( Mat 20: 17-28 )
Kekuasaan sesungguhnya adalah melayani. Hanya mereka yang
melayani dalam kasih mampu melindungi. Ketika menjalankan kekuasaan, setiap
orang harus total dalam kehendak melayani. Ia mesti membiarkan dirinya
diinspirasi oleh pelayanan yang rendah hati, nyata, setia dan tulus. Kita bisa
disebut memiliki jiwa pelayanan kalau kita selalu membuka tangan bagi semua
orang, lebih-lebih bagi mereka yang miskin, lemah dan tidak dipandang penting
oleh sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian intisari kotbah Paus
Fransiskus dalam misa kudus yang dilangsungkan di wisma Santa Marta baru-baru
ini. “Orang Katolik wajib meneladani Yesus. Apa yang dilakukan Yesus, itu pula
yang harus kita lakukan. Yaitu melayani. Bukankah Yesus mengatakan, “Jikalau
Aku, Tuan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh
kaki,” ungkap Paus Fransiskus. “Menjadi Katolik itu selalu melayani sesama
dengan rendah hati. Tulus dari hati,” demikian Bapa Suci menegaskan.
Ketika
akan berangkat menuju Yerusalem, Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya
tentang situasi buruk yang akan dialami-Nya di Yerusalem nanti. Bahwa Dia akan
diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat untuk dihukum nanti.
Tiba-tiba datang ibu dari anak-anak Zebedeus yakni Yakobus dan Yohanes, yang
meminta posisi khusus bagi kedua anaknya dalam kerajaan yang dipimpin Yesus.
Sungguh ironis memang, ketika Yesus meramalkan nasib tragis yang akan
diterima-Nya di Yerusalem, para murid sibuk memikirkan agenda mereka sendiri.
Jauh dari rasa simpati pada pergolakan batin Yesus, para murid berpikir
bagaimana memanfaatkan Yesus dan kedekatan dengan Dia untuk mendapatkan kuasa.
Terbukti mereka belum sungguh mengenal Yesus dan belum sungguh mengerti hakikat
panggilan seorang murid. Yesus merevisi kekeliruan mereka dengan menegaskan
kembali misi-Nya dan tuntutan serta konsekuensi untuk menjadi murid-Nya. Yesus
datang bukan untuk memerintah dalam kerajaan duniawi. Yesus tidak mencari kuasa
dan penghormatan duniawi. Tetapi menebus manusia lewat penderitaan dan
kematian. Maka menjadi pengikut Yesus berarti siap meminum cawan
penderitaan-Nya dan siap merendahkan diri sebagai pelayan dan hamba bagi semua
orang.
Sebagai
pribadi llahi yang memiliki keistimewaan Yesus jelas bisa melakukan segala
sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Kalau Ia mementingkan ego dan
ambisi pribadi-Nya, tentu saja Yesus akan mendirikan kerajaan duniawi dan
mengangkat para murid sebagai menteri-menteri-Nya. Dengan sekali tiupan kecil,
Yesus dengan mudah pasti menyingkirkan para lawan politiknya yang akan
menganggu ambisi pribadi-Nya sebagai seorang pemimpin duniawi. Tetapi Yesus
tidak melakukan hal itu. Yesus harus menuntaskan sebuah proyek ilahi yang telah
Ia tandatangani di hadapan Bapa-Nya sendiri. Proyek itu adalah proyek
keselamatan umat manusia. Untuk itu, Ia harus menanggalkan pakaian kebesaran
ilahi-Nya. Akhirnya, Yesus turun ke bumi menjadi seperti manusia biasa. Hal itu
Ia lakukan agar bisa bebas menjalankan misi perutusan-Nya di muka bumi.
Yesus juga mau menunjukkan sebuah
model kepemimpinan yang baru. Sebuah model kepemimpinan yang berbeda dengan
kepemimpinan duniawi. Bahwa untuk menjadi seorang pemimpin seseorang harus
memiliki banyak kualifikasi. Seperti pemimpin yang rendah hati, pemimpin yang
melayani dan bukan untuk dilayani, dan pemimpin yang mau berkorban untuk orang
lain. untuk memenuhi kualifikasi di atas, seorang pemimpin harus memangkas rasa
ego dan ambisi pribadinya. Memang tidak mudah. Banyak pemimpin dunia yang
terjebak pada ego pribadi dan nafsu akan kuasa. Sebelum berkuasa, begitu getol
berbicara untuk melayani orang lain. Tetapi ketika sudah duduk di kursi empuk,
ia lupa dengan segala janji manisnya. Ada juga calon pemimpin yang tiba-tiba
jadi orang paling baik di muka bumi. Tetapi ketika sudah berada di tampuk
kekuasaan, cenderung ia berlaku sebaliknya. Pemimpin tersebut menunggangi
kedudukan dan privilese untuk memuaskan nafsu akan kekuasaan dan popularitas.
Hari ini kita sungguh belajar dari
kata-kata Yesus untuk menjadi seorang murid sejati sekaligus menjadi seorang
pemimpin yang membawa keselamatan bagi semua orang. Seorang murid dan pemimpin yang mampu melawan ego dan ambisi pribadinya.
Inilah model pemuridan kita sebagai murid Yesus di era ini. Kita harus hadir di
mana saja dengan menumbuhkan sikap rendah hati, penuh pengorbanan, total dalam
dedikasi, dan penuh semangat pelayanan. Marilah di masa Prapaskah pekan kedua
ini, kita kembali merefleksikan diri kita secara pribadi. Apakah kita sudah
menjadi seorang murid dan pemimpin seperti yang telah ditunjukkan oleh Yesus
atau tidak. Tentu masih banyak hal yang perlu kita perbaiki. Karena sebagai
seorang manusia biasa, kita tidak luput dari pelbagai keteledoran yang
menghantar kita ke jurang dosa. Mari kita berbenah diri di masa penuh
pertobatan ini. Semoga. Tuhan memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar