereka makan berbeda dengan manna di padang gurun. Roti hidup akan memberi mereka kepuasaan kekal. Mereka tidak akan merasa lapar lagi untuk selama-lamanya.

 

Simbolisasi dari Yesus sebagai roti hidup mau mengungkapkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang telah diutus oleh Bapa-Nya di sorga untuk datang menyelamatkan umat manusia yang ada di muka bumi. “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 6:38). Oleh karena itu, barangsiapa yang melihat Yesus, sebenarnya telah melihat Allah. Barangsiapa yang merasakan cinta dan perhatian dari Yesus, sebenarnya merasakan cinta dan perhatian dari Allah sendiri. Yesus tidak datang dan bekerja atas nama-Nya sendiri. Setiap perkataan dan aksi-Nya yang fenomenal membuktikan otoritas atau kuasa Allah yang sementara memberi tawaran keselamatan kepada manusia.

 

Sungguhpun demikian, masih tetap saja ada orang tidak pecaya bahwa Yesus adalah roti hidup yang telah turun dari sorga. Dengan tahu dan mau, mereka menunjukkan sikap keras hati dan tidak percaya. Mereka menolak dan tidak meyakini bahwa Yesus adalah roti hidup. Mereka menganggap sebagai sebuah lelucon semata ketika mendengar pernyataan Yesus sebagai roti hidup. Hal ini terjadi karena hati mereka telah tertutup oleh tawaran keselamatan yang diberikan oleh Allah. Mereka tidak mampu melihat siapa Yesus sebenarnya karena mata batin mereka telah tumpul. Mata batin mereka telah dikalahkan oleh rasa ego dan pongah.

 

Yesus merasa bersyukur karena di tengah-tengah kelompok orang yang antipati dan tidak percaya kepada-Nya, masih ada sebagian orang yang dengan segala kerendahan hati, mau percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam pengajaran ilahi-Nya. Kepada kelompok orang yang percaya ini Yesus berkata: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh 6:40). Statement Yesus ini jelas bahwa hanya kepada mereka yang percaya dan melakukan segala kehendak-Nya yang mendapatkan keselamatan kekal. Semangat percaya dan melakukan kehendak Allah adalah sebuah keniscayaan untuk menyantap Yesus sebagai roti hidup.

 

Stefanus, seorang martir yang gagah perkasa, telah menunjukkan kepercayaan kepada Yesus sebagai roti kehidupan yang membawa keselamatan kekal. Berhadapan dengan otoritas Yerusalem yang menghambat segala upaya dan karya kerasulan para murid, Stafanus tidak gentar sedikit pun. Tidak ada sikap tawar menawar atau kompromi untuk mencari muka atau lari menyelamatkan diri. Bagi Stefanus, mengikuti Yesus adalah sebuah harga mati, yang tidak bisa ditawar. Bahkan dengan nyawa sekalipun, Stefanus rela mempertaruhkannya sebagai bukti bakti kepada roti kehidupan yang telah ia santap. Kematian Stefanus sebagai martir pertama dalam gereja Kristus, telah mendorong sekian banyak murid Yesus pada masa itu untuk tidak takut. Roti kehidupan itu telah dihidangkan dan setiap murid yang percaya harus memakannya sampai habis. Tidak peduli seberat apa pun tantangan-Nya, pilihan kepada Yesus sebagai roti kehidupan adalah sebuah pilihan yang sungguh menyelamatkan hidup iman mereka.

 

Sebagai murid Yesus di masa kini, kita sebenarnya harus menunjukkan rasa syukur oleh karena hidangan Yesus sebagai sebuah roti kehidupan tetap menjadi sebuah pilihan yang akan menyelamatkan hidup. Berkat sakramen baptis, kita semua telah disahkan untuk menjadi anggota gereja. Gereja adalah tanda nyata kehadiran Allah dan Yesus di tengah dunia. Sebagai anggota gereja, kita memiliki panggilan istimewa untuk menyantap Yesus sebagai roti kehidupan. Namun, acapkali (entah sadar atau tidak) kita menolak panggilan itu dengan membangun sikap kompromistis dalam diri. Kita lebih senang memiliki kehendak dan kemauan untuk bersekutu dengan kuasa kegelapan. Karena kuasa kegelapan lebih memberikan kenikmatan dari sisi materi, jabatan, dan status sosial. Kita tidak suka bertahan dalam pelbagai kesulitan, penderitaan, dan dukacita manakala hidup sebagai seorang saksi Kristus yang benar dan militan.

 

Sebagaimana manna yang hanya mengenyangkan tetapi tidak menyelamatkan, demikian pula pola hidup kita yang tidak berkiblat pada roti kehidupan, pasti tidak akan menyelamatkan. Segala kenikmatan yang ditawarkan dunia tidak bersifat kekal. Akan tiba pada saatnya, semuanya akan diambil dari hadapan kita. Dan kita akan menjadi orang-orang buangan di tempat yang mana hanya terdapat ratapan dan kertak gigi.

 

Yang kekal dan menyelamatkan itu hanya pada roti kehidupan. Dan Yesus sudah menegaskan Diri-Nya sebagai roti hidup yang membawa hidup kekal dan keselamatan. Kita tidak perlu ragu untuk memilih Diri-Nya sebagai sebuah hidangan yang menyelamatkan. Di lain pihak, kita harus menghindari sikap kompromi yang hanya menggiring kita kepada jalan kesesatan. Mari dengan penuh syukur kita menyantap Yesus sebagai roti hidup dengan membawa banyak nilai positif dan kebaikan, bagi pribadi dan orang lain dimana dan kapan saja kita berada. Terutama di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan dalam tugas dan panggilan di tempat kerja kita masing-masing. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 12 April 2021

KASIH ALLAH BEGITU BESAR

 

(Yoh 3:7-15)

            Kita sering tenggelam dalam pekerjaan, kesibukan dan rutinitas harian kita, akibatnya kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan dan bahkan kita nikmati semuanya adalah anugerah kasih dari Allah yang begitu besar. Ketika sama saudara/i kita mengalami musibah banjir bandang yang menelan banyak korban, semua mata tertuju pada peristiwa naas itu sekaligus sigap memberikan bantuan kemanusiaan. Namun, ada orang yang merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan bantuan apa pun kepada para korban. Dalam momentum ini, materi bukanlah satu-satunya ukuran yang bernilai, namun masih ada banyak hal yang lebih bernilai untuk dibagikan kepada sesama yang ditimpa bencana. Kumpulan para pengikut Kristus dikisahkan oleh penulis Kisah Para Rasul, hidup sehati dan sejiwa, dan segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Kebersamaan yang indah seperti itu tidak terbatas pada saling berbagi barang atau uang, tetapi juga berbagi kasih karunia yang berlimpah-limpah. Mungkin melalui gambar kehidupan Gereja seperi itu, kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan Yesus dengan hal-hal surgawi ketika berbicara dengan Nikodemus. Yesus ingin agar manusia menyadari belas kasih Allah bagi manusia dan pada saat yang bersamaan, belas kasih itu harus dibagikan agar semua orang merasakan kasih Kerahiman Allah yang besar.

            Kesejahteraan jasmani yang kita upayakan bersama sebagai murid-murid Kristus masih perlu dilengkapi dengan usaha memenuhi kesejahteraan rohani dalam kebersamaan iman. Dengan kata lain, kita perlu peduli pada kebutuhan rohani orang lain, yang tidak dapat dipenuhi dengan barang atau juga uang. Apakah kita merasa tidak cukup bila hanya mampu memberikan doa dan dukungan kepada sesama yang ditimpah bencana? Kalau hal itu kita berikan dengan tulus dan sepenuh hati, maka niscaya kasih karunia Tuhan akan berlimpah untuk kita..

            Injil hari ini melukiskan tentang percakapan lanjutan Yesus dan Nikodemus. Siapakah Nikodemus? Ia adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi, suatu kelompok keagamaan Yahudi yang terkenal karena ketaatan mereka menjalankan hukum Taurat. Dengan demikian pengetahuan dan kesalehan Nikodemus tidak perlu disangsikan atau diragukan. Perikop sebelumnya melukiskan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus karena tertarik pada Yesus dan menghormati Dia. Yesus berkata Nikodemus perlu dilahirkan kembali agar mendapat Kerahiman Allah dan bagian dalam Kerajaan Allah (ayat 3, 7). Ini menarik karena Yesus menjelaskan hal itu kepada Nikodemus yang memiliki latar belakang agama Yahudi yang demikian kental. Yesus kemudian menjelaskan bahwa orang baru dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau dilahirkan dari air dan Roh (ayat 5). Air adalah tanda pentahiran, sedangkan Roh diberikan untuk memberikan pembaharuan. Ini menegaskan bahwa dosa telah membuat semua orang tidak layak masuk ke dalam kemuliaan Tuhan, kecuali bila dibaharui Roh. Jawaban-jawaban Nikodemus menunjukkan bahwa ia tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan oleh Yesus, walaupun ia adalah ahli Kitab Suci (ayat 4, 9-10). Ternyata orang dengan pengetahuan agama dan kesalehan yang kuat seperti Nikodemus belum tentu mengerti dan mengalami kelahiran baru. Padahal orang harus dilahirkan kembali agar menikmati dan mengalami kehidupan yang bersifat surgawi (ayat 8, 12). Bagaimana orang dapat dilahirkan kembali? Penginjil Yohanes menjelaskan bahwa orang yang menerima Yesus dan percaya dalam nama-Nya akan menjadi anak-anak Allah. Jika kita percaya akan Yesus maka kita akan dilahirkan kembali dalam Roh dan karena itu kita akan menerima kasih karunia Allah yang besar untuk hidup kekal.

            Yesus dan Nikodemus sebenarnya sedang mempercakapkan betapa agungnya kerahiman Allah bagi manusia di dunia ini. Tuhan Yesus sudah menerangkan sebelumnya kepada Nikodemus tentang rencana keselamatan dari Bapa, yang akan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal dalam drama penyaliban hingga kematian-Nya. Yesus sudah tahu bahwa Ia akan menggenapi semuanya ini, tetapi demi kerahiman dan kasih sayang Bapa kepada manusia di dunia maka Ia taat kepada kehendak Bapa. Perkataan Yesus lebih lanjut kepada Nikodemus: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Apa yang mau Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus dan kita semua yang membaca serta mendengar Injil pada hari ini adalah bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan rencana keselamatan Allah Bapa bagi manusia. Oleh karena itu, Dia mengambil inisiatif pertama untuk menyelamatkan manusia dengan cara mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus sendiri. Maka tepat bila dikatakan bahwa mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal merupakan manifestasi tertinggi dari kerahiman Bapa bagi manusia. Allah menghendaki agar manusia dilahirkan kembali sebagai manusia baru yang telah mengalami pentahiran dan pembaharuan diri. Pemurnian diri oleh karena pertobatan hati kepada Tuhan memungkinkan manusia beroleh hidup kekal dan berhak mendapat kerahiman serta belas kasih Allah melalui penebusan Putera-Nya Yesus Kristus.

            Perkataan Tuhan Yesus, “Sebab begitu besar kasih Allah” atau “begitu besar kerahiman Bapa” kepada manusia merujuk pada peristiwa Inkarnasi, di mana Sabda menjadi Manusia dalam diri Yesus Kristus dan tinggal bersama kita. Implikasi nyatanya adalah pada Paskah Kristus. Dalam hal ini, kematian Yesus Kristus sebagai epifani atau penampakan kasih atau agape Allah demi keselamatan dunia. Satu kondisi yang penting supaya memiliki hidup kekal adalah percaya kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah, satu-satunya Penyelamat kita. Untuk mengalami Kasih Allah yang dahsyat dibutuhkan totalias iman yang militan agar kita mampu mengungkapkan dan membagikannya kepada sesama kita. Kasih karunia Allah tidak boleh tinggal diam dalam hati kita saja tetapi harus disalurkan dan diperjuangkan untuk semua orang karena keselamatan itu sifatnya universal bukan milik segelintir orang yang selalu mengklaim dirinya sebagai pribadi yang paling layak.

            Wujud kerahiman Allah Bapa yang begitu agung juga terlihat dalam misi Yesus. Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Untuk itu sangat dibutuhkan iman dan kepercayaan kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah. Yesus juga menghadirkan kerahiman Allah sebagai Terang bagi dunia. Dia sebagai Terang dunia, datang ke dunia untuk menerangi mereka yang hidup dalam kegelapan dosa supaya bisa memiliki pertobatan sejati. Mereka bisa merasakan kerahiman Allah yang agung dan luhur.

            Pada hari ini kita semua dikuatkan oleh Tuhan melalui Kabar Sukacita (Injil), bahwa apa pun hidup kita, dan siapakah diri kita di hadapan-Nya, Ia tetaplah maharahim. Sebab Ia tidak memperhitungkan dosa-dosa kita melainkan melihat iman dan kepercayaan kita kepada-Nya. Betapa agung dan luhur kerahiman Allah bagi kita semua. Kebingungan Nikodemus kiranya membuat kita bercermin apakah kita telah mengalami pembaharuan rohani melalui kelahiran kembali, ataukah kita masih merasa nyaman menjalani cara hidup lama kita. Mari kita mengundang Yesus masuk ke dalam hidup kita karena begitu agung dan luhur kerahiman-Nya bagi kita semua teristimewa bagi para korban bencana yang tengah mengalami cobaan, kiranya Allah selalu hadir untuk meneguhkan iman kepercayaan mereka. Semoga. ***Bernard Wadan***

Minggu, 21 Maret 2021

MENYADARI DIRI SEBAGAI SEORANG PENDOSA

Yoh 8:1-11

Ada seorang kenalan yang saya kenal cukup baik. Satu hal yang tidak saya sukai dari beliau adalah kebiasaannya yang suka mencari-cari kesalahan dan memvonis orang lain dengan pernyataan-pernyataan yang meremehkan dan merendahkan. Di lain pihak, ia suka membangga-banggakan dirinya dengan segala perbuatan baik dan prestasi kerja yang telah didapatkan. Kesan yang saya tangkap bahwa sang kenalan tersebut secara langsung atau tidak, ingin mengirim pesan kepada orang lain yang mendengarnya jikalau ia lebih hebat, lebih baik, lebih suci dan lebih benar daripada mereka.

 

Hari ini para ahli taurat dan orang-orang Farisi memperlihatkan superioritas dan dominasi mereka di hadapan orang banyak dan Yesus. Mereka tidak datang sendirian. Mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan menempatkannya di tengah-tengah orang banyak. Kemudian dengan dalil perkataan Musa dalam hukum taurat, mereka mengatakan kepada Yesus bahwa perempuan tersebut harus dilempar dengan batu. Seolah-olah mau mencari simpati Yesus, mereka malah menanyakan bagaimana pendapat Yesus tentang kasus tersebut. Yesus menyadari bahwa ini sebuah jebakan dari para pemimpin Yahudi yang sementara mencari celah untuk mempersalahkan-Nya.

 

Pada awalnya Yesus tidak mau menanggapi “permainan” mereka. Ia tetap cuek dan menulis sesuatu di tanah. Karena terus dipaksa untuk menjawab, akhirnya Yesus mengatakan: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7). Karena tidak mampu merespon pernyataan Yesus, mereka memilih untuk pergi satu demi satu. Satu hal luar biasa diperlihatkan Yesus kepada perempuan berdosa. Ia tidak marah, mengecam atau menghukum perempuan itu. Sebaliknya, dengan kuasa ilahi-Nya, Yesus berkata kepadanya: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8:11).

