Rabu, 18 Maret 2020

MELAWAN EGO DAN AMBISI PRIBADI

( Mat 20: 17-28 )


Kekuasaan sesungguhnya adalah melayani. Hanya mereka yang melayani dalam kasih mampu melindungi. Ketika menjalankan kekuasaan, setiap orang harus total dalam kehendak melayani. Ia mesti membiarkan dirinya diinspirasi oleh pelayanan yang rendah hati, nyata, setia dan tulus. Kita bisa disebut memiliki jiwa pelayanan kalau kita selalu membuka tangan bagi semua orang, lebih-lebih bagi mereka yang miskin, lemah dan tidak dipandang penting oleh sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian intisari kotbah Paus Fransiskus dalam misa kudus yang dilangsungkan di wisma Santa Marta baru-baru ini. “Orang Katolik wajib meneladani Yesus. Apa yang dilakukan Yesus, itu pula yang harus kita lakukan. Yaitu melayani. Bukankah Yesus mengatakan, “Jikalau Aku, Tuan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki,” ungkap Paus Fransiskus. “Menjadi Katolik itu selalu melayani sesama dengan rendah hati. Tulus dari hati,” demikian Bapa Suci menegaskan.

            Ketika akan berangkat menuju Yerusalem, Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya tentang situasi buruk yang akan dialami-Nya di Yerusalem nanti. Bahwa Dia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat untuk dihukum nanti. Tiba-tiba datang ibu dari anak-anak Zebedeus yakni Yakobus dan Yohanes, yang meminta posisi khusus bagi kedua anaknya dalam kerajaan yang dipimpin Yesus. Sungguh ironis memang, ketika Yesus meramalkan nasib tragis yang akan diterima-Nya di Yerusalem, para murid sibuk memikirkan agenda mereka sendiri. Jauh dari rasa simpati pada pergolakan batin Yesus, para murid berpikir bagaimana memanfaatkan Yesus dan kedekatan dengan Dia untuk mendapatkan kuasa. Terbukti mereka belum sungguh mengenal Yesus dan belum sungguh mengerti hakikat panggilan seorang murid. Yesus merevisi kekeliruan mereka dengan menegaskan kembali misi-Nya dan tuntutan serta konsekuensi untuk menjadi murid-Nya. Yesus datang bukan untuk memerintah dalam kerajaan duniawi. Yesus tidak mencari kuasa dan penghormatan duniawi. Tetapi menebus manusia lewat penderitaan dan kematian. Maka menjadi pengikut Yesus berarti siap meminum cawan penderitaan-Nya dan siap merendahkan diri sebagai pelayan dan hamba bagi semua orang.

            Sebagai pribadi llahi yang memiliki keistimewaan Yesus jelas bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Kalau Ia mementingkan ego dan ambisi pribadi-Nya, tentu saja Yesus akan mendirikan kerajaan duniawi dan mengangkat para murid sebagai menteri-menteri-Nya. Dengan sekali tiupan kecil, Yesus dengan mudah pasti menyingkirkan para lawan politiknya yang akan menganggu ambisi pribadi-Nya sebagai seorang pemimpin duniawi. Tetapi Yesus tidak melakukan hal itu. Yesus harus menuntaskan sebuah proyek ilahi yang telah Ia tandatangani di hadapan Bapa-Nya sendiri. Proyek itu adalah proyek keselamatan umat manusia. Untuk itu, Ia harus menanggalkan pakaian kebesaran ilahi-Nya. Akhirnya, Yesus turun ke bumi menjadi seperti manusia biasa. Hal itu Ia lakukan agar bisa bebas menjalankan misi perutusan-Nya di muka bumi.

Yesus juga mau menunjukkan sebuah model kepemimpinan yang baru. Sebuah model kepemimpinan yang berbeda dengan kepemimpinan duniawi. Bahwa untuk menjadi seorang pemimpin seseorang harus memiliki banyak kualifikasi. Seperti pemimpin yang rendah hati, pemimpin yang melayani dan bukan untuk dilayani, dan pemimpin yang mau berkorban untuk orang lain. untuk memenuhi kualifikasi di atas, seorang pemimpin harus memangkas rasa ego dan ambisi pribadinya. Memang tidak mudah. Banyak pemimpin dunia yang terjebak pada ego pribadi dan nafsu akan kuasa. Sebelum berkuasa, begitu getol berbicara untuk melayani orang lain. Tetapi ketika sudah duduk di kursi empuk, ia lupa dengan segala janji manisnya. Ada juga calon pemimpin yang tiba-tiba jadi orang paling baik di muka bumi. Tetapi ketika sudah berada di tampuk kekuasaan, cenderung ia berlaku sebaliknya. Pemimpin tersebut menunggangi kedudukan dan privilese untuk memuaskan nafsu akan kekuasaan dan popularitas.

Hari ini kita sungguh belajar dari kata-kata Yesus untuk menjadi seorang murid sejati sekaligus menjadi seorang pemimpin yang membawa keselamatan bagi semua orang. Seorang murid dan pemimpin  yang mampu melawan ego dan ambisi pribadinya. Inilah model pemuridan kita sebagai murid Yesus di era ini. Kita harus hadir di mana saja dengan menumbuhkan sikap rendah hati, penuh pengorbanan, total dalam dedikasi, dan penuh semangat pelayanan. Marilah di masa Prapaskah pekan kedua ini, kita kembali merefleksikan diri kita secara pribadi. Apakah kita sudah menjadi seorang murid dan pemimpin seperti yang telah ditunjukkan oleh Yesus atau tidak. Tentu masih banyak hal yang perlu kita perbaiki. Karena sebagai seorang manusia biasa, kita tidak luput dari pelbagai keteledoran yang menghantar kita ke jurang dosa. Mari kita berbenah diri di masa penuh pertobatan ini. Semoga. Tuhan memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar