Senin, 27 September 2021

BERI KESEMPATAN UNTUK BERUBAH

Luk 9:51-56

            Ketika kita ingin melakukan suatu kegiatan di tengah-tengah komunitas masyarakat meskipun memberi bermanfaat bagi kehidupan mereka namun terkadang maksud dan tujuan baik kita ditolak oleh komunitas itu tanpa suatu alasan mendasar. Secara manusiawi akan muncul kemarahan dan kejengkelan dalam hati meski kita berjuang untuk tampil tenang. Fenomena ini secara tegas mau menunjukkan bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan pada dirinya dan pada tahap tertentu kemarahan dan kebencian itu dapat meledak di luar kontrol. Pengolahan dan penguasaan emosi menjadi penting agar tidak meningkat menjadi permusuhan yang tidak perlu. Usaha pengendalian diri ini harus diikuti oleh komitmen yang kuat untuk mau berubah dan tidak tergantung dari orang lain.

           

Injil hari ini memberi kita suatu pelajaran berarti bagaimana Yesus menegur Yakobus dan Yohanes agar tidak bertindak gegaba mengutuk orang-orang Samaria yang menolak kehadiran dan rencana kedatangan Yesus dan murid-muridNya di Samaria. Yesus melihat masih ada peluang pertobatan bagi orang-orang Samaria, karena itu mereka harus diberi kesempatan untuk berubah. Cara pandang dan cara melihat Yesus berbeda degan cara pandang dan cara melihat manusia. Penolakan orang Samaria terhadap kehadiran Yesus sontak membuat kedua murid utusan Yesus marah besar bahkan mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”. Yesus mengarahkan pandangan dan menegur mereka untuk tidak melakukan hal konyol itu. Yesus seakan mau mengatakan: berilah mereka waktu dan kesempatan untuk berubah (bertobat) dan jangan membuang-buang kesempatan untuk memaksa orang yang tegar hati untuk mendadak bertobat seperti membalikan telapak tangan. Yesus mau mengajari para murid untuk bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan masalah, dan cara yang diambil Yesus untuk menenangkan hati para murid dengan menyuruh mereka berpindah ke desa yang lain, mungkin di sana mereka dapat menerima Juru selamat dan warta pertobatanNya. Pilihan untuk membinasakan orang-orang Samaria bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi masalah, setiap masalah harus diselesaikan dengan cara dan pendekatan bijak yang dikuatkan oleh doa. Doa menjadikan orang berhati batu menjadi lembut dan mampu menerima Tuhan dalam hidupnya. Yesus tidak saja mendidik para murid untuk matang secara Rohani tetapi juga harus matang secara psikologis agar terjadi keseimbangan yang ideal atasnya. Para murid tidak saja cakap dalam mengajar tetapi aspek kepribadian dan mental juga harus matang agar tidak mengambil tindakan yang kontras dengan misi kehadiran Yesus untuk menyelamatkan semua umat manusia.

           

Yakobus dan Yohanes sepertinya belum terbiasa menghadapi masalah dan penolakan dalam misi pewartaan mereka, sehingga kelihatan sekali ketika mereka mengalami penolakan dari orang Samaria mereka terkesan putus asa dan ingin mengambil langkah pintas untuk membumihanguskan desa Samaria. Pilihan tindakan mereka mencerminkan kualitas hidup rohani yang mereka miliki, karena orang yang memiliki hidup rohani yang matang selalu memiliki seribu satu pertimbangan dengan skala prioritas tinggi agar tidak mengaburkan dan menggagalkan misi utama pelayanan mereka. Dalam karya kerasulan dan pelayanan di tengah-tengah umat, kita tidak bisa mengharapkan pertobatan instan kepada mereka, ada proses yang harus dilalui untuk mencapai kematangan iman. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang akan kita hadapai berhadapan dengan kelompok yang suka mencari pembenaran diri. Untuk menghadapi kelompok orang semacam itu dibutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan untuk memenangkan hati mereka. 

           

Rasul Yakobus dan Yohanes adalah contoh nyata yang mengungkapkan perangai dan sifat dasar manusia dewasa ini. Kita seakan kurang dewasa menghadapi setiap masalah yang muncul, kita mengandalkan kekuatan dan emosi untuk menyelesaikan setiap masalah dan kita berpikir orang akan berubah kalau kekerasan kita gunakan untuk menjinakan mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap masalah yang diselesaikan dengan jalan kekerasan sama sekali tidak memberi solusi bahkan menciptakan masalah baru. Dalam konteks hidup beragama, Yesus datang membawa ajaran baru yaitu cinta kasih yang sama sekali berbeda dari ajaran apa pun, bahkan militansi dari ajaran baru ini mendorong kita untuk bersikap lemah lembut, sabar, pemaaf dan mendoakan musuh yang memusuhi kita. Ajaran baru ini hanya bisa dilaksanakan bila kita mengadopsi kerendahan hati Tuhan Yesus yang mendoakan musuh-musuNya dan rela berkorban bagi keselamatan umat manusia. Yakobus dan Yohanes berpikir mereka telah lama hidup bersama Yesus maka mereka berhak menggunakan rahmat dan kuasa yang mengalir dalam diri mereka untuk membinasakan orang lain. Teguran Yesus sebagai suatu peringatan agar mereka tidak menjadi sombong, harus lebih mawas diri dan bertanggungjawab menggunakan kuasa dan rahmat yang diberikan kepada mereka. Rahmat dan kuasa tidak boleh dipakai sewenang-wenang untuk mengutuk dan membinasakan orang tetapi hendaknya dipakai untuk membantu orang bertobat dan menghantar mereka kepada keselamatan.

           

Terkadang kita juga berlaku seperti Yakobus dan Yohanes, kita sering menggunakan kuasa dan jabatan kita untuk menekan orang lain/bawaan kita. Ketika mereka tidak lagi setia dan mau diajak bekerja sama, kita berjuang melengserkan mereka atau mengganti posisi mereka dari ruangan agar posisi itu bisa ditempati oleh orang-orang yang tidak berkualitas dan memiliki kualifikasi pada bidangnya, yang penting rajin manggut dan OBS (asal bapa senang). Strategi yang kita bangun ini sama sekali tidak mendidik, tidak membangun kesadaran dan kesetiaan orang, yang ada hanyalah kemunafikan yang dipertontonkan tanpa kualitas kerja yang memadai. Yesus menginginkan dari kita adalah pendekatan personal yang humanis agar dapat memenangkan hati orang yang keras, dengan begitu berangsur-angsur orang dapat kembali bertobat dan memberi diri untuk diselamatkan.

           

Injil yang kita renungkan hari ini menginspirasi dan memotivasi kita untuk mengutamakan kualitas pelayanan kepada sesama. Sikap dasar yang dibutuhkan dalam pendekatan pelayanan adalah kesabaran, kerendahan hati dan keteladanan yang memungkinkan orang dapat membaharui diri menuju pertobatan dan memperoleh keselamatan dari Allah. Kita  diminta oleh Yesus untuk melayani dengan hati dan menghindari kekerasan dan pemaksaan kepada sesama. Hendaknya kita mendedikasikan diri secara total dan mengarahkan mereka dengan kasih sayang agar kita dapat memenangkan hati dan jiwa mereka untuk hidup sesuai dengan Kehendak Allah. Semoga teladan kerendahan hati Yesus membaharui hati kita agar sikap dan tindakan kita kepada sesama mencerminkan kasih Yesus.

Minggu, 19 September 2021

Menjadi Pelita

Luk 8:16-18

 

Pada zaman dahulu, sebelum ada dan berkembangnya listrik seperti sekarang ini, pelita menjadi sumber utama penerangan di malam hari. Komponen pelita sangat sederhana. Ada kaleng bekas yang berfungsi sebagai rumah pelita. Dalam rumah pelita ini ada bahan bakar minyak dan sumbu yang dimasukkan dalam sepotong pipa. Kaleng bekas, minyak, dan sumbu adalah tiga komponen penting yang menjadikan pelita bisa bekerja dengan baik. Minyak yang cukup dan sumbu yang baik akan menciptakan nyala pelita yang baik pula.

 

Dalam perumpamaan tentang pelita, Yesus menandaskan bahwa pelita yang baik akan berfungsi dengan baik apabila di letakkan di atas kaki dian supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Tentu saja, dengan ditaru di atas kaki dian, cahaya pelita tersebut dapat menerangi keadaan sekitar sehingga orang tidak merasa kegelapan. Pelita akan kehilangan fungsinya apabila orang menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur.

 

Pelita di atas kaki dian adalah bahasa simbolik. Yesus menggunakan simbol pelita untuk menunjuk pada misi perutusan yang akan dikerjakan oleh para murid. Para murid harus menjadi seperti pelita yang membawa warta kebaikan bagi semua orang. Peran para murid yang sentral ini tentu tidak mudah. Mereka harus memompa diri dengan kekuatan dari Yesus sendiri. Mereka harus serius belajar dan terus melatih diri untuk menjadi seorang pewarta yang mumpuni. Dalam bahasa simbolnya, mereka harus memiliki sumbu yang baik dan minyak yang cukup agar tetap bernyala dalam misi perutusan.

 

Untuk menjadi pelita yang baik, ada beberapa kualifikasi yang harus dimiliki oleh para murid. Pertama, mereka harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang baik akan warta atau sabda Allah. Dan dalam masa kebersamaan bersama Yesus, secara tidak langsung mereka sementara belajar sekaligus melatih diri. Ada banyak content atau isi sabda Yesus yang mereka dengar dan secara otomatis terinternalisasi dalam diri. Dalam diskusi dan dialog bersama Yesus, content tentang sabda Allah terus didalami dan dimatangkan. Ada banyak hal yang pasti belum dipahami para murid karena dibentangkan oleh Yesus dalam bahasa perumpamaan atau alegori.

 

Kedua, para murid harus memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan mukjizat. Untuk memperoleh kompetensi unik ini, para murid harus sungguh percaya kepada Yesus. Dengan kepercayaan yang total, kompetensi ini pasti akan mengalir dalam diri. Berkat khusus ini dengan sendirinya akan diberikan Yesus kepada para murid sebagai mitra kerja-Nya. Kuncinya, mereka harus sungguh percaya. Tanpa kepercayaan, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk meyakinkan para pendengarnya. Tindakan mukjizat menjadi unsur penting bagi para murid dalam menjalankan fungsi sebagai pelita. Orang-orang yang mendengar sabda Allah, akan semakin diyakinkan dengan tindakan mukjizat. Orang-orang tidak akan ragu untuk mengikuti Allah, karena sabda-Nya begitu nyata dinyatakan dengan aksil fenomenal yang menggugah.

 

Ketiga, para murid harus menjaga integritas diri. Apa yang mereka katakan harus sejalan dengan tampilan pribadi secara konkrit di tengah umat. Ketika berbicara tentang kejujuran, para murid harus benar-benar mewujudkan kejujuran itu dalam tindakan. Mereka tidak boleh mengambil untung dengan melakukan kebohongan atau ketidakjujuran. Ketika berbicara tentang keberpihakan kepada orang kecil, mereka harus sungguh melakukannnya. Para murid tidak boleh menunjukkan tindakan yang apatis atau masa bodoh ketika menghadapi realitas demikian. Ketika berbicara tentang kebenaran, para murid harus memperjuangkan kebenaran itu dalam aksi nyata. Mereka tidak boleh mempermainkan kebenaran demi mendapatkan keuntungan secara pribadi atau kelompok. Ketika berbicara tentang kesederhanaan dan kelembutan hati, para murid harus sungguh menunjukkan pribadi yang sederhana dan lembut. Mereka tidak boleh menjadi pribadi yang mencari kemewahan. Apalagi bersikap arogan dan tidak menganggap orang lain.

 

Menjadi pelita yang baik, tidak saja dimiliki oleh para murid yang pertama. Melalui sakramen pembaptisan. kita tidak saja dilegalkan menjadi anggota Gereja. Kita juga telah disahkan untuk menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Dalam bahasa Injil hari ini, kita memiliki kewajiban dan hak untuk menjadi pelita yang baik. Tentu untuk menjadi pelita yang baik tidak harus memiliki kualifikasi sempurna yang dimiliki oleh para murid. Kita tidak perlu harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang mumpuni. Kita juga tidak perlu belajar membuat tanda-tanda heran untuk meyakinkan orang lain. Yang paling mendasar dari kualifikasi pelita yang baik adalah menjaga integritas diri. Segala hal baik yang kita ucapkan, harus sungguh-sungguh diwujudnyatakan dalam perbuatan atau tindakan nyata.

 

Saya merasa tergugah sekaligus tergugat dengan syering seorang warga binaan Lapas terkait dengan bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18). Dalam syeringnya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga integritas diri. Walaupun ia berasal dari kalangan intelektual yang berbicara banyak tentang nilai-nilai kebaikan, namun sesungguhnya ia tidak mampu menjaga integritas diri. Ia berlaku berlawanan dengan nilai-nilai moral dan ajaran kristiani. Ia sebetulnya sudah mendapat peringatan. Tetapi ia tidak mengindahkan peringatan tersebut. Ia tetap melakukan perbuatan yang jahat sehingga pada akhirnya ia digiring ke dalam lembaga pemasyarakatan. Dalam refleksinya, sang warga binaan tersebut membenarkan kata-kata yang telah disampaikan oleh Yesus. “Tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya” (Luk 2:18). Semua kekayaan, prestise dan prestasi dirinya telah hilang karena ia tidak mampu membawa nyala pelita yang baik bagi orang lain.

 

Hari ini, kita mendapat pengajaran dari Yesus untuk menjadi pelita yang baik bagi orang lain. Menjadi pelita yang baik berarti kita harus menjadi pewarta yang membawa kebaikan dan keselamatan bagi sesama. Dalam tugas dan pengabdian kita yang beraneka ragam, melekat tugas seorang murid Kristus untuk menjadi pelita yang baik. Point paling penting untuk mengimplementasikannya adalah menjaga integritas diri. Tentu hal ini tidak mudah. Ada banyak tantangan atau halangan yang seringkali membuat nyala pelita kita menjadi suram atau padam. Namun, tidak seharusnya kita bersikap pasrah dan putus asa. Kita harus bangkit untuk menyalakan kembali pelita dalam diri kita masing-masing. Kita harus kembali memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan dan tetap menjalin hubungan yang akrab dengan diri-Nya. Mari kita menjadikan diri sebagai pelita yang baik bagi orang-orang yang sementara kita layani dalam tugas dan pengabdian kita di tengah dunia. Amin. ***AKD***

Rabu, 15 September 2021

Dukacita Maria Menjadi Penuh Sukacita

Luk 2:33-35; Yoh 19;25-27

Hari ini tanggal 15 September, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Berdukacita. Perayaan ini sudah dimulai sejak abad kedua belas. Pada tahun 1814, untuk menghormati tujuh Dukacita Maria, Paus Pius X menetapkan tanggal 15 September sebagai hari bagi umat beriman merayakan pesta Santa Perawan Maria Berdukacita. Pesta santa Perawan Maria Berdukacita merupakan penghormatan terhadap kemartiran rohani Bunda Maria serta kebersamaan dalam penderitaannya bersama Putranya, Yesus Kristus. Maria menjadi Co-Redemptrix atau penebus penyerta karena berperan penting dalam membantu sejarah keselamatan bersama Yesus. Peran Maria sebagai penebus penyerta tentu tidak menggantikan peran Yesus sebagai Sang Penebus utama. Maria hadir sebagai mitra Allah untuk turut mengalami penderitaan yang dialami Yesus. Maria yang berdukacita sungguh menggambarkan dirinya sebagai seorang murid yang setia dan penuh keteladanan. Seorang murid yang tidak saja taat, tetapi secara total memasrahkan dirinya dalam penderitaan untuk mensukseskan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

 

Simeon melukiskan dukacita Maria dengan kata-kata: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Maria tentu saja bingung dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Simeon. Namun dalam ketidakpahamannya, Maria tetap bersikap setia dan taat pada segala rencana Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk 1:38). Sejalan dengan tradisi gereja, ada tujuh dukacita yang telah dialami Maria. Pertama, Pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Kedua, Kanak-Kanak Yesus yang hilang dan ditemukan di Bait Allah. Ketiga, nubuat Simeon. Keempat, Bunda Maria berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan-Nya ke bukit Kalvari. Kelima, Bunda Maria berdiri di dekat kayu Salib ketika Yesus disalibkan. Keenam, Bunda Maria memangku jenazah Yesus setelah diturunkan dari Salib. Dan ketujuh, Yesus dimakamkan. Tujuh dukacita Maria ini menegaskan ramalan Simeon tentang sebuah pedang yang menembus jiwa Maria.

 

Tujuh dukacita Bunda Maria erat terkait dengan Paskah Yesus Kristus sendiri. Semua dukacita Bunda Maria dilakukan karena ketaatannya kepada kehendak Tuhan. Bunda Maria menggambarkan dirinya sebagai abdi Tuhan. Seorang abdi yang memberikan dirinya secara total kepada Allah dengan menyertai Yesus Putera Allah. Bunda Maria senantiasa hadir sepanjang hidup Yesus. Sejak pertama kali menerima kabar sukacita hingga hari raya pentekosta, Bunda Maria selalu hadir. Hingga saat ini, Gereja sungguh merasakan kehadiran Bunda Maria. Kita semua selalu berdoa: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati”. Ketidaktaatan manusia kepada kehendak Allah,”ditebus”melalui ketaatan Maria kepada rencana Allah. Karena itu, para Bapa Gereja menyebut Maria sebagai Hawa baru. St. Hieronimus (347-420) mengatakan “Per Evam mors, per Maria vita”. Maut datang melalui Hawa, kehidupan datang melalui Maria. 

 

Keterlibatan Bunda Maria di dalam Gereja merupakan perintah dari Yesus Putranya. Penginjil Yohanes melaporkan bahwa ketika Yesus sedang bergantung di salib, berdirilah ibu Yesus, saudara ibu Yesus, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena. Pada saat menderita seperti ini Yesus memandang ibu-Nya dan menyerahkan murid yang dikasihi-Nya. Ia berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Ia juga berkata kepada murid yang dikasihi-Nya: “Inilah ibumu!” Dan dikatakan bahwa sejak saat itu, murid yang dikasihi Yesus menerima Maria di rumahnya. Kisah ini sangat  indah. Tuhan Yesus dalam suasana penderitaan sekalipun masih mempunyai kesempatan untuk menyerahkan Gereja-Nya kepada Maria ibu-Nya. Maria menerimanya dan menyertainya selama-lamanya. Dan Gereja menerima Maria sebagai ibu selama-lamanya. Maria hadir dan mendoakannya supaya selalu dekat dengan Puteranya. Bunda Maria Berdukacita, tetapi dukacitanya menjadi sukacita di dalam Gereja. Gereja tetap hidup karena Maria hadir sebagai ibu. Ibu yang menderita supaya Gereja bertahan dalam penderitaannya. Konsili Vatikan kedua dalam Konstitusi Dogmatis Gereja menulis: “Ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya, ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya”.