 

Ada dua informasi penting yang kita catat dari peristiwa Injil hari ini. Pertama, Yesus menyerang balik sikap atau perilaku para pemimpin agama yang merasa diri lebih suci dan benar sehingga memiliki hak untuk menghakimi orang yang telah berbuat salah. Yesus berusaha memberi kesadaran kepada mereka bahwa yang lebih berhak untuk menentukan seseorang bersalah atau berdosa adalah Allah sendiri. Bukan datang dari analisis manusiawi mereka. Yesus juga menyerang keangkuhan pribadi mereka yang merasa diri lebih benar dan suci. Yesus ingin mereka melakukan koreksi diri bahwa mereka juga sebenarnya tidak bersih di hadapan Allah. Mereka harus segera bertobat dari sikap angkuh dan suka menindas orang lain.

 

Kedua, Yesus menunjukkan sikap yang ramah dan persuasif kepada perempuan yang melakukan dosa zina. Yesus tidak marah karena ia telah berbuat dosa.  Yesus menerima perbuatan dosanya sebagai sebuah fakta yang tidak bisa dielakkan. Yang lebih penting adalah ia mau menyadari perbuatan dosanya dan segera bertobat. Oleh karena itu, Yesus menasihati agar ia jangan mengulangi lagi pebuatan dosanya.

           

Dua informasi penting di atas menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus di masa kini. Seringkali kita memiliki kecenderungan manusiawi untuk merasa diri lebih benar dan suci sehingga kita gampang memberi cap negatif bagi orang lain. Kita lebih suka menceritakan keburukan atau aib orang lain. Dan tidak ragu-ragu memvonis orang lain dengan kata-kata dan perbuatan yang melecehkan dan merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia. Satu jari telunjuk kita menunjuk sesama, namun keempat jari yang lainnya sementara menunjukk diri kita. Namun kita tidak menyadari hal itu. Bahwa sebenarnya kita sementara juga memamerkan keberdosaan kita di hadapan Tuhan. Mata manusia mungkin tidak melihatnya sebagai dosa. Tetapi tidak bagi mata Tuhan. Ia mengetahui segalanya dan terus memberi kesempatan bagi kita untuk segera menyadari diri dan kembali kepada jalan kebenaran.

           

Sikap Yesus yang persuasif kepada wanita pendosa mau memberi tanda dan pesan bahwa Yesus tetap menerima kehadiran kita sebagai seorang pendosa. Apa pun keadaan kita. Sebesar apa pun kesalahan dan dosa yang kita perbuat, Tuhan tetap menerimanya dengan tangan terbuka. Sebanyak apa pun kesalahan dan dosa yang kita lakukan, ruang keselamatan itu tetap terbuka. Tuhan tetap memberi kesempatan berulang kali, walaupun lebih banyak kita tidak menyadari. Dan walaupun menyadarinya, kita tetap tahu dan mau jatuh pada kesalahan yang sama. Kita lebih suka dan asyik dalam keberdosaan, sementara tangan Tuhan tanpa kenal lelah terus menawarkan warta keselamatan.

           

Inilah saat yang paling berahmat di masa prapaskah ini, kita mau menyadari diri sebagai seorang pendosa yang segera mau bertobat dan kembali kepada jalan-Nya. Dengan menyadari diri sebagai seorang pendosa, kita akan mampu dengan rendah hati dan totalitas diri mau berserah kepada penyelenggaraan ilahi. Kita mau menyesali segala perbuatan tercela dan bertobat darinya. Kita mau memperbaiki kualitas pribadi agar tidak menjadi pribadi yang merasa diri paling benar dan angkuh. Kita harus “menginjak rem kepongahan” agar tidak sibuk mencari-cari kesalahan dan memvonis hal tidak baik dalam diri sesama. Kita ingin lebih menghargai dan menghormati sesama lewat kata-kata dan perbuatan yang membawa banyak kebaikan dan keselamatan.

           

Marilah bersama pemazmur kita berseru kepada Tuhan: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mzm 23:1-4). Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 14 Maret 2021

MENGHIDUPI SIKAP RENDAH HATI

Yoh 4:43-54

Pada masa awal melakukan tugas sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara), secara kebetulan saya bertemu dengan seorang ulama muslim di suatu tempat. Singkat cerita, saya begitu terkesan dengan kata-kata, nasihat dan dukungan morilnya terhadap pribadi saya. Ia banyak menasihati agar saya tidak boleh menjadi pribadi arogan dan lupa diri. Saya harus tetap menunjukkan sikap rendah hati kepada siapa saja; baik kepada pimpinan, rekan kerja, sahabat, kenalan, anggota keluarga, maupun kepada orang-orang yang tidak saya kenal. Dan terutama sikap rendah hati itu harus saya tunjukkan kepada Tuhan yang telah memberikan anugerah yang baik dalam hidup.

 

Sikap rendah hati di hadapan Tuhan juga secara otomatis menegaskan bahwa saya tidak boleh melupakan Tuhan. Saya harus tetap berserah diri dan percaya dengan total kepada segala kehendak-Nya. Karena Tuhan punya cara tersendiri dalam memberikan segala berkat-Nya. Jauh di luar bayangan, pikiran dan pengetahuan saya sebagai manusia. Pertemuan sekilas dengan sang ulama tersebut ternyata tetap membekas dan memberi makna mendalam. Menjadi pribadi rendah hati adalah filosofi hidup yang harus terus saya perjuangkan, saya gaungkan dalam seluruh hidup dan pengalaman pribadi.

 

Sikap rendah hati dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54) ditunjukkan oleh seorang pegawai istana yang datang menemui Yesus agar anaknya dapat disembuhkan dari penyakit. Sang pegawai istana rupanya sudah tahu bahwa Yesus telah sampai di Galilea. Lebih dari itu, ia tahu akan kemampuan karismatik yang dimiliki Yesus. Yesus bukan manusia biasa. Yesus memiliki kompetensi ilahi untuk berbuat apa saja demi menyelamatkan setiap orang yang menaruh harapan kepada-Nya. Dengan dasar keyakinan ini, sang pegawai istana dengan hati yang mantap datang sendiri kepada Yesus.

 

Kalau saja mau, ia dapat menyuruh orang suruhannya datang menemui Yesus. Seorang pegawai istana tentu saja memiliki bawahan. Pada masa itu dikenal dengan istilah budak. Istilah ini sebenarnya terdengar kasar dan tidak pantas. Namun itulah realitas sebenarnya. Bahwa seorang budak pada masa itu memang memiliki tugas untuk melayani tuannya dalam segala hal tanpa mendapat bayaran sedikit pun. Tetapi itu tidak dilakukan oleh sang pegawai istana. Ia memutuskan untuk sendiri datang kepada Yesus.

 

Sang pegawai istana telah menunjukkan sikap rendah hatinya untuk datang menemui Yesus. Dan dengan rendah hati pula memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang sementara menderita sakit. Yesus sempat menantangnya dengan berkata: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya” (Yoh 4:48). Namun dengan kesungguhan hati pegawai istana itu berkata: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati” (Yoh 4:49). Kata-kata optimisme ini menggambarkan bahwa sang pegawai istana dengan segala kerendahan hatinya, begitu yakin dengan imannya akan Yesus. Meskipun ia belum melihat tanda dan mujizat itu. Ia sangat percaya bahwa anaknya pasti mendapat kesembuhan. Sang pegawai istana menyadari keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa. Tidak mungkin anaknya menjadi sehat kalau ia tetap mengandalkan kemampuan manusiawinya. Ia harus melepaskan arogansi pribadinya untuk kemudian datang kepada Yesus. Berkat kerendahan hati dan keteguhan imannya, anaknya menjadi sehat.