 

Semangat ketaatan dan kepasrahan Bunda Maria kepada kehendak Allah menginspirasi dan menjadi sumber keteladanan bagi kita umat beriman. Dalam setiap situasi, dimana dan kapan saja, hendaknya ketaatan kita kepada Allah tidak pernah luntur. Terutama dalam menghadapi setiap pengalaman penderitaan yang menguji iman kepada-Nya. Kita sebenarnya tidak mengharapkan adanya tantangan yang membawa keterpurukan dan penderitaan. Namun, tentu kita tidak akan pernah menolak apabila tantangan dan penderitaan itu datang menghampiri hidup kita. Sebenarnya tantangan dan penderitaan itu juga memiliki peran penting untuk semakin mengembangkan kepribadian dan mendewasakan hidup iman kita. Kita menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan matang. Di atas semua itu, kita semakin menyadari peran Tuhan dalam setiap pengalaman penderitaan. Tuhan sementara merancang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup di balik setiap pengalaman penderitaan yang kita alami.

 

Peringatan Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita sebenarnya mau mengingatkan pengalaman dukacita Bunda Maria yang membawa sukacita. Sukacita akan kebaikan dan keselamatan yang diterima oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh memaknai setiap pengalaman kehidupan dalam terang iman agar kita dapat menjadi seorang murid yang setia dan dapat membawa keteladanan bagi setiap orang yang ada di sekitar kita. Semoga. ***AKD***

Rabu, 08 September 2021

Belajar Dari Maria Dan Yusuf

Mat 1 :18-23

 

Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Figur seorang perempuan yang turut mengambil bagian aktif dalam proyek keselamatan Allah di muka bumi. Maria adalah mitra Allah yang menunjukkan perannya dengan mengandung dan melahirkan sang Juruselamat Yesus Kristus. Tidak hanya sampai di situ, Maria juga senantiasa menjaga dan mendampingi Yesus hingga kematian-Nya di kayu salib. Fokus peringatan hari kelahiran Santa Perawan Maria bukan soal angka sejarah. Karena memang secara faktual, tidak ditemukan secara pasti dan akurat mengenai waktu kelahiran dari Santa Perawan Maria. Tradisi peringatan pesta kelahiran Santa Perawan Maria sebelumnya sudah dilakukan oleh gereja dengan tradisi timur. Kemudian, gereja Katolik Roma (tradisi barat), mulai mengikuti tradisi demikan sampai dengan saat ini. Sehingga, yang mau ditonjolkan dari peringatan Pesta Kelahiran Santa Maria adalah soal peran pribadi Maria yang begitu vital dalam karya keselamatan Allah. Maria mau menyediakan tubuh biologisnya sebagai tempat bersemayam Sang Putera Fajar, Yesus Kristus.

 

Maria sedari awal memang sudah ditentukan oleh Allah sebagai sosok yang akan memainkan peran penting sebagai mitra Allah. Berawal dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menentukan Maria sebagai sosok Hawa baru yang akan menggantikan peran manusia hawa lama yang sudah tercemar oleh dosa. Karena Hawa, sang manusia pertama tidak mampu menjaga marwah atau martabat luhurnya sebagai makluk ciptaan Tuhan, maka Allah perlu mencari dan menentukan figur Hawa baru. Hawa baru inilah yang akan membantu Allah mempurifikasi atau menyucikan tubuh manusia dari dosa yang ditinggalkan oleh hawa lama. Hawa baru akan membantu umat manusia menemukan jalan kembali menuju keselamatan kepada Allah Bapa di Sorga. Dan sosok Hawa baru itu adalah Santa Perawan Maria.

 

Santa Maria memiliki pribadi yang sangat tulus. Sehingga ketika Allah datang mengampirinya melalui malaikat Gabriel, ia langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi ibu Yesus, walaupun dengan risiko yang besar bahwa nanti ia akan diadili dan dikucilkan oleh masyarakat. Maria sudah memikirkan risiko besar yang akan menimpa dirinya. Apalagi ia sudah memiliki sang kekasih bernama Yusuf. Tentu, risiko yang akan ditimbulkan menjadi berlipat karena ia diketahui mengandung di luar pernikahan yang sah. Namun, kasihnya kepada Allah sungguh dasyat. Ia rela mempertaruhkan hidupnya demi terwujudnya misi Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Di lain tempat, Yusuf, sang kekasih Maria, sudah mengetahui apa yang terjadi dalam diri Maria. Ternyata, ia juga memiliki hati yang tulus. Ia tidak mau mencemarkan nama baik Maria. Sehingga timbul niat dalam hatinya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Sebelum niatnya tercapai, malaikat Tuhan datang menghalanginya dengan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:20-21). Mendengar hal demikian, Yusuf langsung berubah pikiran untuk tidak mau menceraikan Maria. Yusuf semakin menguatkan hatinya untuk menjaga Maria. Terutama menjaga Sang Juru Selamat, yang akan segera lahir demi menyelamatkan umat manusia dari keterpurukan dosa.

 

Pada peringatan pesta Santa Perawan Maria hari ini, tidak hanya figur Maria yang menjadi pusat refleksi. Suaminya, Yusuf, ternyata juga memainkan peran yang tidak kalah pentingnya. Keduanya, bahu membahu dan sehati sejiwa mau bekerja sama dengan Allah mewujudkan karya keselamatan manusia melalui diri Yesus. Maria dan Yusuf adalah dua tokoh penting dalam gereja Katolik yang mengajarkan nilai ketulusan, ketaatan dan tanggung jawab. Tanpa peran keduanya, mungkin misi keselamatan itu tetap akan terlaksana karena Allah dengan otoritas ilahi-Nya bisa melakukan pelbagai cara. Namun kita tidak akan pernah belajar untuk mendapatkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh Maria dan Yusuf.

 

Maria dan Yusuf adalah simbol ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang sementara mengalami banyak pergeseran, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab menjadi nilai langka yang sulit ditemukan dalam kehidupan riil umat manusia. Yang jamak terjadi adalah sikap kemunafikan, ketidaktaatan dan lemahnya integritas pribadi. Dalam pelbagai ranah kehidupan, sering gampang terjadi gesekan dan konflik karena orang tidak lagi memedulikan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Masing-masing orang atau pihak lebih mempertahankan ego dan gengsi pribadi atau kelompok.

 

Dalam lingkup kerja, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab bisa menampilkan wajah ganda. Orang bisa berpura-pura tulus, taat, dan tanggung jawab hanya karena mengejar kepentingan tertentu. Misalnya jabatan, kuasa, dan harta. Orang tidak mau sungguh-sungguh bersikap tulus, taat, dan tanggung jawab apabila tidak ada kepentingan tertentu yang ada di dalamnya. Dalam lingkup keluarga, lingkungan, dan basis, ketidaktulusan, ketidaktaatan, dan keroposnya sikap tanggung jawab menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Nilai-nilai atau keutamaan hidup menjadi relatif. Masing-masing orang atau pihak dapat menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa peduli lagi pada standar nilai yang menjadi patokan kebenaran universal.

 

Hari ini Maria dan Yusuf mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab tidak hanya menjadi bagian dari tindakan moral yang membawa kebaikan bagi dunia. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab menjadi bagian inti dari sikap iman kita kepada Tuhan. Dengan melakukan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab, sebenarnya kta telah menjadi mitra Allah untuk membawa misi keselamatan Allah secara konkrit di tengah dunia. Amin. ***AKD***

 

Selasa, 17 Agustus 2021

Tuhan Memiliki Keadilan-Nya Sendiri

                                                                         Mat 20: 1-16a

 

Pada hakekatnya prinsip keadilan mengakomodir setiap orang untuk mendapatkan hak sesuai dengan kualifikasi atau persyaratan tertentu yang berlaku secara umum. Volume kerja, tingkat kesulitan, besar kecilnya tanggung jawab, durasi atau lamanya waktu kerja, menjadi hal-hal lazim yang sangat mempengaruhi porsi hak yang akan diterima setiap orang. Semakin besar volume kerja, tingkat kesulitan dan waktu yang butuhkan, maka semakin besar pula hak yang akan diterima. Begitu pun sebaliknya, sudah sewajarnya apabila hak yang diterima seseorang semakin kecil karena disesuaikan dengan volume kerja yang kecil, tingkat kesulitan yang tidak seberapa, dan waktu yang singkat. Menjadi sesuatu yang aneh apabila terjadi penyeragaman dalam penerimaan hak. Orang akan mengklaim terjadi ketidakadilan dan penindasan. Karena keadilan itu tidak sama dengan keseragaman. Dan keseragaman belum tentu memenuhi unsur keadilan yang diharapkan. Keadilan akan tercapai dalam hidup apabila setiap orang mendapat haknya secara proporsional.

 

Gambaran tentang keadilan bertolak belakang dengan kisah yang digambarkan oleh bacaan Injil pada hari ini (Mat 20:1-16a). Dalam perumpamaan-Nya tentang orang-orang upahan di kebun anggur, Yesus membeberkan cerita seorang tuan kebun anggur yang membagi hak sebesar satu dinar kepada orang-orang upahan yang bekerja dalam durasi waktu yang berbeda-beda. Ada yang bekerja penuh mulai dari pagi sampai sore. Ada yang bekerja setengah hari yakni dari siang sampai sore. Dan bahkan ada yang baru masuk sore hari. Praktis waktu kerjanya amat singkat. Jadi kalau kita mengamati terjadi penyeragaman hak yang dilakukan oleh tuan kebun anggur kepada para pekerja-Nya. Walaupun masing-masing orang bekerja dengan rentang waktu yang berbeda-beda, mereka semua mendapat hak yang sama sebesar satu dinar. Hal ini memicu persoalan karena orang-orang yang bekerja paling lama melakukan protes. Mereka tidak terima dan merasa diperlakukan tidak adil. Seharusnya mereka mendapat hak lebih banyak. Namun tuan kebun anggur mengklaim bahwa sudah terjadi kesepakatan di antara mereka untuk mendapat satu dinar, tanpa memperhitungkan aspek-aspek penting seperti volume kerja, tingkat kesulitan, dan durasi waktu. Tuan kebun anggur juga menegaskan bahwa ia memiliki otonomi untuk menentukan dan memberi hak sesuai dengan keinginannya.

 

Saya membayangkan akan terjadi chaos atau kekacauan besar pada masa sekarang, apabila ada majikan, pemilik modal atau pengusaha yang membayar hak para pekerjanya tidak sesuai dengan prinsip keadilan. Namun apa yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya hanyalah sebuah kisah simbolik yang mau mengungkapkan logika kerajaan sorga yang sebenarnya. Sang tuan kebun anggur adalah Allah yang sementara menunjukkan kemahakuasaan dan kemurahan hati-Nya kepada umat manusia. Ia datang dan menawarkan keselamatan kepada umat-Nya tanpa memperhitungkan seberapa besar jasa atau kebaikan yang telah diperbuat oleh manusia. Kisah perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur mengelaborasi (menjelaskan) kasih Allah yang sungguh besar dan otonomi atau kapasitas Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

 

Kasih Allah itu sungguh dasyat dan tidak terbantahkan. Jauh melampaui semangat kasih yang dimiliki oleh manusia. Allah tidak sedikit pun terpengaruh dengan pelbagai tipe manusia yang di atas dunia. Entah manusia itu baik atau jahat, tetap menjadi kewajiban bagi Allah untuk terus menawarkan keselamatan. Allah memiliki otonomi yang tidak bisa diintervensi oleh manusia. Bagi Allah, semua manusia memiliki hak dan derajat yang sama di mata-Nya. Tidak ada manusia yang merasa diri paling hebat dan benar di hadapan Tuhan. Tidak ada manusia yang mengklaim dirinya secara otomatis masuk sorga. Semuanya tergantung dari kewenangan Allah. Hanya Allah yang bisa menentukan keselamatan akhir bagi manusia. Dan hadiah keselamatan itu hanya dapat terjadi kalau manusia mau membuka diri dan bekerja pada kebun anggur-Nya. Hadiah keselamatan itu terjadi secara merata pada setiap manusia tanpa memperhitungkan seberapa lama ia menjadi orang beragama dan seberapa besar segala kebaikan yang telah ditanamkannya.