 

Sikap rendah hati adalah sebuah nilai moral sekaligus nilai kristiani yang memiliki harga sangat mahal di era ini. Kalau kita perhatikan realitas hidup kita, sangat jarang orang menghidupi nilai ini dalam seluruh hidupnya. Yang banyak terjadi adalah orang sering atau selalu menunjukkan ego dan arogansi pribadi dalam seluruh pengalaman hidupnya. Dalam keluarga, sering terjadi suami tidak lagi memperhatikan kesejahteraan istri dan anaknya. Sebaliknya, Istri juga tidak lagi mendengar dan menghargai suaminya. Demikian juga anak-anak tidak lagi menaruh rasa hormat dan bahkan mendurhakai orang tuanya sendiri.

 

Dalam lingkup pergaulan sosial, karena merasa memiliki jabatan dan status sosial yang tinggi, tidak jarang kita tidak lagi mau menunjukkan rasa simpati dan empati dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Bahkan sekedar menegur saja sangat jarang atau tidak pernah kita lakukan. Mata kita telah menjadi buta dan hati kita telah menjadi tumpul manakala menyaksikan berbagai keprihatinan sosial yang terjadi. Kita menjadi pribadi yang apatis dan tidak mau tahu karena telah digerogoti oleh sikap ego dan sombong.

 

Dalam lingkungan kerja, karena rasa gengsi dan demi menjaga wibawa acapkali pimpinan (atasan) sangat membatasi diri untuk membangun komunikasi dengan para bawahannya. Walaupun itu mungkin sifatnya informal. Maka yang terjadi selanjutnya adalah sang pempimpin lebih sibuk dengan urusan pribadinya dan tidak sungguh memperhatikan kepentingan bawahannya. Mungkin juga ada rekan kerja yang dihinggapi oleh sikap arogansi karena merasa diri paling hebat dan pintar. Kemudian dengan tahu dan mau merendahkan dan melecehkan martabat sesamanya.

 

Sikap ego dan arogansi zaman ini telah melukai rasa kemanusiaan dan menggugat serta menggeser jati diri manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki sikap rendah hati. Mirisnya, sikap ego dan arogan juga dipertontonkan oleh umat beriman kepada sang penciptanya sendiri. Orang-orang lebih cenderung mengandalkan diri dan kekuatan lain selain kekuatan Tuhan, untuk membereskan segala persoalan hidup yang dihadapinya. Sehingga yang terjadi bukan kebaikan dan keselamatan hidup yang didapat, malahan sebaliknya, orang-orang semakin lepas kendali untuk tidak ragu-ragu berbuat jahat terhadap sesamanya sendiri.

 

Sang pegawai istana telah memberi contoh hidup yang baik bagaimana seharusnya kita memahami dan menginternalisasikan nilai kerendahan hati dalam seluruh hidup kita. Kita harus berani melepaskan sikap ego dan arogansi pribadi karena kita adalah pribadi yang terbatas. Banyak persoalan dan dinamika hidup yang tidak mungkin selesai dari kaca mata manusiawi. Kita membutuhkan pribadi adikodrati yakni Tuhan, untuk menuntun dan mengarahkan kita kepada segala kebaikan dan keselamatan. Dan ini hanya dapat dicapai apabila kita mau menghidupi sikap rendah hati di hadapan Tuhan.

 

Dengan mengutamakan sikap rendah hati di hadapan Tuhan, kita juga akan mampu bersikap rendah hati kepada orang lain, tanpa memandang usia, status, jabatan, suku, agama, golongan dan sebagainya. Marilah di masa prapaskah pekan keempat ini, kita semakin menyadari diri untuk menjadi manusia yang rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***