 

Era ini, banyak orang beragama yang merasa diri paling benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tidak jarang orang-orang ini mengutip ayat-ayat suci untuk mendukung pembenaran dirinya. Tetapi sungguh naif karena segala klaim atau pembenaran diri dilakukan untuk memenuhi atau mencapai target dan kepentingan yang berlaku secara duniawi. Ada indikasi atau fenomena yang menguatkan dugaan bahwa orang merasa paling benar dan suci karena ada kepentingan yang ingin digapai secara ekonomi, sosial dan politik. Lebih parah lagi, mereka selalu memandang remeh dan rendah orang lain. Di mulutnya hanya ada kata-kata nyinyir dan bully. Mereka selalu mempermasalahkan apa yang dibuat orang lain. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang, tidak selalu baik dan benar. Mereka menuntut orang harus mengikuti segala ajaran, kehendak dan keinginan mereka. Kalau tidak sejalan berarti orang dianggap sesat dan tidak mendapat tempat di sorga bersama Allah.

 

Mungkin sebagian dari kita juga seringkali merasa diri paling baik dan benar. Kita merasa bangga dengan identitas iman yang melekat. Kita juga merasa sudah banyak menyenangkan Tuhan dengan hal-hal baik yang telah dilakukan. Timbul kesombongan rohani dalam pribadi. Kita menganggap orang lain lebih rendah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diri kita. Dengan gampang kita menghakimi orang lain sebagai pendosa dan melabeli mereka sebagai calon penghuni neraka jahanam. Tidak berlebihan saya mengatakan demikian. Banyak realitas dan fakta yang menunjukkan demikian. Jamak terjadi kita lebih membanggakan prestasi, kebaikan, dan kesuksesan yang kita alami. Di sisi lain, kita sangat mudah untuk mengungkap kekurangan, masalah, dan aib yang dimiliki orang lain. Pernah saya mendengar kata-kata bijak dari seorang ibu. Ia mengatakan: “Kebenaran itu sejatinya hanya milik Tuhan. Di dunia manusia boleh merasa benar dan dibenarkan. Namun belum tentu di mata Tuhan. Karena Ia sungguh menyatakan kebenarannya dengan adil.”

 

Sepenggal kisah tentang orang-orang upahan di kebun anggur mau mengafirmasi dua hal. Pertama, kasih Allah yang tidak terbatas kepada manusia. Dengan kemahakuasaan-Nya Allah bebas menyatakan kasih dan menawarkan keselamatan kepada manusia. Kedua, sifat otonom Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Allah leluasa memberi keselamatan kepada manusia dengan tidak melakukan pembedaan. Pada prinsipnya semua manusia memiliki martabat yang sama di mata-Nya. Entah orang benar dan tidak benar, semua memiliki hak yang satu dan sama yakni mendapatkan keselamatan. Bisa saja orang yang berkoar-koar tentang kebenaran di dunia dan merasa diri paling pantas untuk mendapatkan keselamatan ternyata pada akhir, tidak mendapatkannya. Dan orang yang dianggap sesat, kotor dan jahat di dunia, sangat boleh jadi mendapatkan keselamatan itu dari Tuhan. Keadilan yang dimiliki Tuhan tentu tidak sama dengan keadilan yang dianut oleh manusia. Mari kita senantiasa membuka diri kepada-Nya agar kita tetap hidup dalam spirit dan tuntunan-Nya. Semoga kita tidak jatuh dalam dosa kesombongan yang dapat membawa kita kepada ketidakselamatan. Amin. ***AKD*** 

 

Selasa, 03 Agustus 2021

Beriman Dengan Sikap Rasional Yang Baik

 

Mat 15: 21-28

 

Berpikir rasional sama artinya dengan berpikir menurut pikiran dan pertimbangan yang logis dan sehat. Berpikir rasional membantu manusia untuk menganalisis sesuatu hal atau kejadian dengan baik sehingga apa yang menjadi keputusannya dapat berjalan secara baik pula. Misalnya, ketika melihat cuaca mendung, manusia langsung menangkap pesan bahwa akan segera turun hujan. Logika manusia akan bekerja dengan baik sehingga ia bisa mengambil keputusan dengan bijak, seperti mengambil pakaian di tempat jemuran, mengenakan mantel hujan kalau hendak bepergian, menutup pintu dan jendela rumah, dan sebagainya.

 

Berpikir rasional juga dibutuhkan dalam sikap iman kepada Tuhan. Berpikir rasional membentengi diri agar kita tidak memiliki iman secara buta. Contoh praksis iman secara buta misalnya, orang tidak mau bekerja dalam hidupnya. Ia hanya mengandalkan doa sepanjang waktu sambil berharap Tuhan menurunkan makanan dan minuman dari langit. Atau dalam masa pandemi Covid-19, orang lebih mementingkan sikap egonya dengan tidak menaati protokel kesehatan sehingga bisa membayakan diri dan sesamanya untuk terpapar virus Covid-19. Berpikir rasional atau logis dalam iman mendorong kaum beriman untuk mewujudnyatakan imannya secara baik dalam tindakan konkrit, karena ia memahami iman tanpa perbuatan adalah sesuatu yang non sense (tidak masuk akal).

 

Berpikir secara rasional sejatinya dapat menuntun seseorang untuk lebih mendewasakan karakter dan hidup pribadinya. Termasuk dalam mendewasakan sikap imannya kepada Tuhan. Ia lebih paham memahami konsep tentang Tuhan dan segala intervensi-Nya dalam hidup manusia. Orang yang memiliki logika yang tidak lurus dan tidak sehat, cenderung tidak mampu memahami campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Ia lebih berpikir skeptis atau tidak percaya. Apalagi kalau doa dan permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Pasti lebih menambah rasa skeptis dalam diri tentang adanya Tuhan.

 

Berpikir secara rasional haruslah membawa orang pada keutamaan dan kebijaksanaan hidup. Salah satu contoh orang yang hendak digambarkan di sini adalah seorang perempuan dari Kanaan. Menilik asal usulnya, ia berasal dari daerah yang anggota masyarakatnya tidak lagi memiliki darah Yahudi yang murni. Akibat perkawinan campur dengan bangsa asing, komunitas Yahudi di daerah Kanaan diberi label sebagai daerah orang kafir. Imbasnya, orang Kanaan dianggap tidak layak berbicara atau bergaul dengan sesama saudaranya dari Israel, yang tetap memiliki darah yahudi yang pure (asli).

 

Tetapi tidak bagi seorang perempuan Kanaan, yang berani mendatangi Yesus untuk meminta pertolongan karena anak perempuannya sedang dirasuki setan. Perjuangannya ternyata tidak berjalan mulus seperti diharapkan. Malahan ia harus menghadapi sikap apatis, hinaan, dan diskriminasi yang datang dari Yesus dan para murid-Nya. Kita dapat memaklumi karena Yesus dan para murid berasal dari kultur dan tradisi Yahudi yang kental. Sehingga mereka juga mengambil sikap sama seperti saudara sebangsanya. Mereka berbuat demikian untuk memaksa perempuan itu segera berlalu.

 

Namun ketahanan mental dan keyakinan perempuan itu tidak surut. Ia tetap bersikap sabar, rendah hati, dan tekun memohon bantuan dari Yesus. Yesus sungguh mengapresiasi sikap iman yang teguh dari perempuan Kanaan itu. “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Buah dari iman yang kokoh akhirnya melahirkan keselamatan dan kebaikan hidup bagi sang perempuan Kanaan. Seandainya, ia tidak memiliki iman yang kokoh, sudah pasti ia akan menyerah dan tidak mau mengikuti Yesus lagi. Mungkin saja, ia akan pulang dengan rasa kecewa dan marah yang besar karena sudah diperlakukan dengan tidak manusiawi.

 

Di sini dibutuhkan iman dan cara berpikir rasional yang matang. Perempuan Kanaan itu sudah mewujudkannya dengan sikap berani, sabar, tekun, dan rendah hati. Sikap iman yang kokoh harus dibarengi dengan sikap rasional yang kokoh pula, sehingga orang tidak terjebak dalam sikap iman yang buta dan dangkal. Sebuah sikap iman yang tidak berakar kuat. Karena orang hanya mendambakan kebaikan dan kemulusan hidup, namun tidak menginginkan tantangan dan kesulitan hidup. Tantangan dan kesulitan hidup ditafsir sebagai ketidakberpihakan Tuhan. Dan hanya kesuksesan, kemenangan, dan kebaikan hidup yang dilihat sebagai keberpihakan Tuhan.

 

Acapkali, kita juga menunjukkan sikap iman yang buta. Kita cepat merasa kecewa dan putus asa manakala permohonan kita tidak segera atau sama sekalih tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kita mengklaim Tuhan tidak adil. Atau mungkin juga kita mempertanyakan eksistensi-Nya, kemudian bersikap skeptis. Di tengah masa pandemi Covid-19, banyak orang beriman yang sudah menunjukkan sikap jenuh, marah, dan kecewa. Mereka tidak hanya marah kepada virus Covid-19, tetapi juga seolah-olah marah kepada Tuhan. Hidup orang beriman semakin jauh dari lingkaran Tuhan. Orang tidak mau berdoa di ruang-ruang privat sebagai dampak lanjut dari penutupan tempat ibadah untuk sementara waktu. Dan orang tidak memedulikan diri dan sesamanya dengan tidak menaati protokol kesehatan.

 

Beriman yang matang membutuhkan sikap rasional yang mumpuni. Dalam iman yang terpenting bukan soal intensi dan permonan. Ada nilai dan keutamaan yang menjadi prioritas yakni soal keberanian, ketabahan, ketekunan, dan kerendahan hati dalam menghadapi setiap tantangan, pergumulan, keterpurukan dan pergolakan hidup. Inilah yang dinamakan beriman dengan sikap rasional yang baik. Kita tidak gampang menyerah dan putus asa ketika Tuhan tidak mengabulkan doa dan permohonan. Ada kalanya Tuhan sementara mendidik kita untuk bersikap lebih sabar, berani, tekun, dan rendah hati.

 

St. Yohanes Maria Vianney yang pestanya kita peringati pada hari ini adalah figur orang kudus yang sabar, berani, tekun, dan rendah hati. Walaupun dicap sebagai orang yang paling bodoh secara akademis di masanya, ia tetap menunjukkan kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hikmat dan berkat Tuhan tidak diperolehnya dengan gampang. Ada banyak kesulitan dan pergumulan hidup yang harus dilaluinya. Mari kita beriman dengan sikap rasional yang baik untuk dapat memperoleh hikmat dan berkat Tuhan dalam hidup. Amin. ***AKD***

Minggu, 01 Agustus 2021

Memiliki Karakter Lebah Dalam Hidup

 

Mat 13:16-17

Lebah dan lalat adalah dua jenis binatang yang memiliki persamaan dan perbedaan. Kedua hewan ini sama-sama berasal dari golongan serangga yang memiliki sayap untuk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun ada perbedaan mendasar yang melingkupi keduanya. Lebah mencari sari bunga untuk menjadi sumber makanannya. Di mana pun tempatnya, entah di tempat yang bersih atau kotor, lebah akan selalu mendeteksi sari bunga untuk dihinggapi dan diisap sari madunya. Sedangkan lalat mendapatkan sumber makanan dari kotoran. Di mana pun tempatnya, sesuatu yang kotor dan berbau pasti disenangi oleh lalat. Dari deskripsi singkat mengenai lebah dan lalat ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa lebah lebih menyukai keindahan, keharuman dan kenikmatan. Sementara, lalat memiliki ketertarikan dengan segala sesuatu yang kotor dan berbau.

 

Lebah dan lalat menganalogikan dua sikap atau cara pandang manusia yang berbeda. Pertama, karakter lebah mewakili sikap atau cara pandang manusia yang positif. Di mana pun tempatnya dan apa pun situasinya, manusia yang memiliki karakter lebah, selalu melihat segala sesuatu dari cara pandang yang baik. Bahkan, dalam situasi yang sulit dan buruk sekali pun, ia tidak terpengaruh untuk berpikir negatif atau buruk. Ia selalu berpikir, merasakan, dan menganalisisnya dari cara pandang konstruktif. Tentu saja, dari hal yang buruk atau jahat selalu mengajarkan sesuatu yang bernilai baik dalam kehidupannya. Kedua, karakter lalat merepresentasikan sikap atau cara pandang manusia yang suka melihat segala sesuatu dari sudut yang negatif. Ia tidak pernah menemukan kebaikan atau hal yang positif yang terjadi dalam kehidupan. Walaupun realitas itu baik, selalu ada celah yang ia dapatkan untuk selalu berpikir tidak baik. Ia suka menaruh curiga dan prasangka terhadap orang lain. Ia tidak mau belajar dari pengalaman kehidupannya. Ia selalu merasa diri paling benar dan tidak menganggap orang lain yang ada di sekitarnya.

 

Media sosial kita kerap dibanjiri dengan dengan sikap nyinyir (cerewet), merendahkan dan bullying (menindas). Ada orang atau sekelompok orang yang suka memposting kata-kata berupa status dan komentar yang tidak baik tentang suatu realitas sosial atau menyangkut pribadi orang tertentu. Mereka cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif sehingga sangat gampang membuat klaim atau vonis yang buruk. Mirisnya, apa yang mereka sampaikan atau ungkapkan tidak berdasarkan basis data yang obyektif dan akurat. Tingkat pengetahuan atau pemahaman mereka tentang suatu hal mungkin masih minim atau sama sekalih tidak ada. Namun, apa yang mereka posting di media sosial seolah-olah sangat benar sehingga bisa mengundang simpati dan empati publik.

 

Tidak jarang, pelbagai status dan komentar demikian, memicu friksi atau keterbelahan di tengah situasi konkrit masyarakat. Muncul sikap pro dan kontra. Masyarakat terpecah dalam kubu-kubu tertentu. Nilai persatuan dan persaudaraan kita sebagai sesama manusia mengalami ancaman serius. Di tengah berbagai upaya pemerintah untuk menanggulangi badai pandemi Covid-19 misalnya, ternyata ada sikap atau perilaku dari kelompok orang tertentu untuk mulai mencari-cari kelemahan dan kesalahan pemerintah. Narasi sesat pun mulai dibangun untuk menurunkan pemerintahan yang sah. Contoh kasus ini, memberi gambaran bahwa orang sangat gampang menunjukkan karakter lalat dalam kehidupannya. Di sisi yang lain, terasa cukup sulit untuk membangun karakter lebah dalam pribadi seseorang.

 

Menarik kita menyimak kata-kata Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini (Mat 13:16-17). Dengan tegas Yesus berkata: “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat 13:16). Ada dua hal yang bisa kita telusuri dari pernyataan Yesus ini. Pertama, Yesus memberi apresiasi kepada para murid-Nya (termasuk juga orang lain yang hadir) yang telah mampu melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang baik dari Diri-Nya. Dari setiap sabda dan tindakan mukjizat Yesus, para murid menjadi percaya dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Karena telah melihat dan mendengar sesuatu yang baik dari Yesus, maka para murid mulai belajar untuk menjadi seorang pewarta yang baik. Mereka tidak menyebarkan hoax atau berita bohong melainkan berita nyata dan gembira yang mempresentasikan kehadiran kerajaan Allah di tengah dunia. Kedua, Yesus menyindir dan mengkritik perilaku orang-orang yang merasa diri paling hebat dan benar. Orang-orang ini tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan warta keselamatan ilahi yang dikumandangkan oleh Yesus. Hati dan pikiran mereka telah menjadi keras sehingga mulai muncul sikap nyinyir dan tidak menganggap Yesus. Malahan mereka mulai mencari-cari kesalahan untuk menjerat-Nya.

 

Sikap yang ditunjukkan oleh para murid dan orang yang percaya kepada Yesus adalah sikap atau perilaku orang yang mampu melihat dan berpikir positif dalam hidupnya. Dalam pribadi mereka ada karakter lebah karena mereka bisa berpikir dan merasakan segala kebaikan dan keharuman yang terjadi dalam hidup. Dan sumber kebaikan dan keharuman dalam hidup mereka adalah Yesus sendiri. Mereka belajar dari Yesus untuk menjadi pribadi yang baik dan benar. Pribadi yang selalu mengarahkan hati, pikiran dan tindakannya kepada Allah. Aktualisasi diri mereka adalah menjadi murid Yesus yang sejati dan militan. Seorang murid yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam kata-kata dan tindakan konkrit. Sebaliknya orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan kepada Yesus adalah orang-orang dengan karakter lalat. Mereka hanya melihat hal yang tidak baik dari Yesus, karena mereka merasa diri paling baik dan benar. 

 

Hari ini, saya dan anda terinspirasi untuk memiliki karakter lebah dalam hidup. Karakter yang suka akan kebaikan, keharuman dan keindahan hidup. Karakter yang bersumber dari Sang Guru Ilahi, yakni Yesus Kristus. Kita semua mau belajar tentang kebaikan hidup dari setiap peristiwa hidup yang kita alami. Baik itu peristiwa yang positif maupun yang negatif. Semoga kita dapat menarik hal yang baik terutama dalam setiap hal atau situasi yang pahit dan tidak mengenakan. Kita belajar menjadi pribadi yang matang dan bijak dalam kehidupan. Sehingga apa yang kita hasilkan dari dalam diri adalah hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Dan bukan sebaliknya membawa kita kepada kesesatan berpikir dan bertindak. Dengan demikian, apa yang kita lakukan adalah bagian penting dari cara kita menghidupi jati diri sebagai seorang murid Yesus yang sejati. Dalam semangat St. Yoakim dan Sta. Ana yang pestanya kita rayakan pada hari ini, mari kita selalu menjadi pribadi yang baik dengan menjadi mitra Allah dalam tugas dan karya kita di tengah dunia. Kita mampu membawa perubahan yang baik terutama dengan menyebarkan informasi dan motivasi yang baik dan benar kepada semua orang. Amin. ***AKD***